Anda di halaman 1dari 25

REFERAT

Kejang Demam pada Anak

Disusun oleh :
Budi Hartono
11 2017 029

Pembimbing :
dr. Sedyo Wahyudi, SpA

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 16 JULI 2018 – 22 SEPTEMBER 2018

1
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebelum memahami definisi mengenai kejang, perlu diketahui tentang seizure dan
konvulsi. Yang dimaksud dengan seizure adalah cetusan aktivitas listrik abnormal yang
terjadi secara mendadak dan bersifat sementara di antara saraf-saraf di otak yang tidak dapat
dikendalikan. Akibatnya, kerja otak menjadi terganggu. Manifestasi dari seizure bisa
bermacam-macam, dapat berupa penurunan kesadaran, gerakan tonik (menjadi kaku) atau
klonik (kelojotan), konvulsi dan fenomena psikologis lainnya. Kumpulan gejala berulang dari
seizure yang terjadi dengan sendirinya tanpa dicetuskan oleh hal apapun disebut sebagai
epilepsi (ayan). Sedangkan konvulsi adalah gerakan mendadak dan serentak otot-otot yang
tidak bisa dikendalikan, biasanya bersifat menyeluruh. Hal inilah yang lebih sering dikenal
orang sebagai kejang. Jadi kejang hanyalah salah satu manifestasi dari seizure.
Kasus kejang merupakan 1 % dari kasus kegawatdaruratan. Kejang terjadi bila fungsi
otak tidak normal, mengakibatkan perubahan dalam gerakan, perilaku atau kesadaran.
Berbagai jenis kejang dapat terjadi di berbagai belahan otak dan dapat lokal (hanya
mempengaruhi bagian tubuh) atau umum (mempengaruhi seluruh tubuh). Kejang dapat
terjadi karena berbagai alasan, terutama pada anak-anak. Kejang pada bayi baru lahir bisa
sangat berbeda dibandingkan dengan kejang pada anak-anak, anak-anak sekolah dan remaja.
Kejang, terutama pada anak yang belum pernah mengalami kejang sebelumnya, bisa
menakutkan orang tua atau penyedia layanan.
Kejang merupakan gangguan neurologis yang lazim pada kelompok umur pediatri dan
terjadi dengan frekuensi 4-6 kasus/1000 anak. Kejang ini merupakan penyebab yang paling
lazim untuk rujukan pada praktek neurologi anak. Adanya gangguan kejang tidak merupakan
diagnosis tetapi gejala suatu gangguan sistem saraf sentral(SSS) yang mendasari dan
memerlukan pengamatan menyeluruh dan rencana manajemen.

Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui dan memahami lebih dalam tentang
kejang demam, mengetahui manifestasi klinis dari kejang demam, mengetahui cara
mendiagnosis dan jenis-jenis kejang demam, serta mengetahui penatalaksanan dari kejang
demam.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Kejang Demam
Menurut National Institute of Health (NIH), kejang demam adalah suatu kejadian
pada bayi atau anak, yang biasanya terjadi pada usia 3 bulan sampai dengan 5 tahun,
berhubungan dengan demam, namun tanpa bukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab
tertentu dari kejang. Definisi ini mengeksklusi kejang dengan demam pada anak yang pernah
mengalami kejang tanpa demam.1
Menurut International League Against Epilepsy (ILAE), kejang demam adalah
bangkitan kejang yang berhubungan dengan demam, tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat
atau ketidakseimbangan elektrolit akut, pada anak berusia lebih dari 1 bulan, yang tidak
pernah mengalami kejang tanpa demam sebelumnya.1
Menurut Konsensus Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia
(UKK Neurologi IDAI ), kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal di atas 38°C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.
Definisi ini mengeksklusi anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam. Kejang disertai
demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan juga tidak termasuk dalam kejang demam.2
Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang
berulang tanpa demam. Definisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan penyakit saraf
seperti meningitis, ensefalitis, atau ensefalopati. Kejang pada keadaan ini mempunyai
prognosis berbeda dengan kejang demam karena keadaan yang mendasarinya mengenai
sistem susunan saraf pusat.2

Epidemiologi Kejang Demam


Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan - 5 tahun.2 Kejang demam
sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang demam, sedangkan 20% lainnya
merupakan kejang demam kompleks.5 Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam,
sedangkan kejang berulang terjadi pada 16% di antara anak yang mengalami kejang demam. 2
Kejang demam lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan dengan
perbandingan 1,4:1.

