Anda di halaman 1dari 52

BAHAN AJAR

EVOLUSI PALEONTOLOGI

OLEH

Nama : MARIA GISELA MEY S. I. WALE

Nim : 1606050048

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2018
BAB 1

TEORI EVOLUSI & SEJARAH WAKTU EVOLUSI

1.1 Sejarah Teori Evolusi

Pada dasarnya teori evolusi muncul sebagai salah satu jalan untuk
mencari tahu asal mula makhluk hidup. Pemikiran ini sebenarnya telah ada
sejak zaman lampau. Dalam ilmu pengetahuan peradaban Yunani, Romawi,
dan Cina. Namun sampai dengan abad ke-18, pandangan biologis Barat masih
didominasi oleh esensialisme, yaitu pandangan bahwa bentuk-bentuk
kehidupan tidak berubah. Hal ini mulai berubah ketika pengaruh kosmologi
evolusioner dan filosofi mekanis menyebar dari ilmu fisik ke sejarah alam.
Para naturalis mulai berfokus pada keanekaragaman spesies, dan munculnya
ilmu paleontologi dengan konsep kepunahannya lebih jauh membantah
pandangan bahwa alam bersifat statis. Pada awal abad ke-19, Jean-Baptiste
Lamarck mengajukan teorinya mengenai transmutasi spesies. Teori ini
merupakan teori evolusi pertama yang ilmiah. Disusul kemudian oleh Charles
Darwin dan Alfred Russel Wallace. Hingga kemudian semakin terkenallah
teori evolusi ini.

1.2 Teori-teori Evolusi dan Para Pencetusnya

Berikut ini adalah teori evolusi yang dikemukakan oleh para filsuf jaman
kuno hingga ilmuwan modern.

1. Teori Evolusi Aristoteles (384-322 SM)

Berpendapat bahwa evolusi yang terjadi berdasarkan metafisika alam,


maksudnya metafisika alam dapat mengubah organisme dan habitatnya
dari bentuk sederhana ke bentuk yang lebih kompleks.

2. Teori Evolusi Anaximander (500 SM)

Anaximander juga merupakan seorang filosof yang berasal dari


Yunani. Ia berpendapat bahwa manusia berawal dari makhluk akuatik
mirip ikan dan mengalami proses evolusi.
3. Teori Evolusi Emepedoclas (495-435 SM)

Ia mengemukakan teori bahwa kehidupan berasal dari lumpur hitam


yang mendapat sinar dari matahari dan berubah menjadi makhluk hidup.
Evolusi terjadi dengan dimulainya makhluk hidup yang sederhana
kemudian berkembang menjadi sempurna dan akhirnya menjadi beraneka
ragam seperti sekarang ini.

4. Teori Evolusi Erasmus Darwin (1731-1802)

Kakek dari Charles Robert Darwin, seorang tokoh evolusi


berkebangsaan Inggris. Teorinya adalah bahwa evolusi terjadi karena
bagian fungsional terhadap stimulasi adalah diwariskan. Ia menyusun
buku yang berjudul Zoonamia yang menentang teori evolusi dari
Lamarck.

5. Teori Evolusi Count De Buffon (1707-1788)

Buffon berpendapat bahwa variasi-variasi yang terjadi karena


pengaruh alam sekitar diwariskan sehingga terjadi penimbunan variasi.

6. Teori Evolusi Sir Charles Lyell (1797-1875)

Lyell adalah seorang ilmuwan yang berasal dari Skotlandia dengan


bukunya yang terkenal berjudul Principles of Geology. Di dalam
bukunya tersebut Lyell berpendapat bahwa permukaan bumi terbentuk
melalui proses bertahap dalam jangka waktu yang lama.

7. Teori Evolusi Lamarck (1744-1829)

Jean Baptise de Lamarck (1744 – 1829) seorang ahli biologi


kebangsaan Perancis, memiliki suatu gagasan dan menuliskannya dalam
bukunya berjudul “Philoshopic”. Dalam bukunya tersebut Lamarck
mengatakan sebagai berikut.

a. Lingkungan mempunyai pengaruh pada ciri-ciri dan sifat-sifat


yang diwariskan melalui proses adaptasi lingkungan.
b. Ciri dan sifat yang terbentuk akan diwariskan kepada
keturunannya. Organ yang sering digunakan akan berkembang dan
tumbuh membesar, sedangkan organ yang tidak digunakan akan
mengalami pemendekan atau penyusutan, bahkan akan menghilang.

Contoh yang dapat digunakan oleh Lamarck adalah jerapah. Menurut


Lamarck, pada awalnya jerapah memiliki leher pendek. Karena
makanannya berupa daun-daun yang tinggi, maka jerapah berusaha untuk
dapat menjangkaunya. Karena terbiasa dengan hal ini maka semakin
lama, leher jerapah menjadi semakin panjang dan pada generasi
berikutnya akan lebih panjang lagi. Teori evolusi Lamarck ditentang oleh
Erasmus Darwin (kakek dari Charles Darwin) yang mengatakan bahwa
populasi jerapah adalah heterogen, ada yang berleher pendek dan ada
yang berleher panjang. Jerapah-jerapah tersebut berkompetisi untuk
mendapatkan makanan. Dari persaingan tersebut jerapah berleher
panjang akan menang dan akan tetap hidup, sifat ini akan diwariskan
kepada keturunannya. Jerapah yang berleher pendek akan mati dan
perlahan-lahan mengalami kepunahan.

8. Teori Evolusi Charles Robert Darwin (1809-1882)

Charles Robert Darwin (1809–1882) adalah seorang


ilmuwan berkebangsaan Inggris yang melakukan pelayaran pada tahum
1831. Dengan menggunakan kapal HMS Beagel, ia melakukan pelayaran
menuju ke Kepulauan Galapagos, yang merupakan kepulauan terpencil
kurang lebih 1050 km dari dari daratan utama Amerika Serikat. Dalam
pelayarannya hingga sampai di Kepulauan Galapagos tersebut Charles
Darwin menemu-kan dan mengamati berbagai macam burung Finch yang
memiliki berbagai macam bentuk paruh. Perbedaan morfologi tersebut
ternyata menunjukkan adanya hubungan kekerabatan dengan burung
yang ada di Amerika Serikat.

Charles Darwin bekerja keras kurang lebih selama 20 tahun untuk


mengumpulkan bukti-bukti pemikirannya tentang evolusi dan seleksi
alam. Pada tahun 1859, Darwin akhirnya menerbitkan bukunya yang
terkenal dengan judul “The origin of pecies by Means of Natural
Selection”. Dalam bukunya yang berjudul "The Orgin of Species by
Means of Natural Selection", Charles Darwin mengungkapkan teorinya
mengenai evolusi. Pokok utama dari teori Darwin tersebut adalah sebagai
berikut.

1. "Natural Selection", artinya perubahan-perubahan yang terjadi pada


suatu organise disebabkan oleh seleksi alami

2. "Survival of the fittest", artinya siapa yang paling kuat dia akan
bertahan. Darwin mengemukakan bahwa individu yang kuat akan
bertahan dan akan mewariskan sifat ke generasi berikutnya.

3. "Struggle for existance", artinya berjuang keras untuk bertahan hidup.


Individu yang tidak dapat bertahan akan mati dan terjadi kepunahan,
sedangkan yang bertahan akan melanjutkan hidupnya dan
bereproduksi.

9. Teori Evolusi August Weismann (1914-1934)

Weismann adalah seorang ahli biologi berkebangsaan Jerman.


Dalam teorinya dinyatakan bahwa evolusi terjadi karena adanya seleksi
alam terhadap faktor genetis. Weismann melakukan percobaan untuk
membuktikan teorinya tersebut. Perlakuan diberikan kepada dua tikus
yang dipotong ekornya dan kemudian kedua tikus tersebut dikawinkan.
Hasilnya adalah generasi keturunannya masih berekor panjang sampai
generasi ke-21. Dari percobaan yang dilakukan tersebut maka akhirnya
Weismann menarik kesimpulan seperti berikut.

a) Perubahan sel tubuh karena pengaruh lingkungan tidak


diwariskan kepada generasi berikutnya.

b) Evolusi merupakan masalah genetika, artinya evolusi adalah


gejala seleksi alam terhadap faktor-faktor genetika.
BAB II

WAKTU GEOLOGI

2.1 Waktu Geologi

Menurut teori, bumi terbentuk karena kondensasi gas yang ada dalam tata
surya. Pada waktu proses tersebut terjadi, diperkirakan ada benturan dengan
suatu bintang lainnya, sehingga gas tersebut terpecah menjadi gumpalan gas
yang lebih kecil. Semua itu membentuk satu tata surya. Gumpalan terbesar
menjadi matahari, sedangkan sisanya menjadi planet, bulan, dan meteorit.
Akibat adanya perbedaan ukuran, maka gumpalan yang lebih kecil dapat
berputar lebih cepat dibandingkan dengan gumpalan yang besar, sehingga
ukuran gas akan menentukan rotasi suatu planet atau bulan, yang akan
terbentuk. Akibat daya tarik yang besar, maka gumpalan gas tersebut berubah
menjadi cair dan panas, dan baru kemudian perlahan-lahan memadat.
Dalam proses menjadi padat, maka bentuk muka bumi berubah-ubah. Hal ini
diperkuat pula dengan adanya rotasi. Rotasi menimbulkan gaya sentripetal
dan sentrifugal dan berputar pada sumbu magnetik. Karena proses menjadi
padat yang relatif cepat, maka keadaan di dalam bulatan masih cair. Benda
padat mengalami penyusutan, sedangkan keadaan di dalam yang masih panas
memuai. Oleh karena itu, timbul retakan-retakan dan batuan cair keluar
sebagai proses vulkanisme. Selain itu, bentuk bumi yang ada tidak rata. Oleh
karena adanya rotasi maka proses penyetimbangan berjalan, yang
menyebabkan adanya pergeseran daratan. Pergeseran daratan tersebut dapat
menyebabkan pecahnya daratan dan bersatunya daratan. Apalagi mengingat
bahwa sumbu magnetik bumi tidak tepat dari waktu ke waktu. Dengan
demikian, maka ada proses masuknya daratan ke perut bumi dan timbulnya
daratan yang baru.

Skala waktu geologi digunakan oleh para ahli geologi dan ilmuwan untuk
menjelaskan waktu dan hubungan antar peristiwa yang terjadi sepanjang
sejarah Bumi. Bukti-bukti dari penanggalan radiometri menunjukkan bahwa
bumi berumur sekitar 4.570 juta tahun. Waktu geologi bumi disusun menjadi
beberapa unit menurut peristiwa yang terjadi pada tiap periode.
Masing-masing zaman pada skala waktu biasanya ditandai dengan peristiwa
besar geologi atau paleontologi, seperti kepunahan massal. Sebagai contoh,
batas antara zaman Kapur dan Paleogen didefinisikan dengan peristiwa
kepunahan dinosaurus dan baerbagai spesies laut.Periode yang lebih tua, yang
tak memiliki peninggalan fosil yang dapat diandalkan perkiraan usianya,
didefinisikan dengan umur absolut.

Dalam sistem ICS, skala waktu geologi dibuat dalam rentang-rentang


waktu yang hirarkis, yaitu Eon, Era, Periode, Epoh, Age dan Kron. 1. Eon –
skala waktu milyar tahun atas dasar kronostratigrafi. Sebelumnya dibagi
menjadi dua, yaitu Prekambrian dan Fanerozoikum. Kemudian Prekambrian
dipecah-pecah lagi karena rentang waktunya terlalu lama menjadi Arkean dan
Proterozoikum. 2. Era – skala waktu puluh sampai ratusan juta tahun atas
dasar bentuk-bentuk fosil yang dominan yang dibatasi oleh kemunculan atau
kepunahan massal. Selain itu, Era ditandai oleh kondisi ekosistem yang unik.
Misalnya Senozoikium – era mamalia. 3. Periode – skala waktu rentang 30
sampai 80 juta tahun (dibawah seratus juta tahun), kecuali Periode Kuartener
yang hanya mencapai 1.8 juta tahun. 4. Epoh – skala waktu yang membagi
Era Senozoikum (terutama periode Tersier dan Kuartener). Dasar pembagian
Epoh ke interval paleomagnetik. 5. Age – skala waktu berkisar antara 5 – 10
juta tahun yang membagi-bagi Epoh berdasarkan penanggalan radiometrik. 6.
Kron – pembagian yang paling kecil dalam rentang kurang dari 1 juta tahun.

