Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masa lansia bukan hanya dihadapkan pada permasalahan kesehatan jasmaniah saja,
tapi juga permasalahan gangguan mental dalam menghadapi usia senja. Sejalan dengan
semakin baiknya status kesehatan masyarakat, usia harapan hidup masyarakat Indonesia juga
semakin tinggi, sehingga mengakibatkan jumlah lansia juga semakin bertambah.

Saat ini, jumlah lansia yang ada di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik
mencapai 18,7 juta orang (8,5%) dari jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini akan
menjadikan Indonesia menempati urutan ke-4 terbanyak negara berpolulasi lansia setelah
Cina, India dan Amerika. Berdasarkan Survei Kesehatan Depkes RI, menyatakan, gangguan
mental pada usia 55-64 tahun mencapai 7,9%, sedangkan yang berusia di atas 65 tahun
12,3%. Angka ini diperkirakan akan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
Karenanya pengenalan masalah mental sejak dini merupakan hal yang penting, sehingga
beberapa gangguan masalah mental pada lansia dapat dicegah, dihilangkan atau dipulihkan.

Jika tidak didiagnosis dan diobati tepat waktu kondisi tersebut dapat mengalami
perburukan dan membutuhkan penanganan yang kompleks. Kepandaian menyiasati dapat
menjadikan masa tua yang menyenangkan, produktif dan energik tanpa harus merasa tua dan
tidak berdaya.

Dengan penjelasan di atas, kami tertarik untuk membahas gangguan fungsi mental
pada lansia lebih lanjut. Kami sebagai calon perawat tertarik untuk membahas tentang asuhan
keperawatan gangguan fungsi mental pada lansia.

1.2 Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk untuk mendapatkan pengetahuan
dalam memberikan asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan mental dengan
menggunakan proses keperawatan.

2. Tujuan Khusus

a) Mahasiswa mengetahui mengenai gangguan fungsi mental pada lansia.


b) Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada lansia dengan masalah mental.
c) Mhasiswa mampu membuat rencana keperawatan yang telah disusun.
d) Mahasiswa mampu melaksanakan rencana asuhan keperawatan yang telah disusun.
e) Mahasiswa mampu mengevaluasi asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan
mental.

1.3 Sistematika Penulisan


Makalah ini terdiri dari empat bab : BAB I Pendahuluan terdiri dari latar belakang ,
Tujuan penulisan, Sistematika penulisan. BAB II Pembahasan terdiri dari pengertian
mental, aspek-aspek mental, Masalah di bidang psikogeratri, Pendekatan Perawatan
Lanjut Usia. BAB III Asuhan Keperawatan terdiri dari pengkajian, analisa data, rencana
keperawatan. BAB IV Penutup terdiri dari simpulan dan saran.

BAB II

TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian Mental

Lansia atau lanjut usia merupakan kelompok umur (usia 60 tahun ke atas) pada
manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Pada kelompok yang
dikategorikan lansi ini akan terjadi suatu proses yang disebut aging proses.

Mental berasal dari kata latin yaitu mens, mentis yang artinya: jiwa, nyawa, sukma,
roh, semangat (Kartini Kartono, 1987:3). Sedangkan dalam kamus psikologi Kartini Kartono,
(1987:278) mengemukakan: mental adalah yang berkenaan dengan jiwa, batin ruhaniah.
Dalam pengertian aslinya menyinggung masalah: pikiran, akal atau ingatan. Sedangkan
sekarang ini digunakan untuk menunjukkan penyesuaian organisme terhadap lingkungan dan
secara khusus menunjuk penyesuaian yang mencakup fungsi-fungsi simbolis yang disadari
oleh individu.

Pengertian mental dalam kamus besar bahasa Indonesia, (1991:647)


adalah“Berkenaan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga,
Bukan bersifat badan atau tenaga: bukan hanya pembangunan fisik yang diperhatikan
melainkan juga pembangunan batin dan watak”.

Mental secara istilah dapat diartikan dengan “semangat jiwa yang tegar, yang aktif,
yang mempengaruhi perilaku hidup dan kehidupan manusia” (Mawardi Labay El- Sulthani,
2001:2).

Melihat dari pernyataan diatas, maka mental bisa diartikan sesuatu yang berada dalam
tubuh (fisik) manusia yang dapat mempengaruhi perilaku, watak dan sifat manusia di dalam
kehidupan pribadi dan lingkungannya.

2.2 Aspek-aspek Mental

Manusia adalah makhluk yang pada dasarnya baik dan selalu ingin kembali pada
kebenaran yang sejati, karena pada diri manusia mempunyai. Aspek-aspek jiwa yang bisa
mempengaruhi segala sikap dan tingkah laku manusia. Bertolak dari pernyataan maka aspek-
aspek manusia dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Kartini Kartono (2000:6) mengemukakan bahwa aspek mental yang ada dalam diri
manusia adalah keinginan, tindakan, tujuan, usaha-usaha, dan perasaan.

a) Keinginan : perihal yang diinginkan.


b) Tindakan : perbuatan; sesuatu yang dilakukan. Sesuatu yang dilaksanakan untuk
mengatasi sesuatu.
c) Tujuan : arah yang dituju, maksud atau tuntutan.
d) Usaha : kegiatan untuk mengarahkan tenaga, pikiran atau badan
e) untuk mencapai suata maksud.
f) Perasaan : hasil/ perbuatan merasa dengan panca indera. Rasa/keadaan batin
dalam menghadapi sesuatu.

2. Zakiah Darajat (1990:32) berpendapat bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia
adalah kehendak, sikap, dan tindakan.

a) Kehendak : kemauan, keinginan dan harapan yang keras.


b) Sikap : posisi mental (perasaan terhadap bahasa sendiri/bahasa orang lain).
c) Tindakan : perbuatan; sesuatu yang dilakukan. Sesuatu yang Dilaksanakan untuk
mengatasi sesuatu.

