Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan secara baik. Morfologi adalah cabang
ilmu biologi yang membahas atau mempelajari tentang tata benuk luar atau struktur dari
suatu tumbuhan.
Makalah dengan Akar pada tumbuhan disusun dengan maksud untuk membantu
dalam proses belajar para mahasiswa/i.
Kami sangat menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnan,
karena itu harapan kami agar makalah ini dapat memenuhi tujuan dan bermanfaat bagi
pembaca. Saran dan kritik sangat kami harapan untuk menyempurnakan makalah ini.
Akhir kata, kami mengucapkan kepada teman-teman yang ikut membantu dalam
penyusunan makalah ini.

Kupang, 31 Maret 2017

penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... 1

I. PENDAHULUAN .................................................................................... 3
1. LATAR BELAKANG.................................................................... 3
2. TUJUAN........................................................................................ 3
3. MANFAAT.................................................................................... 3
II. PEMBAHASAN..................................................................................... 4
A. PENGERTIAN AKAR................................................................. 4
B. FUNGSI AKAR............................................................................ 4
C. BAGIAN BAGIAN AKAR.......................................................... 4
D. SISTEM PERAKARAN............................................................... 13
E. METAMORFOSIS AKAR........................................................... 19
F. ALAT ALAT TAMBAHAN........................................................ 17
III. PENUTUP............................................................................................. 22
A. KESIMPULAN................................................................................ 22

DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 23

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Akar tumbuhan merupakan struktur tumbuhan yang terdapat di dalam tanah.


Akar adalah tempat masuknya mineral atau zat-zat hara. Akar merupakan kelanjutan
sumbu tumbuhan. Tumbuhan dikotil dan monokotil ada perbedaan sistem perakaran.
Pada akar tumbuhan monokotil terususun sistem akar serabut.
Panjang akar dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti porositas tanah,
tersedianya air dan mineral, dan kelembapan tanah. Morfologi akar terdiri dari rambut
akar, batang akar, ujung akar, dan tudung akar. Rambut akar merupakan perluasan
permukaan dari sel-sel epidermis akar yang berguna untuk memperluas daerah
penyerapan. Rambut akar hanyu tumbuh di dekat ujung akar dan pada umumnya relatif
pendek. Ujung akar tersusun dari jaringan meristem yang sel-selnya berdinding tipis dan
aktif membelah diri. Fungsi tudung akar adalah untuk melindungi ujung akar terhadap
kerusakan mekanis.
Air dan mineral diserap oleh ujung akar dan rambut-rambut akar (secara osmosis)
masuk ke dalam tubuh tumbuhan. Osmosis adalah perpindahan zat dari larutan yang
berkonsentrasi rendah (kurang pekat) ke larutan yang berkonsentrasi tinggi (lebih pekat)
melalui selaput semipermeabel. Selaput semipermeabel adalah selaput pemisah yang
hanya dapat dilalui oleh air dan zat tertentu. Tetapi selain secara osmosis, penyerapan air
dan mineral dapat dilakukan dengan transpor aktif, yaitu, sistem transpor ion dan
molekul melalui membran sel dengan menggunakan energi.
Akar juga digunakan sebagai alat pernapasan yang disebut akar napas. Akar
napas terdapat pada tumbuhan yang ada di hutan bakau, yang bertmbuh tegak pada
pangkal batangnya. Pada akar napas ada banyak celah agar udara dapat masuk. Tetapi,
selain memiliki akar napas, ada juga akar gantung. Akar gantung tumbuh dari bagian
batang di atas tanah ke arah tanah. Fungsi akar gantung ketika masih menggantung
adalah untuk menyerap udara.

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian akar.
2. Untuk mengetahui sifat-sifat akar.
3. Untuk mengetahui bagian-bagian akar.
4. Untuk mengetahui sistem perakaran pada akar.
5. Untuk mengetahui bentuk-bentuk akar tunggang dilihat dari percabangannya.
6. Untuk mengetahui sifat dan tugas khusus akar dilihat dari cara-cara hidupnya.

