Anda di halaman 1dari 50

Ketentuan hukum dalam FATWA DSN MUI No.

04/DSN-MUI/IV/2000 Tentang
MURABAHAH ini adalah sebagai berikut :

Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah:

1. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.

2. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam.

3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah
disepakati kualifikasinya.

4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan
pembelian ini harus sah dan bebas riba.

5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian,


misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.

6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan


harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus
memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang
diperlukan.

7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka
waktu tertentu yang telah disepakati.

8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak


bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.

9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak
ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip,
menjadi milik bank.

Kedua : Ketentuan Murabahah kepada Nasabah:

1. Nasabah mengajukan permohonan dan janji pembelian suatu barang atau aset
kepada bank.
2. Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih dahulu aset
yang dipesannya secara sah dengan pedagang.

3. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus
menerima (membeli)-nya sesuai dengan janji yang telah disepakatinya, karena
secara hukum janji tersebut mengikat; kemudian kedua belah pihak harus membuat
kontrak jual beli.

4. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang
muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan.

5. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank harus
dibayar dari uang muka tersebut.

6. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank,
bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.

7. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang muka,
maka

a. jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar


sisa harga.

b. jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar
kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang
muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.

Ketiga : Jaminan dalam Murabahah:

1. Jaminan dalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius dengan pesanannya.

2. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang.

Keempat : Utang dalam Murabahah:

1. Secara prinsip, penyelesaian utang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada
kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas
barang tersebut. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan
atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan utangnya kepada bank.

2. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak
wajib segera melunasi seluruh angsurannya.

3. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus


menyelesaikan utangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat
pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan.

Kelima : Penundaan Pembayaran dalam Murabahah:

1. Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian


utangnya.

2. Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah satu
pihak tidak menunaikan kewajibannya, maka penyelesaiannya dilakukan melalui
Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

Ketentuan hukum dalam FATWA DSN MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000


Tentang MURABAHAH ini adalah sebagai berikut :

Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah:

1. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba
2. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam.
3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah
disepakati kualifikasinya.
4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan
pembelian ini harus sah dan bebas riba.
5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian,
misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan
harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank
harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut
biaya yang diperlukan.
7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka
waktu tertentu yang telah disepakati.
8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut,
pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.
9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari
pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang,
secara prinsip, menjadi milik bank.

Kedua : Ketentuan Murabahah kepada Nasabah:

1. Nasabah mengajukan permohonan dan janji pembelian suatu barang atau


aset kepada bank.
2. Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih
dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang.
3. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah
harus menerima (membeli)-nya sesuai dengan janji yang telah disepakatinya,
karena secara hukum janji ter sebut mengikat; kemudian kedua belah pihak
harus membuat kontrak jual beli.
4. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar
uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan.
5. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank
harus dibayar dari uang muka tersebut.
6. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh
bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah
7. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang
muka, maka

a. jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar


sisa harga.
b. jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar
kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang
muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.

Ketiga : Jaminan dalam Murabahah:


1. Jaminan dalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius dengan
pesanannya.
2. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat
dipegang.

Keempat : Utang dalam Murabahah:

1. Secara prinsip, penyelesaian utang nasabah dalam transaksi murabahah


tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan
pihak ketiga atas barang tersebut. Jika nasabah menjual kembali barang
tersebut dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk
menyelesaikan utangnya kepada bank.
2. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia
tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya.
3. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus
menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh
memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu
diperhitungkan.

Kelima : Penundaan Pembayaran dalam Murabahah:

1. Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda


penyelesaian hutangnya
2. Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah
satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, maka penyelesaiannya
dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari'ah setelah tidak tercapai
kesepakatan melalui musyawarah.

Keenam : Bangkrut dalam Murabahah:


Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya, bank
harus menunda tagihan hutang sampai ia menjadi sanggup kembali, atau
berdasarkan kesepakatan.

Ketentuan hukum dalam FATWA DSN MUI No.05/DSN-MUI/IV/2000


Tentang JUAL BELI SALAM ini adalah sebagai berikut :
Pertama : Ketentuan tentang Pembayaran:
1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang,
atau manfaat.
2. Pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak disepakati.
3. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.
Kedua : Ketentuan tentang Barang:
1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.
2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
3. Penyerahannya dilakukan kemudian.
4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan
kesepakatan.
5. Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai
kesepakatan.

Ketiga : Ketentuan tentang Salam Paralel:


Dibolehkan melakukan salam paralel dengan syarat, akad kedua terpisah dari, dan
tidak berkaitan dengan akad pertama.

Keempat : Penyerahan Barang Sebelum atau pada Waktunya:


1. Penjual harus menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan
jumlah yang telah disepakati.
2. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih tinggi, penjual
tidak boleh meminta tambahan harga.
3. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih rendah, dan pembeli
rela menerimanya, maka ia tidak boleh menuntut pengurangan harga (diskon).
4. Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati dengan
syarat kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan, dan ia tidak boleh
menuntut tambahan harga.
5. Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau
kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka ia memiliki
dua pilihan:
a. membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya,
b. menunggu sampai barang tersedia.
Kelima : Pembatalan Kontrak:
Pada dasarnya pembatalan salam boleh dilakukan, selama tidak merugikan kedua
belah pihak.

Keenam : Perselisihan:
Jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka persoalannya
diselesaikan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan
melalui musyawarah.

Ketentuan hukum dalam FATWA DSN MUI No. 06/DSN-MUI/IV/2000


Tentang JUAL BELI ISTISHNA' ini adalah sebagai berikut :

Pertama : Ketentuan tentang Pembayaran:


1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang,
atau manfaat.
2. Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan.
3. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.

Kedua : Ketentuan tentang Barang:


1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.
2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
3. Penyerahannya dilakukan kemudian.
4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan
kesepakatan.
5. Pembeli (mustashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai
kesepakatan.
7. Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan
memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad.

Ketiga : Ketentuan Lain:


1. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya
mengikat.
2. Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku
pula pada jual beli istishna’.
3. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan
di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan
Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

4.FATWA
DEWAN SYARI’AH NASIONAL
Nomor 09/DSN-MUI/VI/2000
Tentang
Pembiayaan Ijarah

‫ٱلرحْ َٰم ِن ه‬
‫ٱلر ِح ِيم‬ ‫ِبس ِْم ه‬
‫ٱَّللِ ه‬

Dewan Syari’ah Nasional setelah

a. bahwa kebutuhan masyarakat untuk memperoleh manfaat


suatu barang sering memerlukan pihak lain melalui akad
ijarah, yaitu akad pemindahan hak guna (manfaat) atas
suatu barang dalam waktu tertentu dengan pembayaran
sewa (ujrah), tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan
barang itu sendiri;
b. bahwa kebutuhan masyarakat untuk memperoleh jasa pihak
Menimbang : lain guna melakukan pekerjaan tertentu melalui akad ijarah
dengan pembayaran upah (ujrah/fee);
c. bahwa kebutuhan akan ijarah kini dapat dilayani oleh
lembaga keuangan syari’ah (LKS) melalui akad pembiayaan
ijarah;
d. bahwa agar akad tersebut sesuai dengan ajaran Islam, DSN
memandang perlu menetapkan fatwa tentang akad ijarah
untuk dijadikan pedoman oleh LKS.

1. Firman Allah QS. al-Zukhruf [43]: 32:


Mengingat :
‫ ورف ْعنا‬،‫ نحْ ُن قس ْمنا بيْن ُه ْم م ِعيْشت ُه ْم فِي ْالحياةِ الدُّ ْنيا‬،‫أ ُه ْم ي ْق ِس ُم ْون رحْ مت ربِِّك‬
‫ ورحْ متُ ر ِبِّك خي ٌْر‬،‫س ْخ ِريًّا‬ ُ ‫ضا‬ ً ‫ض ُه ْم ب ْع‬ ُ ‫ت ِليت ه ِخذ ب ْع‬
ٍ ‫ض درجا‬ٍ ‫ب ْعض ُه ْم ف ْوق ب ْع‬
‫م هما يجْ معُ ْون‬.
ِ

"Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu?


Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka
dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan
sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat,
agar seba-gian mereka dapat mempergunakan sebagian
yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan."

2. Firman Allah QS. al-Baqarah [2]: 233:

... ‫ضعُ ْوا أ ْوالد ُك ْم فال ُجناح عل ْي ُك ْم إِذا سله ْمت ُ ْم ماآت ْيت ُ ْم‬ ِ ‫وإِ ْن أر ْدت ُ ْم أ ْن تسْت ْر‬
ِ ‫ واعْل ُم ْوا أ هن للا ِبمات ْعملُ ْون ب‬،‫ واتهقُوا للا‬،‫ف‬
‫صي ٌْر‬ ِ ‫ ِب ْالم ْع ُر ْو‬.

"… Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain,
tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran
menurut yang patut. Bertaqwalah kepada Allah; dan
ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan."

3. Firman Allah QS. al-Qashash [28]: 26:

ُّ ‫ ِإ هن خيْر م ِن اسْتأْج ْرت ْالق ِو‬،ُ‫ت اسْتأ ْ ِج ْره‬


‫ي اْأل ِمي ُْن‬ ْ ‫قال‬.
ِ ‫ت ِإحْ دا ُهما يآأب‬

"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, "Hai ayahku!


Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena
sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil
untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat
dipercaya.""

4. Hadis riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar, bahwa Nabi


bersabda:

ُ ‫أ ْع‬.
‫طوا اْأل ِجيْر أجْ رهُ قبْل أ ْن ي ِج ه‬
ُ‫ف عرقُه‬
"Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering."

5. Hadis riwayat 'Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu


Sa'id al-Khudri, Nabi s.a.w. bersabda:

ُ‫م ِن اسْتأْجر أ ِجي ًْرا ف ْليُ ْع ِل ْمهُ أجْ ره‬.

"Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah


upahnya."

6. Hadis riwayat Abu Daud dari Sa`d Ibn Abi Waqqash, ia


berkata:

ِ ‫الز ْرعِ وماس ِعد ِب ْالم‬


‫ فنهانا‬،‫اء ِم ْنها‬ ‫ُكنها نُ ْك ِري اْأل ْرض ِبما على ال ه‬
‫سواقِ ْي ِمن ه‬
ٍ ‫س ْو ُل للاِ صلهى للاُ عل ْي ِه وآ ِل ِه وسلهم ع ْن ذ ِلك وأمرنا أ ْن نُ ْك ِريها بِذه‬
‫ب أ ْو‬ ُ ‫ر‬
‫ض ٍة‬
‫ ِف ه‬.