3. Mawardi Labay El-Shuthani (2001:3) memandang bahwa aspek mental yang ada dalam
diri manusia adalah segala sesuatu yang menentukan sifat dan karakter manusia.

a) Sifat : rupa/keadaan yang nampak pada suatu benda/lahiriah


b) Karakter : sifat-sifat kejiwaan, akhlak/budi pekerti yang membedakan

4. Ibnu Sina (1996:116) berpendapt bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah
kesadaran diri, amarah, dan keinginan.

a) Kesadaran diri : kesadaran seseorang/keadaan dirinya sendiri.


b) Amarah : sangat tidak senang.
c) Keinginan : perihal yang diinginkan.

5. Al Ghazali (1989:7) mengemukakan bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia
adalah yang merasa, yang mengetahui dan yang mengenal.

a) Merasa : mengalami rangsangan yang mengenai (menyentuh) indra


(seperti yang dialamu lidah, kulit/badan).

6. Hanna Djuhamham Bastaman (2001:64) memandang bahwa aspek mental yang ada dalam
diri manusia adalah berpikir, berkehendak, merasa, dan berangan-angan.

b) Berpikir : menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan


c) dan memutuskan sesuatu, menimbang-nimbang.
d) Berkehendak : kemauan, keinginan dan harapan yang keras.
e) Merasa : mengalami rangsangan yang mengenai (menyentuh)
f) indra (seperti yang dialamu lidah, kulit/badan).
g) Berangan-angan : mempunyai angan-angan (pikiran/ingatan).

2.3 Aspek-aspek Yang Mempengaruhi Perubahan Fungsi Mental Pada Lansia

Masalah kesehatan mental pada lansia dapat berasal dari 4 aspek yaitu fisik,
psikologik, sosial dan ekonomi. Masalah tersebut dapat berupa emosi labil, mudah
tersinggung, gampang merasa dilecehkan, kecewa, tidak bahagia, perasaan kehilangan, dan
tidak berguna. Lansia dengan problem tersebut menjadi rentan mengalami gangguan
psikiatrik seperti depresi, ansietas (kecemasan), psikosis (kegilaan) atau kecanduan obat.
Pada umumnya masalah kesehatan mental lansia adalah masalah penyesuaian. Penyesuaian
tersebut karena adanya perubahan dari keadaan sebelumnya (fisik masih kuat, bekerja dan
berpenghasilan) menjadi kemunduran.

Aspek psikologi merupakan faktor penting dalam kehidupan seseorang dan menjadi
semakin penting dalam kehidupan seorang lansia. Aspek psikologis ini lebih menonjol
daripada aspek materiil dalam kehidupan seorang lansia. Pada umumnya, lansia
mengharapkan: panjang umur, semangat hidup, tetap berperan sosial, dihormati,
mempertahankan hak dan hartanya, tetap berwibawa, kematian dalam ketenangan dan
diterima di sisi-Nya, dan masuk surga. Keinginan untuk lebih dekat kepada Allah merupakan
kebutuhan lansia. Proses menua yang tidak sesuai dengan harapan tersebut, dirasakan sebagai
beban mental yang cukup berat.

Aspek sosial yang terjadi pada individu lanjut usia, meliputi kematian pasangan
hidupnya/teman-temannya, perubahan peran seorang ayah/ibu menjadi seorang kakek/nenek,
perubahan dalam hubungan dengan anak karena sudah harus memerhitungkan anak sebagai
individu dewasa yang dianggap sebagai teman untuk dimintai pendapat dan pertolongan,
perubahan peran dari seorang pekerja menjadi pensiunan yang sebagian besar waktunya
dihabiskan di rumah.

Aspek ekonomi berkaitan dengan status sosial dan prestise. Dalam masyarakat
sebagai seorang pensiunan, perubahan pendapatan karena hidupnya tergantung dari tunjangan
pensiunan. Kondisi-kondisi khas yang berupa penurunan kemampuan ini akan memunculkan
gejala umum pada individu lanjut usia, yaitu “perasaan takut menjadi tua.”

Pada umumnya, perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal
pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam
kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan
penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status, dan harga diri. Reaksi setelah orang
memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya dan sangat tergantung
pada sikap mental individu dalam menghadapi masa pensiun. Dalam kenyataan ada yang
menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan
ada juga yang seolah-olah pasrah terhadap pensiun.

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa aspek mental yang ada pada diri manusia
adalah aspek-aspek yang dapat menentukan sifat dan karakteristik manusia itu sendiri.
Perbuatan dan tingkah laku manusia sangat ditentukan oleh keadaan jiwanya yang merupaka
motor penggerak suatu perbuatan. Oleh sebab itu aspek-aspek mental tersebut bisa manusia
kendalikan melalui proses pendidikan.

2.4 Factor-faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Mental

1. Perubahan fisik
a. Sel : jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun, dan cairan
interseluler menurun
b. Kardiovaskuler: katup jantung menebal dan kaku, kemampuan memompa darah
menurun (menurunnya kontraksi dan volume), elastisitas pembuluh darah menurun,
serta meningkatnya retensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat
c. Persarafan: saraf pancaindera mengecil sehingga fungsinya menurun serta lambat
dalam merespon dan waktu bereaksi khususnya yang berhubungan dengan stres.
Berkurang atau hilangnya lapisan mielin akson, sehingga menyebabkan berkurangnya
respon motorik dan reflek
d. Pendengaran: membran timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran.
Tulang-tulang pendengaran mengalami kekakuan.
e. Penglihatan: respon terhadap sinar menurun, adaptasi terhadap gelap menurun,
akomodasi menurun, lapang pandang menurun, katarak
f. Belajar dan memori: kemampuan belajar masih ada tetapi relatif menurun. Memori
menurun karena proses encoding menurun
g. Intelegensi: secara umum tidak berubah

2. Kesehatan umum

Keadaan fisik lemah dan tidak berdaya sehingga harus bergantung pada orang lain.
Terjadi banyak perubahan dalam penampilan lansia, seperti pada bagian kepala dengan
rambut yang menipis dan berubah menjadi putih atau abu-abu, tubuh yang membungkuk dan
tampak mengecil, bagian persendian dengan pangkal tangan menjadi kendur dan terasa berat,
sedangkan ujung tangan tampak mengerut.

