Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH

GENESA BAHAN GALIAN

OLEH:

M ROWI SAPUTRA (710016015)

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
GENESA PEMBENTUKAN ENDAPAN BAUKSIT

Bauksit terbentuk dari batuan yang mengandung unsur Al. Batuan


tersebut antara lain: (nepheline, syenit, granit, andesit, dolerite, Gabro, basalt,
hornfels, schist, slate, kaolinitic, shale, limestone dan phonolite.)
Apabila batuan-batuan tersebut mengalami pelapukan, mineral yang
mudah larut akan terlarut kan seperti mineral – mineral alkali, sedangkan mineral
– mineral yang tahan akan pelapukan akan terakumulasi kan Di daerah tropis,
pada kondisi tertentu batuan yang terbentuk dari mineral silikat dan lempung
akan terpecah-pecah dan silika nya terpisahkan sedangkan oksida alumunium
dan oksida besi terkonsentrasi sebagai residu. Proses ini berlangsung terus
dalam waktu yang cukup dan produk pelapukan terhindar dari erosi, akan
menghasilkan endapan lateritic Kandungan alumunium yang tinggi di batuan
asal bukan merupakan syarat utama dalam pembentukan bauksit, tetapi yang
lebih penting adalah intensitas dan lamanya proses laterisasi Kondisi – kondisi
utama yang memungkinkan terjadi nya endapan bauksit secara optimum adalah
;

1. Adanya batuan yang mudah larut dan menghasilkan batuan sisa yang
kaya almunium
2. Adanya vegetasi dan bakteri yang mempercepat proses pelapukan
3. Porositas batuan yang tinggi, sehingga sirkulasi air berjalan dengan
muda
4. Adanya pergantian musim (cuaca) hujan dan kemarau (kering)
5. Adanya bahan yang tepat untuk pelarutan
6. Relief (bentuk permukaan) yang relatif rata, yang mana memungkinkan
terjadi nya pergerakan air dengan tingkat erosi minimum
7.Waktu yang cukup untuk terjadi nya proses pelapukan

Batuan Asal dan Proses Terbentuknya Bauksit


Batuan seperti nepheline, syenite, granidorite, dan lain-lain, adalah batuan
yang cocok untuk membentuk mineral aluminium hidrat. Batuan asal tersebut
selanjutnya akan mendapatkan proses lateritisasi karena proses perubahan
temperatur secara terus menerus, sehingga pada kondisi ini batuan akan mudah
lapuk dan hancur. Pada musim hujan, air akan dan membawa elemen yang
mudah larut, tetapi untuk elemen yang tidak larut akan tinggal di batuan yang
selanjutnya membentuk residu, jika residu tersebut kaya aluminium maka inilah
yang disebut bauksit laterit. Proses pengendapan bauksit membutuhkan daerah
yang stabil, dimana proses erosi vertikal tidak aktif lagi. Kondisi ini biasanya
terjadi di daerah "peneplain", tetapi tetap harus memerlukan sirkulasi air tanah
untuk mengangkut elemen tersebut.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Bauksit


Beberapa faktor yang mempengaruhi pengendapan bauksit seperti yang
disebutkan oleh Alcomin (1974), adalah sebagai berikut:

1. Sumber batuan yang kaya akan unsur-unsur Al.


2. Wilayah Sub tropis dengan lingkungan penguapan yang tinggi.
3. Suhu harian rata-rata >25ºC.
4. Topografi bergelombang.
5. Daerah Stabil (old continental/stadium tua).
6. Formasi batuan yang berada diatas mata air permanen.

Beberapa faktor eksternal juga dapat mempercepat proses pelapukan seperti


struktur geologi, frekuensi curah hujan dan suhu harian yang tinggi (daerah
subtropis), dan juga asam organik. Yang terakhir ini berasal dari tanaman yang
akan menurunkan pH tanah menjadi <4. Pada pH <4 dan pH>9 elemen Al2O3
akan dilepaskan, tetapi SiO2 hanya akan terlepas pada pH> 9 - pH 10. Karena
pH normal air tanah adalah 7 maka pada kedalaman tertentu akan terjadi
pelepasan Al2O3 dan SiO2, hal ini sudah tentu terkait dengan topografi
Unsur-unsur lain seperti Ca, Na, K dan Mg akan diangkut oleh air tanah melalui
sistem drainase pada daerah rendah ke daerah yang cekung. Sedimentasi
residu Al2O3SiO3 dan garam Fe pada pH antara 4 dan 9 disebabkan oleh
normalisasi pH tanah pada kedalaman tertentu. Pada kondisi pH 4-9, silika dari
feldspar alkali akan bercampur dengan air (H2O) membentuk silikat alumina
hidrat dengan Al2O3 SiO3 dan H2O.

