Anda di halaman 1dari 41

TUGAS MATA KULIAH KMB II

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERKEMIHAN

DISUSUN OLEH :
WIDIAWATI
102STYC16

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN JENJANG STRATA I
MATARAM
2018
1. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERKEMIHAN
a. Pengertian
Sisitem urinaria adalah suatu sistem tempat terjadinya proses penyaringan
darah sehingga dara bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan
menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang dipergunakan
oleh tubuh larutan dalam air dan dikeluarkan berupa urine (air kemih).

b. Sistem urinaria terdiri atas:


1. Ginjal, yang mengeluarkan sekret urine.
2. Ureter, yang menyalurkan urine dari ginjal ke kandung kencing.
3. Kandung kencing, yang bekerja sebagai penampung.
4. Uretra, yang menyalurkan urine dari kandung kencing.
1. Ginjal
Ginjal adalah suatu kelenjar yang terletak di bagian belakang kavum
abdominalis di belakang peritoneum pada kedua sisi vertebra lumbalis III, melekat
langsung pada dinding belakang abdomen. Bentuk ginjal seperti biji kacang,
jumlahnya ada dua buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan
pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari ginjal wanita.
a. Fungsi ginjal:
1. Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun.
2. Mempertahankan suasana keseimbangan cairan
3. Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh.
4. Mempertimbangkan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh.
5. Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari ureum protein.

b. Uji fungsi ginjal terdiri dari:

1. Uji protein (albumin). Bila ada kerusakan pada glomerulus atau tubulus, maka
protein dapat bocor dan masuk ke urine.
2. Uji konsentrasi ureum darah. Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan ureum maka
ureum darah naik di atas kadar normal 20-40 mg%.
3. Uji konsentrasi. Pada uji ini dilarang makan dan minum selama 12 jam untuk
melihat sampai berapa tinggi berat jenis naiknya.

c. Struktur ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula renalis yang
terdiri dari jaringan fibrus berwarna ungu tua. Lapisan luar terdiri dari lapisan korteks
(subtansia kortekalis), dan lapisan sebelah dalam bagian medulla (subtansia
medularis) berbentuk kerucut yang disebut renal piramid. Puncak kerucut tadi
menghadap kaliks yang terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis.
Masing-masing piramid dilapisi oleh kolumna renalis, jumlah renalis 15-16 buah.
Garis-garis yang terlihat di piramid disebut tubulus nefron yang merupakan bagian
terkecil dari ginjal yang terdiri dari glomerulus, tubulus proksimal (tubulus kontorti satu),
ansa henle, tubulus distal (tubulus kontorti dua) dan tubulus urinarius (papilla vateri).

Pada setiap ginjal diperkirakan ada 1.000.000 nefron, selama 24 jam dapat
menyaring darah 170 liter. Arteri renalis membawa darah murni dari aorta ke ginjal,
lubang-lubang yang terdapat pada piramid renal masing-masing membentuk simpul dari
kapiler satu badan malfigi yang disebut glomerulus. Pembuluh aferen yang bercabang
membentuk kapiler menjadi vena renalis yang membawa darah dari ginjal ke vena kava
inferior.

d. Fisiologi ginjal

Ginjal berfungsi:

1. Mengatur volume air (cairan dalam tubuh). Kelebihan air dalam tubuh akan
diekskresikan oleh ginjal sebagai urine (kemih) yang encer dalam jumlah
besar, kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan urine yang diekskresi
berkurang dan konsentrasinya lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan
tubuh dapat dipertahankan relatif normal.
2. Mengatur keseimbangan osmitik dan mempertahankan keseimbangan ion
yang optimal dalam plasma (keseimbangan elektrolit). Bila terjadi
pemasukan/pengeluaran yang abnormal ion-ion akibat pemasukan garam yang
berlebihan/penyakit perdarahan (diare, muntah) ginjal akan meningkatkan
ekskresi ion-ion yang penting (mis. Na, K, Cl, Ca dan posfat).
3. Mengatur keseimbangan asam-basa cairan tubuh bergantung pada apa yang
dimakan, campuran makanan menghasilkan urine yang bersifat agak asam, pH
kurang dari 6 ini disebabkan hasil akhir metabolism protein. Apabila banyak
makan sayur-sayuran, urine akan bersifat basa. pH urine bervariasi antara 4,8-
8,2. Ginjal menyekresi urine sesuai dengan perubahan pH darah.
4. Ekskresi sisa hasil metabolism (ureum, asam urat, kreatinin) zat-zat toksik,
obat-obatan, hasil metabolism hemoglobin dan bahan kimia asing (pestisida).
5. Fungsi hormonal dan metabolisme. Ginjal menyekresi hormon renin yang
mempunyai peranan penting mengatur tekanan darah (sistem renin angiotensin
aldesteron) membentuk eritripoiesis mempunyai peranan penting untuk
memproses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis).

Di samping itu ginjal juga membentuk hormone dihidroksi kolekalsiferol (vitamin


D aktif) yang diperlukan untuk absorsi ion kalsium di usus.

e. Filtrasi glomerulus
Kapiler glomerulus secara relatif bersifat impermeabel terhadap protein
plasma yang lebih besar dan permeabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil
sepeti elektrolit, asam amino, glukosa dan sisa nitrogen. Glomerulus mengalami
kenaikan tekanan darah 90 mmHg. Kenaikan ini terjadi karena anteriole aferen yang
mengarah ke glomerulus mempunyai diameter yang lebih besar dan memberikan
sedikit tahanan dari kapiler yang lain. Darah didorong ke dalam ruangan yang lebih
kecil, sehingga darah mending air dan partikel yang terlarutdalam plasma masuk ke
dalam kapsula bowman. Tekanan darah terhadap dinding pembuluh ini disebut
tekanan hidrostatik (TH). Gerakan masuknya ke dalam kapsula bowman disebut
sebagai filtrasi glomerulus.
Tiga faktor pada proses filtrasi dalam kapsula bowman menggambarkan integrasi ketiga
faktor tersebut yaitu:

1. Tekanan osmitik (TO). Tekanan yang dikeluarkan oleh air (sebagai pelarut) pada
membrane semipermeabel sebagai usaha untuk menembus membrane semipermeabel
ke dalam area yang mengandung lebih banyak molekul yang dapat melewati
membrane semipermeabel. Pori-pori dalam kapiler glomerulus membuat membrane
semipermeabel memungkinkan untuk melewati yang lebih kecil dari air tetapi
mencegah molekul yang lebih besar misalnya protein dan plasma.
2. Tekanan hidroststik (TH). Sekitar 15 mmHg dihasilkan oleh adanya filtrasi dalam
kapsula dan berlawanan dengan tekanan hidrostatik darah. Filtrasi juga mengeluarkan
tekanan osmitik 1-3 mmHg yang berlawanan dengan osmitik darah.
3. Perbedaan tekanan osmitik plasma dengan cairan dalam kapsula bowman
mencerminkan perbedaan kosentrasi protein, perbedaan ini menimbulkan pori-pori
kapiler mencegah protein plasma untuk difiltrasi.

Tekanan hidrostatik plasma dan tekanan osmitik filtrat kapsula bowman bekerja sama untuk
meningkatkan gerakan air dan molekul permeabel, molekul permeabel kecil dari plasma
masuk ke dalam kapsula bowman.

f. Peredaran darah ginjal


ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai
percabanganarteri arteri renalis. Arteri ini berpasangan kiri dan kanan. Arteri renalis
bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri arkuata. Arteri
interloburalis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk
gumpalan-gumpalan yang disebut glomerulus. Glomerulus ini dikelilingi oleh alat
yang disebut simpai bowman. Di sini terjadi penyaringan pertama dan kapiler darah
yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena
kava inferior.
g. Persarafan ginjal
Ginjal mendapat persarafan dari pleksus renalis (vasomotor). Saraf ini berfungsi
untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan
dengan pembu;uh darah yang masuk ginjal. Di atas ginjal terdapat kelenjar suprarenalis,
kelenjar ini merupakan kelenjar buntu yang menghasilkan dua macam hormon yaitu
hormon adrenalin dan hormon kortison. Adrenal dihasilkan oleh medulla.

h. Reabsorpsi dan sekresi tubulus


Sewaktu filtrat glomerulus memasuki tubulus ginjal, filtrat ini mengalir melalui
bagian-bagian tubulus. Sebelum diekskresikan sebagai urine beberapa zat diabsorpsi
kembali secara selektif dari tbulus dan kembali ke dalam darah, sedangkan yang lain de
sekresikandari darah ke dalam lumen tubulus. Pada akhirnya urine terbentuk dan semua
zat dalam urine akan menggambarkan penjumlahan dari tiga proses dasar ginjal (filtrasi
glomerulus, reabsorpsi tubulus dan sekresi tubulus).

Ekskresi urine – Filtrasi glomerulus – Reabsorpsi tubulus + Sekresi tubulus

a. Reabsorpsi tubulus
Ginjal menangani beberapa zat yang yang difiltrasi secara bebas dalam
ginjaldan diabsorpsi dengan kecepatan yang berbeda. Kecepatan masing-masing zat
dapat dihitung sebagi berikut.