Selain itu, fungsi pancaindera terjadi perubahan seperti ada penurunan dalam
kemampuan melihat objek, kehilangan kemampuan mendengar bunyi dengan nada yang
sangat tinggi, penurunan sensitivitas papil-papil pengecap (terutama terhadap rasa manis dan
asin), penciuman menjadi kurang tajam, dan kulit yang semakin kering dan mengeras
menyebabkan indra peraba di kulit semakin peka.

Pada kemampuan motorik, lansia mengalami penurunan kekuatan yang paling nyata,
yaitu pada kelenturan otot-otot tangan bagian depan dan otot-otot yang menopang tegaknya
tubuh, lansia pun cepat merasa lelah. Terdapat juga penurunan kecepatan dalam bergerak dan
lansia cenderung menjadi kaku. Hal ini menyebabkan sesuatu yang dibawa dan dipegangnya
tertumpah dan jatuh.

3. Lingkungan

Berkaitan dengan lingkungan sekitar, seperti keluarga dan teman. Lansia tidak jarang
merasa emptiness (kesendirian, kehampaan) ketika keluarganya tidak ada yang
memperhatikannya. Selain itu, ketika ada lansia lainnya meninggal, maka muncul perasaan
pada lansia kapan ia akan meninggal.

2.5 Masalah Di Bidang Psikogeratri

1. Kecemasan
a. Pengertian

Gangguan kecemasan pada lansia adalah berupa gangguan panik, fobia, gangguan
obsesif kondlusif, gangguan kecemasan umum, gangguan stress akut, gangguan stress
pasca traumatik

b. Gejala kecemasan

1) Perasaan khawatir atau takut yang tidak rasional terhadap kejadian yang akan
terjadi
2) Sulit tidur sepanjang malam
3) Rasa tegang dan cepat marah
4) Sering mengeluh akan gejala yang ringan atau takut/khawatir terhadap penyakit
yang berat, misalnya kanker dan penyakit jantung yang sebenarnya tidak
dideritanya
5) Sering membayangkan hal-hal yang menakutkan
6) Merasa panic terhadap masalah yang ringan

c. Tindakan untuk mengatasi kecemasan

1) Cobalah untuk mendapatkan dukungan keluarga dengan rasa kasih saying


2) Bicaralah tentang rasa khawatir lansia dan cobalah untuk menentukan penyebab
mendasar (dengan memandang lansia secara holistic).
3) Cobalah untuk mengalihkan penyebab dan berikan rasa aman dengan penuh empati
4) Bila penyebabnya tidak jelas dan mendasar, berikan alas an-alasan yang dapat
diterima olehnya
5) Konsultasikan dengan dokter bila penyebabnya tidak dapat ditentukan atau bila
telah dicoba dengan berbagai cara tetapi gejala menetap.

2. Depresi

a. Pengertian

Depresi adalah suatu jenis keadaan perasaan atau emosi dengan komponen psikologis
seperti rasa sedih, susah, merasa tidak berguna, gagal, putus asa dan penyesalan atau
berbentuk penarikan diri, kegelisahan atau agitasi (Afda Wahywlingsih dan Sukamto).
Depresi adalah kondisi umum yang terjadi pada lansia dan alasan terjadinya kondisi ini dapat
dilihat pada saat mengkaji kondisi sosial, kejadian hidup, dan masalah fisik pada lansia.
Memang, depresi sering disalahartikan sebagai demensia. Kemampuan mental klien dengan
depresi tetap utuh, sedangkan pada klien demensia, terjadi peningkatan kerusakan kognitif.

b. Tipe depresi

Terdapat 2 tipe depresi yaitu eksogen atau depresi reaktif dan deprsesi endogen.

1) Depresi endogen mungkin akan terjadi pada awitan awal dalam hidupnya. Individu
dengan depresi endogen betul-betul dapat mengalami gangguan mental bahkan
mengalami delusi, dan sering kali mencoba bunuh diri. Bunuh diri adalah pengalaman
yang biasa pada lansia, terutama laki-laki. Oleh karena itu, semua ancaman ini harus
ditangani dengan serius.
2) Klien dengan depresi eksogen biasanya mendapat dukungan yang cukup pada stuasi
depresi, seperti setelah berduka karena kehilangan atau selama tinggal di rumah sakit.
Kadang-kadang dapat dilakukan sesuatu terhadap penyebab depresi yang dialami
lansia yang ketakutan untuk kembali ke rumah setelah tinggal dirumah sakit. Hal yang
dapat dilakukan adalah dengan memastikan bahwa mereka mendapat cukup dukungan
di rumah.

c. Penyebab depresi pada lansia:

1) Penyakit fisik
2) Penuaan
3) Kurangnya perhatian dari pihak keluarga
4) Gangguan pada otak (penyakit cerebrovaskular)
5) Faktor psikologis, berupa penyimpangan perilaku oleh karena cukup banyak lansia
yang mengalami peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan atau cukup berat.
6) Serotonin dan norepinephrine
7) Zat-zat kimia didalam otak (neurotransmitter) tidak seimbang. Neurotransmitter
sendiri adalah zat kimia yang membantu komunikasi antar sel-sel otak.

