Anda di halaman 1dari 6

A.

PENGERTIAN HUKUM PAJAK

Rochmat Soemitro mengatakan bahwa hukum pajak adalah suatu kumpulan peraturan
yang mengatur antara pemerintah sebagai pemungut pajak dan rakyat sebagai pembayar pajak.
Dengan kata lain, hukum pajak menerangkan mengenai siapa saja wajib pajak (subjek) dan apa
kewajiban-kewajiban mereka terhadap pemerintah, hak-hak pemerintah, objek-objek apa saja
yang dikenakan pajak, cara penagihan, cara pengajuan keberatan-keberatan, dan sebagainya.

Santoso Brotodihardjo menyatakan bahwa hukum pajak juga disebut hukum fiskal adalah
keseluruhan peraturan-peraturan yang meliputi wewenang pemerintah untuk mengambil
kekayaan seseorang dan menyerahkannya kembali kepada rakyat melalui kas Negara.

Dengan demikian, hukum pajak merupakan bagian dari hukum publik yang mengatur
hubungan-hubungan hukum antara negara dan orang-orang atau badan-badan (hukum) yang
berkewajiban membayar pajak (selanjutnya sering disebut wajib pajak).

Pendapat-pendapat tersebut memperlihatkan bahwa hukum pajak rnengatur hubungan


antara pemerintah dengan rakyat. Pemerintah berperan dalam fungsinya sebagai pemungut pajak
(fiscus) dan rakyat dalam kedudukannya sebagai subjek pajak (wajib pajak). Oleh karena adanya
hubungan semacam itu maka hukum pajak dikategorikan sebagai hukum public.

B. FUNGSI HUKUM PAJAK

Selain memiliki tujuan keadilan, hukum pajak juga memiliki berbagai fungsi yang
berdasar pada azas-azas yang bertujuan utama menyejahterakan penduduknya. Fungsi yang
pertama dalam hukum pajak yaitu sebagai acuan dalam menciptakan sistem pemungutan pajak
yang harus memenuhi syarat keadilan, efisien, dan sederhana sejelas-jelasnya dalam undang-
undang hukum pajak itu sendiri.

Fungsi selanjutnya adalah sebagai sumber yang menerangkan tentang mana dan siapa
subjek maupun objek yang perlu dan tidak perlu dijadikan sumber pemungutan pajak yang
berfungsi untuk meningkatkan potensi pajak di negara ini. Adapun hukum pajak berfungsi
sebagai acuan dalam pembagian beban pajak kepada rakyat yang didasarkan pada kepentingan
masing-masing orang.

Lebih lanjut hukum pajak pun memiliki fungsi sebagai penjelas tentang
penggunaan/pemanfaatan dari hasil pemungutan pajak, baik dalam memenuhi anggaran APBN
serta APBD maupun memenuhi target perolehan pajak yang akan digunakan untuk kepentingan
sosial dan kesejahteraan umum. Selanjutnya, hukum pajak juga memiliki fungsi dalam
menetapkan kepastian yang berupa sanksi administrasi ataupun sanksi tata usaha, maupun sanksi
pidana berupa penjara ataupun kurungan. Adapun sanksi administrasi berupa:

a. Denda: Sanksi administrasi yang dikenakan terhadap pelanggaran yang berkaitan dengan
kewajiban pelaporan berupa denda berupa uang (harta) yang telah ditetapkan dalam
undang-undang.
b. Bunga: Sanksi administrasi yang dikenakan terhadap pelanggaran yang berkaitan dengan
kewajiban pembayaran/penyetoran pajak, yang terdiri dari bunga pembayaran, bunga
ketetapan, dan bunga penagihan.
c. Kenaikan: Sanksi administrasi yang berupa kenaikan jumlah pajak yang harus dibayar,
terhadap pelanggaran berkaitan dengan kewajiban yang diatur dalam ketentuan material.