3
Etiologi Kejang Demam
Etiologi kejang demam hingga kini belum diketahui. Demamnya sering disebabkan
infeksi saluran pernapasan atas, otitis media, gastroenteritis, pneumonia, bronkopneumonia,
bronkhitis, tonsilitis, dan infeksi saluran kemih.3
Kejang jauh lebih sering terjadi dalam 2 tahun pertama dibanding masa kehidupan
lainnya. Cedera intrakranial saat lahir termasuk pengaruh asfiksia dan perdarahan serta cacat
kongenital pada otak, merupakan penyebab tersering pada bayi kecil. Pada masa bayi lanjut
dan awal masa kanak-kanak, penyebab tersering adalah infeksi akut. Penyebab yang lebih
jarang pada bayi adalah tetani, epilepsi idiopatik, hipoglikemia, tumor otak, asfiksia,
perdarahan intrakranial spontan serta trauma postnatal.
Demam yang disebabkan oleh imunisasi juga dapat memprovokasi kejang demam.
Anak yang mengalami kejang setelah imunisasi selalu terjadi waktu anak sedang demam.
Kejang setelah imunisasi terutama didapatkan setelah imunisasi DTP (pertusis) dan morbili
(campak).4
Penyebab utama didasarkan atas bagian tubuh yang terlibat peradangan. Ada
penderita yang mengalami kelainan pada lebih dari satu bagian tubuhnya, misalnya tonsilo-
faringitis dan otitis media akut (lihat tabel).

Penyebab demam Jumlah penderita


Tonsilitis dan/atau faringitis 100
Otitis media akut (radang liang telinga tengah) 91
Enteritis/gastroenteritis (radang saluran cerna) 22
Enteritis/gastroenteritis disertai dehidrasi 44
Bronkitis (radang saiuran nafas) 17
Bronkopeneumonia (radang paru dan saluran nafas) 38
Morbili (campak) 12
Varisela (cacar air) 1
Dengue (demam berdarah) 1
Tidak diketahui 66
Tabel 1. Penyebab demam pada 297 anak penderita kejang demam

Lahat dkk, 1984 mengemukakan bahwa tingginya angka kejadian kejang demam pada
Shigellosis dan Salmonellosis mungkin berkaitan dengan efek toksik akibat racun yang
dihasilkan kuman bersangkutan.4
Patofisiologi Kejang Demam
Sel dan organ otak memerlukan suatu energi yang didapat dari metabolism untuk
mempertahankan hidupnya. Bahan baku terpenting untuk metabolism otak adalah
glukosa.sumber energy otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi

4
CO2 dan air. Sifat proses ini adalah oksidasi dimana oksigen disediakan dengan perantara
fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler.5
Sel memiliki suatu membrane dengan dua permukaan yaitu permukaan dalam dan
permukaan luar oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan
elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi kalium dalam sel neuron
tinggi dan konsentrasi natrium rendah, sedangkan diluar sel neuron terdapat keadaan
sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan luar sel, maka terdapat
perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk menjaga
keseimbangan potensial membrane ini diperlukan energy dan bahan enzim Na-K-ATPase
yang terdapat pada permukaan sel.5,6
Keseimbangan potensial membrane ini dapat diubah oleh adanya:
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi, atau
aliran listrik dari sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membrane sendiri karena penyakit atau
keturunan.
Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh,
dibandingkan orang dewasa yang hanya 15%. Dan pada kondisi demam kenaikan suhu 1°C
akan mengakibatkan kenaikan metabolism basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan
meningkat 20%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan
keseimbangan dari membrane sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion
Kalium maupun ion Natrium dari membrane tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan
listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel
maupun ke membrane sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter
dan terjadilah kejang.5
Tiap anak memiliki ambang kejang yang berbeda, ini tergantung dari tinggi rendahnya
ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tubuh tertentu. Pada anak
dengan ambang kejang yang rendah, dapat terjadi kejang pada suhu 38°C, sedangkan pada
anak dengan ambang kejang yang tinggi kejang baru terjadi pada suhu 40°C atau lebih. Dari
kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi
pada anak dengan ambang kejang yang rendah; sehingga pada penanggulangannya perlu
diperhatikan pada suhu berapa penderita kejang.

5
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak
meninggalkan gejala sisa. Namun pada kejang demam yang berlangsung lama (>15 menit)
biasanya terjadi apneu (henti napas), meningkatnya kebutuhan oksigen dan energy untuk
kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkpnia, asidosis laktat disebabkan
oleh metabolism anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan
suhu tubuh semakin meningkat disebabkan meningkatnya aktivitas otot dan selanjutnya
menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian diatas merupakan faktor
penyebab sehingga terjadi kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. Faktor
terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga
meninggikan permeabilitas kapiler lalu timbul edema otak sehingga terjadi kerusakan sel
neuron otak.5
Kerusakan di daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang
berlangsung lama; dapat menjadi “matang” dikemudian hari sehingga terjadi serangan

6
epilepsi yang spontan. Jadi, jelaslah bahwa kejang demam yang berlangsung lama dapat
menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsi.5

Awal (< 15 menit) Lanjut (15-30 menit) Berkepanjangan (>1jam)


Meningkatnya kecepatan Menurunnya tekanan Hipotensi disertai berkurangnya
denyut jantung darah aliran darah serebrum sehingga
Meningkatnya tekanan Menurunnya gula terjadi hipotensi serebrum
darah darah
Meningkatnya kadar Disritmia Gangguan sawar darah otak
glukosa yang menyebabkan edema
Meningkatnya suhu pusat Edema paru non serebrum
tubuh jantung
Meningkatnya sel darah
putih

Tabel 2. Efek fisiologis kejang menurut lama terjadinya kejang

Keadaan Kejang Menyerupai kejang


1. Onset Detik/menit Mungkin gradual
2. Lama serangan Sering terganggu Beberapa menit
3. Kesadaran Sering Jarang terganggu
4. Sianosis Sinkron Jarang
5. Gerakan ekstremitas Selalu Asinkron
6. Stereotipik serangan Sering Jarang
7. Lidah tergigit atau luka lain Selalu Sangat jarang
8. Gerakan abnormal bola mata Gerakan tetap ada Jarang
9. Fleksi pasif ekstremitas Jarang Gerakan hilang
10. Dapat diprovokasi Jarang Hampir selalu
11. Tahanan terhadap gerakan pasif Hampir selalu Selalu
12. Bingung pasca serangan Selalu Tidak pernah
13. Iktal EEG abnormal Selalu Hampir tidak pernah
Jarang
Tabel 3. Perbedaan Kejang dan Menyerupai Kejang

7
Gambar 1. Klasifikasi kejang pada anak

Klasifikasi Kejang Demam2,7


Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, membagi kejang demam menjadi dua:
a. Kejang demam sederhana (harus memenuhi semua kriteria berikut)
 Berlangsung singkat
 Umumnya serangan berhenti sendiri dalam waktu < 15 menit
 Bangkitan kejang tonik, tonik-klonik tanpa gerakan fokal
 Tidak berulang dalam waktu 24 jam
b. Kejang demam kompleks (hanya dengan salah satu kriteria berikut)
 Kejang berlangsung lama, lebih dari 15 menit
 Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului dengan kejang parsial
 Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam, anak sadar kembali di antara
bangkitan kejang.
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang
lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan anak tidak sadar. Kejang fokal adalah kejang
parsial satu sisi, atau kejang umum yang didahului kejang parsial. Kejang berulang
adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, diantara 2 bangkitan kejang anak sadar.
Kejang berulang terjadi pada 16 % diantara anak yang mengalami kejang demam.3
Menurut Livingstone, membagi kejang demam menjadi dua :
1. Kejang demam sederhana

8
• Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun
• Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit
• Kejang bersifat umum, frekuensi kejang bangkitan dalam 1 th tidak > 4 kali
• Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
• Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
 Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak
 menunjukkan kelainan
2. Epilepsi yang diprovokasi demam
• Kejang lama dan bersifat lokal
• Umur lebih dari 6 tahun
• Frekuensi serangan lebih dari 4 kali / tahun
• EEG setelah tidak demam abnormal

Menurut sub bagian syaraf anak FK-UI membagi tiga jenis kejang demam, yaitu :
1. Kejang demam kompleks
• Umur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun
• Kejang berlangsung lebih dari 15 menit
• Kejang bersifat fokal/multipel
• Didapatkan kelainan neurologis
• EEG abnormal
• Frekuensi kejang lebih dari 3 kali / tahun
• Temperatur kurang dari 39℃
2. Kejang demam sederhana
• Kejadiannya antara umur 6 bulan sampai dengan 5 tahun
• Serangan kejang kurang dari 15 menit atau singkat
• Kejang bersifat umum (tonik/klonik)
• Tidak didapatkan kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang
• Frekuensi kejang kurang dari 3 kali / tahun
• Temperatur lebih dari 39℃
3. Kejang demam berulang
• Kejang demam timbul pada lebih dari satu episode demam
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara lain:
 Usia < 15 bulan saat kejang demam pertama

9
 Riwayat kejang demam dalam keluarga
 Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif normal
 Riwayat demam yang sering
 Kejang pertama adalah kejang demam kompleks

Manifestasi Klinis
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan
kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf
pusat, misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkitis, furunkulosis, dan lain-lain. Serangan
kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan
sifat bangkitan kejang dapat berbentuk tonik-klonik bilateral, tonik, klonik, fokal atau
akinetik. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik ke atas dengan
disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan semakin berulang tanpa didahului kekakuan atau
hanya sentakan atau kekakuan fokal.

Secara umum, gejala klinis kejang demam adalah sebagai berikut6,8:

 Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba)

 Kejang tonik-klonik atau grand mal

 Penurunan kesadaran yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi
pada anak-anak yang mengalami kejang demam)

 Postur tonik

 Gerakan klonik

 Lidah atau pipi tergigit

 Gigi atau rahang terkatup rapat

 Inkontinensia

 Gangguan pernafasan

 Apneu

 Cyanosis

Setelah mengalami kejang biasanya:

 Akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit atau tertidur selama 1 jam atau lebih.

10
 Terjadi amnesia dan sakit kepala.

 Mengantuk

 Linglung

Jika kejang tunggal berlangsung kurang dari 5 menit, maka kemungkinan terjadinya
cedera otak atau kejang menahun adalah kecil.

