Anda di halaman 1dari 11

Bottom Hole Pressure (BHP) Surveys

Bottom Hole Pressure

(BHP) Surveys adalah pengukuran tekanan dasar sumur, dan temperatur sumur dengan menggunakan
alat memory gauge . Prinsip kerja dari BHP Surveys yaitu melakukan pengukuran tekanan dan
temperatur sumur sampai ke zona perendaman dengan menurunkan alat electric memory recorder
(EMR) ke dalam lubang sumur dan mencatat data tekanan dan temperatur tiap per kedalaman lubang
sumur.

Untuk menurunkan EMR ke dalam lubang sumur digunakan Wireline Unit dengan tipe slickline . BHP
Survey dalam operasinya terbagi menjadi dua yaitu Static Bottom Hole Pressure (SBHP) Surveys dan

Flow Bottom Hole Pressure (FBHP) Surveys .

1. Static Bottom Hole Pressure (SBHP) Surveys

SBHP survey

pengukuran ini dilakukan dengan memproduksikan sumur dengan laju alir konstan kemudian menutup
sumur hingga mencapai keaadan static (build up) . SBHP juga sering dilakukan pada sumur yang ditutup

(Suspended. Sumur Suspend

dimana keadaan fluida telah statik, ini karena tekanan hydrostatic lebih besar dari tekanan reservoir
sehingga fluida tidak mampu lagi untuk sembur alam ( Natural Flow) . SBHP

Survey bertujuan untuk melihat kembali kemampuan reservoir sumur dan kandungan di dalam lubang
sumur dengan acuan gradient tekanan per kedalaman TVD, serta mendapatkan parameter – parameter
lubang sumur yaitu permeabilitas, skin factor, delta P skin dan heterogenitas reservoir tentunya dengan
analisa lebih lanjut seperti Pressure Build Up.

2. Flow Bottom Hole Pressure (FBHP) Surveys

FBHP survey

merupakan pengukuran dengan terlebih dahulu menutup sumur kemudian membuka sumur

(drawdown) . S urvey ini biasanya dilakukan pada sumur – sumur yang produktif yang bertujuan agar
tidak menghentikan

produksi perusahaan.

Dalam pengujian sumur terdapat alat yang digunakan yang disebut dengan EMR ( Electrical Memory
Recorde ) . Alat tersebut digunakan untuk mengtahui

Gauge dan Temperature Gauge.


pada prinsip nya EMR ini disusun menjadi satu rangkaian dimana rangkaian tersebut dari :

1. EMR ( Electrical Memory Recorder)

Dimana alat ini berfungsi sebagai penyimpanan dan penerimaan data-data yang ada didalam sumur.

A. Well Service / Work Over

Well Service merupakan suatu bagian yang bertugas menangani segala kegiatan yang berhubungan
dengan sumur. Kegiatan tersebut meliputi usaha agar sumur siap berproduksi (initial completion)
maupun usaha perbaikan sumur akibat kerusakan saat berproduksi (Work Over). Semua kegiatan yang
dilakukan oleh team ini bertujuan untuk mempertahankan serta meningkatkan laju produksi sumur.

Well Service dibagi dalam beberapa bagian yaitu :

1. Tool House adalah bagian yang bertugas dalam menyediakan dan memelihara segala peralatan
sehingga dapat selalu siap pakai.

2. Operation adalah bagian yang melaksanakan pemasangan artificial lift serta memperbaiki kerusakan
yang ada pada sumur-sumur.

3. Transport Well Service adalah bagian yang memperlancar pekerjaan well service dengan selalu
menyediakan transport untuk mengantarkan segala peralatan yang saat melakukan service
terhadapsumur.Pekerjaan yang dilakukan oleh divisi ini dibagi dalam empat kelompok kerja yaitu : initial
completion, sevice, work over dan equipment maintanance.

a. Initial Completion

Initial Completion merupakan pekerjaan awal dari suatu sumur baru yang dilakukan setelah pengeboran
yaitu dengan cara melengkapi sumur dengan segala peralatan sehingga sumur dapat mulai berproduksi.

