Anda di halaman 1dari 10

2.

4 Analisis Ekonomi
2.4.1 Biaya Pembuatan Alat
Dalam sebuah perancangan alat, harga alat yang telah dirancang ditentukan oleh
besarnya biaya yang dibutuhkan dalam memproduksi. Harga pokok produk ditentukan
dari biaya bahan langsung, biaya buruh langsung, biaya bahan tak langsung dan biaya
komersil.
2.4.2 Biaya bahan langsung
Biaya bahan langsung merupakan biaya yag dibebankan pada bahan yang terkait
dengan proses produksi dan menjadi begian dari produk lainnya.
BIAYA BAHAN LANGSUNG

No Nama bahan Unit Jumlah Harga satuan Jumlah


(Rp) (Rp)

1 Besi Siku 4cm x Batang 5 62.000 310.000


4cm x 6m (tebal
2mm)

2 Besi segiempat Batang 1 120.000 120.000


5cm x 5cm dan
panjang 6 meter

3 Plat Besi Baja Lembar 1 300.000 300.000


Hitam 2,00 mm
x4x8

4 Tabung gas + isi tabung 1 143.000 143.000

5 Komper gas Buah 1 750.0000 750.000


high pressure

4 Cat besi kaleng @ 4 25.000 100.000


0,5 kg

5 Motor listrik buah 1 750.000 750.000


0,25 HP

6 tray 4 rak 1 200.000 200.000

7 blower buah 1 250.000 250.000

Jumlah biaya bahan langsung 2.923.000


2.3.2 Biaya buruh langsung
Biaya buruh langsung yaitu biaya yang dibebankan pada buruh yang langsung
terkait dalam proses produksi misalkan pekerjaan logam, perakitan dan finishing.
BIAYA BURUH LANGSUNG

No Jenis pekerjaan Jumlah Upah (Rp) Keseluruhan


(Rp)

1. Buruh Besi

 Pemotongan 1 35.000 35.000

 Penempelan/las 1 30.000 30.000

2. Pengecatan 1 30.000 30.000

Total 195.000

2.4.4 Biaya tak langsung pabrik


Biaya tak langsung pabrik terdiri dari biaya biaya tak langsung, biaya buruh tak
langsung, dan biaya tak langsung lainnya :
1. Biaya bahan tak langsung yaitu biaya yang dibebankan pada bahan yang terkait
dalam proses produksi, tetapi tidak secara lagsung menjadi bagian dalam
produk jadinya
2. Biaya buruh tak langsung, yaitu biaya yang dibebankan pada kegiatan yang ada
di pabrik, tetapi tidak terkait pada proses produksi secara langsung.
3. Biaya tak langsung lainnya, yaitu biaya yang dibebankan pada kegiatan pabrik
yang tidak menyangkut pada kegiatan pabrik yang tidak menyangkut biaya
bahan dan buruh.
BIAYA TAK LANGSUNG PABRIK
No Jenis biaya Jumlah (Rp)
1 Ongkos pembelian bahan 30.000
2 Sewa bengkel per hari 40.000
Jumlah biaya tak langsung pabrik 70.000

2.4.5 Biaya komersil


Biaya komersil terdiri dari biaya pemasaran dan biaya administrasi
1. Biaya pemasaran adalah biaya yang digunakan untuk kegiatan yang
menyangkut usaha untuk memasarkan produk seperti biaya iklan dan biaya
untuk distribusi/ pemasaran serta layanan kepada konsumen
2. Biaya administrasi adalah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pelaksanaan
atau oprasional perusahaan.
BIAYA KOMERSIAL

No Jenis biaya Jumlah (Rp)

1 Biaya pemasaran 50.000

2 Biaya administrasi 15.000

Jumlah biaya komersial 65.000

2.4.6 Harga pokok produk


Harga pokok produk adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk pembuatan
suatu produk dimana harga pokok produk terdiri dari biaya primer dan biaya produksi.
PERINCIAN BIAYA PEMBUATAN MESIN

No Komponen biaya Jumlah (Rp)

1 Biaya bahan langsung 2.923.000

2 Biaya buruh langsung 195.000

3 Biaya tak langsung 70.000

4 Biaya komersial 65.000


Harga pokok per produk 3.253.000

Tabel 5. Perincian biaya pembuatan mesin

Harga jual dapat ditetapkan pada produk ini mula-mula ditentukan besarnya
keuntungan kotor sebesar 30 % dari harga pokok, dan pajak penjualan sebesar 10 %
dari harga jual.
Keuntungan kotor adalah 30 % dari harga pokok, maka:
Harga jual
= Rp 3.253.000 + (30 % x 3.253.000)
= Rp 3.253.000+ Rp 975.900
= Rp 4.228.900
Pajak penjualan
= 10 % x Rp 4.228.900
= Rp 422.890

