Anda di halaman 1dari 18

TEORI AKUNTANSI KEUANGAN

CHAPTER 1 DAN 2
BUKU ACCOUNTING THEORY
WOLK TEARNEY DODD

KELOMPOK
I Komang Khrisna Adhitya Pratama (1881611027 / 02)
Anak Agung Ngurah Gde Punia Artawan Putra (1881611045 / 20)
I Gusti Putu Suma Ardana (1881611047 / 22)
Made Agus Entara (1881611049 / 24)

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2018

1
CHAPTER 1

1. TEORI AKUNTANSI

Teori Akuntansi merupakan teori yang berkembang dari realitas sosial. Perkembangan
teori akuntasi yang di pengaruhi oleh realitas sosial disini dimaksudkan bahwa teori akuntansi
bukan lah suatu produk ahkir, melainkan teori akuntansi akan berkembang secara terus menurus
sesuai dengan permasalahan-permasalah atau isu-isu yang terjadi di masyarakat. Keadaan ini
dapat dilihat dari metode persedian dari suatu perusahaan, bisa di diambil contoh metode LIFO
dan FIFO. Perusahaan tentunya memiliki pertimbangan tersendiri metode apa yang digunakan
dalam keadaan perusahaan yang berbeda-beda. Dalam akuntansi keuangan 2 metode persediaan
tersebut memiliki penjelasan dan perhitung yang berbeda satu sama lainnya. Pada dasarnya
pemilihan salah satu metode dalam akuntansi disepakati merupakan suatu konstruk akuntansi
saja. Jika dilihat dari perihitungan dan hasil angka yang dikeluarkan memiliki hasil yang
berbeda dari upaya dalam pembayaraan pajak yang dilakukan suatu perusahaan. Penggunaan
metode LIFO merupakan salah satu upaya yang dilakukan manajemen untuk dapat
meningkatkan biaya dan mengurangi laba dan tentunya akan memberikaan dampak dalam
pembayaraan pajak perusahaan. Hasil dari perhitungan ini tentunya akan mempengaruhi dari
penilaian suatu manajemen, gaji, bonus, pembagian deviden, serta pengambilan keputusan oleh
pemangku kepentingan perusahaan.

Melalui isu-isu atau realitas sosial yang ada teori akuntansi dapat dijelaskan secara
eksplisit sebarapa penting teori akuntansi mampu menjelasakan tujuan dari pengguna dalam
menggunakan angka-angka yang dihasilkan yang dalam hal ini untuk melakukan evaluasi atas
kinerja manajemen, atau pun mengevaluasi aspek lain yang berpengaruh dan mampu
memperdeksi kemampuan dimasa depan. Teori akuntansi tentunya dapat dijelasakan secara
emplisit bagaiamana keadaan tersebut dapat menghasilkan suatu pengukuraan atau peneliaan
yang diinginkan. Dalam hal ini istilah teori akuntansi dapat dikatakan sangat mesiterius, karena
dalam hal ini akuntansi dapat dikatakan sebagai dasar asumsi, definis, prinsip, dan konsepsi,
serta bagaimana sumber dari aturan akuntasi, pelaporaan keuangan, dan informasi keuangan itu
diperoleh. Keadaan ini manajemen perusahaan menggunakan akuntansi sebagai media untuk
dapat memberikan suatu informasi yang digunakan oleh pihak esktrenal dalam hal ini investor
ataupun kreditor untuk dapat mengambil keputusaan yang tentunya akan menguntungkan pihak
perusahaan. Atas penjelasan tersebutlah mengapa teori akuntansi bukanlah suatu produk ahkir,
karena teori akuntansi akan berkembang secara terus menerus mengikuti realitas sosial.

2. TEORI AKUNTANSI DAN PEMBUAT KEBIJAKAN


Hubungan antara teori akuntansi dan pembuatan kebijakan sangat terlihat jelas. Dalam
sub bab ini dijelaskan bagaimana pengaruh teori akuntansi itu sendiri mampu mempengaruhi
suatu pengambilan kebijakan. Penjelasan sebelumnnya mengenai teori akuntansi sudah
dijelaskan bahwa teori akuntansi berkembang karena adanya realitas sosial yang terjadi, baik
dalam kondisi ekonomi atau dengan faktor-faktor politik yang ada. Keadaan yang sama juga
terlihat dalam pembuatan kebijakan. Pembuatan kebijakan dilakukan atas pengaruh dari
keadaan ekonomi yang ada juga dengan faktor-faktor politik serta teori akuntansi itu sendiri.

2
Maka dari itu teori akuntasi dikembangkan dan disempurnakan melalui proses penelitian
akuntansi itu sendiri, yang nantinya mempu meberikaan kebijakaan akuntansi dalam keadaan
ekonomi yang ada.
3. PERAN PENGUKURAN DALAM AKUNTANSI

Pengukuran merupakan suatu hal yang penting dan tidak dapat terpisahakan dari
akuntansi. Pengukuran dapat dikatakan sebagai suatu penggambaraan suatu angka-angka
terhadap benda itu sendiri. Pengukururan dapat diklompokan atas :

1. Pengukuran Langsung dan Tidak Langsung


Pengukuran langsung merupakan pngukuran yang dilakukan pada suatu objek yang
dilakukan secara langusng kepada objek tersebut untuk memngukur bentuk fisiknya.
Sedangkan pengukuran secara tidak langusng terkait dengan cara oenyusunan pengukuraan
yang akan melihat dari realitas sosial yang terjadi.
2. Penilaian Prediksi
Penilaian merupakan suatu cara pengukuraan yang dilakukan dengan cara menilai suatu
atribut tertentu pada suatu objek. Sedangkan perdikisi merupakan suatu cara untuk
mengukur suatu objek di masa depan dengan faktor-faktor yang mungkin terjadi dan
mampu memperngaruhi ibjek tersebut di masa depan.

