Anda di halaman 1dari 21

ETIKA BISNIS DAN PROFESI

LINGKUNGAN ETIKA DAN BISNIS

DOSEN PEMBIMBING
Dr. Elvira Luthan, M.Si., Akt.
Dr. Rahmat Febrianto, M.Si., Akt.

Disusun Oleh :
KELOMPOK 1
Yafez Rahmentio 1820532023

Kori Nofianti 1820532031

Defriko Gusma Putra 1820532033

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS
2018
BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Dalam hakikatnya setiap sesuatu yang berada dibumi ini saling ketergantungan satu
sama lain, hal ini tidak bisa dihindari maupun dielakan. sama halnya dalam dunia bisnis,
dalam dunia bisnis tidak bisa berjalan tampa adanya peranan masayarakat yang ikut serta
menjalankan sistem dalam ruanglingkup bisnis itu sendiri, dikarenakan peranan binis
terhadap masyarat yang sagat saling berkaitan, disini binis sagatlah menopang kelangsungan
hidup dalam msayarakat, karena didalam ruanglingkup bisnis sendiri terdapat banyak hal
peranan-peranan ekonomi yang terdapat didalamnya, yang tentu saja dalam msayarakat
sebuah ekonomi sagat diperlukan dalam kelangsungan hidup. Dapat dikatakan bahwa antara
bisnis dan masyarakat perananya saling ketergantungan satu sama lain, dan mempunya ikatan
emosonal yang cukup erat dan saling bersinambung satu sama lainya.

Dalam ruang lingkung bisnis etika dapat mempengaruhi berbagai ruanglingkup, ruang
lingkup lingkungan makro dan lingkungan mikro. Lingkungan makro yang dapat
mempengaruhi kebiasaan yang tidak etis yaitu bribery, coercion, deception, theft, unfair dan
discrimination. Maka dari itu dalam perspektif mikro, bisnis harus percaya bahwa dalam
berhubungan dengan supplier atau vendor, pelanggan dan tenaga kerja atau karyawan. ”Etika
bisnis merupakan pola bisnis yang tidak hanya peduli pada profitabilitasnya saja, akan tapi
juga memerhatikan kepentingan stakeholder-nya. Etika bisnis tidak bisa terlepas dari etika
personal, keberadaan mereka merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan maupun tidak
terpisahkan dan keberadaannya saling melengkapi. Etika bisnis sesorang merupakan
perpanjangan moda-moda tingkah lakunya atau tindakan-tindakan konstan, yang membentuk
keseluruhan citra diri atau akhlak orang itu. Etika bisnis merupakan salah satu bagian dari
prinsip etika yang diterapkan dalam dunia bisnis. Istilah etika bisnis mengandung pengertian
bahwa etika bisnis merupakan sebuah rentang aplikasi etika yang khusus mempelajari
tindakan yang diambil oleh bisnis dan pelaku bisnis.

Dalam dunia bisnis dituntut untuk peduli dengan keadaan lingkungan masyarakat,
bukan hanya dalam konteks bentuk “uang” dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan
lebih hal yang kompleks . Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku
bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus
menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan
ini untuk meraup keuntungan semata yang berlipat ganda. Akan tetapi, dalam keadaan excess
demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung
jawab maupum memberikan konstribusi terhadap lingkungan masyarakat sekitarnya.
Tanggung jawab sosial bisa dalam bentuk kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya,
terutama dalam hal pendidikan, kesehatan, pemberian latihan keterampilan, dll.

Adanya tuntutan atau harapan lingkungan terhadap perilaku bisnis menjadi salah satu
latar belakang utama adanya etika dalam lingkungan bisnis.

b. Rumusan Masalah
Berdasarkan Tujuan mata kuliah Etika Bisnis dan Profesi, masalah yang dibahas adalah
mengenai Etika dan Lingkungan Etika. Dengan pokok bahasan lebih spesifi yaitu:

a. Etika, Lingkungan untuk Bisnis : Pertarungan Kredibilitas, Reputasi, dan Keunggulan


Kompetitif
b. Harapan Baru untuk Bisnis
c. Tanggapan dan Perkembangan

c. Tujuan Penulisan

a) Untuk Menjelaskan tentang Etika, Lingkungan untuk Bisnis : Pertarungan


Kredibilitas, Reputasi, dan Keunggulan Kompetitif
b) Untuk Menjelaskan tentang Harapan Baru untuk Bisnis
c) Untuk Menjelaskan tentang Tanggapan dan Perkembangan
BAB II
PEMBAHASAN
Harapan Etika

Bisnis dan profesi berfungsi dalam sebuah kerangka yang diciptakan oleh mantan
pectations masyarakat Enron dan Arthur Andersen dan WorldCom yang memiliki masalah
yang baru untuk memicu perubahan baru untuk bisnis pemerintahan dan profesi akuntansi di
seluruh dunia. Permasalahan ini bertujuan memperbaiki kegagalan subprime dan Madoff
Ponzi yang skemanya telah memperkuat kebutuhan untuk standar baru dan telah mendorong
harapan ke tingkat yang lebih tinggi. Oleh karena itu tidak heran jika harapan perilaku terbaru
yang didasarkan pada percepatan bisnis dan etika menjadi tren yang profesional yang sudah
lama. Akibatnya bisnis dan profesional etika telah menjadi penentu utama keberhasilan
perusahaan dan pribadi, dan titik fokus penelitian dan perubahan perusahaan.