1. Run CBL (Cement Bond Logging)Tujuannya untuk mengetahui kualitas penyemenan agar dapat
diketahui daerah yang belum tersemen dengan baik. Semen yang tidak terdistribusi dengan baik dapat
mengakibatkan terjadinya komunikasi antara zona produktif dengan zona air. Bila ini terjadi maka
kandungan air yang terangkat ke permukaan akan tinggi.

2. Squeese CementingSqueeze cementing adalah kegiatan penyempurnaan semen sumur produksi.


Kegunaan squeeze cementing ini adalah :

a. Memperbaiki penyemenan primer yang tidak sempurna.

b. Menutup zona lost circulation.

c. Memperbaiki casing yang bocor.

d. Menutup lubang perporasi yang salah.

e. Mengisi zona yang tidak produktif.


Teknik yang dilakukan dalam squeeze cementing ini ada dua :

1. High Pressure Cementing yaitu penyemenan dengan menggunakan tekanan tinggi yang berfungsi
untuk menutup rekahan yang merugikan yang terdapat di dalam formasi.

2. Low Pressure Cementing yaitu penyemenan dengan menggunakan tekanan rendah.Tujuannya untuk
membentuk filter cake atau dinding penutup formasi,dan saluran fracture yang mungkin saja terbuka
sampai ke formasi.

3. Perforating, Perforating adalah suatu pekerjaan yang dilakukan untuk melubangi casing agar terjadi
hubungan antara well bore dengan reservoir. Untuk melakukan hal ini dibutuhkan suatu alat yang
disebut GUN.

4. Swabbing, Swabbing yaitu pekerjaan mengangkat sejumlah fluida dari dalam sumur
denganmenggunakan alat penghisap (swab Tool) melalui tubing, drill pipe.

Fungsi swabbing adalah sebagai berikut :

1. Menentukan production rate dari sebuah zona sumur.

2. Untuk menentukan apakah suatu casing mengalami kebocoran.

3. Memancing agar suatu well dapat flowing.

4. Mengambil kembali spent acid yang telah dipompakan agar tidak merusak casing

b. Well Service Job

Well Service Job pada prinsipnya adalah kegiatan atau pekerjaan untuk merawat suatu sumur supaya
dapat terus berproduksi sesuai dengan yang diinginkan. Untuk merawat sumur ini diperlukan alat yang
dapat membantu untuk mempermudah setiap pekerjaan yang dilakukan.

1. Surface Equipment

Surface equipment adalah segala peralatan yang berada di atas permukaan sumur.

a. Rig

Rig adalah suatu alat berat yang digunakan untuk melakukan pengeboran sumur minyak. Rig digunakan
untuk mencabut dan memasukkan pipa-pipa dari dan ke dalam sumur. Rig yang digunakan di PT CPI
Minas adalah Hydraulic Powered, Self Propelled, Self Guyed, back in Type dan Double Mast.

b. Pompa

Pompa adalah alat memindahkan fluida dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan tekanan rendah
atau tinggi sesuai dengan kebutuhan. Penggunaan pompa biasanya dilakukan pada sirkulasi air, tes
casing, tes BOPE dan kill well.
Jenis-jenis pompa antara lain :

1. Pompa DuplexPompa ini termasuk jenis Positive Displacement Pump atau Reprocating Pump yang
dilengkapi dua buah piston. Setiap piston mempunyai dua klep hisap (suction valve) dan dua klep buang
(discharge valve) karena itu disebut Double Acting Pump.