"Kami pernah menyewankan tanah dengan (bayaran) hasil


pertaniannya; maka, Rasulullah melarang kami melakukan
hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya
dengan emas atau perak."

7. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari 'Amr bin 'Auf:

‫ص ْل ًحا ح هرم حالالً أ ْو أح هل حرا ًما و ْال ُم ْس ِل ُمون على‬ُ ‫ص ْل ُح جائِ ٌز بيْن ْال ُم ْس ِل ِمين إِاله‬
ُّ ‫ال‬
‫طا ح هرم حالالً أ ْو أح هل حرا ًما‬ ً ‫وط ِه ْم إِاله ش ْر‬ ُ .
ِ ‫ش ُر‬

"Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin


kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau
menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat
dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram."

8. Ijma ulama tentang kebolehan melakukan akad sewa


menyewa.
9. Kaidah fiqh:
ِ ‫ص ُل فِى ْال ُمعامال‬
‫ت اْ ِإلباحةُ إِاله أ ْن يدُ هل د ِل ْي ٌل على تحْ ِري ِْمها‬ ْ ‫األ‬.

“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan


kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”

ِ‫ب ْالمصا ِلح‬


ِ ‫د ْر ُء ْالمفا ِس ِد ُمقده ٌم على ج ْل‬

"Menghindarkan mafsadat (kerusakan, bahaya) harus


didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan."
Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari
Memperhatikan:
Kamis, tanggal 8 Muharram 1421 H./13 April 2000.

MEMUTUSKAN

Menetapkan:FATWA TENTANG PEMBIAYAAN IJARAH


Rukun dan Syarat Ijarah:

1. Sighat Ijarah, yaitu ijab dan qabul berupa pernyataan dari kedua
belah pihak yang berakad (berkontrak), baik secara verbal atau
dalam bentuk lain.
Pertama : 2. Pihak-pihak yang berakad: terdiri atas pemberi sewa/pemberi
jasa dan penyewa/pengguna jasa.
3. Obyek akad ijarah adalah :
a. manfaat barang dan sewa; atau
b. manfaat jasa dan upah.

Ketentuan Obyek Ijarah:

1. Obyek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan/atau


jasa.
2. Manfaat barang atau jasa harus bisa dinilai dan dapat
Kedua :
dilaksanakan dalam kontrak.
3. Manfaat barang atau jasa harus yang bersifat dibolehkan (tidak
diharamkan).
4. Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai
dengan syari'ah.
5. Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk
menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan
mengakibatkan sengketa.
6. Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas, termasuk
jangka waktunya. Bisa juga dikenali dengan spesifikasi atau
identifikasi fisik.
7. Sewa atau upah adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar
nasabah kepada LKS sebagai pembayaran manfaat. Sesuatu
yang dapat dijadikan harga dalam jual beli dapat pula dijadikan
sewa atau upah dalam Ijarah.
8. Pembayaran sewa atau upah boleh berbentuk jasa (manfaat
lain) dari jenis yang sama dengan obyek kontrak.
9. Kelenturan (flexibility) dalam menentukan sewa atau upah
dapat diwujudkan dalam ukuran waktu, tempat dan jarak.

Kewajiban LKS dan Nasabah dalam Pembiayaan Ijarah

1. Kewajiban LKS sebagai pemberi manfaat barang atau jasa:


a. Menyediakan barang yang disewakan atau jasa yang
diberikan
b. Menanggung biaya pemeliharaan barang.
c. Menjamin bila terdapat cacat pada barang yang
disewakan.
2. Kewajiban nasabah sebagai penerima manfaat barang atau jasa:
a. Membayar sewa atau upah dan bertanggung jawab untuk
Ketiga :
menjaga keutuhan barang serta menggunakannya sesuai
kontrak.
b. Menanggung biaya pemeliharaan barang yang sifatnya
ringan (tidak materiil).
c. Jika barang yang disewa rusak, bukan karena
pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan, juga
bukan karena kelalaian pihak penerima manfaat dalam
menjaganya, ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan
tersebut.
Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan
Keempat :
melalui Badan Arbitrasi Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan
melalui musyawarah.

5.Dewan Syari’ah Nasional setelah

a. bahwa masyarakat banyak memerlukan bantuan penyaluran


dana dari bank berdasarkan pada prinsip jual beli;
b. bahwa dalam rangka membantu masyarakat guna
melangsungkan dan meningkatkan kesejahteraan dan
berbagai kegiatan, bank syari'ah perlu memiliki fasilitas
murabahah bagi yang memerlukannya, yaitu menjual suatu
Menimbang : barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli
dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai
laba;
c. bahwa oleh karena itu, DSN memandang perlu menetapkan
fatwa tentang Murabahah untuk dijadikan pedoman oleh
bank syari'ah.

1. Firman Allah QS. al-Nisa' [4]: 29:

ِ ‫يآ أيُّها اله ِذيْن آمنُ ْوا التأ ْ ُكلُ ْوا أ ْموال ُك ْم بيْن ُك ْم بِ ْالب‬
‫اط ِل إِاله أ ْن ت ُك ْون تِجارة ً ع ْن‬
‫اض ِم ْن ُك ْم‬
ٍ ‫تر‬...

“Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan


(mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil,
Mengingat : kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan
sukarela di antaramu…”.

2. Firman Allah QS. al-Baqarah [2]: 275:

ِّ ِ ‫ وأح هل للاُ ْالبيْع وح هرم‬...


... ‫الربا‬

"... Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan


mengharamkan riba ..."

3. Firman Allah QS. al-Ma’idah [5]: 1:

‫… يآ أيُّها اله ِذيْن آمنُ ْوا أ ْوفُ ْوا بِ ْالعُقُ ْو ِد‬

“Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu …”.

4. Firman Allah QS. al-Baqarah [2]: 280:

ُ ‫ و ِإ ْن كان ذُ ْو‬...
ٍ‫عسْرةٍ فن ِظرة ٌ ِإلى ميْسرة‬

"Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka


berilah tangguh sampai ia berkelapangan ..."

5. Hadis Nabi SAW.:

‫س ْول للاِ صلهى للاُ عل ْي ِه وآ ِل ِه‬


ُ ‫ي رضي للا عنه أ هن ر‬ ْ ‫ع ْن أ ِب ْي س ِع ْي ٍد ْال ُخد ِْر‬
‫ )رواه البيهقي وابن ماجه وصححه ابن‬،‫اض‬ ٍ ‫ إِنِِّما ْالب ْي ُع ع ْن تر‬:‫وسلهم قال‬
‫)حبان‬

Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW


bersabda, "Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka
sama suka." (HR. al-Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai
shahih oleh Ibnu Hibban).

6. Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah:

،‫ ا ْلب ْي ُع إِلى أج ٍل‬:ُ‫ث فِ ْي ِه هن ْالبركة‬


ٌ ‫ ثال‬:‫ي صلهى للاُ عل ْي ِه وآ ِل ِه وسلهم قال‬ ‫أ هن النهبِ ه‬
(‫ت ال ِل ْلبيْعِ )رواه ابن ماجه عن صهيب‬ ِ ‫ش ِعي ِْر ِل ْلب ْي‬
‫ط ْالب ِ ُِّر ِبال ه‬
ُ ‫ وخ ْل‬،ُ‫و ْال ُمقارضة‬

“Nabi bersabda, ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah:


jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan
mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan
rumah tangga, bukan untuk dijual.’” (HR. Ibnu Majah dari
Shuhaib).
7. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi:

‫ص ْل ًحا ح هرم حالالً أ ْو أح هل حرا ًما و ْال ُم ْس ِل ُمون على‬


ُ ‫ص ْل ُح جائِ ٌز بيْن ْال ُم ْس ِل ِمين إِاله‬
ُّ ‫ال‬
‫طا ح هرم حالالً أ ْو أح هل حرا ًما )رواه الترمذي عن عمرو بن‬ ً ‫وط ِه ْم إِاله ش ْر‬
ِ ‫ش ُر‬ ُ
‫)عوف‬.

“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin


kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau
menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat
dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”
(HR. Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf).

8. Hadis Nabi riwayat jama'ah:

‫ظ ْل ٌم‬
ُ ‫ي‬ ِِّ ِ‫ط ُل ْالغن‬
ْ ‫ م‬...

"Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang


mampu adalah suatu kezaliman ..."

9. Hadis Nabi riwayat Nasa'i, Abu Dawud, Ibu Majah, dan


Ahmad:

ُ‫عقُ ْوبته‬ ِ ‫ي ْالو‬


ُ ‫اج ِد ي ُِح ُّل ِع ْرضهُ و‬ ُّ ‫ل‬

"Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang


mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi
kepadanya."

10.Hadis Nabi riwayat `Abd al-Raziq dari Zaid bin Aslam:

ُ‫ان فِى ْالبيْعِ فأحلهه‬


ِ ‫س ْو ُل للاِ صلهى للاُ عل ْي ِه وسلهم ع ِن ْالعُ ْرب‬ ُ ُ‫أنهه‬
ُ ‫سئِل ر‬

"Rasulullah SAW. ditanya tentang 'urban (uang muka)


dalam jual beli, maka beliau menghalalkannya."

11.Ijma' Mayoritas ulama tentang kebolehan jual beli dengan


cara Murabahah (Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, juz 2,
hal. 161; lihat pula al-Kasani, Bada’i as-Sana’i, juz 5 Hal.
220-222).
12.Kaidah fiqh:

ِ ‫ص ُل فِى ْال ُمعامال‬


‫ت اْ ِإلباحةُ إِاله أ ْن يدُ هل د ِل ْي ٌل على تحْ ِري ِْمها‬ ْ ‫األ‬.

“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan


kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari
Memperhatikan:
Sabtu, tanggal 26 Dzulhijjah 1420 H/1 April 2000.

MEMUTUSKAN

Menetapkan:FATWA TENTANG MURABAHAH


Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari'ah:

1. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang


bebas riba.
2. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari'ah
Islam.
3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang
yang telah disepakati kualifikasinya.
4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank
sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
Pertama : 5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan
pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah
(pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus
keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu
secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya
yang diperlukan.
7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut
pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan
akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus
dengan nasabah.
9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli
barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus
dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.