Terdapat 2 skala waktu yang dipakai untuk mengukur dan menentukan


umur Bumi. Pertama,adalah Skala Waktu Relatif, yaitu skala waktu yang
ditentukan berdasarkan atas urutan perlapisan batuan-batuan serta evolusi
kehidupan organisme dimasa yang lalu; Kedua adalah Skala Waktu Absolut
(Radiometrik), yaitu suatu skala waktu geologi yang ditentukan berdasarkan
pelarikan radioaktif dari unsur-unsur kimia yang terkandung dalam bebatuan.
Skala relatif terbentuk atas dasar peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam
perkembangan ilmu geologi itu sendiri, sedangkan skala radiometri (absolut)
berkembang belakangan dan berasal dari ilmu pengetahuan fisika yang
diterapkan untuk menjawab permasalahan permasalahan yang timbul dalam
bidang geologi.
1) Skala waktu Relatif, bagian skala ini dibagi dalam urutan yang spesifik
berdasarkan fosil-fosil yang ada pada zaman itu. Subdivisi pada skala
waktu relatif mungkin sudah banyak dikenal saat ini. Batuan yang
terbentuk selama Masa Proterozoikum kemungkinan mengandung fosil
dari organisme yang sederhana, seperti bacteria dan algae. Batuan yang
terbentuk selama Masa Fanerozoikum kemungkinan mengandung fosil
fosil dari binatang yang komplek dan tanaman seperti dinosaurus dan
mamalia.

2) Skala waktu absolut, penentuan umur batuan dalam ribuan, jutaan atau
milyaran tahun dapat dimungkinkan setelah ditemukannya unsur
radioaktif. Saat ini kita dapat menggunakan mineral yang secara alamiah
mengandung unsur radioaktif dan dapat dipakai untuk menghitung umur
secara absolut dalam ukuran tahun dari suatu batuan. Penentuan umur
dengan menggunakan isotop radioaktif adalah pengukuran yang memiliki
kesalahan yang relatif kecil, walau demikian kesalahan yang
kelihatannya kecil tersebut dalam umur geologi memiliki tingkat kisaran
kesalahan beberapa tahun hingga jutaan tahun. Jika pengukuran
mempunyai tingkat kesalahan 1 persen, sebagai contoh, penentuan umur
untuk umur 100 juta tahun kemungkinan mempunyai tingkat kesalahan
kurang lebih 1 juta tahun.

2.1 Konsep-konsep Waktu Geologi

1) Metode penentuan waktu

Dalam penentuan umur suatu batuan atau fosil, ada beberapa


persyaratan yang harus diperhatikan, yaitu: 1. Adanya Kemungkinan
Pembasuhan. Akibat adanya pembasuhan, maka suatu batuan atau
fosil berubah kandungan kimianya. Dengan demikian
penghitungannya tidak cukup akurat. 2. Adanya Kemungkinan
Transportasi, suatu batuan atau fosil dapat terbentuk di suatu tempat.
Namun sejalan dengan waktu, benda tersebut dapat berpindah tempat.
Dengan demikian, fosil suatu organisme dapat ditemukan di tempat
yang tidak semestinya. Kekuatan utama yang mungkin dapat
memindahkan fosil tersebut adalah aliran sungai. Sungai akan
membawa suatu fosil atau batu dari daerah hulu ke hilir. Demikian
pula sungai dapat membawa suatu fosil dari lapisan atas menuju
lapisan yang lebih tua, karena sungai dapat mengikis batuan
sehingga akhirnya batuan tersebut semakin lama menjadi makin
dalam. Hal lain yang dapat memindahkan suatu batuan atau fosil
adalah adanya pelapukan dan pergeseran tanah. Akibat adanya
pelapukan, maka suatu fosil yang sebelumnya berada pada lapisan
yang dalam menjadi terdedahkan karena batuan di atasnya tersingkap
oleh kekuatan alam. Setelah terdedahkan, maka ada faktor luar yang
menyebabkan fosil yang sudah terdedahkan tersebut berpindah
tempat. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan penentuan umur suatu
batuan atau fosil menjadi tidak akurat. Untuk mendeteksi adanya
transportasi biasanya dilakukan analisis geomagnetik.

Penentuan umur biasanya tidak pernah tepat, mengingat


banyaknya faktor luar yang dapat berperan. Oleh karena itu,
simpangan baku umur suatu fosil biasanya cukup lebar. Misalnya
fosil Homo erectus dari Sangiran diduga berumur 250.000 tahun.
Menurut penelitian di tahun 1997, salah satu fosil berumur sekitar
27.000 tahun dan paling tua berumur 54.000 tahun. Kisaran antara
27.000 tahun ke 54.000 tahun maupun 250.000 tahun adalah sangat
besar, sehingga sulitlah kiranya membuat perkiraan umur rata-rata

2) Jam Radioaktif

Penentuan umur suatu lapisan atau suatu fosil dapat juga


didasarkan atas perbedaan masuk dan keluarnya suatu senyawa
radioaktif dari dalam tubuh. Di alam terdapat sejumlah zat radioaktif
yang kita hirup dan dikeluarkan sehari-hari tanpa menyebabkan
adanya gangguan. Karena zat radioaktif tersebut tidak diakumulasi
oleh tubuh, maka jumlah zat radioaktif di dalam maupun di luar
tubuh akan tetap. Namun apabila kita mati, maka tidak terdapat
transpor zat radioaktif tersebut baik masuk maupun keluar.
Akibatnya jumlah zat radioaktif tersebut akan menurun sejalan
dengan waktu paruh zat radioaktif tersebut.
Ada zat radioaktif yang meluruh dalam skala jam, hari, tahun,
abad maupun yang memakan waktu berabad-abad. Mengingat bahwa
volume tubuh dibandingkan dengan volume alam, maka perubahan
jumlah zat radioaktif di alam relatif konstan tidak berubah. Dengan
membandingkan jumlah yang terdapat di dalam tubuh dengan jumlah
yang ada di alam per volume, maka kita dapat memprediksi umur zat
radioaktif tersebut. Demikian pula halnya dengan zat radioaktif yang
terdapat dalam lapisan batuan, dapat diperlakukan serupa, meskipun
ada faktor koreksi, mengingat batuan tertentu dapat sudah lama
berada di muka bumi dibandingkan dengan data fosil. Selain itu
haruslah kita perhatikan, zat radioaktif apa yang meluruh dan apa
yang dihasilkan. Jadi selain menghitung jumlah bahan yang meluruh,
juga harus dihitung perbandingan antara zat asal dengan zat yang
dihasilkan. Adapun rumus untuk menghitung perkiraan umur suatu
batuan/fosil adalah sevagai berikut.

t = 1/l ln N + NR / N

t = umur;

l = peluruhan;

No = jumlah zat radioaktif waktu batuan dibentuk dan

N = jumlah zat radioaktif sekarang.

NR = No – N
3) Jam DNA

Karena suatu organisme yang sudah menjadi fosil hingga kini


masih sulit sekali diekstraksi DNA-nya, maka kita hanya dapat
menggunakan organisme yang masih hidup. Dari skala waktu
geologi, maka kita dapat memperkirakan kapan suatu organisme
muncul dan kapan organisme lainnya muncul. Misalnya ikan sudah
berada jauh sebelum Amfibi apalagi Primata. Dalam kurun waktu
yang begitu jauh berbeda, maka kita dapat menghitung berapa besar
perubahan dalam susunan DNA yang telah terjadi. Karena kita dapat
menghitung berapa kecepatan mutasi suatu organisme, maka kita
dapat menghitung berapa lama perbedaan umur antara dua
organisme. Untuk dapat menggunakan Jam DNA, ada suatu
pengetahuan dasar yang diperlukan, karena kecepatan mutasi suatu
bagian DNA tidak sama. Ada gen yang bermutasi sangat cepat dan
ada gen yang bermutasi sangat lambat. Dalam kaitan ini, pada
dasarnya kita akan menggunakan suatu daerah DNA yang
konservatif.

Gen yang sangat konservatif baik untuk menentukan perbedaan


umur dari dua organisme yang berkerabat jauh, misalnya antara kera
dengan manusia, sedangkan gen yang tidak terlalu konservatif baik
untuk menentukan perbedaan antarpopulasi. Dari beberapa rantai
DNA homolog yang kita bandingkan, maka selain adanya perbedaan,
kita akan menjumpai kesamaan untuk sejumlah asam nukleat. Jadi
misalnya dari sekian banyak rantai DNA yang kita analisis terdapat
asam nukleat no 23, 45 dan seterusnya yang identik untuk semua.
Hal ini memberikan gambaran kepada kita, bahwa asam nukleat no
23, 45 dan seterusnya seharusnya sama juga untuk nenek moyang.
Apabila ada satu rantai DNA yang berbeda untuk asam nukleat no 23,
maka kita dapat menduga bahwa pada rantai DNA itu mengalami
mutasi. Dengan demikian, kita dapat melakukan rekonstruksi
mengenai bagaimana rupa rantai DNA nenek moyang. Dari hasil
tersebut, maka kita dapat menentukan tiga hal, pertama adalah
berapa banyak mutasi yang terjadi dibandingkan dengan rantai DNA
nenek moyang, dan kedua adalah berapa besar perbedaan antara satu
rantai dengan rantai yang lain. Hal terakhir yang dapat segera kita
tentukan adalah apakah ada mutasi yang spesifik untuk suatu
populasi. Dengan pengetahuan tersebut, data yang kita miliki dapat
dikalibrasikan dengan kecepatan mutasi gen tersebut. Kalibrasi dapat
kita lakukan dengan melihat data fosil. misalnya kapan burung mulai
muncul dan kapan organisme lain mulai muncul. Perbedaan waktu
tersebut menunjukkan rentang umur. Kalau ada 10 mutasi per
rentang umur 10.000 tahun, maka kecepatan mutasi adalah 1
mutasi per 1000 tahun. Dari data yang kita analisis, maka kita dapat
menghitung berapa kecepatan evolusi dengan menggunakan data
DNA.

2.3 Pembagian atau Pemisahan Waktu Geologi

Waktu geologi dipisah-pisahkan atas sejumlah Eon, Era (3-4), Periode,


Kurun atau epok dan Formasi atau Masa. Walaupun demikian, Kurun dan
Formasi tidak banyak dipakai dalam buku-buku, kecuali untuk Era Senosoik.
Suatu Era dapat menyangkut banyak Periode, dan satu Periode dapat terdiri
dari beberapa Kurun dan seterusnya. keberadaan fosil pada dasarnya
menunjukkan kapan fosil suatu organis memulai ada dalam lapisan tanah.
Namun keberadaan suatu organisme dalam bentuk fosil tidak menjamin
bahwa organisme tersebut baru muncul. Hal ini disebabkan oleh individu
yang menjadi fosil jumlahnya sangat sedikit kalau dibandingkan dengan
organisme yang ada. Dari 5 miliar manusia yang hidup di muka bumi
sekarang, belum tentu ada satu orang pun yang menjadi fosil. Selain itu,
sudah didiskusikan di atas, bahwa dengan adanya kemungkinan transportasi,
menyebabkan suatu fosil dapat berada dalam lapisan yang lain. Hal ini
mungkin dapat ditelusuri dengan melihat profil fosil kelompok tersebut.
Adanya celah dalam profil fosil dapat memberikan petunjuk adanya
transportasi, namun adanya celah pada awal keberadaan suatu kelompok
dapat mencerminkan sedikitnya anggota kelompok tersebut pada waktu itu.
Meskipun awal keberadaan suatu organisme dapat ditunjukkan oleh
keberadaan fosilnya, besar kemungkinan bahwa organisme tersebut sudah ada
jauh sebelumnya, tetapi tidak ada yang menjadi fosil.
Pembagian waktu Geologi umumnya didasarkan atas macam-macam
fosil dominan yang ditemukan, dan bukan atas lamanya suatu Eon, Era, atau
Periode. Suatu Periode dan Kurun biasanya dibagi lagi atas bagian yaitu:
atas, tengah dan bawah, atau awal, tengah dan akhir, namun hal ini dapat
dilakukan untuk setiap pembagian waktu yang ada. Pembagian yang lebih
kecil, pada dasarnya akan sangat berbeda dari daerah ke daerah. Misalnya ada
Formasi Trinil atau Formasi Sampung dan lain-lain di Jawa Tengah.
Penamaan suatu lapisan biasanya dikaitkan pula dengan tempat fosil dan
macam batuan tersebut ditemukan. Selain fosil dan waktu (umur), Skala
waktu Geologi dapat memberikan gambaran yang cukup lengkap mengenai
hal-hal lainnya. Tetapi apabila semuanya digambarkan, maka dibutuhkan
suatu lembaran yang relatif besar. Oleh karena itu, hanya digambarkan
hal-hal yang penting saja, misalnya kehidupan darat dan laut, kepunahan,
glasiasi dan cuaca secara umum serta sedikit mengenai pergeseran benua.
BAB III

KEANEKARAGAMAN/BIOGEOGRAFI

3.1 Biogeografi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari makhluk


hidup dan geografi, dalam penyebaran atau distribusi makhluk hidup di
bagian bumi termasuk asal dan cara penyebarannya.
Dasar Persebaran Makhluk Hidup
ü Munculnya berbagai species burung Finch di kepulauan Galapagos,
diperkirakan nenek moyangnya berasal dari daratan Amerika
ü Unta yang terdapat di Asia, Afrika dan Ihana di Amerika Selatan,
diperkirakan nenek moyangnya berasal dari Asia-Afrika.
ü Monyet dunia baru Amerika Selatan dan monyet dunia lama di
Asia-Afrika, diperkirakan nenek moyangnya berasal dari Asia-Afrika.
Faktor yang mempengaruhi Persebaran Makhluk Hidup

Faktor fisik:

Ø Curah Hujan :Di daerah yang jumlah curah hujannya selalu ada sepanjang
tahun ada terdapat vegetasi hujan. Semakin berkurang jumlah curah hujan,
maka tanaman yang didapati sudah bukan berupa hutan lagi, akan tetapi
berupa semak belukar atau padang rumput..

