Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Menua identik terjadi pada lanjut usia. Proses menua merupakan proses
sepanjang hidup, yang ditandai dengan kegagalan tubuh dalam mempertahankan
homeostasis tubuh terhadap tekanan fisiologis yang menyebabkan terjadinya perubahan
struktur tubuh dan perubahan fungsional sehingga menyebabkan adanya gangguan,
ketidakmampuan dan sering terjadi penyakit (Rochman & Aswin, 2001).
Menurut Potter & Perry (2005) masa dewasa tua (lansia) dimulai setelah
pensiun biasanya antara usia 65-75 tahun. Lansia atau lanjut usia adalah orang yang
telah mencapai usia 60 tahun keatas yang mempunyai hak yang sama dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Suardiman, 2011).
Pada lansia terjadi berbagai perubahan, meliputi perubahan fisik, mental,
spiritual, psikososial adaptasi terhadap stres mulai menurun. Pada lanjut usia
permasalahan yang menarik adalah kurangnya kemampuan dalam beradaptasi secara
psikologis terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya.
Depresi pada lansia yang berada di panti ditandai oleh suasana afek depresif,
pesimistis,gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, gangguan perasaan sedih
atau putus harapan, kesepian, tingkat aktivitas rendah, kelelahan fisik, gangguan tidur,
gangguan nafsu makan, pandangan masa depan yang suram dan konsentrasi, gangguan
membuat keputusan, serta keluhan fisik lainnya (Suardiman, 2011).
Sementara prevalensi depresi pada lansia yang mengalami perawatan di RS dan
Panti Perawatan sebesar 30 – 45 %. Karenanya pengenalan masalah mental sejak dini
merupakan hal yang penting, sehingga beberapa gangguan masalah mental pada lansia
dapat dicegah, dihilangkan atau dipulihkan (Evy, 2008).). Penanganan depresi tidak
hanya dengan pemberian obat-obatan atau farmakoterapi namun juga psikoterapi.
Penyembuhan utama dilakukan dari dalam diri lansia itu sendiri. Aktifitas berkumpul
dengan harapan tukar informasi dan kontak sosial. Mengisi waktu luang seperti:
berkebun, menonton televisi, menyiram bunga, mendengarkan radio, kegiatan atau hobi

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 1


untuk menghilangkan kebosanan.
Hal ini penenanganan Depresi yang terjadi pada lansia tidak hanya dengan pengobatan
farmakologi namun ,pengobatan atau terapi yang bisa diberikan yaitu nonn farmakologi
yaitu bisa dengan pemberian terapi Musik Keroncong.
Oleh kareni itu ,kami mengambil masalah Tingkat Depresi sebagai Variabel
tetap dengan pemberian berbagai intervensi. Penelitian yang telah dilakukan adalah
dengan Pemberian Terapi Musik Klasik dan Keroncong.
1.2 TUJUAN
 Mengetahui bagaimanakah Clinicaal question dari journal efektivitas terapi
Musik keroncong dengan Efektivitas musik klasik terhadap Tingkat depresi
Pada lansia ?
 Untuk mengetahui critical apprasial dari masing - masing jurnal tentang
efektivitas terapi Musik keroncong dengan Efektivitas musik klasik terhadap
Tingkat depresi Pada lansia ?

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 2


BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 SEARCHABLE AND ANSWERABLE QUESTIONS

Population : Lansia dengan Tingkat Depresi

Intervention : Terapi Musik keroncong

Comparison : Terapi musik Klasik

Outcomes : Perubahan Tingkat depresi

 Bagaimana Efektifitas Musik keroncong dibandingkan dengan music


klasik terhadap perubahan Tingkat Depresi pada lansia?

2.2 ADVANCE SEARCH


 Kata Kunci untuk Mencari Artikel
1. Tingkat Depresi (depression Level)
2. Musik keroncong (therapy music keroncong)
3. Musik klasik (classical music therapy)
4. Lansia (the elderly)

2.3 PENULUSURAN JURNAL

Dalam melakukan penelusuran jurnal saya menggunakan satu data base yaitu
Google scholar. Berikut Langkah-langkah.