d. Factor pencetus depresi pada lansia:

1) Faktor biologic, misalnya faktor genetik, perubahan struktural otak, faktor risiko
vaskular, kelemahan fisik.
2) Faktor psikologik yaitu tipe kepribadian, relasi interpersonal, peristiwa kehidupan
seperti berduka, kehilangan orang dicintai, kesulitan ekonomi dan perubahan situasi,
stres kronis dan penggunaan obat-obatan tertentu.

e. Gejala depresi pada lansia:

1) Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan yang ada,
proyek, hobi, atau rekreasi tidak rnemberikan kesenangan.
2) Keluhan fisik biasanya terwujud pada perasaan fisik seperti:
a) Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat
sedangcenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika. kondisinya
telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah makan.
b) Nyeri (nyeri otot dan nyeri kepala).
c) Berat badan berubah drastic
d) Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam faktor penentu,
sebagian orang mengalami depresi sulit tidur. Tetapi dilain pihak banyak orang
mengalami depresi justru terlalu banyak tidur.
e) Sulit berkonsentrasi. Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan jernih dan
untuk mernecahkan masalah secara efektif. Orang yang mengalami depresi merasa
kesulitan untuk memfokuskan perhatiannya pada sebuah masalah untuk jangka
waktu tertentu. Keluhan umum yang sering terjadi adalah, "saya tidak bisa
berkonsentrasi".
f) Keluarnya keringat yang berlebihan.
g) Sesak napas.
h) Kejang usus atau kolik.
i) Muntah.
j) Diare.
k) Berdebar-debar.

3) Secara biologik dipacu dengan perubahan neurotransmitter, penyakit sistemik dan


penyakit degeneratif.

4) Secara psikologik gejalanya:

a) Kehilangan harga diri/ martabat.


b) Kehilangan secara fisik prang dan benda yang disayangi.
c) Perilaku merusak diri tidak langsung. contohnya: penyalahgunaan alkohol/ narkoba,
nikotin, dan obat-obat lainnya, makan berlebihan, terutama kalau seseorang
mempunyai masalah kesehatan seperti misalnya menjadi gemuk, diabetes,
hypoglycemia, atau diabetes, bisa juga diidentifikasi sebagai salah satu jenis perilaku
merusak diri sendiri secara tidak langsung.
d) Merasa putus asa dan tidak berarti. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup
yang tidak berguna, tidak efektif. orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri.
Pemikiran seperti, "saya menyia-nyiakan hidup saya" atau “saya tidak bisa rncncapai
banyak kemajuan", seringkali terjadi.
e) Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri.

5) Gejala social ditandai oleh kesulitan ekonomi seperti tak punya tempat tinggal.

3. Insomnia

a. Pengertian

Kebiasaan atau pola tidur lansia dapat berubah, yang terkadang dapat mengganggu
kenyamanan anggota keluarga lain yang tinggal serumah. Perubahan pola tidur dapat berubah
tiak bisa tidur sepanjang malam dan sering terbangun pada malam hari, sehingga lansia
melakukan kegiatannya pada malam hari.

b. Penyebab insomnia pada lansia

1) Kurangnya kegiatan fisik dan mental sepanjang hari sehingga mereka masih semangat
sepanjang malam
2) Tertidur sebentar-sebentar sepanjang hari
3) Gangguan cemas dan depresi
4) Tempat tidur dan suasana kamar kurang nyaman
5) Sering berkemih pada waktu malam karena banyak minum pada malam hari
6) Infeksi saluran kemih

4. Paranoid

a. Pengertian
Lansia terkadang merasa bahwa ada orang yang mengancam mereka, membicarakan,
serta berkomplot ingin melukai atau mencuri barang miliknya

b. Gejala Paranoid

1) Perasaan curiga dan memusuhi anggota keluarga, teman-teman, atau orang-orang di


sekelilingnya
2) Lupa akan barang-barang yang disimpannya kemudian menuduh orang-orang di
sekelilingnya mencuri atau menyembunyikan barang miliknya
3) Paranoid dapat merupakan manifestasi dari masalah lain, seperti depresi dan rasa
marah yang ditahan

Tindakan yang dapat dilakukan pada lansia dengan paranoid adalah memberikan
rasa aman dan mengurangi rasa curiga dengan memberikan alas an yang jelas dalam
setiap kegiatan. Konsultasikan dengan dokter bila gejala bertambah berat.

5. Demensia

a. Pengertian

Demensia ialah kemunduran fungi mental umum, terutama intelegensi,


disebabkan oleh kerusakan jaringan otak yang tidak dapat kembali lagi (irreversible)
(Maramis, 1995). Demensia adalah gangguan progresif kronik yang dicirikan dengan
kerusakan berat pada proses kognitif dan disfungsi kepribadian serta perilaku (Isaac,
2004). Menurut Roger Watson, demensia adalah suatu kondisi konfusi kronik dan
kehilangan kemampuan kognitif secara global dan progresif yang dihubungkan dengan
masalah fisik.

b. Jenis demensia:

1) Demensia jenis alzheimer

a.) Patofisiologi: Otopsi menunjukkan adanya plak amiloid (plak senil atau neuritik) di
jaringan otak atau adanya kekusutan neurofibriler (akumulasi simpul filamen saran
pada neuron. Adanya plak dan kekusutan tersebut berkaitan dengan sel saraf,
hilangnya sambungan antar neuron dan akhimya atrofi serebral.

b.) Penyebab

Genetika:

Adanya gen abnormal saja tidak cukup untuk memprediksi demensia jenis
alzheimer. Penyakit alzheimer familial memiliki awitan sangat dini (usia 30-40
th) dan bertanggung jawab atas 20% dari semua kasus demensia jenis ini.
Penyakit ini berkaitan denga gen¬gen abnormal dikromosom 1, 14 dan 21.
Adanya apolipoprotein E 4 (apo, E 4) dikromosom 19 terjadi 2 kali lebih banyak
pada penderita demensia jenis alzheimer dibanding populasi umum.
2) Demensia vaskular (multi-infark) ditandai dengan gejala-gejala demensia pada tahun
pertama terjadinya gejala neurologik fokal. Klien diketahui mengalami faktor resiko
penyakit vaskuler (misalnya hipertensi, fibrilasi atrium, diabetes).

