Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

RUANG LINGKUP KEPERAWATAN KELUARGA

Disusun Oleh

Asri Wulandari

S16135/S16C

PROGRAM STUDI SARJA KEPERWATAN

STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA

2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keperawatan kesehatan komunitas terdiri dari tiga kata yaitu
keperawatan, kesehatan dan komunitas, dimana setiap kata memiliki arti yang
cukup luas. Azrul Azwar mendefinisikan ketiga kata tersebut sebagai berikut
:
1. Keperawatan adalah ilmu yang mempelajari penyimpangan atau tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang dapat mempengaruhi
perubahan, penyimpangan atau tidak berfungsinya secara optimal setiap
unit yang terdapat dalam sistem hayati tubuh manusia, balk secara
individu, keluarga, ataupun masyarakat dan ekosistem.
2. Kesehatan adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan manusia
mulai dari tingkat individu sampai tingkat eko¬sistem serta perbaikan
fungsi setiap unit dalam sistem hayati tubuh manusia mulai dari tingkat
sub sampai dengan tingkat sistem tubuh.
3. Komunitas adalah sekelompok manusia yang saling berhubungan lebih
sering dibandingkan dengan manusia lain yang berada diluarnya serta
saling ketergantungan untuk memenuhi keperluan barang dan jasa yang
penting untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
Dalam perkembangannya, keperawatan keluarga juga memiliki batasan
atau tingkatan serta landasan teori dalam menjalankan fungsi asuhan
keperawatan keluarga.

B. Tujuan
1. Mengetahui pengertian keluarga dan keperawatan keluarga
2. Mengetahui batasan keperawatan keluarga
3. Mengetahui sejarah perkembangan keperawatan keluarga
4. Mengetahui landasan teori keperawatan keluarga
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dalam suatu masyarakat yang terdiri dari
dua orang atau lebih, terikat dalam hubungan perkawinan, pertalian darah atau
adopsi yang menciptakan dan mempertahankan budaya dan mempunyai
ketergantungan satu sama lain serta melakukan suatu interaksi antar anggota
keluarga.

B. Definisi Keperawatan Keluarga

Keperawatan Keluarga merupakan bidang kekhususan spesialisasi


yang terdiri dari keterampilan berbagai bidang keperawatan. Keperawatan
keluarga didefinisikan sebagai pemberian perawatan yang menggunakan
proses keperawatan kepada keluarga dan anggota-anggotanya dalam situasi
sehat dan sakit. Penekanan praktik keperawatan keluarga adalah berorientasi
kepada kesehatan, bersifat holistik, sistemik dan interaksional, menggunakan
kekuatan keluarga.

C. Tingkatan Praktik Keperawatan Keluarga

1. Tingkat I: Keluarga sebagai konteks

Dalam tingkat I, keperawatan keluarga dikonseptualisasikan sebagai


suatu bidang dimana keluarga dipandang sebagai konteks bagi pasien atau
klien (Bozzet, 1987). Pada asuhan keperawatan tingkatan pertama ini yang
menjadi fokus pelayanan kesehatan adalah individu, sedangkan keluarga
merupakan latar belakang atau fokus sekunder. Keluarga dipandang
sebagai area yang penting dari klien dan oleh karena itu keluarga
merupakan dukungan terbesar bagi klien. Atau kata lain asuhan yang
berfokus pada keluarga. Contoh : Gangguan pola nafas pada An. E (2 Th)
di keluarga Tn. N (29 th) dengan Asma.

2. Tingkat II: Keluarga sebagai kumpulan dari anggota keluaga

Dalam praktik keperawatan keluarga tipe II ini, keluarga dipandang


sebagai kumpulan atau jumlah individual anggota keluarga. Asuhan
keperawatan diberikan bukan hanya pada satu individu tetapi bisa lebih
dalam satu keluarga. Dalam tingkatan ini garis depannya adalah masing-
masing klien yang dilihat sebagai unit terpisah dengan unit yang
berinteraksi. Contoh : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas pada An. C (14
th) dan An. H (7 Th) dikeluarga Tn. O (45 th) dengan Diare.

