Anda di halaman 1dari 16

Nectrotizing

Enterocolitis
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................. 2

DAFTAR ISI ................................................................................................. 3

I. PENDAHULUAN................................................................................... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Etiologi .............................................................................................. 6
B. Patofisiologi ....................................................................................... 6
C. Tanda dan gejala klinis........................................................................ 8
D. Pemeriksaan penunjang ...................................................................... 9
E. Penegakan diagnosis .......................................................................... 10
F. Rencana terapi ................................................................................... 11
G. Komplikasi ........................................................................................ 13
H. Prognosis ......................................................................................... .. 14
III. PEMBAHASAN .................................................................................... 15

IV. KESIMPULAN ...................................................................................... 16

V. DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 17

2
BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit kelahiran bayi prematur yang cukup sering terjadi, ada sejumlah
penyakit bayi prematur yang di dapatkan oleh sang bayi dalam minggu-
minggu pertama kehidupan. Necrotizing Enterocolitis (NEC) adalah salah
satunya. "Necrotizing" berarti kematian jaringan, "entero" mengacu pada usus
kecil, "colo" pada usus besar, dan "itis" berarti peradangan. Berarti penyakit
ini ialah, peradangan dan kematian jaringan pada usus kecil.
Sebuah penyakit gastrointestinal yang mempengaruhi sebagian besar bayi
prematur, NEC melibatkan infeksi dan peradangan yang menyebabkan
kerusakan usus (usus) atau bagian dari usus besar. Meskipun mempengaruhi
hanya satu dari 2.000 menjadi 4.000 kelahiran, atau antara 1% dan 5% dari
unit perawatan intensif neonatal (NICU) penerimaan, NEC adalah gangguan
pencernaan yang paling umum dan serius pada bayi prematur dirawat di
rumah sakit.
Menurut data dari WHO, Necrotizing Enterocolitis terjadi pada 1% hingga
7% pada Neonatal Intensive Care Unit, atau pada 1-3 dari 1000 kelahiran dan
muncul pada perbandingan yang sama antara laki-laki dan perempuan.
Dengan mortalitas 11,5 hingga 12,3 per 100.000 kematian infant.(Wilson,
2000)
Sekitar 75% dari semua pasien bertahan hidup, dengan yang memerlukan
intervensi bedah selama fase akut dari penyakit menunjukkan tingkat
kelangsungan hidup lebih rendah. Dari pasien yang hidup, 50%
mengembangkan komplikasi jangka panjang. Komplikasi yang paling umum
Intestinal Stricture dan Short-gut Syndrome. (Springrer, 2009)
Penatalaksanaan Necrotizing Enterocolitis bergantung pada penegakan
diagnosis mengenai tingkatan keparahan penyakit yang dialami.Hal ini dapat
diketahui melalui pemeriksaan fisik lengkap dan identifikasi faktor faktor
resiko. Namun dalam perkembangannya ditemukan teori baru dalam

3
penanganan Necrotizing Enterocolitis dapat berupa penggunaan probiotik.
(Springrer, 2009)

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Etiologi
Necrotizing Enterolitis (NEC) adalah keadaan penyakit serius pada
Gastrointestinal Traktus (GIT) yang biasanya terjadi pada bayi premature.
Keadaan ini terjadi pada umur kehidupan neonates sampai 2 minggu dan
setelah mulai mengonsumsi susu. Pada NEC, saluran intestinal (colon) terjadi
infeksi dan inflamasi. Hal ini menyebabkan kerusakan dan nekrosis (kematian
jaringan) pada seluruh bagian intestinal. (www.aap.org:2010)
Etiologi dari penyakit ini tidak jelas, dan disebabkan oleh berbagai macam
faktor. Namun, Necrotizing Enterocolitis dianggap disebabkan oleh
immaturitas dari mucosa intestinal, iskemi intestinal, dan respon imun yang
immatur. Hal-hal tersebut dianggap memicu produksi dari mediator inflamasi
edogen yang akhirnya menyebabkan luka pada intestinal.(University of
California, 2004)
Kejadian Necrotizing Enterocolitis dikaitkan oleh beberapa faktor resiko
berupa; (Piazza, 2007)
1. Prematuritas (95% kasus)
2. Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia bayi
3. Bakteri seperti, E. coli, Klebsiella, dan Enterobacter.
4. Bayi dengan riwayat transfusi darah
5. Polisitemia
B. Patofisiologi
Pada bayi yang lahir premature, fungsi sistem organ belum terbentuk
sempurna. Seperti pada sistem digestif, imun, dan sistem vascular. Sistem
digestif yang belum terbentuk sempurna tersebut memungkinkan bakteri
mudah masuk dan menginfeksi sehingga akan terjadi leukositosis karena
adanya proses inflamasi dan perforasi jaringan yang akan menimbulkan
perdarahan traktus digestifus. Apabila perdarahan tersebut pada saluran
pencernaan bagian bawah maka akan menyebabkan tinja bercampur dengan

