Anda di halaman 1dari 8

RESUME AKUNTANSI MANAJEMEN STRATEGIK

CH 2. COST ANALYSIS

Suhita Whini Setyahuni - 12030117420059

Maksi 38-Korporat

1. PENDAHULUAN

Analisis biaya tradisional dimulai dari klasifikasi biaya. Dua pendekatan utama yang muncul
adalah : pendekatan fungsional dan perilaku biaya. Pendekatan fungsional membagi biaya dan
beban berdasarkan penggunaan spesifik fungsionalnya. Contoh : biaya tenaga kerja, biaya
overhead pabrik, biaya bahan baku,dll. Pendekatan fungsional menekankan dimana biaya tersebut
dihabiskan, dan bukan bagaimana biaya tersebut dihubungkan dengan aktivitasnya.

Pendekatan perilaku biaya menggambarkan bagaimana biaya bereaksi terhadap level aktivitas
outputnya dengan menggunakan variabilitas biaya. Menurut pendekatan perilaku biaya, biaya
digolongkan menjadi fixed cost dan variabel cost. Biaya variabel adalah biaya yang mudah
ditelusuri dan diidentifikasi aktivitasnya. Biaya ini akan naik seiring dengan naiknya aktivitas.
Sebaliknya, biaya tetap (FC) merupakan biaya yang tidak terpengaruh ada atau tidaknya aktivitas.
Sunk cost adalah biaya yang dibayar tetapi tidak berhubungan dengan aktivitas output operasi.
Pendekatan perilaku biaya membedakan biaya aktivitas produksi dan aktivitas penjualan. Perilaku
biaya mennetukan skala operasi dan kemampuan perusahaan untuk mengontrol, menentukan
harga, kontribusi laba, dan merebut harga saham.

2. STRUKTUR BIAYA

Struktur biaya merupakan hal yang penting karena mennetukan seberapa fleksibel strategi dan
kebijakan perusahaan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Perusahaan dengan struktur
FC yang tinggi menunjukkan perusahaan kurang fleksibel dalam mengurangi biaya ketika
penjualan menurun. Potensi biaya yang tingi akan beresiko menaikkan kemungkinan kerugian.
Sebaliknya, perusahaan dengan FC yang rendah akan membatasi perusahaan dalam melakukan
ekspansi. Perusahaan akan kesulitan menyesuaikan harga produk, sehingga beresiko kehilangan
pangsa pasar.
Singkatnya, struktur biaya berdampak pada :

 FC yang tinggi akan menguntungkan perusahaan dalam segi skala ekonomi.


 FC yang tinggi menyebabkan perusahaan sulit beradaptasi atau kurang fleksibel
menghadapi lingkungan bisnis yang sering berubah.
 FC yang tinggi lebih dinamis dalam merebut pangsa pasar.

Struktur biaya merupakan manifestasi dari pilihan strategi dalam jangka panjang. Perusahaan telah
memilih struktur yang optimal yang digerakkan dari keunggulan komparatif dalam pasar yang
kompetitif.

3. ANALISIS LABA KONTRIBUSI

Kontribusi laba dibangun dari struktur biaya perusahaan. FC merupakan komponen biaya yang
tidak dapat disesuaikan, sehingga tidak relevan untuk digunakan sebagai pengambilan
keputusan. Dengan demikian, formula laba perusahaan digambarkan sebagai berikut :

Laba = Penjualan – VC – FC

Perusahaan dengan FC tinggi mampu menghasilkan laba lebih tinggi pada volume penjualan
yang tinggi daripada perusahaan dengan FC rendah. Laba kontribusi merupakan teknik dan
konsep yang sangat kuat dalam keputusan harga, manajemen kapasitas, atau keputusan
operasional. Perusahaan dapat memutuskan perubahan skema pembayaran untuk tim penjualan
dalam rangka meningkatkan penjualan. FC tidak relevan untuk pengambilan keputusan karena
diberlakukan sebagai Sunk Cost dan tidak ada peluang untuk kapasitas luang yang bisa
digunakan.

Analisis laba kontribusi berkaitan dengan struktur biaya terhadap harga, volume, dan margin
laba. Merupakan hal yang sangat instrumental dalam pengambilan keputusan keuangan
dimana perilaku biaya merupakan inti dari konsep laba kontribusi.

4. ANALISIS BIAYA STRATEGIK


Analisis biaya strategik fokus pada bagaimana posisi biaya mengubah dengan perhatian pada
perubahan posisi keunggulan kompetitif perusahaan. Pendekatan ini menekankan pada proses
strategik diantaranya :