Filtrasi – Kecepatan filtrasi glomerulus x Kecepatan plasma

Penghitungan ini menganggap bahwa zat-zat difiltrasi secara bebas dan tidak terikat
pada protein plasma.

Kebanyakan zat proses filtrasi golmerulus dan reabsorpsi tubulus secara


kuntitatif relatif sangat besar terhadap sekresi urine. Sedikit saja perubahan pada filtrasi
glomerulus atau reabsorpsi secara potensial dapat menyebabkan perubahan yang relatif
besar. Beberapa produk buangan seperti ureum dan kreatinin sulit diabsorpsi dari
tubulus dan diekskresi dalam jumlah yang relatif besar.

Mekanisme pasif. Zat yang akan diabsorpsi harus ditranspor melintasi membran
epitel tubulus ke dalam cairan interstisial ginjal, melalui kapiler peri tubulus kembali ke
dalam darah. Reabsorpsi melalui epitel tubulus ke dalam darah, misalnya air dan zat
terlarut dapat ditranpor melalui membran selnya sendiri (jalur transeluler) atau melalui
ruang sambungan antar-sel (jalur para seluler). Setelah diabsorpsi melalui sel epitel
tubulus ke dalam cairan interstisial air dan zat terlarut ditranpor melalui dinding kapiler
ke dalam darah dengan cara ultrafiltrasi yang diperantarai oleh tekanan hidrostatik dan
tekanan osmotik koloid.

Traspor aktif mendorong suatu zat terlarut melawan gradien elektrokimia dan
membutuhkan energi yang berasal dari metabolisme. Transpor yang berhubungan
langsung dengan suatu sumber energi seperti hidrolisis adenosin trifosfat (ATF) disebut
transfor aktif primer. Transpor yang tidak berhubungan secara langsung dengan suatu
sumber energi seperti yang diakibatkan oleh gradien ion, disebut transpor aktif
sekunder.

b. Reabsorpsi tubulus proksimal

Secara normal sekitar 65% dari muatan natrium dan air yang difiltrasi dan
nilai persentase terendah dari klorida akan diabsorpsi oleh tubulus proksimal sebelum
filtrat mencapai ansa henle. Persentase ini dapat meningkat atau menurun dalam
berbagai kondisi fisiologis.

Sel tubuh proksimal mempunyai banyak sekali brush boerder. Permukaan


membran brush boerder dimuati molekul protein yang mentranspor ion natrium
melewati membran lumen yang bertalian dengan mekanisme transpor nutrien organik
(asam amino dan glukosa). Tubulus proksimal merupakan tempat penting untuk sekresi
asam dan basa, organik seperti garam garam empedu, oksalat, urat, dan katekolamin.

Regulasi reabsorpsi tubulus penting untuk mempertahankan suatu keseimbangan


yang tepat antara reabsorpsi tubulus dan filtrasi glomerulus. Adanya mekanisme saraf,
faktor hormonal, dan kontrol setempat yang meregulasi reabsorpsi tubulus untuk
mengatur filtrasi glomerulus maka reabsorpsi beberapa zat terlarut dapat diatur secara
bebas terpisah dari yang lain terutama melalui mekanisme pengontrolan hormonal.

i. Abnormalitas kongenital
Kelainan kongenital ginjal dapat terjadi, termasuk:

1. Tidak terdaptnya ginjal.


2. Ginjal berbentuk seperti sepatu kuda.
3. Kista ginjal, dimana ginjal mempunyai kista dalam jumlah yang besar sebagai akibat
dari kesalahan perkembangan dalam perkembangan tubulus.
a. Penyakit ginjal
Penyakit pada ginjal dapat mengganggu fungsi nefron, dan apabila
sejumlah besar nefron mengalami kerusakan maka akan terjadi kerusakan
fungsi ginjal: sekresi urina hilang, albumin atau darah dapat terlihat pada
urine, produk metabolisme (misalnya urea) yang seharusnya di ekskresi tidak
diekskresi dan terjadi penumpukan dalam darah, serta keseimbangan asam
basa tubuh menjadi terganggu.

Pada glomerulus nefritis akut ginjal mengalami perbesaran, glomerulus merupakan


bagian khusus yang terkena. Pada sindroma nefrotik terdapatnya protein dalam urine
menyebabkan terjadinya retensi cairan dalam jaringan. Pada glikosuria renalis glukosa bocor
ke dalam urine sebagai akibat kelainan kongenital pada anatomi dan fungsi nefron.

Gagal ginjal akut dapat timbul sebagai akibat:

1. Gangguan sirkulasi renalis (misalnya pada syok, penurunan curah jantung ditujukan
pada otak dan jantung menyebabkan kerusakan pada ginjal).
2. Glomerulo nefritis berat
3. Penyumbatan traktus urinarius oleh batu ginjal.

Bila gagal ginjal terjadi pada beberapa jam, tubulus ginjal akan mengalami kerusakan
permanen. Pada urine yang disekresi terhenti sama sekali (terjadi urinarius) atau berkurang
dalam jumlah yang sangat kecil (oligura), terdapat perubahan keseimbangan asam basa yang
berat dan produk akhir metabolisme tubuh tidak diekskresi. Gagal ginjal kronik merupakan
akibat dari kerusakan nefron yang permanen ole penyakit ginjal apa saja yang berat, adanya
bukti terjadi gagal ginjal terlihat apa bila sekitar 75% dari nefron sudah tidak berfungsi.

Pada diabetik insipidus antidiuretik hormon tidak dibentuk oleh kompleks


hipotalamuspituitari dan sebagai konsekuensinya air tidak direabsorpsi dalam duktus
kolektikus, dan pasien mengeluarkan jumlah urine banyak yang pekat.

Abnormalitas kandungan urine:

1. Glukose
2. Benda-benda keton
3. Garam empedu
4. Pigmen empedu
5. Protein
6. Darah
7. Beberapa obat-obatan
2. Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa, masing–masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih
(vesika urinaria), panjangnya ± 25-30 cm, dengan penampang ± 0,5 cm. Ureter
sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding abdomen terdiri dari:
1. Dinding luar jaringan ikat (jarinagn fibrosa)
2. Lapisan tengah lapisan otot polos
3. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa

Lapisan didnding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali


yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kamih (vesika urinaria). Gerakan
peristaltik mendorong urine melalui ureter yang diekskresikan oleh ginjal dan disemprotkan
dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih.

Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi
oleh peritoneum. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis,
pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe berasal dari pembuluh sekitarnya mempunyai
saraf sensorik.

Pars abdominalis ureter dalam kavum abdomen ureter terletak di belakang peritoneum
sebelah media anterior m. psoas mayor dan ditutupi oleh fasia subserosa. Vasa
spermatika/ovarika interna menyilang ureter secara oblique, selanjutnya ureter akan mencapai
kavum pelvis dan menyilang arteri iliaka eksterna.

Ureter kanan terletak pada parscdesendens duodenum. Sewaktu turun ke bawah


terdapat di kanan bawah dan disilang oleh kolon dekstra dan vosa iliaka iliokolika, dekat
apertura pelvis akan dilewati oleh bagian bawah mesenterium dan bagian akhir ilium. Ureter
kiri disilang oleh vasa koplika sinistra dekat apertura pelvis superior dan berjalan di belakang
kolon sigmoid dan mesenterium.

Pars pelvis ureter berjalan pada bagian dinding lateral pada kavum pelvis sepanjang
tepi anterior dari insura iskhiadikamayor dan tertutup olehperitoneum. Ureter dapt ditemukan
di depan arteri hipogastrikabagian dalam nervus obturatoris arteri vasialia anterior dan
arteri hemoroidalis media. Pada bagian bawah insura iskhiadika mayor, ureter agak miring ke
bagian medial untuk mencapai sudut lateral dari vesika urinaria.
a. Ureter pada pria
Terdapat di dalam visura seminalis atas dan disilang oleh duktus
deferens dan dikelilingi oleh pleksus vesikalis. Selanjutnya ureter
berjalan oblique sepanjang 2 cm di dalam dinding vesika urinaria pada
sudut lateral dari trigonum vesika. Sewaktu menembus vesika urinaria,
dinding atas dan dinding bawah ureter akan tertutup dan pada waktu
vesika urinaria penuh akan membentuk katup (valvula) dan mencegah
pengambilan urine dari vesika urinaria.
b. Ureter pada wanita
Terdapat di belakang fossa ovarika urinaria dan berjalan ke
bagian medial dan ke depan bagian lateralis serviks uteri bagian atas,
vagina untuk mencapai fundus vesika urinaria. Dalam perjalanannya,
ureter didampingi oleh arteri uterina sepanjang 2,5 cm dan selanjutnya
arteri ini menyilang ureter dan menuju ke atas di antara lapisan
ligamentum. Ureter mempunyai 2 cm dari sisi serviks uteri. Ada tiga
tempat yang penting dari ureter yang mudah terjadi penyumbatan yaitu
pada sambungan ureter pelvis diameter 2 mm, penyilangan vosa iliaka
diameter 4 mm dan pada saat masuk ke vesika urinaria yang
berdiameter 1-5 cm.
1. Pembuluh darah ureter
a. Arteri renalis
b. Arteri spermatika interna
c. Arteri hipogastrika
d. Arteri vesika inferior
2. Persarafan ureter
Persarafan ureter merupakan cabang dari pleksus mesenterikus inferior,
pleksus spermatikus, dan pleksu pelvis; seperti dari nervus; rantai eferens dan nervus
vagusrantai eferen dari nervus torakalis ke-11 dan ke-12, nervus lumbalis ke-1, dan
nervus vagus mempunyai rantai aferen untuk ureter.
3. Vesika urinaria
Vesika urinaria (kandung kemih) dapat mengembang dan mengempis seperti
balon karet, terletak di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Bentuk
kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan
dengan ligamentum vesika umbilikalis medius.

