Anda di halaman 1dari 50

1

ASUHAN KEPERAWATAN

GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI: MALARIA FALCIFARUM

Adi, Amd. Kep

A. Pendahuluan

Ilmu kesehatan berkembang atas dasar adanya penyakit, kebutuhan akan

penyembuhan penyakit menyebabkan munculnya orang- orang yang mencoba

mengatasi penyakit dengan cara mencari pengobatan, melakukan penelitian-

penelitian dibidang kesehatan beserta obat- obatan dan vaksin. Frekuensi masalah

kesehatan semakin tahun semakin meningkat terutama penyakit- penyakit

kardiovaskuler, pernapasan, pencernaaan, kecelakaan, dan panyakit- penyakit

infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti infeksi pada saluran

pernapasan, pencernaan, kulit dan mukosa serta melalui sistem peredaran darah

dan salah satunya adalah penyakit infeksi malaria.

Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan

primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi

protozoa dari genus Plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas

dingin menggigil) serta demam yang berkepanjangan. Dengan munculnya

program pengendalian yang didasarkan pada penggunaan residu insektisida,

penyebaran penyakit malaria telah dapat diatasi dengan cepat. Sejak tahun 1950,

malaria telah berhasil dibasmi di hampir seluruh Benua Eropa dan di daerah

cigayung.wordpress.com
2

seperti Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Namun penyakit ini masih menjadi

masalah besar di beberapa bagian Benua Afrika dan Asia Tenggara. Sekitar 100

juta kasus penyakit malaria terjadi setiap tahunnya dan sekitar 1 persen

diantaranya fatal. Seperti kebanyakan penyakit tropis lainnya, malaria merupakan

penyebab utama kematian di negara berkembang.

Penyebaran penyakit ini di dunia sangat luas yaitu antara garis

bujur 60o di Utara dan 40o di selatan yang meliputi lebih dari 100 negara yang

beiklim tropis dan sub tropis. Penduduk yang berisiko terkena malaria berjumlah

sekitar 2,3 miliar atau 41 % dari penduduk dunia setiap tahun jumlah kasus

malaria berjumlah 300-500 juta dan mengakibatkan 1,5 sampai 2,7 juta jiwa

mengalami kematian, terutama Afrika Sub Utara (Harijanto, 2000, hal 12).

Pertumbuhan penduduk yang cepat, migrasi, sanitasi yang buruk, serta

daerah yang padat, membantu memudahkan penyebaran penyakit tersebut

Pembukaan lahan-lahan baru serta perpindahan penduduk dari desa ke kota

(urbanisasi) telah memungkinkan kontak antara nyamuk dengan manusia yang

bermukim di daerah tersebut. Selain itu, perubahan iklim, perubahan lingkungan

seperti penelantaran tambak, genangan air di bekas galian pasir juga penebangan

hutan bakau, juga mempercepat penyebaran penyakit malaria. Hal itu diperparah

dengan perpindahan penduduk dari daerah endemis ke daerah bebas malaria dan

sebaliknya. (www.infeksi.com, 2008).

cigayung.wordpress.com
3

Sesuai dengan kebijakan WHO, upaya pemberantasan di tingkatkan

menjadi pembasmian malaria (1959-1968) yang bertujuan untuk menghentikan

transmisi malaria di seluruh Indonesia pada tahun 1970. Kegiatannya di mulai di

Jawa-Bali dan Lampung dan mencakup 2/3 dari penduduk Indonesia dan akan

berlanjut kedaerah-daerah yang lain (Harijanto, 2000, hal.15).

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995, diperkirakan 15 juta

penduduk Indonesia menderita malaria, 30 ribu di antaranya meninggal dunia.

Morbiditas (angka kesakitan) malaria sejak tiga tahun terakhir menunjukkan

peningkatan. Peningkatan terutama terjadi di Jawa Tengah (Prorejo dan

Banyumas) dan Yogyakarta (Kulon Progo). Di luar Jawa dan Bali, peningkatan

terjadi dari 1.750 kasus per 100 ribu penduduk (1998) menjadi 2.800 kasus per

100 ribu penduduk (2000): tertinggi di NTT, yaitu 16.290 kasus per 100 ribu

penduduk (www.tempointeraktif.com, 2008).

Hasil survei malariometrik daerah prioritas di luar Jawa – Bali sejak tahun

1989 sampai dengan tahun 1997 menghasilkan parasite rate (PR) sekitar 4-5%.

Perincian AMI (Annual Malaria Incidence) menurut Propinsi dalam tahun 1997

dan Kalimantan Barat menempati urutan ke tujuh dengan 80.032 kasus, 20,4%

Annual Malaria Incidence (AMI), 11.110 sediaan yang diperiksa, dan 31, 13%

(Slide Positive Rate) (Harijanto, 2000, hal.15).

Program pemberantasan malaria dapat didefinisikan sebagai usaha

terorganisasi untuk melaksanakan berbagai upaya menurunkan penyakit dan

cigayung.wordpress.com
4

kematian yang di akibatkan malaria, sehingga tidak terjadi masalah kesehatan

yang utama.

Berbagai kegiatan yang dapat dijalankan untuk mengurangi malaria adalah:

1. Menghindari atau mengurangi kontak/ gigitan nyamuk Anopeles,

(pemakaian kelambu, penjaringan rumah, obat nyamuk, dan sebagainya).

2. Membunuh nyamuk dewasa (dengan menggunakan berbagai insektisida).

3. Membunuh jentik (kegiatan antilarva) baik secara kimiawi.

4. Mengurangi tempat perindukan (source reduction).

5. Mengobati penderita malaria.

6. Pemberian pengobatan pencegahan (profilaksis).

7. Vaksinasi (masih dalam tahap riset dan clinical trial).

Penyebaran penyakit infeksi malaria diwilayah kerja Puskesmas Tanjung

Puri Sintang yang diperoleh berdasarkan jumlah kunjungan pasien terdapat 833

kasus malaria dari bulan Juni 2007 sampai dengan bulan Mei 2008. Malaria yang

dilakukan pemeriksaan diagnostik sebanyak 613 (73,58%) kasus yang terdiri dari

kasus lama maupun kasus baru, tanpa pemeriksaan diagnostik sebanyak 106

( 12,72%) kasus, serta malaria klinis sebanyak 114 (13,68%) kasus. Hal ini yang

menggambarkan penyakit malaria masih merupakan penyakit yang

menggambarkan problem kesehatan di masyarakat khususnya di pedesaan.

Berdasarkan hasil data rekam medik ditemukan penderita yang di rawat

di Ruang Perawatan Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Ade

cigayung.wordpress.com
5

Muhammad Djoen Sintang dari bulan Juni 2007 sampai dengan bulan Mei 2008,

terdapat 691 kasus dengan malaria. malaria Falcifarum sebanyak 635 (91,89)

kasus, malaria vivax sebanyak 24 (0, 34%) kasus, malaria serebral 4 (0,05%).