3. Tingkat III: Sub sistem keluarga sebagai klien

Sub sistem keluarga adalah pusat perhatian atau fokus sebagai


penerima pengkajian serta intervensi. Keluarga initi, keluarga besar, dan
sub sistem keluarga lainya adalah unit analisis dan asuhan. Contoh :
Masalah pada keluarga yang diawali dengan komunikasi yang tidak efektif
antar anggota keluarga. Contoh : Kesalahpahaman yang terjadi pada
pasangan baru menikah terhadap peran dan fungsinya masing-masing.

4. Tingkat IV: Keluarga sebagai klien

Disini keluarga menjadi yang utama dengan setiap anggota keluarga


sebagai latar belakangnya atau konteks. Keluarga dipandang sebagai sistem
yang berinteraksi. Fokusnya pada dinamika dan hubungan internal
keluarga, struktur dan fungsi keluarga, serta kesalingtergantungan sub
sistem keluarga dengan keseluruhan dan keluarga dengan lingkungan
luarnya. Contoh : Masalah yang timbul pada sebuah keluarga dikarenakan
koping. Keluarga tidak efektif saat menunggu kehadiran anggota keluarga
yang baru.
5. Tingkat V: Keluarga sebagai komponen masyarakat
Keluarga sebagai komponen masyarakat; keluarga dipandang sebagai
suatu subsistem dalam sistem yang lebih besar dari komunitas masyarakat;
keluarga dipandang sebagai salah satu lembaga dasar dalam masyarakat