3
C. MANFAAT

1. Agar dapat membantu mahasiswa/i mengetahui pengertian akar.


2. Agar dapat membantu mahasiswa/i dalam mengetahui sifat sifat akar
3. Agar dapat membantu mahasiswa/i untuk menentukan bagian-bagian akar.
4. Agar dapat membantu mahasiswa/i untuk menentukan sistem perakaran pada
suatu tumbuhan.
5. Agar dapat membantu mahasiswa/i untuk mengetahui bentuk-bentuk akar
tunggang dilihat dari percabangannya.
6. Agar dapat membantu mahasiswa/i untuk mengetahui sifat dan tugas khusus akar
dilihat dari cara-cara hidupnya.

4
BAB II

PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN AKAR

Akar adalah bagian pokok yang nomer tiga di samping batang dan daun bagi
tumbuhan yang tubuhnya telah berkembang menjadi sempurna, akar biasanya memiliki sifat-
sifat sebagai berikut :

a. Merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalma tanah dengan arah
tumbuhan ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air (hidrotrop), meninggalkan udara
dan cahaya.
b. Tidak berbuku-buku, jadi juga tidak beruas dan tidak mendukung daun-daun atau sisik-
sisik maupun bagian-bagian lainya.
c. Warna tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan.
d. Tumbuh terus pada ujungnya, tetapi umunya pertumbuhannya masih kalah jika
dibanding dg batang.
e. Bentuknya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus tanah.

2. FUNGSI AKAR

Akar bagi tumbuhan mempunyai fungsi anatara lain :

 Memperkuat berdirinya tumbuhan


 Untuk menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut di dalam air.
 Mengangkut air dan zat-zat makanan tadi ke tempat-tempat pada tumbuh tumbuhan
yang memerlukan.
 Kadang-kadang sebagai temapat untuk menimbun makanan.
 Sebagai alat perkembang biayakan vegetatif.

3. BAGIAN BAGIAN AKAR

Pada akar umumnya dapat dibedakan pada bagian-bagian berikut :

1) Leher akar atau pangakal akar (collum), yaitu bagian akar yang bersambung
dengan pangkal batang.
2) Ujung akar (apex radicis) bagian akar yang paling muda terdiri dari jaringan-
jaringan yang aktif membelah.
3) Batang akar (corpus radicis) bagain akar yang terdapat antara leher akar dan
ujungnya.
4) Cabang-cabang akar (radix leteralis) yaitu bagian-bagian akaar yang tak langsung
bersamabung dengan pangkal batang, tetapi keluar dari akar pokok, dan masing-
masing dapat megadakan percabangan lagi.
5) Serabut akar (fibrilia radicalis) cabang-cabang akar yang halus dan berbentuk
serabut.

5
6) Rambut-rambut akar arau bulu-bulu akar (pilus radicalis), yaitu bagian akar yang
sesungguhnya hanyalah merupakan penonjolan sel-sel kulit luar akar yang panjang.
7) Tundung akar (calyptra) yaitu bagian akar yang letaknya paling ujung terdiri atas
jaringan yang berguna untuk melindungi ujung akar yang masih muda dan lemah.

Gambar 1 : Bagian bagian akar


Sumber : www.semakinIndonesia.com

Dari bagian-bagian akar itu perlu dicatat, bahwa rambut-rambut akar merupakan bagian
yang sifatnya sementara, artinya umurnya pendek dan hanya terletak pada ujung bagian akar
saja. Jika akar bertambah panjang rambut-rambut akar akan yang palin jauh akan mati, tetapi
dekat dengan ujung akar akan diganti dengan yang baru.
Tudung akar sebagai pelindung ujung akr dalam menembus tanah merupakan bagian atas
yang pinggirnya selalu aus dan dari dalam bagian yang aus diganti pula yang dengan yang
baru.

