Anda di halaman 1dari 16

A.

PENGKAJIAN FUNGSI FISIK

Mayoritas pasien dengan penyakit stadium lanjut dan terminal memiliki


masalah terkait kemampuan unyuk melakukan kegiatan rutin setiap hari dalam
berbagai tahan perkembangan penyakitnya (Bruera, higg()inson, von Gunten &
Morita, 2015)

Pengkajian fungsi fisik dalam perawatan suportif dan perawatan paliatif untuk
mengetahui kondisi dan status fungional memungkinkan adanya hubungan dengan
kondisi seperti nyeri berat yang tiba-tiba, delirium, dispnea dengan usaha yang
minimal, kerusakan syaraf dan bersifat ireversibel. Olehnya itu pengkajian fungsi fisik
harus diintegrasikan dengan pemahaman mengenai status penyakit utama,
pengontrolan gejala dan keluhan, dan distress psikososial. Pengkajian terkain gejala
spesifik nyeri, dispnea, fatik dan delirium akan di jelaskan pada bagian berikut.

1. Pengkajian Nyeri

Pengkajian nyeri secara akurat serta mengkomunikasikan diagnosis terkait


nyeri serta merencanakan tindakan atau penanganan nyeri pada tim paliatif
merupakan hal yang terpenting untuk dapat mengelolah nyeri dengan efektif terutama
pada pasien paliatif(Hughes, 2012)

Model pengkajian nyeri akan lebih baik dilakukan saat melakukan wawancara
terkait nyeri yang dialami pasien, karena terkadang pasien mengalami kesulitan untuk
menjelaskan atau menggambarkan kondisi nyeri yang dirasakannya.

Riwayat pasien, melaporkan dan menceritakan sendiri tentang nyeri dialami


oleh pasien merupakan standar yang terbaik dalam mendiagnosa nyeri terutama pada
pasien yang masih mampu berkomunikasi. Lebih lanjut Simon(2008 dalam Hughes,
2012) menyatakan bahwa kuesioner nyeri metode SOCRATES dapat digunakan
untuk mengungkap riwayat nyeri pasien paliatif.

 Site Of Pain: di daerah mana nyeri dirasakan? Apakah ada nyeri otot atau sendi.
 Onset: kapan nyeri terjadi, bagaimanan nyeri tersebut, kondisi apa yang dapat
memicu munculnya nyeri, apakah nyerinya berubah dalam kurun waktu selama
kejadian.
 Carakter: bagimana tipe nyeri dirasakan, apakah seperti rasa tertusuk, teriris, gatal,
panas, terbakar, tertekan. Bagaimana pola nyerinya, apakah nyeri terjadi secara
terus menerus atau hilang timbul.
 Radiasion: apakah nyeri menyebar kebagian tubuh lainnya, daerah apa?
 Associated Features: apakah saat nyeri terjadi kadang diserta dengan gejala yang
lain seperti mual, muntah.
 Timeing atau Pattern: apakah nyeri semakin parah pada waktu-waktu tertentu,
apakah nyeri terjadi saat melakukan aktifitas seperti bergerak atau buang air kecil.
 Exsacerbating and Rreliefing Faktors: apa saja yang membuat nyeri semakin
memburuk atau nyeri menjadi lebih berkurang.
 Severiti: apakah derajat atau sekala nyeri mengalami perubahan selama kurun
waktu kejadian.

Beberapa instrumen yang dapat digunakan untuk menkaji nyeri pasien paliatif,
yang mana instrumen tersebut juga mencakup bagaimana seorang perawat dapat
mengalih informasi dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Variasi instrumen yang
tersedian mulai dari reting yang sederana sampai reting yang panjang, dan instrumen
pengkajiann nyeri multidimensi(Rosser & Walsh, 2014).

Instrumen yang sederhana dapat digunakan oleh petugas atau perawta pemula
sedangkan instrumen pengkajian nyeri multidimensi hanya sering digunakan oleh
petugas atau perawat spesialis pariatif yang telah pengalaman menangani pasien
dengan nyeri yang kompleks, yang mana kadang nyeri tersebut sulit untuk dikelola.
Beberapa contoh instrumen pengkajian nyeri dengan mengukan skala reting, yaitu:

A. The Numerical Reting Scale(NRS)

Tidak Nyeri
Nyeri Sangat
hebat
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
B.The Visual Analog Scale (VAS)
Pasien akan ditanya mengenai perasaan nyeri yang di alaminya pada suatu
garis lurus dengan panjang sekitar 10cm, dari tidak ada nyeri hingga pada sisi ujung
lainnya berupa nyeri sangat hebat.