B. Anatomi Fisiologi Sistem Hematologi

Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada tubuh orang sakit kita

terlebih dahulu mengetahui struktur dan fungsi setiap alat dari susunan tubuh

manusia yang sehat dalam kehidupan sehari- hari. Pengetahuan tentang anatomi

dan fisiologi tubuh manusia merupakan dasar yang penting dalam melaksanakan

asuhan keperawatan.

Dengan mengetahui struktur dan fungsi tubuh manusia, seorang perawat

profesional dapat semakin jelas menafsirkan perubahan yang terdapat pada alat

tubuh manusia dan salah satunya adalah perubahan- perubahan yang tejadi pada

sistem hematologi manusia.

1. Darah

Darah adalah suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah

yang warnannya merah. Warna merah itu keadaannya tidak tetap tergantung

pada banyaknya kadar oksigen dan karbondioksida didalamnya. Darah yang

banyak mengandung karbon diogsida warnanya merah tua. Adanya oksigen

dalam darah di ambil dengan cara bernapas, dan zat tersebut sangat berguna

pada peristiwa pembakaran/ metabolisme di dalam tubuh. Vikositas/

cigayung.wordpress.com 9
6

kekentalan darah lebih kental dari pada air yang mempunyai BJ 1,041-1,065,

temperatur 380C, dan PH 7,37-7,45 (Syaifuddin, 2006, hal. 142).

Darah selamanya beredar di dalam tubuh oleh karena adanya kerja atau

pompa jantung. Selama darah beredar dalam pembuluh maka darah akan tetap

encer, tetapi kalau ia keluar dari pembuluhnya maka ia akan menjadi beku.

Pembekuan ini dapat di cegah dengan jalan mencampurkan ke dalam darah

tersebut sedikit obat anti- pembekuan/ sitrus natrikus. Dan keadaan ini akan

sangat berguna apabila darah tersebut diperlukan untuk transfusi darah.

Pada tubuh yang sehat atau orang dewasa terdapat darah sebanyak kira-kira
1
/13 dari berat badan atau kira- kira 4- 5 liter. Keadaan jumlah tersebut pada

tiap- tiap orang tidak sama, bergantung pada umur, pekerjaan, keadaan

jantung, atau pembuluh darah (Syaifuddin, 2006, hal. 143).

2. Fungsi darah

a. Sebagai alat pengangkut yaitu,

1) Mengambil oksigen/ zat pembakaran dari paru- paru untuk diedarkan

keseluruh jaringan tubuh.

2) Mengangkut karbon dioksida dari jaringan untuk dikeluarkan melalui

paru- paru.

3) Mengambil zat- zat makanan dari usus halus untuk diedarkan dan

dibagikan ke seluruh jaringan/ alat tubuh.

cigayung.wordpress.com
7

4) Mengangkat/ mengeluarkan zat- zat yang tidak berguna bagi tubuh

untuk dikeluarkan melalui ginjal dan kulit.

b. Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit dan racun dalam

tubuh dengan perantaraan leukosit dan antibodi/ zat – zat anti racun.

c. Menyebarkan panas keseluruh tubuh.

3. Kandungan darah

TABEL 1

DAFTAR KANDUNGAN DARAH

DARAH KANDUNGAN
Air 91%

Protein 3% (albumin, globulin, protombin dan fibrinigen)

Mineral 0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam

fosfat, magnesium, kalsium, dan zat besi).

Bahan organik 0,1% (glukosa, lemak asam urat, kreatinin,

kolesterol, dan asam amino).

4. Bagian- bagian darah

a. Sel-Sel Darah

1). Sel darah merah (Eritrosit)

cigayung.wordpress.com
8

Sel darah merah (eritrosit) bentuknya seperti cakram/ bikonkaf dan

tidak mempunyai inti. Ukuran diameter kira- kira 7,7 unit (0,007

mm), tidak dapat bergerak. Banyaknya kira – kira 5 juta dalam 1 mm3

(41/2 juta). Warnanya kuning kemerahan, karena didalamnya

mengandung suatu zat yang disebut hemoglobin, warna ini akan

bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung oksigen.

Fungsinya mengikat oksigen dari paru – paru untuk diedarkan ke

seluruh jaringan tubuh dan mengikat karbon dioksida dari jaringan

tubuh untuk dikeluarkan melalui paru – paru. Pengikatan oksigen dan

karbon dioksida ini dikerjakan oleh hemoglobin yang telah

bersenyawa dengan oksigen yang disebut oksihemoglobin (Hb +

oksigen 4 Hb-oksigen) jadi oksigen diangkut dari seluruh tubuh

sebagai oksihemoglobin yang nantinya setelah tiba di jaringan akan

dilepaskan: Hb-oksigen Hb + oksigen, dan seterusnya. Hb tadi

akan bersenyawa dengan karbon dioksida dan disebut karbon dioksida

hemoglobin (Hb + karbon dioksida Hb-karbon dioksida) yang

mana karbon dioksida tersebut akan dikeluarkan di paru- paru. Sel

darah merah (eritrosit) diproduksi di dalam sumsum tulang merah,

limpa dan hati. Proses pembentukannya dalam sumsum tulang melalui

beberapa tahap. Mula-mula besar dan berisi nukleus dan tidak berisi

hemoglobin kemudian dimuati hemoglobin dan akhirnya kehilangan

cigayung.wordpress.com
9

nukleusnya dan siap diedarkan dalam sirkulasi darah yang kemudian

akan beredar di dalam tubuh selama kebih kurang 114- 115 hari,

setelah itu akan mati. Hemoglobin yang keluar dari eritrosit yang mati

akan terurai menjadi dua zat yaitu hematin yang mengandung Fe yang

berguna untuk membuat eritrosit baru dan hemoglobin yaitu suatu zat

yang terdapat didalam eritrisit yang berguna untuk mengikat oksigen

dan karbon dioksida. Jumlah normal pada orang dewasa kira- kira

11,5 – 15 gram dalam 100 cc darah. Normal Hb wanita 11,5 mg% dan

laki-laki 13,0 mg%. Sel darah merah memerlukan protein karena

strukturnya terdiri dari asam amino dan memerlukan pula zat besi,

sehingga diperlukan diit seimbang zat besi. Didalam tubuh banyaknya

sel darah merah ini bisa berkurang, demikian juga banyaknya

hemoglobin dalam sel darah merah. Apabila kedua- duanya berkurang

maka keadaan ini disebut anemia, yang biasanya disebabkan oleh

perdarahaan yang hebat, penyakit yang melisis eritrosit, dan tempat

pembuatan eritrosit terganggu (Syaifuddin, 2006, hal. 144).