Ketentuan Murabahah kepada Nasabah:

1. Nasabah mengajukan permohonan dan janji pembelian suatu


barang atau aset kepada bank.
2. Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli
terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan
pedagang.
3. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan
nasabah harus menerima (membeli)-nya sesuai dengan janji
yang telah disepakatinya, karena secara hukum janji tersebut
mengikat; kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak
jual beli.
4. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk
membayar uangmuka saat menandatangani kesepakatan awal
pemesanan.
Kedua :
5. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut,
biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut.
6. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus
ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa
kerugiannya kepada nasabah.
7. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbunsebagai alternatif dari
uang muka, maka
a. jika nasabah memutuskan untuk membeli barang
tersebut, ia tinggal membayar sisa harga.
b. jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik
bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh
bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka
tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi
kekurangannya.
Jaminan dalam Murabahah:

1. Jaminan dalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius


Ketiga : dengan pesanannya.
2. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang
dapat dipegang.

Utang dalam Murabahah:

1. Secara prinsip, penyelesaian utang nasabah dalam transaksi


murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang
dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut.
Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan
keuntungan atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk
Keempat : menyelesaikan utangnya kepada bank.
2. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran
berakhir, ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya.
3. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah
tetap harus menyelesaikan utangnya sesuai kesepakatan awal.
Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau
meminta kerugian itu diperhitungkan.

Penundaan Pembayaran dalam Murabahah:

1. Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda


penyelesaian utangnya.
Kelima : 2. Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau
jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, maka
penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari'ah
setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

Bangkrut dalam Murabahah:


Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan
Keenam :
utangnya, bank harus menunda tagihan utang sampai ia menjadi
sanggup kembali, atau berdasarkan kesepakatan.
6.FATWA
DEWAN SYARI’AH NASIONAL
Nomor 08/DSN-MUI/IV/2000
Tentang
Pembiayaan Musyarakah

‫ٱلرحْ َٰم ِن ه‬
‫ٱلر ِح ِيم‬ ‫ِبس ِْم ه‬
‫ٱَّللِ ه‬

Dewan Syari’ah Nasional setelah

a. bahwa kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan


kesejahteraan dan usaha terkadang memerlukan dana dari
pihak lain, antara lain melalui pembiayaan musyarakah,
yaitu pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua
pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, di mana
masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan
ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung
bersama sesuai dengan kesepakatan;
Menimbang : b. bahwa pembiayaan musyarakah yang memiliki keunggulan
dalam kebersamaan dan keadilan, baik dalam berbagi
keuntungan maupun resiko kerugian, kini telah dilakukan
oleh lembaga keuangan syari’ah (LKS);
c. bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-
prinsip syari’ah Islam, DSN memandang perlu menetapkan
fatwa tentang musyarakah untuk dijadikan pedoman oleh
LKS.

1. Firman Allah QS. Shad [38]: 24:

… ‫ إِاله اله ِذيْن آمنُ ْوا وع ِملُوا‬،‫ض‬


ٍ ‫ض ُه ْم على ب ْع‬ ِ ‫وإِ هن كثِي ًْرا ِمن ْال ُخلط‬
ُ ‫اء لي ْب ِغ ْي ب ْع‬
‫ت وق ِل ْي ٌل ما ُه ْم‬
ِ ‫صا ِلحا‬
‫… ال ه‬
Mengingat :
"… Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang
bersyarikat itu sebagian dari mereka berbuat zalim kepada
sebagian lain, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan
amal shaleh; dan amat sedikitlah mereka ini …"

2. Firman Allah QS. al-Ma'idah [5]: 1:

‫… ياأيُّها اله ِذيْن آمنُ ْوا أ ْوفُ ْوا بِ ْالعُقُ ْو ِد‬

"Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu …"

3. Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah


SAW berkata:

‫ فإِذا خان‬،ُ‫احبه‬ ِ ‫ش ِريْكي ِْن ما ل ْم ي ُخ ْن أحدُ ُهما ص‬ ُ ‫ أنا ثا ِل‬:ُ‫ِإ هن للا تعالى يقُ ْول‬
‫ث ال ه‬
‫احبهُ خرجْ تُ ِم ْن ب ْينِ ِهما‬
ِ ‫أحدُ ُهما ص‬.

"Allah swt. berfirman: 'Aku adalah pihak ketiga dari dua


orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak
mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah
berkhianat, Aku keluar dari mereka." (HR. Abu Daud, yang
dishahihkan oleh al-Hakim, dari Abu Hurairah)

4. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari 'Amr bin 'Auf:

‫ص ْل ًحا ح هرم حالالً أ ْو أح هل حرا ًما و ْال ُم ْس ِل ُمون على‬ُ ‫ص ْل ُح جا ِئ ٌز بيْن ْال ُم ْس ِل ِمين إِاله‬
ُّ ‫ال‬
‫طا ح هرم حالالً أ ْو أح هل حرا ًما‬ ً ‫وط ِه ْم إِاله ش ْر‬ ُ .
ِ ‫ش ُر‬

"Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin


kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau
menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat
dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram."

5. Taqrir Nabi terhadap kegiatan musyarakah yang dilakukan


oleh masyarakat pada saat itu.
6. Ijma’ Ulama atas keboleh musyarakah.
7. Kaidah fiqh:
ِ ‫ص ُل فِى ْال ُمعامال‬
‫ت اْ ِإلباحةُ إِاله أ ْن يدُ هل د ِل ْي ٌل على تحْ ِري ِْمها‬ ْ ‫األ‬.

“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan


kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari
Memperhatikan:
Kamis, tanggal 8 Muharram 1421 H./13 April 2000.

MEMUTUSKAN

Menetapkan:FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUSYARAKAH


Beberapa Ketentuan:

1. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak


untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan
kontrak (akad), dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit
menunjukkan tujuan kontrak (akad).
b. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak.
c. Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi,
atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern.
2. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum, dan
memperhatikan hal-hal berikut:
a. Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan
perwakilan.
b. Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan
setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil.
c. Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset
musyarakah dalam proses bisnis normal.
d. Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain
untuk mengelola aset dan masing-masing dianggap telah
diberi wewenang untuk melakukan aktifitas musyarakah
dengan memperhatikan kepentingan mitranya, tanpa
melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja.
e. Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau
menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri.
3. Obyek akad (modal, kerja, keuntungan dan kerugian)
a. Modal
1. Modal yang diberikan harus uang tunai, emas,
perak atau yang nilainya sama.
Modal dapat terdiri dari aset perdagangan, seperti
barang-barang, properti, dan sebagainya. Jika
modal berbentuk aset, harus terlebih dahulu dinilai
dengan tunai dan disepakati oleh para mitra.
2. Para pihak tidak boleh meminjam, meminjamkan,
menyumbangkan atau menghadiahkan modal
musyarakah kepada pihak lain, kecuali atas dasar
kesepakatan.
3. Pada prinsipnya, dalam pembiayaan musyarakah
tidak ada jaminan, namun untuk menghindari
terjadinya penyimpangan, LKS dapat meminta
jaminan.
b. Kerja
1. Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan
dasar pelaksanaan musyarakah; akan tetapi,
kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan syarat.
Seorang mitra boleh melaksanakan kerja lebih
banyak dari yang lainnya, dan dalam hal ini ia
boleh menuntut bagian keuntungan tambahan bagi
dirinya.
2. Setiap mitra melaksanakan kerja dalam
musyarakah atas nama pribadi dan wakil dari
mitranya. Kedudukan masing-masing dalam
organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak.
c. Keuntungan
1. Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas
untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa
pada waktu alokasi keuntungan atau penghentian
musyarakah.
2. Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara
proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan
tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang
ditetapkan bagi seorang mitra.
3. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika
keuntungan melebihi jumlah tertentu, kelebihan
atau prosentase itu diberikan kepadanya.
4. Sistem pembagian keuntungan harus tertuang
dengan jelas dalam akad.
d. Kerugian
Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara
proporsional menurut saham masing-masing dalam
modal.
4. Biaya Operasional dan Persengketaan
a. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama.
b. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya
atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka
penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi
Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui
musyawarah.

7. FATWA
DEWAN SYARI’AH NASIONAL
Nomor 36/DSN-MUI/X/2002
Tentang
Sertifikat Wadi’ah Bank Indonesia

‫ٱلرحْ َٰم ِن ه‬
‫ٱلر ِح ِيم‬ ‫ِبس ِْم ه‬
‫ٱَّللِ ه‬

Dewan Syari’ah Nasional setelah

a. bahwa dalam rangka pelaksanaan pengendalian moneter


berdasarkan prinsip syariah dan sebagai salah satu upaya
Menimbang : untuk mengatasi kelebihan likuiditas bank syariah,
diperlukan instrumen yang diterbitkan bank sentral yang
sesuai dengan syariah;
b. bahwa Bank Indonesia selaku bank sentral berkewajiban
melakukan pengawasan dan pengembangan terhadap bank
syariah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku;
c. bahwa Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang berdasarkan
sistem bunga tidak boleh dimanfaatkan oleh bank syariah;
d. bahwa oleh karena itu, dipandang perlu menetapkan fatwa
tentang Sertifikat yang diterbitkan oleh Bank Indonesia
yang sesuai dengan prinsip syariah.

1. Firman Allah, QS. An-Nisa [4]: 29:

ِ ‫يا أيُّها الهذي ِْن آمنُ ْوا ال تأ ْ ُكلُ ْوا أ ْموال ُك ْم بيْن ُك ْم ِب ْالب‬
‫اط ِل ِإاله أ ْن ت ُك ْون ِتجارة ً ع ْن‬
‫اض ِم ْن ُك ْم‬
ٍ ‫ تر‬...

"Hai orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta


saudaramu dengan cara yang bathil, kecuali dengan cara
perniagaan yang saling rela di antara kalian … "

2. Firman Allah SWT, QS. Al-Baqarah [2]: 275:

ِّ ِ ‫وأح هل للاُ ْالبيْع وح هرم‬


... (275 :‫ )البقرة‬... ‫الربا‬

"… Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba


Mengingat :
…"

3. Firman Allah, QS . Al Baqarah [2]: 283:

ِ ‫ي اؤْ ت ُ ِمن أمانتهُ و ْليت ه‬


(283 :‫ )البقرة‬... ُ‫ق للا ربهه‬ ْ ‫ضا ف ْليُؤ ِدِّ الهذ‬
ً ‫ض ُك ْم ب ْع‬
ُ ‫فإ ِ ْن أ ِمن ب ْع‬

"… Maka jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang


lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya
dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya …"

4. Firman Allah SWT, QS. Al-Ma'idah [5]: 1:

‫… ياأيُّها اله ِذيْن آمنُ ْوا أ ْوفُ ْوا ِب ْالعُقُ ْو ِد‬


"Hai orang yang beriman! Penuhilah aqad-aqad itu …"

5. Firman Allah, QS. An-Nisa' [4]: 58:

ِ ‫ إِ هن للا يأ ْ ُم ُر ُك ْم أ ْن تُؤد ُّْوا اْألمانا‬...