4. PROSES PENGUKURAN

Dalam mengukur suatu objek tentunya akan melalui proses dan proses yang dilalui
tidaklah sederhana. Pengukuraan suatu objek yang dilakukan pengukuran tidaklah dapat
ditentukan dengan pasti dan benar dengan satu ukuran. Karena cara untuk mengukur seuatu
objek akan dipengaruhi dari dari faktor-faktor yang ada seperti, objek itu sendiri, atribut yang
diukur, pegukur, oprasi penghitungan, instrumen yang digunakan untuk mengukur, dan
konstrain-kontrain yang mempengaruhi pengukuran.

5. JENIS-JENIS PENGUKURAN

Pengukuran dapat dikelompokan menjadi menjadi beberapa jenis, jeni pengukuran yang
paling sederhana adalah pengukuran skala nominal. Pengukuran secara skal nominal
merupakan pengukuran yang dilakukan dengan sebuah sistem penggolongan dasar. Yang
tujuannya hanyalah untuk melakukan pengkalsifikasian terhadap suatu objek tertentu. Dalam
akuntansi keuangan skal nominal ini bisa kita lihat adalah pada pengelompokan akun-akun
(Chart of Account).

Pengukuraan yang kedua merupakan pengukuran dengan skal ordinal. Pengukuran


dengan cara merupakan pengukuraan yang melihat lebih jauh kedalam atau lebih ke
referensinya dari objek tersebut. Walupun masing-masing objek sudah memiliki rangking
namun dalam pengukuraan ini yang dilihat bukan berdasarkan pada rangking yang dimiliki
melainkan dengan melihat naik turunnya suatu nilai yang dimiliki dari objek itu sendiri. Dalam
akuntansi kita bisa lihat pengukuraan skala ordinal ini bagian laporan posisi keuangan, para
akuntan akan mengurut aktiva lancar dari yang paling liquid diantara aktiva-aktiva lainnya.
Pengukuran yang ketiga merupakan pengukuran dengan menggunakan scala interval.

3
Merupakan pengukuraan yang tidak sama dengan pengukuran ordinal. Pengukuran interval
merupakan pengukuran yang bersifat numerik atau memperlihat suatu kelompok rentanan. Dan
pengukuraan ini memberikan penglompokaan sesuai dengan interval dari objek tersebut.
Pengukuraan yang terahkir adalah pengukuran rasio. Merupakan pengukuran yang dapat
memperlihatkan dengan jelas suatu peringkat dari objek yang di ukur. Pengukuran rasio hampir
sama dengan pengukuran interval.

Dalam melaukan pengukuraan melihat kemapuan alat, dan teknik dalam mengukur
merupakan suatu hal yang sangat penting. Namun dalam praktinya haruslah memperhatikan
beberapa komponen antara lain objektivitas, bias, timeliness,kontrain biaya.

4
CHAPTER 2

1. ACCOUNTING THEORY AND ACCOUNTING RESEARCH


Proses pencarian fenomena mempengaruhi aturan, defenisi, konsep dan prinsip akuntansi
yang diperoleh dengan cara metode-metode formal yang disebut pertimbangan deduktif dan
induktif. Proses investigasi tersebut disebut riset dan riset digunakan dalam akuntansi dan
dirujuk sebagai disiplin akademik.

Salah satu karakteristik yang melekat pada disiplin akademik adalah publikasi ide secara
umum pada majalah yang disebut jurnal terutama dalam disiplin akuntansi. Meskipun terdapat
banyak sudut pandang tentang kandungan yang tersedia dan pendekatan yang digunakan dalam
riset akuntansi. Apa yang terutama sekali menarik bagi tujuan kita adalah meningkatkan
pemanfaatan metode ilmiah dalam publikasi riset teori akuntansi.

Pada Chapter ini kita akan mempelajari pengertian metode ilmiah dan perbedaan deduktif
dan induktif, memperoleh wawasan sifat dasar dari riset akuntansi positif, memutuskan
dikotomi antara akuntansi sebagai seni dengan akuntansi sebagai ilmu, memahami petunjuk
riset akuntansi.

2. RISET AKUNTANSI DAN METODE ILMIAH

Teori bisa sangat berguna karena mereka berusaha menjelaskan hubungan atau
memprediksi fenomena. Walaupun teori akuntansi mencakup wilayah yang luas dari sudut
pandang filosofis, kita terutama concern pada bab ini pada bagaimana membangun teori secara
formal yang dihasilkan dari proses riset. Dalam metode ilmiah, teori adalah pertama dari
segalanya, tiada yang lebih dari kata-kata. Teori harus mengandung sekumpulan dasar pikiran
yang disebut asumsi. Dasar pikiran ini harus jelas sehingga dapat diuji dengan kesimpulan
statistik dimana dalam kasus biasa disebut hipotesis. Teori sebuah teori harus mempunyai
kesimpulan yang dihasilkan dari pemikiran dasar. Kesimpulan dapat ditetapkan baik secara
deduksi maupun induksi.