Ø Suhu :Keadaan temperatur di bumi berbeda-beda karena pengaruh dari


intensitas penyinaran matahari. Semakin tinggi suhu, semakin bervariatif
jenis tanaman, sebaliknya, semakin jauh dari matahari, tanaman semakin
sedikit bahkan tidak tumbuh.

Ø Kelembaban UdaraJumlah uap air yang dikandung udara akan


mempengaruhi penyebaran flora. Semakin lembab, jenis tanaman semakin
bervariatif. Pada udara kering, tanaman akan semakin sedikit jenisnya,
bahkan ada tanaman yang hanya bisa tumbuh di daerah kelembaban yang
tinggi.

Ø Angin Angin sangat besar pengaruhnya terhadap proses penguapan dan


transpirasi bagi tanaman. Misalnya : angin Bahorok yang
dapat mengeringkan perkebunan tembakau di Delli, demikian pula dengan
adanya angin dingin, angin laut, dsb. adanya arah angin yang bertiup pada
suatu daerah akan mempengaruhi perkembangbiakan hewan

Faktor yang mempengaruhi Persebaran Makhluk Hidup

a) Iklim

Ø Curah Hujan

Di daerah yang jumlah curah hujannya selalu ada sepanjang tahun ada
terdapat vegetasi hujan. Semakin berkurang jumlah curah hujan, maka
tanaman yang didapati sudah bukan berupa hutan lagi, akan tetapi berupa
semak belukar atau padang rumput..

Ø Suhu, Keadaan temperatur di bumi berbeda-beda karena pengaruh dari


intensitas penyinaran matahari. Semakin tinggi suhu, semakin bervariatif
jenis tanaman, sebaliknya, semakin jauh dari matahari, tanaman semakin
sedikit bahkan tidak tumbuh.

Ø Kelembaban Udara, Jumlah uap air yang dikandung udara akan


mempengaruhi penyebaran flora. Semakin lembab, jenis tanaman semakin
bervariatif. Pada udara kering, tanaman akan semakin sedikit jenisnya,
bahkan ada tanaman yang hanya bisa tumbuh di daerah kelembaban yang
tinggi.

Ø Angin, Angin sangat besar pengaruhnya terhadap proses penguapan dan


transpirasi bagi tanaman. Misalnya : angin Bahorok yang
dapat mengeringkan perkebunan tembakau di Delli, demikian pula dengan
adanya angin dingin, angin laut, dsb.

Faktor non fisik

a) Tumbuhan, misalnya tumbuhan besar melindungi tumbuhan yang ada di


bawahnya atau diantaranya

b) Binatang, Pengaruh binatang terhadap binatang (insekta) dan penyebaran


biji (burung atau tupai).
c) Manusia dapat mengubah seluruh pertumbuhan melalui penebangan,
pengairan, pemupukan, penanaman kembali. Demikian juga, misalnya
mengubah hutan menjadi lahan pertanian dan lahan industri serta daerah
pemukiman.

d) Jaring-jaring makanan yaitu rantai-rantai makanan yang saling


berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi
jaring-jaring.

e) Kemampuan Beradaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk


hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk tetap hidup
dengan baik.
BAB IV

ASAL USUL KEHIDUPAN

4.1 Teori Abiogenesis

Teori ini mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati.
Teori Abiogenesis dicetuskan pertama kali oleh Aristoteles (384 – 322 SM),
yang merupakan tokoh ilmu pengetahuan dari Yunani Kuno. Aristoteles
melakukan pengamatan ikan-ikan di sungai. Ia berpendapat bahwa ada
sebagian ikan-ikan di sungai tersebut yang berasal dari lumpur. Teori
Abiogenesis ini didukung pula oleh seorang ilmuwan Inggris pada tahun 1700
yang bernama Nedhan. Ia mencoba melakukan penelitian dengan
menggunakan rebusan kaldu. Hasil rebusan kaldu kemudian dimasukkan ke
dalam botol dan ditutup dengan gabus. Setelah beberapa hari, ternyata air
kaldu tersebut ditumbuhi bakteri. Akhirnya Nedhan menyimpulkan bahwa
bakteri berasal dari air kaldu. Teori ini gugur karena pada abad ke-17,
Antonie van Leeuwenhoek berhasil membuat mikroskop. Penemuan
mikroskop inilah yang mengawali berbagai macam percobaan untuk menguji
teori-teori Abiogenesis. Leeuwenhoek mencoba mengamati air rendaman
jerami dengan menggunakan mikroskop temuannya. Ternyata terlihat bahwa
di dalam setetes air rendaman jerami tersebut terdapat benda-benda aneh yang
sangat renik.

4.2 Teori Biogenesis

Teori biogenesis adalah suatu teori yang mengemukakan bahwa asal


kehidupan suatu makhluk hidup berasal dari makhluk hidup pula. Semboyan
teori Biogenesis adalah “omne vivum ex ovo” (makhluk hidup berasal dari
telur) “omne vivum ex vivo” (makhluk hidup berasal dari makhluk hidup
yang telah ada). Teori biogenesis ini didukung oleh tokoh-tokoh Biologi lain,
seperti berikut.

1. Francisco Redi

Francisco Redi adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Italia, ia merupakan


orang pertama yang membantah teori Generatio Spontanea. Ia melakukan
eksperimen untuk mendapat fakta yang benar. Perangkat percobaan Francisco
Redi ia menggunakan daging segar yang diletakkan di dalam tiga tabung.
Perlakuan tabung ditutup rapat, tabung II ditutup kain kasa dan tabung III
tidak ditutup dan dibiarkan terbuka. Setelah beberapa hari Francisco Redi
mendapatkan hasil eksperimen. Ternyata botol tabung I tidak ada mikroba,
tabung II terdapat sedikit mikroba, dan tabung III terdapat banyak mikroba.
Dari hasil eksperimen ini Francisco Redi kemudian membuat kesimpulan
bahwa mikroba yang berupa belatung yang terdapat pada daging tersebut
berasal dari telur-telur lalat yang ditinggalkan pada saat lalat tersebut
mengerumuni daging yang membusuk. Dari hal ini maka teori Abiogenesis
runtuh diganti dengan teori Biogenesis yaitu bahwa makhluk hidup tidak
begitu saja terbentuk dari benda-benda mati, melainkan dari makhluk hidup
juga.

2. Spallanzani adalah seorang tokoh ilmuwan dari Italia. Ia melakukan


kegiatan eksperimen pada tahun 1765, untuk menentang teori Nedham.
Spallanzani mengadakan pembuktian dengan air kaldu yang ditempatkan di
dalam tabung. Hasil percobaannya sama dengan Francisco Redi yaitu
makhluk hidup berasal dari sesuatu yang hidup. Spallanzani menjelaskan
bahwa kegagalan percobaan Nedham karena Nedham tidak merebus tabung
cukup lama sampai semua organisme terbunuh dan Nedham juga tidak
menutup leher tabung dengan rapat sehingga masih ada organisme yang
masuk dan tumbuh.

3. Louis Pasteur melakukan percobaan pada tahun 1864. Tujuan percobaan


Pasteur adalah untuk menguji dan memperbaiki percobaan dari Redi dan
Spallanzani. Pasteur membuat labu berleher angsa, yang agak tertutup namun
masih dapat berhubungan dengan udara, seperti yang terlihat pada Prinsip
tabung ini adalah udara dapat masuk ke dalam tabung, tapi debu akan
menempel pada lengkungan leher tabung. Percobaan yang dilakukan oleh
Pasteur adalah merebus kaldu hingga mendidih kemudian kaldu tersebut
didiamkannya beberapa saat di dalam tabung leher angsa. Setelah beberapa
hari, bakteri tidak tumbuh pada kaldu tersebut, tetapi beberapa hari kemudian
air kaldu sudah ditumbuhi bakteri. Dari teori Pasteur inilah maka teori
abiogenesis (Generatio spontanea) tumbang. Sehingga disimpulkan bahwa
makhluk hidup berasal dari makhluk hidup pula.

4.3 Teori Biologi Modern

Teori biologi modern merupakan teori evolusi kimia, yang berpendapat


bahwa bumi ini pada awalnya sangat panas sekali, kemudian suatu ketika
bumi mengalami proses pendinginan. Dari proses-proses tersebut maka dapat
dihasilkan bahan-bahan kimia. Bahan-bahan yang berat akan menyusun bumi
sedangkan bahan yang ringan akan menyusun atmosfer. Teori evolusi kimia
dicetuskan oleh beberapa tokoh berikut.

1. Harold Urey adalah seorang ilmuwan Amerika Serikat yang berpendapat


bahwa atmosfer bumi pada suatu saat kaya akan molekul-molekul seperti
CH4 (metana), NH3 (ammonia), H2 (hidrogen) dan H2O dalam bentuk gas.
Adanya energi yang berasal dari aliran listrik halilintar dan radiasi sinar
kosmis, akan mengakibatkan molekul-molekul tersebut mengadakan reaksi
kimia untuk membentuk zat-zat hidup. Zat hidup yang mula-mula ada
kira-kira seperti virus sekarang. Zat hidup ini setelah berjuta-juta tahun
berkembang menjadi berbagai jenis organisme.

2. Stanley Miller adalah murid dari Urey. Ia membuat suatu percobaan untuk
membuktikan teori Urey. Ia melakukan percobaan dengan mengisi
tabung-tabung dengan CH4, NH3, H2, dan H2O. Campuran gas-gas tersebut
dialirkan melalui labu dilengkapi elektroda yang dapat melepaskan bunga api
listrik yang bertegangan tinggi selama satu minggu. Setelah percobaan
tersebut, dilihat ternyata ditemukan beberapa jenis asam amino. Asam amino
adalah zat yang menyusun protoplasma makhluk hidup. Pada temuannya ini
asam amino tersebut belum menunjukkan gejala hidup.

3. A.I. Oparin adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Rusia. Oparin juga


memiliki gagasan yang sama seperti Urey, tetapi Oparin tidak dapat
membuktikan bahwa reaksi gas CH4, NH3, H2 dan H2O membentuk asam
amino. Ia berpendapat bahwa asam amino terbentuk secara alami. Menurut
Oparin, lautan bumi pada awalnya memiliki persediaan cukup bahan-bahan
organik. Dalam waktu yang lama maka bahan-bahan organik tersebut akan
berikatan satu dengan lainnya membentuk selaput-selaput, kemudian molekul
organik berselaput ini akan mengikat molekul lainnya dan menyatukan diri
sehingga terbentuk gabungan molekul baru yang karakteristik. Ikatan
kompleks inilah yang diperkirakan merupakan awal dari kehidupan.
BAB V

BUKTI & CONTOH EVOLUSI

5.1 Bukti Evolusi

Evolusi merupakan teori yang banyak menimbulkan perdebatan di


kalangan para ahli. Banyak orang yang meyakini kebenaran teori evolusi,
namun banyak pula dan meragukan kebenaran dari teori tersebut. Ahli-ahli
yang mempercayai kebenaran teori evolusi mengajukan berbagai bukti-bukti
yang menerangkan bahwa evolusi benar-benar telah terjadi pada makhluk
hidup yang ada saat ini. Bukti-bukti teori evolusi tersebut adalah sebagai
berikut.

