Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA WAHAM

DI RUMAH SAKIT JIWA KALAWA ATEI PALANGKA RAYA

Oleh :
Fitri Barokah S.Kep
1714901210013

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS
BANJARMASIN, 2019
LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA
WAHAM

1. Pengertian
Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan yang tetap dipertahankan
dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain. Keyakinan ini berasal dari pemikiran
klien yang sudah kehilangan control. Waham (dellusi) adalah keyakinan individu yang tidak
dapat divalidasi atau dibuktikan dengan realitas. Menurut Depkes (2000) waham adalah
keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi dipertahankan dan tidak dapat
diubah secara logis oleh orang lain. Waham terbagi 5 kategori yaitu:
1.1 Waham agama
Keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang-ulang tetapi
tidak sesuai dengan kenyataan.
1.2 Waham kebesaran
Keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki kekuatan khusus atau kelebihan
yang berbeda dengan orang lain, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan.
1.3 Waham curiga
Keyakinan bahwa seseorang atau sekelompok orang berusaha merugikan atau
mencederai dirinya diucapkan berulang ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
1.4 Waham somatik
Keyakinan bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit,
diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
1.5 Waham nihilistic
Keyakinan bahwa seseorang bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan berulang-
ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

2. Rentan Respon

3. Faktor Predisposisi
3.1 Faktor Perkembangan
Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal seseorang. Hal ini
dapat meningkatkan stress dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi, klien
menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.
3.2 Faktor Sosial Budaya
Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbulnya
waham.
3.3 Faktor Psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peranganda/bertentangan, dapat menimbulkan ansietas
dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan.
3.4 Faktor Biologis
Waham diyakini terjadi karena adanya atrofi otak, pembesaran ventrikel diotak, atau
perubahan pada sel kortik dan limbik.

4. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor yang dapatmencetuskanperilakukekerasansering kali berkaitan dengan (Yosep,
2009):
4.1 Faktor Sosial Budaya
Waham dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti atau
diasingkan dari kelompok.
4.2 Faktor Biokimia
Dopamine, noreepineprin, dan zat halusinogen lainya diduga dapat menjadi penyebab
waham pada seseorang.
4.3 Faktor Psikologis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah
sehingga klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang
menyenangkan.

5. Pohon masalah
Resiko tinggi mencederai diri, orang lain, dan lingkungan

Perubahan persepsi sensori: waham

Inefektif Koping Individu Gangguan interaksi sosial Harga Diri Rendah Kronis

6. Tanda dan Gejala


6.1 Kognitif :
a. Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata.
b. Individu sangat percaya pada keyakinannya.
c. Sulit berfikir realita.
d. Tidak mampu mengambil keputusan
6.2 Afektif:
a. Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
b. Afek tumpul
6.3 Prilaku dan Hubungan Sosial:
a. Hipersensitif
b. Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
c. Depresi
d. Ragu-ragu
e. Mengancam secara verbal
f. Aktifitas tidak tepat
g. Streotif
h. Impulsive
i. Curiga
6.4 Fisik
a. Higiene kurang
b. Muka pucat
c. Sering menguap
d. BB menurun

7. Proses Keperawatan
7.1 Pengkajian
Kerusakan komunikasi : verbal
a. Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
b. Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan
kontak mata kurang
Perubahan isi pikir : waham
a. Data subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran,
kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai
kenyataan.
Pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengkaji waham :
1) Apakah pasien memiliki pikiran/isi pikir yang berulang-ulang diungkapkan dan
menetap?
2) Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu, atau apakah pasien
cemas secara berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya?
3) Apakah pasien pernah merasakan bahwa benda-benda disekitarnya aneh dan
tidak nyata?
4) Apakah pasien pernah merasakan bahwa ia berada diluar tubuhnya?
5) Apakah pasien pernah merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain?
6) Apakah pasien berpikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol oleh orang
lain atau kekuatan dari luar?
7) Apakah pasien menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan fisik atau kekuatan
lainnya atau yakin bahwa orang lain dapat membaca pikirannya?

b. Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri,
orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai
lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung.
7.2 Diagnosa Keperawatan
 Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
 Kerusakan komunikasi : verbal
 Perubahan isi pikir : waham

7.3 Rencana Tindakan Keperwatan


a. Tujuan
 Klien dapat berorientasi terhadap realitas secara bertahap
 Klien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
 Klien menggunakan obat dengan prinsip enam benar
b. Tindakan
 Bina hubungan saling percaya
Sebelum memulai pengkajian pada klien dengan waham, saudara harus
membina hubungan saling percaya terlebih dahulu agar klien merasa aman dan
nyaman saat berinteraksi. Tindakan yang harus saudara lakukan dalam rangka
membina hubungan saling percaya adalah sebagai berikut :
 Mengucapkan salam terapeutik
 Berjabat tangan
 Menjelaskan tujuan berinteraksi
 Membuat kontrak topik, waktu, dan tempat setiap kali bertemu klien.
 Tindakan mendukung atau membantah waham klien
 Yakinkan klien berada dalam keadaan aman
 Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari
 Diskusikan kebutuhan psikologis / emosional yang tidak terpenuhi karena dapat
menimbulkan kecemasan, rasa takut, dan marah
 Jika klien terus-menerus membicarakan wahamnya, dengarkan tanpa
memberikan dukungan, atau menyangkal sampai klien berhenti
membicarakannya.
 Berikan pujian bila penampilan dan orientasi klien sesuai dengan realitas
 Diskusikan dengan klien kemampuan realistis yang dimilikinya pada saat lalu
dan saat ini
 Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuan yang dimilikinya
 Diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi sehingga
menimbulkan kecemasan, rasa takut, dan marah
 Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan emosional klien
 Berbicara dalam konteks realita
 Bila klien mampu memperlihatkan kemampuan positifnya, berikan pujian yang
sesuai
 Jelaskan pada klien tentang program pengobatannya (manfaa, dosis, obat,
jenis, dan efek samping obat yang diminum serta cara meminum obat yang
benar)
 Diskusikan akibat yang terjadi bila klien berhenti meminum obat tanpa
konsultasi