5
darah (hematoksesia). Selain itu, proses inflamasi yang terjadi akibat bakteri
tersebut juga merangsang pembentukan prostaglandin yang akan ditangkap
oleh nosiseptor dan dipresepsikan sebagai nyeri. Biasanya pada bayi
premature juga terjadi feeding intolerance yang akan menyebabkan retensi
lambung dan distensi perut.
Belum sempurna nya sistem imun pada bayi premature juga dapat
menyebabkan leucopenia, neutropenia dan lain sebagainya. Begitupula pada
sistem vascular yang belum sempurna akan menimbulkan pembuluh darah dan
aliran darah kurang optimal, maka pengiriman O2 ke organ target berkurang
sehingga perfusipun berkurang yang akan membawa konsekuensi hipoksia
pada jaringan. Apabila hipoksia ini terus berlanjut akan menurunkan ATP
dalam transport Glukosa dan galaktosa sehingga akan terjadi iskemik dan
nekrosis jaringan serta penurunan absorbs karbohidrat.

PRIMARY INFECTIOUS CIRCULATORY INSTABILITY


AGENTS Hypoxic-ischemic event
Bacteria, Bacterial toxin, Virus, Polycythemia
Fungus

MUCOSAL INJURY

INFLAMMATORY MEDIATORS ENTERAL FEEDINGS


Inflammatory cells (macrophage) Hypertonic formula or medication
Platelet activating factor (PAF) Malabsorption, gaseous distention
Tumor necrosis factor (TNF) H2 gas production, Endotoxin
Leukotriene C4, Interleukin 1; 6 production

(Bell:2008) (Springer:2009) (Bethesda2009)

6
C. Tanda dan Gejala Klinis
1. Tanda
Tanda sistemik yang tidak spesifik dan dapat merupakan kombinasi dari
hal-hal di bawah ini :
- Apnea
- Lethargy
- Perfusi perifer menurun
- Syok (pada fase lanjut)
- Rentan terhadap perdarahan (koagulasi intravaskuler yang tersebar)

2. Gejala
Gejala awalnya dapat satu atau lebih dari di bawah ini :
- Intoleransi makanan

7
- Pengosongan lambung yang tertunda
- Distensi abdomen dan/ atau abdominal tenderness
- Suara usus (bising) berkurang
- Eritema pada dinding abdomen (pada fase lanjut)
- Hematochezia
D. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah lengkap
- Hitung jumlah leukosit : Leukopenia atau pun leukositosis dengan
pergeseran ke kiri, neutropenia
- Hitung jumlah eritrosit : penurunan akut hematokrit (dari
hematochezia dan/atau koagulasi intravaskuler yang tersebar)
- Hitung jumlah platelet : trombositopenia, PT dan aPTT yang
memanjang, penurunan fibrinogen, peningkatan produk degradasi
fibrin
- Kultur darah : untuk membedakan sepsis dan Necrotizing
Enterocolitis.
2. Elektrolit serum
- Serum sodium : hiponatremia
- Serum bikarbonat : asidosis metabolic (serum bikarbonat menurun)
3. Gas darah arteri : untuk penentuan kebutuhan bayi akan bantuan
pernapasan, menambah informasi tentang status asam-basa pada neonatus.
4. Radiografi
- Anterior posterior : pola gas yang abnormal, dilated loops, penebalan
dinding usus, pneumatosis intestinalis, kadang-kadang terdapat scarce
(tidak adanya gas intestinal), ascites.
- Left lateral decubitus : udara intraperitoneal
5. Ultrasonografi : ascites, udara di sistem vena porta.
6. Histologi : nekrosis terbatas pada tunika mukosa, pneumatosis.

8
E. Penegakan Diagnosis
Penegakan diagnosis pada Necrotizing Enterocolitis didasari pada kriteria
staging yang dikembangkan oleh Bell. Kriteria ini juga menunjukkan tingkat
keparahan suatu penyakit (Springrer, 2009)
1. Bell Stage I – Suspected disease
a. Stage IA
- Tanda sistemik ringan non-spesifik (apnea, bradikardia,
ketidakstabilan suhu)
- Tanda intestinal rigan (peningkatan residu gaster, distensi abdomen
ringan)
- Pemeriksaan radiografi dapat terlihat normal atau distensi ringan
non-spesifik
b. Stage IB
- Diagnosis sama seperti IA, dengan tambahan grossly bloody stool.

2. Bell Stage II – Definite disease


a. Stage IIA
- Pasien sakit ringan
- Tanda diagnosis termasuk tanda sistemik ringan pada stage IA
- Tanda intestinal termasuk semua tanda di stage I dengan tambahan
tidak adanya suara usus.
- Radiografi menunjukkan ileus dan/atau pneumatosis intestinalis.
b. Stage IIB
- Pasien sakit sedang
- Tanda diagnosis seperti pada stage I ditambahkan tanda sistemik
dari penyakit sedang (asidosis metabolic ringan dan
trombositopenia ringan)
- Pada pemeriksaan abdomen ditemukan tenderness, eritema atau
discolorasi lainnya, dan/atau massa pada kuadran kanan bawah.
- Adiografi menunjukkan gas vena porta dengan atau tanpa ascites.

3. Bell Stage III – Necrotizing Enterocolitis lanjut dengan sakit berat yang
butuh pembedahan

9
a. Stage IIIA
- Pasien dengan Necrotizing Enterocolitis dengan usus yang utuh.
- Tanda diagnosisnya semua dari kondisi seperti diatas dengan
tambahan hipotensi, bradikardia, gagal napas, asidosis metabolic
berat, koagulopati, dan/atau neutropenia.
- Pada pemeriksaan abdomen ditemukan distensi dengan tanda
peritonitis generalisata
- Pemeriksaan radiografi ditemukan ascites.
b. Stage IIIB
- Stage ini untuk bayi dengan usus yang perforasi yang dapat dilihat
dalam pemeriksaan radiografi dan rekomendasi terapi seperti pada
stage IIIA.
F. Rencana Terapi
1. Medikamentosa
Terapi pada Necrotizing Enterocolitis tergantung pada tingkat
keparahannya. Kriteria staging yang dikembangkan oleh Bell berdasarkan
keparahan suatu penyakit :

Klasifikasi Jenis Terapi


Bell Stage 1
Stage 1a Terapinya adalah NPO dengan antibiotic
selama 3 hari, cairan intravena termasuk
TPN (Total Parenteral Nutrition).

Stage 1b: Terapinya adalah NPO dengan antibiotic


selama 3 hari dan cairan intravena.

Bell Stage II
Stage IIa: Terapinya termasuk bantuan pernapasan
dan gagal jantung termasuk resusitasi
cairan, NPO, dan antibiotic selama 14
hari. Konsultasi pembedahan harus
dipertimbangkan. Setelah stabilisasi,

10
tambahkan TPN selama periode NPO.

Stage IIb: Terapinya adalah bantuan pernapasan


dan gagal jantung termasuk resusitasi
cairan, NPO, antibiotic selama 14 hari.
Konsultasi pembedahan harus
dipertimbangkan. Setelah stabilisasi,
tambahkan TPN selama periode NPO.

Bell Stage III

Stage IIIa: Terapinya adalah NPO selama 14 hari,


resusitasi cairan, inotropic dan
ventilator. Konsultasi pembedahan harus
dilakukan. TPN ditambahkan selama
periode NPO.

Stage IIIb: Pembedahan.