1) Anatomi perbandingan. Jika Anda membandingkan hewan mamalia satu


dengan yang lain, mungkin Anda akan berpikir, bahwa bagian-bagian
tertentu pada tubuh setiap spesimen disusun menurut pola dasar yang
sama dan struktur yang sama, menurut pola dasar yang sama pula. Dapat
kita katakan bahwa hanya ada satu cara terbaik dalam menyusun organ
tersebut dan cara itulah yang digunakan oleh Sang Pencipta, Tuhan Yang
Maha Esa. Organ-organ fungsional pada makhluk hidup dapat dibedakan
menjadi dua yaitu Homologi adalah dua organ yang mempunyai bentuk
dan fungsi yang berbeda, tetapi kedua organ tersebut memiliki bentuk
dasar yang sama. Perbandingan organ-organ secara homologi. Sedangkan
analogi adalah dua organ yang mempunyai bentuk dasar yang berbeda,
tetapi akibat peristiwa evolusi konvergen menjadikan organ tersebut
mempunyai fungsi yang sama.
2) Embriologi perbandingan embrio hewan-hewan dan manusia
menunjukkan kecenderungan yang hampir sama sifat-sifat umum muncul
sebelum sifat-sifat yang khusus, Perkembangan juga dimulai dari yang
umum, kemudian baru menuju perkembangan yang khusus dan bentuk
embrio dari berbagai makhluk hidup hampir serupa, tetapi pada tahap
dewasa menunjukkan perbedaan yang nyata.

3) Fisiologi Perbandingan, umumnya ditemukan persamaan proses fisiologi


antara berbagai makhluk hidup, misalnya dalam hal sintesis protein,
proses metabolisme, respirasi, ekskresi, dan lain-lain.

4) Adanya petunjuk biokimia, Setiap makhluk hidup memiliki DNA sebagai


sumber informasi genetik yang akan diturunkan kepada keturunannya.
DNA ini dapat mengalami perubahan akibat peristiwa mutasi yang
merupakan alat utama terjadinya evolusi. Antara manusia dan monyet
memiliki persamaan DNA hingga 90% lebih, antara manusia dan kucing
juga memiliki beberapa persamaan pada struktur DNA nya. Hal ini
menjadi salah satu bukti evolusi yang cukup kuat.

5) Petunjuk dari alat tubuh yang tersisa (vestigial), Pada morfologi beberapa
hewan vertebrata dan manusia dapat ditemukan adanya struktur vestigial,
yaitu suatu bentuk anatomi yang berkembang dan berfungsi sempurna
dan akan tereduksi. Alat-alat tubuh yang tersisa ini dianggap sebagai
suatu perjalanan dari evolusi makhluk hidup tersebut. Struktur vestigial
antara lain, umbai cacing, tulang ekor, buah dada pada pria; sisa-sisa kaki
pada ular; sisa sayap pada burung yang tidak berfungsi untuk terbang
seperti burung pinguin, kasuari, dan burung onta.

6) Petunjuk palaentologi, Fosil adalah sisa-sisa makhluk hidup yang telah


membatu. Sisa-sisa tersebut dapat berupa tulang, cangkang, gigi, jejak
kaki, maupun bagian-bagian yang lain. Contoh-contoh fosil yang pernah
ditemukan Fosil-fosil di atas dipelajari oleh para ilmuwan untuk
dikaitkan dengan sejarah evolusi makhluk hidup. Jadi, fosil adalah bukti
terjadinya evolusi makhluk hidup. Beberapa tokoh yang mempelajari
tentang fosil adalah sebagai berikut.

1 ) Leonardo da vinci. Da Vinci adalah seorang pelukis terkenal


berkebangsaan Italia. Ia berpendapat bahwa fosil merupakan bukti
dari adanya makhluk hidup dan kehidupan di masa lampau.

2) George cuvier. Cuvier adalah seorang ahli anatomi dari Perancis, yang
mempunyai gagasan bahwa makhluk hidup diciptakan khusus pada
setiap zaman dan pada setiap zaman tersebut diakhiri dengan
makhluk hidup yang berbeda dengan makhluk hidup pada lapisan
bumi sebelumnya.

3) Charles darwin. Darwin berpendapat bahwa makhluk hidup yang


terdapat pada lapisan bumi yang tua akan mengadakan perubahan
bentuk yang disesuaikan dengan lapisan bumi yang lebih muda
sehingga pada lapisan bumi lebih muda ditemukan fosil yang berbeda
dengan lapisan bumi yang lebih tua. Penemuan berbagai macam fosil
biasanya berupa bagian-bagian tubuh tertentu saja dan jarang
ditemukan dalam keadaan yang utuh. Selain mengidentifikasi bentuk
dan struktur fosil, pada penemuan fosil dapat pula dilakukan
penghitungan umur fosil. Penetapan umur fosil dapat dilakukan
dengan cara-cara berikut.

1. Cara langsung, yaitu dilakukan dengan mengukur umur


fosil itu sendiri.

2. Cara tidak langsung, yaitu dilakukan dengan mengukur


umur lapisan bumi tempat fosil ditemukan.
BAB VI

SELEKSI ALAM

6.1 Pengertian dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Seleksi Alam

Seleksi alam adalah kemampuan alam untuk menyaring terhadap semua


organisme yang hidup di dalamnya, dimana hanya organisme yang mampu
menyesuaikan diri terhadap lingkungannya yang akan selamat, sedangkan
yang tidak mampu menyesuaikan diri akan mati atau punah. Faktor-faktor
yang mempengaruhi seleksi alam adalah sebagai berikut.

1. Punahnya Spesies Tertentu, Karena adanya seleksi alam maka individu


yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan akan mati
dan akhirnya punah. Berikut beberapa contoh organisme yang hampir
punah atau punah karena terseleksi oleh alam, yaitu:

a. Burung puyuh liar semakin punah, hal ini disebabkan


lingkungan hidup burung puyuh di daerah bebatuan dan bidang
tanah yang bergumpal-gumpal semakin langka.Pada
lingkungan seperti itulah burung puyuh liar akan lebih sesuai,
sehingga sulit ditangkap pemangsanya. Karena lingkungan
yang demikian sudah kian langka maka jumlah burung puyuh
pun menjadi langka juga.

b. Punahnya Dinosaurus kurang lebih 65 juta tahun yang lalu


secara bersamaan. Menurut pendapat para ahli, kepunahan
Dinosaurus disebabkan karena jatuhnya meteorit raksasa ke
bumi, yang menghamburkan awan debu sehingga menghalangi
masuknya sinar matahari. Tanpa adanya sinar matahari maka
tumbuhan akan mati, demikian pula Dinosaurus pemakan
tumbuhan yang kemudian diikuti Dinosaurus pemakan daging.

2. Terbentuknya Spesies Baru

Setiap spesies selalu berusaha beradaptasi dengan lingkungan hidupnya.


Adaptasi ini berlangsung sedikit demi sedikit menuju ke arah yang semakin
sesuai dengan lingkungan hidupnya dan perubahan yang sedikit demi
sedikit ini berlangsung dalam waktu yang sangat lama dan diturunkan dari
generasi ke generasi, sehingga tidak mustahil kalau akhirnya dijumpai
spesies yang menyimpang dari spesies nenek moyangnya. Dengan
demikian adanya seleksi alam dan adaptasi menyebabkan terjadinya
perubahan jenis makhluk hidup dari generasi ke generasi. Jika proses
tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, maka perubahan tersebut
dapat mengarah kepada terbentuknya spesies baru. Peristiwa ini disebut
evolusi.

3. Makanan merupakan kebutuhan primer bagi makhluk hidup, jadi semua


makhluk hidup yang berada di bumi ini membutuhkan makanan untuk
bertahan hidup. Semua makhluk hidup harus memiliki tubuh yang kuat untuk
melakukan persaingan dalam mendapatkan makanan jika ingin bertahan
hidup. Sebaliknya jika makhluk hidup itu lemah sehingga kalah bersaing
maka makhluk hidup tersebut akan punah.

4. Lingkungan, yaitu berupa adaptasi dan suhu lingkungan. Adaptasi terbagi


atas tiga jenis yaitu Adaptasi Morfolog, adalah adaptasi yang meliputi bentuk
tubuh. Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan
lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Organisme yang mampu
beradaptasi terhadap lingkungannya mampu untuk: Memperoleh air, udara
dan nutrisi (makanan), Mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur,
cahaya dan panas, Mempertahankan hidup dari musuh alaminya,
Bereproduksi dan Merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya. Adaptasi
Morfologi dapat dilihat dengan jelas. Sebagai contoh: paruh dan kaki burung
berbeda sesuai makanannya dan tempat untuk mencari makanannya. Bentuk
kaki burung sesuai dengan tempat hidupnya Bentuk paruh burung sesuai
dengan makanannya Bentuk gigi pada omnivora, herbivora, karnivora sesuai
dengan jenis makanannya. Adaptasi Fisiologi adalah adaptasi yang meliputi
fungsi alat-alat tubuh. Adaptasi ini bisa berupa enzim yang dihasilkan suatu
organisme. Contoh: dihasilkannya enzim selulase oleh hewan memamah biak.
Adaptasi Tingkah Laku adalah adaptasi berupa perubahan tingkah laku.
Misalnya: ikan paus yang sesekali keluar ke permukaan untuk membuang
udara, bunglon merubah warna kulitnya menyerupai tempat yang dihinggapi.
Mimikri pada bunglon dan serangga. Pohon jati menggugurkan daunnya pada
musim kemarau untuk mengurangi penguapan

Suhu lingkungan sangat mempengaruhi faktor seleksi alam sebab tidak


semua makhluk hidup memiliki suhu tubuh yang sama dengan suhu
lingkungan. Misalnya jika berada di daerah dingin atau kutub pasti
hewan-hewannya memiliki bulu yang sangat tebal. Bulu tebal digunakan
untuk menghangatkan tubuh dari udara dingin. Sedangkan hewan-hewan
yang tinggal di daerah tropis umumnya memiliki bulu yang tipis. Jika hewan
yang memiliki bulu tipis berada di daerah dingin atau kutub maka hewan
tersebut akan kedinginan karena suhunya sangat rendah sehingga gagal
beradaptasi dan mengakibatkan kepunahan.
BAB VII

KEMUNCULAN & KEPUNAHAN

7.1 Kemunculan (Regresif)

Suatu organisme mempunyai masanya masing-masing. Kemunculan


suatu organisme dapat terjadi karena adanya relung baru atau relung yang
ditinggalkan. Selain itu ada sejumlah persyaratan yang diperlukan yang
mendukung terbentuknya suatu jenis baru. Hal ini akan diterangkan di bawah
ini:

a) Terbentuknya Sel Telur Berdinding Ganda (AMNIOTA)

Kapan terbentuknya telur amniota tidak dapat ditelusuri dengan baik,


karena sedikitnya data fosil. Dalam hal ini harus kita fahami bahwa
Reptilia pertama yang muncul dipermukaan bumi seharusnya berukuran
relatif kecil, tetapi karena berukuran kecil, maka data fosilnyapun sangat
terbatas. Walaupun demikian, berlandaskan pada logika, ada beberapa
tahapan yang perlu dilalui kalau kita tinjau keadaan telur ikan dan amfibi
dan dibandingkan dengan tipe telur yang dimiliki Reptilia. Telur reptilia
ternyata ditunjang dengan terbentuknya membran amnion. Membran
amnion berguna untuk menangkap oksigen yang masuk melalui dinding
sel kapur tersebut. Hal ini memberikan konsekuensi bahwa telur pertama
tidak mungkin terlalu besar agar pertukaran gas dapat berlangsung
dengan baik.

b) Kemunculan Kelompok Organisme Tertentu

Evolusi adalah proses yang berlangsung sejak asal mula adanya


kehidupan. Kapan kehidupan mulai ada, tidak dapat diketahui dengan
pasti. Satu-satunya data yang dapat diperoleh mengenai hal ini adalah
adanya fosil. Dari data yang dihimpun oleh ahli paleontologi diketahui
bahwa fosil tertua yang ditemukan berumur sekitar 490 juta tahun. Maka
kehidupan diperkirakan mulai pada akhir masa prekambrian, sekitar 700
juta tahun yang lalu. Data ini pun masih merupakan dugaan, karena pada
masa itu, tentu jumlah organisme masih sangat sedikit, sehingga fosil
tidak mungkin dijumpai pada lapisan tanah. Pada waktu itu, habitat yang
mungkin ada adalah air. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa
muka bumi masih dihuni oleh prokariot dan organisme bersel satu,
terutama ganggang biru, yang kemudian diikuti oleh lumut kerak dan
lumut yang menghuni sekitar pantai.

c) Teori tentang Kemunculan dan Kepunahan Reptilia Besar

Banyak orang menganggap bahwa Mamalia menguasai muka bumi,


namun hal ini disebabkan karena dominasi manusialah (Homo sapiens)
yang merupakan penyebab utama anggapan tersebut. Tidak dapat
disangkal bahwa sebenarnya Reptilia merupakan organisme yang paling
sukses di muka bumi. Meskipun reptilia tidak lagi merajai permukaan
bumi, namun jumlah yang kini masih hidup di muka bumi tidak dapat
dikatakan sedikit, dan kini hanya disaingi oleh kelompok pisces.
Lamanya Reptilia menguasai permukaan bumi juga menunjukkan bahwa
kelompok ini merupakan pemula di daratan dan pernah menjadi penguasa
daratan (di wakili oleh macam-macam Dinosaurus). Reptilia pernah
menguasai air (diwakili oleh Mesosaurus), daratan (Tyramosaurus) dan
udara (Pteranodon). Sedangkan data mengenai Reptilia yang hidup di
dalam tanah sayangnya tidak banyak diketahui.