Bab ini mengeksplorasi perubahan tren etika dalam sebuah kerangka harapan, serta
perkembangan yang muncul dalam menanggapi perubahan yang terjadi. Hal ini juga mulai
mempertimbangkan apa perubahan harapan yang berarti bagi akuntan profesional.

A. Etika Lingkungan untuk Bisnis : Pertarungan Kredibilitas, Reputasi, dan


Keunggulan Kompetitif

Selama 30 tahun terakhir, telah ada sebuah harapan yang meningkat bahwa bisnis untuk
melayani kebutuhan para pemegang saham dan masyarakat. Banyak orang memiliki saham
atau kepentingan dalam bisnis, kegiatan bisnis, dan dampak yang terjadi dalam berbisnis. Jika
kepentingan stakeholder ini tidak dipenuhi, maka tindakan yang menyedihkan terjadi kepada
para pemegang saham, staf dan direktur. Bahkan, bisnis atau profesi tidak dapat mencapai
tujuan yang strategis jangka panjang mereka tanpa dukungan dari stakeholder utama, seperti
pemegang saham, karyawan, pelanggan, kreditur, pemasok, pemerintah-pemerintah,
masyarakat lokal, dan aktivis.

Dukungan untuk usaha dan bisnis pada umumnya tergantung pada kredibilitas
stakeholder pada tempat pengambilan keputusan perusahaan, reputasi perusahaan, dan
kekuatan keunggulan yang kompetitif. Semua ini tergantung pada kepercayaan yang
stakeholder berikan dalam kegiatan perusahaan. kepercayaan dari stakeholder tergantung
pada nilai-nilai yang mendasari kegiatan perusahaan.
Hasilnya, tata kelola dan akuntabilitas sebuah organisasi yang muncul untuk bisnis dan
profesi telah menjadi jauh lebih peduli dengan kepentingan stakeholder dan hal-hal yang
beretika dari pada masa lalu. Direksi, eksekutif, dan akuntan profesional, yang melayani
kepentingan sering bertentangan pemegang saham secara langsung dan masyarakat secara
tidak langsung, harus menyadari keinginan masyarakat untuk harapan baru untuk bisnis dan
organisasi sejenisnya, dan harus mengelola risiko mereka yang sesuai. Atau lebih dari
sekedar untuk melayani keingintahuan para intelektual, kesadaran ini harus dikombinasikan
dengan nilai-nilai tradisional dan dimasukkan ke dalam kerangka kerja untuk pengambilan
keputusan yang beretika. Jika tidak, maka akan terjadi permasalahan seperti Enron dan
debacles tentang pinjaman subprime, maka kredibilitas, reputasi, dan keunggulan kompetitif
dari pasar modal, organisasi, manajemen, profesional, dan profesi akan menderita.

Faktor yang mempengaruhi harapan publik untuk perilaku bisnis

Fisik Kualitas udara dan air, keselamatan


Moral Keinginan untuk keadilan dan kesetaraan dirumah dan di
luar negeri
Penilaian yang buruk Kesalahan operasi, kompensasi eksekutif
Aktivis pemangku kepentingan Etika investor, konsumen, ahli lingkungan hidup
Ekonomi Kelemahan, tekanan untuk bertahan hidup,
untuk memalsukan
Persaingan Tekanan Global
Penyimpangan Keuangan Banyak skandal, korban, keserakahan
Kegagalan tata keloa Pengakuan bahwa tata kelola dan penelitian risiko etika
merupakan suatu hal yang penting
Akuntabilitas Keinginan untuk transparansi
Sinergi Publisitas, perubahan sukses
Penguatan hukum kelembagaan Peraturan baru—lingkungan

B. Masalah Lingkungan

Pada awalnya opini publik tentang perilaku perusahaan yang baik lebih dari
kesejahteraan masyarakat dan kesejahteraan beberapa pekerja terancam oleh aktivitas
perusahaan. karena pada awalnya masyarakat khawatiran terhadap polusi udara berpusat pada
cerobong asap dan pipa knalpot asap pada perusahaan yang menyebabkan terjadinya
gangguan pernafasan. Masalah-masalah ini sangat sedikit terjadi atau hanya masalah yang
relative saja, sehingga ketika terjadinya populasi penduduk setempat menjadi marah, para
politisi lokal dan masyarakat pada umumnya bersedia untuk merancang untuk mengendalikan
masalah yang terjadi walaupun ada penegak hokum tapi tidak bisa dikendalikan.

Dua masalah lain yang terkait dengan polusi udara yang yang tidak sering
terjadi adalah hujan asam, yang disebabkan oleh danau dan pohon defoliated, dan diserap
oleh lapisan lapisan ozon bumi. Dalam kasus pertama, sulfur dalam gas buang
dikombinasikan dengan hujan dan jatuh ke tanah yang jauh dari sumbernya, atau kewilayah
hukum lainnya. Akibatnya, reaksi politisi di daerah hukum yang berwenang sangat lambat,
dan banyak argumen yang dibesar-besarkan tentang siapa yang bertanggung jawab dan
apakah kerusakan itu nyata atau tidak.

Pada akhirnya, tingkat kesadaran terhadap masalah yang terjadi menjadi cukup luas
untuk mendukung perjanjian internasional dan peraturan daerah yang lebih ketat lagi.