3) Jenis demensia yang lain berkaitan dengan kondisi medis umum, seperti penyakit
parkinson, penyakit pick, koreahuntingtown dan penyakit Creutzfeldt-jakob.
Demensia yang disebabkan kondisi-kondisi tersebut dicatat sesuai penyakitnya yang
spesifik.

c. Gejala demensia:

1) Afasia: kehilangan kemampuan berbahasa; kemampuan berbicara memburuk dan


klien sulit "menemukan" kata-kata.

2) Apraksia: rusaknya kemampuan melakukan aktivitas motorik sekalipun fungsi


sensoriknya tidak mengalami kerusakan.

3) Agnosia: kegagalan mengenali atau mengidentifikasi objek atau benda urnurn


walaupun fungsi sensoriknya tidak mengalami kerusakan.

4) Konfabulasi: mengisi celah-celah ingatannya dengan fantasi yang diyakini oleh


individu yang terkena.

5) Sundown sindrom: memburuknya disorientasi di malam hari.

6) Reaksi katastrofik: respon takut atau panik dengan potensi kuat inenyakiti diri
sendiri atau orang lain.

7) Perseveration phenomenon: perilaku berulang, meliputi mengulangi kata-kata orang


lain.

8) Hiperoralitas: kebutuhan untuk mencicipi dan mengunyah benda-benda yang cukup


kecil untuk dimasukkan ke mulut.

9) Kehilangan memori: awalnya hanya kehilangan memori tentang hal-hal yang baru
terjadi, dan akhirnya gangguan ingatan masa lalu.

10) Disorientasi waktu, tempat dan orang.

11) Berkurangnya kemampuan berkonsentrasi atau mempelajari materi baru.

12) Sulit mengambil keputusan.

13) Penilaian buruk: individu ini mungkin tidak mempunyai kewaspadaan lingkungan
tentang keamanan dan keselamatan.

d. Etiologi demensia

Faktor-faktor yang berkaitan dengan demensia adalah:


1. Kondisi akut yang tidak diobati atau tidak dapat disembuhkan. Bila kondisi akut yang
menyebabkan delirium tidak atau tidak dapat diobati, terdapat kemungkinan bahwa
kondisi ini akan menjadi kronik dan karenanya dapat dianggap sebagai demensia.

2. Penyakit vaskuler, seperti hipertensi, arteriosklerosis, dan aterosklerosis dapat


menyebabkan stroke.

3. Penyakit parkinson: demensia menyerang 40% dari pasien-pasien ini.

4. Gangguan genetika: koreahuntington atau penyakit pick.

5. Penyakit prior (protein yang terdapat dalam proses infeksi penyakit Creutzfeldt-
jakob).

6. lnfeksi Human Imunodefisiensi Virus (HIV) dapat menyerang Sistem saraf pusat
(SSP), menyebabkan ensefalopati HIV atau kompleks demensia AIDS.

7. Gangguan struktur jaringan otak, seperti tekanan normal, hidrocephalus dan cidera
akibat trauma kepala.

F. Pendekatan Perawatan Lanjut Usia

Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lanjut usia sangat perlu
ditekankan pendekatan yang dapat mencakup sehat fisik, psikologis, spiritual dan sosial.
Hal tersebut karena pendekatan dari satu aspek saja tidak akan menunjang pelayanan
kesehatan pada lanjut usia yang membutuhkan suatu pelayanan yang komprehensif.
Pendekatan inilah yang dalam bidang kesehatan jiwa (mental health) disebut pendekatan
eklektik holistik, yaitu suatu pendekatan yang tidak tertuju pada pasien semata-mata,
akan tetapi juga mencakup aspek psikososial dan lingkungan yang menyertainya.
Pendekatan Holistik adalah pendekatan yang menggunakan semua upaya untuk
meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia, secara utuh dan menyeluruh.

1. Pendekatan fisik

Perawat mempunyai peranan penting untuk mencegah terjadinya cedera sehingga


diharapkan melakukan pendekatan fisik, seperti berdiri disamping klien,
menghilangkan sumber bahaya dilingkungan, memberikan perhatian dan sentuhan,
bantu klien menemukan hal yang salah dalam penempatannya, memberikan label
gambar atau hal yang diinginkan klien.

2. Pendekatan psikologis

Disini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif


pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap
segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai
sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam
memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai
bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu memegang
prinsip “Tripple”, yaitu sabar, simpatik dan service.

Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan
semakin lanjutnya usia. Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala, seperti
menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi, berkurangnya kegairahan
atau keinginan, peningkatan kewaspadaan, perubahan pola tidur dengan suatu
kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang, dan pergeseran libido.

Perawat harus sabar mendengarkan cerita dari masa lampau yang


membosankan, jangan menertawakan atau memarahi klien lanjut usia bila lupa
melakukan kesalahan . Harus diingat kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk
tujuan tertentu. Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka
terhadap kesehatan, perawat bila melakukannya secara perlahan –lahan dan bertahap,
perawat harus dapat mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehinga
seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan
agar di masa lanjut usia ini mereka puas dan bahagia.