D. Sejarah Keperawatan Keluarga


Konsep keperawatan keluarga selalu ada dalam keperawatan (Ford,
1979, hlm 4). Akan tetapi, keperawatan keluarga tampak mengalami pasang
surut.
Pada era sebelum masa industri dan kolonial, saat anggota bekerja di
rumah dalam industri rakyat, atau perkebunan, perawatan keluarga tampak
menonjol. Kemudian datang era industrialisasi, saat anggota keluarga
berpindah kerja ke pabrik. Pelayanan kesehatan secara bertahap berpindah dari
rumah ke rumahsakit.
Di Inggris Florence Nightingale menyadari betapa pentingnya keluarga
dan lingkungan rumah dalam perawatan individu yang sedang sakit.
Nightingale menyatakan adanyan kebutuhan akan anggota keluarga di dalam
camp militer dan kebutuhan untuk “menjaga seluruh keluarga terhidar dari
kemiskinandengan cara memberikan perawatan kepada pencari nafkah agar
kembali sehat” (beard, 1915).
Selama tahun 1800-an dan awal 1900-an di Amerika Serikat, perawat
kesehatan masyarakat dan petugas kesehatan lain di Inggris melayani keluarga
di rumah (diawali dengan kaum miskin, tetapi kemudian juga untuk keluarga
yang mengidap penyakit menular). Dengan adanya birokrasi di dalam
masyarakat, spesialisasi dalam dunia kedokteran berkembang (obstetri, anak,
bedah dll). Keperawatan juga mengalami spesialisasi dan praktik kedokteran
keluarga serta keperawatan yang berorientasi pada keluarga tidak lagi
digunakan. Keterbatasan cakupan asuransi, kebijakan perujukan dalam
pembayaran lembaga pemerintah maupun swasta, dan kurangnya pendanaan
untuku hal yang bersifat preventif juga merupakan kebijakan yang kemudian
mengurangi perawatan yang berfokus pada keluaraga (Ford, 1979).
Keperawatan kesehatan masyarakat, kesehatan ibu dan anak, dan
kebidanan berusahan untuk menjembatani kesenjangan dalam beberapa hal
dan berdiri sebagai contoh, baik perawatan yang berpusat pada keluarga
maupun perawatan fraksional. Sebagai contoh, obstetri membatasi
perawatannya hanya kepada ibu, perawatan bayi diserahkan pada penyedia
perawatan yang lalin, dan hanya sedikit perhatian yang diberikan kepada
anggota keluarga yang lain; dan layanan kesehatan masyarakat untuk penyakit
menular biasanya melibatkan, keluarga sebatas temuan kasus. Contoh layanan
dari keperawatan keluarga berkelanjutan adalah Frontier Nurshing Service,
yang menyediakan layanan, baik layanan kebidanan maupun layanan
kesehatan masayarakat bagi keluarga.
Keempat kelompok spesialisasi keperawatan yang paling bersemangat
memfokuskan diri pada keluarga adalah pelayanan kesehatan komunitas, yang
memandang keluarga sebagai klien, keperawatan orangtua-anak, yang
memandang keluarga sebagai konteks dan klien, pelayanan kesehatan jiwa-
psikiatari, yang memandang keterlibatan keluarga yang luas tercakup dalam
spesialiasi terapi keluarga, dan perawatan primer keluarga atau perawat
praktisi spesialis, yang kadang memandang keluarga sebagai kumpulan dari
anggotanya, tetapi juga memandang keluarga sebagai konteks.
Setiap kelompok spesialisasi ini mengetahui dengan baik
perkembangan khusus area spesialisasinya maupun perkembangan yang lebih
umum pada keperawatan, ilmu sosial dan masyarakat. Sebagai contoh, pada
pelayanan kezehatan komunitas, warisannya adalah memandang keluarga
sebagai fokus pelayanan. Namun, tidak banyak materi substansi dalam
program keperawatan yang membahas teori, pengkajian, dan intervensi
keluarga hingga tahub 1970-an. Pada tahun 1970-an kita dapat menemukan
banyak buku yang berfokus pada teori keluarga dan penerapannnya pada
pelayan kesehatan komunitas yang berpusat pada keluarga. Pada pelayan
kesehatan komunitas, teori-teori sosiologi dan budaya mengenai perilaku
keluarga (seperti sosialisasi keluarga, kemisikinan, peran, nilai, dinamika, dan
keragaman budaya) merupakan hal penting yang mempengaruhi area
pelayanan kesehatan komunitas ini.
Sebaliknya, pelayanan kesehatan jiwa psikiatri lebih banyak
dipengaruhi oleh teori dan tulisan klinis dalam gerakan terapi keluarga. Karena
perawat terapi keluarga bekerjasama dngan keluarga yang bermasalah,
pengetahuan dasar ini menjadi lebih penting guna membantu mereka mengkaji
dan memberikan intervensi kepada keluarga yang disfungsional. Akan tetapi,
beberapa teori terapi dan model praktik keluarga adalah satu-satunya modalitas
psikoterapi dalam kesehatan jiwa. Oleh karena itu, pengkajian dan intervensi
keperawatan keluarga tidak tersebar luas ke seluruh area spesialisasi.
Keperawatan maternitas atau keperawatan orangtua-anak memiliki
sejarah yang panjang mengenai keterliabatan keluarga, yang dimulai dengan
awal muala kebidanan dan kunjungan rumah ibu dan anak di rumah. Telah
lama dipahami saat memberikan asuhan kepada ibu dan anak keluarga adalah
sesuatu yang penting. Pada buku keperawatan anak dan maternitas, keluarga
umum dibahas. Kebanyakan buku memandang keluarga sebagai konteks.
Keperawatan orangtua-anak yang berfokus pada keluarga secara khusus
dipengaruhi oleh teori tumbuh kembang ikatan antara ibu dan anak, peran, serta
sosialisasi (Friedman, 2014)

