Anda di halaman 1dari 6

63 

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PASIEN MELAKUKAN


SWAMEDIKASI OBAT MAAG DI APOTEK BUKITTINGGI

Farizal

Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia

Email : farizal_faris@yahoo.com

Abstrak

Swamedikasi adalah pemilihan dan penggunaan obat-obatan oleh pasien untuk mengobati sendiri penyakit
atau gejala penyakit yang dideritanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
faktor-faktor yang mempengaruhi pasien melakukan swamedikasi obat maag di apotek
Bukittinggi.Penelitianinidilakukansecara cross-sectional dengan purposive sampling dimana data
dikumpulkanmenggunakankuesioner. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwadari 100 responden yang
melakukanswamedikasisebanyak 67 % berdasarkanfaktorpengalamanpribadi, 10 % factor referensi dari
orang lain, 7 % faktorkemudahan proses, dan 6 % faktoriklan.

Kata kunci :swamedikasi, cross-sectional, kuesioner, obatmaag

Abstract

Self-medication is the selection and use of medicines by individuals to treat self-recognized illness or
symptoms.The purpose of this study was to determine the description of the factors that affect patients do
self-medication gastritis treatments in pharmacies inBukittinggi. The study used a cross-sectional survey
design and used purposive sampling. Data were collected using the questionnaire. The results showed that
of the 100 respondents who do self-medication, as much as 67 % by a factor of personal experience,10%
of thereference of other factor, 7% of the ease factor, and 6% of advertising factor.

Keywords: self-medication, cross-sectional, questionnaire, gastritis treatment


I. PENDAHULUAN gejala penyakit sebelum mencari pertolongan
Kesehatan merupakan suatu keadaan dari tenaga kesehatan (Anonim, 2012).
sejahtera badan, jiwa dan sosial yang Berdasarkan data Susenas (Survai Sosial
memungkinkan setiap orang hidup produktif Ekonomi Nasional) tahun 2009 diketahuisekitar
secara sosial dan ekonomis. Kesehatan menjadi 66% orang sakit di Indonesia
hal penting bagi setiap manusia karena tanpa melakukanswamedikasi. Umumnya,
kesehatan yang baik, maka setiap manusia akan swamedikasi dilakukan untuk mengatasi keluhan
sulit dalam melaksanakan aktivitasnya sehari- atau penyakit ringan yang banyak dialami
hari. Seseorang yang merasa sakit akan masyarakat seperti demam, batuk, flu, sakit
melakukan upaya demi memperoleh kepala, diare dan maag. Pelaksanaan
kesehatannya kembali. Pilihan untuk swamedikasi didasari karena tindakan
mengupayakan kesembuhan dari suatu penyakit swamedikasi harganya lebih terjangkau
antara lain, adalah dengan berobat kedokter atau dibandingkan berobat di Instansi-instansi
mengobati diri sendiri (Hanafiah et al., 2009). kesehatan. Dapat menghemat biaya, waktu dan
mudah di dapat di kios, toko obat dan Apotek-
Pengobatan sendiri atau yang disebut apotek terdekat (Tan et al., 2010).
swamedikasi merupakan upaya yang paling
banyak dilakukan masyarakat untuk mengatasi

 
64 
 

Menurut penelitian sebelumnya oleh Populasi : pasien yang melakukan


Samuel Octovianus tahun 2012, faktor yang swamedikasipada apotekWidyadanapotek Al-
berhubungan dengan penggunaan obat dalam KautsarBukittinggi
swamedikasi diantaranya adalah faktor iklan di
Sampel:pasien yang
televisi dan adanya faktor lain yaitu biaya dan
tingkat pendidikan (Tan et al., 2010). melakukanswamedikasiobatmaag yang
Swamedikasi apabila dilakukan secara benar dipilihsecaraacakpadaapotekWidyadanapotek
akan memberikan konstribusi yang besar bagi Al-Kautsar
pemerintah dalam pemeliharaan kesejahteraan Prosedur Kerja
secara nasional (Anonim, 2012). Namun bila Pengumpulan Data
tidak dilakukan secara benar, akan menimbulkan Data diperolehdandikumpulkan melalui
masalah yaitu tidak sembuhnya penyakit atau
kuesioner yang diserahkan kepada pasien yang
muncul penyakit baru karena penggunaan obat
yang kurang tepat (Tan et al., 2010). melakukan swamedikasi.