Keuntungan bersih = Harga jual – Harga pokok


= Rp 4.228.900– Rp 3.253.000
= Rp 975.900

2.4.7 Biaya Pengoperasian Mesin/Alat


Biaya pokok pengoperasian alat pengering Tembakau dihitung dengan asumsi
sebagai berikut:
 Harga jual mesin/alat (P) = Rp. 4.228.900
 Umur mesin/alat (N) = 5 tahun
 Nilai rongsok (S) = 10% harga mesin = Rp. 422.890,-
 Tingkat suku bunga (i) = 10%
 Biaya perawatan (m) = 5% per tahun
 Upah operator/jam.orang = Rp. 4.000,- /jam

2.4.8 Biaya Tetap Per Tahun


Biaya tetap per tahun didefinisikan sebagai biaya yang harus dikeluarkan secara
periodik dan besarnya tetap dengan tidak dipengaruhi oleh banyak sedikitnya satuan
produk atau tingkat kegiatan yang dihasilkan dalam kurun waktu 1 tahun. Adapun yang
termasuk dalam kategori biaya tetap antara lain :

 Biaya penyusutan (D)


𝑃−𝑆
𝐷𝑒𝑝𝑟𝑖𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖 =
𝑁
Dimana :
P = harga pembelian mesin
S = nilai akhir (rongsok) dari mesin
N = Umur investasi
Sehingga besarnya biaya penyusutan (Deprisiasi) adalah :
𝑅𝑝 4.228.900 − 𝑅𝑝 422.890
𝐷𝑒𝑝𝑟𝑖𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖 = = 𝑅𝑝 761.202
5
 Bunga bank
10% × 𝑅𝑝 4.228.900 = 𝑅𝑝 422.890
 Bunga perawatan
A = 5% x harga jual mesin

= 5% x Rp. 4.228.900,-
= Rp. 211.445,-

2.4.8 Biaya Variable Per Jam


Biaya variable per jam adalah biaya yang besarnya ditentukan oleh jumlah
satuan produk atau tingkatan kegiatan, dalam hal ini adalah dalam kurun waktu 1 jam.
Adapun yang termasuk ke dalam kelompok biaya variable antara lain:
a. Upah tenaga kerja (U)
U = Jumlah operator x Upah operator x Jam kerja
= 1 orang x Rp. 4.000,-/jam x 8 jam
= Rp. 32.000,- /hari

2.4.9 Biaya Pokok Pengoperasian


Dari data biaya diatas, maka didapatkan Biaya Pokok Pengoperasian alat
pengering kopi adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Perincian Biaya Pokok Pokok Pengoperasian Alat Pengering kopi

Komponen Biaya Jumlah (Rp)

Biaya penyusutan 𝟕𝟔𝟏. 𝟐𝟎𝟐,-


Bunga bank 𝟒𝟐𝟐. 𝟖𝟗𝟎,-
Bunga perawatan 211.445,-

Total Biaya Tetap per tahun 1.395.537,-

Upah operator Rp. 4.000

Total Biaya Variabel per jam Rp. 4.000,-

2.4.10 Titik Impas Usaha (Break Event Point)


Untuk pemakaian mesin/alat
Diketahui :
Biaya penyewaan mesin/alat = Rp.5.000/jam

 Besarnya biaya pokok


𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑜𝑘𝑜𝑘 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑙𝑒 𝑥
= +
𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑗𝑎𝑚
Dimana
𝑗𝑎𝑚𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
𝑥=
𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
 Besarnya pendapatan
𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 = 𝐻. 𝑠𝑒𝑤𝑎 × 𝑥
 Besarnya Profit
𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 = 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 − 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎𝑝𝑜𝑘𝑜𝑘
= (𝐻. 𝑠𝑒𝑤𝑎 × 𝑥) − (𝐵𝑇 + 𝐵𝑉 × 𝑥)
 Break Event Point (BEP) yang harus dicapai :
𝐵𝑇
𝑥=
(𝐻. 𝑆𝑒𝑤𝑎 − 𝐵𝑉)
1.395.537
𝑥= = 1.395,537 𝑗𝑎𝑚/𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
(5.000 − 4.000)
 Menentukan profit selama satu tahun
𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 = 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 − 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎𝑝𝑜𝑘𝑜𝑘
= (𝐻. 𝑠𝑒𝑤𝑎 × 𝑥) − (𝐵𝑇 + 𝐵𝑉)
Dalam satu tahun terdapat 1.395,537 jam, sehingga besarnya profit selama satu
tahun adalah sebagai berikut:
𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 = 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 − 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎𝑝𝑜𝑘𝑜𝑘
= (5000 × 1.395,537) − (1.395.537 + 4000)
= 𝑅𝑝 5.578.148