2.1. Pemikiran Deduktif dan Induktif

Sebuah sistem deduktif adalah satu pemikiran logis yang digunakan untuk
memperoleh satu atau lebih kesimpulan dari sejumlah dasar pemikiran yang ada. Data
empiris tidak dianalisa dalam sistem deduktif murni.

Beberapa pendekatan deduktif pada teori akuntansi telah digunakan menyusun


aksioma umpama premis sebuah sistem dengan berbagai aturan akuntansi yang didapatkan.
Dengan susunan aksioma tersebut kita memaknai dengan terdefenisi secara teliti yang
menyesuaikan aturan dengan terminologi dari simbol logika. Susunan pendekatan deduktif
(terkadang disebut metode analitis/deduktif) tidak bertemu dengan kesuksesan dalam teori
akuntansi berhutang pada pemahaman terbatas dari teknik simbol laksana
kekurangsepakatan pada premis mendasar akuntansi keuangan. Metode deduktif umum
bagaimanapun tetap penting dalam teori akuntansi dan pengambilan kebijakan.

5
Metode Induktif menguji atau mengetes data, biasanya menggunakan sampel dari
sebuah populasi. Dan membuat kesimpulan dari populasi. Pada riset akuntansi data didapat
melalui banyak metode dan sumber, termasuk pengiriman kuisionrer pada praktisi atau
bagian lain yang tepat, eksperimen labor, individu yang terlibat dalam simulasi, beberapa
laporan keuangan yang dipublikasikan dan harga saham perusahaan publik.

Satu hal kritis pada awal riset induktif atau empiris akuntansi adalah menyatakan
realasi/hubungan adalah mekanistis, misalnya tes empiris dibuat pada hubungan antara
security price dengan perubahan metode akuntansi, bagaimanapun pertanyaan MENGAPA
penyusun standar atau manajer keuangan memilih alternatif tertentu menyisakan sebagian
besar yang tidak terjawab.

Riset empiris menempatkan hubungan antara earning dan security price atau usaha
untuk menjawab pertanyaan MENGAPA sebagian standar dipilih oleh pembuat kebijakan
atau mengapa manajemen memilih sebagian alternatif akuntansi, yang biasa disebut riset
akuntansi posistif. Akuntansi positif mencoba menjelaskan hubungan perilaku dalam
akuntansi. Ia mencoba menggambarkan ‘what is’ tanpa membuat penilaian bagaimana
mestinya, sehingga peneliti terlebih dahulu harus membuat nilai untuk kemudian
dipertunjukkan.

2.2. Teori Normatif dan Deskriptif

Selain diklassifikasikan menjadi deduktif dan induktif, teori dapat diklassifikasikan


normatif dan deskriptif. Teori normatif menggunakan nilai dalam pertimbangan, yang
mengandung sedikitnya satu premis yang menyatakan ‘seharusnya’ . misalnya Pelaporan
Keuangan harus didasarkan pada pengukuran aset Net Realizable Value akan
mengindikasikan sebuah sistem yang normatif. Sementara teori deskriptif mencoba
menemukan hubungan kenyataan yang terjadi, W&Z adalah contoh teori deskriptif

Sistem deduktif sering disamakan dengan normatif walau matematika dan simbol
logika adalah deduktif sistem yang bebas nilai. Pendekatan-pendekatan induktif terkadang
mencoba menjelaskan. Ciri ini adalah hasil dari sifat dasar metode deduktif dan induktif.
Metode deduktif pada dasarnya tertutup, sistem non-empirik, kesimpulannya didasarkan
secara ketat pada premis. Pendekatan induktif karena mencoba mencari dan menjelaskan
hubungan dunia nyata, bersifat sebaliknya di bidang deskriptif dengan sangat alami.

2.3. Teori Global dan Partikular/Spesifik

Defenisi yang lebih tajam antara sistem deduktif dan induktif adalah global (makro)
dan partikular (mikro). Premis dari sistem deduktif adalah total atau keseluruhan atau
meliputi semuanya dalam dasar dan kesimpulan. Dalam konteks akuntansi, contoh
pendekatan global adalah teori menganjurkan satu tipe penilaian terhadap semua perkiraan.
Sedangkan sistem induktif karena didasarkan pada fenomena real dapat realistik dan

6
terfokus pada bagian kecil pada lingkungan yang relevan, dengan kata lain riset induktif
cenderung untuk menguji lebih seksama defenisi pertanyaan dan masalah.

2.4. Hubungan Komplementer Metode Deduktif dan Induktif

Perbedaan deduktif dan induktif dalam riset, meskipun merupakan konsep yang baik
pada tujuan pembelajaran sering tidak teraplikasi dalam praktek. Jauh dari kompetisi
pendekatan, malah keduanya saling melengkapai dan sering digunakan secara bersamaan.
Hakanson, misalnya menganjurkan agar metode induktif dapat digunakan pada penilaian
dengan tepat seperangkat premis yang terselesksi dan original pada sistem deduktif primer.
Ternyata perubahan premis dapat mengubah logika mendapatkan keputusan. Proses riset
sendiri tidak selalu mengikuti pola secara persis. Peneliti sering bekerja terbalik dari
kesimpulan terhadap studi lain dengan membangun hipotesis baru agar cocok dengan data.
Lalu kemudian menguji hipotesis baru.

Dalam model yang berbeda riset induktif dalam akuntansi dapat membantu
menerangkan hubungan dan fenomena yang sedang berlangsung pada lingkungan bisnis.
Riset ini dalam pada gilirannya bermanfaat dalam proses pengambilan kebijakan dimana
metode deduktif membantu memutuskan aturan yang telah ditentukan. Karenanya menjadi
jelas bahwa metode induktif dan deduktif dapat digunakan bersama dan bukan metode yang
saling ekslusif meskipun tidak mungkin menjaga riset induktif menjadi bebas nilai.