2). Sel darah putih (Leukosit)

Bentuk dan sifat leukosit berlainan dengan sifat eritrosit apabila kita lihat di

bawah mikroskop maka akan terlihat bentuknya yang dapat berubah- ubah

dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu (pseudopodia),

mempunyai bermacam- macam inti sel sehingga ia dapat dibedakan menurut

cigayung.wordpress.com
10

inti selnya, warnanya bening (tidak berwarna), banyaknya dalam 1 mm 3 darah

kira- kira 6000- 9000. Fungsinya sebagai serdadu tubuh yaitu membunuh dan

memakan bibit penyakit/ bakteri yang masuk ke dalam jaringan RES (sistem

retikuloendotel), tempat pembiakannya di dalam limpa dan kelenjar limfe;

sebagai pengangkut yaitu mengangkut/ membawa zat lemak dari dinding usus

melalui limpa terus ke pembuluh darah. Sel leukosit disamping berada di

dalam pembuluh darah juga terdapat di seluruh jaringan tubuh manusia. Pada

kebanyakan penyakit disebabkan oleh masuknya kuman/ infeksi maka jumlah

leukosit yang ada di dalam darah akan lebih banyak dari biasanya. Hal ini

disebabkan sel leukosit yang biasanya tinggal di dalam kelenjar limfe,

sekarang beredar dalam darah untuk mempertahankan tubuh dari serangan

penyakit tersebut. Jika jumlah leukosit dalam darah melebihi 10000/ mm3

disebut leukositosis dan kurang dari 6000 disebut leukopenia.

Macam- macam leukosit meliputi:

a) Agranulosit. Sel leukosit yang tidak mempunyai granula

didalamnya, yang terdiri dari. Limposit, macam leukosit yang

dihasilkan dari jaringan RES dan kelenjar limfe, bentuknya ada

yang besar dan kecil, di dalam sitoplasmanya tidak terdapat

glandula dan intinya besar, banyaknya kira- kira 20%- 15% dan

fungsinya membunuh dan memakan bakteri yang masuk ke

dalam jarigan tubuh. Monosit. Terbanyak dibuat di sumsum

cigayung.wordpress.com
11

merah, lebih besar dari limfosit, fungsinya sebagai fagosit dan

banyaknya 34%. Di bawah mikroskop terlihat bahwa proto

plasmanya lebar, warna biru abu - abu mempunyai bintik- bintik

sedikit kemerahan. Inti selnya bulat dan panjang, warnanya

lembayung muda.

b) Granulosit disebut juga leukosit granular terdiri dari. Neutrofil

atau polimorfonuklear leukosit, mempunyai inti sel yang kadang-

kadang seperti terpisah- pisah, protoplasmanya banyak bintik-

bintik halus/ glandula, banyaknya 60%- 50%. Eusinofil. Ukuran

dan bentuknya hampir sama dengan neutrofil tetapi granula dan

sitoplasmanya lebih besar, banyaknya kira- kira 24%. Basofil.

Sel ini kecil dari eusinofil tetapi mempunyai inti yang bentuknya

teratur, di dalam protoplasmanya terdapat granula- granula besar.

Banyaknya setengah bagian dari sumsum merah, fungsinya tidak

diketahui (Syaifuddin, 2006, hal. 146).

3). Sel Pembeku (Trombosit).

Trombosit merupakan benda- benda kecil yang mati yang bentuk dan

ukurannya bermacam- macam, ada yang bulat dan lonjong, warnanya putih,

normal pada orang dewasa 200.000-300.000/ mm3.

Fungsinya memegang peranan penting dalam pembekuan darah. Jika

banyaknya kurang dari normal, maka kalau ada luka darah tidak lekas

cigayung.wordpress.com
12

membeku sehingga timbul perdarahan yang terus- menerus. Trombosit lebih

dari 300.000 disebut trombositosis. Trombosit yang kurang dari 200.000

disebut trombositopenia. Di dalam plasma darah terdapat suatu zat yang turut

membantu terjadinya peristiwa pembekuan darah, yaitu Ca2+ dan fibrinogen.

Fibrinogen mulai bekerja apabila tubuh mendapat luka. ketika kita luka maka

darah akan keluar, trombosit pecah dan mengeluarkan zat yang dinamakan

trombokinase. Trombokinasi ini akan bertemu dengan protrombin dengan

pertolongan Ca2+ akan menjadi trombin. Trombin akan bertemu dengan

fibrin yang merupakan benang- benang halus, bentuk jaringan yang tidak

teratur letaknya, yang akan menahan sel darah, dengan demikian terjadilah

pembekuan. Protrombin di buat didalam hati dan untuk membuatnya

diperlukan vitamin K, dengan demikian vitamin K penting untuk pembekuan

darah (Syaifuddin, 2006, hal. 146).

b. Plasma Darah

Bagian cairan darah yang membentuk sekitar 5% dari berat badan,

merupakan media sirkulasi elemen- elemen darah yang membentuk sel

darah merah, sel darah putih, dan sel pembeku darah juga sebagai media

transportasi bahan organik dan anorganik dari suatu jaringan atau organ.

Pada penyakit ginjal plasma albumin turun sehingga terdapat kebocoran

albumin yang besar melalui glomerulus ginjal. Hampir 90% dari plasma

cigayung.wordpress.com
13

darah terdiri dari air, di samping itu terdapat pula zat- zat lain yang terlarut

di dalamnya (Syaifuddin, 2006, hal. 146).

C. Konsep Dasar Penyakit

1. Pengertian

Malaria adalah penyakit yang bersifat akut maupun kronik yang disebabkan

oleh protozoa genus plasmodium yang ditandai dengan demam, anemia dan

splenomegali (Mansjoer, 2001, hal 406).

Malaria adalah infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh

suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui

air liur nyamuk (Corwin, 2000, hal 125).

Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat

intraseluler dari genus plasmodium (Harijanto, 2000, hal 1).

Malaria adalah penyakit infeksi dengan demam berkala, yang disebabkan oleh

Parasit Plasmodium dan ditularkan oleh sejenis nyamuk Anopeles (Tjay &

Raharja, 2000).

Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata

lainnya, hewan melata dan hewan pengerat yang disebabkan oleh infeksi

protozoa dari genus plasmodium.

(www.infeksi.com, 2008).

cigayung.wordpress.com
14

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan malaria adalah

suatu penyakit infeksi baik yang bersifat akut maupun kronik yang

dapat menginfeksi manusia, burung, kera dan primata lainnya disebabkan

oleh infeksi protozoa dari genus plasmodium yang ditularkan oleh sejenis

nyamuk Anopeles melalui air liur nyamuk.