2.1 Kepunahan (Progresif)

Dalam sejarah muka bumi telah tercatat adanya lima kali peristiwa
kepunahan besar-besaran. Hal ini terjaadi pada masa Kambrian, Ordovisian,
Devonian, Permian dan Kretasea. Diantara kelima peristiwa kematian masal,
maka peristiwa kematioan masal pada periode Permian merupakan kejadian
yang paling buruk dalam sejarah bumi. Pada waktu itu sekitar 75% organisme
punah. Namun pada masa kretasea sebelum peristiwa kematian masal, jumlah
organisme hidup sudah melebihi keadaan sebelum peristiwa kematian
Permian. Setelah peristiwa kematian Kretasea, maka kini jumlah
organismepun masih meningkat lagi sehingga diperkirakan jumlah organisme
sudah dua kali lipat dari pada keadaan sebelum peristiwa kematian Permian.
Dari peristiwa yang menyebabkan kematian tersebut di atas ada sejumlah
teori yang dikemukakan para ahli, dan kemungkinan besar beberapa teori
dapat bekerja secara simultan atau merupakan akibat dari kemungkinan
terdahulu.

a) Teori Pergerakan Benua dan Terbentuknya Pangea

Akibat bergeraknya benua, maka jumlah panjang pantai menjadi


sangat pendek dibandingkan dengan keadaan apabila bumi terdiri dari
banyak benua. Hal ini menyebabkan sejumlah besar organisme laut yang
hidup di air dangkal akan punah. Selain itu konsekuensi yang juga timbul
adalah adanya satu daratan menyebabkan timbulnya perubahan cuaca
yang drastis. Sebagai contoh, semua daratan diberbagai benua (Afrika,
Asia, dan Amerika Utara) akan memiliki daerah gurun. Daratan yang
luas dan datar menyebabkan daerah tengah tidak mendapat cukup air
hujan, karena hujan sudah turun di daerah yang tidak terlalu jauh dari
pantai. Akibat timbulnya gurun yang besar, maka sebagian besar ikan
akan menjadi berubah, kering. Sebagian besar organisme daratan dan air
akan punah.

b) Teori Vulkanisme

Mengingat contoh vulkanisme akan menimbulkan perubahan yang


besar untuk suatu daerah. Letusan suatu gunung berapi dapat berlangsung
berbulan-bulan dan akibatnya paling tidak mempengaruhi sebagian muka
bumi. Di indonesia kita mengenal beberapa kepunahan yang sangat besar
dan garis tengahnya lebih dari 20 km, misalnya Danau Toba, Danau
Tondano, dan Daerah Dieng. Diperkirakan bahwa letusan gunung
tersebut beberapa ratus kali lebih dahsyat daripada letusan Gunung
Krakatau. Akibat gunug krakatau saja, banjir besar menimpa daerah
Negri Belanda yang berjarak puluhan ribu kilometer. Apabila ada
sejumlah besar gunung berapi sebesar gunung Krakatau atau Tambora
meletus, maka akan timbul kegelapan selama berbulan-bulan. Hal ini
akan menyebabkan perubahan cuaca yang sangat drastis. Pengaruh
letusan Gunung Galunggung saja telah hampir memusnahkan beberapa
spesies di Jawa Di Pangandaran, jumlah banteng tinggal tiga ekor dari 35
ekor sebelumnya. Menurut hasil visum, kebanyakan banteng mati karena
ada deposit debu vulkanis di paru-paru, dan sejumlah besar abu vulkanis
di dalam lambung yang tidak dapat dikeluarkan dengan feces, mungkin
karena terlalu berat.

c) Teori Meteorit atau Supernova

Memorit berukuran sangat besar yang menabrak bumi akan


menyebabkan perubahan iklim global, selain menimbulkan gempa bumi,
akan memberikan akibat yang serupa dengan letusan gunung berapi,
yang berarti perubahan cuaca. Ledakan supernova (bintang raksasa) di
luar angkasa akan menyebarkan debu bintang yang mungkin
menimbulkan kegelapan. Debu bintang dapat pula mempengaruhi
magnetik bumi. Apabila kutub magnetik bumi berubah, maka akan
terjadi gempa bumi, karena poros bumi mengalami perubahan. Menurut
penelitian, kutub magnetik bumi memang sudah tidak tapat dari yang
diperhitungkan dahulu. Selain itu meteorit atau supernova dapat
membawa suatu unsur seperti lagam berat (misalnya iridium) yang
beracun bagi kehidupan di muka bumi.

d) Teori Glasiasi

Turunnya hujan salju selam 1 minggu di Kota Roma menjadi berita


utama di tahun 1987. Hal ini disebabkan karena Kota Roma tidak setiap
tahun kedatangan salju. Biasanya hujan salju yang turun disana hanya
sepuluh tahun sekali. Pada tahun 1987, salju menumpuk sampai hampir 2
meter, lalu lintas terputus, listrik mengalami banyak gangguan.
Akibatnya puluhan orang meninggal dunia karena kedinginan dan
kelaparan. Gambaran peristiwa diatas dapat terjadi lebih parah lagi di
masa lalu. Apabila hal itu terjadi di kota, bagaimana pula keadaannya di
alam terbuka. Banyak satwa yang mati, dan tanaman yang hancur.
Adanya zaman es menyebabkan cuaca bumi menurun secara drastis dan
menimbulkan kematian masal bagi organisme yang tidak teradaptasi.
Menurunnya suhu bumi sebanyak satu derajat saja sudah dapat
memperluas lingkaran kutub menjadi beberapa puluh ribu km2, dan hal
ini menyebabkan kematian organisme daerah tersebut.

e) Teori Adanya Air Bah


Air merupakan penyebab kepunahan yang paling umum dijumpai.
Hujan yang turun empat sam pai lima hari sudah menimbulkan banjir,
tanah longsor dan kerusakan tempat penghunian, ladang dan hewan
ternak. Akibat hujan beberapa hari saja sudah dapat menaikkan air
sampai beberapa meter dan di daerah muara dapat sampai belasan meter.
Akibatnya seperti yang dapat kita lihat di Bangladesh. Banyak ternak
yang mati, tanaman pangan rusak total. Apabila hal ini berlangsung
beberapa minggu saja, maka seluruh daerah akan mati, meninggalkan
pohon-pohon yang besar saja. Sesudah banjir biasanya penyakit
mewabah, sehingga apa yang tertinggal ikut mati pula apabila tidak
ditangani. Akibat glasiasi berakhir, maka seluruh daratan Sunda dan
daratan Sahul terendam air, meninggalkan daerah dataran tinggi saja dan
menjadikan Indonesia berbentuk kepulauan. Banyaknya organisme yang
punah tidak dapat diperkirakan.

f) Teori Epidemi atau Pandemi

Kematian masal suatu organisme misalnya setelah glasiasi atau


banjir selain memusnahkan organisme yang terdapat di daerah tersebut,
juga akan menimbulkan penyakit lainnya. Ada proses pembusukan
besar-besaran, dan penyakit berkembang dengan pesat karena sanitasi
yang buruk. Akibatnya banyak organisme lain yang ikut mati karena
jumlah mikroba pembusukan meningkat dan menimbulkan infeksi pada
organisme yang hidup di sekitarnya.

h) Teori Radiasi Ultra Violet dan Lubang Ozon

Lubang ozon menimbulkan mutasi pada organisme karena


kemampuannya menembus sel dan memotong-motong DNA. Rusaknya
DNA umumnya menyebabkan organisme yang dikenai sinar ultraviolet
mengalami mutasi yang kemungkinan besar merugikan sehingga punah.
Dengan adanya lubang ozon, maka suhu muka bumi akan naik dan
contoh pada masa kini adalah banyaknya organisme yang punah akibat
naiknya temperatur muka bumi.
i) Teori Berkembangnya Mamalia Kecil Setelah Perubahan Temperatur
Global

Mamalia kecil diperkirakan mulai berkembang di muka bumi tidak


lam setelah kemunculan Reptilia. Sebelumnya, Mamalia tertekan
perkembangannya karena bersaing dengan Dinosaurus. Namun pada
waktu terjadi perubahan muka bumi, keberadaan Mamalia tidak banyak
terpengaruh, sebaliknya sebagian besar Dinosaurus punah.

j) Teori Campur Tangannya Manusia

Hal ini terutama berlaku untuk buaya, penyu dan kura-kura besar.
Penyebabknya adalah karena over harvesting dan over exploiting untuk
kesenangan atau ketamakan sekelompok orang dan rasa sekuriti
kelompok yang lain. Dari kesembilan penyebab utama yang disebutkan
di atas, maka hanya tiga penyebab utama (epidemi, Mamalia, dan
Manusia)yang tidak mempengaruhi perubahan temperatur muka bumi
secara umum, kecuali pada zaman modern.
BAB VIII

SPESIES & SPESIASI

8.1 Spesies

Spesies dalam bahasa latin berarti “jenis” atau “penampakan”. Spesies


merupakan unit dasar untuk memahami biodiversitas. Spesies adalah suatu
kelompok organisme yang hidup bersama di alam bebas, dapat mengadakan
perkawinan secara bebas, dan dapat menghasilkan anak yang fertil dan
bervitalitas sama dengan induknya.

Munculnya keanekaragaman konsep spesies ini dilatarbelakangi oleh dua


alasan mendasar. Alasan pertama adanya perbedaan pemahaman tentang
spesiasi yang merupakan proses munculnya suatu spesies baru. Karena
spesiasi bukan hanya menarik perhatian para ahli evolusi, tetapi juga telah
memikat perhatian dari berbagai disiplin bidang biologi lainnya seperti
morfologi, genetika, ekologi, fisiologi, paleontologi, biologi reproduksi, dan
biologi tingkah laku. Alasan kedua adalah karena spesies merupakan hasil
dari proses evolusi yang terus berjalan. Artinya bahwa konsep spesies yang
dibuat berdasarkan proses spesiasi yang masih sebagian berjalan akan
berbeda dengan konsep spesies yang dibuat ketika spesies itu benar-benar
sudah sampai pada akhirnya.