4. SISTEM PERAKARAN

Sistem perakaran pada tumbuhan di bagi atas dua yaitu :

a. Sistem akar tunggang, jika lembaga tumbuhan terus menjadi akar pokok yang
bercaban-cabang mejadi akar-akar yang lebih kecil. Akar pokok yang berasal dari akar
lembaga di sebut akar tunggang (radix primaria). Susunan akar demikian ini bisa
terdapat pada tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae) dan tumbuhan biji telanjang
(Gymnospermae).
b. Sistem akar serabut, yaitu jika akar lembaga dalam perkembangan selajutnya mati
atau kemudian di susun oleh akar yang kurnag lebih ukuranya pun sama. Akar-akar ini
karena bukan berasal dari calon akar yang asli dari akar liar bentuknya serabut oleh
karena itu dinamakan akar serabut (radix adventicia).
Baik pada sistem akar tunggang maupun pada sistem akar serabut masing-masing akar
dapat bercabang-cabang untuk memperluas di bidang penyerapan dan untuk
memperkuat berdirnya batang tumbuhan. Selanjutny aperlu di ingat bahawa akaar
tunggang hnya kita jumoai kalau tumbuhan ditanam dari biji. Walaupun dari golongan
belah (Dicotyledoneae), suatu tumbuhan tak akan mempunya akar tunggang jika
tidak di tanam dari bijim, seperti misalnya berbagai jenis tanaman budidaya banyak
yang di cangkok ataupun di stek.

6
Gambar 2 : Akar tunggang dan akar serabut
Sumber : www.semakinIndonesia.com

Melihat percabangan dan bentuknya akar tunggang dapat di bedakan dalam :

a. Akar tunggang tidak bercabang atau seidikit bercabang dan jika ada cabang-
cabangnya biasanya terdiri atas akar-akar yang halus atau akar serabut. Akar tunggang
yang bersifat demikian seringkali berhubungan dengan fungsinya sebagai tempat
penimbunan makanan lalu mempunyai bentuk istimewa. Misalnya :

1. Berbentuk sebagai tombak (fusiformis) pangkalnya besar merunciing ke ujung


dengan serabut-serabut akar sebagai percabnagan biasanya menjadi tempat
penimbuanan makanan. Misalnya akar lobak (Raphanus sativus L.) wortel
(Daucus carota l.) berdasarkan bentuk ini dinamakan pula akar tombak atau akar
pena.

Gambar 3 :bentuk akar tombak pada lobak (Raphanus sativus L)


Sumber : www.semakinIndonesia.com

2. Berbentuk gangsing (napiformis) pangkal akarnya besar mebulat akar-akar


serabut sebagai cabang hnya pada ujung yang sempit meruncing seperti terdapat
pada bengkuang (Parchyrrhius erosus Urb.) dan biet (Beta vulgaris L.)

7
Gambar 4 : bentuk akar gangsing pada bengkuang (Parchyrrhius erosus Urb.)
Sumber : www.semakinIndonesia.com

3. Berbentuk benang (filiformis) jika akar tunggang kecil panjang seperti akar
serabut saja dan juga sedikit sekali bercabang, misalnya pada kratok (Phaseolus
lunastus L.).

Gambar 5 : bentuk akar benang pada kratok (Phaseolus lunastus L.).


Sumber :www.semakinIndonesia.com

Mengenal akar-akar pada sistem akar serabut dapat di kemukakan hal-hal seperti
berikut :
 Akar yang menyusun akar serabut kecil-kecil berbnetuk benang, misalnya pada
tanaman padi (Oryza sativa L.)

Gambar 6 : padi (Oryza sativa L.)


Sumber : www.semakinIndonesia.com

8
 Akar-akar serabut kaku keras dan cukup besar seperti tambnag mislnya pada
pohon kelapa (Cocos nucifera L.)

Gambar 7 : kelapa (Cocos nucifera L.)