2. Etiologi

Menurut Harijanto (2000) ada empat jenis plasmodium yang dapat

menyebabkan infeksi yaitu,

a. Plasmodium vivax, merupakan infeksi yang paling sering dan

menyebabkan malaria tertiana/ vivaks (demam pada tiap hari ke tiga).

b. Plasmodium falciparum, memberikan banyak komplikasi dan mempunyai

perlangsungan yang cukup ganas, mudah resisten dengan pengobatan dan

menyebabkan malaria tropika/ falsiparum (demam tiap 24-48 jam).

c. Plasmodium malariae, jarang ditemukan dan menyebabkan malaria

quartana/malariae (demam tiap hari empat).

d. Plasmodium ovale, dijumpai pada daerah Afrika dan Pasifik Barat, di

Indosesia dijumpai di Nusa Tenggara dan Irian, memberikan infeksi yang

paling ringan dan dapat sembuh spontan tanpa pengobatan, menyebabkan

malaria ovale.

Masa inkubasi malaria bervariasi tergantung pada daya tahan tubuh dan

spesies plasmodiumnya. Masa inkubasi Plasmodium vivax 14-17 hari,

cigayung.wordpress.com
15

Plasmodium ovale 11-16 hari, Plasmodium malariae 12-14 hari dan

Plasmodium falciparum 10-12 hari (Mansjoer, 2001).

Gambar 1: Plasmodium sporozoite

cigayung.wordpress.com
16

3. Jenis-jenis malaria

Menurut Harijanto (2000) pembagian jenis-jenis malaria berdasarkan

jenis plasmodiumnya antara lain sebagai berikut :

a. Malaria Tropika (Plasmodium Falcifarum)

Malaria tropika/ falciparum malaria tropika merupakan bentuk yang

paling berat, ditandai dengan panas yang ireguler, anemia, splenomegali,

parasitemia yang banyak dan sering terjadi komplikasi. Masa inkubasi

9-14 hari. Malaria tropika menyerang semua bentuk eritrosit. Disebabkan

oleh Plasmodium falciparum.

Plasmodium ini berupa Ring/ cincin kecil yang berdiameter 1/3

diameter eritrosit normal dan merupakan satu-satunya spesies yang

memiliki 2 kromatin inti (Double Chromatin).

Klasifikasi penyebaran Malaria Tropika:

Plasmodium Falcifarum menyerang sel darah merah seumur hidup.

Infeksi Plasmodium Falcifarum sering kali menyebabkan sel darah merah

yang mengandung parasit menghasilkan banyak tonjolan untuk melekat

pada lapisan endotel dinding kapiler dengan akibat obstruksi trombosis

dan iskemik lokal. Infeksi ini sering kali lebih berat dari infeksi lainnya

dengan angka komplikasi tinggi (Malaria Serebral, gangguan

gastrointestinal, Algid Malaria, dan Black Water Fever).

cigayung.wordpress.com
17

Tropozoit Muda Pigmen polimolekuler


Tropozoit Tua dan tropozoit

Gametosit jantan
Skizon yang matang Gametosit betina

Gambar 2
cigayung.wordpress.com Sel P. Falcifarum
( Harisson’s, 2005, P. 1224 )
18

b. Malaria Kwartana (Plasmoduim Malariae)

Plasmodium Malariae mempunyai tropozoit yang serupa dengan

Plasmoduim vivax, lebih kecil dan sitoplasmanya lebih kompak/ lebih

biru. Tropozoit matur mempunyai granula coklat tua sampai hitam dan

kadang-kadang mengumpul sampai membentuk pita. Skizon Plasmodium

malariae mempunyai 8-10 merozoit yang tersusun seperti kelopak bunga/

rossete. Bentuk gametosit sangat mirip dengan Plasmodium vivax tetapi

lebih kecil.

Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam. Gejala lain

nyeri pada kepala dan punggung, mual, pembesaran limpa, dan malaise

umum. Komplikasi yang jarang terjadi namun dapat terjadi seperti

sindrom nefrotik dan komplikasi terhadap ginjal lainnya. Pada

pemeriksaan akan di temukan edema, asites, proteinuria, hipoproteinemia,

tanpa uremia dan hipertensi.

cigayung.wordpress.com
19

Tropozoit tua Skizon yang matang

Gametosit jantan Gametosit betina

Gambar 3
Sel. P. Malariae
Harisson’s, 2005, P. 1225 ).

cigayung.wordpress.com
20

c. Malaria Ovale (Plasmodium Ovale)

Malaria Tersiana (Plasmodium Ovale) bentuknya mirip Plasmodium

malariae, skizonnya hanya mempunyai 8 merozoit dengan masa pigmen

hitam di tengah. Karakteristik yang dapat di pakai untuk identifikasi

adalah bentuk eritrosit yang terinfeksi Plasmodium Ovale biasanya oval

atau ireguler dan fibriated. Malaria ovale merupakan bentuk yang paling

ringan dari semua malaria disebabkan oleh Plasmodium ovale. Masa

inkubasi 11-16 hari, walau pun periode laten sampai 4 tahun. Serangan

paroksismal 3-4 hari dan jarang terjadi lebih dari 10 kali walau pun tanpa

terapi dan terjadi pada malam hari.

cigayung.wordpress.com
21

Skizon yang matang


Tropozoit tua

Gametosit betina
Gametosit jantan

Gambar 4
Sel P. Ovale
( Harisson’s, 2005, P. 1225 )

cigayung.wordpress.com
22

d. Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax)

Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) biasanya menginfeksi eritrosit

muda yang diameternya lebih besar dari eritrosit normal. Bentuknya mirip

dengan plasmodium Falcifarum, namun seiring dengan maturasi,

tropozoit vivax berubah menjadi amoeboid. Terdiri dari 12-24 merozoit

ovale dan pigmen kuning tengguli. Gametosit berbentuk oval hampir

memenuhi seluruh eritrosit, kromatinin eksentris, pigmen kuning. Gejala

malaria jenis ini secara periodik 48 jam dengan gejala klasik trias malaria

dan mengakibatkan demam berkala 4 hari sekali dengan puncak demam

setiap 72 jam.

Dari semua jenis malaria dan jenis plasmodium yang menyerang

system tubuh, malaria tropika merupakan malaria yang paling berat di

tandai dengan panas yang ireguler, anemia, splenomegali, parasitemis

yang banyak, dan sering terjadinya komplikasi.

cigayung.wordpress.com
23

Tropozoit muda Tropozoit tua Skizoit yang matang

Gametosit betina Gametosit jantan


Gambar 5
Sel P. Vivax
( Harisson’ s , 2005, P. 1224 ).

cigayung.wordpress.com
24

4. Karakteristik nyamuk

Menurut Harijanto (2000) malaria pada manusia hanya dapat ditularkan oleh

nyamuk betina Anopheles. Lebih dari 400 spesies Anopheles di dunia, hanya

sekitar 67 yang terbukti mengandung sporozoit dan dapat menularkan malaria.

Di Indonesia telah ditemukan 24 spesies Anopheles yang menjadi vektor

malaria.

Sarang nyamuk Anopheles bervariasi, ada yang di air tawar, air payau dan ada

pula yang bersarang pada genangan air pada cabang-cabang pohon yang besar

(Slamet, 2002, hal 103).

Karakteristik nyamuk Anopeles adalah sebagai berikut :

a. Hidup di daerah tropic dan sub tropic, ditemukan hidup di dataran rendah

b. Menggigit antara waktu senja (malam hari) dan subuh hari

c. Biasanya tinggal di dalam rumah, di luar rumah, dan senang mengigit

manusia (menghisap darah)

d. Jarak terbangnya tidak lebih dari 2-3 km

e. Pada saat menggigit bagian belakangnya mengarah ke atas dengan sudut

48 0

f. Daur hidupnya memerlukan waktu ± 1 minggu .

g. Lebih senang hidup di daerah rawa

cigayung.wordpress.com
25

Gambar 6
Nyamuk penyebab Malaria: Anopheles

cigayung.wordpress.com
26

5. Patofisiologi

Daur hidup spesies malaria pada manusia yaitu:

a. Fase seksual

Fase ini terjadi di dalam tubuh manusia (Skizogoni), dan di dalam tubuh

nyamuk (Sporogoni). Setelah beberapa siklus, sebagian merozoit di dalam

eritrosit dapat berkembang menjadi bentuk- bentuk seksual jantan dan

betina. Gametosit ini tidak berkembang akan mati bila tidak di hisap oleh

Anopeles betina. Di dalam lambung nyamuk terjadi penggabungan dari

gametosit jantan dan betina menjadi zigote, yang kemudian mempenetrasi

dinding lambung dan berkembang menjadi Ookista. Dalam waktu 3

minggu, sporozoit kecil yang memasuki kelenjar ludah nyamuk (Tjay &

Rahardja, 2002, hal .162-163).

Fase eritrosit dimulai dan merozoid dalam darah menyerang eritrosit

membentuk tropozoid. Proses berlanjut menjadi trofozoit- skizon-

merozoit. Setelah 2- 3 generasi merozoit dibentuk, sebagian merozoit

berubah menjadi bentuk seksual. Masa antara permulaan infeksi sampai

ditemukannya parasit dalam darah tepi adalah masa prapaten, sedangkan

masa tunas/ incubasi intrinsik dimulai dari masuknya sporozoit dalam

badan hospes sampai timbulnya gejala klinis demam.

(Mansjoer, 2001, hal. 409).

cigayung.wordpress.com
27

b. Fase Aseksual

Terjadi di dalam hati, penularan terjadi bila nyamuk betina yang terinfeksi

parasit, menyengat manusia dan dengan ludahnya menyuntikkan “

sporozoit “ ke dalam peredaran darah yang untuk selanjutnya bermukim di

sel-sel parenchym hati (Pre-eritrositer).

Parasit tumbuh dan mengalami pembelahan (proses skizogoni dengan

menghasilakn skizon) 6-9 hari kemudian skizon masak dan melepaskan

beribu-ribu merozoit. Fase di dalam hati ini di namakan “ Pra -eritrositer

primer.”

1). Terjadi di dalam darah

Sel darah merah berada dalam sirkulasi lebih kurang 120 hari. Sel

darah mengandung hemoglobin yang dapat mengangkut 20 ml O2

dalam 100 ml darah. Eritrosit diproduksi oleh hormon eritropoitin di

dalam ginjal dan hati. Sel darah di hancurkan di limpa yang mana

proses penghancuran yang di keluarkan diproses kembali untuk

mensintesa sel eritrosit yang baru dan pigmen bilirubin yang

dikelurkan bersamaan dari usus halus. Dari sebagian merozoit

memasuki sel-sel darah merah dan berkembang di sini menjadi

trofozoit. Sebagian lainnya memasuki jaringan lain, antara lain limpa

cigayung.wordpress.com
28

atau terdiam di hati dan di sebut “ekso-eritrositer sekunder“. Dalam

waktu 48 -72 jam, sel-sel darah merah pecah dan merozoit yang di

lepaskan dapat memasuki siklus di mulai kembali. Setiap saat sel

darah merah pecah, penderita merasa kedinginan dan demam, hal ini

di sebabkan oleh merozoit dan protein asing yang di pisahkan.

Secara garis besar semua jenis Plasmodium memiliki siklus hidup

yang sama yaitu tetap sebagian di tubuh manusia (aseksual) dan

sebagian ditubuh nyamuk.

cigayung.wordpress.com
29

Gambar 7
Fase aseksual dalam tubuh manusia
( http://www.google.co.id/firefox 2008 )

cigayung.wordpress.com
30

manusia Nyamuk anapheles betina

Dalam hati

Hipnozoit sporozoit

Skizon

Merozoit

Dalam Dalam ookista


darah lambung

tropozoit

Skizon

Merozoit

Makrogametosis makrogamet
Zigot = ookinet
Mikrogametosis mikrogamet

Gambar VII
Daur hidup parasit malaria
(Mansjoer, 2001, hal. 410).

cigayung.wordpress.com
31

6. Manifestasi klinis

Tanda dan gejala yang di temukan pada klien dngan malaria secara umum

menurut Mansjoer (1999) antara lain sebagai berikut :

a. Demam

Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang

(sporolasi). Pada Malaria Tertiana (P.Vivax dan P. Ovale), pematangan

skizon tiap 48 jam maka periodisitas demamnya setiap hari ke-3,

sedangkan Malaria Kuartana (P. Malariae) pematangannya tiap 72 jam

dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap serangan di tandai dengan

beberapa serangan demam periodik.

Gejala umum (gejala klasik) yaitu terjadinya “Trias Malaria” (malaria

proxysm) secara berurutan :

1) Periode dingin.

Mulai menggigil, kulit kering dan dingin, penderita sering

membungkus diri dengan selimut atau sarung dan pada saat menggigil

sering seluruh badan bergetar dan gigi-gigi saling terantuk, pucat

sampai sianosis seperti orang kedinginan. Periode ini berlangsung 15

menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur.

2) Periode panas.

cigayung.wordpress.com
32

Muka merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas tetap tinggi

sampai 40oC atau lebih, respirasi meningkat, nyeri kepala, nyeri

retroorbital, muntah-muntah, dapat terjadi syok (tekanan darah turun),

kesadaran delirium sampai terjadi kejang (anak). Periode ini lebih

lama dari fase dingin, dapat sampai 2 jam atau lebih, diikuti dengan

keadaan berkeringat.

3) Periode berkeringat.