‫ت إِلى أ ْه ِلها‬

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan


amanat kepada yang berhak menerimanya …"

6. Firman Allah, QS. Al-Maidah [5]: 2:

‫ان واتهقُوا ه‬
‫َّللا إِ هن‬ ِ ‫اإلثْ ِم و ْالعُدْو‬
ِ ْ ‫وتعاونُوا على ْال ِب ِ ِّر والت ه ْقوى وال تعاونُوا على‬
ِ ‫َّللا شدِيدُ ْال ِعقا‬
‫ب‬ ‫ه‬

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)


kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu
kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."

7. Hadis riwayat Abu Dawud dan al-Tirmidzi:

‫ وقال‬،‫أ ِدِّ اْألمانة إِلى م ِن ائْتمنك وال ت ُخ ْن م ْن خانك )رواه أبو داود والترمذي‬
‫)حديث حسن‬

"Tunaikanlah amanat itu kepada orang yang memberi


amanat kepadamu dan jangan kamu mengkhianati orang
yang mengkhianatimu."

8. Kaidah Fiqh:

ِ ‫ص ُل فِي ْال ُمعامال‬


‫ت اْ ِإلباحةُ ِإاله أ ْن يدُ هل د ِل ْي ٌل على تحْ ِري ِْمها‬ ْ ‫األ‬

“Pada dasarnya, segala sesuatu dalam muamalah boleh


dilakukan sampai ada dalil yang mengharamkannya.” (As-
Suyuthi, Al-Asybah wan Nadzair, 60)

ْ ‫ط بِ ْالم‬
‫صلح ِة‬ ٌ ‫الر ِعيه ِة منُ ْو‬
‫ف اْ ِإلم ِام على ه‬
ُ ‫تص ُّر‬
"Tindakan Imam [pemegang otoritas] terhadap rakyat harus
mengikuti mashlahat." (As-Suyuthi, Al-Asybah wan
Nadzair, 121)

ِ‫ا ْلحاجةُ ق ْد ت ْن ِز ُل م ْن ِزلة الض ُهر ْورة‬

"Keperluan dapat menduduki posisi darurat." (As-Suyuthi,


Al-Asybah wan Nadzair, 63)
1. Kesepakatan para ulama atas kebolehan berakad wadi’ah
(al-ida’ wa al-istida’). Lihat Ibnu Qudamah, al-Mughni, juz
VI, h. 382; Al-Sarkhasi, al-Mabsuth, XI, h. 109; Wahbah al-
Memperhatikan: Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, V, h. 4018).
2. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional
pada hari Rabu, tanggal 23 Oktober 2002 M./ 16 Sya’ban
1423 H.

MEMUTUSKAN

FATWA TENTANG SERTIFIKAT WADI'AH BANK INDONESIA


Menetapkan:
(SWBI)
1. Bank Indonesia selaku bank sentral boleh menerbitkan
instrumen moneter berdasarkan prinsip syariah yang dinamakan
Sertifikat Wadi'ah Bank Indonesia (SWBI), yang dapat
dimanfaatkan oleh bank syariah untuk mengatasi kelebihan
likuiditasnya.
2. Akad yang digunakan untuk instrumen SWBI adalah akad
wadi'ah sebagaimana diatur dalam Fatwa DSN No. 01/DSN-
Pertama :
MUI/IV/2000 tentang Giro dan Fatwa DSN No. 02/DSN-
MUI/IV/2000 tentang Tabungan.
3. Dalam SWBI tidak boleh ada imbalan yang disyaratkan,
kecuali dalam bentuk pemberian ('athaya) yang bersifat
sukarela dari pihak Bank Indonesia.
4. SWBI tidak boleh diperjualbelikan.

Kedua :Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di
kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan
disempurnakan sebagaimana mestinya.

8. Wakaf Manfaat Asuransi dan Manfaat Investasi pada Asuransi Jiwa Syariah

‫ٱلرحْ َٰم ِن ه‬
‫ٱلر ِح ِيم‬ ‫ِبس ِْم ه‬
‫ٱَّللِ ه‬

Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), setelah

a. bahwa masyarakat, lembaga wakaf, dan Lembaga Keuangan


Syariah (LKS) memerlukan penjelasan dari segi syariah
tentang hukum mewakafkan manfaat asuransi dan manfaat
investasi pada asuransi jiwa syariah;
b. bahwa ketentuan hukum mengenai mewakafkan manfaat
Menimbang : asuransi dan manfaat investasi pada asuransi jiwa syariah
belum diatur dalam fatwa DSN-MUI;
c. bahwa atas dasar pertimbangan huruf a dan b, DSN-MUI
memandang perlu menetapkan fatwa tentang wakaf manfaat
asuransi dan manfaat investasi pada asuransi jiwa syariah
untuk dijadikan pedoman;

1. Firman Allah SWT:


a. QS. al-Ma`idah (5): 1:

‫ َٰيأيُّها الهذين ءامنوا أوفوا بِالعُقو ِد‬...

“Hai orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu


...”
Mengingat :
b. QS. al-Isra` (17): 34

ً ٔ‫وأوفوا بِالعه ِد إِ هن العهد كان مسـ‬


... ‫وال‬

“… Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti


diminta pertanggungjawabannya.”
c. QS. Ali 'Imran (3): 92

‫لن تنالُوا البِ هر حت ِّ َٰى تُن ِفقوا ِم ِّما ت ُ ِحبِّون وما تُن ِفقوا ِمن شيءٍ فإ ِ هن ه‬
‫َّللا بِ ِه‬
‫علي ٌم‬

“Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan


(yang sempurna), sebelum kkalian menafkahkan
sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang
kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah
mengetahuinya.”

d. QS. Al-Baqarah (2): 267

ِ ‫َٰيأيُّها الهذين ءامنوا أن ِفقوا ِمن ط ِي َِّٰب‬


‫ت ما كسبتُم و ِم ِّما أخرجنا ل ُكم ِمن‬
‫رض‬
ِ ‫ األ‬...

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di


jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kalian yang
baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan
dari bumi untuk kalian ...”

e. QS. Al-Ma`idah (5): 2

... ‫اإل ِثم والعُ َٰدو ِن واتهقُوا‬ َٰ ‫وتعاونوا على ال ِب ِ ِّر والت ه‬
ِ ‫قوى وال تعاونوا على‬
‫َّللا إِ هن ه‬
ِ ‫َّللا شديدُ ال ِعقا‬
‫ب‬ ‫ه‬

“... Dan tolong-menolonglah kalian dalam


(mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.

2. Hadis Nabi SAW:


a. Hadis Nabi riwayat al-Nasa`i:

‫إن ْال ِمائة س ْه ٍم‬


‫ ه‬: ‫ي صلهى للاُ عل ْي ِه وسلهم‬ ِِّ ‫عم ُر ِللنه ِب‬
ُ ‫ قال‬: ‫عمر قال‬ ُ ‫ع ِن اب ِْن‬
‫ ق ْد أردْتُ أ ْن أتصدهق‬،‫ي ِم ْنها‬ ‫ط أعْجب ِإل ه‬ ِ ُ ‫ِل ْي ِبخيْبر ل ْم أ‬
ُّ ‫صبْ م ًاال ق‬
‫صلها وسبِ ِّْل ثمرتها‬ ْ ِ‫ اِحْ ب‬: ‫ي صلهى للاُ عل ْي ِه وسلهم‬
ْ ‫سأ‬ ُّ ِ‫ بِها؛ فقال النهب‬.

“Diriwayatkan dari Ibn Umar RA, ia berkata, "Umar


RA berkata kepada Nabi SAW, "Saya mempunyai
seratus bagian (tanah/kebun) di Khaibar, belum
pernah saya mendapatkan harta yang paling saya
kagumi melebihi tanah itu. Saya bermaksud
menyedekahkannya." Nabi SAW berkata, "Tahanlah
pokoknya dan sedekahkan hasilnya pada sabilillah.”

b. Hadis Nabi Riwayat Imam al-Bukhari:

‫ضا‬ً ‫ب أصاب أ ْر‬ ِ ‫طا‬‫عمر بْن ْالخ ه‬ ُ ‫َّللاُ ع ْن ُهما أ ِّن‬


‫ضي ه‬ ِ ‫عمر ر‬ ُ ‫ع ْن اب ِْن‬
‫سول‬ ْ
ُ ‫َّللاُ عل ْي ِه وسلهم يسْتأ ِم ُرهُ ِفيها فقال يا ر‬ ‫ي صلهى ه‬ ‫ِبخيْبر فأتى النهبِ ه‬
‫ط أ ْنفس ِع ْندِي ِم ْنهُ فما‬ ُّ ‫صبْ م ًاال ق‬ ِ ُ ‫ضا ِبخيْبر ل ْم أ‬ ً ‫َّللاِ ِإنِِّي أصبْتُ أ ْر‬ ‫ه‬
‫عم ُر‬ُ ‫صلها وتصده ْقت بِها قال فتصدهق بِها‬ ْ ‫تأ ْ ُم ُر بِ ِه قال إِ ْن ِشئْت حبسْت أ‬
‫اء و ِفي ْالقُ ْربى‬ ِ ‫ث وتصدهق ِبها ِفي ْالفُقر‬ ُ ‫ب وال يُور‬ ُ ‫ع وال يُوه‬ ُ ‫أنههُ ال يُبا‬
‫ْف ال ُجناح على م ْن‬ ِ ‫ضي‬ ‫س ِبي ِل وال ه‬ ‫ب وفِي سبِي ِل ه‬
‫َّللاِ واب ِْن ال ه‬ ِ ‫الرقا‬ ِّ ِ ‫وفِي‬
‫ُط ِعم غيْر ُمتم ِّ ِو ٍل قال فحدهثْتُ بِ ِه ابْن‬ ْ ‫وف وي‬ ِ ‫و ِليها أ ْن يأ ْ ُكل ِم ْنها بِ ْالم ْع ُر‬
‫يرين فقال غيْر ُمتأثِ ِّ ٍل م ًاال‬ ِ ‫ِس‬

Dari Ibnu Umar RA, bahwa Umar RA memperoleh


sebidang tanah di Khaibar, kemudian menghadap
kepada Rasulullah untuk mohon petunjuk. Umar
berkata, "Wahai Rasulullah! Saya mendapatkan
sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah
mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah yang
engkau perintahkan kepadaku?" Rasulullah bersabda,
"Bila kau suka, kau tahan tanah itu dan engkau
sedekahkan." Ibnu Umar berkata, "Kemudian Umar
menyedekahkan tanah tersebut, (disertai persyaratan)
tidak dijual, tidak diwariskan dan tidak juga
dihibahkan. selanjutnya Umar menyedekahkannya
kepada orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya,
sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Dan tidak dilarang
bagi yang mengelola tanah wakaf itu (pengurusnya)
makan dari hasilnya dengan cara yang baik dengan
tidak bermaksud menumpuk harta."

c. Hadis Nabi Riwayat Muslim:

‫ ِإذا مات‬: ‫َّللاِ صلى للا عليه وسلم قال‬ ‫سول ه‬ ُ ‫ع ْن أبِى ُهريْرة أ هن ر‬
‫اري ٍة أ ْو ِع ْل ٍم‬ِ ‫ان ا ْنقطع ع ْنهُ عملُهُ إِاله ِم ْن ثالث ٍة إِاله ِم ْن صدق ٍة ج‬
ُ ‫اإل ْنس‬
ِ
ُ ‫ع و له‬ ُ ْ‫ يُ ْنتف ُع ِب ِه أ ْو ول ٍد صا ِلحٍ يد‬.