Gambar 2. Kejang tonik klonik

Diagnosis
Langkah diagnostik untuk kejang demam adalah5,9:

Anamnesis

a. Adanya kejang, sifat kejang, bentuk kejang, kesadaran selama dan setelah kejang, durasi
kejang, suhu sebelum/saat kejang, frekuensi, interval antara 2 serangan kejang, penyebab
demam di luar susunan saraf pusat.

b. Riwayat demam sebelumnya (sejak kapan, timbul mendadak atau perlahan, menetap atau
naik turun).

c. Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai demam atau
epilepsi).

d. Riwayat gangguan neurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi).

e. Riwayat trauma kepala.

f. Riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga.

11
g. Menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (ISPA, OMA, dan lain-lain).

h. Singkirkan penyebab kejang lainnya.

Pemeriksaan Fisik dan Neurologis

Pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah:

a. Tanda vital terutama suhu tubuh

b. Manifestasi kejang yang terjadi

c. Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau molase kepala berlebihan

d. Pemeriksaan untuk menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam

e. Tanda peningkatan tekanan intrakranial

f. Tanda infeksi di luar SSP

Pemeriksaan neurologis antara lain:

a. Tingkat kesadaran

b. Tanda rangsang meningeal

c. Tanda refleks patologis

Umumnya pada kejang demam tidak dijumpai adanya kelainan neurologis, termasuk
tidak ada kelumpuhan nervi kranialis.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab kejang


demam, di antaranya:

a. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan darah tepi lengkap, gula darah, elektrolit, kalsium serum, urinalisis,
biakan darah, urin atau feses.Pemeriksaan laboratorium tidak dianjurkan dan dikerjakan
untuk mengevaluasi sumber infeksi. Pasien dengan keadaan diare, muntah dan gangguan
keseimbangan cairan dapat diduga terdapat gangguan metabolisme akut, sehingga
pemeriksaan elektrolit diperlukan. Pemeriksaan labratorium lain perlu dilakukan untuk
mencari penyebab timbulnya demam.

b. Pungsi lumbal

12
Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal yang dilakukan untuk
menyingkirkan meningitis, terutama pada pasien kejang demam pertama. Pada bayi-bayi
kecil seringkali gejala meningitis tidak jelas, sehingga pungsi lumbal harus dilakukan
pada bayi berumur kurang dari 6 bulan dan dianjurkan untuk yang berumur kurang dari
18 bulan. Berdasarkan penelitian, cairan serebrospinal yang abnormal umumnya
diperoleh pada anak dengan kejang demam yang:

 Memiliki tanda peradangan selaput otak (contoh: kaku kuduk)


 Mengalami komplex partial seizure
 Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya (sudah sakit dalam 48 jam
sebelumnya)
 Kejang saat tiba di IGD
 Keadaan post ictal (pasca kejang) yang berkelanjutan. Mengantuk hingga sekitar 1
jam setelah kejang demam adalah normal.
 Kejang pertama setelah usia 3 tahun.

Pada anak dengan usia lebih dari 18 bulan, pungsi lumbal dilakukan jika tampak
tanda peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi
sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang telah menerima terapi
antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi, karena itu pada kasus seperti itu
lumbal pungsi sangat dianjurkan untuk dilakukan.1

Pada bayi kecil, klinis meningitis tidak jelas, maka tindakan pungsi lumbal
dikerjakan dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Bayi < 12 bulan : diharuskan


2. Bayi antara 12 – 18 bulan : diannjurkan.
3. Bayi > 18 bulan : tidak rutin, kecuali bila ada tanda-tanda meningitis.

Bila secara klinis yakin bukan meningitis, maka tidak perlu dilakukan pungsi lumbal.

Indikasi Pungsi Lumbal:

 Jika ada kecurigaan klinis meningitis

 Kejang demam pertama

 Pasien telah mendapat antibiotik

 Adanya paresis atau paralisis

13
c. Electroencephalography (EEG)

Electroencephalography dipertimbangkan pada kejang demam yang tidak khas.


Misalnya kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam
fokal. EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk meneliti ketidaknormalan otak.
Pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada kejang demam yang baru terjadi
sekali tanpa adanya defisit neurologis.1,10

Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa EEG yang dilakukan saat kejang
demam atau segera setelahnya atau sebulan setelahnya dapat memprediksi akan
timbulnya kejang tanpa demam di masa yang akan datang. Walaupun dapat diperoleh
gambaran gelombang yang abnormal setalah kejang demam, gambaran tersebut tidak
bersifat prediktif terhadap risiko berulangnya kejang demam atau risiko epilepsi.
Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas.
Misalnya kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun atau kejang demam
fokal.2

d. Pencitraan

Foto X-Ray kepala dan pencitraan seperti Computed Tomography Scan (CT-scan)
atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan hanya
atas indikasi seperti :

 Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)


 Kemungkinan lesi struktural otak (mikrocephal, spastik)
 Paresis nervus VI
 Papil edema
 Riwayat atau tanda klinis trauma