8.2 Spesiasi

Spesiasi adalah pembentukan spesies baru dan berbeda dari spesies


sebelumnya dalam kerangka evolusi. Spesiasi dapat berlangsung cepat, dapat
pula berlangsung lama hingga puluhan juta tahun. Setiap populasi terdiri atas
kumpulan individu sejenis (satu spesies) dan menempati suatu lokasi yang
sama. Karena suatu sebab, populasi dapat terpisah dan masing-masing
mengembangkan adaptasinya sesuai dengan lingkungan baru. Adapun proses
spesiasi ini dapat berlangsung secara cepat atau lama hingga berjuta-juta
tahun.
a. Peran Isolasi Geografi, Mayoritas para ahli biologi berpandangan bahwa
faktor awal dalam proses spesiasi adalah pemisahan geografis, karena
selama populasi dari spesies yang sama masih dalam hubungan langsung
maupun tidak langsung gene flow masih dapat terjadi, meskipun berbagai
populasi di dalam sistem dapat menyimpang di dalam beberapa sifat
sehingga menyebabkan variasi intraspesies. Hal serupa juga
dikemukakan oleh Campbell dkk (2003) bahwa proses-proses geologis
dapat memisahkan suatu populasi menjadi dua atau lebih terisolasi. Suatu
daerah pegunungan bisa muncul dan secara perlahan-lahan memisahkan
populasi organisme yang hanya dapat menempati dataran rendah; atau
suatu danau besar bisa surut sampai terbentuk beberapa danau yang lebih
kecil dengan populasi yang sekarang menjadi terisolasi. Jika populasi
yang semula kontinyu dipisahkan oleh geografis sehingga terbentuk
hambatan bagi penyebaran spesies, maka populasi yang demikian tidak
akan lagi bertukar susunan gennya dan evolusinya berlangsung secara
sendiri-sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, kedua populasi
tersebut akan makin berbeda sebab masing-masing menjalani
evolusi dengan caranya masing-masing

b. Peran Isolasi Reproduksi, Mekanisme isolasi intrinsik yang mungkin


dapat timbul yaitu isolasi sebelum perkawinan dan isolasi sesudah
perkawinan. Isolasi Sebelum Perkawinan (Pre-mating
isolation/prezygotic barrier), menghalangi perkawinan antara spesies atau
merintangi pembuahan telur jika anggota-anggota spesies yang berbeda
berusaha untuk saling mengawini. Isolasi ini terdiri dari: Isolasi Ekologi
(ecological), Isolasi Tingkah laku (Behavioral), Isolasi Sementara
(temporal), Isolasi Mekanik (mechanical) dan Isolasi Gametis (gametic).
Isolasi Setelah Perkawinan (Post-mating isolation/Postzigotic barrier),
terjadi jika sel sperma dari satu spesies membuahi ovum dari spesies
yang lain, maka barier postzigot akan mencegah zigot hibrida itu untuk
berkembang menjadi organisme dewasa yang bertahan hidup dan fertil.
Mekanisme ini dapat terjadi melalui: Kematian zigot (zygotic mortality),
Perusakan hibrid (hybrid breakdown) dan Sterilitas hibrid.
Spesiasi pada tingkat populasi terdiri dari beberapa model yaitu spesiasi
allopatrik simpatrik, spesiasi parapatrik (semigeografi), dan spesiasi
simpatrik.

1. Spesiasi Alopatrik (Allopatric Speciation)

Terjadinya spesiasi alopatrik banyak dibuktikan melalui studi


variasi geografi. Spesies yang beranekaragam secara geografis dari
seluruh karakter dapat menghalangi pertukaran gen antara spesies
simpatrik. Populasi yang terpisah secara geografis dapat terisolasi
oleh kemandulan atau perbedaan perilaku dibandingkan dengan
populasi yang berdekatan. Populasi yang terisolasi mungkin tidak
dapat melakukan interbreeding jika mereka bertemu, karena
bentuknya sangat menyimpang (divergent) dan kemudian masuk ke
dalam simpatrik tetapi tidak terjadi interbreeding. Spesiasi alopatrik
merupakan mekanisme isolasi yang terjadi secara gradual.Contoh
spesiasi alopatrik adalah pembentukan spesies burung finch di
Kepulauan Galapagos yang dikemukakan oleh Darwin. Menurut
Darwin dalam Stearns and Hoekstra (2003) bahwa burung finch
berasal dari satu nenek moyang burung yang sama.

2. Spesiasi parapatrik/ Semi geografik

Spesiasi Parapatrik merupakan spesiasi yang terjadi karena adanya


variasi frekuensi kawin dalam suatu populasi yang menempati wilayah
yang sama. Pada model ini, spesies induk tinggal di habitat yang kontinu
tanpa ada isolasi geografi. Spesies baru terbentuk dari populasi yang
berdekatan. Suatu populasi yang berada di dalam wilayah tertentu harus
berusaha untuk beradaptasi dengan baik untuk menjamin kelangsungan
hidupnya, dan usaha itu dimulai dengan memperluas daerah ke daerah
lain yang masih berdekatan dengan daerah asalnya. Apabila di area yang
baru ini terjadi seleksi, maka perubahan gen akan terakumulasi dan dua
populasi akan berubah menjadi teradaptasikan dengan lingkungan
barunya. Jika kemudian mereka berubah menjadi spesies lain (spesies
yang berbeda), maka perbatasan ini akan diakui sebagai zona hibrid.
Dengan demikian, dua populasi tersebut akan terpisah, namun secara
geografis letaknya berdekatan sepanjang gradient lingkungan.

Contoh dari spesiasi parapatrik adalah spesiasi pada rumput jenis


Anthoxanthum odoratum. Model lain spesiasi parapatrik adalah model
spesiasi stasipatrik dari White. White mengamati belalang tanpa sayap,
suatu populasi dengan rentang spesies yang luas berbeda dalam
konfigurasi kromosomnya. White mengusulkan bahwa suatu aberasi
kromosom–mekanisme isolasi parsial-muncul dalam suatu populasi dan
memperluas cakupan/rentangannya membentuk suatu ever-expanding
zona bastar. Tetapi suatu mutasi chromosom yang menurunkan tingkat
kesuburan cukup untuk mempertimbangkan bahwa isolas reproduksi
tidak dapat meningkatkan frekuensi kecuali oleh genetic drift di dalam
populasi yang sangat terbatas atau kecil, tetapi akhirya model spasipatrik
tidak dapat diterima secara luas.

3. Spesiasi Simpatrik

Menurut Campbell, dkk (2003) dalam spesiasi simpatrik, spesies


baru muncul di dalam lingkungan hidup populasi tetua; isolasi genetik
berkembang dengan berbagai cara, tanpa adanya isolasi geografis. Model
spesiasi simpatrik meliputi spesiasi gradual dan spontan. Sebagian besar
model spesiasi simpatrik masih dalam kontroversi, kecuali pada model
spesiasi spontan dan spesiasi poliploidi yang terjadi pada tumbuhan.

Hugo de Vries menyatakan bahwa spesiasi simpatrik dengan


autopoliploidi yang terjadi pada tumbuhan bunga primrose (Oenothera
lamarckiana) yang merupakan suatu spesies diploid dengan 14
kromosom. Di mana suatu saat muncul varian baru yang tidak biasanya
diantara tumbuhan itu dan bersifat tetraploid dengan 28 kromosom.
Selanjutnya bahwa tumbuhan itu tidak mampu kawin dengan bunga
mawar diploid, spesies baru itu kemudian dinamai Oenothera gigas.
BAB IX

FILOGENI

Filogenetik merupakan kajian mengenai hubungan evolusi diantara


organisme atau gen dari unit taksonomi, yang dipelajari menggunakan
kombinasi antara biologi molekuler dan teknik statistik. Dasar klasifikasi
yang digunakan dalam sistem filogenetik adalah persamaan dan perbedaan
sifat anatomi dan morfologi. Sistem tersebut mencerminkan urutan
perkembangan serta jauh dekatnya kekerabatan antartakson, selain
mencerminkan persamaan dan perbedaan sifat morfologi dan anatomi.

Terdapat dua metode pendekatan analisis dalam ilmu sistematika


filogenetik yaitu fenetik dan kladistik. Filogenetik pemisahan ke dalam
hubungan evolusioner (clades), berdasarkan perbandingan genom
kemungkinan akan menggantikan phenotypical (phenetic) taksonomi dari
prokariota. Pengelompokan organisme terdiri dari:

1) Phenetic sistem yaitu pengelompokan organisme berdasarkan


kesamaan saling fenotipik (fisik dan kimia) karakteristik.
Pengelompokan Phenetic mungkin atau tidak mungkin berkorelasi
dengan hubungan evolusi.

2) Filogenetik sistem yaitu pengelompokan organisme didasarkan pada


kesamaan warisan evolusi. Teknik sekuensing DNA dan RNA
dianggap memberikan filogeni paling berarti.

Pengelompokan spesies ke dalam taksa terdiri dari Monofiletik yaitu jika


nenek moyang tunggalnya hanya menghasilkan semua spesies turunan dalam
takson tersebut dan bukan spesies pada takson lain. Contoh tumbuhan
berbunga atau Spermatophyta adalah kelompok terbesar tumbuhan yang
hidup di data-data molekular, mendapati bahwa monokotil merupakan
kelompok monofiletik. Tumbuhan paku (atau paku-pakuan, Pteridophyta atau
Filicophyta), adalah satu divisio dengan empat kelas monofiletik:
Psilotopsida, mencakup Ophioglossales. Polifiletik yaitu jika anggotanya
diturunkan dari dua atau lebih bentuk nenek moyang yang tidak sama bagi
semua anggotanya. Parafiletik yaitu jika takson itu tidak meliputi spesies
yang memiliki nenek moyang yang sama yang menurunkan spesies yang
termasuk dalam takson tersebut.

Pada awalnya para ilmuwan melakukan pelacakan filogeni dalam bentuk


catatan fosil (fossil record) dengan karakteristik morfologi. Namun, seiring
dengan perkembangan teknologi pelacakan filogenetik dapat dilakukan
dengan teknik pemeriksaan molekul (mollecular marker).

a. Pelacakan filogeni dengan catatan fosil dan karakteristik morfologi

Catatan fosil merupakan susunan teratur di mana fosil


mengendap dalam lapisan, atau strata, pada batuan sedimen yang
menandai berlalunya waktu geologis. Para ahli paleontology
mengumpulkan dan menterpretasikan fosil tersebut untuk
menentukan umurnya dan konstribusinya dalam filogeni (Campbell
dkk., 2003). Fosil terbentuk dari organisme mati yang terkubur
dalam sedimen. Bahan organik dari organisme mati, umumnya
terurai dengan cepat. Namun bagian yang keras dan kaya akan
mineral seperti cangkang vertebrata dan protista bisa tetap bertahan
sebagai fosil. Para ahli juga banyak menemukan bentuk perilaku
yang terfosilisasi, seperti fosil jejak kaki, dan sarang lubang hewan.
Selain itu, organisme yang mati pada tempat di mana bakteri dan
jamur tidak dapat menguraikannya, maka tubuhnya bisa terawetkan
membentuk fosil. Contohnya, fosil kalajengking yang terjerat dalam
resin dan berumur 30 juta tahun. Penemuan-penemuan fosil sedimen
di atas, selanjutnya dijadikan dasar oleh para ilmuwan untuk
merekonstruksi sejarah kehidupan.

Namun demikian, dalam ketidaklengkapannya catatan fosil tetap


merupakan suatu dokumen yang detail mengenai filogeni dan
mencakup waktu geologis yang begitu panjang. Urutan strata
sedimen merekam urutan perubahan biologis, dan metode penentuan
umur memberikan perkiraan masa perjadinya perubahan itu. Dengan
demikian, yang terekam dalam batuan adalah kronologi perubahan
lingkungan yang berkaitan dengan perubahan-perubahan akibat
evolusi organisme. Contohnya, munculnya pulau-pulau vulkanik
seperti Galapagos membuka lingkungan baru bagi makhluk hidup
dan penyebaran adaptif untuk mengisi relung yang tersedia.

b. Pelacakan filogeni dengan teknik molecular marker

Dalam perspektif ini filogeni merupakan deskripsi hubungan gen,


protein atau spesies. Dalam filogeni diasumsikan objek yang diteliti
berhubungan melalui evolusi. Pohon filogeni digunakan untuk
menunjukkan hubungan evolusi antar organisme. Analisis filigenetik ini
memerlukan data yang tepat untuk menentukan pohon filogenetik yang
tepat. Data yang tepat untuk analisis filigenetik berupa (1) taxa, yaitu
kelompok organisme yang ingin diketahui hubungan evolusinya. (2)
karakter, yaitu daftar sifat organisme dan beberapa anggota kelompok
memiliki sifat yang berbeda (character states).