Sumber : www.semakinIndonesia.com

 Akar serabut besar-besar, hampir sebesar lengan masing-masing tidak banyak


meperhatikan percabangan misalnya pandan (Pandanus tectorius.).

Gambar 8 : pandan (Pandanus tectorius.).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

b. Akar tunggang yang bercabang (ramosus). Akar tunggang ini berbentuk kerucut
panjang, tumbuh lurus ke bawah, bercabang-cabang banyak dan cabang-cabangnya
bercabang lagi, sehinga dapat memberi kekuatan yang lebih besar kepada batang dan
juga memberi kekuatan yang besar kepada batang dan juga daerah perakaran menjadi
luas, sehinga dapat menyerap air dan zat-zat makanan lebih banyak.

Berhubung dengan cara-cara hidup yang harus di sesuaikan dengan keadaan-


keadaan tertentu pada berbagai jenis tumbuhan kita dapati akar-akar yang mempunyai
sifat dan tugas khusus misalnya :

a) Akar udara atau akar gantung (radix aereus). Akar ini keluar dari bagian-bagian
di dalam tanah menggantung di udara dan tumbuh ke arah tanah. Bergantung pada
tingginya tempat permukaan keluarnya akar gantung dapat keluar sampai 30 m.
Selama masih menggantung akar ini hanya dapat menolong menyerap air dan gas

9
dari udara.misalnya pada Angrek KalaJengking (Arachnis aeris). tetapi setelah
mencapai tanah bagian yang masuk tanah lalu mempunyai fungsi seperti akar
(menyerap air dan zat makanan dari tanah). Bagian yang ada di atas tanah seringkali
berubah menjadi batang. Misalnya pada Beringin (Ficus benjamina L.).

Gambar 9 : Angrek KalaJengking (Arachnis aeris)


Sumber : www.semakinIndonesia.com

Gambar 10 : Beringin (Ficus benjamina L.).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

b) Akar penggerek atau akar penghisap (haustrium) yaitu akar-akar yang terdapat
pada tumbuhan yang hidup sebagai parasit dan berguna untuk menyerap air maupun
zat makanan dari inangnya seperti kita dapati pada pohon benalu (Loranthus), yang
berupa akar penggerek yang menembus kulit batang inangnya sampai ke bagian
kayu. Dapat pula hanya merupakan akar-akar yang pendek yang melekat pada tuan
rumahnya, tetapi juga menghisap air dan zat-zat makanan. Misalnya pada Endak-
endak Cacing (Cuscutha australia R.Br.).

Gambar 11 : benalu (Loranthus)


Sumber : www.semakinIndonesia.com

10
Gambar 12 : Endak-endak Cacing (Cuscutha australia R.Br.).
Sumber : www.semakinIndonesia.com

c) Akar pelekat (radix adligans), akar-aar yang keluar dari buku-buku batang
tumbuhan memanjat dan berguan unntuk menempel pada penunjangnya saja.
Misalnya pada lada (Piper ningrum L.) sirih (Piper betle L.)

Gambar 13 : sirih (Piper betle L.)


Simber : www.semakinIndonesia.com

d) Akar pembelit (cirrhus radicalis) juga memanjat tetapi dengan memeluk


penunjangnya. Misalnya pada panili (Vanila palnifolia Andr.)

Gambar 15 : panili (Vanila palnifolia Andr.)


Sumber : www.semakinIndonesia.com

11
e) Akar nafas (pneumatophora), yaitu cabang-cabang akar yang tumbuh tegak lurus
ke atas hingga muncuk dari permukaan tanah atau tempat tumbuhnya tumbuhan.
Akar ini mempunyai banyak liang-liang atau celah-celah (pneumathoda) untuk jalan
masuknya udara yang diperlukan dalam pernapasan karena tumbuhan ini biasanya
hidup di tempat-tempat yang di dalam tanah sangat kekurangan oksigen. Misalnya
pada Bogem (Sonneratia).