Obat-obat yang dapat digunakan pada Necrotizing Enterocolitis :


a. Antibiotik. Meskipun tidak ada satu etiologi infeksi yang diketahui
dapat menyebabkan Necrotizing Enterocolitis, konsensus secara klinik
menemukan bahwa terapi antibiotic merupakan terapi yang sesuai
(Cefotaxime, Ampicillin, Gentamicin, Vancomycin, Clindamycin,
Metronidazole)
b. Opressor, digunakan untuk mengatasi syok. (Dopamine, Dobutamine,
Epinephrine, Naloxone)
c. Volume expanders digunakan untuk meningkatkan volume cairan
intraselular
- Albumin (5% dan 25 %)
- Sodium chloride 0,9%
- Plasma baru yang dibekukan
d. Glukokortokosteroid digunakan untuk mengkoreksi respon adrenal
yang tidak diharapkan. (Hydrocortisone sodium succinate)

11
e. Analgesic opioid digunakan untuk menghilangkan sakit/ nyeri karena
sakit yang parah dan prosedur invasive. (Morphine sulfate dan
Fentanyl)
f. Probiotik digunakan untuk mengurangi risiko dan keparahan penyakit
2. Non Medikamentosa
Penatalaksanann non medikamentosa pada penderita Necrotizin
Enterocolitis dapat berupa:
a. Pemberian ASI segera setelah bayi lahir. ASI memiliki komponen
imunitas yang dapat melindungi mukosa intestinal bayi yang baru
lahir dari bakteri patogen penyebab NEC.
b. Mencegah hipoksia pada bayi baru lahir. Bayi lahir dengan kondisi
hipoksia memilkiki resiko lebih tinggi untuk mengalami NEC.
c. Menjaga status gizi ibu dan anak ketika masa kehamilan, guna
mencegah bayi lahir dengan berat badan rendah dan prematur.
d. Edukasi kepada ibu hamil dengan faktor resiko NEC. Misalnya;
hipertensi kehamilan, diabetes meilitus, penggunaan obat-obatan
terlarang.
e. Menggiatkan antenatal dan prenatal care..
G. Komplikasi
1. Intestinal Stricture
-Komplikasi ini dapat berkembang pada bayi dengan atau tanpa perforasi
sebelumnya. Insiden adalah 25-33%.
-Walaupun lokasi yang paling mungkin untuk penyakit akut adalah ileum
terminal, striktur paling sering melibatkan sisi kiri usus besar.
-Gejala intoleransi pemberian pakan dan gangguan pencernaan biasanya
terjadi 2-3 minggu setelah sembuh dari awal acara.
-Keberadaan dan lokasi obstruksi tersebut didiagnosis dengan
menggunakan enema kontras; reseksi bedah dari daerah yang terkena
diperlukan. Banyak dokter bedah secara rutin melakukan enema kontras
pada pasien mereka sebelum reanastomosis usus sehingga semua
intervensi bedah diperlukan dapat dilakukan pada satu tim.

12
2. Short-gut Syndrome
- Ini adalah gejala kesulitan pencernaan yang dihasilkan dari penghapusan
porsi berlebihan atau kritis dari usus kecil yang diperlukan untuk
penyerapan nutrisi penting dari lumen usus.
- Gejala yang paling mendalam pada bayi yang baik telah kehilangan
sebagian besar usus kecil atau telah kehilangan sebagian kecil yang
termasuk katup ileocecal.
- Rugi dari usus kecil dapat mengakibatkan malabsorpsi zat gizi serta
cairan dan elektrolit.
- Usus bayi tumbuh dan beradaptasi dari waktu ke waktu, tetapi penelitian
jangka panjang menunjukkan bahwa pertumbuhan ini dapat berlangsung
selama 2 tahun terjadi. Selama waktu itu, pemeliharaan gizi keadaan
anabolik dan lengkap sangat penting bagi pertumbuhan dan
perkembangan bayi. Hal ini dicapai dengan pemberian parenteral dari
vitamin cukup, mineral, dan kalori; pengelolaan yang tepat dari
hipersekresi asam lambung, dan pemantauan untuk penumbuhan bakteri
yang terlalu cepat. Penambahan penyusuan enteral yang tepat selama ini
adalah penting untuk makanan usus dan penataan kembali. (Springrer,
2009)
H. Prognosis
Penanganan dini terhadap penderita NEC dapat menurunkan resiko
kematian dan komplikasi terhadap penderita NEC. NEC merupakan penyakit
serius dengan angka kematian 25%