Salah satu penyakit umum yang sering Pengelompokkan Data


diobati dengan cara swamedikasi yaitu penyakit
maag (Misnadiarly, 2009). Maag merupakan Pengelompokkan data dilakukan
penyakit gangguan pencernaan akibat tingginya berdasarkan pada :
kadar asam dalam lambung yang disebabkan a. Jenis kelamin
oleh faktor psikis, obat-obat tertentu, dan b. Umur
makanan atau minuman yang merangsang c. Pekerjaan
tingginya kadar asam lambung (Parjimo et al., d. Tingkat pendidikan
2008., Azis et al., 2005).

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan Pengolahan Data


peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Data yang telah dikumpulkan diolah
pasien melakukan swamedikasi obat maag. secara manual dengan memasukkan data
Peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang kedalam tabel.
mempengaruhi pasien melakukan swamedikasi
obat maag. Hasil penelitian ini diharapkan dapat Analisa Data
menjadi masukan bagi farmasis untuk
meningkatkan pelayanan swamedikasi di Pada penelitian ini dilakukan analisa data
Apotek, sehingga swamedikasi berjalan dengan secara deskriptif tentang faktor-faktor yang
baik dan tepat. mempengaruhi pasien melakukan swamedikasi
obat maag, yang
I. METODOLOGI PENELITIAN kemudiandihubungkandengankelompok data
Waktu dan Tempat Penelitian sesuaiumur, jenis kelamin, tingkat pendidikan
Penelitian ini telah dilakukan pada bulan dan jenispekerjaan.
Desember 2014 sampai Maret 2015 di Apotek
Widya dan Al-Kautsar Bukittinggi.
Rancangan Penelitian
Merupakan suatu penelitian deskriptif
yang dilakukan secara cross-sectional dengan
teknik pengambilan data purposive sampling
menggunakan kuesioner.
Populasi dan Sampel

 
65 
 

Gambar 1. Contoh kuesioner 2. Berdasarkan jenis kelamin ternyata yang


paling banyak adalah perempuan sebanyak
62 responden dan laki-laki 38 responden.
3. Berdasarkan umur yang paling banyak
berumur 17-25 tahun 37 responden, 26-35
tahun 18 responden, 36-45 tahun 17
responden, 56-65 tahun 13 responden,
kemudian 46-55 tahun 10 responden, 12-16
tahun 3 responden dan yang paling
sedikit berumur 66-75 tahun 2 responden.
Gambar 3. Kelompokumurpasien yang
melakukanswamedikasi

4. Dari pekerjaan yang paling banyak adalah


Pelajar dan Mahasiswa 32
responden, kemudian Ibu Rumah Tangga 19
responden, selanjutnya PNS, Swasta,
III.HASIL DAN PEMBAHASAN Wiraswasta sebanyak 15 responden dan
yang paling sedikit adalah Pensiunan 4
Hasil Penelitian responden.
5. Dari tingkat pendidikan yang paling banyak
Dari penelitian ini mengenai faktor-faktor yang
adalah Perguruan tinggi 51 responden,
mempengaruhi pasien melakukan swamedikasi obat kemudian SMA 38 responden, SMP 7
maag di peroleh hasil sebagai berikut : responden dan yang paling sedikit SD 4
1. Dari 100 responden yang melakukan responden.
swamedikasi alasan yang paling banyak Gambar 4. Garfikhubunganantara factor
adalah pengalaman pribadi 67%, referensi swamedikasiterhadaptingkatpendidikan
orang lain 10%, faktor biaya 10%, faktor
kemudahan proses 7% dan faktor iklan 6%.
Gambar 2. Grafik factor swamedikasi