Diagnosis kejang demam ditegakkan berdasarkan kriteria Livingston yang telah


dimodifikasi, yang merupakan pedoman yang dipakai oleh Sub Bagian Saraf Anak IKA
FKUI-RSCM Jakarta, yaitu:

1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan – 6 tahun


2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal

14
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat setidaknya 1 minggu setelah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan.
7. Frekuensi bangkitan kejang dalam satu tahun tidak melebihi 4 kali

Diagnosis Banding

Diagnosis banding kejang demam antara lain penyakit infeksi pada sistem susunan
saraf pusat seperti meningitis, ensefalitis dan abses otak.5

Klinis/Lab Ensefalitis Meningitis Meningitis Meningitis Kejang Demam


Herpes Bacterial/ Tuberkulosa Virus
Simpleks Purulenta
Awitan Akut Akut Kronik Akut Akut
Demam < 7 hari < 7 hari >7 hari < 7 hari < 7 hari
Tipe kejang Fokal/umum Umum Umum Umum Umum/fokal
Singkat/lama Singkat Singkat Singkat Lama>15
menit
Kesadaran Sopor-koma Apatis-somnolen Somnolen-sopor Sadar-apatis Somnolen
Pemulihan
kesadaran Lama Cepat Lama Cepat Cepat
Tanda
rangsang - ++/- ++/- +/- -
meningeal
Tekanan Sangat Sangat Normal Normal
intrakranial meningkat Meningkat meningkat
+++
Paresis +++/- +/- - -
Pungsi Jernih Keruh/opalesen Jernih/xanto Jernih Jernih
lumbal Normal/limfo Segmenter/limf Limfo/segmen Normal Normal

Etiologi Virus HS Bakteri M.Tuberculosis Virus Di luar SSP


Anti TBC Penyakit dasar

Terapi Antivirus Antibiotik Simtomatik


Tabel 4. Diagnosis banding infeksi susunan saraf pusat.

Penatalaksanaan Kejang Demam

Dalam Penanggulangan Kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan yaitu :
1. Memberantas kejang secepat mungkin
2. Pengobatan penunjang
3. Memberikan pengobatan rumatan

15
4. Mencari dan mengobati penyebab
1. Memberantas kejang secepat mungkin4-5
Tatalaksana Penghentian kejang akut dilaksanakan sebagai berikut :
 Dirumah/prehospital
Penanganan kejang dirumah dapat dilakukan oleh orangtua dengan pemberian
diazepam per rektal dengan dosis 0,3-0,5mg/kgBB atau secara sederhana bila berat
badan < 12kg : 5mg sedangkan berat badan >12kg : 10 mg. Pemberian dirumah
maksimum 2 kali dengan interval 5 menit. Bila kejang masih berlanjut bawalah pasien
ke klinik / rumah sakit terdekat.
 Dirumah sakit
Saat tiba diklinik / rumah sakit, bila belum terpasang cairan intravena,dapat diberikan
diazepam per rektal ulangan 1 kali sebelum mencari akses vena. Sebelum dipasang
cairan intravena sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah tepi, elektrolit dan gula
darah sesuai indikasi. Bila terpasang cairan intravena, berikasn fenitoin IV dengan
dosis 20mg/kgBB dilarutkan dalam NaCl 0,9% diperikan perlahan-lahan dengan
kecepatan pemberian 50mg/menit. Bila kejang belum teratasi,dapat diberikan
tambahan fenitoin IV 10mg/kg. Bila kejang teratasi,lanjutkan pemberian fenitoin IV
setelah 12 jam kemudian dengan rumatan 5-7mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis. Bila
kejang belum teratasi,berikan fenobarbital IV dengan dosis maksimum 15-20mg/kg
dengan kecepatan pemberian 100mg/menit. Awasi dan atasi kelainan metabolik yang
ada. Jika kejang berhenti,lanjutkan dengan pemberian fenobarbital IV rumatan 4-5
mg/kg/hari dalam 2 dosis 12 jam kemudian.
 Perawatan intensif-rumah sakit
Bila kejang belum berhenti,dilakukan intubasi dan perawatan diruang intensif. Dapat
diberikan salah satu dibawah ini :
o Midazolam 0,2mg/kg diberikan perlahan-lahan,diikuti infus midazolam 0,001-
0,002 mg/kg/menit selama 12-24 jam
o Propofol 1mg/kg selama 5 menit,dilanjutkan dengan 1-5mg/kg/jam diturunkan
setelah 12-24 jam
o Pentobarbital 5-15mg/kg dalam 1 jam, dilanjutkan dengan 0,5-5mg/kg/jam

16
ALGORITME PENANGANAN KEJANG AKUT & STATUS
KONVULSI 6,7,8
KEJANG

Diazepam 5-10mg/rektal 0-10 mnt


prehospital Maks 2x jarak 5 menit
m

Airway, Diazepam0,25-0,5mg/kg/iv/io (Kecepatan


Hospital Breathing, O2 2mg/menit),max dosis 20mg 10-20
circulation
menit
monitor
atau
Note: jika DIAZ recktal 1x Midazolam o,2mg/kg/iv bolus Tanda vital,
Prehospital boleh rektal 1x EKG,gula
atau
darah,elektrolit
Lorazepam 0,05-0,1 serum
mgkkg/iv(rate<2mg/menit) (Na,K,Ca,Mg,cl),
Kejang (-) 5-7 analisa gas
mg/kg/hari 12 jam darah,koreksi
kemudian
kelainan
Fenitoin 20mg/kg/iv (20menit/50ml
NS),maks 1000mg 20-30menit
Note : aditional 5-
10mg/kg/iv

Kejang (-) 4-5 Phenobarbitone 20mg/kg/iv


mg/kg/hari 12 jam (rate >5-10min; max 1g) 30-60 menit
kemudian

ICU
refrakter

Midazolam 0,2mg/kg/iv bolus Pentotal-tiopental 5-8 Propofol 1-


dilanjut infus 0,02- mg/kg/iv 5mg/kg/infusion
0,4mg/kg/jam

Cara Pemberian obat antikonvulsan pada tatalaksana kejang:


Diazepam
 Dosis maksimum pemberian diazepam rektal 10 mg, dapat diberikan 2 kali dengan
interval 5-10 menit.

17
 Sediaan IV tidak perlu diencerkan,maksimum sekali pemberian 10 mg dengan
kecepatan makasimum 2mg/menit,dapat diberikan 2-3 kali dengan interval 5 menit.
Fenitoin
 Dosis inisial maksimum adalah 1000mg (30mg/kgbb)
 Sediaan IV diencerkan dengan NaCl 0,9% 10mg/1cc NaCl 0,9%
 Kecepatan pemberian IV : 1 mg/kg/menit, maksimum 50mg/menit
 Jangan encerkan dengan cairan yang mengandung dextrose,karena akan menggumpal
 Sebagian besar kejang berhenti dalam waktu 15-20 menit setelah pemberian
 Dosis rumatan : 12-24 jam setelah dosis inisial
 Efek samping : aritmia, hipotensi, kolaps kardiovaskular pada pemberian IV yang
terlalu cepat.
Fenobarbital
 Sudah ada sediaan IV,sediaan IM tidak boleh diberikan IV
 Dosis inisial maksimum 600mg (20mg/kgbb)
 Kecepatan pemberian 1mg/kg/menit,maksimum 100mg/menit
 Dosis rumat : 12-24 jam setelah dosis inisial
 Efek samping : hipotensi dan depresi napas, terutama jika diberikan setelah obat
golongan benzodiazepin

2. Pengobatan Penunjang
Pengobatan penunjang dapat dilakukan dengan memonitor jalan nafas, pernafasan,
sirkulasi dan memberikan pengobatan yang sesuai. Sebaiknya semua pakaian ketat
dibuka, posisi kepala dimiringkan untuk mencegah aspirasi lambung. Penting sekali
mengusahakan jalan nafas yang bebas agar oksigenasi terjamin, kalau perlu dilakukan
intubasi atau trakeostomi. Pengisapan lender dilakukan secara teratur dan pengobatan
ditambah dengan pemberian oksigen. Cairan intavena sebaiknya diberikan dan dimonitor
sekiranya terdapat kelainan metabolik atau elektrolit. Fungsi vital seperti kesadaran, suhu,
tekanan darah, pernafasan dan fungsi jantung diawasi secara ketat.
Pada demam, pembuluh darah besar akan mengalami vasodilatasi, manakala
pembuluh darah perifer akan mengalami vasokontrisksi. Kompres es dan alkohol tidak
lagi digunakan karena pembuluh darah perifer bisa mengalami vasokontriksi yang
berlebihan sehingga menyebabkan proses penguapan panas dari tubuh pasien menjadi
lebih terganggu. Kompres hangat juga tidak digunakan karena walaupun bisa
menyebabkan vasodilatasi pada pembuluh darah perifer, tetapi sepanjang waktu anak
18
dikompres, anak menjadi tidak selesa karena dirasakan tubuh menjadi semakin panas,
anak menjadi semakin rewel dan gelisah. Menurut penelitian, apabila suhu penderita
tinggi (hiperpireksi), diberikan kompres air biasa. Dengan ini, proses penguapan bisa
terjadi dan suhu tubuh akan menurun perlahan-lahan.
Bila penderita dalam keadaan kejang obat pilihan utama adalah diazepam yang
diberikan secara per rektal, disamping cara pemberian yang mudah, sederhana dan efektif
telah dibuktikan keampuhannya. Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua atau tenaga lain
yang mengetahui dosisnya. Dosis tergantung dari berat badan, yaitu berat badan kurang
dari 12 kg diberikan 5 mg dan berat badan lebih dari 12 kg rata-rata pemakaiannya 0,4-
0,6 mg/KgBB. Kemasan terdiri atas 5 mg dan 10 mg dalam rectiol. Bila kejang tidak
berhenti dengan dosis pertama, dapat diberikan lagi setelah 15 menit dengan dosis yang
sama.
Untuk mencegah terjadinya udem otak diberikan kortikosteroid yaitu dengan dosis
20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Golongan glukokortikoid seperti
deksametason diberikan 0,5-1 ampul setiap 6 jam sampai keadaan membaik.
3. Pengobatan Rumatan
Pengobatan rumatan diberikan jika kejang demam menunjukan ciri sebagai berikut (salah
satu) :
 Kejang lama > 15 menit
 Kelainan neurologis yang nyata sebelum/sesudah kejang : hemiparesis, peresis
Todd,palsi serebral, retradasi mental,hidrosefalus.
 Kejang fokal
Atau pengobatan rumatan dipertimbangkan jika :
 Kejang berulang 2 kali/lebih dalam 24 jam
 Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
 Kejang demam >/= 4 kali per tahun.
Pengobatan ini dibagi atas dua bagian, yaitu:
 Profilaksis intermitten
Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari, penderita kejang demam
diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipiretika yang harus diberikan kepada
anak selama episode demam. Antipiretik yang diberikan adalah paracetamol dengan
dosis 10- 15mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari atau ibuprofen dengan dosis 5-
10mg/kg/kali, 3-4 kali sehari. Antikonvulsan yang ampuh dan banyak dipergunakan
untuk mencegah terulangnya kejang demam ialah diazepam, baik diberikan secara
19
rectal dengan dosis 5 mg pada anak dengan berat di bawah 10kg dan 10 mg pada anak
dengan berat di atas 10kg, maupun oral dengan dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam.
Profilaksis intermitten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak untuk
menderita kejang demam sedehana sangat kecil yaitu sampai sekitar umur 4 tahun.
Fenobarbital, karbamazepin dan fenition pada saat demam tidak berguna untuk
mencegah kejang demam.
 Profilaksis jangka panjang
Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis teurapetik
yang stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang
di kemudian hari. Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang ialah:
1. Fenobarbital
Dosis 4-5 mg/kgBB/hari. Efek samping dari pemakaian fenobarbital jangka
panjang ialah perubahan sifat anak menjadi hiperaktif, perubahan siklus tidur dan
kadang-kadang gangguan kognitif atau fungsi luhur.
2. Sodium valproat / asam valproat
Dosisnya ialah 20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Namun, obat ini
harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan fenobarbital dan gejala toksik
berupa rasa mual, kerusakan hepar, pankreatitis.
3. Fenitoin
Diberikan pada anak yang sebelumnya sudah menunjukkan gangguan sifat
berupa hiperaktif sebagai pengganti fenobarbital. Hasilnya tidak atau kurang
memuaskan. Pemberian antikonvulsan pada profilaksis jangka panjang ini
dilanjutkan sekurang-kurangnya 3 tahun seperti mengobati epilepsi.
Menghentikan pemberian antikonvulsi kelak harus perlahan-lahan dengan jalan
mengurangi dosis selama 3 atau 6 bulan.
Obat rumatan yang diberikan selama perawatan adalah fenitoin dan
fenobarbital. Jika pada tatalaksana kejang,kejang berhenti dengan
fenitoin,lanjutkan rumatan dengan dosis 5-7 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.
Jika pada tatalaksana kejang, kejang berhenti dengan feobarbital, lanjutkan
rumatan dengan dosis 4-5mg/kgBB/hari dalam 2 dosis.
Jika pada tatalaksana kejang, kejang berhenti dengan diazepam, tergantung
dengan etiologi yang dapat dikoreksi secara cepat (hipoglikemia, kelainan
elektrolit, hipoksia) mungkin tidak memerlukan terapi rumatan.

20
Jika penyebab infeksi SSP (ensefalitis dan meningitis), perdarahan
intrakranial,mungkin diperlukan terapi rumat selama perawatan. Dapat diberikan
fenobarbital dengan dosis awal 8-10mg/kgbb/hari dibagi dalam 2 dosis selama 2
hari, dilanjutkan dengan dosis 4-5mg/kgBB/hari sampai resiko berulangnya
kejang tidak ada. Jika etiologinya epilepsi, lanjutkan obat antiepilepsi dengan
menaikan dosis. Lanjutan pengobatan ini tergantung daripada kondisi pasien.

4. Mencari dan mengobati penyebab


Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun kompleks biasanya infeksi
traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotik yang tepat
dan kuat perlu untuk mengobati infeksi tersebut. Secara akademis pada anak dengan
kejang demam yang datang untuk pertama kali sebaiknya dikerjakan pemeriksaan pungsi
lumbal. Hal ini perlu untuk menyingkirkan faktor infeksi di dalam otak misalnya
meningitis. Apabila menghadapi penderita dengan kejang lama, pemeriksaan yang
intensif perlu dilakukan, yaitu pemeriksaan pungsi lumbal, darah lengkap, misalnya gula
darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium, nitrogen, dan faal hati.