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 3


 Penelusuran jurnal pertama melalui Google Scholar
1) Ketik Google Scholar pada penelusuruan google

2. Ketik Judul (kata Kunci) yang ingin di telusuri.Dalam penelusuran ini saya memasukkan
judul “Hubungan Terapi Musik Keroncong dengan Tingkat depresi Pada lansia dip anti
Wredha budhi dharma Yogyakarta 20014.

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 4


3. Kemudian Pilih jurnal yang sesuai. Disini saya memilih jurnal yang sesuai
yaitu“Hubungan Terapi Musik Keroncong dengan Tingkat depresi Pada lansia dip anti
Wredha budhi dharma Yogyakarta 2014.

4. Klik “Pdf” untuk mendownload jurnal tersebut.

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 5


5. “PDF” yang di download akan muncul tampilan seperti ini

 Penulusuran Jurnal ke dua melalui Google scholar


1. Ketik google scholar /cendekia pada penelusuran Google

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 6


2. Masukkan kata kunci jurna/judul jurnal yang ingin ditelusuri,dalam penulusuran ini saya
memasukkan judul jurnal “ Pengaruh Terapi Musik Keroncong terhadap Tingkat Depresi
pada lansia”

3. Kemudian pilih jurnal yang sesuai .disini saya memilih jurnal yang yang sesuai yaitu
“Terapi Musik Keroncong terhadap Tingkat Depresi pada lansia”

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 7


4. Klik “PDF” untuk mendownload jurnal tersebut.

5. Kemudian akan muncul tampilan seperti ini setelah jurnal ter download.

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 8


 Penelusuran jurnal ke tiga melalui Google Scholar
1. Ketik Google Scholar pada penelusuruan google

2. Masukkan kata kunci jurnal/judul jurnal yang ingin ditelusuri. Dalam penelusuran ini
saya masukkan judul jurnal “pengaruh terapi music klasik Terhadap tingkat depresi pada
lansia DI UNIT REHABILITASI SOSIAL WENING WARDOYO KECAMATAN UNGARAN
KABUPATEN SEMARANG”

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 9


3. Kemudian pilih jurnal yang sesuai. Disini saya memilih jurnal yang sesuai yaitu
“pengaruh terapi musik klasik terhadap tingkat depresi pada lansia di unit rehabilitas
sosial wening wardoyono kecamatan ungaran kab.semarang.

Kemudian Klik “PDF” dan down Load.

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 10


Berdasarkan penelusuran jurnal yang saya lakukan, saya memilih 3 jurnal yang akan saya
lakukan critical apprasial yaitu :
1. Hubungan terapi music keroncong dengan tingkat depresi pada lansia di Panti
wredha Budhi dharma Yogyakarta 2014.
2. Pengaruh terapi musik keroncong terhadap tingkat depresi Pada lansia
3. Penagaruh Terapi music klasik terhadap tingkat depresi pada lansi di unit
Rehabilitas social wening Wardoyo Kecamatan ungaran kab. Semarang.

2.4 Critical Apprasial

1. Why was this study done?


Jurnal 1 :
Masalah penelitian ini tertulis jelas dalam abstrak yaitu lansia diasumsikan
sebagai masyarakat yang merupakan masalah kesehatan risiko, termasuk masalah
kesehatan mental yang gangguan depresi . Depresi pada orang tua serius mental yang
gangguan kesehatan meskipun pemahaman kita tentang penyebab depresi dan
pengembangan terapi farmakologi dan psikoterapi telah menjadi lebih maju.Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui hubungan terapi music keroncong dengan tingkat depresi
pada lansia dipanti werdha Budhi dharma Yogyakarta.
Jurnal 2 :
Masalah penelitian tertulis jelas dalam latar belakang pada pembahasan, yaitu
Depresi merupakan masalah mental yang paling banyak ditemui pada lansia. Dan juga
Penanganan depresi tidak hanya dengan pemberian obat-obatan atau farmakoterapi
namun juga psikoterapi..Tingkat Depresi sesudah terapi music keroncong secara khusus
bertujuan untuk menurunkan tingkat depresi. Penggunaan terapi musik secara medis
khususnya untuk menurunkan depresi, sebagaimana diungkapkan oleh Djohan, (2006).
intervensi musikal dengan maksud memulihkan, menjaga, memperbaiki emosi, fisik,
psikologis, dan kesehatan serta kesejahteraan spiritual.
Penelitian ini menuliskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui untuk
mengetahui pengaruh terapi musik keroncong terhadap tingkat depresi pada lansia di
Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 11