“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,


"Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputus
darinya amalnya kecuali dari tiga hal (yaitu): dari
sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak
saleh yang mendoakannya.”

d. Hadis Nabi riwayat Imam al-Tirmidzi:

‫سول ه‬
ِ‫َّللا‬ ُ ‫ي رضي للا تعالى عنه أ هن ر‬ ِِّ ‫ع ْن ع ْم ِرو ب ِْن ع ْوفٍ ْال ُمز ِن‬
‫ص ْل ًحا ح هرم‬
ُ ‫ص ْل ُح جائِ ٌز بيْن ْال ُم ْس ِل ِمين هإال‬
ُّ ‫ ال‬: ‫صلى للا عليه وسلم قال‬
‫طا ح هرم‬ ً ‫ هإال ش ْر‬،‫وط ِه ْم‬ِ ‫ش ُر‬ ُ ‫ و ْال ُم ْس ِل ُمون على‬.‫حال ًال أ ْو أح هل حرا ًما‬
‫ أ ْو أح هل حرا ًما‬،‫حال ًال‬.

“Dari ‘Amr bin ‘Auf al-Muzanni, bahwa Rasulullah


SAW bersabda, “Sulh (penyelesaian sengketa melalui
musyawarah untuk mufakat) boleh dilakukan di
antara kaum muslimin kecuali sulh yang
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang
haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-
syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan
yang halal atau menghalalkan yang haram.”

3. Kaidah fikih:

ِ ‫اإلباحةُ ِإاله أ ْن يهدُ هل د ِلي ٌل على تحْ ِر‬


‫يمها‬ ِ ‫ت‬ ِ ‫ص ُل فِي ْال ُمعامال‬
ْ ‫ األ‬.

“Pada dasarnya, segala bentuk muamalat itu boleh


dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
1. Penjelasan para fuqaha mengenai Mauquf bih.
a. Wakaf adalah menahan harta yang dapat
dimanfaatkan dan/atau di-istitsmar-kan tanpa lenyap
bendanya, dengan tidak menjual, menghibahkan,
dan/atau mewariskannya, dan hasilnya disalurkan
pada sesuatu yang mubah kepada penerima manfaat
wakaf yang ada.
b. Syarat-syarat obyek wakaf menurut pendapat ulama,
antara lain adalah:
1. harta yang diwakafkan harus harta yang
berharga/bernilai secara syariah (mal
mutaqawwam);
2. harta yang diwakafkan harus harta yang sudah
jelas dan terukur (ma'lum); dan
3. harta yang diwakafkan harus harta yang sudah
menjadi milik penuh (milk tam) bagi wakif
pada saat akad wakaf dilakukan.
Memperhatikan:
2. Surat-surat terkait, yaitu :
a. Surat dari Sun Life Financial Syariah No. 01/E/SHD/
11/2015 tanggal 27 Februari 2015 perihal Surat
Konfirmasi Program Manfaat Investasi Asuransi Jiwa
Syariah untuk Wakaf.
b. Surat dari Lembaga Wakaf Al-Azhar No.019/Dir-
Wakaf/III/2014 tanggal 26 Maret 2014 perihal
Permohonan Ketetapan Aspek Syariah atas Produk
Wakaf Wasiat Polis Asuransi.
c. Keputusan Rapat Kerja DSN-MUI tanggal 11-13
Februari 2016 yang dilaksanakan di Bogor.
3. Fatwa DSN-MUI:
a. Fatwa DSN-MUI Nomor: 21 /DSN-MUI/X/2001
tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah;
b. Fatwa DSN-MUI Nomor: 51 /DSN-MUI/III/2006
tentang Akad Mudharabah Musytarakah pada
Asuransi Syariah (Ketentuan Kedua, Ketentuan
Hukum, angka 2); dan
c. Fatwa DSN-MUI NO: 85/DSN-MUI/XII/2012
Tentang Janji (Wa'd) Dalam Transaksi Keuangan Dan
Bisnis Syariah
4. Fatwa MUI tentang Wakaf Uang tanggal 11 Mei 2002
5. Pendapat peserta Rapat Pleno DSN-MUI tanggal 01
Oktober 2016

MEMUTUSKAN

FATWA TENTANG WAKAF MANFAAT ASURANSI DAN


Menetapkan:
MANFAAT INVESTASI PADA ASURANSI JIWA SYARIAH.
Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan:

1. Wakaf adalah menahan harta yang dapat dimanfaatkan dan/atau


di-istitsmar-kan tanpa lenyap bendanya, dengan tidak menjual,
menghibahkan, dan/atau mewariskannya, dan hasilnya
disalurkan pada sesuatu yang mubah kepada penerima manfaat
Pertama : wakaf yang ada.
2. Manfaat Asuransi adalah sejumlah dana yang bersumber dari
Dana Tabarru’ yang diserahkan kepada pihak yang mengalami
musibah atau pihak yang ditunjuk untuk menerimanya.
3. Manfaat Investasi adalah sejumlah dana yang diserahkan
kepada peserta program asuransi yang berasal dari kontribusi
investasi peserta dan hasil investasinya.

Ketentuan Hukum

1. Pada prinsipnya Manfaat Asuransi dimaksudkan untuk


melakukan mitigasi risiko peserta atau pihak yang ditunjuk.
Kedua :
2. Mewakafkan Manfaat Asuransi dan Manfaat Investasi pada
asuransi jiwa syariah hukumnya boleh dengan mengikuti
ketentuan yang terdapat dalam Fatwa ini.
Ketentuan Khusus

1. Ketentuan Wakaf Manfaat Asuransi


a. Pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat asuransi
menyatakan janji yang mengikat (wa’d mulzim) untuk
mewakafkan manfaat asuransi;
b. Manfaat asuransi yang boleh diwakafkan paling banyak
45% dari total manfaat asuransi;
c. Semua calon penerima manfaat asuransi yang ditunjuk
atau penggantinya menyatakan persetujuan dan
kesepakatannya; dan
d. Ikrar wakaf dilaksanakan setelah manfaat asuransi secara
prinsip sudah menjadi hak pihak yang ditunjuk atau
Ketiga : penggantinya.
2. Ketentuan Wakaf Manfaat Investasi
a. Manfaat investasi boleh diwakafkan oleh peserta
asuransi;
b. Kadar jumlah manfaat investasi yang boleh diwakafkan
paling banyak sepertiga (1/3) dari total kekayaan
dan/atau tirkah, kecuali disepakati lain oleh semua ahli
waris.
3. Ketentuan Ujrah terkait dengan produk wakaf
a. Ujrah tahun pertama paling banyak 45% dari kontribusi
reguler;
b. Akumulasi ujrah tahun berikutnya paling banyak 50%
dari kontribusi reguler.

Ketentuan Penutup

1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika


terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya
Keempat :
dilakukan melalui lembaga penyelesaian sengketa berdasarkan
syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah
dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

9. Hadiah adiah dalam Penghimpunan Dana Lembaga Keuangan Syariah

‫ٱلرحْ َٰم ِن ه‬
‫ٱلر ِح ِيم‬ ‫ِبس ِْم ه‬
‫ٱَّللِ ه‬

Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), setelah

a. bahwa Lembaga Keuangan Syariah (LKS) melakukan


penghimpunan dana berupa tabungan, deposito, dan giro
dengan akad yang sesuai syariah, yaitu wadi'ah dan
mudharabah;
b. bahwa dalam rangka menarik minat masayarakat terhadap
produk penghimpunan dana, LKS memberikan hadiah
kepada nasabah penyimpan, baik berupa hadiah promosi
maupun hadiah bagi dana simpanan nasabah;
Menimbang : c. bahwa industri keuangan syariah dan masyarakat
memerlukan kejelasan hukum syariah sebagai landasan
operasional pemberian hadiah dalam penghimpunan dana
LKS;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan huruf a, b, dan c, Dewan
Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia, memandang
perlu untuk menetapkan fatwa tentang hadiah dalam
penghimpunan dana LKS untuk dijadikan pedoman.

1. Firman Allah SWT:


a. QS. al-Ma'idah [5]: 1:

‫… ياأيُّها اله ِذيْن آمنُ ْوا أ ْوفُ ْوا بِ ْالعُقُ ْو ِد‬


Mengingat :
"Hai orang yang beriman! Tunaikanlah akad-akad itu
…"

b. QS. al-Isra' [17]: 34:


... ً‫ وأ ْوفُ ْوا بِ ْالع ْه ِدإِ هن ْالع ْهد كان م ْسئ ُ ْوال‬...

"… Dan tunaikanlah janji-janji itu, sesungguhnya


janji itu akan dimintai pertanggung jawaban …"

c. QS. al-Baqarah [2]: 275:

ِّ ِ ‫َّللاُ ْالبيْع وح هرم‬


... ‫الربا‬ ‫ وأح هل ه‬...

"… Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan


mengharamkan riba ..."

d. QS. al-Baqarah [2]: 278:

ِّ ِ ‫ياأيُّها اله ِذيْن آمنُوا اتهقُوا للا وذ ُر ْوا ما ب ِقي ِمن‬


‫الربا إِ ْن ُك ْنت ُ ْم ُمؤْ ِمنِيْن‬

"Hai orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah


dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang yang
beriman."

e. QS. al-Nisa' [4]: 29:

ِ ‫ياأيُّها اله ِذيْن آمنُ ْوا ال تأ ْ ُكلُ ْوا أ ْموال ُك ْم بيْن ُك ْم ِب ْالب‬
ً ‫اط ِل ِإاله أ ْن ت ُكون تِجارة‬
‫اض ِم ْن ُك ْم‬
ٍ ‫ ع ْن تر‬...