Bagian vesika urinaria terdiri dari:

1. Fundus yaitu, bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah, bagian ini
terpisah dari rektum oleh spatium rectovesikale yang terisi oleh jaringan ikat
duktus deferen, vesika seminalis dan prostat.
2. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
3. Verteks, bagian yang mancung ke arah muka dan berhubungan dengan ligamentum
vesika umbilikalis.

Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan sebelah luar (peritonium), tunika
muskularis (lapisan otot), tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian
dalam). Pembuluh limfe vesika urinaria mengalirkan cairan limfe ke dalam nadi
limfatik iliaka interna dan eksterna.

a. Lapisan otot vesika urinaria


Lapisan otot vesika urinaria terdiri dari otot polos yang tersusun dan
saling berkaitan dan disebut m. detrusor vesikae. Peredaran darah vesika
urinaria berasal dari arteri vesikalis superior dan inferior yang merupakan
cabang dari arteri iliaka interna. Venanya membentuk pleksus venosus
vesikalis yang berhubungan dengan pleksus prostatikus yang mengalirkan
darah ke vena iliaka interna.
b. Persarafan vesika urinaria
Persarafan vesika urinaria berasal dari pleksus hipogastrika inferior.
Serabut ganglion simpatikus berasal dari ganglion lumbalis ke-1 dan ke-2
yang berjalan turun ke vesika urinaria melalui pleksus hipogastrikus. Serabut
preganglion parasimpatis yang keluar dari nervus splenikus pelvis yang
berasal dari nervus sakralis 2, 3 dan 4 berjalan melalui hipogastrikus inferior
mencapai dinding vesika urinaria.
Sebagian besar serabut aferen sensoris yan g keluar dari vesika urinaria
menuju sistem susunan saraf pusat melalui nervus splanikus pelvikus berjalan
bersama saraf simpatis melalui pleksus hipogastrikus masuk kedalam segmen
lumbal ke-1 dan ke-2 medula spinalis.
4. Uretra
Uretara merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang
berfungsi menyalurkan air kemih keluar.

a. Uretra pria
Pada laki-laki uretra berjalan berkelok kelok melalaui tengah-tengah
prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang fubis ke
bagian penis panjangnya ± 20 cm.

uretra pada laki-laki terdiri dari:

1. Uretra prostatia
2. Uretra membranosa
3. Uretra kevernosa

Lapisan uretra laki-lakin terdiri lapisan mukosa (lapisan paling dalam),


dan lapisan submukosa.
Uretra mulai dari orifisium uretra interna di dalam vesika urinaria
sampai orifisium eksterna. Pada penis panjangnya 17,5-20 cm yang terdiri
dari bagian-bagian berikut:

Uretra prostatika merupakan saluran terlebar panjangnya 3 cm,


berjalan hampir vertikulum melalui glandula prostat , mulai dari basis sampai
ke apaks dan lebih dekat ke permukaan anterior.

Uretra pars membranasea ini merupakan saluran yang paling pendek


dan paling dangkal, berjalan mengarah ke bawah dan ke depan di antara apaks
glandula prostata dan bulbus uretra. Pars membranesea menembus diagfragma
urogenitalis, panjangnya kira-kira 2,5 cm, di belakang simfisis pubis diliputi
oleh jaringan sfingter uretra membranasea. Di depan saluran ini terdapat vena
dorsalis penis yang mencapai pelvis di antara ligamentum transversal pelvis
dan ligamentum arquarta pubis.

Uretra pars kavernosus merupakan saluran terpanjang dari uretra dan


terdapat di dalam korpus kavernosus uretra, panjangnya kira-kira 15 cm, mulai
dari pars membranasea sampai ke orifisium dari diafragma urogenitalis. Pars
kavernosus uretra berjalan ke depan dan ke atas menuju bagian depan simfisis
pubis. Pada keadaan penis berkontraksi, pars kavernosus akan membelok ke
bawah dan ke depan. Pars kavernosus ini dangkal sesuai dengan korpus penis
6 mm dan berdilatasi ke belakang. Bagian depan berdilatasi di dalam glans
penis yang akan membentuk fossa navikularis uretra.

Oriifisium uretra eksterna merupakan bagian erektor yang paling


berkontraksi berupa sebuah celah vertikal ditutupi oleh kedua sisi bibir kecil
dan panjangnya 6 mm. glandula uretralis yang akan bermuara ke dalam uretra
dibagi dalam dua bagian, yaitu glandula dan lakuna. Glandula terdapat di
bawah tunika mukosa di dalam korpus kavernosus uretra (glandula pars
uretralis). Lakuna bagian dalam epitelium. Lakuna yang lebih besar
dipermukaan atas di sebut lakuna magma orifisium dan lakuna ini menyebar
ke depan sehingga dengan mudah menghalangi ujung kateter yang dilalui
sepanjang saluran.
b. Uretra wanita
Uretra pada wanita terletak di belakang simfisis pubis berjalan miring
sedikit ke arah atas, panjangnya ± 3-4 cm. lapisan uretra wanita terdiri dari
tunika muskularis (sebelah luar), lapiosan spongeosa merupakan pleksus dari
vena-vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam). Muara uretra pada
wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di
sini hanya sebagai salura ekskresi. Apabila tidak berdilatasi diameternya 6 cm.
uretra ini menembus fasia diagfragma urogenitalis dan orifisium eksterna
langsung di depan permukaan vagina, 2,5 cm di belakang glans klitoris.
Glandula uretra bermuara ke uretra, yang terbesar diantaranya adalah glandula
pars uretralis (skene) yang bermuara kedalam orifisium uretra yang hanya
berfungsi sebagai saluran ekskresi.
Diagfragma urogenitalis dan orifisium eksterna langsung di depan
permukaan vagian dan 2,5 cm di belakang glans klitoris. Uretra wanita jauh
lebih pendek daripada pria dan terdiri lapisan otot polos yang diperkuat oleh
sfingter otot rangka pada muaranya penonjolan berupa kelenjar dan jaringan
ikat fibrosa longggar yang ditandai dengan banyak sinus venosus merip
jaringan kavernosus.
c. Mikturisi
Mikturisis adalah peristiwa pembentukan urine. Karena dibuat di
dalam, urine mengalir melalaui ureter ke kandung kencing. Keinginan
membuang air kecil disebabkan penambahan tekanan di dalam kandung
kencing, dan tekanan ini di sebabkan isi urone di dalamnya. Hal ini terjadi bila
tertimbun 170 sampai 230 ml. mikturisi adalah gerak reflek yang dapat
dikendalikan dan ditahan oleh pusat-pusat persarafan yang lebih tinggi pada
manusia. Gerakannya ditimbulkan kontraksi otot abdominal yang menambah
tekanan di dalam rongga abdomen, dan berbagai organ yang menekan
kandung kencing membantu mengkosongkannya. Kandung kencing
dikendalikan saraf pelvis dan serabut saraf simpatis dari pleksus hipogastrik.
d. Ciri-ciri urine yang normal
Jumlahnya rata-rata 1-2 liter sehari, tetapi beda-beda sesaui jumlah
cairan yang dimasukan. Banyaknya bertambah pula bila terlampau banyak
protain dimakan, sehingga tersedia cukup cairan yang diperlukan untuk
melarutkan ureanya.
 Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, tetapi adakalanya
jenjot lendir tipis tanpak terapung di dalamnya.
 Baunya tajam.
 Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6.
 Berat jenis berkisat dari 1010 sampai 1025.

e. Komposisi urine normal


Urine terutama terdiri atas air, urea, dan natrium klorida. Pada
seseorang yang menggunakan diet yang rata-rata berisi 80 sampai 100 gram
protein dalam 24 jam, jumlah persen air dan benda padat dalam urine adalah
seperti berikut:

 Air 96%
 Benda padat 4% (terdiri atas urei 2% dan produk metabolik lain 2%)

Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam


amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal,
dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum darah yang
normal adalah 30 mg setiap 100 ccm darah, tetapi hal ini tergantung dari
jumlah normal protein yang dimakan dan fungsi hati dalam pembentukan
ureum.

Asam urat. Kadar normal asam urat di dalam darah adalah 2 sampai 3
mg setiap 100 cm, sedangkan 1,5 sampai 2 mg setiap hari diekskresikan ke
dalam urine.