Penipisan lapisan ozon bumi baru-baru ini diakui sebagai ancaman serius bagi
kesehatan manusia. Kita lihat ke atmosfer CFC , setelah yang paling umum refrigeran
perumahan dan industri, memungkinkan molekul CFC untuk menggunakan molekul-molekul
untuk lapisan ozon. Pada saat yang sama, apabila menebang hutan hujan di-Brazil yang
merupakan salah satu hutan sumber utama untuk pengisian lapisan ozon, akan memberikan
kontribusi lebih lanjut untuk menipisnya lapisan ozon di sekitar planet kita. Lapisan ini
adalah penghalang utama kita dari sinar ultraviolet matahari, yang menyebabkan kanker kulit
dan kerusakan mata kita. Lapisan ini adalah penghalang utama kita dari sinar ultraviolet
matahari, yang menyebabkan kanker kulit dan kerusakan mata kita.

Waktu pengakuan masyarakat bahwa pencemaran air sebagai masalah yang layak
dikhawatirkan tentang penipisan lapisan ozon, sebagian lagi disebabkan kurangnya
kemampuan untuk mengukur konsentrasi racun yang dikeluarkan permenit dan
ketidakmampuan kita untuk memahami sifat yang tepat dari risiko air logam dan dioxin
kandungi oleh lapisan ozon. Perusahaan menegaskan bahwa mereka tidak memiliki solusi
teknis untuk penghapusan polusi udara dan air dengan biaya murah oleh karena itu pihak
perusahaan tidak bisa langsung menghilangkan polusi udara dan melakukannya secara
kompetitif. Namun, setelah ancaman jangka pendek dan jangka panjang tersebut dapat
dipahami oleh pribadi masyarakat untuk menjaga keamanan yang dipimpin oleh kelompok-
kelompok tertentu, mulai dari tekanan perusahaan serta pemerintah harus campur tangan
langsung secara untuk meningkatkan standar keselamatan untuk emisi perusahaan.

C. Sensitivitas Moral

Selama tahun 1980 dan 1990-an, ada peningkatan yang signifikan terhadap sensitivitas
kurangnya keadilan dan perbedaan dalam perlakuan yang adil biasanya didapati pada
individu dan kelompok tertentu dalam masyarakat. Beberapa kelompok yang bertanggung
jawab untuk kesadaran sosial ini sangat tinggi, termasuk gerakan feminis, dan juru bicara
orang-orang pribumi, dan untuk minoritas. Untuk keadaan tertentu, masyarakat disiapkan
untuk menghibur kelompok-kelompok yang dalam kondisi menprihatinkan karena beberapa
peristiwa yang malang telah membawa kesadaran mereka bahwa ada beberapa kelompok
yang mempunyai keahlian khusus yang harus diperhatikan, sebagai pemerhati lingkungan,
advokat konsumen, dan para pendukung anti-apartheid telah menunjukkan ke
keprihatinannya. Sebagian besar pada periode dari tahun 1960 dan seterusnya, pendapatan
sekali pakai dan waktu luang telah cukup tinggi untuk memungkinkan anggota masyarakat
untuk fokus pada isu-isu di luar mata pencaharian mereka. Selain itu, sebagai akibat dari
kemajuan dalam komunikasi teknologi yang telah memungkinkan hampir semua permasalah
di seluruh dunia dapat dilihat, pemikiran masyarakat Amerika Utara yang dulu sangat
tertinggal sekarang menjadi masyarakat yang maju dan sangat sensitive terhadap berita-berita
yang diberitakan oleh surat kabar tertentu.

D. Penilaian yang Buruk dan Aktivitas Pemangku Kepentingan

Direksi, eksekutif, dan manajer adalah manusia, dan mereka pasti ada yeng berbuat
kesalahan. Kadang-kadang kelompok umum, atau spesifik, tersinggung dengan hal-hal ini
karena akan ada penilaian yang salah dan menyadari bahwa kadang-kadang bisa membuat
direksi dan manajemen tidak menyetujui terhadap keputusan yang mereka buat. Sebagai
contoh, keputusan oleh Shell Inggris untuk menjegal Brent Spar terhadap penyimpanan
minyak Kapal didalam laut dari pada mengambilnya terpisah di pantai sehingga
menyebabkan demonstrasi para aktivis yang mendukung Greenpeace, yang mencoba untuk
menghentikan kegiatan tersebut, dan untuk memboikot SPBU Shell di Eropa, maka ada
beberapa produk Nestle yang diboikot di Amerika Utara dan Eropa kemudian mereka
hentikan pendistribusian keseluruh dunia.
E. Ekonomi dan Tekanan-tekanan Kompetitif

Meskipun harapan masyarakat telah dipegaruhi langsung oleh faktor – faktor yang
sudah dibahas ada beberapa hal yang mendasari atau faktor sekunder yang juga
mempengaruhi. Sebagai comtoh, secara umum laju aktivitas ekonomi melambat pada akhir
periode 1980-an serta sebelum jaman millennium. Hal ini menempatkan perusahaan dan
individu didalamnya pada posisi harus bergulkat dengan tindaka adanya pertumbuhan atau
scenario penyusutan volume, bukannya ekspansi yang telah menjadi norma selama ini. Untuk
mempertahankan pekerjaannya, volume laba berbasis insentif, atau perusahaannya bberapa
orang terpaksa ikut dalam etika poraktik yang dipertanyakan termasuk poemalsuan transaksi
dan lain-lain.