"Hai orang yang beriman! Janganlah kalian memakan


(mengambil) harta orang lain secara batil, kecuali jika
berupa perdagangan yang dilandasi atas sukarela di
antara kalian ..."

f. QS. al-Baqarah [2]: 283:

ِ ‫ و ْليت ه‬،ُ‫ضا ف ْليُؤ ِدِّ الهذِى اؤْ ت ُ ِمن أمانته‬


... ُ‫ق للا ربهه‬ ً ‫ض ُك ْم ب ْع‬
ُ ‫ فإ ِ ْن أ ِمن ب ْع‬...

"… Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian


yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan
amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah
Tuhannya …"

g. QS. al-Nisa' [4]: 58:

‫اس‬ ِ ‫ يأ ْ ُم ُر ُك ْم أ ْن تُؤدُّوا اْألمانا‬.‫ِإ هن اله‬


ِ ‫ت ِإلى أ ْه ِلها و ِإذا حك ْمت ُ ْم بيْن النه‬
‫ أ ْن تحْ ُك ُم ْوا بِ ْالع ْد ِل‬...

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu


menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum
di antara manusia, hendaklah kamu menetapkan
hukum dengan adil …"

h. QS. Al-Shafat [37]: 139-141:

‫ فساهم فكان‬،‫ون‬ ِ ‫ ِإ ْذ أبق ِإلى ْالفُ ْل ِك ْالم ْش ُح‬،‫و ِإ هن يُونُس ل ِمن ْال ُم ْرس ِلين‬
‫ضين‬ِ ‫ِمن ْال ُمدْح‬

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang


Rasul; ingatlah ketika ia lari ke kapal yang penuh
muatan; kemudian ia ikut berundi, lalu ia termasuk
orang-orang yang kalah dalam undian."

2. Hadis Nabi SAW:


a. Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari 'Ubadah bin
Shamit, riwayat Ahmad dari Ibnu 'Abbas, dan riwayat
Imam Malik dari Yahya:

‫ضرار‬ ِ ‫َّللاُ عل ْي ِه وسلهم قضى أ ْن ال ضرر وال‬


‫َّللاِ صلهى ه‬
‫سول ه‬ُ ‫أ هن ر‬
( ،‫ األحكام‬:‫ الكتاب‬،‫أخرجه ابن ماجه عن عبادة بن الصامت في سننه‬
‫ ورواه‬،2331 : ‫ رقم الحديث‬،‫ من بنى في حقه مايضر بجاره‬: ‫الباب‬
‫ ومالك عن يحي‬،‫)أحمد عن ابن عباس‬

"Rasulullah SAW menetapkan: tidak boleh


membahayakan/ merugikan orang lain dan tidak
boleh (pula) membalas bahaya (kerugian yang
ditimbulkan oleh orang lain) dengan bahaya
(perbuatan yang merugikannya)."
(HR. Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit dalam
Kitab Sunan al-Tirmidzi, Kitab: Ahkam, bab man
bana bi haqqihi ma yadhurru bi jarihi, No: 2331; HR.
Ahmad dari Ibnu Abbas dan HR Malik dari Yahya)

b. Hadis riwayat Imam Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Kitab


Ahkam, bab: ma dzukira 'an Rasulillah, No: 1272:

‫ص ْل ًحا ح هرم حالالً أ ْو أح هل حرا ًما‬ ُ ‫ص ْل ُح جائِ ٌز بيْن ْال ُم ْس ِل ِمين ِإاله‬
ُّ ‫ال‬
ً ‫وط ِه ْم إِاله ش ْر‬
‫طا ح هرم حالالً أ ْو أح هل حرا ًما‬ ُ ‫و ْال ُم ْس ِل ُمون على‬
ِ ‫ش ُر‬

"Perdamaian boleh dilakukan di antara kaum


muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan
yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum
muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali
syarat yang mengharamkan yang halal atau
menghalalkan yang haram."

c. Hadis riwayat dari Ibnu Umar RA:

‫ تهاد ْوا تحاب ُّْوا‬:‫عن عبد للا بن عمرو أن النبي صلى للا عليه وسلم قال‬
( :‫ بيروت‬،‫ محمد بن سالمة بن جعفر أبو عبدللا القاضي‬،‫مسند الشهاب‬
،‫؛ شرح سنن ابن ماجه‬381 .‫ ص‬،1 .‫ ج‬،1986 ،‫مؤسسة الرسالة‬
‫ قديمي كتب‬:‫ كراتشي‬،‫ فخر الحسن الدهلوي‬،‫ عبد الغني‬،‫السيوطي‬
‫ محمد شمس الحق العظيم‬،‫؛ عون المعبود‬140 .‫ ص‬1 .‫ ج‬.‫ت‬.‫ د‬.‫خانة‬
.‫ ص‬،8 .‫ ج‬،‫ ه‬1415 ،‫ دار الكتب العلمية‬:‫ بيروت‬،‫آبادي أبوالطيب‬
215)

"Dari Abd Allah Ibn Umar RA, Sesungguhnya


Rasulullah SAW bersabda, "Salinglah memberi
hadiah, maka kalian akan saling mencintai."
(Musnad al-Syihab, Muhammad Ibn Salamah Ibn
Ja'far Abu Abd Allah al-Qadhi, Beirut: Mu'assasah
al-Risalah. 1986, juz I, hlm. 381; Syarh Sunan Ibn
Majah, al-Suyuthi, Abd al-Ghani, dan Fakhr al-
Hasanal-Dahlawi, Karachi: Qudaimi Kutub Khanah.
T.th., juz I, hlm. 140; Aun al-Ma'bud, Muhammad
Syam al-Haq al-Azhim Abadi Abu al-Thayyib,
Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. 1415 H, juz VIII,
hlm. 215)

d. Hadis riwayat dari Abu Hurairah RA:

‫ تهاد ْوا فإ ِ هن‬:‫عن أبي هريرة عن النبي صلى للا عليه وسلم قال‬
‫ أحمد بن على بن حجر أبو‬،‫صد ِْر )فتح الباري‬ ُ ‫اله ِديهة ت ُ ْذه‬
‫ِب وحر ال ه‬
.‫ ص‬،5 .‫ ج‬.‫ه‬1379 ،‫ دارالمعرفة‬:‫ بيروت‬،‫الفضل العسقالني الشافعي‬
197 ،‫ محمد بن عيسى أبو عيسى الترمذي السلمي‬،‫؛ سنن الترمذي‬
441 ‫ ص‬،4 ‫ جز‬،‫ دار إحياء التراث العربي‬:‫)بيروت‬

Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda,


"Saling memberi hadiahlah. Sesungguhnya hadiah itu
menghilangkan rasa dengki."
(Fath al-Bari, Ahmad Ibnu Ali Ibnu Hajar Abu al-
fadhl al-Asqalani al-Syafi'i, Beirut: Dar al-Ma'rifah,
1379 H, juz 5, hlm. 197; Sunan al-Tirmidzi,
Muhammad Ibn Isa Abu Isa al-Tirmidzi al-Silmi,
Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, juz IV, hlm. 441)

3. Kaidah fikih, antara lain:


a. ‫ )األشباه‬.‫اء اْ ِإلباحةُ ِإاله أ ْن يدُ هل د ِل ْي ٌل على التهحْ ِري ِْم‬
ِ ‫ص ُل فِي اْأل ْشي‬
ْ ‫األ‬
‫والنظائر فى قواعد وفروع فقه الشافعية لجالل الدين عبد الرحمن بن‬
133 .‫ ص‬،1987 ،‫ دار الكتاب العربي‬:‫ بيروت‬،‫)أبي بكر السيوطي‬

"Pada dasarnya, segala sesuatu --termasuk mu'amalat-


- boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya."
(al-Asybah wa al-Nazha'ir fi Qawa'id wa Furu' Fiqh
al-Syafi'iyyah, Jalal al-Din Abd al-Rahman Ibnu Abi
Bakr al-Suyuthi, Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi. 1987,
hlm. 133)
b. ‫ )شرح القواعد‬،ٍ‫ي‬ ٍ ‫الي ُج ْو ُز ِألح ٍد أ ْن يأ ْ ُخذ مال أح ٍد بِال سب‬
ِّ ‫ب ش ْر ِع‬
،1989 ،‫ دار القلم‬:‫ دمشق‬،‫ للشيخ أحمد بن الشيخ محمد الزرقا‬،‫الفقهية‬
465 .‫)ص‬

"Seseorang/pihak tertentu tidak boleh mengambil


harta milik pihak lain tanpa sebab yang sah menurut
syara'."
(Syarh al-Qawa'id al-Fiqhiyyah, Syekh Ahmad Ibn
Syekh Muhammad al-Zarqa, Damaskus: Dar al-
Qalam. 1989, hlm. 465)

ِ ‫ال ِب ْالب‬
c. ‫ )موسوعة القواعد الفقهية لعطية عدالن عطية‬،‫اط ِل حرا ٌم‬ ِ ‫أ ْك ُل ْالم‬
272 .‫ ص‬،2007 ،‫ دار اإليمان‬:‫ االسكندرية‬،‫)رمضان‬

"Mengambil harta secara tidak sah (bathil) adalah


haram."
(Mausu'ah al-Qawa'id al-Fiqhiyyah, Athiyah Adlan
Athiyah Ramadhan, Iskandariyah: Dar al-Aiman.
2007, hlm. 272)

ِ ‫ب ثُب ُْوتُهُ ِع ْند ثُب ُْو‬


‫ت ال ه‬
d. ،‫ش ْر ِط )شرح القواعد الفقهية‬ ‫ا ْل ُمعله ُق بِال ه‬
ُ ‫ش ْر ِط ي ِج‬
.‫ ص‬،1989 ،‫ دار القلم‬:‫ دمشق‬،‫للشيخ أحمد بن الشيخ محمد الزرقا‬
419)

"(Janji) yang dikaitkan dengan syarat, wajib dipenuhi


apabila syaratnya telah terpenuhi."
(Syarh al-Qawa'id al-Fiqhiyyah, Syekh Ahmad Ibnu
Syekh Muhammad al-Zarqa, Damaskus: Dar al-
Qalam. 1989. hlm. 419)

ُ ‫ُك ُّل أ ْم ٍر يُ ْشتبهُ فِ ْي ِه واليتمي ُهز إِاله بِ ْالقُ ْرع ِة فإِنههُ يُ ْقر‬
e. ‫ع )القواعد الفقهية‬
.‫ ص‬،‫ ه‬1422، ‫ دار لبصيرة‬:‫ االسكندرية‬،‫لمحمد بن صالح العثيمين‬
80)

