Anda di halaman 1dari 5

EKOLOGI LAHAN KERING Pengertian Lahan Kering

Lahan kering = lahan dengan keterbatasan ketersediaan air


atau mengalami musim kering sangat panjang (8–9 bulan)

Dr. Sipri Radho Toly, PGD. MSc. Lahan kering = hamparan lahan yang tidak pernah
tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar
waktu dalam setahun (soil Survey Staffs, 1998)
Jurusan Biologi Lahan kering = hamparan lahan yang didaya gunakan tanpa
FST Undana 2018 penggenangan air, baik secara permanen maupun musiman dengan
sumber air berupa hujan atau air irigasi (Suwardji, 2003).

Tipologi lahan kering ini dapat dijumpai dari dataran rendah (0-700
m dpl) hingga dataran tinggi (> 700m dpl).

dpl = Di atas Permukaan Laut = Sea Level

Pengertian Lahan Kering


Terminologi lahan kering memiliki beberapa pengertian:
• Lahan kering di dunia internasional ada yang menyebut dengan istilah: Dryland,
Upland, dan Unirigated land.

• Menurut World Atlas desertification, dryland = zona iklim dengan rasio P/ETp
antara 0,05 -0,65 yang berada pada daerah arid, semi-arid dan dry sub-humid
(Dregne, 2002).

Literatur lain menyatakan bahwa:


• Dryland = daerah dengan presipitasi (curha hujan) tahunan kurang dari 250 mm.

• Upland = keadaan lahan yang berkaitan dengan pengatusan alamiah lancar


(bukan rawa, dataran banjir, lahan dengan air tanah dangkal, dan lahan basah
alamiah lain);

• Unirigated land = lahan pertanaman yang diusahakan tanpa penggenangan atau


juga lahan yang tidak memiliki fasilitas irigasi.

Pengertian “lahan kering” di Indonesia umumnya sama dengan pengertian Upland


dan Unirigated land (Notohadiprawiro, 1989)

Pertanian Lahan Kering


• Pertanian Lahan kering = pertanian dengan menggunakan air secara terbatas dan biasanya
hanya mengharapkan dari curah hujan yang terbatas.
• Jenis penggunaan lahan yang termasuk dalam kelompok lahan kering mencakup: lahan
tadah hujan, tegalan, lading, kebun campuran, perkebunan, hutan, semak, padang rumput,
dan padang alang-alang.

Ciri Pertanian lahan kering:


- Makin menurunnya produktifitas lahan (leveling off),
- Tingginya variabilitas kesuburan tanah dan macam spesies tanaman yang ditanam,
- Memudarnya modal sosial-ekonomi dan budaya,
- Rendah atau tidak optimalnya adopsi teknologi maju,
- Terbatasnya ketersediaan modal dan infrastruktur yang tidak sebaik di daerah sawah.

• Menurut Ford Foundation (1989), terdapat 3 masalahan utama dalam usah pertani lahan
kering, yaitu:
- Erosi (terutama bila lahan miring dan tidak tertutup
vegetasi secara rapat),
- Kesuburan tanah (umumnya rendah sebagai akibat dari proses
erosi yang berlanjut),
- Ketersediaan air (sangat terbatas karenat ergantung dari curah
hujan).
Ciri-ciri Usaha Tani Lahan Kering
• Tanaman yang ditanam: jagung (tanaman utama),
padi ladang,ubi-ubian dan kacang-kacangan
• Mixed cropping sebagai strategi antisipasi gagal
panen;
• Teknologi berasaskan low input; budidaya yang
tradisional (manual);
• Penguasaan lahan yang terbatas karena kendala
tenaga kerja;
• Cenderung menerapkan ladang berpindah yang
berotasi sebagai upaya pemulihan lahan secara
tradisonal

Ciri-ciri Usaha Tani Lahan Kering


Komplikasi sifat alamiah kondisi biofisik wilayah dan
keadaan usaha tani yang telah disebutkan di atas, maka
profil usaha tani lahan kering dapat ditemui sebagai
berikut:
• Menanam pada lahan-lahan miring yang rentan
terhadap kualitas tanah;
• Persiapan lahan yang didahului dengan pembakaran
lahan
• Menanam tanpa olah tanah;
• Sering mengalami gagal panen akibat kekeringan;
• Musim tanam hanya sekali setahun (antara bulan
Desembar dan Maret)
• Menggunakan varietas lokal secara turun-temurun.

STS = Sistem Tiga Strata


Pengelolaan Lahan Kering dengan STS Pengelolaan Lahan Kering dengan STS
• Sistem pertanian terpadu merupakan kegiatan yang Stratum pertama:
memadukan pertanian dan peternakan • Terdiri dari tanaman rumput potongan dan legume herba/menjalar (sentro,
kalopo, arachis, dll) yang disediakan bagi ternak pada musim penghujan.

• Sistem pertanian “tiga strata” umumnya diterapkan pada Stratum kedua:


pertanian lahan kering dengan curah hujan 1500 mm per • Terdiri dari tanaman legume perdu/semak (alfalfa, stylosanthes,
tahun dengan 8 bulan musim kering, dan 4 bulan musim desmodium rensonii, dll) yang disediakan bagi ternak apa bila
rumputsudah mulai berkurang produksinya pada awal musim kemarau.
hujan, dapat diterapkan pada pertanian lahan kering
dengan topografi yang datar atau miring. • Bagian ini dibagi petak masing-masing 46 m (lebar 5 m dan panjang 9 m ).

• Salah satu contoh dari sistem pertanian terpadu adalah Stratum tiga:
Sistem Tiga Strata (STS). Sistem tiga Strata merupakan • Terdiri dari legume pohon (gamal, lamtoro, kaliandra, t uri, acasia,
suatu cara penanaman serta pemangkasan rumput, sengon, waru, dll) yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai fungsi.
leguminosa, semak, dan pohon sehingga hijauan tersedia
• Selain untuk pakan pada musim kemarau panjang, tanaman tersebut juga
sepanjang tahun. dapat digunakan sebagai tanaman pelindung dan pagar kebun hijauan
makanan ternak maupun kayu bakar.

Pengelolaan Lahan Kering dengan STS


Satu unit STS memerlukan 2.500 m yang terdiri dari 3 bagian, yaitu:

• Bagian inti, yang berada di tengah-tengah dan ditanami tanaman


pangan/holtikultura (1.600 m ).

• Bagian selimut, terletak diantara bagian inti dan tepi. Bagian


selimut ditanami hijauan jenis rumput potong dan leguminosa
(900 m ),

• Bagian tepi merupakan bagian yang paling luar yang menjadi


batas unit STS yang ditanami pagar hidup dari gamal dan lamtoro
jenis kayu (200 m ).

• Stratum satu berfungsi sebagai penyedia hijauan bagi ternak.


• Stratum dua dan tratum tiga berperan sebagai pagar hidup
sehingga ternak tidak mudahmenganggu tanaman inti.