1) Identifikasi SWOT perusahaan


Analisis SWOT merupakan tahap lahirnya siklus proses strategik. Analisis SWOT
ingin mengetahui posisi perusahaan terhadap kompetitor, customer, suplier, dan
penyedia sumber daya. Pada tahap ini informasi biaya menjadi fokus eksternal, Posisi
biaya antara perusahaan dengan pasar umu ditekankan dan informasi yang berkaitan
dengan competitive advantage perusahaan dicari.
2) Penjangkaran pasar yang kompetitif
Tahap ini menggunakan informasi biaya untuk menemukan apa yang seharusnya
dicari oleh pasar dan perusahaan harus memanfaatkan hal itu sebagai competitive
advantage. Apa yang unik yang ada pada perusahaan, apa penggerak biayanya, apa
value chain perusahaan, dan struktur biaya yang memungkinkan pemilihan strategi,
dan bagaimana perusahaan dapat mengkuantifikasikan competitive advantage melalui
analisis kompetitor.
3) Formulasi strategi terhadap positioning strategi
Pada tahap ini membangun tipe strategi umum yang dipilih. Strategi umum juga
menentukan pilihan perusahaan atas rencana nilai terhadap customer. Pilihan
mempunyai implikasi bagi sistem informasi biaya. Pilihan tersebut menentukan
apakah desain sistem informasi diarahkan terhadap peningkatan nilai superior melalui
diferensiasi strategi atau nilai ekonomi melalui strategi keunggulan biaya.

4) Implementasi strategi dan detail rencana


Pada tahap ini dilakukan pengubahan ide menjadi rencana, strategi menjadi tugas yang
bisa dijalankan, dan tugas menjadi pengukuran pengendalian yang bisa didefinisikan
sehingga kinerja actual dapat dievaluasi dan perkembangan kinerja dapat di review
dan dibandingkan dengan keseluruhan rencana perusahaan.
5) Evaluasi dan mengulangi rencana
Evaluasi rencana merupakan tahap akhir dari proses strategi dimana menekankan pada
identifikasi gap kinerja, analisis sebab dan akar, dan tahap untuk mengulangi rencana
strategi. Sistem informasi biaya difokuskan pada internal, didukung oleh informasi
pasar yang baru dalam mencari penjelasan untuk perubahan lanskap pasar.

Analisis biaya strategi difokuskan pada 2 hal. Pertama, menekankan pada pemilihan strategi cost
driver untuk membangun kompetitif dan kompetensi. Cost driver merupakan pengembangan
kapabilitas struktural. Kapabilitas struktural merupakan skala, lingkup, pemilihan teknologi, dan
kompleksitas operasi. Kedua, analisis positioning strategi. Dalam hal ini informasi biaya didesain
untuk : a) menilai resiko bisnis, b) membangun timing realistis untuk milestone, c) menentukan
jumlah investasi, d) menyajikan informasi untuk mengevaluasi kinerja secara tepat, e) mengatur
efektivitas skema insentif untuk motivasi.

5. ACTIVITY BASED COSTING

Untuk mengalokasikan biaya tak langsung ke produk tidaklah mudah. Pendekatan tradisional
banyak dikritisi karena membuat pricing untuk produk secara tidak akurat dan menyesatkan
manajemen. ABC dibangun sebagai alternatif untuk metode tradisional dalam product costing dan
value chain analysis.

ABC menekankan pada pentingnya menghubungkan biaya tidak langsung terhadap aktivitas
dalam alokasi biaya. Didasarkan pada asumsi bahwa biaya diturunkan dari adanya aktivitas. Ketika
banyak aktivitas, maka akan timbul banyak biaya pula. Berdasarkan logika tersebut, biaya harus
dialokasikan kepada aktivitas yang menggerakkan biaya. Objek biaya didefinisikan sebagai biaya
yang akan dialokasikan. Cost pool didefinsikan sebagai biaya yang dikumpulkan untuk melayani
fungsi yang serupa.

Menggunakan activity driver untuk menetapkan kembali biaya pada driver biaya, sehingga pola
pengeluaran yang lebih akurat akan didapat. Kelemahan ABC adalah : a) ABC tidak
mepertanyakan nilai tambah dari aktivitas, dan b) ada justifikasi atas pengeluaran biaya.

6. ARTIKEL “IMPLEMENTATION OF ACTIVITY-BASED COSTING IN


MANUFACTURING”

ABC system telah menjadi aspek yang penting bagi industri manufaktur dalam rangka untuk
meningkatkan kualitas strategi untuk berjuang pada persaingan pasar. Penelitian ini menggunakan
studi kasus pada perusahaan Finlandia. Ternyata penerapan ABC membawa kepada klasifikasi
aktivitas yang memiliki value-added dan non value-added. ABC menyediakan cara untuk
mengeliminasi aktivitas non value-added. Tipe ABC system yang dibutuhkan antar perusahaan
dapat berbeda tergantung dari jenis keberagaman biaya overhead yang dimiliki oleh perusahaan.
Struktur biaya harus mudah dimengerti dan digunakan. ABC system harus dapat menyediakan
informasi dari level tertinggi perusahaan ke level terendah elemen biaya dalam sebuah proses.
Perubahan dalam sistem akuntansi juga diperlukan diantaranya : dengan menggunakan
pengukuran non keuangan untuk mengukur kinerja, menggunakan cost driver yang tepat,
mengurangi dokumen terkait pembelian, menyederhanakan akuntansi untuk proses kerja,
penyederhanaan dan perbaikan berkelanjutan sistem akuntansi biaya. Pengukuran kinerja non
finansial diberikan berdasarkan pertimbangan pengukuran kinerja sistem.