Penetapan hak dan kewajiban bagi seorang fiskus maupun wajib pajak juga menjadi salah satu
fungsi dari hukum pajak. Hak dan kewajiban wajib pajak, yaitu:
1. Kewajiban wajib pajak
a. Mendaftarkan diri menjadi wajib pajak dan pengusaha kena pajak
b. Mengambil surat pemberitahuan sendiri ke kantor pajak atau tenpat-tempat lain
yang telah ditentukan oleh Dirjen Pajak
c. Mengisi surat pemberitahuandengan benar, lengkap, dan jelas serta
menandatanganinya dan melaporkannya.
d. Membayar pajak yang terhutang yang telah dihitung sendiri tanpa menunggu
adanya surat ketetapan pajak atau tagihan pajak
e. Menyelenggarakan pembukuan dan memperlihatkan pembukuan serta
memberikan keterangan apabila dilakukan pemeriksaan
f. Menyimpan dokumen-dokumen sebagai dasar perhitungan pajak
2. Hak-hak wajib pajak
a. Menghitung pajak sendiri
b. Mengajukan perpanjangan jangka waktu penyampaian surat pemberitahuan
tahunan
c. Melakukan pembetulan surat pemberitahuan
d. Mengajukan permohonan restitusi atas kelebihan pembayaran pajak atau
kelebihan karena dipotong oleh pihak ketiga
e. Mengajukan permohonan untuk mengansur pembayaran pajak
f. Mengajukan permohonan penghapusan sanksi administrasi, bunga atau kenaikan
yang dikenakan
g. Mengajukan pembetulan atas kesalahan SKP, STP, Surat Keberatan, SK
Pengurangan au Penghapusan sanksi administrasi dan sebagainya
h. Mengajukan keberatan apabila ditetapkan pajaknya lebih tinggi
i. Mengajukan banding atas keputusan keberatan kepada badan peradilan pajak

Sedangkan fiskus mempunyai hak dan kewajiban sebagai berikut;

1) Kewajiban fiskus:
a. Melayani pendaftaran wajib pajak untuk meminta nomor pokok wajib pajak
b. Melayani wajib pajak dalam pemberian formulir-formulir yang dibutuhkan untuk
laporan-laporan
c. Melayani untuk menerima laporan dari wajib pajak baik SPT Masa atau SPT Tahunan
d. Memberikan persetujuan perpanjangan jangka waktu peyampaian SPT
e. Memberikan persetujuan penundaan atau angsuran pmbayaran pajak yang diminta oleh
wajib pajak
f. Membetulkan SKP, STP, Surat Keberatan, SKP Pengurangan atau Penghapusan, sanksi
administrasi apabila terjadi kesalahan
g. Menerima keberatan wajib pajak termasuk yang mengajukan banding

2) Hak-hak fiskus
a. Menerbitkan NPWP dan NPPKP baik diminta oleh wajib pajak atau tidak (secara
jabatan)
b. Menerbitkan SKP atau STP
c. Melakukan penagihan pajak
d. Menerbitkan surat paksa dalam hal wajib pajak tidak membayar pajak sebagaimana
dimaksud dalam SKP atau STP
e. Melakukan pemeriksaan
f. Meminjam dokumen-dokumen pembukuan wajib pajak yang menjadi dasar perhitungan
besranya pajak yang dibayar
g. Melakukan penyegelan tempat atau ruangan tertentu
h. Melakukan penyidikan pajak

C. KEDUDUKAN HUKUM PAJAK

Sistem hukum yang berlaku di Indonesia sekarang adalah civil law system atau sistem
Eropa Kontinental. Dalam sistem ini hukum dibagi menjadi dua, yaitu hukum privat dan hukum
public.

Hukum privat adalah hukum yang mengatur hubungan hukum antara sesama individu
dalam kedudukan yang sederajat, misalnya hukum perjanjian, hukum kewarisan, hukum
keluarga, dan hukum perkawinan.

Hukum publik adalah hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan warga
negara atau dengan kata lain, hukum yang mengatur kepentingan umum. Hukum publik ini
berurusan dengan hal-hal yang berhubungan dengan masalah kenegaraan serta bagaimana negara
melaksanakan tugasnya.