Penderita berkeringat mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh,

sampai basah, temperatur turun, penderita merasa capai dan sering

tertidur. Bila penderita bangun akan merasa sehat dan dapat

melakukan pekerjaan biasa.

b. Splenomegali

Splenomegali adalah pembesaran limpa yang merupakan gejala khas

Malaria Kronik. Limpa mengalami kongesti, menghitam dan menjadi

keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat

bertambah (Corwin , 2000, hal. 571).

Pembesaran limpa terjadi pada beberapa infeksi ketika membesar sekitar 3

kali lipat. Lien dapat teraba di bawah arkus costa kiri, lekukan pada batas

anterior. Pada batasan anteriornya merupakan gambaran pada palpasi yang

membedakan jika lien membesar lebih lanjut. Lien akan terdorong ke

bawah ke kanan, mendekat umbilicus dan fossa iliaca dekstra.

cigayung.wordpress.com
33

c. Anemia

Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling

berat adalah anemia karena Falcifarum. Anemia di sebabkan oleh

penghancuran eritrosit yang berlebihan Eritrosit normal tidak dapat hidup

lama (reduced survival time). Gangguan pembentukan eritrosit karena

depresi eritropoesis dalam sumsum tulang (Mansjoer. dkk, Hal. 411).

d. Ikterus

Ikterus adalah diskolorasi kuning pada kulit dan skIera mata akibat

kelebihan bilirubin dalam darah. Bilirubin adalah produk penguraian sel

darah merah. Terdapat tiga jenis ikterus antara lain :

1) Ikterus hemolitik

Disebabkan oleh lisisnya (penguraian) sel darah merah yang

berlebihan. Ikterus ini dapat terjadi pada destruksi sel darah merah

yang berlebihan dan hati dapat mengkonjugasikan semua bilirubin

yang di hasilkan

2) Ikterus hepatoseluler

Penurunan penyerapan dan konjugasi bilirubin oleh hati terjadi pada

disfungsi hepatosit dan di sebut dengan hepatoseluler.

3) Ikterus Obstruktif

cigayung.wordpress.com
34

Sumbatan terhadap aliran darah ke empedu keluar hati atau melalui

duktus biliaris di sebut dengan ikterus obstuktif (Corwin, 2000, hal.

571).

7. Pemeriksaan diagnostik

a. Pemeriksaan mikroskopis malaria

Diagnosis malaria sebagai mana penyakit pada umumnya didasarkan

pada manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan

ditemukannya parasit (plasmodium) di dalam penderita. Uji

imunoserologis yang dirancang dengan bermacam-macam target

dianjurkan sebagai pelengkap pemeriksaan mikroskopis dalam menunjang

diagnosis malaria atau ditujukan untuk survey epidemiologi di mana

pemeriksaan mikrokopis tidak dapat dilakukan. Diagnosis definitf demam

malaria ditegakan dengan ditemukanya parasit plasmodium dalam darah

penderita. Pemeriksaan mikrokropis satu kali yang memberi hasil negatif

tidak menyingkirkan diagnosis deman malaria. Untuk itu diperlukan

pemeriksaan serial dengan interval antara pemeriksaan satu hari.

Pemeriksaan mikroskropis membutuhkan syarat-syarat tertentu agar

mempunyai nilai diagnostik yang tinggi (sensitivitas dan spesifisitas

mencapai 100%).

1) Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periode

demam memasuki periode berkeringat. Pada periode ini jumlah

cigayung.wordpress.com
35

trophozoite dalam sirkulasi dalam mencapai maksimal dan cukup

matur sehingga memudahkan identifikasi spesies parasit.

2) Volume yang diambil sebagai sampel cukup, yaitu darah kapiler

(finger prick) dengan volume 3,0-4,0 mikro liter untuk sediaan tebal

dan 1,0-1,5 mikro liter untuk sedian tipis.

3) Kualitas perparat harus baik untuk menjamin identifikasi spesies

plasmodium yang tepat.

4) Identifikasi spesies plasmodium

5) Identifikasi morfologi sangat penting untuk menentukan spesies

plasmodium dan selanjutnya digunakan sebagai dasar pemilihan obat.

b. QBC (Semi Quantitative Buffy Coat)

Prinsip dasar: tes floresensi yaitu adanya protein pada plasmodium yang

dapat mengikat acridine orange akan mengidentifikasi eritrosit terinfeksi

plasmodium. QBC merupakan teknik pemeriksaan dengan menggunakan

tabung kapiler dengan diameter tertentu yang dilapisi acridine orange

tetapi cara ini tidak dapat membedakan spesies plasmodium dan kurang

tepat sebagai instrumen hitung parasit.

c. Pemeriksaan imunoserologis

Pemeriksaan imunoserologis didesain baik untuk mendeteksi antibodi

spesifik terhadap paraasit plasmodium maupun antigen spesifik

plasmodium atau eritrosit yang terinfeksi plasmodium teknik ini terus

cigayung.wordpress.com
36

dikembangkan terutama menggunakan teknik radioimmunoassay dan

enzim immunoassay.

d. Pemeriksan Biomolekuler

Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik

parasit/ plasmodium dalam darah penderita malaria.tes ini menggunakan

DNA lengkap yaitu dengan melisiskan eritrosit penderita malaria untuk

mendapatkan ekstrak DNA.

8. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan khusus pada kasus- kasus malaria dapat diberikan tergantung

dari jenis plasmodium, menurut Tjay & Rahardja (2002) antara lain sebagai

berikut:

a. Malaria Tersiana/ Kuartana

Biasanya di tanggulangi dengan kloroquin namun jika resisten perlu di

tambahkan mefloquin single dose 500 mg p.c (atau kinin 3 dd 600 mg

selama 4-7 hari). Terapi ini disusul dengan pemberian primaquin 15 mg

/hari selama 14 hari)

b. Malaria Ovale

Berikan kinin dan doksisklin (hari pertama 200 mg, lalu 1 dd 100 mg

selama 6 hari). Atau mefloquin (2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/

kg dengan interval 4-6 jam). Pirimethamin-sulfadoksin (dosis tunggal dari

cigayung.wordpress.com
37

3 tablet ) yang biasanya di kombinasikan dengan kinin (3 dd 600 mg

selama 3 hari).

c. Malaria Falcifarum

Kombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg per tablet dalam

dosis tunggal sebanyak 2-3 tablet. Kina 3 x 650 mg selama 7 hari.

Antibiotik seperti tetrasiklin 4 x 250 mg/ hari selama 7-10 hari dan

aminosiklin 2 x 100 mg/ hari selama 7 hari

9. Komplikasi

Menurut Gandahusa, Ilahude dan Pribadi (2000) beberapa komplikasi yang

dapat terjadi pada penyakit malaria adalah :

a. Malaria otak

Malaria otak merupakan penyulit yang menyebabkan kematian tertinggi

(80%) bila dibandingkan dengan penyakit malaria lainnya. Gejala

klinisnya dimulai secara lambat atau setelah gejala permulaan. Sakit

kepala dan rasa ngantuk disusul dengan gangguan kesadaran, kelainan

saraf dan kejang-kejang bersifat fokal atau menyeluruh.

b. Anemia berat

cigayung.wordpress.com
38

Komplikasi ini ditandai dengan menurunnya hematokrit secara mendadak

(< 15%) atau kadar hemoglobin < 5 g %. Anemia ini merupakan

komplikasi yang penting dan sering ditemukan pada anak-anak.

c. Gagal ginjal

Penyulit ini menunjukkan kelainan urine output yang < 400 ml/24 jam

pada orang dewasa dan 12 ml/ kg BB/24 jam pada anak. Kreatinin dalam

serum meningkat > 3 mg/ dl. Seringkali penyulit ini disertai edema paru.

Angka kematian mencapai 50%. Gangguan ginjal diduga disebabkan

adanya Anoksia, penurunan aliran darah keginjal, yang dikarenakan

sumbatan kapiler, sebagai akibatnya terjadi penurunan filtrasi pada

glomerulus.

d. Edema paru

Komplikasi ini biasanya terjadi pada wanita hamil dan setelah

melahirkan. Frekuensi pernapasan meningkat. Merupakan komplikasi

yang berat yang menyebabkan kematian. Biasanya disebabkan oleh

kelebihan cairan dan Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS).

e. Hipoglikemia

Konsentrasi gula pada penderita turun (< 40 mg/dl). Komplikasi ini

seringkali terjadi pada wanita hamil. Hipoglikemi juga dapat merupakan

akibat penggunaan obat kina yang merupakan life saving drug untuk

semua malaria berat terutama malaria otak. Gejala klinis adalah gelisah,

cigayung.wordpress.com
39

takikardi, nyeri kepala dan merasa dingin. Hipoglikemi disebabkan karena

kebutuhan metabolik pada parasit telah menghabiskan cadangan glikogen

dalam hati.

f. Syok/gangguan sirkulasi darah

Pada penderita dengan penyulit ini tekanan darahnya < 50 mmHg pada

anak dan < 70 mmHg pada orang dewasa. Biasanya kelainan ini terdapat

pada penyulit lain misalnya edema paru, asidosis metabolik dan

bakterimia. Kelainan aritmia jantung jarang ditemukan.

g. Disseminated intravascular coagulation (DIC)

Penyulit ini menimbulkan perdarahan abnormal dan spontan pada gusi,

terjadi epistaksis dan ada ptekiae dan perdarahan subkonjungtiva.

Kelainan ini jarang ditemukan, hanya < 10% pada malaria otak. Biasanya

terjadi pada penderita non imun.

D. Rencana Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian adalah tahap awal dari proses awal keperawatan dan merupakan

suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber

data, untuk mengevaluasi dalam mengidentifikasi status kesehatan klien

(Nursalam, 2001, hal 17).

cigayung.wordpress.com
40

Data dasar pengkajian pada sistem penyakit darah/ organ- organ pembentuk

Haematologi (Doengoes, Moorhouse dan Geissler, 1999, hal 569) .

Pengkajian.

Dasar data pengkajian

a. Aktivitas/ istirahat

Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise umum

Tanda : Takikardi, Kelemahan otot dan penurunan kekuatan.

b. Sirkulasi

Tanda : Tekanan darah normal atau sedikit menurun.

Denyut perifer kuat dan cepat (fase demam)

Kulit hangat, diuresis (diaphoresis ) karena vasodilatasi.

Pucat dan lembab (vaso kontriksi), hipovolemia,penurunan

aliran darah

c. Eliminasi

Gejela : Diare atau konstipasi; penurunan haluaran urine

Tanda : Distensi abdomen

d. Makanan dan cairan

Gejala : Anoreksia mual dan muntah

Tanda : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan

Penurunan masa otot. Penurunan haluaran urine, kosentrasi

urine .

cigayung.wordpress.com
41

e. Neuro sensori

Gejala : Sakit kepala, pusing dan pingsan.

Tanda : Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientas deliriu atau koma.

f. Pernapasan.

Tanda : Tackipnea dengan penurunan kedalaman pernapasan .

Gejala : Napas pendek pada istirahat dan aktivitas

g. Penyuluhan/ pembelajaran

Gejala : Masalah kesehatan kronis, misalnya hati, ginjal, keracunan

alkohol, riwayat splenektomi, baru saja menjalani operasi/

prosedur invasif, luka traumatik.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah tahap kedua dari proses keperawatan, di tahap

ini perawat menggunakan pikiran yang kritis dan cakap untuk mengartikan

penilaian data dan mengidentifikasikan keluhan klien dan masalah (Kozier,

2000, hal.291). Diagnosa keperawatan pada pasien dengan malaria

berdasarkan dari tanda dan gejala yang timbul dapat diuraikan seperti dibawah

ini (Doengoes, Moorhouse dan Geissler, 1999):

a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

asupan makanan yang tidak sdekuat ; anorexia; mual/muntah

cigayung.wordpress.com
42

b. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan penurunan sistem

kekebalan tubuh; prosedur tindakan invasif

c. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme, dehidrasi,

efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.

d. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen

seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam

tubuh.

e. Kurang pengetahuan, mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan

pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/ mengingat

kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.

3. Rencana intervensi.

Perencanaan adalah tahap dari sistem proses keperawatan dimana diperlukan

pengambilan keputusan dan pemecahan masalah (Kozier, 2000, hal. 291).

Rencana keperawatan malaria berdasarkan masing-masing diagnosa diatas

adalah :

a Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

asupan makanan yang tidak sdekuat; anorexia; mual/muntah .

Tindakan/ Intervensi :

1) Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai. Observasi dan

catat masukan makanan klien

cigayung.wordpress.com
43

Rasional : mengawasi masukan kalori atau kualitas kekeurangan

konsumsi makanan.

2) Berikan makan sedikit dan makanan tambahan kecil yang tepat

Rasional : Dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu

cepat setelah periode anoreksia

3) Pertahankan jadwal penimbangan berat badan secara teratur.

Rasional : Mengawasi penurunan berat badan atau efektifitas

nitervensi nutrisi

4) Diskusikan yang disukai klien dan masukan dalam diet murni.

Rasional : Dapat meningkatkan masukan, meningkatkan rasa

berpartisipasi/ kontrol

5) Observasi dan catat kejadian mual/ muntah, dan gejala lain yang

berhubungan

Rasional : Gejala GI dapat menunjukan efek anemia (hipoksia) pada

organ

6) Kolaborasi untuk melakukan rujukan ke ahli gizi

Rasional : Perlu bantuan dalam perencanaan diet yang memenuhi

kebutuhan nutrisi.

b Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan penurunan sistem

tubuh (pertahanan utama tidak adekuat), prosedur invasif.

cigayung.wordpress.com
44

Tindakan/ Intervensi :

1) Pantau terhadap kecenderungan peningkatan suhu tubuh.

