Anda di halaman 1dari 12
é PELUANG PENGEMBANGAN KAKAO DAN PRODUK OLAHANNYA DALAM UPAYA PEMULIHAN EKONOMI MASYARAKAT KABUPATEN POSO Akmodi Abkos & Lido Ariesusonty Pembangunan ekonomi merupakan salah satu supaya ‘meningkatkan perekonomian daerah dalam konsep pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan sumberdaya lokal menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi. Kakao merupakan produk unggulan Kabupaten Poso, ini tergambarkan melalui kepemilikan kebun kakao_ oleh hampir semua kepala keluarga, Rata-rata per kepala keluarga ‘memiliki 400-1000 pohon atau 0,25 ha, tetapi produk kakao yang dihasilkan masih dijual dalam bentuk primer yaitu berupa biji kakao kering. Nilai tambah dapat ditingkatkan bila dikembangkan proses pengolahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Langkah persiapan dan uji coba pengolahan kakao telah dilakukan di Kabupaten Poso, dengan melaksanakan pelatihan dan prakiek perigolahan kakao yang memanfaatkan teknologi proses sederhana skala keeil. Dalam proses pengolahan kakao ini dihasilkan coklat bubuk Yeocoa powder), lemak coklat (cocoa butter), coklat (milk chocolate & Dark chocolate), dan selai coklat (chocolate spread). Dari uji coba yang telah dilakukan, produk yang dibasilkan ‘mendapat respon positif dari masyaraat Poso dan di luar Poso saat iperkenalkan di berbagai pameran yang diselenggarakan di daerah ‘maupun nasional. Oleh karena itu pengembangan usaha pengolzhan kakao merupakan altrenatif yang memiliki peluang untuk mendorong, pertumbuhan ekonomi daerah, dan membuka peluang kesempatan kerja di luar kegiatan pertanian. Mempertimbangkan hal tersebut, maka Pemerintah Kabupaten Poso bekerjasama dengan Lembaga Timu Pengetahuan Indonesia (LIP!) mengembangkan unit usaha pengolahan kakao skala kecil yang berlokasi di Kecamatan Poso Pesisir SF 228 | ebay Page fle Dan ret Osan Blon Uae Meskipun telah dimulai pada tahun 2004, tetapi usaha pengolahan kakao yang kembangkan belum berproduksi. Tahun 2005 direncanakan produksi awal sudah akan dilakukan, tetapi karena prasarana yang belum siap maka untuk kegiatan produksi ditunda hingga pada tahun berikutnya. Pada tahun 2005 difoluskan untuk ‘mencari altematif jenis produk agar dapat memiliki daya saing yang ‘cukup tinggi ketika dipasarkan kelak. INDUSTRI COKLAT (OLAHAN KAKAO) Bifji kakao yang berkualitas merupakan tuntutan bagi industri coklat. Kualitas biji kakao dipengaruhi oleh jenis bibit, kondisi perkebunan, dan penanganan pasca panen yang baik. Perkebunan kakao saat ini di Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengab kurang menunjukkan kondisi yang baik. Bijikakao yang dijual ppetani, kualitasnya kurang baik karena tidak melalui proses fermentasi setelah dipetik schingga kurang diminati oleh industri coklat dan harganya pun rendah. Sebenamya perusahaan (industri coklat) mau membeli biji kakao para petani dengan harga yang kompetitif jika kualitas yang dirtawarkan cukup baik. Salah satu alasan tidak dilakukannya fermentasi pada biji kakao yang dihasilkan petani adalah Karena penampung/pasar tidak membedakan harga kakao basil fermentasi dengan yang tidak difermentasi. Namun jika hanya sejumiah kecil petani yang dapat menawarkan biji kakao basil fermentasi dan berkualitas baik, perusshaan (industri coklat) juga tidak dapat memberikan harga yang berbeda dengan harge kakao berkualitas biasa. Karena jumlah tersebut tidak cukup signifikan untuk ‘menghasitkan produk yang berkualites baik. ‘Untuk menghasilkan coklat yang baik, maka langkah yang paling penting adalah selcksi biji serta menangani biji kakao sesuai standar (fermentasi). Biji kekao berkualitas adalah