Kretin adalah hasil buangan kreatin dalam otot. Produk metabolisme


lain mencangkup benda-benda purin, oksalat, fosfat, sulfat, dan urat.

Elektrolit atau garam, seperti natrium kalsium dan kalium klorida,


diekskresikan untuk mengimbangijumlah yang masuk melalui mulut.
2. ANATOMI,FISIOLOGI,KIMIA,FISIKA SISTEM PERKEMIHAN
a. Mekanisme Renin – Angiotensin
Pengaturan atau regulasi tekanan darah juga merupakan salah satu fungsi system
renal. Suatu hormon yang dinamakan rennin disekresikan oleh sel-sel jukstaglomeruler
ketika tekanan darah menurun. Rennin adalah enzim pertama dalam kaskade biokimia
system rennin-angiotensin-aldosteron. Fungsi system ini adalah mempertahankan volume
ECF (Efektif Circulation Volume) dan tekanan perfusi jaringan dengan mengubah
resistensi pembuluh darah dan ekskresi Na+ dan air di ginjal. Hipoperfusi ginjal, yang
dihasilkan oleh hipotensi dan penurunan volume serta peningkatan aktivitas simpatetik
adalah perangsangan utama sekresi rennin. Asupan ke system saraf pusat diberikan oleh
baroreseptor yang terletak di pusat melalui saraf vagus dan glosofaringeal, yang
sebaliknya mempengaruhi keluaran simpatetik : baroreseptor yang terletak dalam atrium
jantung dan pembuluh darah paru bertekanan rendah terutama merespon volume atau isi
dari cabang pembuluh darah. Baroreseptor terletak dalam arkus aorta dan sinus karotis
bertekanan tinggi yang terutama merespon terhadap tekanan arteri darah. Penurunan
tekanan darah menghasilkan peningkatan aktivitas simpatis ginjal, menyebabkan retensi
Na+ dan air. Peningkatan tekanan intravaskuler memiliki efek yang bertolak belakang.
Suatu enzim akan mengubah rennin menjadi angiotensin I yang kemudian diubah
menjadi angiotensin II, yaitu senyawa vasokonstriktor paling kuat. Vasokonstriksi
menyebabkan peningkatan tekanan darah. Aldosteron disekresikan oleh korteks adrenal.
Sebagai reaksi terhadap stimulasi oleh kelenjar hipofisis dan pelepasan ACTH sebagai
reaksi terhadap perfusi yang jelek atau peningkatan osmolalitas serum. Akibatnya
peningkatan tekanan darah.
Atrium jantung memiliki mekanisme tambahan untuk mengontrol ekskresi Na+ ginjal
dan volume ECF yang secara berlawanan mengatur mekanisme rennin-angiotensin-
aldosteron. Atrium jantung menyintesis suatu hormon yang disebut peptide natriuretik
atrial (ANP) yang kemudian disimpan dalam granula. ANP dilepaskan dari granula
atrium sebagai respon terhadap regangan yaitu peningkatan volume ECF. ANP
meningkatkan ekskresi Na+ dan air oleh ginjal.
b. Peran Eritropoetin dalam Pembentukan Darah
Sampai saat ini peranan eritropoietin (EPO) telah banyak dikenal dalam sisi
hematologik yaitu dalam meningkatkan pembentukan sel darah merah melalui
rangsangan terhadap proses eritropoiesis. Saat ini penjelajahan kemampuan EPO semakin
berkembang diantaranya adalah peranannya di dalam otak sebagai neuroprotektor. EPO
meningkatkan produksi sel-sel darah merah dan bisa mengurangi ketergantungan akan
transfusi darah. Namun EPO tidak ditujukan untuk menggantikan transfusi emergensi.
Hormon ini bersirkulasi sepanjang aliran darah menuju sumsum tulang dan
menstimulasi produksi sel darah merah. Bila terjadi gagal ginjal, maka produksi EPO
terhenti. Akibatnya produksi sel darah merah pun turut berkurang yang bisa berujung
pada anemia parah.
Meski pengetahuan tentang fungsi eritropoietin itu telah lama diketahui, namun
keberadaannya sebagai agen terapi untuk mengatasi gangguan produksi darah merah
belum begitu lama dikenal. Bayangkan saja, berdasarkan percobaan transfusi pada
kelinci, eksistensi suatu faktor humoral yang mengatur produksi sel darah merah telah
sukses dipostulasikan pada 1906. Namun sampai dengan 1950, faktor eritropoietik ini
masih belum terindentifikasi. Sepuluh tahun kemudian baru diketahui bahwa faktor ini
bersumber dari ginjal.
Setelah sekian lama penelitian dilakukan, barulah pada 1977, T. Miyake, C. K. Kung
dan E. Goldwasser dari University of Chicago berhasil memurnikan EPO dari urin
manusia. Sejak saat itu, eritropoietin yang berasal dari protein asli manusia ini mulai
digunakan secara terbatas dalam eksperimen untuk mengobati pasien anemia. Dan,
seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, pada 1983 pengodean
gen EPO sukses diidentifikasi. Alhasil, EPO pun bisa diproduksi secara masal dengan
menggunakan teknologi DNA rekombinan pada kultur sel mamalia.
Sekarang, hormon yang juga dikenal dengan sebutan hematopoietin atau hemopoietin
ini diidentifikasi sebagai suatu glikopritein dengan masa molekul sekitar 30.000 Dalton.
Hormon ini memiliki 165 rantai asam amino dengan 4 sisi
rantai oligosakarida. Di samping itu, indikasi penggunaannya pun turut
berkembang. Kini, EPO tak hanya digunakan untuk mengatasi anemia pada pasien
gagal ginjal kronis, namun juga untuk anemia pada pasien yang menjalani
kemoterapi dan antisipasi kehilangan darah pada pembedahan.
Pada prinsipnya, terapi EPO pada pasien tersebut bertujuan untuk meningkatkan
produksi sel darah merah dan mengurangi kebutuhan akan transfusi darah. Namun, EPO
tidak ditujukan untuk pasien dengan anemia parah yang membutuhkan koreksi
secepatnya. EPO tidak ditujukan untuk mengantikan transfusi emergensi.
c. Pengaturan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit, Serta Sistem Buffer
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu
volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume
cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol
osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan.
1. Pengaturan volume cairan ekstrasel.
Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah
jangka panjang.
a. Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan
output) air. Untuk mempertahankan volume cairan tubuh kurang
lebih tetap, maka harus ada keseimbangan antara air yang ke luar
dan yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini terjadi karena adanya
pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan
lingkungan luarnya. Water turnover dibagi dalam: 1. eksternal fluid
exchange, pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar; dan 2.
Internal fluid exchange, pertukaran cairan antar pelbagai
kompartmen, seperti proses filtrasi dan reabsorpsi di kapiler ginjal.
b. Memeperhatikan keseimbangan garam. Seperti halnya
keseimbangan air, keseimbangan garam juga perlu dipertahankan
sehingga asupan garam sama dengan keluarannya. Kelebihan
garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam urine untuk
mempertahankan keseimbangan garam.
Ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara:
a. Mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR).
b. Mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal
Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan
mengontrol tekanan darah. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur
reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. Retensi Na+
meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan
peningkatan tekanan darah arteri.Selain sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron, Atrial
Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium
dan air.
2. Pengaturan Osmolaritas Cairan Ekstrasel
Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut)
dalam suatu larutan. Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi
solut yang tidak dapat menmbus membran plasma di intrasel dan ekstrasel. Ion
natrium menrupakan solut yang banyak ditemukan di cairan ekstrasel, dan ion
utama yang berperan penting dalam menentukan aktivitas osmotik cairan
ekstrasel. sedangkan di dalam cairan intrasel, ion kalium bertanggung jawab
dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Pengaturan osmolaritas
Cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui:
a. Perubahan osmolaritas di nefron
Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan
osmolaritas yang pada akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan
cairan tubuh secara keseluruhan di dukstus koligen. Dinding tubulus ansa Henle pars
decending sangat permeable terhadap air, sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi
cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta.
Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan
secara aktif memindahkan NaCl keluar tubulus. Hal ini menyebabkan reabsobsi
garam tanpa osmosis air. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus
koligen menjadi hipoosmotik. Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen
bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH). Sehingga urine yang
dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga
bergantung pada ada tidaknya vasopresis (ADH).
b. Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH)
Peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel akan merangsang osmoreseptor di
hypotalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypotalamus yang
mensintesis vasopresin. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam
darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. ikatan vasopresin
dengan reseptornya di duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin, yaitu kanal air
di membrane bagian apeks duktus koligen. Pembentukkan aquaporin ini
memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. Hal ini menyebabkan urine
yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat,
sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan.
3. Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan
elektrolit diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf
mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melalui
baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotikus, osmoreseptor di hypotalamus, dan
volume reseptor atau reseptor regang di atrium. Sedangkan dalam sistem
endokrin, hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan
cairan adalah Angiotensin II, Aldosteron, dan Vasopresin/ADH dengan
meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. Sementara, jika terjadi peningkatan
volume cairan tubuh, maka hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan
eksresi volume natrium dan air.
Perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa
keadaan.Faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di
antaranya ialah umur, suhu lingkungan, diet, stres, dan penyakit.
4. Keseimbangan Asam-Basa
Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas
dalam cairan tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4; pH darah arteri 7,45 dan darah
vena 7,35. Jika pH <7,35 dikatakan asidosi, dan jika pH darah >7,45 dikatakan
alkalosis. Ion H terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Ion H
secara normal dan kontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber,
yaitu:
a. pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan
bikarbonat.
b. katabolisme zat organik
c. disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolisme
lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi
melepaskan ion H.
Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel, antara lain:
a. perubahan eksitabilitas saraf dan otot; pada asidosis terjadi depresi susunan saraf
pusat, sebaliknya pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas.
b. mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh
c. mempengaruhi konsentrasi ion K
Bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti
nilai semula dengan cara:
a. mengaktifkan sistem dapar (buffer) kimia
b. mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan
c. mekanisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan
5. Sistem Buffer (dapar)
Ada 4 sistem dapar:
a. Dapar bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk
perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat
b. Dapar protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel
c. Dapar hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam
karbonat
d. Dapar fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel.