Rasional : Demam disebabkan oleh efek endoktoksin pada

hipotalamus dan hipotermia adalah tanda tanda penting yang

merefleksikan perkembangan status syok/ penurunan perfusi jaringan.

2) Amati adanya menggigil dan diaforosis.

Rasional : Menggigil sering kali mendahului memuncaknya suhu pada

infeksi umum.

3) Memantau tanda - tanda penyimpangan kondisi/ kegagalan untuk

memperbaiki selama masa terapi

Rasional : Dapat menunjukkan ketidak tepatan terapi antibiotik atau

pertumbuhan dari organisme.

4) Berikan obat anti infeksi sesuai petunjuk.

Rasional : Dapat membasmi/ memberikan imunitas sementara untuk

infeksi umum

5) Dapatkan spisemen darah.

Rasional : Identifikasi terhadap penyebab jenis infeksi malaria

c Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme dehirasi efek

langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.

Tindakan/ intervensi :

1) Pantau suhu pasien (derajat dan pola), perhatikan menggigil.

cigayung.wordpress.com
45

Rasional : Hipertermi menunjukan proses penyakit infeksius akut. Pola

demam menunjukkan diagnosis.

2) Pantau suhu lingkungan.

Rasional : Suhu ruangan/ jumlah selimut harus diubah untuk

mempertahankan suhu mendekati normal.

3) Berikan kompres mandi hangat, hindari penggunaan alkohol.

Rasional : Dapat membantu mengurangi demam, penggunaan es/

alkohol mungkin menyebabkan kedinginan. Selain itu alkohol dapat

mengeringkan kulit.

4) Berikan antipiretik.

Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi

sentralnya pada hipotalamus.

5) Berikan selimut pendingin.

Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan hipertermi.

d Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen

seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam

Tindakan/ intervensi :

1) Pertahankan tirah baring bantu dengan aktivitas perawatan.

Rasional : Menurunkan beban kerja miokard dan konsumsi oksigen,

memaksimalkan efektifitas dari perfusi jaringan.

cigayung.wordpress.com
46

2) Pantau terhadap kecenderungan tekanan darah, mencatat

perkembangan hipotensi dan perubahan pada tekanan nadi.

Rasional : Hipotensi akan berkembang bersamaan dengan kuman yang

menyerang darah

3) Perhatikan kualitas, kekuatan dari denyut perifer.

Rasional : Pada awal nadi cepat kuat karena peningkatan curah

jantung, nadi dapat lemah atau lambat karena hipotensi yang terus

menerus, penurunan curah jantung dan vaso kontriksi perifer.

4) Kaji frukuensi pernafasan kedalaman dan kualitas. Perhatikan dispnea

berat.

Rasional : Peningkatan pernafasan terjadi sebagai respon terhadap efek

- efek langsung dari kuman pada pusat pernafasan. Pernafasan menjadi

dangkal bila terjadi insufisiensi pernafasan, menimbulkan resiko

kegagalan pernafasan akut.

5) Berikan cairan parenteral.

Rasional : Untuk mempertahankan perfusi jaringan, sejumlah besar

cairan mungkin dibutuhkan untuk mendukung volume sirkulasi.

e Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan

pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/ mengingat

kesalahasn interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.

Tindakan/ intervensi:

cigayung.wordpress.com
47

1) Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan.

Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat

membuat pilihan.

2) Berikan informasi mengenai terapi obat - obatan, interaksi obat, efek

samping dan ketaatan terhadap program.

Rasional : Meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerja sama

dalam penyembuhan dan mengurangi kambuhnya komplikasi.

3) Diskusikan kebutuhan untuk pemasukan nutrisional yang tepat dan

seimbang.

Rasional : Perlu untuk penyembuhan optimal dan kesejahteraan

umum.

4) Dorong periode istirahat dan aktivitas yang terjadwal.

Rasional : Mencegah pemenatan, penghematan energi dan

meningkatkan penyembuhan.

5) Tinjau perlunya kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan.

Rasional : Membantu mengontrol pemajanan lingkungan dengan

mengurangi jumlah penyebab penyakit yang ada.

6) Identifikasi tanda dan gejala yang membutuhkan evaluasi medis.

Rasional : Pengenalan dini dari perkembangan / kambuhnya infeksi.

7) Tekankan pentingnya terapi antibiotik sesuai kebutuhan.

Rasional : Pengguaan terhadap pencegahan terhadap infeksi.

cigayung.wordpress.com
48

4. Implementasi

Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan

yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun

dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan

yang diharapkan. Tujuan dari pelaksanaan adalah mencapai tujuan yang telah

ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,

pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. Tindakan keperawatan

dibedakan kewenangan dan tanggung jawab perawat secara professional.

Tahap pelaksanaan tindakan keperawatan adalah kegiatan pelaksanaan

tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional.

Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan : independent, dependen

dan interdependen.

a. Independen

Tindakan keperawatan independent adalah suatu kegiatan yang

dilaksanakan perawat tanpa petunjuk atau perintah dari dokter atau tenaga

kesehatan lainnya. Tindakan tersebut merupakan suatu respon dimana

perawat mempunyai kewenangan untuk melakukan tindakan keparawatan

secara pasti berdasarkan pendidikan dan pengalamannya.

b. Dependen

cigayung.wordpress.com
49

Tindakan dependen berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan

medis. Tindakan tersebut menandakan suatu cara dimana tindakan medis

dilaksanakan.

c. Interdependen

Interdependen tindakan keperawatan menjelaskan suatu kegiatan yang

memerlukan suatu kerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya, misalnya

tenaga sosial, ahli gizi, fisioterapi dan dokter (Nursalam, 2001, hal. 67 –

69).

5. Evaluasi keperawatan

Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi keperawatan

yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan

pelaksanannya sudah berhasil dicapai. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat

kemampuan klien dalam mencapai tujuan. Hal ini bisa dilaksanakan dengan

mengadakan hubungan klien berdasarkan respon klien pada tindakan

keperawatan yang diberikan sehingga perawat dapat mengambil keputusan

(Nursalam, 2001, hal. 71).

cigayung.wordpress.com
50

BIODATA PENYUSUN

Nama : ADI

NIM : 05201

Tempat, tanggal lahir : Merempayang, 28 Juni 1987

Agama : Katolik

Jenis Kelamin : Laki- laki

Status mahasiswa : Umum

Alamat : Ds. Merempayang, Jalan Raya Pontianak km xx Ngabang.

Kabupaten Landak

Pendidikan :

1. SDN No. 50 Manur Separe, lulus tahun 1999

2. SLTPN 1 Sanggau, lulus tahun 2002

3. SMUN 2 Sanggau, lulus tahun 2005

cigayung.wordpress.com