Perkembangan pasar global telah mendorong produksi dan sumber produk diseluruh
dunia. Restrukturasi telah dilihat sebagai poendorong produktivitas dan memungkinkan biaya
yang lebih rendah dengan tariff yang lebih rendah pula dari pekerjaan domestic.Oleh karena
itu, tekanan pad aindividu dihgunakan untuk mempertahankan produksinya. Demikian juga
mengingat persainganyang lebih besar volume lebih besar tentunya akan meninbgkatkan laba
sehinngga tekanan pada perusahaan tidak akan berkurang pada yang dialami masa lal;u.
selainb itu oerusahaan tidak akan bisa mengandalkan kem,bali siklus profitabilitas untuk
mengembaikan risiko yang kembaliu pada awalnya dimana akan bergantung pada lembaga
manajemen etika perilaku dan tata kelola rezim yang baru.

F. Skandal Keuangan : Jurang Harapan dan Jurang Kredibilitas

Masyarakat telah terkejut, kaget, kecewa, dan hancur oleh krisis keuangan. daftar
contoh kalasik terbaru mancakup: Enron, WorldCom, Adelphia, Tyco, HealthSouth,
Permalat, Ahold, Barings Bank, Livent, dan Bre-X. Akibat dari guncangan yang berulang-
ulang ini, masyarakat menjadi sinis terhadap integritas keuangan perusahaan yang begitu
banyak sehingga istilah Jurang Harapan telah diciptakan untuk menggambarkan perbedaan
antara apa yang dipikirkan oleh masyarakat tentang apa yang mereka dapatkan dalam laporan
keuangan yang telah di audit dan apa yang sebenarnya masyarakat dapatkan. Secara lebih
luas, penyimpangan keuangan yang berkelanjutan telah menimbulkan krisis kepercayaan
terhadap pelaporan dan tata kelola perusahaan. Kurangnya Kreadibilitas telah menyebar dari
pelayanan keuangan untuk mencakup bidang lain dari aktivitas perusahaan yang telah di
kenal sebagai jurang kreadibilitas.
G. Kegagalan Tata Kelola dan Penilaian Risiko

Direktur perusahaan di harapkan untuk memastikan perusahaan mereka telah bertindak


demi interes investor dalam rentangan aktivitas yang dianggap cocok oleh masyarakat,
dimana mereka beroperasi. Namun, dalam kasus Enron, WorldCom dan kasus-kasus lainnya,
pengawasan pleh direktur perusahaan gagal mengetahui terjadinya keserakahan eksekutif,
manajer, dan karyawan lainnya.

Reformasi tata kelola dianggap perlu untuk melindungi kepentingan umum, dimana
direktur di harapkan untuk menilai dan memastikan bahwa resiko yang di hadapi oleh
perusahaan mereka telah di kelola dengan baik , resiko etika sekarang terlihat menjadi aspek
kunci dari proses. Reformasi tata kelola memastika bahwa tidak akan terjadi keterlambatan
pada hal tersebut.

H. Peningkatan Akuntabilitas yang Diinginkan

Kurangnya kepercayaan dalam proses kegiatan perusahaan yang melahirkan keinginan


untuk meningkatkan akuntabilitas pada pihak investor dan terutama oleh para pemangku
kepentingan lainnya. Perusahaan di seluruh dunia telah merespon dengan menerbitkan
informasi lebih lanjut dalam situs web dan laporan bebas tentang kinerja dari Corporate
Social Responsibility (CSR), termasuk dalam objek topic seperti lingkungan, kesehatan dan
keselamatan, filantropi, serta dampak social lainnya. Tren ini jelas ke arah peningkatan
laporan nonfinansial, yang sesuai dengan harapan masyarakat yang terus tumbuh.

I. Sinergi di Antara Faktor-Faktor dan Peguatan Kelembagaan

Hubungan di antara faktor-faktor yang memengaruhi ekspektasi masyarakat atas etika


kinerja telah diidentifikasi, tetapi tidak di ketahui sejauh mana hubungan tersebut saling
memperkuat satu sama lain dan menambah keinginan masyarakat untuk bertindak. Beberapa
hari yang lalu, koran, radio, dan televisi tidak menampilkan krisis keuangan, masalah
keamanan produk, masalah lingkunga, atau artikel tentang kesetaraan jenis kelamin atau
diskriminasi. Secara keseluruhan, hasilnya merupakan kumulatif peningkatan dari kesadaran
masyarakat tentang perlunya kontrol terhadap perilaku perusahaan yang tidak etis. Selain itu,
terdapat banyak contoh yang bermunculan, di mana eksekutif bisnis tidak membuat
keputusan yang tepat, serta etika konsumen atau investor bertindak dan berhasil membuat
perusahaan mengubah praktik mereka atau meningkatkan struktur tata kelolanya untuk
memastikan bahwa proses pengambilan keputusan di masa depan lebih sehat. Keseluruhan
etika konsumen dan gerakan SRI telah diperkuat oleh pengetahuan bahwa bertindak atas
keprihatinan mereka dapat menjadikan perusahaan dan masyarakat lebih baik, sehingga tidak
miskin.