Sistem dapar kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara.


Jika dengan dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka
pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap
perubahan kadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat
pernafasan, kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan
ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H
secara lambat dengan menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke
dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan amonia.
3. PROSES PEMBENTUKAN URINE
1. Filtrasi (Penyaringan)
a. Filtrasi adalah proses penyaringan darah yang mengandung zat-zat sisa
metabolisme yang dapat menjadi racun bagi tubuh.
b. Filtrasi terjadi di badan malpighi yang terdiri atas glomerulus dan kapsula
bowman
c. Glomerulus berfungsi untuk menyaring air, garam, asam amino, glukosa, dan
urea.
d. Hasil filtrasi di glomerulus akan mengalir menuju kapsula bowman dan
menghasilkan urine primer.
e. Urine primer mengandung air, gula, asam amino, garam/ion anorganik dan urea
2. Reabsorpsi (Penyerapan Kembali)
a. Reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal dan menghasilkan urine sekunder.
b. Urine primer yang terkumpul di kapasula Bowman masuk ke dalam tubulus kontortus
proksimal dan terjadi reabsorpsi.
c. Pada proses ini terjadi proses penyerapan kembali zat-zat yang masih berguna bagi
tubuh oleh dinding tubulus, lalu masuk ke pembuluh darah yang mengelilingi tubulus.
d. Zat-zat yang diserap kembali oleh darah antara lain: glukosa, asam amino, dan ion-ion
anorganik (Na+, Ka+, Ca2+, Cl-, HCO3-, HPO43- dan SO43-)
e. Urine sekunder mengandung sisa limbah nitrogen dan urea.
f. Urine sekunder masuk ke lengkung henle. Pada tahap ini terjadi osmosis air di
lengkung henle desenden sehingga volume urine sekunder berkurang dan menjadi
pekat. Ketika urine sekunder mencapai lengkung henle asenden, garam Na+ dipompa
keluar dari tubulus, sehingga urine menjadi lebih pekat dan volume urine tetap.
3. Augmentasi (Pengendapan)
a. Dari lengkung henle asenden, urine sekunder akan masuk ke tubulus distal untuk
masuk tahap augmentasi (pengendapan zat-zat yang tidak dibutuhkan lagi oleh
tubuh).
b. Zat sisa yang dikeluarkan oleh pembuluh kapiler adalah ion hidrogen (H+), ion
kalium (K+), NH3 dan kreatinin. Pengeluaran ion H+ ini membantu menjaga pH yang
tetap dalam darah.
c. Selama melewati tubulus distal, urine banyak kehilangan air sehingga konsentrasi
urine makin pekat.
d. Selanjutnya urine memasuki pelvis renalis dan menuju ureter, kemudian dialirkan ke
vesica urinaria, untuk ditampung sementara waktu. Pengeluaran urine diatur oelh otot-
otot sfingter. Kandung kemih hanya mampu menampung kurang lebih 300 ml.
e. Hasil akhir dari tahap Augmentasi adalah urine yang sesungguhnya.
f. Urine sesungguhnya mengandung urea, asam urine, amonia, sisa-sisa pembongkaran
protein, dan zat-zat yang berlebihan dalam darah seperti vitamin, obat-obatan,
hormon, serta garam mineral.
g. Jika terdapat bahan atau zat lain maka hal tersebut adalah indikasi bahwa terdapat
masalah di ginjal.

Singkatnya, penyaringan darah oleh ginjal atau proses pembentukan urine terdiri dari tiga
tahap. Yaitu filtrasi (penyaringan), reabsorpsi (penyerapan kembali) dan augmentasi
(pengendapan).
4. PENGATURAN ASAM BASA PADA SISTEM PERKEMIHAN
Keseimbangan asam basa adalah pengatuan kosentrasi ion hydrogen didalam cairan
tubuh. Konsentrasi ion hydrogen dalam berbagai larutan dapat berubah-ubah dari kurang
dari pada 10-4 ekuevalen per liter sampai lebih tinggi dari 100 yang berarti waktu variasi
total sebesar lebih daripada satu kudrilion kali.
Konsentrasi ion hydrogen dalam cairan ekstrasel biasanya diatur pada suatu nilai
konstan kira-kira sebesar 4 x 10-8 Eq/liter. Nilai ini dapat bervariasi dari serendah 1,0 x
10-8 sampai setinggi 1,0 x 10-7 tanpa menyebabkan kematian.
PH dihubungkan dengan konsentrasi ion hydrogen yang sebenarnya dengan rumus
berikut ini ( bila konsentrasi H+ dinyatakan dalam ekuivalen per liter ).
pH = log 1 = - log konsentrasi H-
Konsentrasi H+
Dari rumus ini dapat disimpulkan bahwa suatu pH yang rendah sesuai dengan suatu
konsentrasi ion hydrogen yang tinggi yang disebut Asidosis. Dan sebaliknya suatu pH yang
tinggi sesuai dengan konsentrasi ion hydrogen yang rendah disebut Alkalosis.
PH normal darah arteri adalah 7,4 sedangkan pH darah vena dan cairan interstasial sekitar
7,35 karena jumlah karbondioksida tambahan yan membentuk asam karbonat didalam cairan
ini.
Karena pH normal darah arteri sebesar 7,4 seseorang dianggap mengalami Asisdosis
bilamana pH tersebut dbawah nilai ini dan mengalami Alkalosis bila ia meningkat diatas 7,4
batas bawah seseorang dapat hidup selama lebih dari beberapa jam adalah 7,0 dan batas
atasnya kira-kira 8,0.
5. PENGKAJIAN KEPRAWATAN SISTEM PERKEMIHAN

Pengkajian keperawatan merupakan langkah pertama yang dilakukan oleh perawat


untuk mendapatkan data subjektif dan objektif yang dilakukan secara sistematis.
Proses pengkajian meliputi tiga fase, yaitu wawancara, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi.
Adapun ketiga fase tersebut adalah sebagai berikut :