E. Teori Keperawatan Keluarga


1. Teori keperawatan model konseptual
a. Self Care (Orem)
Menurut Orem, asuhan keperawatan dilakukan dengan
keyakinan bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk merawat
diri sendiri sehingga membantu individu dalam memenuhi kebutuhan
hidup, memelihara kesehatan, dan mencapai kesejahteraan. Teori orem
dikenal sebagai self-care deficit theory. Orem melabeli teorinya sebagai
teori umum yang terdiri atas tiga teori terkait, yaitu teori self care, teori
self care deficit, dan teori nursing system.
1) Teori self care
Self care ini menggambarkan dan menjelaskan manfaat perawatan
diri guna mempertahankan hidup, kesehatan, dan kesejahteraanya.
2) Teori self care deficit
Teori self care deficit merupakan inti dari General Theory of Nursing
yang menggambarkan dan menjelaskan mengapa manusia dapat
dibantu melalui ilmu keperawatan serta kapan keperawatan di
perlukan. Deficit keperawatan diri ini terjadi ketika seseorang tidak
dapat memelihara diri mereka sendiri.
3) Teori Nursing System
Teori nursing system (system keperawatan) membahas bagaimana
kebutuhan perawatan klien, atau keduanya. System keperawatan ini
ditentukan atau disusun berdasrkan kebutuhan perawatan diri dan
kemampuan klien untuk melakukan perawatan diri.
Perawatan diri dilakukan dengan memerhatikan tingkat
ketergantungan atau kebutuhan serta kemampuan klien. Oleh karena
itu ada tiga klasifikasi system keperawatan dalam perawatan diri.
b) Whooly compensatory nursing system : Perawat member bantuan
kepada klien karena tingkat ketergantungan klien yang tinggi.
c) Party compensatory nursing system : Perawat dan klien saling
kerja sama dalam melakukan tindakan keperawatan dalam hal ini,
peran perawat tidak total tetapi sebagian.
d) Supportive educative nursing system : Klien melakukan
perawatan diri dengan bantuan perawat. Saat klien sudah mampu
melakukannya.
b. Human Beings (Roger’s)
Teori dan model konsep keperawatan menurut Martha E. Rger
dikenal dengan nama konsep manusia sebagai unit. Teori roger ini
didasarkan pada pengetahuan tentang asal usul manusia dan alam
semesta, seperti antropologi, sosiologi, astronomi, agam, filosofi,
perkembangan sejarah dan mitologi.
c. Adaptasi (Roy)
Merupakan model dalam keperawatan yang menguraikan
bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara
mempertahankan perilaku secara adaptif serta mapu merubah perilaku
yang mal adaptif. Sister Calista Roy ini mengembangkan model
adaptasi dalam keperawatan pada tahun 1964. Callista Roy
mengemukakan konsep keperawatandengan model adaptasi yang
memiliki beberapa pandangan atau keyakinan serta nilai yang
dimilikinya diantaranya :
1) Individu adalah makhluk biopsikososial sebagai satu kesatuan
yangn utuh. Seseorang dikatakan sehat jika mampu berfungsi
untuk memenuhi kebutuhan biologis, psikologis, dan sosialnya.
2) Setiap orang selalu menggunakan koping,baik yang bersifat positif
maupun negatif untuk dapat beradaptasi.
3) Setiap individu berespon terhadap kebutuhan fisiologis, kebutuhan
akan konsep diri yang positif, kemampuan untuk hidup mandiri
atau kemandirian serta kebutuhan akan kemampuan melakukan
peran dan fungsi secara optimaluntuk memelihara integritas diri.
4) Individu selalu berada pada rentang sehat-sakit yang berhubungan
erat dengan keefektifan koping yang dilakukan untuk memelihara
kemampuan beradaptasi
5) Menurut roy, terdapat 5 objek utama dalam ilmu keperawatan yaitu
:
a) Manusia (individu yang mendapatkan asuhan keperawatan )
b) Keperawatan
c) Konsep sehat
d) Konsep lingkungan
e) Aplikasi tindakan keperawatan.
d. Praktek Keperawatan (Neuman’s)
Neuman mengemukakan model system (system model) dalam
pendidikan dan prakrik keperawatan. Neuman menggunakan
pendekatan manusia utuh (total person approach), dengan
memasukkan konsep holistic, pendekatan system terbuka (open
system), dan konsep “stressor”.
Model ini mengalisis interaksi empat variable penunjang
komunitas yang meliputi fisik, psikologi, social cultural dan spiritual,
adapaun tujuan keperawatan adalah stabilitas klien dan keluarga dalam
lingkungan yang dinamis.
Empat konsep mayor dari teori Newman :
1) Manusia
Manusia merupakan suatu system terbuka, yang selalu mencari
keseimbangan yang harmoni, dan merupakan satu kesatuan dari
variabel-variabel fisiologis, psikologis, sosialkultural,
perkembangan , dan spiritual.
2) Lingkungan
Lingkungan adalah semua kekuatan, baik internal dan eksternal
yang dapat memepengaruhi hidup dan perkembangan klien atau
system klien.
3) Keperawatan
Newman mendefinisikan parameter dari keperawatan adalah
individu, keluarga dan kelompok dalam mempertahankan tingkat
yang maksimal dari sehat dengan intervensi untuk menghilangkan
stress dan menciptakan kondisi yang optimal bagi pasien.
4) Kesehatan
Kesehatan adalah keadaan yang adekuat dalam suatu sitem
stabilitas yang merupakan keadaan yang baik. Sehat adalah kondisi
terbebasnya dari gangguan pemenuhan kebutuhan dan sehat
merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari
keberhasilan menghindari atau mengatasi stressor.
e. Perilaku (Johnson’s)
Model Dorothy Johnson (1980,1990) adalah sintesis dari teori
dan konsep ilmu perilaku dan biologi, yang terintegrasi kedalam
kerangka kerja system. Teori mengenai stress dan adaptasi menjadi titik
focus dalam model ini.
Setiap orang dipandang sebagai suatu system perilaku yang
terdiri atas tujuh sub system. Subsistem tersebut berinteraksi dan saling
terkait.
Teori Dorothy Johnson tentang keperawatan (1968) berfokus
pada bagaimana klien beradaptasi terhadap kondisi sakitnya dan
bagaimana stress actual atau potensial dapat mempengaruhi
kemampuan beradaptasi. Tujuan dari keperawatan adalah menurunkan
stress sehingga klien dapat bergerak lebih mudah melewati masa
penyembuhannya (Johnson, 1968). Teori Johnson berfokus pada
kebutuhan dasar yang mengacu pada pengelompokkan perilaku
berikut:
1) Perilaku mencari keamanan.
2) Perilaku mencari perawatan.
3) Menguasai diri sendiri dan lingkungan sesuai dengan standar
internalisasi prestasi.
4) Mengakomodasi diet dengan cara yang diterima secar sosial dan
cultural
5) Mengeluarkan sampah tubuh dengan cara yang diterima secara
sosial dan kultural.
6) Perilaku seksual dan identitas peran
7) Perilaku melindungi diri sendiri
f. Budaya (Leininger)
Teori Leininger ini melihat adanya perubahan perilaku di antara
anak yang berasal dari budaya yang berbeda. Perbedaan ini mebuat
Leinenger menelaah kembali profesi keperawatan. Dia
mengedintifikasi bahwa pengetahuan perawat untuk memahami
budaya anak dalam layanan keperawatan ternyata masih kurang.
Leinenger pertama kali menggunakan kata trancultural nursing,
ethnonursing, dan cross-cultural nursing.Akhirnya, pada tahun 1985,
Leinenger mempublikasikan teorinya untuk pertama kalinya,
sedangkan ide-ide dan teorinya mulai dipresentasikan pada tahun
1988.Teori Leinenger kemudian disebut sebagai Cultural Care
Diversity and Universality.Tetapi para ahli sering menyebutnya
sebagai Trancultural Nursing Theory atau teori perawatan
transkultural.
Keperawatan transkultural merupakan suatu area utama dalam
keperawatan yang berfokus pada studi komparatif dan analisis tentang
budaya dan sub-budaya yang berbeda di dunia yang menghargai
perilaku caring, layanan keperawatan, nilai-nilai, keyakinan tentang
sehat-sakit, serta pola-pola tingkah laku yang bertujuan
mengembangkan body of knowledge yang ilmiah dan humanistik guna
memberi tempat praktik keperawatan pada budaya tertentu dan budaya
universal (Marriner-Tomey, 1994). Teori keperawatan transkultural ini
menekankan pentingnya peran perawat dalam memahami budaya klien.
Dimensi budaya dan strukur sosial tersebut menurut Leinenger
dipengaruhi oleh tujuh faktor, yaitu teknologi, agama dan falsafah
hidup, faktor sosial dan kekerabatan, nilai budaya dan gaya hidup,
politik dan hukum, ekonomi, dan pendidikan. Setiap faktor tersebut
berbeda pada setiap negara atau area, sesuai dengan kondisi masing-
masing daerah, dan akan memengaruhi pola/cara dan praktik
keperawatan. semua langkah perawatan tersebut ditujukan untuk
pemeliharaan kesehatan holistik, penyembuhan penyakit, dan
persiapan menghadapi kematian.
Oleh karena itu, ketujuh faktor tersebut harus dikaji oleh
perawat sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada klien sebab
masing-masing faktor memberi pengaruh terhadap ekspresi, pola, dan
praktik keperawatan (care expression, pattern, and practices).Dengan
demikian, ketujuh faktor tersebut besar kontribusinya terhadap
pencapaian kesehatan secara holistik atau kesejahteraan manusia, baik
pada level individu, keluarga, kelompok, komunitas, maupun institusi
di berbagai sistem kesehatan.
Peran perawat pada transcultural nursing theory ini adalah
menjembatani antara sistem perawatan yang dilakukan masyarakat
awan dengan sistem perawatan profesional melalui asuhan
keperawatan. Oleh karena itu perawat harus mampu membuat
keputusan dan rencana tindakan keperawatan yang akan diberikan
kepada masyarakat. Tindakan keperawatan yang diberikan kepada
klien harus tetap memperhatikan tiga prinsip asuhan keperawatan,
yaitu:
1) Culture care preservation/maintenance, yaitu prinsip membantu,
memfasilitasi, atau memerhatikan fenomena budaya guna
membantu individu menentukan tingkat kesehatan dan gaya hidup
yang diinginkan.
2) Culture care accommodation/negotiation, yaitu prinsip membantu,
memfasilitasi, atau memerhatikan fenomena budaya yang ada, yang
merefleksikan budaya untuk beradaptasi, bernegosiasi, atau
mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu atu
klien.
3) Culture care repatterning/restructuring, yaitu prinsip
merekonstruksi atau mengubah desain untuk membantu
memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien ke arah yang
lebih baik.
g. Kebutuhan (Henderson)
Konsep utama dalam teori Henderson mencakup manusia,
keperawatan, kesehatan dan lingkungan.
1) Manusia
Henderson melihat manusia sebagai individu yang
membutuhkan bantuan meraih kesehatan, kebebasan tau kematian
yang damai, serta bantuan untuk meraih kemandirian. Henderson
juga menyatakan bahwa pikiran dan tubuh manusia tidak dapat
dipisahkan satu sama lain (inseparable). Sam halnya dengan klien
dan keluarga, mereka merupakan satu kesatuan (unit).
2) Keperawatan
Perawat memepunyai fungsi unik untuk mambantu individu,
baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Sebagi anggota tim
kesehatan, perawat mempunyai fungsi independence di dalam
penanganan perawatan berdasarkan kebutuhan manusia.untuk
menjalankan fungsinya, perawat hatus memiliki pengetahuan
bilogis maupun social.
3) Kesehatan
Sehat adalah kulitas hidup yang menjadi dasar seseorang dapat
berfungsi bagi kemanusiaan. Memperoleh kesehatan lebih penting
dari pada mengobati penyakit. Untuk mencapai kondisi sehat,
diperlukan kemandirian dan saling ketergantungan. Individu akan
meraih atu mempertahankan kesehatn bila mereka memilki
kekuatan, kehendak, serta pengetahuan yang cukup.
4) Lingkungan
Ada beberapa hal nyang perlu diperhatikan terkait dengan aspek
lingkungan.
a) Individu yang sehat mampu mengontrol lingkungan mereka,
namun kondisi sakit akan menghambat kemampuan tersebut.
b) Perawat harus mampu melindungi pasien dari cedera mekanis.
c) Perawat harus memilki pengetahuan tentang keamanan
lingkungan.
d) Dokter menggunakan hasil observasi dan penelitian perawat
sebgai dasar dalam memberikan resep.
2. Teori ilmu sosial keluarga
a. Teori Fungsi Struktural
Fokusnya adalah pada keluarga sebagai sebuah institusi dan
bagaimana mereka berfungsi untuk memelihara keluarga dan jaringan
sosial.
b. Fokusnya adalah pada interaksi dalam keluarga dan komunikasi
simbolis.
c. Teori Perkembangan dan Teori Siklus Hidup Keluarga
Berfokus pada siklus hidup keluarga dan mewakili tahap normatif
perkembangan keluarga.
d. Teori Sistem Keluarga
Berfokus pada interaksi sirkuler antar anggota sistem keluarga, yang
mana hasil dalam fungsional atau disfungsional outcomes. von
Bertalanffy (1950, 1968)
e. Teori Stress Keluarga
Berfokus pada analisis bagaimana pengalaman keluarga dan cara
mengatasi (koping) keadaan yang menyebabkan stress.
g. Teori Perubahan
Berfokus pada bagaimana keluarga tetap stabil atau berubah ketika
ada perubahan pada struktur keluarga atau dari pengaruh luar.
h. Teori Transisi
Berfokus pada pemahaman dan memperkirakan pengalaman keluarga
transisi dengan mengkombinasikan Teori Peran, Teori Perkembangan
Keluarga, dan Teori Alur Kehidupan. White & Klein (2002)
3. Teori terapi keluarga
a. Teori Terapi Keluarga Struktural
Pendekatan sistem-orientasi ini melihat keluarga sebagai sebuah
sistem sosio-kultural terbuka yang secara terus menerus behadapan
dengan tuntutan perubahan, baik dari dalam maupun dari luar
keluarga. Fokusnya adalah pada keseluruhan sistem keluarga,
subsistemnya, batasan-batasan, dan persatuan, maupun pola
transaksional keluarga dan peran tersembunyi. Minuchin (1974)
b. Teori Terapi Keluarga Internasional
Pendekatan ini melihat keluarga sebagai sebuah sistem interaktif atau
memper-satukan kebiasaan (prilaku) atau proses komunikasi.
Perhatiannya adalah pada “saat ini” dan “disini” bukan pada masa
lalu. Intervensi utama berfokus pada menetapkan kejelasan,
komunikasi sejajar, menjelaskan dan merubah peran keluarga.
c. Teori Terapi Sistem Keluarga
Pendekatan ini berfokus pada promosi perbedaan dirinya dari
keluarga dan promosi perbedaan intelek dari emosi. Anggota keluarga
didukung untuk menguji proses mereka untuk memperoleh wawasan
dan pemahaman kedalam masa lalu dan masa yang akan datang.
Terapi ini memerlukan komitmen jangka panjang.
KESIMPULAN