biji yang sudah ‘difermentasi dan sesuai standar nasional Indonesia (SNI) dinilai dari ‘ukuran bij, sebagai berikut: 1, Kadar air sekitar6%-7%. Potuang Pengombaagen Kakeo Dan Prodek Olahannys Dla Upay 229 2, Jumlah bijiper 100 gram: 2. KelasAA S85 biji b. Kelas S100bifi ¢, KelasB S120biji . KelasC $120 biji e. KelasS> 120biji 3. Kadar kulit 11% - 13%, atau setefah dilakuken pemisaban dengan kulitari beratkulitari sebesar 11% - 13% dari berat bij setelah disangrai. ‘SNI ini sangat penting sebagai acuan petani untuk dapat menghasilkan biji kakao yang berkualitas dan sesuai tuntutan pasar. Disamping itu ukuran biji sangat penting, dan berpengaruh pada pengoperasian ‘mesin pengolahan. Dengan ukuraa biji yang standar, maka pengolahan akan dapat berjalan baik, efektif dan efisien serta tidak banyak terjadi Joses (kehilangan). Beberapa peneliti dari Amerika Serikat telah melakukan survey kondisi serta peluang pengembangan kakao di Sulteng. Hasil penelitian mereka menyatakan bahwa daerah Poso, sangat cocok untuk ditanami kakao, Namun kendala yang dihadapi adalah transportasi, arena umumnya dacrah perkebunan berlokasi di perbukitan schingga sulit untuk membawa hasil panen ke jalur transportasi utama, Untuk itu perlu dikembangkan sarana dan prasana ‘yang mernudahkan penganglaitan hasil perkebunan. Pengetahuan yang sangat diperlukan untuk memulai svatu usaha pengolahan kakao adalah kelengkapan data mengenai luas dan jenis lahan yang digunakan dan jumlah pohon yang sudah berproduksi di suatu wilayah, Kondisi petkebunan pun perlu diperhatikan, apakah perkebunan tersebut dikelola sccara intensif atau tidak. Data lain yang perlu diketahui juga adalah jenis bibit yang ditanam, pola tanam, dan penanganan pasca panen. Untuk memulai industri coklat, dalam satu area, Iuas minimal petkebunan kakao yang diperlukan adalah 5.000 Ha. Dengan luasan kebun kakao tersebut, hasil produksi kakeo dapat difermentasi secara bersamaan schingga banyaknya kakao hasil fermentasi yang 230 _| Poiuang Pengembangen Katao Dan Prods Olahennya Dalam Upaye nnn dihasilkan cukup signifikan untuk dioleh. Karena bila kakeo yang difermentasi hanya dalam jumlah kecil, maka tidak akan memberikan, pengaruh signifikan pada kualitas produk coklat karena penggunaan biji kakao yang biasa (tidak difermentasi) masih lebih dominan. Oleh kerenanya dalam pengolahan kakao sebaiknya dilakukan secara berkelompok dengan pembinaan khusus dari pihak terkait, misalnya dinas perkebunan. Dengan membentuk kelompok petani kakao, maka dapat dilakukan fermentasi bersama, Hasilnya tentu akan lebih baik dibandingkan jika dilakukan perseorangan. Jika semua ini dilakukan dengan baik, make konsumen aken tertarik terhadap kakao yang ihasilkan, dan petani bisa mendapatkan harga yang baik. Harga yang, baik akan selalu mengikuti jika produk yang dihasilkan menunjukkan, kualitas yangbaik. ‘Syarat utama pembangunan sebuah industri pengolahan kakao di svatu daerah adalah ketersediaan balian baku. Dibutuhkan minimal 40.000 Ha perkebunan kakao dengan produksi 1.000 ton biji kakao kering perbulan. Secara berkelompok para petani kakao di Poso dapat menentukan banyaknya biji kakao yang dijual (misalnya 25% - 45%) untuk diolah di pabrik lokal, dan sisanya diekspor. Persyaratan yang ibutuhkan dalam membangun sebuah pabrik pengolahan kakao tentu adalah SDM yang berkualitas, baik di bidang proses pengolahan kakao ‘maupun teknisjdandal untuk mengoperasikan mesin yang digunakan, Jika syarai-syarat tensebut belum dapat dipenuhii;akan lebih baik bila usaha diarahkan pada pengadaan dan penyediaan bahan baku yang berkualitas bagi mensuplai industri pengolahan kakao yang