Tidak nyeri-------------------------------------------------------------------Nyeri sangat hebat

C. The Vebral Reting Score(VRS)

Pasien akan ditanya untuk menetapkan tingkat atau level nyeri yang di
alaminnya dengan mengunakan daftar kata-kata yang mengambarkan adanya
peningkatan intensitas nyeri.

0 Tidak nyeri
1 Nyeri ringan
2 Nyeri sedang
3 Nyeri berat

D. Body Chart
Body chart juga dapat digunakan untuk mengkaji nyeri. Penggunaan body
chart memberikan kesempatan pada pasien untuk menetapkan dan menunjukkan
tempat kejadian nyeri yang dialaminya. Hal tersebut sangat penting mengingat bahwa
beberapa pasien dapat memiliki nyeri lebih dari satu tempat, sehingga penggunaan
body chart sangat membantu perawat untuk mengidentifikasi dan memahami daerah
yang nyeri yang pasien sampaikan selama proses pengkajian. Kebanyakan pasien
dapat dengan baik mengidentifikasi lokasi nyeri yang dirasakannya pada body chart
sehingga dengan demikian pasien juga akan terlihat secara aktif selama pengkajian
(Rosser & Walsh, 2014).
Berikut contoh body chart yang digunakan untuk pengkajian nyeri.

Berikut beberapa instrument pengkajian nyeri pada pasien dewasa dengan kategori
khusus yaitu:
Instrument Kelompok Khusus
Assessment of Discomfort in Dementia Demensia
(ADD)
Behavioural Pain Scale (BPS) Intensive care, Dewasa yang tidak sadar
Checklist of Nonverbal Pain Indicators Demensia
(CNPI)
Critical Care Pain Observation Tool Intensive care, dewasa yang tidak sadar
(CPOT)
Doloplus 2 Demensia, perawatan paliatif
Nursing Assistant-Administered Demensia
Instrument to Assess Pain in Demented
Individuals (NOPPAIN)
Pain Assessment Scale for Seniors with Demensia
Limited Ability to Communicate
(PACSLAC)
Pain Assessment in Advanced Dementia Demensia
(PAINAD)

2. Pengkajian Dispnea
Berbagai alat ukur yang tervalidasi dapat digunakan untuk menilai dispnea
baik secara kuantitatif maupun kualitatif pada pasien paliatif. Instrument tersebut
mulai dari yang menggunakan skala ordinal dengan menggunakan acuan single-item
seperti visual analog scale (VAS), numerical rating scale (NRS) dimana angka 0
menunjukkan tidak mengalami dispnea sedangkan angka 10 menunjukkan dispnea
yang sangat berat atau sangat buruk (Kamal, Maguire, Wheeler, Currow, &
Abernethy, 2011).
Modified Borg scale digunakan untuk menilai intensitas, sedangkan untuk
menilai status fungsional terkait dispnea maka dapat digunakan The Medical Research
Council Dyspnea Scale, dan Baseline Dyspnea Index (BDI). Selain yang
menggunakan skala ordinal, skala pengukuran dispnea ada juga yang menggunakan
skala kategorik seperti The Memorial Symptom Asessment Scale dan Edmonton
Symptom Asessment Scale (ESAS).
Tanak dkk mengembangkan instrument pengukuran dispnea terkhusus pada
pasien kanker yang dikenal dengan nama The Cancer Dyspnea Scale. Dimana
instrument tersebut terdiri dari 12 item pertanyaan yang mencakup berbagai dimensi
terkait dispnea seperti usaha untuk beradaptasi dengan dispnea, kecemasan dan rasa
ketidaknyamanan. Sehingga instrument tersebut juga disebut sebagai
multidimensional dispneau scale.
Sekalipun The Cancer Dyspnea Scale merupakan instrument yang kompleks
namun instrument tersebut belum di aplikasi dalam tatanan klinis. Akan tetapi dalam
penelitian The Cancer Dyspnea Scale digunakan untuk membantu mengidentifikasi
penyebab dispnea, dan menilai adanya perubahan pada kriteria hasil dari proses
pengobatan (Kamal, Maguire, Wheeler, Currow Abernethy, 2011).
The Respiratory Distress Observation Scale (RDOS) merupakan instrument
yang valid dan reliabel untuk mengukur dan menilai tanda-tanda yang konsisten
ditemukan pada saat dispnea terjadi, intensitas dan respon terhadap pengobatan
terutama pada pasien yang tidak mampu melaporkan sendiri mengenai kondisi
dispnea yang dialaminya (Pantilat, Anderson,Gonzales & Widera, 2015).
The RDOS adalah instrument menggunakan nilai skala ordinal pada 8 variabel
yang digunakan untuk menilai derajat dispnea. Setiap variabel dinilai dari 0 samapi 2,
lalu seluruh skor di total untuk menetukan derajat dispnea. Semakin tinggi skor dari
hasil pengukuran mengindikasikan semakin tinggi pula intensitas distress pernapasan
pasien. The RDOS dapat diaplikasikan pada