Indikasi Rawat Inap:

Pasien kejang demam dirawat di rumah sakit pada keadaan berikut:

a. Kejang demam kompleks

b. Hiperpireksia

c. Usia di bawah 6 bulan

d. Kejang demam pertama

e. Dijumpai kelainan neurologis

Edukasi Pada Orang Tua


Kejang selalu merupakan peristiwa menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang sebagian
besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi
dengan cara yang diantaranya :
 Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik
 Memberitahukan cara penanganan kejang
 Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali

21
 Pemberian obat untu mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya efek
samping obat

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang


 Tetap tenang dan tidak panik
 Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher
 Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan
atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan
memasukkan sesuatu kedalam mulut.
 Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang
 Tetap bersama pasien selama kejang
 Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti
 Bawa kedokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.

Prognosis Kejang Demam


Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis

Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.


Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya
normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis pada sebagian
kecil kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang
berulang baik umum atau fokal.
Kemungkinan mengalami kematian

Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan.


Kemungkinan berulangnya kejang demam

Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor resiko berulangnya
kejang demam adalah:
 Riwayat kejang demam dalam keluarga
 Usia kurang dari 12 bulan
 Temperatur yang rendah saat kejang
 Cepatnya kejang setelah demam

22
Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80%,
sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya
10-15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama.
Faktor resiko terjadinya epilepsi

Faktor resiko lain adalah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Faktor resiko menjadi
epilepsi adalah :
 Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama
 Kejang demam kompleks
 Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung

Masing-masing faktor resiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4-6%,


kombinasi dari faktor resiko tersebut meningkatkan kemungkianan epilepsi mejadi 10-49%
(level II-2). Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemebrian obat rumat
pada kejang demam.

23
BAB III
PENUTUP

Kejang demam (menurut UKK Neurologi IDAI) adalah bangkitan kejang yang terjadi
pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38°C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium. Definisi ini mengeksklusi anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam.
Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan juga tidak termasuk dalam
kejang demam. Berdasarkan Konsensus UKK Neurologi IDAI, kejang demam
diklasifikasikan menjadi kejang demam sederhana (simple febrile seizure) dan kejang demam
kompleks (complex febrile seizure).
Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan - 5 tahun. Kejang demam
sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang demam, sedangkan 20% lainnya
merupakan kejang demam kompleks. Kejang demam lebih sering terjadi pada anak laki-laki
daripada perempuan dengan perbandingan 1,4:1.
Kejang demam umumnya disebabkan oleh infeksi dan vaksinasi yang mempresipitasi
terjadinya demam. Faktor genetik juga berkontribusi terhadap terjadinya kejang demam.
Kejang demam terjadi akibat lepasnya muatan listrik secara berlebihan sebagai akibat
perubahan membran potensial. Perubahan ini diakibatkan oleh meningkatnya metabolisme
basal dan kebutuhan oksigen karena demam.
Diagnosis kejang demam ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Tatalaksana kejang yaitu memberantas kejang secepat mungkin,
pengobatan penunjang,memberikan pengobatan rumatan dan mencari dan mengobati
penyebab. Prognosis kejang demam umumnya baik. Kecacatan atau kelainan neurologis dan
kematian tidak pernah dilaporkan. Kemungkinan berulangnya kejang demam adalah sebesar
10-15%.Kemungkinan terjadinya epilepsi di kemudian hari sebesar 5%.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Kundu G, Rabin F, Nandi E, Sheikh N, Akhter S. Etiology and Risk Factors of Febrile
Seizure – An Update. Bangladesh Journal Child Health 2010; 34(3): 103-112.
2. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Indonesia 2006. Konsensus
Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI); 2006.
3. Staf Pengajar IKA FKUI. 2005. Kejang Demam. Dalam : Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta :
Bagian IKA FKUI.
4. Soetomenggolo, S. Kejang Demam. Dalam Buku Neurologi UI. Jakarta: Penerbit FKUI.
2005.
5. Lumbantobing,S.M. Kejang Demam.Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007.
6. Haslam Robert H.A Sistem Saraf, Dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol.3, Edisi 15.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta 2006.
7. Tumbelaka,Alan R.,Trihono, Partini P.,Kurniati,Nia.,Putro Widodo,Dwi. Penanganan
Demam Pada Anak Secara Profesional: Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu
Kesehatan Anak XLVII.Cetakan pertama,FKUI-RSCM.Jakara,2005
8. Asril Aminulah, Prof Bambang Madiyono. Hot Topik In Pediateric II : Kejang Pada
Anak. Cetakan ke2. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2007.
9. Behrman, Richard E., Robert M. Kliegman., Hal B. Jenson. Nelson Ilmu Kesehatan Anak
: Kejang Demam. 18 edition. EGC, Jakarta 2007.
10. Mansjoer, Arif., Suprohaita, Wahyu Ika Wardhani, Wiwiek Setyowulan. Kapita Selekta
Kedokteran : kejang Demam. Edisi ke3 Jilid 2. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta 2006.

25