3. APAKAH AKUNTANSI SEBUAH SENI ATAU ILMU?

Dalam sebuah artikel penting and buku follow-up Sterling mencoba mengklarifikasi
posisi relatif akuntansi terhadap imu. Ia berpendapat bahwa seni lebih berat merupakan
interpretasi pribadi dari pelakunya. Sedangkan ilmu bagaimanapun seharusnya memiliki
kesepakatan dari para praktisinya dalam jumlah yang banyak tentang fenomena yang diteliti
dan diukur.

Sterling yakin bahwa bahwa akuntansi jauh lebih dekat kepada seni daripada ilmu jika
melihat bagaimana akuntan mendefenisikan masalah. Misalnya dalam kasus depresiasi, sebuah
kesepakatan adanya ruang gerak yang luas tersedia dalam pengukuran kita dalam menyeleksi
metode penyusutan dan memutuskan jumlah tahun masa manfaat dan nilai sisa. Hasilnya,
objektivitas menjadi sangat rendah. Pendekatan ilmiah berjuang keras untuk mengadakan
prosedur pengukuran sebagai kelengkapan yang bermakna secara ekonomi. Sebagaimana
replacement cost atau NRV dari asset atau elemen lain yang diukur.

4. PETUNJUK DALAM RISET AKUNTANSI

Pendekatan yang didiskusikan di bawah ini mewakili orientasi tertentu atau petunjuk riset
akuntansi. Mewakili perubahan yang signifikan melampaui riset normatif murni generasi yang
lalu

4.1. The Decision-Model Approach/Pendekatan Keputusan-Model

Model ini menyatakan informasi apa yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan.
Dari sudut pandang ini laporan keuangan didasarkan pada entry value, exit value dan
discounted cash flows yang memenuhi syarat berkemungkinan bermanfaat. Pendekatan ini

7
tidak menyatakan informasi yang diinginkan users melainkan lebih berkonsentrasi pada
informasi yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan tertentu. Dengan demikian
orientasinya adalah normatif dan deduktif. Premis yang mendasari riset ini adalah pembuat
keputusan yang perlu diajar bagaimana menggunakan informasi jika mereka tidak familiar
dengan informasi tersebut.

4.2. Riset Pasar Modal

Sebuah jumlah yang signifikan dari riset empirik/induktif memperlihatkan harga


saham perusahaan publik bereaksi dengan cepat dan dalam keadaan tidak bias terhadap
informasi baru. Karenanya harga pasar diasumsikan dapat merefleksikan secara utuh
semua informasi yang tersedia untuk publik. Proposisi ini secara prinsip dari disiplin
keuangan diketahui sebagai effecient market hypothesis. Wawasan yang sangat signifikan
meningkat memberi tekanan pada peragaman portofolio investasi lebih dari mencoba
untuk ‘menggendang’ pasar pada sebuah basis saham individu. Hipotesa efesiensi pasar
memiliki potensi implikasi yang signifikan pada akuntansi. Misalnya karena informasi
terefleksi dengan cepat pada harga saham, daya dorong untuk peningkatan keterbukaan
dengan sedikit perhatian pada pilihan alternatif akuntansi tumbuh lebih kuat.

4.3. Riset Perilaku


Riset perilaku adalah area penting lainnya yang harus diselidiki. Perhatian utama dari
riset ini adalah bagaimana pengguna laporan keuangan membuat keputusan dan informasi
apa yang mereka butuhkan. Pendekatannya adalah deskriptif, sedangkan pendekatan
decision model adalah normatif. Kebanyakan penelitian ini menggunakan subyek situasi
percobaan yang terkendalikan dengan seksama.
4.4. Teori Keagenan
Teori keagenan atau teori kontrak adalah sebuah tipe penting dalam riset akuntansi
saat ini. Teori keagenan bisa merupakan deduktif dan induktif dan merupakan contoh yang
istimewa dari riset perilaku walaupun akar teori keagenan pada keuangan dan ekonomi
lebih dari psikologi dan sosiologi. Asumsi yang mendasari adalah reaksi individu pada saat
terjadi konflik antara kepentingannya dengan kepentingan perusahaan. Asumsi lain yang
penting dari teori adalah titik persimpangan antara banyak tipe kontrak di antara
manajemen, pemilik, kreditur dan pemerintah. Hasilnya teori keagenan memperhatikan
variasi cost dari hubungan pemantauan dan pelaksanaan di antara kelompok yang beragam.
4.5. Informasi Ekonomi
Akuntan menjadi semakin sadar kterhadap biaya dan manfaat dalam menghasilkan
informasi akuntansi. Ini lapangan yang relatif baru bagi peneliti akuntansi; informasi
ekonomi. Riset informasi ekonomi biasanya dasarnya adalah analitis/deduktif. Dengan
pengecualian dari akuntansi arus kas model alternatif dari model akuntansi biaya historis
akan –kelihatan mengganggu biaya produksi informasi tambahan pada perusahaan.
Tujuan dari analisa teory informasi adalah menentukan bagaimana rancangan kontrak
dioptimalkan untuk menegosiasikan insentif dan pembagian resiko. Riset juga
memperlihatkan pentingnya fungsi pelayanan akuntansi (menilai kinerja manajemen relatif
penting untuk menentukan insentif dan reward manajemen)