Molecular Phylogeny, yang menggunakan data molekuler untuk


menentukan hubungan antar spesies. Molecular phylogenetics bertujuan
menentukan kecepatan dan pola-pola perubahan yang terjadi pada DNA
dan protein dan merekonstruksi sejarah evolusi gen dan organisme.
Adapun data yang digunakan dapat berupa karakteristik yang bervariasi
seperti urutan/sekuens protein, hibridisasi DNA, frekuensi gen,
urutan/sekuens DNA, data imunologi, pola-pola restriksi.
BAB X

EVOLUSI SPERMATOPHYTA

Evolusi dalam istilah biologi berarti proses perubahan sifat-sifat yang


diwariskan dalam suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Sifat-sifat dasar dari evolusi dibawa oleh gen yang diwariskan
pada keturunan makhluk hidup. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen
oleh mutasi, transfer gen antar populasi atau antar spesies. Pada periode Pra
Kambium sebelum era Paleozoic, ketika lautan menyatu dengan daratan alga
hijau telah mengembangkan ciri-ciri yang memungkinkan bertahan hidup
dalam periode kekeringan. Berikut adalah periode periode evolusi tumbuhan.

a) Periode Cambrian, Fosil Yuknessia yaitu Makroalgae berdaun tipis


seperti daun palem hijau yang menyerupai rumput laut.

b) Periode Ordovician, Briophyta yaitu tumbuhan pertama yang


muncul.

c) Periode Silurian, Cooksonia sp adalah tumbuhan vaskular pertama.


Cooksonia sp disebut sebagai tumbuhan dengan syarat, yaitu
Mengandung klorofil a dan b, Kekurangan daya berpindah tempat
dengan cara pengkerutan serabutnya, Mempunyai tubuh yang
tersusun dari banyak sel yang berlainan untuk membentuk jaringan
dan organ, Mempunyai organ seks yang tersusun dari banyak sel
tambahan, dan Mempunyai embrio yang berkembang sebagian dan
dilindungi.

d) Periode Devonian, Tumbuhan berkembang dengan cepat dan lebih


dominasi tumbuhan pakis.

e) Periode Carboniferus, Munculnya Calamites sp Tumbuhan ini


menggunakan spora sebagai alat reproduksi di lingkungan yang
lembap.

f) Periode Permian, Pada periode ini tumbuhan paku-pakuan yang


dominan. Pada periode ini ditemukan banyak Autunia ,Marattia
(paku) dan Walchia ( konifer ).
Pada tumbuhan vaskuler, memilik tubuh yang berdiferensiasi menjadi
akar, batang, dan daun sejati. Berbagai fosil tumbuhan ditemukan pada masa
Silur dan Devon di lapisan sedimen . Tumbuhan ini menghasilkan fosil yang
sangat indah, hingga tampak susunan jaringan mikroskopiknya. Cooksonia
adalah fosil tumbuhan tertua yang ditemukan di lapisan Silur di Eropa dan
Amerika Utara. Pada tumbuhan vaskuler awal, yang dominan adalah tahap
sporofitnya, yang ditandai oleh adanya sporangia. Sporofit Cooksonia
memiliki fisik yang bercabang, Percabangan ini berfungsi untuk
meningkatkan jumlah sporangia dan spora yang dihasilkan oleh tubuh
tumbuhan, sehingga dapat lebih banyak menghasilkan keturunan.

a. Tumbuhan vaskuler tak berbiji. Filogeni tumbuhan vaskuler tak


berbiji. Cooksonia dan tumbuhan vaskuler tak berbiji, mempunyai
siklus hidup yang didominasi oleh generasi sporofit. Sedangkan
pada generasi gametofitnya sangat kecil dan berada di permukaan
tanah. Berkurangnya dominasi generasi gametofit merupakan bentuk
dari kecenderungan tumbuhan untuk beradaptasi dengan
kehidupan darat. Pada jenis tumbuhan paku-pakuan, terdapat dua
macam tumbuhan sporofit yaitu Paku homospora menghasilkan
spora yang sama bentuk dan ukurannya, sedangkan paku heterospora
menghasilkan dua jenis spora yaitu megaspora dan mikrospora.
Megaspora menghasilkan gametofit betina (arkegonium) sedangkan
mikrospora menghasilkan gametofit jantan (anteridium). Tumbuhan
vaskuler tak berbiji memiliki tiga macam divisi: 1) Divisi Lycophyta
(likofita), Paku likofita berevolusi pada masa Devon dan wilayah
daratan yang paling mendominasi selama masa Karbon. Pada masa
itu, divisi Lycophyta berevolusi menjadi dua kelompok yaitu:
Kelompok yang berevolusi menjadi pohon berkayu dan Kelompok
yang tetap yang memiliki ukuran kecil, dan berbentuk herba
(tak berkayu). 2) Divisi Sphenophyta (paku ekor kuda), Sphenophyta
dikenal sebagai paku ekor kuda (horse tail). Tumbuhan paku ekor
kuda termasuk ke dalam tumbuhan vaskuler primitif yang ada sejak
masa Devon dan mendominasi daratan. Paku ekor kuda yang masih
bertahan hingga masa ini adalah genus tunggal. 3) Divisi Pterophyta
(Pakis), Pterophyta sangat beranekaragam, Pterophyta dikenal juga
sebagai “pakis” dengan jumlah spesies lebih dari 12.000 spesies
yang hidup hingga sekarang.
BAB XI

EVOLUSI MANUSIA

11.1 Perkembangan Evolusi pada Manusia

Sebenarnya manusia bukan berasal dari kera, melainkan antara kera dan
manusia memiliki cikal bakal yang sama. Jika Anda melihat fenomena
tersebut, maka Anda dapat membayangkan proses evolusi berjalan secara
bertahap dalam waktu yang sangat lama. Sejarah manusia dimulai dari
primata cikal bakal kemudian dalam perkembangannya akan mengalami
perubahan dari generasi ke generasi sampai perkembangan yang lebih baik
seperti manusia zaman sekarang. Sejarah manusia yang berasal dari primata
cikal bakal adalah sebagai berikut.

1) Primata. Pada tahun 1871, Charles Darwin menerbitkan bukunya yang


berjudul The Descent Of Man yang berisi tentang asal usul manusia.
Pendapat Darwin tersebut didasarkan atas adanya hubungan kekerabatan
antara manusia dengan primata. Hubungan kekerabatan tersebut juga
dapat dilihat antara manusia (Hominidae) dan orang utan (Pongidae). Di
antara bentuk persamaan tersebut dapat Anda lihat struktur tubuhnya,
antara lain:

1. Mata menghadap ke depan

2. Memilki kelenjar susu yang terletak di dada

3. Memiliki struktur, jumlah, dan macam kerangka yang sama

4. Organ darah mempunyai susunan kimia yang sama

5. Bentuk rahim dengan tipe simpleks


Tabel 2.1 Perbedaan Antara Manusia (Hominidae) dan Orang Utan
(Pongidae)

Struktur Tubuh Manusia (Hominidae) Orang Utan (Pongidae)


Kedudukan Tepat di ujung tulang Sebelah depan ujung
tengkorak belakang tulang belakang
Rahang Berbentuk seperti huruf V Berbentuk seperti huruf U
Gigi Ukuran dan tinggi sama Ukuran dan tinggi tidak
sama
Tulang belakang Tegak dan kuat Bengkok
Tangan Lebih pendek dari kaki Lebih panjang dari kaki
Kaki Untuk berjalan Untuk berjalan dan
memegang
Ibu jari kaki Tidak dapat bergerak Dapat bergerak bebas
bebas
Pelvis Lebar dan kuat Sempit dan memanjang

2) Manusia purba. Fosil manusia purba ditemukan di berbagai tempat.


Penemuan tersebut dapat menunjukkan suatu perbandingan dan
mengetahui perkembangan evolusi yang terjadi. Di antara penemuan
yang ada adalah sebagai berikut.

a. Manusia kera Afrika Selatan. Beberapa fosil manusia kera dari Afrika
Selatan ditemukan oleh Raymond Dart (1829 – 1924). Beberapa
penemuan tersebut antara lain Australopithecus africanus, Paranthropus
robustus, Plesianthropus transvelensis. Menurut Raymond Dart, manusia
kera Afrika Selatan memiliki karakteristik antara lain, dapat berdiri tegak
dan berjalan dengan dua kaki; memiliki tinggi badan kurang lebih 1,5
meter; memiliki volume otak hanya sekitar 450 – 600 cm3; habitat hidup
di tempat terbuka.
b. Manusia kera Afrika timur. Fosil ini ditemukan oleh Leakey dan diberi
nama Australopithecus boisai yang memiliki ciri-ciri antara lain berbadan
lebih kekar, gigi, dan tulang rahang lebih kuat. Penemuan lain adalah
jenis Australopithecus habilis yang memiliki ciri-ciri antara lain:
memiliki volume otak yang lebih besar dibandingkan manusia kera
Afrika yang lain yaitu ± 650 cm3, sehingga intelegensinya lebih tinggi;
sudah menggunakan alat bantu untuk memotong dari batu.

c. Manusia Jawa. Fosil manusia Jawa ditemukan oleh Eugene Dubois, yang
merupakan ahli anatomi dan geologi dari Belanda. E. Dubois
menemukan fosil tersebut di daerah Trinil, Jawa Timur pada tahun 1894.
Pada tempat yang berbeda ditemukan pula manusia Jawa jenis lain.
Penemuan ini dilakukan oleh C.R. Von Koenigswald di daerah
Mojokerto dan Sangiran. Hasil penemuan Koenigswald tersebut diberi
nama Pithecanthropus erectus. Manusia Jawa yang ditemukan tersebut
memiliki ciri-ciri antara lain: dapat berdiri dan berjalan dengan dua kaki;
memiliki volume otak kurang lebih 770 – 1000 cm3; dapat
berkomunikasi dengan berbicara; dapat membuat alat berburu dan
menggunakan api; hidup kurang lebih 500.000 s.d. 300.000 tahun yang
lalu.

d. Manusia Peking. Penemuan fosil manusia purba dilakukan oleh


Davidson Black (Canada) dan Franz Weiden Reich (Amerika) pada
tahun 1920. Penemuan manusia purba tersebut berada di Gua Kapur,
Peking. Hasil penemuan tersebut diberi nama Sinanthropus pekinensis.
Ciri-ciri manusia Peking tersebut antara lain: memiliki volume otak yang
agak besar yaitu kurang lebih 900–1200 cm3; diperkirakan hidup sekitar
500.000 tahun yang lalu; mampu menggunakan senjata dan perkakas dari
tulang dan batu; sudah menggunakan api; mempunyai kebudayaan yang
lebih maju.

e. Homo Sapiens. Penemuan Homo sapiens oleh Eugene Dubois yaitu


Homo wajakensis yang ditemukan di desa Wajak, Jawa Timur pada
tahun 1889. Spesies ini diperkirakan hidup kurang lebih 40.000 tahun.
f. Homo Erectus dijuluki “Manusia Tegak” yang diperkirakan hidup 1.9
juta tahun lalu. perkembangan Homo Erectus dalam berevolusi menyebar
hingga bagian dunia: Georgia, India, Sri Lanka, Cina dan Jawa. khusus di
Indonesia, penyebaran Erectus sampai ke Jawa tengah dan timur dan
situs penggalian pernah ditemukan didaerah Sangiran dan Trinil.
Penyebaran sukses itu membuat Erectus didaulat sebagai Homo pertama
keluar dari Afrika. dari sini nantinya mulai menciptakan manusia yang
berbeda-beda. contoh kalo di Eropa dingin membuat kulit jadi sedikit
putih, rambut tebal,dll cuaca juga mempegaruhi. Oleh sebab itu Erectus
berhasil mengantarkan menuju ke manusia baru, bisa berkembang ke
berbagai jenis. meskipun teori ini terus diperdebatkan, dugaan Erectus
sebagai awal “Evolusi Manusia”. untungnya si bapak Evolusi
mendukung teori ini bahwa: manusia paling awal ya dari Afrika, bukti
Simpanse dan Gorila hanya hidup di Afrika. Semakin maju manusianya,
semakin maju Teknologinya. mau itu jaman sekarang ato dulu sama aja
toh. buktinya Erectus sebagai manusia pertama yang menggunakan rakit
jalan dilaut. Layaknya manusia Erectus bisa berkomunikasi dengan satu
sama lainnya (mirip dengan Ergaster). bahasa mereka mang tidak jelas
tapi bisa dikembangkan jadi bahasa yang dimengerti sama lainnya. Homo
Erectus juga hidup berkelompok dan tinggal dalam goa-goa.
kebersamaan yang mirip manusia moderen saat ini.