"Setiap hal yang (haknya atau bentuknya) serupa dan


tidak dapat dibeda-bedakan kecuali diundi, maka
harus diundi."
(al-Qawa'id al-Fiqhiyyah, Muhammad Shalih al-
'Utsaimin, Iskandariyah: Dar al-Bashirah. 1422 H,
hlm. 272)
a. Pendapat ulama tentang hadiah sebagai dijelaskan Abd al-
Halim 'Uwais dalam kitab Mausu'ah al-Fiqh al-Islam al-
Mu'ashir(al-Mansyurah: Dar al-Wafa'. 2005), hlm. 95-99,
sebagai berikut:
1. Hadiah tidak boleh diterima oleh yang menyimpan
dana dengan akad qardh atau wadi'ah, walaupun dana
tersebut diinvestasikan oleh penerima titipan;
2. Hadiah tidak boleh diterima dalam kondisi apapun
oleh Muqridh (pemberi utang) kecuali jika sudah
terbiasa melakukan pertukaran hadiah di antara
mereka sebelum akad qardh tersebut terjadi; jika
tidak demikian, maka hadiah termasuk riba atau
risywah yang keduanya diharamkan bagi pemberi
maupun penerimanya;
3. Syekh Abd al-Ra'uf al-Munawi berpendapat, jika
Memperhatikan: dalam akad qardh disyaratkan adanya sesuatu yang
mendatangkan manfaat baik berupa tambahan secara
kualitas maupun kuantitas terhadap Muqridh
(pemberi utang), maka akad tersebut batal;
4. Muhammad Ibnu Ismail al-Kahlani dalam
menjelaskan hadits tentang larangan memberi hadiah
kepada pihak yang memberikan pertolongan, karena
hal tersebut termasuk riba;
5. Muhammad Ibnu Idris al-Syafi'i berpendapat bahwa
hibah bi al-tsawab (hadiah bersyarat imbalan) adalah
batal, tidak sah;
6. Pendapat ulama yang membolehkan penerimaan
hadiah pada saat pelunasaan utang atau pengambilan
benda yang dititipkan, karena termasuk pembayaran
utang yang baik sebagaimana dianjurkan Rasulullah
SAW.
b. Penjelasan Syekh 'Ala' al-Din Za'tari dalam kitab Fiqh al-
Mu'amalat al-Maliyahal-
Muqaran:ShiyaghahJadidahwaAmtsilah
Mu'ashirah(Damaskus: Dar al-Ashma'. 2008), hlm. 244-
246, sebagai berikut:
1. Ulama Hanafiah berpendapat bahwa hadiah boleh
diterima oleh Muqridh sebelum utang qardh dibayar
oleh Muqtaridh; akan tetapi, yang terbaik adalah
bahwa hadiah tersebut tidak diterima oleh Muqridh;
2. Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa
hadiah atas qardh tidak boleh (haram) diterima oleh
Muqridh apabila hadiah diberikan oleh Muqtaridh
dengan harapan agar Muqridh memperpanjang masa
qardh-nya; dan Muqridh diharamkan pula menerima
hadiah atas qardh tersebut;
3. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa hadiah boleh
diterima sebelum terjadi utang-piutang atas dasar
akad qardh.
c. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Risywah (Suap),
Ghulul(Korupsi), dan Hadiah kepada Pejabat, yang
ditetapkan tanggal 25-29 Juli 2000, yang substansinya
adalah:
1. Jika pemberian hadiah itu pernah dilakukan sebelum
pejabat tersebut memegang jabatan, maka pemberian
seperti itu hukumnya halal (tidak haram), demikian
juga menerimanya;
2. Jika pemberian hadiah itu tidak pernah dilakukan
sebelum pejabat tersebut memegang jabatan, maka
dalam hal ini ada tiga kemungkinan:
a. Jika antara pemberi hadiah dan pejabat tidak
ada atau tidak akan ada urusan apa-apa, maka
memberikan dan menerima hadiah tersebut
tidak haram;
b. Jika antara pemberi hadiah dan pejabat terdapat
urusan (perkara), maka bagi pejabat haram
menerima hadiah tersebut; sedangkan bagi
pemberi, haram memberikannya apabila
pemberian dimaksud bertujuan untuk
meluluskan sesuatu yang batil (bukan haknya);
dan
c. Jika antara pemberi hadiah dan pejabat ada
sesuatu urusan, baik sebelum maupun sesudah
pemberian hadiah dan pemberiannya itu tidak
bertujuan untuk sesuatu yang batil, maka halal
(tidak haram) bagi pemberi memberikan hadiah
itu, tetapi bagi pejabat haram menerimanya.
d. Kesimpulan dan Rekomendasi Working Group Perbankan
Syariah (Bank Indonesia/BI, Dewan Syariah Nasional -
Majelis Ulama Indonesia/DSN-MUI, dan Ikatan Akuntan
Indonesia/IAI) tentang Ja'izah Tasyji'iyyah pada
penghimpunan dana, tanggal 20 Desember 2012;
e. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional -
Majelis Ulama Indonesia pada hari Jumat, tanggal 21
Desember 2012.

MEMUTUSKAN

HADIAH DALAM PENGHIMPUNAN DANA LEMBAGA


Menetapkan:
KEUANGAN SYARIAH
Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan:

1. Penghimpunan dana adalah kegiatan penghimpunan dana


masyarakat yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah
Pertama : yang dapat berupa tabungan, deposito, dan giro;
2. Tabungan adalah simpanan dana masyarakat yang tujuannya
penyimpanan kekayaan yang penarikannya dapat dilakukan
menurut syarat-syarat tertentu yang telah disepakati, yang tidak
dapat dilakukan penarikan dengan menggunaakan cek, bilyet
giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu;
3. Deposito adalah simpanan dana berjangka yang penarikannya
hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan
perjanjian antara nasabah penyimpan dengan bank;
4. Giro adalah simpanan dana masyarakat yang tujuannya
memudahkan transaksi bisnis yang penarikannya dapat
dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro,
dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu;
5. Wadi'ah (titipan) adalah akad titipan sesuatu yang diberikan
oleh satu pihak kepada pihak lain untuk dijaga dan
dikembalikan ketika diminta kembali;
6. Mudharabah adalah akad kerjasama suatu usaha antara dua
pihak di mana pihak pertama (shahibul mal) menyediakan
seluruh modal usaha, sedangkan pihak mudharib bertindak
selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi di antara
mereka sesuai nisbah yang disepakati yang dituangkan dalam
kontrak;
7. Hadiah (hadiyah) adalah pemberian yang bersifat tidak
mengikat dan bertujuan agar nasabah loyal kepada LKS;
8. Janji (wa'd) adalah pernyataan dari satu pihak kepada pihak lain
yang berupa kesanggupan untuk melakukan atau tidak
melakukan perbuatan tertentu di masa yang akan datang;
9. Perjanjian (akad/transaksi/kontrak) adalah pertalian antara
ijab/penawaran dengan qabul/penerimaan menurut cara-cara
yang disyariatkan yang berpengaruh terhadap obyeknya;
10.Qur'ah (undian) adalah cara menentukan pihak yang berhak
menerima hadiah melalui media tertentu di mana penentuan
"pemenangnya" diyakini tanpa unsur keberpihakan dan di luar
jangkauan;
11.Maisir (judi)adalah setiap akad yang dilakukan dengan tujuan
yang tidak jelas, dan perhitungan yang tidak cermat, spekulasi,
atau untung-untungan;
12.Gharar adalah ketidakpastian dalam suatu akad, baik mengenai
kualitas atau kuantitas obyek akad maupun mengenai
penyerahannya;
13.Riba adalah tambahan yang diberikan dalam pertukaran barang-
barang ribawi (al-amwal al-ribawiyah) dan tambahan yang
diberikan atas pokok utang dengan imbalan penangguhan
pembayaran secara mutlak;
14.Akl al-mal bi al-bathil adalah mengambil harta pihak lain
secara tidak sah menurut syariat Islam;
15.Risywah (suap/sogok) adalah pemberian yang diberikan oleh
seseorang/pihak kepada orang/pihak lain (pejabat) dengan
maksud meluluskan suatu perbuatan yang bathil (tidak benar
menurut syariah) atau membatilkan perbuatan yang hak.
Suap/uang pelicin/money politic dan lain sebagainya dapat
dikategorikan sebaagi risywah apabila tujuannya untuk
meluluskan sesuatu yang batil atau membatilkan perbuatan
yang hak.

Ketentuan Hukum
Lembaga Keuangan Syariah boleh menawarkan dan/atau memberikan
Kedua :
hadiah dalam rangka promosi produk penghimpunan dana dengan
mengikuti ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Fatwa ini.
Ketentuan terkait Hadiah

1. Hadiah promosi yang diberikan Lembaga Keuangan Syariah


(LKS) kepada Nasabah harus dalam bentuk barang dan/atau
jasa, tidak boleh dalam bentuk uang;
2. Hadiah promosi yang diberikan oleh LKS harus berupa benda
yang wujud, baik wujud haqiqi maupun wujud hukmi;
3. Hadiah promosi yang diberikan oleh LKS harus berupa benda
Ketiga : yang mubah/halal;
4. Hadiah promosi yang diberikan oleh LKS harus milik LKS
yang bersangkutan, bukan milik nasabah;
5. Dalam hal akad penyimpanan dana adalah akad wadi'ah, maka
hadiah promosi diberikan oleh LKS sebelum terjadinya akad
wadi'ah;
6. LKS berhak menetapkan syarat-syarat kepada penerima hadiah
selama syarat-syarat tersebut tidak menjurus kepada praktik
riba;
7. Dalam hal penerima hadiah ingkar terhadap syarat-syarat yang
telah ditentukan oleh LKS, penerima hadiah harus
mengembalikan hadiah yang telah diterimanya;
8. Kebijakan pemberian hadiah promosi dan hadiah atas Dana
Pihak Ketiga oleh LKS harus diatur dalam peraturan internal
LKS setelah memperhatikan pertimbangan Dewan pengawas
Syariah;
9. Pihak Otoritas harus melakukan pengawasan terhadap
kebijakan Lembaga Keuangan Syariah terkait pemberian
hadiah promosi dan hadiah atas Dana Pihak Ketiga kepada
nasabah, berikut operasionalnya.

Ketentuan terkait Cara Penentuan Penerima Hadiah

1. Hadiah promosi tidak boleh diberikan oleh LKS dalam hal:


a. bersifat memberikan keuntungan secara pribadi pejabat
dari perusahaan/institusi yang menyimpan dana,
b. berpotensi praktek risywah (suap), dan/atau
Keempat : c. menjurus kepada riba terselubung;
2. Pemberian hadiah promosi oleh LKS harus terhindar dari qimar
(maisir), gharar, riba, dan akl al-mal bil bathil;
3. Pemberian hadiah promosi oleh LKS boleh dilakukan secara
langsung, dan boleh pula dilakukan melalui pengundian
(qur'ah).