Untuk Keluarga
a. Tujuan
 Keluarga mampu mengidentifikasi waham klien
 Keluarga mampu memfasilitasi klien untuk memenuhi kebutuhan yang belum
terpenuhi oleh wahamnya
 Keluarga mampu mempertahankan program pengobatan klien secara optimal
b. Tindakan keperawatan
 Diskusikan dengan keluarga tentang waham yang dialami klien
 Diskusikan dengan keluarga tentang cara merawat klien waham di rumah,
follow up, dan keteraturan pengobatan, serta lingkungan yang tepat untuk klien.
 Diskusikan dengan keluarga kondisi klien yang memerlukan bantuan

8. Strategi Pelaksanaan Tindakan


SP Pada Pasien SP Pada Keluarga
Sp 1 Sp 1
1. Mengidentifikasi tanda dan gejala 1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam
waham merawat pasien
2. Bantu orientasi realita: panggil nama, 2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala waham, dan
orientasi waktu, orang dan tempat/ jenis waham yang dialami pasien beserta proses
lingkungan. terjadinya
3. Diskusikan kebutuhan yang tidak 3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien waham
terpenuhi. 4. Latih cara mengetahui kebutuhan klien dan mengetahui
4. Bantu klien memenuhi kebutuhan kemampuan klien.
realistis. 5. Anjurkan membantu klien sesuai jadwal dan memberi
5. Masukkan dalam jadwal kegiatan harian pujian.
pemenuhan kebutuhan
SP 2 SP 2
1. Evaluasi kegiatan pemenuhan 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam membimbing klien,
kebutuhan klien dan berikan pujian. berikan pujian
2. Diskusikan kemampuan yang dimiliki. 2. Latih cara memenuhi kebutuhan klien
3. Latih kemampuan yang dipilih, 3. Latih cara melatih kemampuan yang dimiliki klien
berikan pujian 4. Anjurkan membantu klien sesuai jadwal dan beri pujian
4. Masukkan pada jadwal kegiatan
pemenuhan dan kegiatan yang telah
dilatih
SP 3 SP 3
1. Evaluasi kegiatan pemenuhan 1. Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah
kebutuhan klien dan berikan pujian. termasuk minum obat
2. Jelaskan tentang 6 benar obat yang 2. Mendiskusikan sumber rujukan yang bisa dijangkau
diminum dan tanyakan manfaatnya keluarga
3. Masukkan pada jadwal kegiatan 3. Anjurkan membantu klien jadwal dan memberikan
pemenuhan dan kegiatan yang telah pujian
dilatih
SP SP
1. Evaluasi kegiatan pemenuhan 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam membimbing klien
kebutuhan klien, kegiatan 1,2 dan 3 melaksanan kegiatan yang telah dilatih dan minum obat,
dan berikan pujian. berikan pujian
2. Diskusikan kebutuhan lain dan cara 2. Jelaskan follow up ke RSJ/ PKM, tanda kambuh dan
memnuhinya rujukan
3. Diskusikan kemampuan yang dimiliki 3. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan
dan memilih yang akan dilatih memberikan pujian
4. Masukkan pada jadwal kegiatan
pemenuhan dan kegiatan yang telah
dilatih dan minum obat
SP SP
1. Evaluasi kegiatan pemenuhan 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam membimbing pasien
kebutuhan klien, kegiatan 1,2 dan 3 memenuhi kebutuhan klien, membimbing klien
dan berikan pujian. melaksakan kegiatan yangtelah dilatih dan minum
2. Niali kemampuan yang telah mandri obat, berikan pujian
3. Nilai apakah frekuensi munculnya 2. Nilai kemmapuan keluarga merawat klien
waham berkurang. Apakah waham 3. Nialai kemampuan klien melakukan kontrol ke RSJ/
terkontrol PKM
Daftar Pustaka

Keliat, Budi Anna. (2006). Kumpulan Proses Keperawatan Masalah Jiwa.


Jakarta : FIK, Universitas Indonesia
Aziz R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino Gondoutomo.
2003
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung,
2000
Kusumawati dan Hartono . 2010 . Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta : Salemba Medika
Stuart dan Sundeen . 2005 . Buku Keperawatan Jiwa . Jakarta : EGC .

Palangka Raya, September 2019

Preseptor Akademik, Preseptor Klinik,

( M. Syafwani, S.Kep.,M.Kep.,Sp.J ) (…………………………………..…)

Mengetahui,
Preseptor Klinik RSJ Kalawa Atei

(…………………………………..…)