2. Pompa TriplexPompa triplex digunakan untuk tekanan yang lebih tinggi dengan volume pemompaan
yang lebih kecil. Pompa triplex dilengkapi dengan tiga piston yang bekerja sedemikian rupa sehingga
memproduksi tekanan yang lebih tinggi dibandingkan pompa Duplex.

c. Blow Out Preventer Equipment (BOPE)Merupakan suatu alat yang berfungsi untuk menahan
semburan liar akibat tekanan reservoar yang tinggi dalam sumur. Blow Out Preventer Equipment (BOPE)
dipasang di atas flange bagian atas dari suatu sumur yang dilekatkan oleh beberapa baut yang dikunci
kuat untuk keselamatn jiwa, operasi dan hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Subsurface Equipment.

a.Packer

Packer adalah alat berupa karet yang digunakan untuk mengisolasi suatu kedalaman tertentu dari lubang
sumur.Packer berfungsi untuk :

1. Menyekat antara tubing dan casing untuk menjebak cairan ke reservoar.

2. Mencegah masuknya semen ke lubang perforasi pada saat dilakukan squeeze cementing.

3. Memisahkan zona-zona pada lubang bor.

4. Penyangga tubing.

5. Untuk keperluan pengetesan sumur seperti swab test.

6. Mengisolasi casing yang mengalami kebocoran.

b. Tubular Product

Tubular product dibagi menjadi tiga bagian yaitu drill pipe, casing dan tubing.

Drillpipe adalah pipa yang dipakai dalam pemboran dan berfungsi sebagai penyalur lumpur pemboran
dan mentransmisikan putaran rotary table sehingga dapat memutar bit. Drillpipe merupakan tubing
tanpa las, panjang setiap bagiannya sekitar 30 ft.

Casing berfungsi untuk menahan tekanan formasi setelah lumpur dibuang dari dalam sumur,
mempertahankan stabilitas lubang bor sehingga tidak mudah runtuh dan menghindari terjepitnya pipa
akibat mud cake atau lempung ketika produksi sedang berlangsung.

c. Sand Pump
Pompa pasir (sand pump, bailer) berfungsi membersihkan pasir dari dalam lubang sumur pada
kedalaman yang sudah ditentukan. Cara kerjanya adalah dengan menghisap pasir kotoran-kotoran
tersebut sehingga dinamakan suction bailer.

c. Work Over

Work over adalah semua pekerjaan yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan sumur agar produksi
sumur tersebut semakin meningkat, atau tetap dapat dipertahankan termasuk diantaranya karakteristik
sumur. Jenis-jenis pekerjaan work over adalah :

1. Add perforation (penambahan lubang perforasi).

2. Pembersihan lubang-lubang perforasi.

3. Isolasi zona.

d. Equipment Maintenance

Perawatan dan penjagaan barang atau alat-alat dalam keadaan baik dan dapat dipakai berulang-ulang
kali merupakan pekerjaan dari equipment maintenance. Pekerjaan ini sangat penting sekali mengingat
peralatan yang dipakai dalam produksi minyak bumi sangat mahal sehingga perlu untuk menghematnya.
Disamping itu tempat ini juga digunkan untuk memperbaiki peralatan yang rusak seperti packer, swivel
dan reda pump.

e. Subproduce Equipment

Subproduce equipment adalah peralatan yang berfungsi untuk memindahkan minyak dari perut bumi ke
permukaan. Terdapat beberapa peralatan yang berfungsi sebagai subproduce equipment yaitu sebagai
berikut 1. Reda pump, pompa submersible yang berfungsi memompakan minyak ke permukaan. Pompa
ini memiliki kapasitas yang beragam yaitu 100 –15000 bpd.

2. Switch board, berfungsi menyuplai listrik pada reda pump dan mengontrol kerja reda pump.

3. Transformer, untuk mengubah tegangan arus listrik dari line agar sesuai dengan kebutuhan reda pump
yang dipasang.

4. Tubing hanger, berfungsi untuk menggantung tubing pada casing head.

5. Cable guard, berfungsi sebagi pelindung flat cable extention.

B. Produce Subsurface TeamTugas Produce Suibsurface Team adalah menangani sumur-sumur minyak
yang ada pada suatu area yang dikelolanya agar tetap dapat berproduksi dengan laju produksi yang
optimum. Team ini bertugas dari awal suatu proses produksi sampai ke Gathering Station.Produce Team
dibagi menjadi :

1. Produce Subsurface team


2. Maintenance

3. Rotation Equipment

4. Well Service

Berdasarkan team kerjanya Produce Subsurface Team terbagi menjadi beberapa bagianlagi, yaitu :

1. Reservoir Engineer

2. Production Engineer

3. Geologist

4. Technical Assistant

5. SPS Specialist

6. Well Test specialist

a. Production Engineer

Production Engineer bertugas untuk menangani suatu sumur agar produksi tetap optimal. Team Ini
bekerja dengan membuat program yang akan dilaksanakan dilapangan khususnya yang berkaitan dengan
operasi Well Service maupun Workover. Tugas dari Production Engineer antara lain :

a. Gain JobBerkaitan dengan perolehan produksi yang ada dilapangan dan kegiatannya antara lain :

1. Perforasi

Adalah kegiatan awal untuk memproduksikan minyak dengan cara menembakkan mesiu pada dinding
casing atau formasi. Jenis-jenis perforasi adalah :

a. Add Perforation

Adalah melakukan penambahan jumlah lubang perforasi dari suatu sumur dari jumlah perforasi yang
telah ada.

b. Re-Perforation

Adalah perforasi ulang yang dilakukan dengan untuk meningkatkan efektifitas dari lubang yang telah ada
maupun dilakukan setelah Squeeze Cementing

2. Zone Isolation

Adalah proses mengisolasi zona yang akan diproduksi atau menutup zona yang sudah tidak produktif
akibat water cut yang tinggi. Untuk mengetahui suatu zona harus diisolasi atau tidak, dapat dilakukan
dengan beberapa metoda sebagai berikut :
a. Production Logging Tool (PLT)

Dilakukan dengan memasukkan alat Logging, sehingga dari data yang diperoleh dapat dianalisa dan
diperkirakan zona yang harus diisolasi.

b. Down Hole Video (DHV)

Dilakukan dengan memasukkan kamera kedalam lubang sumur, sehingga dapat terlihat bagian bawah
lubang sumur. Dari hasil rekaman kamera dapat diketahui zone pada formasi yang harus diisolasi.
Kebanyakan memakai Coiled Tubbing dalam pengoperasiannya

c. Production Test (PT)

Dilakukan untuk mengetahui produksi dari suatu sumur. Production Test (PT) dapat dilakukan dengan
metoda-metoda, antara lain :

1. Individual Zone Test (IZT)

Yaitu jenis uji produksi yang dilakukan perzona dari tiap formasi. Tujuannya untuk mengtahui
kemampuan produksi dari tiap zona formasi. Pada individual Zone Test ini, digunakan REDA Pump. Dari
individual zone test, selanjutnya dilakukan Micro Motion Test dan dua data penting yang dapat diambil
adalah Water Cut dan Productioan Rate secara lebih teliti.

2. Swab Test

Yaitu jenis tes produksi yang dilakukan dengan menggunakan alat swab test. Dari swab test, dapat
diketahui parameter-parameter antara lain, yaitu produksi sumur, dan water cutnya tetapi data yang
diambil masih secara kasar.

3. C/O Log

Yaitu jenis test untuk mendeteksi kandungan karbon dan oksigen dari suatu formasi.

2. Stimulation

Stimulasi di sumur dilakukan untuk memperbaiki reservoir yang rusak. Metoda stimulasi ini bisa
dilakukan dengan Acidezing maupun Fracturing dengan menggunakan bahan kimia tertentu untuk
mengangkat skin yang ada pada zona formasi yang rusak tadi. Pelaksanaanya harus hati-hati, karena
keterlambatan dalam melakukan swab dapat mengakibatkan plug yang justru dapat merusak formasi.

b. Maintenance

Bagian ini mempunyai tanggungjawab untuk mengoptimasikan dan memperbaiki jika ada kerusakan
pada alat-alat produksi, seperti pompa. Hal-hal tersebut misalnya, Zero Maq (0M), High ampere, Low
Ampere dan lain-lain.

c. Water Injection Well (WIW)


Water injection well ini bertujuan untuk mengoptimasi injection rate suatu sumur, hal ini dapat dilakukan
dengan mengamati fluida yang masuk ke sumer dan yang keluar dari sumur. Pola yang dipakai
dilapangan minas ada dua, yaitu :

1. Pattern

Adalah suatu pola, dimana sumur injeksi ditengah-tengah beberapa sumur produksi. Pola inilah yang
paling optimal dilakukan dilapangan saat ini.

2. Peripheral

Adalah suatu pola dimana sumur injeksi mengelilingi sumur produksi. Dan hasil injeksinya kurang
optimal.

3. Line Drive

Adalah suatu pola dengan menempatkan satu injektor pada setiap satu sumur, biasanya paling efektif
pada zona yang banyak patahannya.

d. Initial Completion

Dalam hal ini yang dilakukan adalah melengkapi sumur yang baru selesai di bor sehingga dapat
memproduksi minyak dengan optimal. Langkah-langkah yang dilakukan adalah :

1. Melakukan Cement Bond Logging, yaitu untuk dapat mengetahui apakah ikatan antara casing , cement
dan formasi baik atau tidak. Bila kurang baik maka perlu dilakukan sequeze cementing.

2. Mengolah dan meneliti data logging sehingga dapat memperkirakan zona yang dinilai produktif
menghasilkan minya.

3. Melakukan perforasi zona yang dinilai produktif dan dilanjutkan dengan tes kemampuan zona mana
yang akan dibuka untuk berproduksi, atau zona mana yang perlu diisolasi.

b. Geologist

Adalah team yang bertugas melakukan korelasi hasil dari logging suatu sumur untuk kemudian dianalisa
apakah benar daerah sekitar sumur tersebut masih memiliki potensi untuk penambahan produksi
minyak. Selain itu team ini juga menganalisa hasil logging pada sumur baru untuk menganalisa formasi
mana yang akan diproduksi.

c. Reservoir Engineer

Team ini bertugas untuk menganalisa hasil laporan geologist, kemudian hasilnya sebagai acuan
production engineering dalam membuat program. Selain itu reservoir engineer bertugas menghitung
reserve dari suatu lapangan.

d. SPS Spesialist
Pompa yang banyak dipakai di minas adalah ESP. ESP sendiri juga dikenal sebagai pompa REDA yang
dikembangkan oleh REDA sekitar tahun 1950. Seperempat lebih produksi minyak di dunia diperoleh
dengan pompa ini yang sanggup memompakan seratus sampai seratus ribu BOPD (Barrel Oil Per Day).
Unit pompa ESP terdiri atas :

1. Pump

Yaitu susunan beberapa stages dan masing-masing stages terdiri atas Impeller dan Diffuser yang statis.
Makin banyak stages, maka makin besar fluida yang dapat dipompakan.

2. Protector

Yaitu bagian pompa yang berfungsi sebagai penyekat agar air tidak masuk kedalam motor dan
merusaknya. Protector dipasang diantara motor dan pompa.

3. Electric Motor

Yaitu motor pada ESP yang merupakan motor listrik 3 fasa. Berfungsi sebagai tenaga pengerak pompa.
Motor sendiri terdiri dari dua bagian utama, yaitu Rotor dan stator. Di atas pompa pada tubbing
dipasang check valve. Valve ini berguna uintuk mencegah agar fluida dalam tubbing tidak turun kebawah
saat ESP mati. Turunnya fluida akan memutar balik pompa dan merusak motor pompa. Selain check
valve, biasanya dipasang juga bleeder valve yang berguna untuk membuang fluida yang terdapt dalam
tubbing kedalam sumur.