8
4.6. Critical Accounting
Critical Accounting adalah cabang teori akuntansi yang memandang akuntansi
memiliki peran sebagai poros dalam memutuskan konflik antara perusahaan dan konstituen
sosial seperti buruh, konsumen dan masyarakat umum. CA merupakan perpaduan
gabungan dua area yaitu akuntansi sektor publik dan akuntansi sosial. tujuan dari
penelitian Critical Accounting untuk memindahkan bidang dari pinggiran ditempati oleh
akuntansi sektor publik dan akuntansi sosial ke dalam arus utama penelitian akuntansi (dan
tindakan) dengan mengadopsi perspektif yang didasari oleh konflik. Dalam riset CA sedikit
menekankan pada model matematika dan statistik dan lebih pada penjelasan sejarah.
4.7.Revolusi Ilmiah Akuntansi?

Seperti dinyatakan dalam pembahasan mengenai banyak sudut pandang tentang riset
akuntansi, riset akuntansi merupakan bidang yang dapat berubah secara terus menerus.
Sebagian diprediksi sebagai revolusi ilmiah dalam akuntansi karena ketidakpuasan dengan
paradigma yang ada. Paradigma adalah bagian pemecahan masalah yang dipandang
sebagai ilmu atau disiplin. Dalam akuntansi, bagian paradigma adalah historical costing
yang didasari oleh konsep realisasi, matching dan prinsip-prinsip lainnya seperti
konservatisme, going concern, entitas akuntansi dan periode waktu.

9
TEORI AKUNTANSI KEUANGAN
CHAPTER 1 DAN 2
BUKU FINANCIAL ACCOUNTING THEORY
WILLIAM R. SCOTT

KELOMPOK
I Komang Khrisna Adhitya Pratama (1881611027 / 02)
Anak Agung Ngurah Gde Punia Artawan Putra (1881611045 / 20)
I Gusti Putu Suma Ardana (1881611047 / 22)
Made Agus Entara (1881611049 / 24)

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2018

10
CHAPTER 1

INTRODUCTION

1.1 The Objective of This Book ( Tujuan dari Buku Ini)


Untuk memberikan jawaban kritis kepada pembaca terhadap lingkungan akuntansi
keuangan dan lingkungan pelaporan, dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan baik
dari pengguna eksternal dan manajemen

1.2 Some Historical Perspsctive ( Beberapa Sejarah Perspektif)


Deskripsi lengkap pertama dari sistem ini muncul pada 1494, ditulis oleh Luca Pacioli,
seorang ahli matematika Italia, pertama dilakukan dengan konsep penggabungan, seperti contoh
pada transaksi piutang, yang melandasi munculnya konsep pendapatan dan modal, Konsep ini
disebut “method of Venice”.
Pada Tahun 1494 Double Entry Sytem menyebar keseluruh Eropa, Perusahaan India
Belanda bagian timur telah menggunakannya pada tahun 1602, adalah perusahaan pertama yang
mengeluarkan saham dengan kewajiban terbatas, dimana saham dapat dipindah tangankan,
pada pasar bursa saham, hal ini menjadi penting dalam suatu organisasi bisnis.
Pada Tahun 1844 di Inggris, perusahaan accouting menjadi penting, dalam accounting,
konsep penyedia dan pemeriksa neraca untuk pemegang saham muncul didalm peraturan.
Meskipun tidak berjalan dan ditegakkan hingga tahun 1900
Pada abad ke dua puluh perkembangan financial accounting bergeser ke United States
dalam kekuatan ekonomi yang tumbuh cepat, hal ini mendorong bagian Pajak negara
membujuk bisnis manajer untuk menyetujui amortization akan mengurangi pendapatan. Namun
tidak tertulis dalam peraturan.
Pada tahun 1929 pasar bursa saham jatuh, sehingga dibentuk Securities and Exchange
Commission (SEC) tahun 1934, untuk menjaga investor dengan cara melakukan pengungkapan
berdasarkan struktur, dengan memberikan informasi yang memadai.
Marino and Neimark (MN; 1982) memberikan laporan pada beberapa praktik pasar
sekuritas pada tahun 1920, Benston (1973) juga mencatat tujuan dari peraturan pengungkapan
diharapkan mampu memotivasi pebisnis besar untuk tidak menguasai pasar
Dari pengalaman krisis pada tahun 1929, memperkuat dalam proses pencatatan biaya yang
terkenal dengan Paton and Litteton (1940) monograph An Intruduction to Corporate
Accounting Standarts
Selanjutnya, beberapa peristiwa penting memiliki dampak besar pada akuntasi dan
pelaporan keuangan, seperti yang terjadi pada akhir tahun 1990, dimana jatuhnya harga saham,
dibanyak perusahaan, terutama yang berada di industri teknologi tinggi. Sehingga banyak
perusahaan mengalami kebangkrutan, karena tedapat banyak penyimpangan pada
pengungkapan pelaporan keuangan, yang telah lama menjadi masalah dalam teori dan praktik
akuntansi.
Maka dari itu disahkanlah suatu konggres Sabarnes-Oxley oleh Amerika Serikat (U.S)
pada tahun 2002 untuk menghidari sejarah kelam yang terjadi pada akuntansi, dengan
memperketat fungsi audit dan meningkatkan tata kelola perusahaan. Ketentuan utama dari