Hukum privat, terdiri atas 1) Hukum Perjanjian, 2) Hukum Kewarisan; 3) Hukum


Perkawinan; 4) Hukum Keluarga; 5) Hukum Dagang; dan 6) Hukum Publik, yang meliputi
hukum pidana; hukum tata negara; hukum administrasi negara; hukum lingkungan; hukum
pajak; dan lain-lain.

Pada umumnya, hukum pajak dimasukkan sebagai bagian dan hukum publik yang
mengatur hubungan hukum antara penguasa dengan rakyatnya. Hal tersebut dapat dimengerti,
karena di dalam hukum pajak diatur mengenai hubungan antara penguasa/Pemerintah dalam
fungsinya selaku fiscus (pemungut pajak) dengan rakyat dalam kaptasitasnya sebagal wajib
pajak.

Hukum pajak merupakan bagian dan hukum administrasi negara karena itu sekarang ada
yang menghendaki agar hukum pajak itu bisa berdiri sendiri. Kenyataannya sampai saat ini
hukum pajak sudah berdiri sendiri di samping hukum administrasi negara, karena hukum pajak
juga mempunyai tugas yang bersifat lain dari pada hukum administtasi negara pada umumnya,
yaitu hukum pajak juga dipergunakan sebagai alat untuk menentukan politik perekonomian
Negara. Selain itu, umumnya hukum pajak juga mempunyai tata tertib dan istilah-istilah
tersenditi untuk lapangan pekerjaannya.

Walaupun hukum pajak merupakan hukum publik tetapi hukum pajak mempunyai
hubungan yang erat dengan hukum perdata (privat) dan saling bersangkutan. Hal ini karena
kebanyakan hukum pajak mencari dasar kemungkinan pemungutannya atas kejadian-kejadian,
keadaan-keadaan dan perbuatan-perbuatan hukum yang bergerak dalam lingkungan perdata
seperti pendapatan, kekayaan, perjanjian, penyerahan, pemindahan hak karena warisan,
kompensasi pembebasan utang, dan sebagainya.

Hubungan antara hukum pajak dengan hukum perdata ini mungkin sekali timbul karena
banyak d pergunaknya istilah-itilah hukum perdata dalam pajak. Walaupun harus dipegang teguh
prinsip bahwa pengertian pengertian yang dianut oleh hukum perdata tidak selalu dianut oleh
hukum pajak.

D. PEMBAGIAN HUKUM PAJAK

Hukum pajak dibagi atas 2 bagian, yaitu :

a. Hukum pajak material

Hukum pajak yang memuat ketentuan-ketentuan tentang siapa-siapa yang dikenakan


pajak, dan siapa-siapa yang dikecualikan dari pengenaan pajak, apa saja yang dikenakan pajak
dan berapa yang harus dibayar. Dapat dikatakan bahwa hukum pajak material mengatur pajak
secara materinya.
Contoh hukum pajak material adalah UU PPh (Pajak Penghasilan) dan UU PPN (Pajak
Pertambahan Nilai).

Contoh-contoh hukum pajak material secara rinci, diantaranya :

* UU No. 17 tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan

* UU No. 18 tahun 2000 tentag Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa dan Pajak Atas
Penjualan

Barang Mewah (PPN dan PPnBM)

* UU No. 12 tahun 1994 tentang Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB)

* UU No. 13 tahun 1985 tentang Bea Materai

* UU No. 34 tahun 2000 tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah

* UU No. 20 tahun 2000 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan.

b. Hukum pajak formal

Dalam hukum pajak formal, diatur mengenai ketentuan bagaimana pelaksanaan atau cara
untuk mewujudkan hukum pajak material menjadi kenyataan. Hhukum pajak formal adalah
ketentuan pajak secara formalnya atau dalam ketentuan-ketentuannya.

Contoh undang-undang yang memuat hukum pajak formal, yaitu :

* UU No. 16 tahun 2000 tentang Ketentuan Umum Dan Tatacara Perpajakan (UU KUP)

* UU No. 19 tahun 2000 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (UU PPSP)

* UU No. 14 tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak