Anda di halaman 1dari 2

Pada praktikum kali ini, telah dilakukan pembuatan sediaan injeksi infus ammonium

klorida. Infus adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh melalui sebuah jarum ke
dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat
makanan dari tubuh Dalam pembuatan sediaan injeksi ini, digunakan ammonium klorida
sebagai bahan aktif dari sediaan. Amonium klorida diindikasikan sebagai pengasam urin dan
memperbaiki alkalosis metabolism. Eksipien yang digunakan pada sediaan ini berupa metil
paraben, propil paraben, etil alcohol, dan WFI.
Metil paraben dan propil paraben berfungsi sebagai pengawet untuk mencegah
pertumbuhan mikroba pada sediaan. Etil alcohol berfungsi sebagai peningkat kelarutan dan
anti mikroba, digunakan etil alcohol karena ammonium klorida, larut dalam 50 bagian air, dan
larut dalam 10 bagian etil alcohol. Sedangkan natrium hidroksida berfungsi dalam mengatur
pH sediaan untuk berada dalam rentang sama seperti cairan tubuh yaitu 7,4.
Berdasarkan perhitungan tonisitas, diketahui jika sediaan infus ammonium klorida
1,5% yang akan dibuat bersifat hipertonis. Artinya, tidak diperlukan penambahan natrium
klorida sebagai tonicity adjustment. Pada proses formulasi sediaan, metode sterilisasi yang
digunakan untuk bahan-bahan berupa sterilisasi dengan uv untuk ammonium klorida, metil
paraben, propil paraben. Dan digunakan metode sterilisasi akhir untuk sediaan yang telah
dibuat.
Untuk memastikan sediaan yang dihasilkan memenuhi persyaratan suatu sediaan
parenteral, perlu dilakukan pengujian lanjutan terhadap sediaan. Uji-uji seperti keseragaman
kadar, keseragaman volume, uji sterilitas, uji pirogenitas, uji pH, dan kebocoran harus
dilakukan guna memastikan sediaan dapat diaplikasikan kepada pasien.
Prinsip dari penetapan pH adalah dengan menggunakan kertas pH meter dicocokkan
pada indikator yang tertera, sediaan infus haruslah memiliki PH sama seperti cairan
tubuh/isohidris yakni 7,4.
Prinsip dari pengujian kebocoran yaitu membalikkan 90° wadah sediaan, dan dilihat
apakah terjadi kebocoran melalui tutup botol atau tidak.
Prinsip dari pengukuran volume sediaan yaitu mengukur volume isi sediaan pada
tabung ukur, volume sediaan haruslah sama dengan volume total ditambah 2%.
Uji pirogenitas bertujuan untuk mendeteksi apakah terdapat senyawa penyebab
pyrogen/ senyawa yang menyebabkan kenaikan suhu tubuh pada sediaan.