Kesuksesan implementasi ABC tergantung pada kondisi organisasi dan karakteristik perilaku
organisasi, diantaranya :

 Komitmen top management.


 Pelatihan dan pendidikan karyawan mengenai ABC
 Insentif untuk memotivasi karyawan untuk mengimplementasikan ABC

7. ARTIKEL“ACTIVITY-BASED COSTING/MANAGEMENT AND ITS IMPLICATIONS


FOR OPERATIONS MANAGEMENT

ABC system adalah sistem informasi yang dikembangkan pada tahun 1980an untuk mengatasi
keterbatasan akuntansi biaya tradisional dan meningkatkan kegunaan dalam pengambilan
keputusan. Gupta (2003) mendesain kerangka konseptual, operasional hexagon, yang menggunakan
ABC system untuk meningkatkan penggunaan pengambilan keputusan.
Diagram operasional hexagon menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan dalam
operasional manajemen meliputi 6 area utama, yaitu :

 Perencanaan produk dan desain


Perusahaan dengan banyak produk memerlukan perencanaan produk dan desain. Mudah
dilakukan manakala produk hanya 1, tetapi jika ribuan jenis produk yang dihasilkan harus
tersedia informasi untuk menentukan desain produk. ABC system menyediakan
komunikasi antar area fungsional secara jelas terhadap masalah desain produk.
 Manajemen kualitas dan pengendalian.
ABC system memainkan peran signifikan terhadap penentuan prioritas dan justifikasi
biaya atas proyek peningkatan kualitas. Karena melibatkan aktivitas non value added, ABC
dapat menyediakan informasi yang memungkinkan perusahaan untuk dampak atas setiap
proyek, sehingga dapat diputuskan yang mana yang akan diambil oleh perusahaan.
 Proses desain dan perbaikan.
Pada sistem tradisional, pengendalian biaya dilakukan setelah proses produksi dilakukan.
Pada era manufaktur modern, dimana kompleksitas produk berpengaruh signifikan
terhadap biaya, sebagian besar biaya ditentukan dan dikendalikan pada tahan desain. ABC
menawarkan wawasan yang berguna untuk proses pengambilan keputusan dan peralatan.
ABC menyediakan cara untuk mengidentifikasi, mendelegasikan, dan menganalisis
kegaiatn manufaktur yang mendasari dan mendorong biaya overhead.
 Manajemen persediaan.
Strategi pengurangan persediaan seperti JIT, membutuhkan kesiapan mulai dari proses
persiapan bahan mentah, pemrosesan, penyelesaian barang jadi. Namun, penumpukan
persediaan juga dilandasi beberapa alasan. ABC system dapat membantu mengidentifikasi
beberapa alasan yang dimaksud. Contoh : jika sebuah departemen dinilai kinerjanya
berdasarkan biaya yang rendah, maka pemesanan dalam jumlah besar untuk mendapatkan
diskon akan dilakukan. Jika bahan yang tersedia lebih besar dari kebutuhan, maka
penumpukan persediaan akan terjadi. Begitupun jika sebuah departemen dinilai
berdasarkan outputnya, maka departemen akan memproduksi barang sebanyak mungkin
tanpa memikirkan apakah produk akan langsung dijual atau dikirim ke gudang.
 Manajemen kapasitas.
Cokins (1993) berpendapat bahwa sebagian besar organisasi memiliki sangat sedikit
wawasan dan pemahaman tentang lokasi dan biaya kapasitas mereka yang tidak terpakai
dan tidak produktif. ABC system membantu perusahaan memahami hubungan antara
peningkatan kekayaan owner dengan kapasitas yang tidak terpakai. Dengan ABC system
biaya diisolasi dan diukur dengan 3 segmen : idle (tidak digunakan), tidak produktif, dan
produktif. Dengan wawasan ini, perusahaan dapat memotivasi manajer operasional untuk
mengurangi kapasitas non produktif yang akan meningkatkan kapasitas idle. Pada
gilirannya akan menyediakan insentif untuk mengisi kapasitas idle dengan lebih banyak
pesanan pelanggan atau menghapus kapasitas idle.
 Manajemen tenaga kerja.
ABC system dapat memberikan dampak pada karyawan perusahaan, khususnya pada area
pemberdayaan karyawan dan akuntabilitas, peran dan pertanggungjawaban, dan
pengukuran kinerja. Turney (1993) menyatakan ABC dimulai dengan identifikasi aktivitas
yang dilakukan sebuah perusahaan. Titik baik untuk mengumpulkan informasi ABC adalah
karyawan front-line.

Singkatnya, penerapan ABC system melibatkan proses sebagai berikut :

 Identifikasi sumber daya (apa yang digunakan untuk bekerja)


 Identifikasi penggerak sumber daya (sumber daya apa yang menghasilkan biaya)
 Identifikasi aktivitas (pekerjaan)
 Identifikasi penggerak aktivitas
 Identifikasi objek biaya kepada aktivitas (untuk siapa atau untuk apa pekerjaan dilakukan).