Pembahasan

 
66 
 

Penelitian ini dilakukan untuk melihat swamedikasi adalah pengalaman pribadi


faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi sebanyak 67%, karena pasien sudah cocok dan
pasien melakukan swamedikasi obat maag di sering menggunakan obat tersebut. Sebagian
Apotek Widya dan Al-kautsar selama ± 3 bulan. besar pasien yang melakukan swamedikasi
Jumlah sampel sebanyak 100 responden, sampel karena pengalaman pribadi adalah pasien yang
diambil dengan menggunakan teknik telah melakukan swamedikasi berulang-ulang
pengambilan data random sampling dan dengan gejala dan obat yang sama sehingga
menggunakan instrument berupa kuesioner mereka merasa tidak perlu untuk ke dokter
sebagai alat pengumpul data, kemudian di (Supardi et al, 2005).
bagikan kepada responden yang datang ke
Apotek untuk membeli obat maag. Faktor referensi orang lain sebanyak 10%.
Umumnya pasien yang baru menggunakan obat
Pada penelitian ini sampel yang diambil tersebut sehingga cenderung dengan pengalaman
adalah penyakit maag. Maag orang lain. Pasien yang melakukan swamedikasi
merupakan penyakit gangguan pencernaan karena adanya referensi orang lain, adakalanya
akibat tingginya kadar asam dalam lambung dan tidak tahu dengan kebenaran informasi tersebut.
penyakit ini paling banyak dijumpai di kalangan Mereka langsung mengikuti tanpa meninjau
masyarakat umum. Penyakit maag dapat kembali kebenaran informasi itu, hal ini dapat
menyerang seluruh lapisan masyarakat dari berdampak negatif pada pasien karena jika
semua tingkat usia maupun jenis kelamin tetapi informasi tersebut salah maka akan dapat
dari beberapa survei menunjukkan bahwa maag memperburuk keadaan pasien atau bahkan
paling sering meyerang usia produktif. Pada usia muncul penyakit baru (Anonim,
produktif masyarakat rentan terserang gejala 2014).
maag, dari tingkat kesibukan serta gaya hidup
yang kurang memperhatikan kesehatan, serta Faktor swamedikasi yang lain adalah
stres yang mudah terjadi akibat pengaruh faktor- biaya sebanyak 10%, karena biaya kedokter
faktor lingkungan yang bisa menyebabkan mahal dan bagi orang yang tinggal jauh dari
munculnya gejala maag. Adapun faktor lain pusat pelayanan kesehatan atau dokter,
penyebab terjadinya maag diantaranya yaitu swamedikasi akan banyak menghemat waktu
karena obat-obat golongan NSAID seperti dan biaya yang diperlukan untuk pergi
aspirin, makanan pedas atau minuman yang mengunjungi pusat pelayanan kesehatan ataupun
berakohol (Azis et al, 2005). seorang dokter (Atmoko, 2009). Hendaknya
aturan pakai atau peringatan yang selalu
Swamedikasi berarti mengobati segala diikutsertakan pada kemasan, ditaati dan dibaca
keluhan pada diri sendiri dengan obat-obat yang dengan teliti (Tan et al, 2010).
di beli bebas di Apotek atau di toko obat atas
inisiatif sendiri tanpa nasehat dokter. Hal ini Alasan selanjutnya karena faktor
bukan dikarenakan tindakan swamedikasi lebih kemudahan proses sebanyak 7%, yang juga
efektif dibanding pengobatan melalui diagnosa berpengaruh terhadap melakukan swamedikasi.
dokter, melainkan karena tindakan swamedikasi Karena kemudahan pasien membeli obat yang
harganya lebih terjangkau dibandingkan berobat dekat dengan Apotek.
di instansi-instansi kesehatan. Dapat menghemat Saatinipasiendankonsumenlebihmemilihkenyam
biaya, waktu dan mudah di dapat di Kios, Toko ananmembeliobat yang bisadiperolehdimanasaja,
Obat dan Apotek-apotek terdekat (Tan et al, dibandingkanharusmenunggu lama di
2010). Dari hasil penelitian yang sudah rumahsakitatauklinik (WHO, 1998).
dilakukan di Apotek Widya dan Al-kautsar,
100% responden membeli obat maag di Apotek Faktor iklan sebanyak 6% yang paling
karena penelitianya dilakukan di Apotek. sedikit melakukan swamedikasi, karena
kurangnya pasien melihat iklan ditelevisi dan
Dilihat dari faktor-faktor yang paling tidak memberikan pengaruh yang signifikan
banyak mempengaruhi pasien melakukan terhadap perilaku swamedikasi (Dimara, 2012).
Dari jenis kelamin bahwa yang lebih banyak