11
Sabarnes-Oxley adalah membuat lembaga akuntan public PCAOB (Company Accounting
Oversight Board).
Lembaga ini memiliki kekuatan untuk menetapkan standart audit dan untuk memeriksa dan
mendisiplinkan auditor perusahaan publik

1.3 The 2007 – 2008 Market Melt Downs ( Krisis Pasar )


Peraturan dan standar baru ini mereka sebut dengan structured investment vehicles (SIV),
dan menyatukannya menjadi asset-backed securities(ABS) biasanya digunakan oleh pmpinan
bank. Untuk membantu meyakinkan investor bahwa perusahaan akan berdiri dibalik investasi
yang dijual
SIV juga dapat melindungi mereka dengan membeli credit defult swaps dari beberapa
perantara seperti perusahaan asuransi, ini adalah instrumen keuangan derivatif yang akan
mengganti SIV untuk semua atau sebagian dari kerugian kredit pada ABS-nya. untuk
mendapatkan asuransi ini, pembeli membayar biaya (disebut spread) kepada penerbit.
Keyakinan bahwa kerugian kredit pada ABS yang mendasari dilindungi lebih lanjut
meningkatkan kepercayaan pemimpin bahwa ABS mempunyai Risiko Rendah.

Ada beberapa pendapat dari pakar ekonomi dan politisi mengenai kegagalan baru-baru ini,
salah satu diantaranya adalah menerima lembaga keunagan untuk menahan peningkatan
cadangan modal. Tanggapan lain adalah membatasi untuk memodifikasi praktik kompensasi
manajerial lembaga keuangan, sejak kecurigaan muncul praktik kompensasi yang ada termasuk
sejumlah besar saham dari leverage neraca.

Ada beberapa point yang relevan untuk akuntan tentang masalah kegagalan dalam
pencatatan. Pertama, pelaporan keuangan harus transapan sehingga investior dapat menilai aset
dan kewajiban dengan benar. Kedua, akuntansi dinilai wajar berdasarkan nilai pasar. Ketiga,
aktivitas dalam neraca harus dilaporkan, meskipun tidak dalam penyesuaian.

1.4 Efficient Contracting ( Kontrak yang Efisien)

Kontrak yang efisien biasanya bergantung pada variabel akuntansi, seperti laba bersih.
peran pelaporan keuangan untuk tujuan utang dan kompensasi adalah untuk menghasilkan
kepercayaan. Kepercayaan ini diperlukan jika pemberi pinjaman ingin memberikan pinjaman
kepada perusahaan dan jika pemegang saham ingin mendelegasikan tanggung jawab manajerial
kepada manajer dan pemegang saham

Manajer tidak dapat menutupi kinerja buruk dengan memanipulasi secara pencatatan laba
bersih dan nilai neraca yang dilaporkan

Perbedaan utama dari kedua pendekatan pengukuran adalah peran konservatisme dalam
pelaporan keuangan. Dengan keservatisme, kerugian yang belum direalisasi dan penurunan
nilai diakui ketika terjadi, tetapi keuntungan dari kenaikan nilai tidak diakui sampai mereka
merealisasikan. Standar akuntansi mencakup banyak contoh konservatisme, seperti tes biaya
dan penurunan nilai yang lebih rendah untuk asset modal dan banyak dokumen keuangan.

12
Bisa dibilang pandangan penyusun standar adalah bahwa konservatisme mengurangi
kemungkinan yang selalu menghasilkan gugatan hukum, ketika perusahaan melaporkan
kerugian besar yang tak terduga. Pandangan konservatisme kontrak adalah arah untuk
meningkatkan efisiesi yang diberikan kepada investor, terutama investor dengan kesulitan
keuangan

1.5 A Note on Ethical Behavior (Prilaku Etika)


Perilaku etis oleh akuntan dan auditor diperlukan. Itu berarti akuntan dan auditor harus
berperilaku dengan intergritas dan kemandirian, seperti Thiomas Hobbes mengatakan, bahwa
jika orang bertindak semata-mata sebagai individu yang egois, maka masyarakat akan rutuh ke
titik dimana kekuatan prilaku tidak kooperatif

1.6 Rules-Based Versus Prinsiples Based Accounting Standart ( Aturan Berdasarkan Prisip
Standar)
Aturan berdasarkan standar berusaha meletakkan petunjuk terperinci, untuk bagaimana
akuntan menetapkan prinsip umum Standar akuntansi saja, dan mengandalkan penilaian
professional auditor untuk memastikan bahwa penerapan standar tidak menyesatkan. Sebuah
standar yang berbasis perinsip untuk konsolidasi akan diperlukan ketika kegagalan.

1.7 The Complexity of Information in Financial Accounting and Reporting (Kompleksitas


Informasi dalam Akuntansi Keuangan dan Pelaporan)
Lingkunag akuntansi sangat kompleksdan menantang. Itu rumit karna produk akuntansi
adalah informasi komoditas yang kuat dan penting. Alas an yang penting dari kompleksitas ini
tidak adanya konsep dan standart akuntansi yang sempurna atau benar, sebagai hasilnya,
individu tidak akan menjadi tidak toleran dalam reaksi mereka terhadap informasi yang sama,
alas an lain kompleksitas informasi adalah bahwa ia lebih dari mempengaruhi keputusan
individu. Dalam mempengaruhi keputusan itu juga mempengaruhi kerja pasar, seperti pasar
sekuritas dan pasar kerja manejerial