Jurnal 3 :

Dalam jurnal ini pemaparan masalah menjelaskan Depresi pada lansia yang berada di
panti ditandai oleh suasana afek depresif, pesimistis,gagasan tentang rasa bersalah dan tidak
berguna, gangguan perasaan sedih atau putus harapan, kesepian, tingkat aktivitas
rendah,kelelahan fisik, gangguan tidur, gangguan nafsu makan, pandangan masa depan yang
suram dan konsentrasi, gangguan membuat keputusan, serta keluhan fisik lainnya(Suardiman,
2011).

Faktor-faktor yang menyebab depresi pada lansia bervariasi. Pertama adalah faktor
psikologis, kedua kerentanan faktor biologi terhadap depresi, ketiga faktor psikososial dan faktor
budaya (Darmojo & Martono. 2004).

Prevelensi depresi pada lansia tinggisekali, sekitar 12-36% lansia yang menjalani rawat
jalan mengalami depresi. Angka ini meningkat menjadi 30-50% pada lansia dengan penyakit
kronis dan perawatan lama yang mengalami depresi (Mangoenpraspdjo, 2004). Menurut Kaplan
et all, kira-kira 25% komunitas lanjut usia dan pasien rumah perawatn ditemukan adanya gejala
depresi pada lansia. Depresi menyerang 10-15% lansia 65 tahun keatas yang tinggal dikeluarga
dan angka depresi meningkat secara drastis pada lansia yang tinggal di institusi, dengan sekitar
50-75% penghuni perawatan jangka panjang memiliki gejala depresi ringan sampai sedang
(Stanley & Beare, 2007).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh pemberian terapi music
klasik terhadap tingkat depresi pada lansia.

2. What is sample size?


Jurnal 1 :

Penelitian ini menggunakan survei analitik korelasi dengan pendekatan cross


sectional Populasi penelitian berjumlah 52 orang lanjut usia , ada 30 sampel orang tua
dengan Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling instrument
penelitian method. metode analisis data menggunakan uji tau Kendall ' s .Ada hubungan
antara tingkat terapi music keroncong depresi. diindikasikan dari Kendall - nilai korelasi
Tau ( ô ) dari 0.699 dengan p value = 0,000

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 12


Jurnal 2 :
Pada penelitian ini tidak dicantumkan dari beberapa jumlah Populasi dalam
penelitian, hanya saja peneliti menjelaskan pengambilan populasi yang dilakukan
penelitian seluruh lansia yang berada dipanti, dengan pengamabilan teknik sampling
yang sesuai.
Jurnal 3 :
Kegiatan yang dilakukan Unit Rehabilitasi social wening wardoyo untuk
mengatasi Depresi lansia tersebut pihak panti seblumnya melakukakn kegiatan rekreasi
setiap setahun sekali dan mengadakan kegiatan rekreasi dan kegiatan kerohanian
maupun kegiatan keterampilan pada lansia,namun kegiatan yang diberikan masih belum
efektif untuk mengurangi depresi pada lansia,berdasrkan Hasil wawancara peneliti
dengan Unit rehabilitasi social wening wardoyo. Maka dari itu peneliti sangat tertarik
untuk melakukan penelitian pengaruh terapi music klasik terhadap tingkat depresi
Lansia.
Penelitian ini menggunakan rancangan Eksperimen semu (Quasi Eksperiment),
jenis desain Pada penelitian ini menggunakan Non Equivalent control group design
(Notoadmojo,2010),dan rancangan pada desain penelitian ini Pre Test-Post Test control
Design.
3. Are the measurements of major variables valid and reliable?
Jurnal 1 :
Peneliti melakukan criteria yaitu inklusi yang ditendtukan sebelumnya ,dan
melakukan pendataan dan observasi yaitu Cek list .
Jurnal 2 :
Pada penelitian ini ,peneliti menggunakan Quasy-experimen. Dan untuk
mengukur tingkat Depresi yang terjadi pada lansia peneliti menggunakan kuisioner yang
diadopsi dari Geatric Depresion scale (GDS) Brink dan Yesevage,yang telah di
modifikasi dengan bahasa yang lebih mudah di pahami tanpaa menghilangkan maksud
dan tujuan dari pertanyaan terhadap lansia.
Nilai p value = 0,001 (<0,005) bermakna ada pengaruh terapi musik keroncong
terhadap tingkat depresi lansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sesudah dilakukan
terapi musik keron-cong, sebagian besar lansia (55,6%) mengalami depresi ringan. Ada