 
67 
 

melakukan swamedikasi adalah perempuan DAFTAR PUSTAKA


sebanyak 62%. Hasil penelitian sebelumnya juga
menunjukkan bahwa sebagian besar adalah Anief, M., 1997, Apa Yang Perlu Diketahui
perempuan sebanyak 54,84% (Hamid et al, Tentang Obat, Penerbit Gadjah Mada,
2014). University Press, Yogyakarta.

Dari umur dapat dilihat bahwa yang Anief, M., 2000, Prinsip dan Dasar Manajemen
paling banyak melakukan swamedikasi adalah Pemasaran Umum dan Farmasi, Penerbit
berumur 17–25 tahun sebanyak 37 responden, Gadjah Mada University Press,
karena dari tingkat kesibukan serta kurangnya Yogyakarta.
mempedulikan kesehatan yaitu banyak terjadi
pada Mahasiswa/Pelajar. Dari pekerjaan yang Anief, M., 2010, Penggolongan Obat
paling banyak melakukan swamedikasi adalah Berdasarkan Khasiat dan Penggunaan,
Mahasiswa dan Pelajar sebanyak 32 responden, Penerbit Gadjah Mada University Press,
karena dari tingkat kesibukan serta gaya hidup Yogyakarta.
yang kurang memperhatikan kesehatan, serta Anonim., 1992, Catatan Kuliah Farmakologi,
stres yang mudah terjadi akibat pengaruh faktor- Bagian 1, Penerbit Buku Kedokteran,
faktor lingkungan yang bisa menyebabkan EGC, Jakarta.
munculnya gejala maag dan juga akibat faktor
makanan yang merangsang lambung atau Anonim., 2001, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
minuman yang berakohol (Muttaqin et al, 2011). Jilid II, Edisi ke-3, Penerbit Balai Penerbit
FKUI, Jakarta.
Dari tingkat pendidikan yang paling
banyak melakukan swamedikasi adalah Anonim., 2004, SK Nomor
Perguruan Tinggi sebanyak 51 responden, 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang
karena mereka lebih banyak berhubungan Standar Pelayanan Kefarmasian Di
dengan media sosial dan media komunikasi. Dari Apotek.
penelitian sebelumnya juga menunjukkan hasil
yang sama bahwa sebagian besar pasien Anonim., 2012, Materi Pelatihan Peningkatan
melakukan swamedikasi memiliki latar belakang Pengetahuan dan Keterampilan Memilih
pendidikan yang cukup tinggi (Nita et al, 2008). Obat Bagi Tenaga Kesehatan, Direktorat
Bina Pelayanan Farmasi dan Alat
IV.KESIMPULAN DAN SARAN Kesehatan, Jakarta.
Kesimpulan Anonim., 2014, Menuju Swamedikasi yang
Aman, Badan Pengawas Obat dan
Dari penelitian yang telah dilakukan Makanan RI.
terhadap faktor-faktor yang melakukan
swamedikasi : Anonim., 1984, Kumpulan Peraturan
Perundang-undangan di Bidang Obat
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah
tentang Peraturan Pemerintah No. 26
pengalaman pribadi, referensi orang lain,
faktor biaya, kemudahan proses dan iklan di Tahun 1965, Volume II, Jakarta,
televisi. Departemen Kesehatan RI.
2. Faktor yang paling banyak adalah
pengalaman pribadi sebanyak 67%. Atmoko, B & Kurniawati, I., 2009, Swamedikasi
Saran. Sebuah Respon Realistik Perilaku
Konsumen di Masa Krisis.
Kepada peneliti berikutnya disarankan uji
lanjut menggunakan SPSS untuk melihat Dimara, O, S., 2012, Dampak Iklan Obat
penegasan hubungan antara faktor swamedikasi Terhadap Perilaku Komsumsi Obat di
dengan jenis kelamin, umur, pekerjaan dan Kecamatan Gajah Mungkur, Universitas
tingkat pendidikan. Diponegoro.