e. Well Test Specialist (WTS)

Team ini bertugas dalam melakukan uji produksi kedalam sumur. Metoda-metoda yang digunakan antara
lain Micro Motion Test, Sonolog Test, Static Bottom Hole Pressure. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara
rutin minimal satu bulan sekali untuk setiap sumur. Metode pengujian itu adalah :a. Micro Motion
TestBertujuan untuk mengetahui laju produksi fluida, laju produksi minyak serta menentukan besarnya
water cut. Tes tersebut dilakukan berdasarkan perbedaan densitas pada fluida, yaitu perbedaan densitas
minyak dan air formasi yang mengalir. Namun alat ini memiliki sedikit kelemahan, yaitu tidak dapat
mendeteksi adanya gas, sehingga hanya dapat digunakan untuk sumur yang tidak menghasilkan gas. Alat
Micro Motion ini hanya dapat digunakan dengan baik pada tekana lebih besar dari 130 psi, sehingga
pengesetan harus dilakukan dekat dengan sumur.Komponen Micro Motion antara lain :

1. Sensor UnitSensor ini akan mendeteksi reaksi aliran dalam pipa dan memproses dengan cepat aliran
berdasarkan densitas dan mengubahnya menjadi sinyal-sinyal.

2. Remote Flow Transmitter.Penerima sinyal dari sensor unit lalu memprosesnya berdasarkan konfigurasi
yang telah diprogram kealat interface

3. Transmitter Interface.Merupakan unit yang menunjukkan hasil tes secara digital.

b. Sonolog TestMerupakan kegiatan yang berfungsi mengukur Static Fluid Level (SFL) untuk sumur mati
dan Working Fluid Level (WFL) untuk sumur yang masih berproduksi. Prinsip kerjanya dengan
mengirimkan getaran kedalam sumur yang berasal dari gas N2. Getaran tersebut dihubungkan dengan
recorder yang berfungsi untuk menggambarkan pola getaran gas N2 tersebut. Bila getaran tersebut
melewati tubbing joint, pola grafiknya akan membentuk defleksi dan saat getaran dipantulkan lagi ke
permukaan fluid level, pola aliran akan menggulung. Kedalam fluid level dapat dilihat dari jumlah
tubbing joint yang dikonversikan menjadi satuan kedalaman.Peralatan Sonolog Test terdiri dari :

1. Well Sounder, berfungsi sebagai penghasil getaran yang dipasangkan pada kepala sumur.

2. Amplifier, berfungsi sebagai alat penguat dan pencatat pantulan getaran dari dalam sumur.Fluid level
ini sangat menentukan kinerja pompa yang akan dipasang. Sebelum sumur diproduksikan, penentuan
fluid level sangat diperlukan untuk menentukan ukuran pompa yang akan dipasang. Fluid level itu sendiri
merupakan ukuran kemampuan siatu sumur untuk memproduksikan fluidanya. Makin tinggi fluid level,
makin bagus produksinya karena tekanannya masih besar. Sedangkan setelah sumur diproduksikan,
penentuan fluid level dilakukan untuk mengetahui apakah sumur tersebut masih support untuk pompa
yang sebelumnya telah dipasang. Flui level terdiri atas Static Fluid Level dan Working Fluid level. Suatu
sumur dikatakan masih support untuk ukuran suatu pompa jika WFL sumur tersebut sekitar 300–400 ft
diatas Pump Setting Depth. Istilah support disini menandakan bahwa pompa yang digunakan dapat
menghisap fluida dari dalam sumur dengan efisiensi yang optimal dan tidak merusaknya. Ukuran fluid
level inilah yang dijadikan dasar apakah suatu pompa perlu diganti atau tidak. Suatu sumur dengan fluid
level yang terlalu rendah menandakan bahwa pompa yang ada perlu di size down, dalam arti ukuran
pompa diturunkan laju alirannya. Sedangkan untuk fluid level tinggi maka kemungkinan pompanya akan
di size up. Pada umumnya pompa yang dipakai dilapangan Minas adalah Electric Submersible Pump
(ESP). Pompa ini sangat sensitif terhadap perubahan laju alir, oleh karena itu perubahan yang terlalu
besar akan merusak pompa itu sendiri. Merek pompa ESP yang banyk dipakai adalah jenis REDA dan
Centrilift yang memiliki prinsip kerja yang hampir sama.

c. Static Bottom Hole Pressure (SBHP)

Test ini dilakukan pada sumur obsevasi. Pengontrolan Bottom Hole Pressure (BHP) menentukan tekanan
formasi pada interval tertentu dalam program Interval Zone Test. Didalam tabung SBHP Tools terdapat
Bourden Tube, yang dapat diberikan tekana dari uarl. Alat ini akan mengembang dan menguncup sesuai
dengan perubahan tekanan yang terjadi didalam sumur. Gerakan bourden tube akan menggores chart
yang terbuat dari logam, yang digerakkan dari permukaan oleh timer sehingga dari goresan chart
tersebut dapat dibaca berapa tekanan sesuai dengan perubahan tekanan didalam sumur.

Komponen-komponen pada rig itu sendiri pada umumnya terbagi menjadi lima dalam bagian besar,
yaitu:

Hoisting System , secara umum komponen terdiri dari

Drawworks (kadang disebut

Hoist ), Mast atau Derrick ,

Crown Block , Traveling Block , dan Wire Rope ( Drilling Line ).


Hoisting System berfungsi untuk menurunkan dan menaikan tubular (pipa pemboran, peralatan

completion, atau pipa produksi) untuk keluar dan masuk lubang sumur.

Rotary System , merupakan komponen dari rig yang berfungsi sebagai pemutar pipa-pipa di dalam
sumur. Pada pemboran konvesional, pipa pemboran ( Drill Strings ) memutar mata-bor ( Drill Bit ) untuk
penggalian sumur.

Circulation System , komponen ini memiliki fungsi berupa mensirkulasikan fluida pemboran untuk keluar
dan masuk ke dalam sumur dan menjaga agar properti lumpur seperti yang diinginkan. Sistem sirkulasi
ini meliputi antara lain: pompa tekanan tinggi untuk memompakan lumpur keluar dan masuk ke dalam
sumur, dan pompa rendah digunakan untuk mensirkulasikan lumpur di permukaan. Kemudian, peralatan
untuk mengkondisikan lumpur: Shale Shaker: berfungsi untuk memisahkan “solid” hasil pemboran
( Cutting ) dari lumpur, Desander : berfungsi untuk memisahkan pasir,

Degasser: berfungsi untuk mengeluarkan gas, Desilter: berfungsi untuk memisahkan partikel padat
berukuran kecil.

Blowout Prevention System , komponen ini berfungsi untuk mencegah terjadinya Blowout (meledaknya
sumur di permukaan dikarenakan adanya tekanan tinggi dari dalam sumur). Pada komponen ini bagian
yang utama adalah BOP ( Blow Out Preventer) yang terdiri atas berbagai macam katup ( Valve) dan
dipasang di kepala sumur ( Wellhead ).

Power System , komponen ini berupa sumber tenaga yang berfungsi untuk menggerakan semua sistem
di atas dan juga untuk suplai listrik. Sebagai sumber tenaga, biasanya menggunakan mesin diesel
berkapasitas besar. Pada sebuah rig untuk Power System nya, tergantung dari ukuran dan kedalaman
sumur yang akan di capai, biasanya akan membutuhkan satu atau lebih Prime Mover . Pada rig besar
biasanya memiliki tiga atau empat buah, bersama-sama mereka membangkitkan tenaga sebesar 3000
atau lebih Horsepower. Dan, tenaga yang dihasilkan juga harus dikirim ke komponen rig yang lain.

(Dari Pelbagai Sumber)