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 13


yang sudah tidak mengalami depresi (33,3%) dan hanya sedikit yang masih mengalami
depresi sedang (11,1%).

Jurnal 3 :
Peneliti menggunakan Alat pemutar musik daari perangkat MP3 Player yang di
hubungkan dengan sound system yang diputar selama 30 meniit dan diberikan selama 7
hari. Peneliti juga mmberikan 15 item pertanyaan untuk menilai tingkat depresi pada
lansia,dan melakukan pengumpulan data untuk meliputi kegiatan observasi dan
wawancara.
4. How were the data analyzed?
Jurnal 1 :
Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat,
analisis univariat menggunakan deskriptif kuantitatif. Analisis bivariat dilakukan uji
hipotesis dengan kendals tau. Nilai korelasi Kendall-Tau (T) sebesar 0,699 dengan nilai
p value 0,000 < á = 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi musik keroncong
memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat depresi pada lansia di Panti Wredha
Budhi Dharma Yogyakarta. Nilai koefisien korelasi yang positif mempunyai arti bahwa
meningkatnya partisipasi lansia pada terapi musik keroncong akan berakibat pada tingkat
depresi lansia yang semakin membaik. Nilai tersebut jika di bandingkan dengan
kekuatan hubungan menurut sugiyono (2010) yaitu : 0,000 sampai 0,199 dikategorikan
sangat rendah, 0,200 sampai 0,399 rendah, 0,400 sampai 0,599 sedang, 0,600 sampai
0,799 kuat, dan 0,800 sampai 1,000 sangat kuat. Maka nilai koefisien korelasi (r) pada
angka 0,699 pada level kuat
Hasil penelitian menunjukan adanya persamaan antara Hasil statistik menunjukan
tingkat signifikan 0,000 yang dapat disimpulkan bahwa musik gamelan jawa digunakan
sebagai terapi memiliki efek pada penurunan jumlah orang yang mengalami depresi di
kalangan orang tua.
Jurnal 2 :
Design penelitian ini mengunakan rancangan penelitian Quasy-experimen.
Instrumen penelitian untuk mengukur tingkat depresi berupa kuesioner yang diadopsi
dari Geriatric Depression Scale (GDS) Brink dan Yesevage, yang telah di modifikasi

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 14


dengan bahasa yang lebih mudah di pahami tanpa menghilangkan maksud dan tujuan
dari pertanyaan.
Dibuktikan dengan hasil Pengujian statistic, membuktikan bahwa penurunan
tersebut signifikan p-value = 0,001 atau p-value < 0,05). Hasil penelitian ini sesuai
dengan teori yang dikemukakan Rachmawati,(2005).

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 15


Jurnal 3 :
Pada desain ini dilakukan analisa univariat dan analisa bivariat. Pada univariat
disini bertujuan untuk menjelaskan deskripsikan setiap variabel.variabel yang di analisis
depresi lansia sebelum dan sesudah diberikan terapi music klasikserta perbedaan tingkat
depresi lansia pada kelompok perlakuan dan kelompok control.
Penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon karena data yang dikumpulkan berasal
dari dua sampel yang saling berhubungan, artinya bahwa satu sampel akan mempunyai
dua data pre test dan post test.
Dalam pengujian hipotesis, kriteria untuk menolak atau tidak menolak Ho
berdasarkan P-Value adalah sebagai berikut: Jika P-Value α (0,05), maka Ho ditolak,
yang berarti ada pengaruh terapi musik klasik terhadap tingkat depresi pada lansia di
Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran.