Gambar 16 : Bogem (Sonneratia).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

f) Akar tunjang, yaitu akar-akar yang tumbuh dari bagian bawah batang ke segala
arah dan seakan-akan menunjang batang ini jangan sampai rebah, oleh sebab itu akar
ini sering di sebut sebagai akar egrang. Msalnya akar pada pohon bakau (Rhizophora
conjugata L,)

Gambar 17 : pohon bakau (Rhizophora conjugata L,)


Sumber : www.oceanwideimages.com

g) Akar lutut, yaitu akar tumbuhan atau lebih tepat jika di katakan bagian akar yang
tumbuh ke atas kemudian membentuk gambaran seperti lutut yang di bengkokan.
Seperti halnya akar napas, akar ini terdapat pada tumbuhan yang tumbuh di tepi
pantai yang rendah berlumpur, dan berguna untuk bernapas. Misalnya pada pohon
Tanjang (Bruguiera parvifolia W. et A.).

12
Gambar 18 : pohon Tanjang (Bruguiera parvifolia W. et A.).
Sumber : www.semakinIndonesia.com

h) Akar banir, yaitu akar berbentuk seperti papan-papan yang di letakan miring untuk
memperoleh berdirinya batang pohon yang tingi besar. Misalnya pada sukun
(Artocarpus communis G Forst.).

Gambar 19 : akar banir pada sukun (Artocarpus communis G Forst.).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

5. METAMORFOSIS AKAR

Bagian pokok dari tumbuhan itu hanya ada tiga pokok saja, yaitu akar, batang dan
daun. Sedangtkan bagian-bagian lain dari itu hanyalah penjelma salah satu di antara ketiga
bagian poko itu, boleh jadi bagian tumbuhan yang kita beri nama tersendiri sesungguhnya
hanyalah calon atau bakal bagian pokok tersebut atau dengan kata lain “In satatu nascendi”
Di antara berbagai macam bagain tumbuhan yang sering kita jumpai, yang tidak jelas berupa
batang, akar atau daun ialah :

1. Rimpang (Rhizoma)
Rimpang sesungguhnya adalah batang beserta daun yang terdapat didalam tanah,
tumbuh bercabang-cabang dan tumbuh mendatar. dan dari ujujgnya dapat tumbuh tunas
yang muncul di atas tanah dan dapat merupakan suatu tumbuhan baru. Rimpang di
samping merupakan alat perkembangbiakan juga merupakan tempat penimbunan zat-
zat makanan cadangan. Terdapat pada Tasbih (Canna edulis Ker).

13
Gambar 19 : Tasbih (Canna edulis Ker).
Sumber : www.semakinIndonesia.com

2. Umbi (tuber)
Umbi pun biasanya merupakan suatu badan yang membengkak, bangun bulat
seperti kerucut atau tidak beraturan, merupakan tempat penimbunan makanan, dapat
pula merupakan penjelmaan batang atau akar, oleh sebab itu umbi di bedakan menjadi
dua macam yaitu :

 Umbi batang (tuber coulogenium) kalau umbi ini merupakan penjelmaan dari
batang.
 Umbi akar (tuber rhizogenum), merupakan metamorfosis akar.

Umbi batang umumnya tidak memiliki sisa-sisa daun atau penjelmaannya, oleh karena itu
seringkali permukaannya tampak licin, buku-buku batang dan ruasnya tidak terlihat.

Umbi akar adalah umbi yang merupakan penjelmaan akar, dan akrena akar tidak pernah
mempunyai daun, umbi yang berasal dari dasarnya selalu masuk dalam umbi telanjang.
Melihat akar yang mana yang mengalami metamorfosis menjadi umbi itu, maka umbi akar
dapat merupakan penjelmaan :

 Akar tunggang, misalnya umbi akar pada lobak (Raphanus sativus L.) bangkuang
(Pachyrrhizus erosus Urb.).

Gambar 20 : bangkuang (Pachyrrhizus erosus Urb.).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

14
 Akar serabut, misalanya umbi akar pada dahlia (Dahlia cariabilis Desf.)

Gambar 21 : dahlia (Dahlia cariabilis Desf.)