1. WAWANCARA
Tujuan wawancara adalah mendapatkan informasi yang diperlukan dalam
mengidentifikasi dan merencanakan tindakan keperawatan, dan memberi kesempatan
pada perawat untuk mulai mengembangkan hubungan saling percaya dengan pasien.
Adapun data-data yang dikumpulkan selama fase wawancara terkait pengkajiankep
kerawatan system perkemihan adalah sebagai berikut :
A. Riwayat kesehatan sekarang
Disfungsi ginjal dapat menimbulkan serangkaian gejala yang kompleks dan
tampak di seluruh tubuh. Riwayat sakit harus mencakup informasi berikut yang
berhubungan dengan fungsi renal dan urinarius.
1. Keluhan utama pasien atau alasan utama mengapa ia datang ke rumah sakit.
2. Adanya rasa nyeri: kaji lokasi, karakter, durasi, dan hubungannya dengan urinasi;
faktor-faktor yang memicu rasa nyeri dan yang meringankannya.
3. Adanya gejala panas atau menggigil, sering lelah, perubahan berat badan,
perubahan nafsu makan, sering haus, retensi cairan, sakit kepala, pruritus, dan
penglihatan kabur.
4. Pola eliminasi
a. Kaji frekuensi, urgensi, dan jumlah urine output.
b. Kaji perubahan warna urin.
c. Kaji adanya darah dalam urin.
d. Disuria; kapan keluhan ini terjadi : pada saat urinasi, pada awal urinasi, atau
akhir urinasi.
e. Hesitancy; mengejan : nyeri selama atau sesudah urinasi.
f. Inkontinensia (stress inkontinensia; urge incontinence; overflow incontinence;
inkontinensia fungsional). Adanya inkontinensia fekal menunjukkan tanda
neurologik yang disebabkan oleh gangguan kandungkemih.
g. Konstipasi dapat menyumbat sebagian urethra, menyebabkan tidak adekuatnya
pengosongan kandung kemih.
5. Pola nutrisi – metabolic
a. Kaji jumlah dan jenis cairan yang biasa diminum pasien : kopi, alkohol,
minuman berkarbonat. Minuman tersebut sering memperburuk keadaan
inflamasi system perkemihan.
b. Kaji adanya dehidrasi ; dapat berkontribusi terjadinya infeksi saluran kemih,
pembentukkan batu ginjal, dan gagal ginjal.
c. Kaji jenis makanan yang sering dikonsumsi pasien. Makanan yang
mengandung tinggi protein dapat menyebabkan pembentukkan batu saluran
kemih. Makanan pedas memperburuk keadaan inflamasi system perkemihan.
d. Kaji adanya anoreksia, mual, dan muntah. Keadaan tersebut dapat
mempengaruhi status cairan.
e. Kaji kebiasaan mengkonsumsi suplemen vitamin, mineral, dan terapi herbal.
B. Riwayat kesehatan masa lalu
1. Riwayat infeksi traktur urinarius
a. Terapi atau perawatan rumah sakit yang pernah dialami untuk menanggani
infeksi traktus urinarius, berapa lama dirawat.
b. Adanya gejala panas atau menggigil.
c. Sistoskopi sebelumnya, riwayat penggunaan kateter urine dan hasil-hasil
pemeriksaan diagnostik renal atau urinarius
2. Riwayat keadaan berikut ini :
a. Hematuria, perubahan warna, atau volume urin.
b. Nokturia dan sejak kapan dimulainya.
c. Penyakit pada usia kanak-kanak (“strep throat”, impetigo, sindrom nefrotik).
d. Batu ginjal (kalkuli renal), ekskresi batu kemih ke dalam urin.
e. Kelainan yang mempengaruhi fungsi ginjal atau traktus urinarius (diabetes
mellitus, hipertensi, trauma abdomen, cedera medula spinalis, kelainan
neurologi lain, lupus eritematosus sistemik, scleroderma, infeksi streptococcus
pada kulit dan saluran napas atas, tuberculosis, hepatitis virus,
gangguan kongenital, kanker, dan hyperplasia prostate jinak).
3. Untuk pasien wanita : kaji jumlah dan tipe persalinan (persalinan pervaginan,
sectio caesarea); persalinan dengan forseps; infeksi vagina, keputihan atau iritasi;
penggunaan kontrasepsi.
4. Adanya atau riwayat lesi genital atau penyakit menular seksual.
5. Pernahkah mengalami pembedahan ; pelvis atau saluran perkemihan.
6. Pernahkah menjalani terapi radiasi atau kemoterapi.
7. Kaji riwayat merokok. Merokok dapat mengakibatkan risiko kanker kandung
kemih. Angka kejadian tumor kandung kemih empat kali lebih tinggi pada
perokok daripada bukan perokok.
C. Riwayat kesehatan keluarga
1. Kaji adanya riwayat penyakit ginjal atau kandung kemih dalam keluarga
(polisistik renal, abnormalitas kongenital saluran kemih, sindrom Alport’s /
nephritis herediter).
2. Kaji adanya masalah eliminasi yang dikaitkan dengan kebiasaan keluarga
D. Riwayat kesehatan social
1. Kaji riwayat pekerjaan, apakah terpapar oleh bahan-bahan kimia seperti phenol
dan ethylene glycol. Bau ammonia dan kimia organic dapat meningkatkan risiko
kanker kandung kemih. Pekerja tekstil, pelukis, peñata rambut, dan pekerja
industri mengalami risiko tinggi terkena tumor kandung kemih. Seseorang yang
lebih sering duduk cenderung mengalami statis urin sehingga dapat menimbulkan
infeksi dan batu ginjal.
2. Seseorang yang mengalami demineralisasi tulang dengan keterbatasan aktivitas
fisik menyebabkan peningkatan kalsium dalam urin.
3. Laki-laki cenderung mengalami inflamasi prostat kronik atau epididimis setelah
mengangkat barang berat atau mengendarai mobil dengan jarak jauh.
4. Perlu juga informasi tempat tinggal pasien. Dataran tinggi lebih berisiko terjadi
batu saluran kemih karena kandungan mineral meningkat dalam tanah dan air di
daerah dataran tinggi.
E. Pengobatan
1. Diuretik dapat mengubah kuantitas dan karakter output urin.
2. Phenazopyridine (pyridium) dan nitrofurantoin (macrodantin) dapat mengubah
warna urin.
3. Anticoagulant dapat menyebabkan hematuria.
4. Antidepresant, antihistamin, dan obat-obatan untuk mengatasi gangguan
neurology dan musculoskeletal, dapat mempengaruhi kemampuan kandung kemih
atau sphinter untuk berkontraksi atau relaksasi secara normal
F. Pola persepsi – kognitif
1. Apakah gangguan eliminasi urin mempengaruhi perasaan dan kehidupan normal
pasien.
2. Bagaimana perasaan pasien saat menggunakan kateter, kantung urin.