5. Were there any untoward events during the conduct of the study?
Jurnal 1 :
Tidak dijelaskan ada atau tidaknya masalah yang terjadi diluar selama penelitian
Jurnal 2 :

Dalam jurnal ini peneliti tidak menjelaskan kendala-kendala saat melakukan


penelitian atau ada tidaknya masalah yang terjadi diluar rencana yang dapat
mempengaruhi hasil penelitian tidak disinggung sedikitpun oleh peneliti.

Jurnal 3 :
Dalam jurnal telah dijelaskan bahawa keterbatasan atau kendala-kendalanya yaitu :

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 16


 Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi tingkat depresi pada lansi yang tidak di
ikut kendalikan seperti rasa kesepian karena perpisahan dengan keluarga, jarang
dikunjungi ,tidak nyaman dengan teman-teman diwisma ,dan kondisi panti yang
tidak sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya.
 Faktor lainnya yaitu , suara berisik dari lingkungan sekitar(pedagang) sehingga
dapat mengganggu pada saat proses penelitian meskipun sudah diberikan musik
terapi musik kalsik.
 Da ada lansia yang masih mengalami Depresi.Penelitian yang dilakukan
dilapangan sulit untuk melakukan randomisasi, maka digunakan rancangan
Eksperimen semu(Quasi eksperiment)desain yang digunakan pada penelitian
menggunakn Non equivalent design (Notoamodjo.2010). Rancangan desain ini
adalah Pre Test-Post Test Control Group Design.

6. How do the results fit with previous research in the area?


Jurnal 1 :
Penanganan depresi tidak hanya dengan pemberian obat-obatan atau farmako
terapi namun juga psikoterapi. Penyembuhan utama dilakukan dari dalam diri lansia itu
sendiri. Aktifitas berkumpul dengan harapan tukar informasi dan kontak sosial.Musik
dapat menghubungkan antara pikiran dan hati para penderita depresi sehingga mereka
dapat membuka diri. Kehadiran musik sebagai bagian dari kehidupan manusia bukanlah
hal yang baru. Setiap budaya di dunia memiliki musik yang khusus diperdengarkan atau
dimainkan berdasarkan peristiwa- peristiwa bersejarah dalam perjalanan hidup anggota
masyarakatnya (Purbowinoto, E.S dan Kartinah, 2011).
Jurnal 2 :
Tidak ada
Jurnal 3 :
Dalam jurnal ini sudah dicantumkan penelitian terdahuluyang dilakukan oleh Unit
rehabilitasi social Sebelumnya dilakukan terapi dengan mengdakan suatu kegiatan yang
kerohanian ,kegiatan rekreasi ,dan selain itu pihak panti juga melakukan kegiatan
kemasyarakatan ,dan suatu keterampilan namun Unit kepala Reahbilitasi social wening
wardoyo menyatakan masih belum efektif untuk mengurangi tingkat depresi pada

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 17


lansia.dan kegiatan pemberian terapi music klasik sebelumnya pernah dilakukan oleh
mahasiswa praktik ,namun diberikan selama satu kali satu minggu.

7. What does this research mean for clinical practice?


Jurnal 1 :
Dalam jurnal ini diketahui adanya hubungan terapi Musik keroncong dengan
tingkat Depresi yang terajadi pada lansia. Terapi musik keroncong sangat penting dalam
mengembangkan potensi pada lansia yang mengalami tingkat Depresi, hal inni
disebabkan karena bermain musik dapat menenangkan pikiran ,dan menghilangkan
perasaan bosan dan jenuh,kebebasan dan mengekspresikan perasaan kedalam musik,baik
mendengarkan.
Jurnal 2 :
Dalam jurnal ini menjelaskan perlakuan sebelum diberikan terapi Musik
keroncong bisa terjadi karena pengaruh gangguan fisik atau penyait lain.gangguan fisik
yang terjadi pada lansia dapat memperberat Tingkat depresi Pada lansia itu sendiri.