Sumber : www.semakinIndonesia.com

Umbi akar tak tumbuh mungkin dijadikan alat perkembangan seperti umbi batang. Kalau dari
umbi dahlia dapat tumbuh tumbuhan baru itu hanya mungkinn jika umbi ini disertai sebagian
pangkal batang dan dari pangkal batang inilah tumbuh tunas yang menjadi tumbuhan baru.

3. Alat pembelit atau sulur (cirrhus)


alat-alat pemebelit adalah bagaian-bagian tumbuhan yang biasanya menyerupai
spriral dan berguna untuk membelit benda-benda yang di sentuhnya, yaitu untuk
berpegangan pada waktu tumbuhan ini berusaha mendapatkan penunjang untuk dapat
naik ke atas. Maka alat itu hanya kita jumpai pada tumbuhan memanjat saja.
Alat-alat ini pada hakekatnya juga merupakan penjelmaan salah satu diantara ke
tiga bagain pokok tumbuhan. Biasanya merupakan metamorfosis dahan, daun atau
merupakn metamorfosis akar, alat pembelit pada akar adalah sebagi berikut :

 Akar pembelit, yaitu akar yang berubah menajadi suatu alat pembelit seperti
misalnya pada panili (Vanila plannifollia Andr).

Gambar 22 : panili (Vanila plannifollia Andr).


Sumber : www.semakinindonesia.com

15
4. Piala (ascidium) dan gelembung (utriculus)
Beberapa jenis tumbuhan memperlihatkan alat-alat yang bentuknya dapat
menyerupai piala atau gelembung. Alat-alat tersebut biasanya meruapak metamorfosis
daun atau sebagian daun. Contoh ascidium adalah kantong semar (Nepenthes
ampullaria Jack), sedangkan contoh gelembung adalah (Ultricularia fiexuosa Vahl).

Gambar 23 : kantong semar (Nepenthes ampullaria Jack)


Sumber : www.semakinIndonesia.com

Gambar 24 : rumput gelembung (Ultricularia flexuosa Vahl).


Sumber :www.semakinIndonesia.com

5. Duri (spina)
Disamping bermacam-macam ata tersebut di atas yang umumnya merupak
metamorfosis bagain-bagian pokok tumbuhan, masih harus kita sebut duri-duri yang
sering kita jumpai pada berbagai jenis tumbuhan. Berdasarkan aslanya duri dapat
dibedakan menajadi :

 Duri dahan (spina caulogenum), jika meruapakn penjelmaan cabang atau dahan,
misalanya bogenvil (Bougainvillea spectabilis Willd) bagian tengah terdiri atas
kayu yang bersambung dengan kayu bagian batang.

Gambar 24 : bogenvil (Bougainvillea spectabilis Willd)


Sumber : www.semakinIndonesia.com
 Duri daun (spina phyllogenum) yaituduri yang berasal dari metamorfosis dari
daun seperti terdapat pada kaktus (Cactus opuntia) bahwasanya duri bersala dari
daun, dapat terlihat dari adanya kuncup dibagain ketiaknya.
16
Gambar 25 : kaktus (Cactus opuntia)
Sumber : www.semakinIndonesia.com

 Duri akar (spina rhizogenum) yaitu akar-akar yang menjadi kersa dan
mempunnya ujung-ujung yang tajam, misalnya pada gembili (Dioscorea aculeta.
L.).

Gambar 26 : gembili (Dioscorea aculeta. L.).


Sumber : www.semakinIndoesia.com

 Duri daun penumpu (Spina stipulogenum) yaitu duri yang berasal dari daun
penumpu, misalnya pada susuru (Euphorbia trigona Haw).