2. PEMERIKSAAN
A. Pemeriksaan Fisik
1. Umum : Status kesehatan secara umum : lemah, letarghi
2. Tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu tubuh
3. Pemeriksaan fisik sistem perkemihan
Teknik pemeriksaan fisik Kemungkinan kelainan yang
ditemukan
1. Inspeksi
a. Kulit dan membran mukosa. Catat warna, turgor, tekstur, dan pengeluaran
keringat.
b. Mulut
c. Wajah
d. Abdomen
Pasien posisi terlentang, catat ukuran, kesimetrisan, adanya massa atau
pembengkakan, kembung, Kulit dan membran mukosa yang pucat, indikasi
gangguan ginjal yang menyebabkan anemia. Tampak ekskoriasi, memar,
tekstur kulit kasar atau kering. Penurunan turgor kulit merupakan indikasi
dehidrasi.
Edema, indikasi retensi dan penumpukkan cairan.
Stomatitis, napas bau ammonia
Moon face
Pembesaran atau tidak simetris, indikasi hernia atau adanya massa. Nyeri
permukaan indikasi disfungsi
renal. Distensi atau perut yang nyeri menetap, distensi, kulit mengkilap atau
tegang.
e. Meatus urinary
Laki-laki posisi duduk atau berdiri, tekan ujung gland penis dengan memakai
sarung tangan untuk membuka meatus urinary.
Pada wanita : posisi dorsal litotomi, buka labia dengan memakai sarung
tangan. Perhatikan meatus urinary
2. Palpasi
a. Ginjal
1. Ginjal kiri jarang dapat teraba, meskipun demikian usahakan untuk
mempalpasi ginjal untuk mengetahui ukuran dan sensasi.
Jangan lakukan palpasi bila ragu karena dapat menimbulkan kerusakan
jaringan.
2. Posisi pasien supinasi, palpasi dilakukan dari sebelah kanan.
3. Letakkan tangan kiri dibawah abdomen diantara tulang iga dan lengkung
iliaka. Tangan kanan dibagian atas. mengkilap dan tegang, indikasi retensi
cairan atau ascites. Distensi kandung kemih, pembesaran ginjal.
Kemerahan, ulserasi, bengkak, atau adanya cairan, indikasi infeksi. Pada
laki-laki biasanya terdapat deviasi meatus urinary seperti defek kongenital.
Jika terjadi pembesaran ginjal, maka dapat mengarah ke neoplasma atau
patologis renal yang serius.
Pembesaran kedua ginjal, indikasi polisistik ginjal.
Tenderness/lembut pada palpasi ginjal maka indikasi infeksi, gagal ginjal
kronik.
Ketidaksimetrisan ginjal indikasi hidronefrosis.
4. Anjurkan pasien nafas dalam dan tangan kanan menekan sementara tangan
kiri mendorong ke atas.
5. Lakukan hal yang sama untuk ginjal kanan
b. Kandung kemih
Secara normal, kandung kemih tidak dapat dipalpasi, kecuali terjadi distensi
urin maka palpasi dilakukan di daerah simphysis pubis dan umbilicus.
3. Perkusi
a. Ginjal
1. Atur posisi klien duduk membelakangi pemeriksa.
2. Letakkan telapak tangan tidak dominan diatas sudut kostovertebral
(CVA), lakukan perkusi atau tumbukan di atas telapak tangan dengan
menggunakan kepalan tangan dominan.
3. Ulangi prosedur untuk ginjal kanan
Jika kandung kemih penuh maka akan teraba lembut, bulat, tegas, dan
sensitif.
Tenderness dan nyeri pada perkusi CVA merupakan indikasi
glomerulonefritis atau glomerulonefrosis.
b. Kandung kemih
1. Secara normal, kandung kemih tidak dapat diperkusi, kecuali volume urin
di atas 150 ml. Jika terjadi distensi, maka kandung kemih dapat diperkusi
sampai setinggi umbilicus.
2. Sebelum melakukan perkusi kandung kemih, lakukan palpasi untuk
mengetahui fundus kandung kemih. Setelah itu lakukan perkusi di atas
region suprapubic.
Jika kandung kemih penuh atau sedikitnya volume urin 500 ml, maka akan
terdengar bunyi dullness (redup) di atas simphysis pubis.
6. TERAPI DIIT PADA SISTEM PERKEMIHAN
1. Makanan yang Dapat Membebani Saluran Kemih
Infeksi pada saluran kemih terjadi akibat bakteri, sehingga Anda mengalami rasa
nyeri saat buang air kecil, bahkan bisa disertai dengan nyeri di perut. Meski konsumsi
antibiotik dapat mengatasi gangguan ini, akan lebih baik bila Anda juga melakukan
tindak pencegahan dengan mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang bisa
memberi beban berlebihan bagi kandung kemih, serta memperburuk gejala infeksi.
Ada enam jenis makanan dan minuman yang disorot oleh National Kidney
Foundation.
a. Kopi
Kandungan kafein di dalam kopi dapat menstimulasi otot kandung kemih. Selain
itu, kopi juga minuman yang bersifat diuretik, sehingga dapat membuat Anda
sering buang air kecil. Selain kopi, minuman lain yang perlu dicermati adalah teh,
kola, cokelat, dan minuman energi.
b. Minuman beralkohol
Kebiasaan minum bir, wine, atau jenis alkohol lain tidak hanya berpengaruh buruk
pada lambung, namun juga memberi beban berlebihan pada kandung kemih.
Hindari konsumsi minuman ini saat Anda sedang mengalami infeksi saluran
kemih dan minum banyak air putih untuk membantu mengeluarkan bakteri dari
tubuh dan memulihkan infeksi.
c. Minuman yang rasanya asam dan jus
Minuman dengan rasa jeruk atau lemon dapat mengiritasi kandung kemih. Begitu
juga dengan jus tomat, nanas, atau anggur, karena sifatnya yang asam. Sifat asam
ini dapat memperburuk gejala infeksi pada saluran kemih. Hindari juga konsumsi
jus yang terbuat dari buah apel, persik, plum, dan stroberi.
d. Makanan yang pedas
Banyak orang merasa tidak nyaman pada kandung kemih setelah menyantap
makanan yang pedas. Jenis makanan ini ternyata bisa menyebabkan iritasi pada
kandung kemih dan memperburuk gejala infeksi saluran kemih yang sedang
dialami. Sebaiknya, masaklah makanan Anda tanpa cabai, lada, atau saus sambal.
Hindari juga menyantap bawang bombay mentah-mentah, lebih baik dimasak dulu
agar efeknya tidak terlalu buruk bagi kandung kemih.
e. Pemanis buatan
Banyak orang menggunakannya ketika ingin mengurangi asupan kalori. Namun,
menurut penelitian, pemanis buatan dapat memperburuk gejala infeksi pada orang
yang mengidap interstitial cystitis kronis. Belum ada bukti bahwa pemanis buatan
juga bisa mengiritasi kandung kemih pada orang yang mengalami infeksi saluran
kemih. Namun, mencegah akan selalu lebih baik.
f. Minuman bersoda
Mereka yang mengidap radang kronis pada kandung kemih, perlu menghindari
minuman jenis ini, termasuk minuman soda tanpa tambahan rasa. Jadi, sebaiknya
diganti dengan lebih banyak minum air putih.
2. Pengaturan Nutrisi untuk Gagal Ginjal Akut dan Kronis
Pada jenis ini terjadi penurunan filtrasi pada glomelurus (tempat penyaringan
darah pada ginjal) yang menyebabkan banyaknya fungsi nefron yang rusak. Nefron
sendiri berfungsi sebagai pengatur air dan elektrolit dalam tubuh dengan cara
menyaring darah, kemudian menyerap kembali cairan dan molekulyang masih
diperlukan tubuh.
Peningkatan jumlah nefron yang rusak inilah yang mencetuskan terjadinya
gagal ginjal kronis. Pada tahap ini, penderita akan mengalami retensi cairan (edema),
kalium, natrium, dan fosfor. Jumlah air seniyang dikeluarkan sedikit sehingga sampah
yang seharusnya dibuang, akhirnya menumpuk dalam darah, terutama urea (yang
berasal dari pemecahan protein tubuh).
Kadar ureum darah (BUN) dan kreatinin meningkat, dan biasanya penderita
akan mengalami kelelahan, hilang nafsu makan, mual dan muntah. Jika keadaan
sudah demikian,yang perlu dibatasi adalah cairan (maksimal 500-1000ml/hari),
protein (difokuskan pada protein dengan nilai biologis tinggi), natrium dan kalium.
Jumlah protein yang ditentukan berdasarkan nilai GFR (Glomelural Filtration Rate).
Konsultasikan dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah protein yang sesuai.
Hindari pemberian protein nabati seperti kacang-kacangan dan hasil olahannya.
Penderita dengan kemampuan makan yang rendah, bila diperlukan, berikan tambahan
suplemen vitamin seperti asam folat, vitamin B6, vitamin C, Vitamin D dan vitamin
K.
Untuk sumber bahan makanan yang mengandung lemak hindari lemak jenuh
dan lemak tinggi garam. Tambahkan asupan lemak tidak jenuh ganda yang baik untuk
kesehatan ginjal anda (misalnya asam lemak omega 3). Bagi pasien dengan
hiperkalemia sebaiknya menghindari sayuran dan buahyang tinggi kalium seperti
daun pepaya, kembang kol, bayam, kapri, peterseli, pisang, duku dan alpokat.

3. Pengaturan Nutrisi untuk Gagal Ginjal Tahap Akhir (dengan dialisa)


Haemodialisa diperlukan bagi penderita yang mengalami penurunan fungsi
ginjal tahap akhir, dimana ginjal sudah tak lagi memiliki kemampuan mengeluarkan
produk sisa metabolisme dan mempertahankan keseimbangan cairan elektrolit dan
kadar ureum darah sebagai tanda terjadinya keracunan urea meningkat hingga
lebihdari 15 mg dan dapat berujung pada koma. Saat penderita menjalani dialisa,
penderita membutuhkan suplemen yang bisa menggantikan asam amino yang hilang
selama dialisis.

4. Pengaturan Nutrisi untuk Penderita Batu Ginjal


Batu ginjal terbentuk jika konsentrasi mineral atau garam urin mencapai nilai
yang memungkinkan terbentuknya kristal. Beberapa makanan perlu dihindari pada
penderita dengan batu ginjal,tergantung jenis batu yang diderita.
Pada penderita dengan batu kalsium hindari protein yang mengandung
kalsium tinggi, seperti susu tinggi kalsium, dan makanan yang dapat meningkatkan
ekskresi oksalat melalui ginjal.
Sementara itu, untuk jenis batu asam urat, hindari bahan makanan yang
mengandung purin dan lemak tinggi seperti jerohan, sardin, kerang, makarel, bayam,
daun singkong, kangkung, melinjo, serta kacang dan berbagai hasil olahannya. Untuk
mengoptimalkan metabolisme penyerapanprotein, anda dapat memilih mengkonsumsi
suplemen yang dapat membantu penyerapan protein tersebut. Akan lebih baik jika
suplemen tersebut mengandung asam lemak tidak jenuh ganda yang bersahabat bagi
tubuh anda.

5. Diit Pada Pasien dengan Nefrotik Sindrom


1) Tujuan Diet:
a. Mengganti kehilangang protein terutama albumin
b. Mengurangi edema dan menjaga keseimbangan cairan tubuh
c. Memonitor hiperkolesterolimia dan penumpukan trigliserida
d. Mengontrol hipertensi
e. Mengatasi anoreksia
2) Syarat Diet
a. Energi cukup untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen positif, yaitu 35
kkal/kg BBI/hari
b. Protein edang, yaitu 1,0 g/kg BBA, atau 0,8 g/kg BBA ditambah dengan
jumlah protein yang dikeluarkan melalui urine. Utamakan penggunaan protein
yang bernilai biologi tinggi
c. Lemak sedang, yaitu 15 – 29 % dari kebutuhan energy total. Perbandingan
lemak jenuh, lemak jenuh tunggal dan lemak jenuh ganda adalah : 1: 1:1.
d. Karbohidrat sebagai sisa kebutuhan energy. Utamakan penggunaan
karbohidrat kompleks
e. Natrium dibatasi, yaitu 1- 4 g sehari, tergantung berat ringannya edema.
f. Kolesterol dibatasi < 300mg, begitu pula gula murni, bila ada peningkatan
trigliserida darah.
g. Cairan disesuaikan dengan banyaknya cairan yang dikeluarkan melalui urine
ditambah 500 ml pengganti cairan yang dikeluarkan melalui kulit dan
pernafasan.
3) Jenis dan Indikasi Pemberian;
Karena gejala penyakit bersifat sangat individual, diet disusun secara
individual, dengan menyatakan banyak protein dan natrium yang dibutuhkan
didalam diet. Misalnya: Diet Sindroma Nefrotik, Energi: 1750 kkal, Protein: 50 g,
Na: 2 g.
4) Monitoring & Evaluasi:
Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan pasien terhadap:
a. Asupan
b. Status Gizi
c. Hasil Laboratorium
d. Keadaan fisik dan Klinis