13
BAB III
PEMBAHASAN

Saat ini dikembangkan mengenai penggunaan probiotik untuk mengatasi


Necrotizing Enterocolitis. Penggunaan probiotik untuk NEC dapat bermanfaat :
1. mencegah penempelan bakteri pathogen pada enterosit dengan cara
membentuk antibakteri lokal
2. meningkatkan pH dari lumen dengan cara memproduksi sejumlah asam
lemak yang mudah menguap dan hal ini bermanfaat untuk mencegah
perkembangbiakan bakteri
3. memproduksi mucosal IgA dan menginduksi pembentukan cytokin
antiinflamasi
4. berinteraksi dengan TLR (Toll-like receptor) yang dapat mengontrol
situasi dari perkembangbiakan lingkungan untuk kuman patogen
Penggunaan probiotik untuk NEC belum ditemukan efek yang tidak
diinginkan. Bacillus sp dan Saccharomyces terbukti dapat mencegah
pertumbuhan dari koloni bakteri patogen.
Penelitian menyebutkan bahwa Lactobacillus sp dapat menyebabkan
infeksi yang serius pada penderita yang tidak mendapat probiotik. Infeksi
serius tersebut diantaranya bacterimia, sepsis, meningitis, dan endokarditis.
Penelitian lain membuktikan bahwa pemberian probiotik dapat menurunkan
insiden infeksi oleh Lactobacillus.Untuk bayi, NEC dapat ditanggulangi
dengan cara pemberian ASI.
Medikasi terdahulu untuk penderita NEC yaitu :
1. NPO
2. Nasogastric suction
3. Pemberian antibiotik sistemik; seperti Ampicilin/Vancomycin,
gentamycin, flagyl (jika terjadi perforasi)
4. Surgical treatment seperti peritoneal drain, exploratory laparotomy, bowel
resection (enterostomy, primary anastomosis, diverting jejunostomy, clip
and drop procedure)

14
BAB IV
KESIMPULAN

Necrotizing Enterocolitis merupakan salah satu penyakit yang timbul pada


bayi premature. “Necrotizing" berarti kematian jaringan, "entero" mengacu pada
usus kecil, "colo" pada usus besar, dan "itis" berarti peradangan. Berarti penyakit
ini ialah peradangan dan kematian jaringan pada usus kecil. Komplikasi yang
paling sering timbul adalah Intestinal Stricture dan Short-gut Syndrome.
Timbulnya penyakit ini dikarenakan kematangan organ yang belum sempurna.
Pemariksaan penunjang yang dapat dilakukan diantaranya adalah pemeriksaan
darah lengkap, elektrolit serum, gas darah arteri, radiografi, ultrasonografi,
histology. Terapi yang digunakan pada Necrotizing Enterocolitis tergantung pada
tingkat keparahannya. Kriteria staging yang dikembangkan oleh Bell berdasarkan
keparahan suatu penyakit. Terdapat beberapa tingkatan terapi yaitu tingkat
IA,IB,IIA,IIB,IIIA dan IIIB.
Penggunaan probiotik pada NEC terbukti telah memberikan beberapa manfaat,
diantaranya adalah mencegah penempelan bakteri pathogen pada enterosit,
peningkatkan pH dari lumen untuk mencegah perkembangbiakan bakteri,
memproduksi mucosal IgA serta berinteraksi dengan TLR (Toll-like receptor)
yang dapat mengontrol situasi dari perkembangbiakan lingkungan untuk kuman
patogen

15
DAFTAR PUSTAKA

Bell. M J,et all.2008.Neonatal Necrotizing Enterocolitis. Therapeutic decisions


based upon clinical staging. Articles from Annals of Surgery are provided
here courtesy of Lippincott, Williams, and Wilkins
Bethesda MD, 2009. Necrotizing Enterocolitis In Children. U.S. National Library
of Medicine Rockville Pike : USA, diakses di www.drugs.com pada tanggal
15 juni 2010
Piazza, AJ. 2007. Digestive System Disorder in: Nelson Textbook of Pediatric.
Jakarta: EGC
Springer, Shelley C,2009. Necrotizing Enterocolitis. South Carolina : Department
of Pediatrics, Medical University
University of California. 2004. Necrotizing Enterocolitis. Diakses di
http://www.ucsfchildrenshospital.org/pdf/manuals/46_NecEnt.pdf pada
tanggal 21 juni 2010
Wilson, Rickley. Epidemiologic Characteristic of Necrotizing Enterocolitis: A
Populatin-Based Study. diakses di
http://aje.oxfordjournals.org/cgi/content/short/114/6/880 pada tanggal 21
Juni 2010
http://www.aap.org diakses pada tanggal 15 juni 2010

16