Gambar 27 : susuru (Euphorbia trigona Haw).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

6. Alat-alat tambahan (organa accessoria)


Permuakaan tubuh tumbuhan atau bagian-bagianya tidak selalu licin, tetapi
permukaan tadi dapat memperlihatkan benjolan-benjolan atau penonjolan yang sangat
beraneka ragam. Alat-alat ini bukanlah penjelmaan dari bagian-bagian pokok dari
tumbuhan, oleh sebab itu dinamakn sebagai alat-alat pembantu.
Bergatung pada susunan dalamnya, alat-alat pembantu ini dapat di bedakan
dalam tiga golongan yaitu :

17
 Papilia (papiliae) yaitu penonjolan-penonjolan pada permuakaan suatu alat yang
hanya merupakan pada dinding sel yang sebelah luar. Papilia ini menyebabkan alat
alat yang memilikinya jika diraba akan terasa halus seperti beludru, biasanya
terdapat pada daun mahkota bunga, misalnya pada bunga telang (Clitoria ternatea
L).

Gambar 28 : bunga telang (Clitoria ternatea L).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

 Rambut-rambut atau trikoma (trichoma) yaitu alat-alat tambahan yang berupa


rambut-rambut atau sisik-sisik yang pada pembentukanya hanya terdapat pada kulit
bagian luar saja yang ikut mengambil bagian, oleh sebab itu alat ini biasanya
sangat mudah di tanggalkan. Trikoma pada tumbuhan dapat berupa :

- Sisik bulu (ramentum), ialah bulu bulu yang pipih yang menutupi batang
atau bagian bagian tumbuhan yang lain, terdapat pada pakis haji (Chycas
rumphii Miq).

Gambar 29 : pakis haji (Chycas rumphii Miq).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

- Sisik (lepis) bagian-bagian pipih yang menempel rapat pada alat-alat


tumbuhan. Misalnya pada sisi bawah daun durian (Durio zibethinus Murr)

Gambar 30 : durian (Durio zibethinus Murr)


Sumber : www.semakinIndonesia.com

18
- Bulu-bulu atau rambut halus (pilus), misalnya pada daun waru (Hibiscus
tiliaceus L,).

Gambar 31 : daun waru (Hibiscus tiliaceus L,).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

- Rambut kelenjar (Pilus capitatus), misalnya pada tembakau (Nicotiana


tabacum L).

Gambar 32 : tembakau (Nicotiana tabacum L).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

CATATAN :
Beraneka ragamnya bentuk dan susunan rambut-rambut, maka dalam
melukiskan bagian yang berambut tidak lagi disebutkan macamnya rambut,
melainkan sifatnya, terutama bagaimana rasanya dapa tangan jika bagian yang
berambut tadi diraba. Untuk kepentingan ini, dapat dipakai istilah-istilah:

 Berambut (pilosus), jika sifat rambutnya halus dan agak jarang satu sama lain.
 Berambut Pendak (pilosellus).
 Berambut Bintang (stellato-pilosus), jika sifat rambutnya seperti bintang.
 Berambut Halus (pubescens), jika sifat rambutnya sepeti bulu-bulu pada
burung yang masih muda.
 Berambut Halus Pendek (puberulus).
 Berambut Halus Panjang (villosus), jika diraba seperti vilt (laken).
 Berambut Kasar (hirtus/hirsutus).
 Berambut Kasar Pendek (hirtellus).
 Berambut Panjang (lanatus/lanuginosus), jika sifat rambutnya keriting seperti
bulu domba.
 Berambut Vilt (tomentosus).

19
 Berambut Vilt Pendek (tomentellus).
 Berambut Sutera (sericeus).
 Berambut Sikat (hispidus), jika sifat rambutnya kaku seperti sikat.
 Berambut Beludru (velutinus), jika sifat rambutnya sangat rapat, pendek, dan
halus.
 Berambut Kaku dan Rapat (strigosus).
 Berambut Keras dan Tajam seperti Duri (setosus).
 Berambut Keras, Pendek dan Tajam seperti Duri (setulosus).