6. Terapi Diit Pada Gagal Ginjal Kronik


Sejalan dengan perkembangan ilmu, terapi dietetik pada penderita gagal ginjal
kronik mengalami kemajuan. Penderita gagal ginjal kronik dapat hidup normal dan
produktif dengan terapi dietetik, disamping dapat menunda menjalani cuci darah
(hemodialisa) untuk jangka waktu yang cukup lama. (Triyani Kresnawan,1991).
1) Tujuan Diit Menurut (Roesma, 1992) :
a. Mempertahankan keadaan gizi yang optimal agar penderita dapat
b. melakukan aktifitas normal.
c. Mengurangi atau mencegah gejala sindrom uremik.
d. Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
2) Syarat Diit :
a. Energi
Asupan energi yang cukup sangat diperlukan untuk mencegah
katabolisme jaringan tubuh. Dibutuhkan sekurang-kurangnya 35 kal/kg
BB/hari, dibutuhkan asupan yang optimal dari golongan bahan makanan non
protein. Ini dimaksudkan untuk mencegah gangguan protein sebagai sumber
energi. Bahan-bahan ini bisa diperoleh dari : minyak, mentega;margarin, gula,
madu, sirup,jamu dan lain-lain.
b. Protein
Asupan protein cukup 1-1,2 gr/kg BB/hari, untuk menjaga
keseimbangan nitrogen dan kehilangan protein selama didialisis. Sekurang-
kurangnya 50% asupan protein berasal dari protein bernilai biologi tinggi,
yang lebih lengkap kandungan asam amino escensialnya sumber protein ini
biasanya dari golongan hewani, misalnya telur, daging, ayam, ikan, susu,
kerang dan lain-lain dalam jumlah sesuai anjuran.
c. Natrium
Asupan natrium 40-120 mEq/hari (270-920 mg/hari) untuk control
tekanan darah dan oedema. Pembatasan natrium dapat membantu mengatasi
rasa haus, dengan demikian dapat mencegah kelebihan asupan cairan. Bahan
makanan tinggi natrium yang tidak dianjurkan antara lain : Bahan makanan
yang dikalengkan. Garam natrium yang ditambahkan ke dalam makanan
seperti natrium bikarbonat, atau soda kue, natrium benzoat atau pengawet
buah dan sayuran, natrium nitrit atau sendawa yang digunakan sebagai
pengawet daging, seperti pada “cornet beef “ .
d. Kalium
Pembatasan kalium sangat diperlukan . Asupan kalium diberikan 1560-
2730 mg/hari. Bahan makanan tinggi kalium pada umbi, buah-buahan,
alpokat, pisang ambon, mangga, tomat, rebung, daun singkong, daun pepaya,
bayam, kacang tanah, kacang hijau dan kacang kedelai.
e. Kalsium dan fosfor
Hendaknya dikontrol keadaan hipokalsium, ini untuk menghindari
terjadinya seminimal mungkin mencegah klasifisikasi dari tulang dan jaringan
tubuh. Asupan phospor 400-900 mg/hari, kalsium 1000-1400 mg/hari.
f. Cairan
Untuk membatasi kelebihan cairan tubuh sekurang-kurangnya 1,2 kg
setiap hari. Konsumsi cairan baik yang berasal dari makanan maupun
minuman di berikan sesuai dengan air seni yang dikeluarkan ditambah 500 cc.

7. Syarat Pemberian Diet Pada Gagal Ginjal Kronik Adalah (ALMATSIER 2006):
a. Energi cukup, yaitu 35 kkal/kg BB.
b. Protein rendah, yaitu 0,6 – 0,75 gr/kg BB. Sebagian harus bernilai biologik tinggi.
c. Lemak cukup, yaitu 20-30% dari kebutuhan total energi, diutamakan lemak tidak
jenuh ganda.
d. Karbohidrat cukup, yaitu : kebutuhan energi total dikurangi yang berasal dari
protein dan lemak.
e. Natrium dibatsi apabila ada hipertensi, edema, acites, oliguria, atau anuria, banyak
natrium yang diberikan antara 1-3 g.
f. Kalium dibatasi (60-70 mEq) apabila ada hiperkalemia (kalium darah > 5,5 mEq),
oliguria, atau anuria.
g. Cairan dibatasi yaitu sebanyak jumlah urine sehari ditambah dengan pengeluaran
cairan melalui keringat dan pernapasan (±500 ml).
h. Vitamin cukup, bila perlu berikan suplemen piridoksin, asam folat, vitamin C,
vitamin D.
Ada tiga jenis diet yang diberikan menurut berat badan pasien, yaitu :
a. Diet Protein Rendah I : 30 gr protein diberikan kepada pasien dengan berat
badan 50 kg.
b. Diet Protein Rendah II : 35 gr protein diberikan kepada pasien dengan berat
badan 60 kg.

8. Diit Pada Pasien Dengan Glomerulonefritis


a. Intervensi Gizi pada Glomerulunefritis pada Dewasa
Diet pada pasien glomerulonefritis, penanganan diet yang terpentingpada
penderita GNA diantaranya untuk membatasi pemberian garam dapur,intake
protein dibatasi sesuai dengan keadaan penderita dan memberikanenergy yang
adekuat.
b. Merencanakan makanan tinggi protein, rendah natrium untukmenggantikan
natrium yang hilang menurunkan retensi cairan
Intake protein harus lebih besar atau sama dengan 1,5gram/kgBB/hari. Anak-
anak memerlukan 2-3 gram/kgBB/hari. Harusditekankan pada pemakaian protein
HBV.Kecukupan kalori harus dipenuhi untuk mencegah penggunaan
proteinsebagai energi ( untuk orang dewasa 35-50 kkal/kgBB/hari). Natriumharus
dibatasi , biasanya 1000-2000 mg (40-90 mEq)/hari, untuk mengontrol edema.
c. Mengontrol hiperlipidemia
Diet harus rendah lemak jenuh dan kolesterol yang dapat
membantumenurunkan kolesterol. Karena diet sangat rendah dalam lemak
dapatmemperburuk hipertrigliseridemia, intake lemak moderat (sekitar 30-35%
dari total kalori) dianjurkan. Selain itu, penurunan berat badan pasienbila
diperlukan dapat menolong dapat menurunkan kolesterol serum
d. Pencegahan Hiperglisemia
Pemberian steroid biasanya berhubungan dengan turunnya toleransiglukosa.
Untuk mengatasi masalah ini, intake karbohidrat sederhanaseperti minuman
ringan (softdrink dan pastries) harus dikurangi. Dansebagai pengganti harus
ditekankan penggunaan karbohidrat kompleksseperti roti, sereal, leguminosa, dan
sayuran bertepung.
e. Suplementasi
Suplementasi jarang diperlukan, karena diet dapat dirancang untuk mencukupi
semua zat gizi
f. Pendidikan Gizi
g. Prinsip diet tinggi protein dan rendah natrium.
Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi 2-3 porsi daging, ikan, ayam,atau
leguminosa (untuk anak-anak 56,6-84,9 gram per porsi, dan untuk remaja serta
dewasa 113,2-141,5 gram), dan 3-4 porsi susu, keju, atauyogurt setiap hari. Untuk
mengurangi intake kolesterol dan lemak jenuhdianjurkan untuk mengkonsumsi
daging tanpa lemak, ikan, dan ayamtanpa kulit, dan menggunakan susu jenis susu
skim. Untuk menguranginatrium pada diet pasien dapat mengkonsumsi makanan
dari dagingsegar yang belum diproses dengan garam atau unsalted cheese.
h. Pemantauan retensi cairan
Pasien harus dikontrol berat badan setiap hari serta memeriksa adanyaedema
terutama pada tungkai bawah dan di sekitar mata.

9. Intervensi Gizi pada Glomerulunefritis pada Anak


Diet untuk anak, penanganan diet yang terpenting pada penderita
GNAdiantaranya untuk membatasi pemberian garam dapur, intake proteindibatasi
sesuai dengan keadaan penderita dan memberikan energy yangadekuat.
Tujuan diet:
a. Tidak memberatkan kerja ginjal
b. Membantu menurunkan ureum dan kreatinin darah
c. Menurunkan retensi natrium dan air dalam tubuh dan agar pertumbuhan secara
optimal
Prinsip diet:Rendah Protein Rendah Garam (RPRG)

10. Diit Pada Kanker Kandung Kemih


a. pasien kanker kandung kemih dianjurkan untuk memakan buah dan sayuran segar
b. harus diberikan diet tinggi protein seperti telur, susu dan ikan
c. berikan makanan kesukaan pasien kanker kandung kemih yang telah dimodifikasi,
tetapi hindari makanan pedas, keras dan yang sulit dicerna oleh tubuh.
DAFTAR PUSTAKA

Evelyn C. Pears. 2011. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis – Jakarta :


Gramedia Pustaka Utama

Syafuddin. 1997. Anatomi fisiologi untuk siswa perawat edisi 2 – Jakarta :


EGC

Syafuddin. 2006. Anatomi fisiologi untuk mahasiswa perawat edisi 3 – Jakarta


: EGC

Gibson, John MD. 1995. Anatomi dan fisiologi modern untuk perawat edisin 2
– Jakarta : EGC