3. Pendekatan spiritual

Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam


hubungan lansia dengan Tuhan atau agama yang dianutnya dalam keadaan sakit atau
mendeteksi kematian. Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia
yang menghadapi kematian. Seorang dokter mengemukakan bahwa maut sering kali
menggugah rasa takut. Rasa semacam ini didasari oleh berbagai macam faktor, seperti
ketidakpastian akan pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit dan kegelisahan
kumpul lagi dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dalam menghadapi kematian
setiap klien lanjut usia akan memberikan reaksi yang berbeda, tergantung dari
kepribadian dan cara dalam mengahadapi hidup ini. Adapun kegelisahan yang timbul
diakibatkan oleh persoalan keluarga, perawat harus dapat meyakinkan lanjut usia
bahwa kalaupun keluarga tadi ditinggalkan , masih ada orang lain yang mengurus
mereka. Sedangkan rasa bersalah selalu menghantui pikiran lanjut usia.

4. Pendekatan social

Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya
perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama
dengan sesama klien usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Jadi pendekatan
social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya
adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Penyakit memberikan
kesempatan yang seluas-luasnya kepada para lanjut usia untuk mengadakan
konunikasi dan melakukan rekreasi, misal jalan pagi, nonton film, atau hiburan lain.
Tidak sedikit klien tidak tidur terasa, stress memikirkan penyakitnya, biaya hidup,
keluarga yang dirumah sehingga menimbulkan kekecewaan, ketakutan atau
kekhawatiran, dan rasa kecemasan.
Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara lanjut usia, hal ini
dapat diatasi dengan berbagai cara yaitu mengadakan hak dan kewajiban bersama.
Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama
mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan
kesejahteraan sosial bagi lanjut usia di Panti Werda.

BAB III

PENYAJIAN KASUS

3.1 Pengkajian
a) Anamnesa
1. Data demografi
- Usia
- Jenis kelamin
- Pendidikan
- Status perkawinan
- Pekerjaan
- Pendapatan
- Jumlah anggota keluarga
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama :
Yang biasa muncul pada pasien dengan gangguan aktivitas dan latihan
adalah rasa nyeri, lemas, pusing, mengeluh sakit kepala berat, badan terasa
lelah, muntah tidak ada, mual ada, bab belum lancar terdapat warna kehitaman
dan merah segar hari belum bab, urine keruh kemerahan, parese pada
ekstermitas kanan ataupun fraktur.
b. Riwayat penyakit sekarang :
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari
nyeri/fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan
terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya nyeri/fraktur tersebut
sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh
mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya nyeri
bisa diketahui nyeri yang lain.
c. Riwayat penyakit dahulu :
Ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang mengalami hipertensi
apakah sebelumnya pasien pernah mengalami penyakit seperti saat ini.
d. Riwayat kesehatan keluarga :
Perlu dikaji penyakit riwayat keluarga yang berhubungan dengan penyakit
tulang atau tidak. Penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi
terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada
beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara
genetik
b) Pola Fungsi Kesehatan (GORDON)
Persepsi terhadap kesehatan
1. Tingkat pengetahuan kesehatan / penyakit meliputi sebelum sakit dan selam sakit
2. Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan meliputi sebelum sakit dan selama
sakit
3. Faktor-faktor resiko sehubungan dengan kesehatan
Pola Aktivitas Dan Latihan
Menggunakan tabel aktifitas meliputi makan, mandi berpakaian, eliminasi,
mobilisaasi di tempat tidur, berpindah, ambulansi, naik tangga, serta berikan
keterangan skala dari 0 – 4 yaitu :
0 : Mandiri
1 : Di bantu sebagian
2 : Di bantu orang lain
3 : Di bantu orang dan peralatan
4 : Ketergantungan / tidak mampu

Aktifitas 0 1 2 3 4

Makan √
Mandi √
Berpakaian √
Eliminasi √
Mobilisasi ditempat tidur √
Berpindah √
Ambulansi √
Naik tangga √