 Emergensia (emergentia) yaitu alat-alat tambahan yang tidak hanya tersusun atas
bagian-bagian kulit luar akan tetapi bagain yang lebih dakam dari pada kulit luar
tersebut juga ikut mengambil bagian dalam pembentukanya. Yang digolongkan
dalam emergensia yaitu :

- Rambut rambut gatal atau perangsang (Stimulus), yatu rambut rambut yang
ujungnya mudah patah, dan jika sudah patah ujungnya menjadi alat
semacam jarum yang tajam, mudah menusuk kulit, dan melalui liang pada
ujungnya tadi ke dalam kulit dimasukkan zat-zat memberikan rasa gatal
dan panas pada kulit.. Misalnya pada : daun kemaduh (Laporteans
stimulans Miq).

Gambar 33 : daun kemaduh (Laporteans stimulans Miq).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

- Duri tempel (aculeus), duri yang mudah di tanggalkan dari alat yang
mendukungnya, misalnya pada mawar (Rosa sp).

Gambar 34 : mawar (Rosa sp).


Sumber : www.semakinIndonesia.com

20
Alat-alat tambahan bagi tumbuhyan dapat mempunyai fungsi-fungsi yang berbeda, antara
lain :
 Sebagai pelindung terhadap gangguan binatang, yaitu yang berupa duri, rambut-
rambut gatal.
 Sebagai pelindung terhdap kekeringan, penguapan air yang terlalu besar, misalnya
pada rambut-rambut kaktus.
 Sebagai alat pembantu penyerapan air dan zat-zat makanan yaitu bulu-bulu akar.
 Sebagai alat untuk pemancaran (dispersal) biji, misalnya rambut-rambut pada biji
kapas (Gossypium sp.)
 Sebagai alat untuk pernafasan, yaitu lentisel

21
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

1. Akar adalah bagian pokok yang nomor tiga (di samping batang dan daun) bagi
tumbuhan yang tumbuhnya telah merupakan kormus.
2. Fungsi-fungsi akar yakni: Memperkuat berdirinya tumbuhan, untuk menyerap air dan
zat-zat makanan yang terlarut di dalam air tadi dari dalam tanah, mengangkut air dan
zat-zat makanan tadi ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukan, dan
kadang-kadang sebagai tempat untuk penimbunan makanan
3. Bagian-bagian akar terdiri dari: leher akar atau pangkal akar (collum), ujung akar (apex
radicis), batang akar (corpus radicis), cabang-cabang akar (radix lateralis), serabut akar
(fibrilla radicalis), rambut-rambut akar atau bulu-bulu akar (pilus radicalis), dan
tudung akar (calyptra).
4. Macam-macam sistem perakaran ada 2 yakni: sistem akar tunggang dan sistem akar
serabut.
5. Dilihat dari percabangan dan bentuknya, akar dibedakan menjadi 2 yakni: Akar
tunggang yang tidak bercabang atau sedikit bercabang dan akar tunggang yang
bercabang (ramosus).
6. Dilihat dari cara-cara hidup, akar-akar mempunyai tugas khusus yakni: akar udara atau
akar gantung (radix aereus), akar penggerak atau akar penghisap (haustorium), akar
pelekat (radix adligans), akar pembelit (cirrhus radicalis), akar nafas (pneumatophora),
akar tunjang, akar lutut, dan akar banir.

22
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil A dan Reece, Jane B. 2003. Biologi Edisi Kedua Jilid Delapan. Erlangga.
Jakarta.
Rosanti, Dewi. 2013. Morfologi Tumbuhan. Erlangga. Jakarta.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2009. Morfologi Tumbuhan. UGM PRESS. Yogyakarta.
Ai, Nio Song dan Torey, Patricia. 2013. Karakter morfologi akar sebagai indikator
kekurangan air pada tanaman (Root morphological characters as water-deficit indicators in
plants). Jurnal Bioslogos. Vol. 3. No. 1
Tjitrosoepomo, G. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gadjah mada University Press. Jogjakarta.

23