2.4.11 Net Present Value (NPV)


Net Present Value (NPV) adalah metode yang didasarkan atas nilai sekarang
bersih dari hasil perhitungan nilai sekarang aliran dana masuk (penerimaan) dengan
nilai sekarang aliran dana keluar (pengeluaran) selama jangka waktu analisis dan suku
bunga tertentu. Kriteria kelayakannya adalah apabila nilai sekarang bersih atau NPV >
0. Diasumsikan dibawah ini merupakan usaha penyewaan alat pengering kopi, dan
akan dilakukan analisis finansial selama 3 tahun.
4.228.900,-

P (1) P (2) P (3)

p (1) p (2) p (3)

Dimana:

Biaya investasi = Rp 4.228.900,-


Biaya varibel = Rp 1.395.537,-per tahun

Pemasukan per tahun = Rp 5.578.148,-


suku bunga 10 %

PP Pengeluaran Pendapatan saldo


0 4.228.900 4.228.900
1 1.395.537 5.578.148 46.289
2 1.395.537 5.578.148 4.228.900
3 1.395.537 5.578.148 8.411.511

𝑁𝑃𝑉 = (∑ 𝑃𝑉𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 ) − (∑ 𝑃𝑉𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 )

𝑝 p
𝑁𝑃𝑉 = (5.578.148( . 5.10%)) − (5.524.437( . 5.10%))
𝑎 a
𝑁𝑃𝑉 = 𝑅𝑝 21.146.759,068 − 𝑅𝑝 20.943.140,667
NPV = 203.618,401

2.4.12 Benefit Cost Ratio (BCR)


Benefit Cost Ratio (BCR) adalah metode yang pada dasarnya menggunakan data
ekivalensi nilai sekarang dari penerimaan dan pengeluaran, yaitu merupakan
perbandingan antara nilai sekarang dari penerimaan atau pendapatan yang diperoleh
dari kegiatan investasi dengan nilai sekarang dari pengeluaran (biaya) selama investasi
tersebut berlangsung dalam kurun waktu tertentu. Kriteria kelayakannya adalah bila
nilai BC Ratio >1. Sehingga analisis BC Ratio pada usaha penyewaan alat pengupas
singkong adalah sebagai berikut :

𝑃𝑉𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛
𝐵𝐶𝑅 =
𝑃𝑉𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛

21.146.759,068
𝐵𝐶𝑅 = = 1,0097
20.943.140,667

Maka dari hasil perhitungan BCR di peroleh nilai 1,0097dan berdasarkan


literature yaitu B/C Ratio ≥ 1, maka investasi merupakan investasi yang layak.

2.4.13 Internal rate of Return (IRR)


Internal Rate of Return (IRR) adalah suatu nilai penunjuk yang identik dengan
seberapa besar suku bunga yang dapat diberikan oleh investasi tersebut dibandingkan
dengan suku bunga bank yang berlaku umum (suku bunga pasar atau Minimum
Attractive Rate of Return / MARR). Pada suku bunga IRR akan diperoleh NPV = 0,
dengan perkataan lain bahwa IRR tersebut mengandung makna suku bunga yang dapat
diberikan investasi, yang akan memberikan NPV = 0. Syarat kelayakannya yaitu
apabila IRR >suku bunga MARR.

Pada MARR = 10% di dapatkan besarnya NPV sebesar 𝑅𝑝203.618,401


IRR =15%

𝑁𝑃𝑉 = (∑ 𝑃𝑉𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 ) − (∑ 𝑃𝑉𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 )

𝑝 p
𝑁𝑃𝑉 = (5.578.148( . 5.15%)) − (5.524.437( . 5.15%))
𝑎 a
𝑁𝑃𝑉 = 𝑅𝑝18.697.952,096 − 𝑅𝑝 18.517.912,824
NPV = 180.039,272

Berdasarkan rumus untuk mencari besarnya IRR maka besarnya IRR adalah
(𝑖2 + 𝑖1 )
𝐼𝑅𝑅 = 𝑖1 − (𝑁𝑃𝑉1 × )
(𝑁𝑃𝑉1 − 𝑁𝑃𝑉2 )
(15 − 10)
𝐼𝑅𝑅 = 10 − (203.618,401 × )
(203.618,401 − 180.039,272 )
𝐼𝑅𝑅 = 10% + 43.17%
𝐼𝑅𝑅 = 53,17%
Maka dari hasil perhitungan IRR di peroleh nilai IRR sebesar 53,17% dan
berdasarkan literature yaituIRR >suku bunga MARR, maka investasi merupakan
investasi yang layak.