1. Pola Istirahat Tidur


Ditanyakan :
1. Jam berapa biasa mulai tidur dan bangun tidur
2. Sonambolisme
3. Kualitas dan kuantitas jam tidur
2. Pola Nutrisi - Metabolic
Ditanyakan :
1. Berapa kali makan sehari
2. Makanan kesukaan
3. Berat badan sebelum dan sesudah sakit
4. Frekuensi dan kuantitas minum sehari
3. Pola Eliminasi
1. Frekuensi dan kuantitas BAK dan BAB sehari
2. Nyeri
3. Kuantitas
4. Pola Kognitif Perceptual
Adakah gangguan penglihatan, pendengaran (Panca Indra)
5. Pola Konsep Diri
1. Gambaran diri
2. Identitas diri
3. Peran diri
4. Ideal diri
5. Harga diri
6. Pola Koping
Cara pemecahan dan penyelesaian masalah
7. Pola Seksual – Reproduksi
Ditanyakan : adakah gangguan pada alat kelaminya
8. Pola Peran Hubungan
1. Hubungan dengan anggota keluarga
2. Dukungan keluarga
3. Hubungan dengan tetangga dan masyarakat
9. Pola Nilai Dan Kepercayaan
1. Persepsi keyakinan
2. Tindakan berdasarkan keyakinan
c) Pemeriksaan Fisik
1. Kemunduran musculoskeletal
Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system musculoskeletal adalah
penurunan tonus, kekuatan, ukuran, dan ketahanan otot; rentang gerak sendi; dan
kekuatan skeletal. Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk
memantau perubahan dan keefektifan intervensi.
2. Kemunduran kardiovaskuler
Tanda dan gejala kardiovaskuler tidak memberikan bukti langsung atau
meyaknkan tentang perkembangan komplikasi imobilitas. Hanya sedikit petunjuk
diagnostik yang dapat diandalkan pada pembentukan trombosis. Tanda-tanda
tromboflebitis meliputi eritema, edema, nyeri tekan dan tanda homans positif.
Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri tegak
seperti gejala peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah, pucat,
tremor tangan, berkeringat, kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop.
3. Kemunduran Respirasi
Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan
pneumonia. Tanda-tanda awal meliputi peningkatan temperature dan denyut
jantung. Perubahan-perubahan dalam pergerakan dada, perkusi, bunyi napas, dan
gas arteri mengindikasikan adanaya perluasan dan beratnya kondisi yang terjadi.
4. Perubahan-perubahan integument
Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi inflamasi.
Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit sebagai daerah eritema yang tidak
teratur dan didefinisikan sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang
dalam waktu 3 menit setelah tekanan dihilangkan.
5. Perubahan-perubahan fungsi urinaria
Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik berupa
berkemih sedikit dan sering, distensi abdomen bagian bawah, dan batas kandung
kemih yang dapat diraba. Gejala-gejala kesulitan miksi termasuk pernyataan
ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau nyeri pada abdomen bagian
bawah.
6. Perubahan-perubahan Gastrointestinal
Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen
bagian bawah, rasa penuh, tekanan. Pengosonganh rectum yang tidak sempurna,
anoreksia, mual gelisah, depresi mental, iritabilitas, kelemahan, dan sakit kepala.
d) Faktor-faktor lingkungan
Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi. Di dalam
rumah, kamar mandi tanpa pegangan, karpet yang lepas, penerangan yang tidak
adekuat, tangga yang tinggi, lantai licin, dan tempat duduk toilet yang rendah
dapat menurunkan mobilitas klien. Hambatan-hambatan institusional terhadap
mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang, tempat tidudan posisi yang
tinggi, dan cairan pada lantai. Identifikasi dan penghilangan hambatan-hambatan
yang potensial dapat meningkatakan mobilitas
e) Faktor Psikososial
1. Perubahan status psikososial klien biasa terjadi lambat dan sering diabaikan
tenaga kesehatan.
2. Observasi perubahan tingkah laku
3. Menentukan penyebab perubahan tingkah laku / psikososial untuk
mengidentifikasi terapi keperawatan
4. Observasi pola tidur klien
5. Observasi perubahan mekanisme koping klien
6. Observasi dasar perilaku klien sehari-hari
3.2 Diagnosa Keperawatan
Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada lansia dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan aktivitas dan latihan antara lain:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilitas, mobilitas yang kurang,
pembatasan pergerakan, gangguan persepsi kognitif, imobilisasi, gangguan
neuromuskular, kelemahan/paralisis
3.3 Intervensi Keperawatan
a) Tujuan
Tujuannya adalah mengarahkan intervensi keperawatan untuk mencegah atau
meniadakan sekuela fisiologis dari imobilitas, yang meliputi lima tujuan yaitu:
1. Pertama,
meliputi pemeliharaan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal, yang
termasuk pengondisian program latihan harian baik kontraksi otot isometrik dan
isotonik, aktivitas penguatan aerobik, nutrisi untuk meningkatkan anabolisme protein
dan pembentukan tulang, dan sikap komitmen terhadap latihan.
2. Kedua,
pemeliharaan fleksibilitas sendi yan terlibat dalam latihan rentang gerak, posisi yang
tepat, dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
3. Ketiga,
pemeliharaan ventilasi yang normal meliputi hiperinflasi dan mobilisasi serta
menghilangkan sekresi.
4. Keempat,
pemeliharaan sirkulasi yang adekuat meliputi tindakan-tindakan pendukung untuk
mempertahankan tonus vaskuler (termasuk mengubah posisi dalam hubungannya
dengan gravitasi), stoking kompresi untuk memberikan tekanan eksternal pada
tungkai, dan asupan cairan yang adekuat untuk mencegah efek dehidrasi pada volume
darah. Pergerakan aktif memengaruhi toleransi ortostatik.
5. Kelima,
pemeliharaan fungsi urinaria dan usus yang normal bergantung pada dukungan nutrisi
dan struktur lingkungan serta rutinitas-rutinitas untuk memfasilitasi eliminasi.
b) Intervensi yang dapat dilakukan
1. Kontraksi otot isometrik
Kontraksi otot isometrik meningkatkan tegangan otot tanpa mengubah
panjang otot yang menggerakkan sendi. Kontraksi-kontraksi ini digunakan untuk
mempertahankan kekuatan otot dan mobilitas dalam keadaan berdiri (misalnya
otot-otot kuadrisep, abdominal dan gluteal) dan untuk memberikan tekanan pada
tulang bagi orang-orang dengan dan tanpa penyakit kardiovaskuler. Kontraksi
isometrik dilakukan dengan cara bergantian mengencangkan dan merelaksasikan
kelompok otot.
2. Kontraksi otot isotonik
Kontraksi otot yang berlawanan atau isotnik berguna untk mempertahankan
kekuatan otot-otot dan tulang. Kontraksi ini mengubah panjang otot tanpa
mengubah tegangan. Karena otot-otot memendek dan memanjang, kerja dapat
dicapai. Kontraksi isotonik dapat dicapai pada saat berada di tempat tidur, dengan
tungkai menggantung di sisi tempat tidur, atau pada saat duduk di kursi dengan
cara mendorong atau menarik suatu objek yang tidak dapat bergerak. Ketika tangan
atau kaki dilatih baik otot-otot fleksor dan ekstensor harus dilibatkan.
3. Latihan Kekuatan
Aktivitas penguatan adalah latihan pertahanan yang progresif. Kekuatan
otot harus menghasilkan peningkatan setelah beberapa waktu. Latihan angkat berat
dengan meningkatkan pengulangan dan berat adalah aktivitas pengondisian
kekuatan. Latihan ini meningkatkan kekuatan dan massa otot serta mencegah
kehilangan densitas tulang dan kandungan mineral total dalam tubuh.