Ketentuan terkait Hadiah dalam Simpanan DPK


LKS boleh memberikan hadiah/'athaya atas simpanan nasabah,
dengan syarat:

1. Tidak diperjanjikan sebagaimana substansi Fatwa DSN-MUI


Kelima :
Nomor: 01/DSN-MUI/IV/2000 tentang Giro, dan Nomor:
02/DSN-MUI/IV/2000 tentang Tabungan;
2. Tidak menjurus kepada praktik riba terselubung; dan/atau
3. Tidak boleh menjadi kelaziman (kebiasaan, 'urf);
Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan
Keenam :
melalui lembaga penyelesaian sengketa berdasarkan syariah setelah
tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di
Ketujuh :kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan
disempurnakan sebagaimana mestinya.

FATWA
DEWAN SYARI’AH NASIONAL
Nomor 07/DSN-MUI/IV/2000
Tentang
Pembiayaan Mudharabah (Qiradh)

‫ٱلرحْ َٰم ِن ه‬
‫ٱلر ِح ِيم‬ ‫بِس ِْم ه‬
‫ٱَّللِ ه‬

Dewan Syari’ah Nasional setelah

a. bahwa dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan dana lembaga


keuangan syari’ah (LKS), pihak LKS dapat menyalurkan dananya
kepada pihak lain dengan cara mudharabah, yaitu akad kerjasama suatu
Menimbang :
usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (malik, shahib al-mal,
LKS) menyediakan seluruh modal, sedang pihak kedua (‘amil,
mudharib, nasabah) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha
dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam
kontrak;
b. bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan syari’ah Islam, DSN
memandang perlu menetapkan fatwa tentang mudharabah untuk
dijadikan pedoman oleh LKS.

1. Firman Allah QS. al-Nisa' [4]: 29:

ِ ‫ يآ أيُّها اله ِذيْن آمنُ ْوا التأ ْ ُكلُ ْوا أ ْموال ُك ْم بيْن ُك ْم بِ ْالب‬...
ٍ ‫اط ِل إِاله أ ْن ت ُك ْون تِجارةً ع ْن تر‬
‫اض ِم ْن ُك ْم‬

"Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan


(mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan
jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu …"

2. Firman Allah QS. al-Ma'idah [5]: 1:

‫… ياأيُّها اله ِذيْن آمنُ ْوا أ ْوفُ ْوا بِ ْالعُقُ ْو ِد‬

"Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu …."

3. Firman Allah QS. al-Baqarah [2]: 283:

ِ ‫ و ْليته‬،ُ‫ض ُك ْم ب ْعضًا ف ْليُؤ ِدِّ الهذِى اؤْ ت ُ ِمن أمانته‬


... ُ‫ق للا ربهه‬ ُ ‫ فإ ِ ْن أ ِمن ب ْع‬...

"… Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain,


hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia
Mengingat :
bertakwa kepada Allah Tuhannya …"

4. Hadis Nabi riwayat Thabrani:

ِ ‫ب ِإذا دفع ْالمال ُمضاربةً اِ ْشترط على ص‬


‫اح ِب ِه أ ْن ال ي ْسلُك‬ ِ ‫هاس ْبنُ ع ْب ِد ْال ُمط ِ ِّل‬
ُ ‫كان س ِِّيد ُنا ْالعب‬
ْ ً
‫ فبلغ‬،‫ فإ ِ ْن فعل ذ ِلك ض ِمن‬،ٍ‫ وال يشت ِري بِ ِه دابهة ذات كبِ ٍد رطبة‬،‫ وال ي ْن ِزل بِ ِه وا ِديًا‬،‫بِ ِه بحْ ًرا‬
ْ
‫س ْول للاِ صلهى للاُ عل ْي ِه وآ ِل ِه وسلهم فأجازهُ )رواه الطبراني فى األوسط عن ابن‬ ُ ‫طه ُ ر‬ ُ ‫ش ْر‬
‫)عباس‬.

"Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harta sebagai


mudharabah, ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak
mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli
hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib) harus
menanggung resikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu
didengar Rasulullah, beliau membenarkannya." (HR. Thabrani dari Ibnu
Abbas)

5. Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari Shuhaib:

ُ ‫ وخ ْل‬،ُ‫ و ْال ُمقارضة‬،‫ ا ْلب ْي ُع ِإلى أج ٍل‬:ُ‫ث فِ ْي ِه هن ْالبركة‬


‫ط‬ ٌ ‫ ثال‬:‫ي صلهى للاُ عل ْي ِه وآ ِل ِه وسلهم قال‬
‫أ هن النه ِب ه‬
(‫ت ال ِل ْلبيْعِ )رواه ابن ماجه عن صهيب‬
ِ ‫ش ِعي ِْر ِل ْلب ْي‬
‫ْالب ِ ُِّر ِبال ه‬

"Nabi bersabda, 'Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak
secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum
dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual."
(HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).

6. Hadis Nabi riwayat Tirmizi dari 'Amr bin 'Auf:

‫وط ِه ْم ِإاله‬ ُ ‫ص ْل ًحا ح هرم حالالً أ ْو أح هل حرا ًما و ْال ُم ْس ِل ُمون على‬
ِ ‫ش ُر‬ ُ ‫ص ْل ُح جا ِئ ٌز بيْن ْال ُم ْس ِل ِمين ِإاله‬
ُّ ‫ال‬
ً
‫ش ْرطا ح هرم حالال أ ْو أح هل حرا ًما‬. ً

"Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali


perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang
haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali
syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram."

7. Hadis Nabi SAW.:

(‫ضرار )رواه ابن ماجه والدارقطني وغيرهما عن أبي سعيد الخدري‬


ِ ‫الضرر وال‬

"Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain." (HR, Ibnu
Majah, Daraquthni, dan yang lain dari Abu Sa'id al-Khudri)

8. Ijma. Diriwayatkan, sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang,


mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang
pun mengingkari mereka. Karenanya, hal itu dipandang sebagai ijma’.
(Wahbah Zuhaily, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1989, 4/838)
9. Qiyas. Transaksi mudharabah diqiyaskan kepada transaksi musaqah.
10. Kaidah fiqh:

ِ ‫ص ُل فِى ْال ُمعامال‬


‫ت اْ ِإلباحةُ إِاله أ ْن يدُ هل د ِل ْي ٌل على تحْ ِري ِْمها‬ ْ ‫األ‬.

“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada


dalil yang mengharamkannya.”
Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa,
Memperhatikan:
tanggal 29 Dzulhijjah 1420 H./4 April 2000.

MEMUTUSKAN

Menetapkan:FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUDHARABAH (QIRADH)


Ketentuan Pembiayaan:

Pertama : 1. Pembiayaan Mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh LKS


kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif.
2. Dalam pembiayaan ini LKS sebagai shahibul maal (pemilik dana)
membiayai 100 % kebutuhan suatu proyek (usaha), sedangkan pengusaha
(nasabah) bertindak sebagai mudharib atau pengelola usaha.
3. Jangka waktu usaha, tatacara pengembalian dana, dan pembagian
keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (LKS
dengan pengusaha).
4. Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha yang telah disepakati
bersama dan sesuai dengan syari'ah; dan LKS tidak ikut serta dalam
managemen perusahaan atau proyek tetapi mempunyai hak untuk
melakukan pembinaan dan pengawasan.
5. Jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tunai
dan bukan piutang.
6. LKS sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari
mudharabah kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan kesalahan yang
disengaja, lalai, atau menyalahi perjanjian.
7. Pada prinsipnya, dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan, namun
agar mudharib tidak melakukan penyimpangan, LKS dapat meminta
jaminan dari mudharib atau pihak ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan
apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang
telah disepakati bersama dalam akad.
8. Kriteria pengusaha, prosedur pembiayaan, dan mekanisme pembagian
keuntungan diatur oleh LKS dengan memperhatikan fatwa DSN.
9. Biaya operasional dibebankan kepada mudharib.
10. Dalam hal penyandang dana (LKS) tidak melakukan kewajiban atau
melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan, mudharib berhak mendapat
ganti rugi atau biaya yang telah dikeluarkan.

Rukun dan Syarat Pembiayaan:

1. Penyedia dana (shahibul maal) dan pengelola (mudharib) harus cakap


hukum.
2. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk
menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad), dengan
memperhatikan hal-hal berikut:
a. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan
tujuan kontrak (akad).
b. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak.
Kedua :
c. Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau dengan
menggunakan cara-cara komunikasi modern.
3. Modal ialah sejumlah uang dan/atau aset yang diberikan oleh penyedia dana
kepada mudharibuntuk tujuan usaha dengan syarat sebagai berikut:
a. Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya.
b. Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai. Jika modal
diberikan dalam bentuk aset, maka aset tersebut harus dinilai pada
waktu akad.
c. Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada
mudharib, baik secara bertahap maupun tidak, sesuai dengan
kesepakatan dalam akad.
4. Keuntungan mudharabahadalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari
modal. Syarat keuntungan berikut ini harus dipenuhi:
a. Harus diperuntukkan bagi kedua pihak dan tidak boleh disyaratkan
hanya untuk satu pihak.
b. Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui
dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam
bentuk prosentasi (nisbah) dari keun-tungan sesuai kesepakatan.
Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan.
c. Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari
mudharabah, dan pengelola tidak boleh menanggung kerugian
apapun kecuali diakibatkan dari kesalahan disengaja, kelalaian, atau
pelanggaran kesepakatan.
5. Kegiatan usaha oleh pengelola (mudharib), sebagai perimbangan (muqabil)
modal yang disediakan oleh penyedia dana, harus memperhatikan hal-hal
berikut:
a. Kegiatan usaha adalah hak eksklusif mudharib, tanpa campur tangan
penyedia dana, tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan
pengawasan.
b. Penyedia dana tidak boleh mempersempit tindakan pengelola
sedemikian rupa yang dapat menghalangi tercapainya tujuan
mudharabah, yaitu keuntungan.
c. Pengelola tidak boleh menyalahi hukum Syari'ah Islam dalam
tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah, dan harus
mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam aktifitas itu.

Ketentuan lain:

1. Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu.


2. Kontrak tidak boleh dikaitkan (mu'allaq) dengan sebuah kejadian di masa
depan yang belum tentu terjadi.
3. Pada dasarnya, dalam mudharabah tidak ada ganti rugi, karena pada
Ketiga : dasarnya akad ini bersifat amanah (yad al-amanah), kecuali akibat dari
kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan.
4. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan
melalui Badan Arbitrasi Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui
musyawarah.