Selanjutnya, kesarana masyarakat berdampak pada politisi yang bereaksi dengan


menyiapkan undang-undang yang baru atau mengetatkan peraturan. Akibatnya, banyak
masalah membawa kesadaran masyarakat dalam penguatan kelembagaan dan kodifikasi pada
hukum yang berlaku. Banyaknya permasalahan etika yang disoroti memfokuskan pemikiran
tentang perlunya tindakan yang lebih etis, “ibarat bola salju yang mengumpulkan kecepatan
ketika bergerak turun dari puncak gunung/bukit”.

Keinginan untuk standar global pengungkapan perusahaan, praktik audit, dan


keseragaman etika perilaku, para akuntan profesional telah menghasilkan standar akuntansi
dan audit internasional di bawah naungan Internasional Accounting Standards Board (IASB)
dan International Federation of Accountants (IFAC). Kreasi mereka—International Financial
Reporting Standards (IFRS) dan Kode Etik untuk Akuntan profesional—merupakan titik
fokus untuk harmonisasi di seluruh dunia.

Gerakan menuju tingkat akuntanbilitas perusahaan dan etika kinerja tidak lagi hanya
ditandai oleh para pemimpin yang mau pergi mengambil risiko: gerakan yang lebih tinggi ini
telah menjadi suatu tendensi dan bersifat internasional.

J. Hasil

Secara jelas, harapan masyarakat telah berubah untuk menunjukkan menurunnya


toleransi, meningkatkan moral, kesadaran, dan harapan yang lebih tinggi dari perilaku bisnis.
Dalam merespons meningkatnya harapan-harapan ini, sejumlah pengawas dan penasehat
telah muncul untuk membantu atau mendesak masyarakat umum dan bisnis. Organisasi-
organisasi, seperti Greenpeace, Pollution Probe, dan Coaliation for Environmentally
Responsible Economies (CERES, sebelumnya bernama Sierra Club) sekarang mengawasi
hubungan bisnis dengan lingkungan. Konsultan tersedia untuk member nasehat perusahaan
dan mereka yang dikenal sebagai investor etika tentang bagaimana menyaring aktifitas-
aktifitas dan investasi-investasi demi profitabilitas dan integritas etika.
Harapan Baru untuk Bisnis

Bisnis ada bagi masyarakat sehingga perusahaan akan berusaha untuk meningkatkan
tata kelola perusahaannya demi melayani masyarakat. Selain tata kelola maka hubungan
antara akuntabilitas dengan dewan direksi, manajer perusahaan dan auditor internal dan
eksternal juga harus turut ditingkatkan. Hubungan antara sesama mitra bisnis merupakan
suatu ketergantungan dan saling membutuhkan.

Dewan direksi dan sub komite merupakan pintu gerbang untuk membangun hubungan
dengan pemerintahan karena mereka adalah pemimpin dan pelaksana suatu bisnis. Mereka
juga bertugas untuk menetapkan tujuan dan kebijakan, menyediakan sumber daya
danmemonitor umpan balik dari investor, kreditur, dan lain-lain. Dengan adanya hubungan
dengan pemerintahan maka dapat di tetapkan keputusan-keputusan yang relevan dan dapat
berpartisipasi dalam keputusan ekonomi.

Karena kekhawatiran atas tata kelola suatu perusahaan maka dibuatlah peraturan dan
standar baru untuk dapat mengembangkan suatu bisnis yang beretika dan menegakkan
standar akuntabilitas. Sehingga kesadaran masyarakat akan tercipta dan terbentuklah saling
ketergantungan antara bisnis dan pihak-pihak yang berkepentingan.

A. Mandat Baru untuk Bisnis

Perubahan-perubahan dalam harapan masyarakat telat memicu sebuah evolusi dalam


mandate untuk bisnis:laba hanya dari Milton Friedman telah diganti dengan pandangan
bahwa bisnis ada untuk melayani masyarakat,bukan sebaliknya.

Hal tersebut dapat menyatakan bahwa derajat perubahan terlalu kuat,tetapi bahkan
mereka akan mengakui bahwa hubungan bisnis untuk masyarakat merupakan aspek yg saling
bergantung satu sama lain,dimana “kesehatan jangka panjang” yang salah satu aspek akan
menentukan “kesehatan jangka panjang” yang lain.

Meskipun terdapat banyak argument pro maupun kontra terhadap posisi dalam
Mulligan (1986),ada tiga masalah penting yang patut di sebutkan antara lain 1).Deviasi dari
laba hanya fokus tidak berarti bahwa keuntungan akan jatuh pada kenyataannya,laba akan
naik.2).Keuntungan sekarang diakui sebagai sebuah ukuran kinerja perusahaan yang tidak
lengkap dan oleh karena itu tidak akurat untuk mengukur alokasi sumber daya.3).Friedman
diharapkan secara eksplisit bahwa kinerja akan berada dalam hukum dan etika kebiasaan .
Pertama,ada mitos bahwa bisnis tidak dapat bersikap etis karena terlalu banyak
kesempatan yang diberikan untuk memaksimalkan keuntungan.

Kedua,dari argument Friedman yang terkikis sejak pertama kali diusulkan yaitu akurasi
, dimana laba membimbing alokasi-alokasi sumber daya untuk penggunaannya yang terbaik
bagi masyarakat.