Di daerah subtropis, dekomposisi dari kombinasi silikat akan berjalan lebih


cepat sehingga akumulasi dari oksida besi dan aluminium akan membentuk
kongkresi bauksit. Bentuk variasi dari kongkresi diantaranya adalah sub-
rounded, tabular, memperlihatkan bentuk anhedral dalam matriks lempung, serta
terkadang berupa lempung pasiran. Transportasi elemen terlarut dan
sedimentasi residu sangat dipengaruhi oleh topografi. Di daerah dengan
morfologi gelombang rendah dan stadium tua akan menghasilkan sirkulasi air
tanah yang baik sebagai media transportasi elemen, tetapi dengan syarat erosi
vertikal tidak terjadi lagi. Jensen dan Bateman, 1981 menjelaskan bahwa bauksit
terbentuk sebagai sisa sedimentasi pada atau dekat permukaan. Sedimentasi
terbentuk dari hasil akumulasi mineral aluminium silikat yang bebas massa
kuarsa. Dalam proses konsentrasi tersebut, terjadi perubahan volume hingga
konsentrasi mencapai nilai komersial untuk ditambang.
Mineralisasi Selama Proses Pembentukan Bauksit
Dalam bauksit ada preferensi untuk neomineralisasi hidroksida, oksida
terhidrasi dan oksida Al, Fe dan Ti, tetapi dalam hal ini lapisan silikat dan kuarsa
pun dapat terbentuk. Pembebasan unsur-unsur dari mineral atau batuan diatur
oleh:

1. Obligasi dalam kisi kristal mineral yang akan hancur;


2. Kelarutan pada fase mineral sekunder;
3. pH dan Eh dari larutan;
4. Pengisian elemen, misalnya, Fe;
5. Suhu dan konsentrasi pelapukan larutan;

Gambar .1 profil Bauksit latrit Di kalimantan

Bauksit di indonesia pada umumnya terbentuk dari protrit sekunder


berupa pelapukan (lateritisasi) pada batuan beku yang kaya akan mineral yang
mengandung alumunium (feldspar) seperti granit, granodiorit, diorit, gabbro, dan
andesit. Syarat bauksit yang bernilai ekonomis adalah mengandung elemen
Al2O3 yang tinggi, tetapi rendah total silika (TSiO2) dan rendah reaktif silika
(RSiO2).
PROSES PEMBENTUKAN DAN GENESA BAUKSIT
Genesa Bijih Bauksit Alumina dapat bersumnber dari batuan primer
(magnetik danhidrothermal) maupun dari batuan sekunder (pelapukan dan
metamorfosa).Namun secara luas yang berada di permukaan bumi ini berasal dari
batuansekunder hasil proses pelapukan dan pelindian.
1 . Ma h n e t i k
Alumina yang bersumber dari proses magnetik dijumpai dalam
bentukbatuan yang kaya akan kandungan alumina yang disebut dengan
alumina-rick rock. Sebagai contoh adalah mineral anortosite dan mineral
nefelinpada batuan syenit yang mengandung lebih dari 20%Al2o3
Sumberalumina di Rusia yang pontensial dan telah dilakukan
penambanganadalah bersumber dari proses magnetik
2.Hidrothermal
Alumina produk alterasi hidrothermal dari trasit dan riolit pada
beberapadaerah vulkanik misalnya mineral alunit mengandung sampai 75%
Al2o3 dan dapat ditambang sebagai sumber alumina
3.Metamirfosa
lumina yang bersumber dari proses metamorfosa adalah sumber
aluminayang tidak ekonomis. Saat ini masih dalam penelitian ekstraksi yang
lebihmaju. Diharapkan dimas mendatang akan menjadi alumina yang
potensialdan bernilai ekonomis. Sebagai contoh adalah alumina silikat
andalusit,silimanit dan kianit
4 . P e l a p u k a n
Alumina yang bersumber dari proses pelapukan, dijumpai sebagaicebakan
residual dan disebut sebagai bauksit. Terbaentuk oleh pelapukanfeldspatik
atau batuan yang mengandung nefelin.

KLASIFIKASI BIJIH BAUKSIT


Berdasarkan genesanya
1.Bauksit pada batuan klastik yang kasar
Jenis ini berasal dari btuan beku yang telah berubah menjadi
metamorf didaerah yang beriklim tropis dan berumur Tersier Awal.
Permukaandaerahnya telah mengalami erosi dan dijumpai bauksit dalam
bentukboulder. Tekstur pisolitik dan bentuknya menyudut dengan kadar
bauksittinggi dalam bohmit dengan posisi letaknya sesuai dengan
kemiringanlereng.
2.Bauksit pada terorosa
Jenis terrarosa banyak terdapat disekitar Mediterranian di Eropa
Selatanyang merupakan fraksi-fraksi kecil dari hasil pelapukan batu kapur
ataudolomite dan sebagian diaspor (Al2O3H2). Jenis ini mempunyai
ikatanmonohidrat, karen itulah endapan jenis terrarosa mempunyai
kadaralumina yang lebih besar dibandingkan endapan jenis laterit.
3.Bauksit pada batuan sedimen klastik
Dijumpai pada lingkungan pengendapan sungai stadium tua pada
delta.Karena tertransportasi, material rombakan terbawa ke laut. Sedimen