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 18


Dan perlakuan terapi Musik keroncong yang diberikan terhadap lansia menunjukkan
bahwa adanya pengaruh yang signifikan dan terjadi nya penurunan setelah diberika
Terapi Musik Keroncong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sesudah dilakukan terapi
musik keron-cong, sebagian besar lansia (55,6%) mengalami depresi ringan. Ada yang
sudah tidak mengalami depresi (33,3%) dan hanya sedikit yang masih mengalami
depresi sedang (11,1%). Apabila dibandingkan dengan kondisi sebelum terapi, sudah
terlihat ada perubahan ke arah yang lebih baik yang mengalami depresi sedang
jumlahnya berkurang dan beberapa sudah tidak mengalami depresi.
Jurnal 3 :
Dalam jurnal ketiga menejelaskan tentang Lansia yang mengalami Depresi dan
tidak diberikan terapi musik klasik, menunjukkan bahwa lansia mengalami perasaan
yang sedih,Nafsu makan kurang,dan bahkan merasa hidupnya tidak berharga lagi dan
kurangnya dukungan dari keluarga.Namun berbeda dengan lansia yang diberikan terapi
musik klasik yaitu, lansia merasa lebih tenang dengan hidupnya,merasa hidupnya berarti
dan lebih baik.
Hal ini di buktikan dengan Berdasarkan Tabel 6, dapat diketahui bahwa dari uji
Mann Whitney, didapatkan nilai Z hitung = -2,379 dengan p-value sebesar 0,037. Oleh
karena p-value 0,037 < (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang
signifikan terhadap tingkat depresi pada lansia sesudah diberikan terapi musik klasik
antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Unit Rehabilitasi Sosial Wening
Wardoyo Ungaran.

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 19


BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Depresi pada lansia yang berada di panti ditandai oleh suasana afek depresif,
pesimistis,gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, gangguan perasaan sedih atau putus
harapan, kesepian, tingkat aktivitas rendah, kelelahan fisik, gangguan tidur, gangguan nafsu
makan, pandangan masa depan yang suram dan konsentrasi, gangguan membuat keputusan, serta
keluhan fisik lainnya (Suardiman, 2011).

Dalam ketiga Jurnal terapi yang diberikan pada Lansia Tingkat Depresi ,dengan Terapi
Musik keroncong maupun Musik klasik menunjukkan adanya pengaruh dan hasil yang signifikan
Terhadap Tingkat Depresi yang di alami oleh Lansia.

3.2 SARAN
 Bagi perawat,dan Tenaga Kesehatan lain
Di harapkan Untuk lebih memperhatiakan keadaan pda Lansia,dan meningkatkan
Kesehatan pelayanan kesehatan pada lansia.
 Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan Penelitian terhadap tingkat Depesi lansi dengan terapi musik
keroncong,maupun musik klasik dan Musik Sebagainya bisa lebih Dikembangkan
Lagi.

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 20


DAFTAR PUSTAKA

1. Arikunto, S. (2010) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta.


Jakarta.
2. Azizah, L.M. (2011) Keperawatan Lanjut Usia. Graha Ilmu. Yogyakarta.
3. Depkes, RI., 2013, Gambaran Kesehatan Lansia di Indonesia, Buletin Jendela Data
dan Informasi Kesehatan, http://www.depkes.go
id/index.php?vw=2&id=SNR.13110002 diakses tanggal 19 Februari 2014 pukul
12:49.
4. Djohan 2006. Terapi Musik Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Galang Press.
5. Evy. 2008. Waspadai Depresi pada Lansia. http://kesehatan.kompas.com/read/
2014/01/29/1912429/ diakses tanggal 20 Februari 2014.
6. Lubis, N.L. 2009. Depresi Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
7. Santoso. 2009. Memahami Krisis Lanjut Usia. Gunung Mulia: Jakarta.
8. Stanley dan Beare. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik ed. 2. Alih bahasa
Juniarti dan Kurnianingsih. Jakarta: EGC.
9. Suardiman, S. P. (2011). Psikologi usia lanjut. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press
10. Sugiyono. (2007). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung :
Alfabeta.

Critical aparsial Evidance base Nursing Page 21