3) Manusia Modern. Manusia modern memiliki ciri-ciri antara lain:


memiliki volume otak ± 1400 – 1500 cm3; memiliki tinggi badan ± 1,6
m; memiliki peradaban yang maju; mempunyai peralatan yang lebih baik;
suka berburu; sudah terdapat hubungan sosial dan upacara ritual;
diperkirakan hidup sekitar 100.000 – 40.000 tahun yang lalu.
BAB XII

EVOLUSI HEWAN

12.1 Evolusi pada Hewan Invertebrta

Dalam sistematika awal, binatang mencakup banyak organisme bersel


tunggal yang dikelompokkan sebagai Protozoa karena sifat heterotrof dan
bergerak aktif (motil). Pengelompokan ini terus dianut hingga pertengahan
abad ke-20 dan hingga sekarang masih dipakai untuk kepentingan praktis.
Ketika orang mulai menganggap bahwa organisme bersel satu tidak memiliki
organisasi jaringan, dibentuklah kelompok protista yang menghimpun semua
organisme sederhana yang berperilaku mirip binatang (bergerak, heterotrof).

Perkembangan biologi sejak separuh akhir abad ke-20 telah


menunjukkan bahwa banyak organisme bersel satu tidak dapat lagi
dipertahankan sebagai binatang. Ke dalam "binatang" dimasukkan semua
organisme bersel banyak yang sel spermanya memiliki kesamaan struktur
dengan koanosit, suatu sel generatif primitif. Selain itu, penerapan konsep
evolusi dan kladistik telah mengubah banyak organisasi sistematika hewan.
Proses reklasifikasi ini sampai sekarang masih terus berjalan.

Menurut para ahli, terbentuknya hewan-hewan di muka bumi ini dimulai


dari zigot bersel satu yang mengalami pembelahan sel dan sel tersebut akan
bertambah banyak yang terbentuk menyerupai bola. Bentuk seperti bola
tersebut akan mengalami perkembangan, yaitu akan melekuk ke dalam
sehingga akan terbentuk dua lapisan, yaitu ektoderm (lapisan luar) dan
endoderm (lapisan dalam). Ektoderm dalam masa perkembangannya
membentuk bagian-bagian tubuh tertentu, yaitu epidermis, kulit, dan sistem
saraf, sedangkan lapisan endoderm akan berkembang menjadi sistem
pencernaan dan kelenjarnya. Ada beberapa hewan yang berkembang pada
tingkat kedua lapisan ini yang dinamakan diplobastik. Adapun yang termasuk
golongan hewan ini adalah Porifera dan Coelenterata. Di antara kedua lapisan,
yaitu ektoderm dan endoderm akan berkembang dan terbentuk lapisan
mesoderm. Lapisan mesoderm akan berkembang membentuk bagian tubuh
yang menjadi otot, sistem reproduksi, sistem sirkulasi, dan sistem ekskresi.
Golongan hewan yang berkembang pada ketiga tingkat lapisan ini dinamakan
triplobastik. Golongan hewan ini adalah Platyhelminthes dan
Nemathelminthes.

Dari hasil penelitian diketahui pada Platyhelminthes belum mempunyai


rongga tubuh, yaitu terlihat tubuhnya padat, tanpa rongga antara usus dan
tubuh terluar sehingga digolongkan sebagai triplobastik aselomata (selom =
rongga tubuh). Adapun pada Nemathelminthes mempunyai rongga tubuh
semu, yaitu mesoderm belum membentuk rongga yang sesungguhnya karena
tampak pada mesoderm belum terbagi menjadi lapisan dalam dan lapisan luar,
yang dinamakan dengan triplobastik pseudoselomata dan yang mempunyai
rongga tubuh dinamakan triplobastik selomata karena mesodermnya sudah
dipisahkan oleh rongga tubuh yang terbentuk menjadi dua lapisan, yaitu
dalam dan luar. Termasuk golongan hewan ini adalah Annelida sampai
Chordata.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa terbentuknya hewan dimulai


dari Protozoa kemudian Porifera, Coelenterata, sampai pada tingkat Mamalia.
Jadi, hewan tersebut mengalami perkembangan dari satu sel menjadi banyak
sel hingga terbentuk triplobastik aselomata, pseudoselomata, sampai selomata.
Hewan yang digolongkan dalam kelompok Avertebrata memiliki persamaan
ciri, yaitu tidak mempunyai ruas-ruas tulang belakang (vertebrae). Jika kita
amati, golongan hewan ini memiliki pola organisasi tubuh yang agak
sederhana, dibandingkan dengan kelompok hewan Vertebrata. Dengan dasar
inilah hewan-hewan ini dianggap primitif atau merupakan bentuk-bentuk
paling awal dari kehidupan yang telah mengalami sedikit perubahan.
(Wikipedia, 2012)

Pertumbuhan dan perkembangan hewan dimulai sejak terbentuknya zigot.


Satu sel zigot akan tumbuh dan berkembang dengan tahap
"zigot-morula-blastula-gastrula" hingga terbentuk embrio. Embrio akan
berdiferensi sehingga terbentuk berbagai macam jaringan dan organ.
Organ-organ akan menyatu dan bergabung menjadi organisme. Kemudian,
organisme tumbuh dan berkembang menjadi organisme dewasa. Pada siklus
hidup hewan tertentu, terjadi perubahan bentuk tubuh dari embrio sampai
dewasa. Perubahan bentuk ini disebut metamorfosis. Metamorfosis dapat
dibagi menjadi dua macam, yaitu metamorfosis sempurna dan tidak sempurna.
Metamorfosis sempurna dicirikan dengan adanya bentuk tubuh yang berbeda
di setiap fase metamorfosis, misalnya adalah kupu-kupu dan katak.
Metamorfosis tidak sempurna ditandai dengan adanya bentuk tubuh yang
sama, tetapi ukurannya berbeda pada salah satu fase metamorfosis, misalnya
adalah belalang dan kecoa.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan


hewan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: faktor internal dan eksternal. Faktor
internal meliputi gen dan hormon. Gen merupakan faktor keturunan yang
diwariskan dari orang tua (induk) kepada keturunannua, sedangkan hormon
merupakan senyawa organik yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan
hewan. Faktor eksternal meliputi air, nutrisi, cahaya, aktivitas, dan
lingkungan.

12.2 Evolusi pada Hewan Vertebrata

Bentuk evolusi pada hewan vertebrata seperti yang telah disebutkan


sebelumnya, salah satu filum yang muncul tiba-tiba pada jaman Kambrium
adalah Chordata , makhluk yang memiliki sistem saraf pusat yang terlindung
dalam suatu tengkorak dan notochord atau tulang belakang. Vertebrata adalah
satu bagian dari chordata. Vertebrata dibagi lagi menjadi beberapa kelas dasar
seperti ikan, amfibia, reptilia, burung, dan mamalia. Mereka mungkin adalah
makluk yang paling dominan dalam dunia hewan.

Hingga tahun 1999, pertanyaan apakah vertebrata (hewan bertulang


belakang) ada di Zaman Kambrium terbatas pada debat tentang Pikaia. Tetapi,
di tahun itu, sebuah penemuan mengejutkan memperdalam kebuntuan evolusi
mengenai Ledakan Kambrium: para ahli paleontologi Cina di fauna
Chengjiang menemukan fosil dari dua spesies ikan yang berumur sekitar 530
juta tahun, zaman yang disebut Kambrium Awal. Dengan demikian, jelaslah
bahwa bersama-sama dengan filum lain, subfilum vertebrata juga ada pada
Zaman Kambrium, tanpa moyang evolusi apa pun.
Chordata berevolusi dari phylum yang lain, yaitu invertebrata. Tetapi,
kenyataannya adalah, seperti semua filum, anggota Chordata yang muncul di
jaman Kambrium menyangkal pernyataan ini sejak awal. Anggota tertua
filum Chordata yang dapat dikenali dari jaman Kambrium adalah makhluk
laut yang disebut Pikaia , yang tubuh panjangnya, pada pandangan pertama,
mengingatkan kita pada cacing. Pikaia muncul pada saat yang bersamaan
dengan spesies lain dalam filum tersebut yang diajukan sebagai nenek
moyang mereka, dan tanpa bentuk peralihan di antara mereka. Profesor
Mustafa Kuru, seorang ahli biologi evolusi Turki, mengatakan dalam
bukunya Vertebrata, chordata telah berevolusi dari invertebrata. Akan tetapi,
ketiadaan bentuk peralihan antara invertebrata dan chordata mengakibatkan
orang mengajukan berbagai dugaan.

Ahli biologi evolusi terkadang menyatakan bahwa alasan mengapa tidak


ada rekaman fosil berkenaan dengan asal usul vertebrata adalah karena
invertebrata memiliki jaringan lunak dan karenanya tidak meninggalkan jejak
fosil. Akan tetapi penjelasan ini sungguh tidak realistis, karena terdapat
banyak sekali fosil invertebrata. Hampir semua organisme dalam Kala
Kambrium adalah invertebrata, dan puluhan ribu contoh fosil dari
spesies-spesies ini telah dikumpulkan. Sebagai contoh, terdapat banyak fosil
hewan berjaringan lunak di lapisan Burgess Shale Kanada. (Para ilmuwan
berpikir bahwa invertebrata menjadi fosil, dan jaringan lunak mereka tetap
utuh pada daerah semacam Burgess Shale, karena secara tiba-tiba tertutupi
oleh lumpur dengan kandungan oksigen sangat rendah.

Teori evolusi beranggapan bahwa Chordata pertama, seperti Pikaia,


berevolusi menjadi ikan. Akan tetapi, sama halnya dengan yang dianggap
sebagai evolusi Chordata , teori evolusi ikan juga kekurangan bukti fosil yang
mendukungnya. Sebaliknya, semua kelas yang berbeda dari ikan muncul
dalam rekaman fosil secara tiba-tiba dan dalam bentuk sempurna. Terdapat
jutaan fosil invertebrata dan jutaan fosil ikan; namun tidak satu fosil pun yang
merupakan peralihan antara mereka. Robert Carroll mengakui kebuntuan
evolusionis pada asal usul beberapa kelompok di antara vertebrata-vertebrata
awal.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell.dkk. 2003. Biologi Edisi ke Delapan Jilid ke Dua. Jakarta

Iskandar. Dr Djoko T. 2001. Catatan Kuliah Evolusi. Bandung. ITB

Tjitrsoepomo. Gembong. 2007. Taksonomi Tumbuhan (Spermatopyta).


Yogyakarta. Gadjah Mada University press

Anshori Moch. Martono Djoko. 2009. Buku sekolah elektronik Biologi 1.


Untuk Sekolah Menengah Atas (SMA).Madrasah Aliyah (MA ) Kelas X.
Jakarta. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

BIOL4317-M1.pdf

https://kelompok3atom.wordpress.com/2016/09/28/penentuan-skala-waktu-ge
ologi-bumi/amp/ diakses pada tanggal 23 mei 2018

Anonymous.2013.http://www.kolom-waktu-geologi.com.diakses pada
tanggal 23 mei 2018

http://trainnerone.blogspot.com/2011/03/kepunahan-dan-evolusi.html diakses
pada tanggal 26 mei 2018
http://shreepoedja.blogspot.com/2013/01/evolusi-dan-kemunculan-kepunahan
-jenis.html diakses pada tanggal 26 mei 2018
Wikipedia bahasa Indonesia. 2012. evolusi manusia. diakses pada tanggal 8
Mei 2018 pada situs http://www.wikipedia.org/wiki/manusia/html .
Wikipedia bahasa Indonesia. 2012. evolusi hewan. diakses pada tanggal 8 Mei
2018 pada situs http://www.wikipedia.org/wiki/Hewan/html .
https://www.perpusku.com/2017/01/teori-evolusi-pengertian-sejarah-dan-tok
oh-pencetusnya.html?m=15 diakses pada tanggal 27 mei 2018
http://biologimediacentre.com/evolusi-pemahaman-teori-dan-bukti-evolusi/di
akses pada tanggal 27 mei 2018
https://www.biologimu.com/2015/01/spesiasi.html?m=1 diakses pada tanggal
27 mei 2018
http://nurlainilaili.blogspot.co.id/2014/10/sistem-filogenetik-dan-fenetik.html
?m=1diakses pada tanggal 27 mei 2018
Muhamad. 2015. Makalah Evolusi Tumbuhan. [online]. tersedia:
http://gembalailmu.blogspot.co.id/2015/07/makalah-evolusi-tumbuhan.htmldi
akses 27 mei 2018