Batasan keperawatan keluarga dibagi menjadi 5 tingkatan, yaitu tingkat I


(keluarga sebagai konteks), tingkat II (keluarga sebagai kumpulan dari anggota
keluarga), tingkat III (sub sistem keluarga sebagai klien), tingkat IV (keluarga sebagai
klien) dan tingkat V (keluaraga sebagai komponen masyarakat).
Dalam perkembangannya, keperawatan keluarga mengalami pasang surut.
Keempat kelompok spesialisasi keperawatan yang paling bersemangat memfokuskan
diri pada keluarga adalah pelayanan kesehatan komunitas, yang memandang keluarga
sebagai klien, keperawatan orangtua-anak, yang memandang keluarga sebagai konteks
dan klien, pelayanan kesehatan jiwa-psikiatari, yang memandang keterlibatan keluarga
yang luas tercakup dalam spesialiasi terapi keluarga, dan perawatan primer keluarga
atau perawat praktisi spesialis, yang kadang memandang keluarga sebagai kumpulan
dari anggotanya, tetapi juga memandang keluarga sebagai konteks.
Landasan teori keperawatan keluarga terdiri dari teori keperawatan model
konseptual seperti menurut pendapat odem dan joy, teori ilmu sosial keluarga seperti
teori perkembangan dan teori fungsi struktural, serta teori terapi keluarga seperti teori
terapi sistem keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

DaCunha, J. P. 2010. Family Health Care Nursing (4 ed.). United States of America:
F. A

Davis Company.Hidayat,A. Aziz Alimul Hidayat .2007. Pengantar Konsep Dasar


Keperawatan.Jakarta : Salemba Medika

Friedman. (2014). Buku Ajar Keperawatan Keluarga Riset, Teori, & Praktik : ECG