1.8 The Role of Accounting Reserch (Peran Reserch Akuntansi)


Ada dua cara yang saling melengkapi yang dapat kita lihat peran dari peneliti, pertama
adalah mempertimbanhkan efeknya pada praktik akuntansi misalnya esensi dari pendekatan
kegunaan keputusan yang membatalkan kerangka konseptual adalah bahwa investor harus
diberikan informasi untuk membatu mereka membuat keputusan investasi yang baik
Selanjutnya seperti yang kita lihat teori telah melalui ujian empiris yang ekstensif yang
telah menetapkan bahwa rata-rata investor menggunakan informasi akuntasi yang seperti
diprediksi oleh teori
Kedua pandangan penting dari peran penelitian adalah untuk memperbaiki keadaan
lingkungan akuntansi yang tidak jelas, dengan argumen yang tidak diterima begitu saja

13
1.9 The Importance of Information Asymmetry (Pentingnya Asimetri Informasi)
Ekonomi dikatakan dicirikan oleh asimetri informasi, ketika bebrapa pihak dalam transaksi
bisnis dapat memiliki keuntungan informasi diatas yang lain atau dapat mengambil tindakan
yang tidak dapat diamati oleh orang lain, ada dua jenis informasi asimetri, pertama adlah seleksi
terbalik, dimana satu atau lebih pihak untuk melakukan transaksi bisnis. Yang kedua jenis
informasi asymmetry moral Hazard dimana satu atau lebih pihak tetapi satu pihak dapat
mengamati tindakan dalam pemenuhan kontrak, tetapi pihak lain tidak bisa

14
ACCOUNTING UNDER IDEAL CONDITION

AKUNTANSI DALAM KONDISI IDEAL

CHAPTER 2

1. Dalam kondisi ideal dengan kepastian:


a) Karakteristik kondisi ideal di bawah kepastian (certainty) adalah arus kas masa depan dan
tingkat suku bunga yang bebas risiko publikasi dan pasti. Apabila kedua hal ini terjadi
maka disebut kondisi yang ideal. Dalam kondisi ideal, Laporan keuangan dapat
menghasilkan informasi yang relevan sekaligus reliabel. Dapat dikatakan relevan apabila
neraca menggambarkan prospek perusahaan di masa mendatang. Dikatakan reliabel jika
memenuhi (a) precision, yaitu bebas dari error atau kesalahan dalam sistem akuntansi
estimasi, serta (b) hardness, yaitu bebas dari bias dan manipulasi.
b) Laba bersih dapat dihitung dari perkalian tingkat bunga dengan nilai tunai awal aktiva yang
disebut juga accretion of discount. Laba ini juga disebut ex ante net income (atau expected
net income) karena diprediksi di tahun 0 atau awal tahun. Karena kondisi ideal, maka laba
bersih ini akan sebesar laba yang terealisir yang disebut ex post net income (atau realized
net income).
c) Walaupun laba dapat dihitung dengan sempurna, informasi laba bersih dalam laporan rugi
laba tidak memiliki peran karena laba bersih sudah dapat ditentukan dari necara.
d) Nilai pasar aktiva akan sama dengan nilai tunai aktiva tersebut. Dalam kondisi ideal akan
selalu terjadi harga ekuilibrium antara nilai pasar dan nilai tunai, karena itu proses arbitrage
tidak bisa terjadi. Arbitrase juga bermaksud bahwa ada dua cara untuk menentukan nilai
wajar aktiva, yaitu (a) dengan mendiskontokan nilai tunai arus kas masa depan (pendekatan
ini disebut pendekatan langsung), dan (b) dengan menggunakan nilai pasar (pendekatan ini
disebut pendekatan tidak langsung).
e) Kebijakan dividen tidak relevan (dividend irrelevancy) karena apabila investor menerima
dividen dan menginvestasikannya dengan tingkat bunga yang sama, maka hasilnya akan

15
sama dengan apabila dividen tersebut tidak diambil. Nilai tunai bagi investor akan sama
saja.

Dalam kondisi ideal, neraca mengandung semua informasi yang relevan, sehingga laporan
rugi laba tidak diperlukan. Dalam kondisi ideal, laba bersih dapat dihitung dari perkalian tingkat
bunga dengan nilai tunai awal aktiva yang disebut juga accretion of discount. Laba ini juga
disebut ex ante net income (atau expected net income) karena diprediksi di tahun 0 atau awal
tahun. Karena kondisi ideal, maka laba bersih ini akan sebesar laba yang terealisir yang disebut
ex post net income (atau realized net income).

2. Dalam kondisi ideal dengan ketidakpastian:


a) Kondisi ideal dengan ketidakpastian (uncertainty) memiliki karakteristik:
- Tingkat suku bunga diketahui
- Kondisi ekonomi (state) dipublikasi dan lengkap
- Probabilitas terjadinya kondisi ekonomi diketahui
- Realisasi kondisi ekonomi dapat diobservasi
- Laporan keuangan dapat menghasilkan informasi yang relevan sekaligus reliabel
- Expected net income tidak sama dengan realized net income.
- Informasi laba bersih dalam laporan rugi laba tidak memiliki peran karena laba bersih
sudah dapat ditentukan dari necara.
- Nilai pasar aktiva dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu (a) dengan mendiskontokan
nilai tunai arus kas masa depan, dan (b) dengan menggunakan nilai pasar.
- Kebijakan dividen tidak relevan (dividend irrelevancy) karena nilai tunai bagi investor
akan sama saja
b) Perbedaan pokok antara kondisi ideal dalam kepastian dan kondisi ideal dalam
ketidakpastian terletak pada expected net income dan realized net income. Dalam kondisi
kepastian, expected net income sama dengan realized net income. Sedangkan dalam
kondisi ketidakpastian keduanya tidak sama.
c) Dalam kondisi ideal, tidak ada kebutuhan untuk melakukan estimasi untuk perhitungan
nilai tunai diharapkan (expected present value) karena dalam kondisi ideal arus kas dan
tingkat bunga bebas risiko sudah diketahui dengan pasti. Dalam kondisi ideal, nilai pasar
aktiva sama dengan diskonto arus kas masa depan aktiva tersebut, sehingga estimasi tidak
diperlukan.
d) Selain itu, dalam kondisi ideal laporan keuangan mengandung relevansi sekaligus
reliabilitas. Relevan karena neraca disusun berdasarkan arus kas masa depan diharapkan.
Reliabel karena kondisi ideal memberi keyakinan bahwa perhitungan nilai tunai sudah
tepat (precise) dan tidak bias, sehingga tidak memungkinkan adanya kesalahan atau
manipulasi manajemen. Seluruh kondisi mendatang yang relevan telah diantisipasi dan
secara objektif dimasukkan dalam perhitungan nilai tunai diharapkan.
3. Dalam kondisi non ideal dengan “Reserve Recognition Accounting (RRA)”

Dalam realisasinya, kondisi ideal belum tercipta. Sehingga, praktek akuntansi bergerak
secara kuat ke ke arah peningkatan penggunaan nilai wajar dari aset dan kewajiban. Selain itu,

16
model nilai sekarang menghadapi permsalahan keandalan yang serius ketika dicoba untuk
diterapkan tanpa kondisi ideal. Sulit dikatakan bahwa perusahaan minyak dan gas beroperasi
dibawah kondisi yang pasti. Konsekuensinya, SFAS 69 harus dipertimbangkan dalam
hubungannya terhadap model nilai sekarang dibawah ketidakpastian. Akuntansi nilai sekarang
diterapkan untuk persediaan minyak dan gas dikenal sebagai Reserve Recognition Accounting
(RRA). Beberapa kritik terhadap RRA adalah sebagai berikut.

a) Reaksi manajemen, perlu untuk membuat perubahan dalam estimasi yang kelihatannya
menjadi tulang punggung atas RRA.
b) Kegunaan untuk para investor, selain manajemen berhati-hati terhadap RRA< hal ini
tidak berarti bahwa hal riil tidak menyediakan informasi yang berguna untuk investor.
Tentunya RRA lebih relevan dibandingan informasi biaya historis, sehingga RRA
potensial untuk menjadi bermanfaat.
4. Akuntansi Biaya Historis

Akuntansi biaya historis relatif dapat diandalkan karena biaya atas aset atau kewajiban pada
sebuah perusahaan biasanya merupakan sebuah angka obyektif, yang kurang menadi subyek
untuk kesalahan dari estimasi dan bias daripada perhitungan nilai sekarang, sehingga biaya
historis mungkin kurang relevan. Selain biaya historis, nilai pasar, dan nilai sekarang mungkin
sama dengan tanggal perolehan/akuisisi. Nilai pasar dan nilai sekarang akan berubah seiring
perubahan kondisi pasar. Dasar akuntansi biaya historis harus digunakan untuk jenis aset-aset
besar karena akan menghilangkan sejumlah nilai yang dipertibangkan relevan untuk
memperoleh keandalan yang masuk akan. Konsekuensinya, akuntansi biaya historis
menyajikan trade off antara relevansi dan reliabilitas.

Perbedaan penting antara akuntansi berdasarkan nilai sekarang seperti RRA dan akuntansi
biaya historis adalah perubahan waktu pengakuan dalam nilai aset. Akuntansi nilai sekarang
menggunakan pendekatan neraca yang disebut sebagai perspektif pengukuran (measurement
perspective). Hal ini meningkatkan (atau mengurangi) nilai aset dan kewajiban yang diakui
(diukur) pada saat mereka terjadi, dengan mendiskontokan arus kas masa depan dan
mengkapitalisasi nilai tersebut dalam neraca.

Akuntansi biaya historis menggunakan pendekatan laba rugi yang disebut sebagai
perspektif informasi (information perspective). Peningkatan nilai yang belum direalisasi tidak
diakui di neraca, dan laba bersih tertinggal dibawah kinerja ekonomi yang sebenarnya.

Ketika kondisi tidak ideal, akuntansi biaya historis masih dianggap menyediakan informasi
yang lebih baik mengenai prospek ekonomi masa depan perusahaan (kepentingan utama dari
para investor) daripada akuntansi berdasarkan nilai sekarang. Selain itu, akuntansi biaya historis
merupakan cara untuk memudahkan arus kas periode saat ini ke dalam sebuah pengukuran
jangka panjang.

5. Ketiadaan Laba Bersih yang Sebenarnya

Dalam menyusun laporan keuangan yang lengkap dengan basis nilai sekarang, perlu untuk
menilai seluruh aset dan kewajiban perusahaan dengan laba bersih yang berubah dalam nilai

17
sekarang perusahaan. Sebelumnya, telah dijelaskan dalam RRA beberapa permasalahan yang
timbul ketika menerapkan pendekatan nilai sekarang untuk menilai satu jenis aset.
Permasalahan fundamental yaitu kurangnya profitabilitas yang obyektif, membuat nilai
sekarang dari aset dan kewajiban menjadi tidak merefleksikan ketidapastian yang dihadapi
perusahaan.

18

Anda mungkin juga menyukai