Akhirnya,Milton Friedman sendiri mengungkapkan pandangan-pandangan bahwa


keuntungan harus diperoleh atau dicari berdasarkan undang-undang dan etika kebiasaan
masyarakat.Hal ini tidak dihargai oleh banyak orang yang berdebat mengenai keuntungan
murni dalam bentuk nyata laissez faire(ekonomi pasar bebas)terkuatnya.Jelas,kekacauan akan
terjadi jika bisnis dilakukan dalam lingkungan yang benar-benar ytidak dikendalikan secara
baik.

Mereka yang berfokus dalam prinsip keuntungan murni sering membuat keputusan
oportunisi jangka pendek yang membahayakan keuntungan jangka panjang yang
berkelanjutan .Mereka sering melupakan fakta bahwa keuntungan berkelanjutan merupakan
hasil usaha dari penyediaan barang dan jasa yang berkualitas tinggi,berdasarkan hukum dan
norma etika dengan cara yang efisien dan efektif.Jauh lebih efektif untuk berfokus pada
penyediaan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat secara efisien,efektif,legal,dan
etis dari pada mengadopsi sasaran beresiko tinggi untuk menghasilkan keuntungan dengan
cara apapun.

Untuk alasan ini,mandate keuntungan murni bagi perusahaan kemudian berkembang


pada pengakuan ketergantungan bisnis dan masyarakat.Keberhasilan masa depan akan
bergantung pada sejauh mana bisnis dapat menyeimbangkan keuntungan dan interest
pemangku kepentaingan lainnya.

Penilaian keberhasilan masa depan perusahaan akan dilakukan berdasarkan kerangka kerja
berorientasi pemangku kepentingan yang luas,termasuk apa yang telah di capai dan
bagaimana mencapainya.
B. Tata Kelola dan Kerangka Kerja Akuntabilitas yang Baru

Berdasarkan analisis ini,perusahaan sukses akan dilayani dengan sangat baik oleh
mekanisme tata kelola dan akuntabilitas yang berfokus pada sebuah kumpulan hubungan
fidusia yang berbeda dan lebih luas dibandingkan dengan masa lalu.

Kesetiaan direktur dan eksekutif harus mencerminkan interest pemangku


kepentingan,terkait dengan sasaran,proses dan hasil.Tujuan dan proses tata kelola harus
mengarahkan perhatian kepada perspektif-perspektif baru ini.Demikian juga,kerangka
akuntabilitas modern harus mencakup laporan yang berfokus pada perspektif itu.Jika
tidak,harapan masyarakat tidak akan dipenuhi dan peraturan tersebut dibuat untuk
memastikan perhatian dan fokus tersebut.

C. Peranan Fidusia yang Diperkuat bagi Akuntan Profesional

Harapan masyarakat untuk laporan kinerja perusahaan yang dapat dipercaya tidak dapat
dipenuhi, kecuali para akuntan professional yang mempersiapkan atau mengaudit laporan
tersebut memfokuskan loyalitas utama mereka pada kepentingan umum dan mengadopsi
prinsip-prinsip,seperti kebebasan penilaian, objektifitas, dan integritasyang melindungi
kepentingan umum. Loyalitas kepada manajemen dan/atau direktur dapat menyesatkan
karena mereka telah sering terbukti sangat mementingkan diri sendiri dan tidak dapat
dipercaya. Direktur yang seharusnya mengatur manajemen sering mengandalkan akuntan
professional untuk memenuhi tanggung jawab fidusia mereka.Konsekuensinya,tanggung
jawab fidusia utama dari akuntan seharusnya kepada masyarakat atau untuk kepentingan
umum.

Tanggapan dan Perkembangan

A. Kemunculan Model-model Tata Kelola dan Akuntabilitas Pemangku


Kepentingan

Beberapa tren penting lainnya yang dikembangkan sebagai hasil dari tekanan ekonomi
dan kompetitif yang telah dan terus memiliki efek pada etika bisnis dan kepada akuntan
professional.Tren ini mencakup:

 Memperluas kewajiban hukum untuk direktur perusahaan


 Pernyataan manajemen kepada pemegang saham atas kecukupan pengendalian internal,
dan
 Ketetapan niat untuk mengelola dan melindungi reputasi,meskipun perubahan yang
signifikan juga terjadi dalam cara organisasi beroperasi,mencakup:
 Reorganisasi,pemberdayaan karyawan,dan penggunaan data elektronik yang
berhubungan, dan
 Meningkatnya ketergantungan manajemen pada indicator kinerja nonkeunangan yang
digunakan secara nyata.

Reaksi awal perusahaan terhadap etika lingkungan yang lebih menuntut adalah
keinginan untuk mengetahui bagaimana aktivitas etisnya mereka,kemudian mencoba untuk
mengelola tindakan mereka dengan mengembangkan kode etik.Setelah menerapkan kode etik
(tersebut),keinginan selanjutnya adalah untuk memantau kegiatan sehubungan dengan hal itu
dan untuk melaporkan prilaku itu,awalnya secara internal kemudian eksternal.

Jelaslah bahwa pendekatan “inventarisasi dan perbaiki” menuju system “diperbaiki”


untuk mengatur prilaku karyawan:yaitu,yang tidak dilengkap dan tidak memberikan panduan
etika pada semua atau bahkan sebagian besar masalah yang dihadapi.Karyawan
penyimpangan baik secara suka rela atau tidak masih bisa mengatakn bahwa tidak ada yang
mengatak kepada saya untuk tidak melakukannya.

Kode etik menawarkan kerangka kerja penting untuk pengambilan keputusan dan
kendali karyawan,posisi perusahaan sangan rentan karena produk atau proses produktif yang
ditemukan sejalan dengan kepentingan mereka sehubungan dengan mengembangkan system
informasi peringatan dini untuk memfasilitasi tindakan perbaikan yang cepat ketika terjadi
masalah sebgai contoh,occidental petroleum mengakui kepatiannya merusak lingkungan dan
mencipatakan tiga tingkatan,syarat pemberitahuan ke kantor pusat untuk memrikan informasi
secara tepat waktu kepada manajemen senior dan para ahli di bidang prosedur pembersihan.

Awal tahun 1994,Lynn Sharp Paine menerbitkan sebuah artikel didalam majalah Harvard
Business Review yang berjudul “Managing for Integrity”,dimana ia membuat kasus untuk
mengintegrasikan etika dan manajemen.Selain itu,pada periode 1990-an,dapat dipahami
bahwa pendekatan-pendekatan manajemen harus mencerminkan akuntabilitas pemangku
kepentingan,tidak hanya pemegang saham.Perusahaan memiliki berbagai pemangku
kepentingan yang luas-karyawan,pelanggan,pemegang saham,pemasok,kreditur,ahli
lingkungan,pemerintah dan seterusnya yang memiliki kepentingan dalam kegiatan atau
dampak perusahaan.Meskipun pemangku kepentingan ini mungkin tidak memiliki klaim
hukum pada perusahaan,mereka dapat memengaruhi keuntungan jangka pendek dan jangka
panjang.Akibatnya,jika sebuah perusahaan ingin mencapai tujuan strategis secara
optimal,interes para pemangku kepentingan harus diperhitungkan saat manajemen membuat
keputusan.Cara terbaik untuk melakukan hal ini adalah untuk membangun pengenalan interes
pemangku kepentingan dalam pelaksanaan perencanaan strategis .

Peta Akuntabilitas Pemangku Kepentingan Perusahaan

B. Manajemen Berdasarkan Nilai, Reputasi, dan Risiko

Para direktur eksekutif,manajer,dan karyawan lainnya harus memahami sifat dari


interes pemangku kepentingan dan nilai-nilai yang mendukungnya untuk menggabungkan
interes pemangku kepentingan kedalam kebijakan,strategi dan operasional perusahaan.

Berbagai pendekatan telah dikembangan untuk memeriksa interes pemangku


kepentinga,seperti survey,kelompok-kelompok,fokus dan pemetaan menurut stereotip.

Relevansi dari hypernorms sangat signifikan bagi keberhasilan masa depan


perusahaan.Akibatnya,mereka harus dibangun menjadi sebuah kode
etik,kebijakan,strategi,dan kegiatan sebuah perusahaan dalam upaya untuk memastikan
bahwa interes banyak kelompok pemangku kepentingan di hormati,dan bahwa reputasi
perusahaan akan menghasilkan dukungan maksimal.
Penentu Reputasi

C. Akuntabilitas

Perbaikan yang diperlukan dalam integritas ,transparansi,dan akurasi telah memotivasi


diskusi di antara akuntan (professional) untuk mengenali sifat pedoman yang seharusnya
mereka gunakan untuk menyusun laporan keuangan,aturan-aturan atau prinsip-prinsip.
Kekurangan integritas,transparasi,dan akurasi jelas terdapat pada laporan keuangan.

Keinginan untuk relevansi telah melahirkan gelombang dalam laporan,terutama yang


bersifat nonfinansial,dan telah disesuaikan dengan kebutuhan pemangku kepentingan
tertentu.

D. Etika Perilaku dan Perkembangan dalam Etika Bisnis

Dalam menanggapi perubahan yang dijelaskan sebelumnya,ada sebuah minat terbaru


mengenai bagaimana filsuf mendefinisikan etika perilaku,dan pelajaran-pelajaran yang telah
dipelajari selama berabad-abad.Selain itu,pada tingkat aplikasi yang lebih tinggi,beberapa
konsep dan istilah telah dikembangkan yang memfasilitasi pemahaman akan evolusi yang
terjadi dalam akuntabilitas bisnis dalam pembuatan keputusan etika.
 Pendekatan Filosofis untuk Etika Perilaku

Filsuf Yunani,Aritoteles,berpendapat bahwa tujuan hidup adalah kebahagiaan dan


kebahagiaan dicapai dengan menjalani hidup secara bijak sesuai dengan alasan

Filsuf Jerman,Immanuel Kant,berpendapat bahwa orang-orang beretika ketika mereka


tidak memanfaatkan orang lain demi kesejahteraannya,dan ketika mereka tidak bertindak
dengan cara yang munafik dalam menuntut perilaku tingkat tinggi dari orang laim,sementara
membuat pengecualian bagi diri mereka sendiri.

Filsuf Inggris,John Stuart Mill,menyatakan bahwa tujuan hidup adalah untuk


memaksimalkan kebahagiaan dan atau untuk mengurangi keidakbahagiaan atau sakit,dan
tujuan masyarakat adalah untuk memaksimalkan manfaat social bersih bagi semua orang.

Filsuf Amerika,John Rawis,berpendapat bahwa masyarakat harus diatur sehingga ada


distribusi yang adil atas hak dan manf\aat,dan bahwa setiap ketimpangan harus
menguntungkan semua orang.

 Konsep dan Persyaratan etika bisnis

Secara khusus,ada dua perkembangan yang sangat berguba dalam memahami etika
bisnis,serta bagaimana bisnis dan profesi bisa mendapatkan keuntungan dari
penerapannya.Dua perkembangan itu adalah konsep pemangku kepentingan dan suatu konsep
dari kontrak social perusahaan.

 Pendekatan untuk pengambilan keputusan etis

Semua pendekatan dimulai dengan identifikasi pemangku kepentingan yang


signifikan,suatu investigasi terhadap interes mereka,dan peringkat interes-interes tersebut
untuk memastikan bahwa hal paling penting adalah memberikan perhatian yang memadai
selama analisis dilakukan dan pertimbangan lebih pada tahap pengambilan keputusan.

Etika prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh para filsuf memberikan wawasan ke


dalam dimensi kunci dari etika penalaran.Para pembuat keputusan harus memahami tiga
mendekatan filosofis dasar:konsekuensialisme,deontology, dan etika kebajikan.
Etika Lingkungan untuk Akuntan-akuntan Profesional

A. Peran dan Perilaku

Kebutuhan perubahan tambahan pada peran dan perilaku akuntan professional


mendahului krisis yang baru-baru ini terjadi.Apakah mereka terlibat dalam audit atau jaminan
fungsi layanan dalam manajemen,dalam konsultasi,ataupun sebagai direktur.Akuntan
professional tampak secara historis sebagai arbiter dari akuntabilitas organisasi dan ahli
dalam ilmu pengambilan keputusan.Oleh karena itu kita menyaksikan “perubahan arus”
dalam akuntabilitas perusahaan dengan memperluas dari hanya melampaui para pemegang
saham ke pemangku kepentingan,perupakan tanggung jawab akuntan untuk memahami
evolusi ini dan bagaimana evolusi tersebut dapat mempengaruhi fungsi nya.

B. Tata Kelola

Dalam profesi akuntansi ,gerakan menuju harmonisasi secara global sekumpulan


prinsip-prinsip akuntansi dan audit yang berlaku secara umum (GAAP dan GAAS) untuk
memberikan efisiensi analisis bagi penyedia modal pasar-pasar dunia serta efisiensi
komputasi dan audit diseluruh dunia.Akibatnya,ada rencana untuk menyelaraskan secara
bertahap sejumpulan GAAP yang dikembangkan JASB di London,Inggris,serta yang
dikembangkan oleh Financial Accounting Standards Boards (FASB) di AS menjadi suatu
rangkaian umum yang akan berlaku di semua Negara.

C. Layanan yang Ditawarkan

Kemunculan dan pertumbuhan perusahaan multidisiplin di akhir periode 1990-an yang


melibatkan para professional,seperti pengacara dan insinyur untuk menyediakan jaminan
yang lebih luas dan layanan lain untuk klien audit mereka,telah dibatasi SEC yang telah di
revisi dan standar-standar lainnya.

Mengelola Risiko Etika dan Kesempatan/Peluang

Dampak meningkatnya harapan untuk bisnis pada umumnya untuk direktur,


eksekutif, dan akuntan pada khususnya telah membawa tuntutan reformasi tata kelola,
pengambilan keputusan etis, dan pengelolaan yang akan mendapat manfaat dari pemikiran
terkini tentang bagaimana mengelola resiko etika dan peluang. Bisnis dan akuntansi
bergantung pada pemangku kepentingan internal seperti karyawan memahami harapan etika
tempat kerja sangat penting bagi keberhasilan organisasi dan para eksekutifnya.
Bagian dari teka-teki etis untuk perusahaan modern adalah menyelesaikan pemberian
hadiah, suap, dan memfasilitasi pembayaran. Semua aspek ini menciptakan konflik
kepentingan.
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan

a) Bisnis dan profesi berfungsi dalam sebuah kerangka


b) Dukungan untuk usaha dan bisnis pada umumnya tergantung pada kredibilitas
stakeholder pada tempat pengambilan keputusan perusahaan, reputasi perusahaan, dan
kekuatan keunggulan yang kompetitif
DAFTAR REFERNSI

Brooks, L.J. (2008). Business and Professional Ethics for Directors, Executives $
Accountants. South-Western College Publishing.

Dias, Laura Portolese & Shah, Amit J. (2009). “Demonstrating Ethical Behavior and
Social Responsibility” dalam Introduction to Business. New York: McGraw-
Hill.

Gusnardi. (2008). Pengaruh Peran Komite Audit, Pengendalian Internal dan Audit
Internal Terhadap Pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan Dan Pencegahan
Kecurangan.Disertasi Program Doktor Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran.

http://ainiueoo.blogspot.com/2013/06/makalah-etika-etika-lingkungan-untuk.html

Latifah, Amalia. (2012, 7 Juni). Analisis Kasus Audit Umum PT. KAI tahun 2005. Dipetik
tanggal 19 Februari 2014 dari blog masih belajar
: http://servingipm.blogspot.com/2012/06/analisis- kasus-audit-umum-pt-kai-
tahun.html

Rahayu, Nina. (2014, 20 Januari). Kasus Etika Profesi Akuntan. Dipetik tanggal 19 Februari
2014 dari ninasblog : http://ninarahayu-ninasblog.blogspot.com/2014/01/etika-
profesi- akuntansi-kasus.html