 
68 
 

Hamid, R.,Nooriska, G., Wijaya, N &Yuda, A., Batuk dan Pilek pada Masyarakat di Desa
2014, Profil Penggunaan Obat Antasida Ciwalen, Jawa Barat
Yang Diperoleh Secara Swamedikasi di
Apotek Surabaya, Universitas Airlangga. Syamsuni, H., 2006, Farmasetika Dasar dan
Hitungan Farmasi, Penerbit Buku
Hanafiah, J, M & Amir, A., 2009, Etika Kedokteran, EGC, Jakarta.
Kedokteran dan Hukum Kesehatan, Edisi
4, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Tan, T, H & Rahardja, K., 2010, Obat-obat
Jakarta. Sederhana untuk Gangguan Sehari-hari,
Penerbit PT Elex Media Komputindo,
Katzung, G, B., 1998, Farmakologi Dasar dan Jakarta.
Klinik, Edisi VI, Penerbit Buku
Kedoteran, EGC, Jakarta. Tjay, H, T & Rahardja, K., 2007, Obat-obat
Penting Kasiat, Penggunaan dan Efek-
Misnadiarly., 2009, Mengenal Penyakit Organ efek Sampingnya, Edisi ke-6, Penerbit PT
Cerna : Gastritis (Maag), Infeksi Elex Media Komputindo, Jakarta.
Mycobacteria pada Ulcer
Gastrointestinal, Edisi 1, Penerbit Pustaka
Populer Obor, Jakarta.

Mutschler, E, M., 1991, Dinamika Obat Buku


Ajar Farmakologi dan Toksikologi, Edisi
ke-5, Penerbit ITB, Bandung.

Muttaqqin, A & Sari, K., 2011, Gangguan


Gastrointestinal Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah, Penerbit
Salemba Medika, Jakarta.

Nita, Y., 2008, Kinerja Apotek dan Harapan


Pasien terhadap Pemberian Informasi
Obat pada Pelayanan Swamedikasi di
beberapa apotek di Surabaya, Universitas
Airlangga.

Parjimo, H & Soenanto, H., 2008, Jamur Ling


Zhi Raja Herbal Seribu Khasiat, Penerbit
PT Agromedia Pustaka, Jakarta.

Puspitasari, I., 2010, Jadi Dokter Untuk Diri


Sendiri, Penerbit Perpustakaan Nasional,
Yogyakarta.

Sarasvati, K., 2010, Tips Cerdas Mengenal


Obat, Penerbit Perpustakaan Nasional,
Kalibayem, Yogyakarta.

Sriana, A, Supardi, S & Herman, J, M., 2005,


Kembali Sehat Dengan Obat, Penerbit
Pustaka Populer Obor, Jakarta.

Supardi, S & Notosiswoyo, M., 2005,


Pengobatan Sendiri Sakit Kepala, Demam,