4. Latihan Aerobik
Latihan aerobik adalah aktivitas yang menghasilkan peningkatan denyut
jantung 60 sampai 90% dari denyut jantung maksimal dihitung dengan (220-usia
seseorang) x 0,7. Aktivitas aerobik yang dipilih harus menggunakan kelompok otot
besar dan harus kontinu, berirama, dan dapat dinikmati. Contohnya termasuk
berjalan, berenang, bersepeda, dan berdansa.
5. Sikap
Variabel utama yang dapat mengganggu keberhasilan intervensi pada individu
yang mengalami imobilisasi adalah sikap perawat dan klien tentang pentingnya
latihan dan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari. Sikap perawat tidak hanya
memengaruhi komitmen untuk memasukkan latihan sebagai komponen rutin
sehari-hariyang berkelanjutan, tetapi juga integrasi aktif dari latihan sebagai
intervensi bagi lansia di berbagai lingkungan; komunitas, rumah sakit, dan fasilitas
jangka panjang. Demikian pula halnya sikap klien dapat mempengaruhi kualitas
dan kuantitas latihan.
6. Latihan Rentang Gerak
Latihan rentang gerak aktif dan pasif memberikan keuntungan-keuntungan
yang berbeda. Latihan aktif membantu mempertahankan fleksibilitas sendi dan
kekuatan otot serta meningkatkan penampilan kognitif. Sebaliknya, gerakan pasif,
yaitu menggerakkan sendi seseorang melalui rentang geraknya oleh orang lain,
hanya membantu mempertahankan fleksibilitas.
7. Mengatur Posisi
Mengatur posisi juga digunakan untuk meningkatkan tekanan darah balk vena.
Jika seseorang diposisikan dengan tungkai tergantung, pengumpulan dan
penurunan tekanan darah balik vena akan terjadi. Posisi duduk di kursi secara
normal dengan tungkai tergantung secara potensial berbahaya untuk seseorang
yang beresiko mengalami pengembangan trombosis vena. Mengatur posisi tungkai
dengan ketergantungan minimal (misalnya meninggikan tungkai diatas dudukan
kaki) mencegah pengumpulan darah pada ekstremitas bawah.

BAB IV

PENUTUP

4. 1 Simpulan

Lansia atau lanjut usia merupakan kelompok umur (usia 60 tahun ke atas) pada
manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Mental dapat diartikan
sesuatu yang berada dalam tubuh (fisik) manusia yang dapat mempengaruhi perilaku, watak
dan sifat manusia di dalam kehidupan pribadi dan lingkungannya. Pada lansia bukan hanya
dihadapkan pada permasalahan kesehatan jasmaniah saja, tapi juga permasalahan gangguan
mental dalam menghadapi usia senja. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental
pada lansia seperti perubahan fisik, kesehatan umum dan lingkungan. Pada lansia sering
muncul masalah-masalah yang berkaitan dengan perubahan fungsi mental seperti kecemasan,
depresi, insomnia, paranoid, dan demensia.

Masalah-masalah tersebut dapat berdampak pada kelangsungan hidup lansia sehingga


penting bagi perawat untuk menanganinya. Berdasarkan masalah diatas dapat muncul
beberapa diagnose keperawatan seperti : gangguan pola tidur b.d ansietas; gangguan proses
pikir berhubungan dengan kehilangan memori, degenerasi neuron irreversible; risiko cedera
berhubungan dengan penurunan fungsi fisiologis daan kognitif; perubahan persepsi sensori
berhubungan dengan perubahan persepsi, transmisi dan atau integrasi sensori ( defisit
neurologist); kurang perawatan diri : hygiene nutrisi, dan atau toileting berhubungan dengan
ketergantungan fisiologis dan atau psikologis.

Berdasarkan diagnosa diatas perlu diberikan intervensi yang tepat seperti memberikan
lingkungan yang nyaman untuk meningkatkan tidur; pertahankan lingkungan yang
menyenangkan dan tenang; hilangkan sumber bahaya lingkungan; kaji derajat sensori atau
gangguan persepsi; identifikasi kebutuhan akan kebersihan diri dan berikan bantuan sesuai
kebutuhan.

B. Saran

1. Untuk pembaca makalah dapat menambah pengetahuan terkait gangguan fungsi mental
pada lansia dan dapat mengimplementasikannya.

2. Untuk penulis dapat mengimplementasikan intervensi-intervensi untuk menangani


lansia dengan gangguan perubahan fungsi mental.

3. Diharapkan institusi dapat mengembangkan fungsi mental dan mengetahui bagaimana


cara mengatasi maslah gangguan pada lansia dengan gangguan fungsi mental.

4. Diharapkan pemda dapat mengetahui masalah yang ada pada lansia terkait penurunan
fungsi mental, memahami maslah dan dapat mengatasi gangguan fungsi mental pada
lansia dengan memberikan perhatian khusus pada lansia dengan gangguan fungsi
mental di dinas terkait.

5. Diharapkan panti werda dapat mengatasi dan memahami masalah pada lansia dengan
penurunan fungsi mental dan berkoordinasi dengan dinas pemda terkait.
DAFTAR PUSTAKA

Kusharyadi. 2010. Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Jakarta:

Salemba Medika

Maryam, R. Siti. 2008. Mengenal Usi Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba

Medika

Nugroho, Wahjudi. 1995. Perawatan Lanjut Usia.Jakarta: EGC

Tamher, S., Noorkasiani. 2009. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan asuhan

Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.


Watson, Roger. 2003. Perawatan Pada Lansia. Jakarta: EGC