semua kasus pasien yang memiliki risiko terjadinya distress pernapasan yang
mana pasien tersebut tidak mampu melaporkan kondisi dispneanya secara akurat,
termasuk pasien yang mendapatkan intervensi ventilasi mekanik baik secara invasive
maupun non invasive. Instrument RDOS sering digunakan di fasilitas kesehatan
rumah sakit.
Beberapa tanda-tanda fisik yang sering diobservasi pada instrument RDOS
yang mana tanda-tanda tersebut mengindikasikan adanya distress perna- pasan seperti
takikardia, takipnoe, restlessness, penggunaan otot-otot bantu pernapasan, pola
pernapasan paradoks, adanya suara seperti mendengkur pada akhir ekspirasi, dan
ekspresi wajah yang menunjukkan adanya kecemasan. Berikut ini gambaran variabel
yang diobservasi pada RDOS yaitu:

Variabel Skor Total


0 1 2
Denyut nadi per menit < 90 kali per 90-109 kali per ≥ 110 kali per
menit menit menit
Frekuensi perna pasan ≤ 18 kali per 19-30 kali per >30 kali per
per menit menit menit menit
Restlessness Kadang-kadang, Melakukan
pergerakan yang tidak Tidak melakukan gerakan yang
bermakna atau tujuan pergerakan yang lebih sering
yang minim
Pola pernapasan Tampak ada
paradoks; perut Tidak - pergerakan
bergerak ke dalam perut
saat inspirasi
Penggunaan otot otot
P bantu pernapasan:
etun Klavikula tertarik Tidak Sedikit terangkat Nampak jelas
juk keatas saat inspirasi. terangkat
pen Suara seperti
ggu mendengkur di akhir
naa ekspirasi
n Suara seperti
instr mendengkur di akhir Tidak - lya
ume ekspirasi
nt Cuping hidung Tidak - lya
RD
OS Ekspresi ketakutan -
yait atau cemas Tidak Iya
us:
Total
R
D
O
S tidak dapat digunakan pada pasien yang mampu melaporkan kondisi
dispneanya.
 RDOS merupakan instrument pengkajian untuk pasien dewasa.
 RDOS tidak dapat digunakan bila pasien mengalami paralisis atau pasien yang
mendapatkan obat agen penghambat neuromuscular
 Hitung frekuensi denyut nadi dan pernapasan dalam satu menit, bila perlu lakukan
secara auskultasi.
 Suara mendengkur kemungkinannya dapat pula didengar melalui auskultasi pada
pasien yang dilakukan intubasi. Perhatikan ekspresi wajah ketakutan seperti
berikut.
Dispnea, serupa dengan nyeri, dimana hanya dapat dirasakarn oleh pasien.
Pengkajian yang adekuat haruslah berdasarka pada laporan pasien terhadap kondisi
dispnea yang dialaminya (Booth, Burkin, Moffat & Spathis, 2014). Selama
pengkajian, perawat harus memberikan kesempatan yang cukup pada pasien untuk
menceritakan mengenai perasaannya terkait dispnea yang dialaminya. Hal tersebut
selain untuk menggali informasi lebih detail juga dapat bernilai terapi terhadap pasien
itu sendiri. Selain itu, perlu juga diperhatikan saat pasien menceritakan kondisi
dispneanya, karena beberapa pasien justru merasakan kondisi pernapasannya semakin
memburuk disaat menyampaikan tentang dispnea yang dialaminya (Booth, Burkin,
Moffat & Spathis, 2014).

Beberapa penyebab dispnea yang diidentifikasi yaitu sebagai berikut:


Respiratory/Pernapasan

- Akut Pneumonia, emfisema, pneumothoraks


- Kronis COPD, Asma
Sepsis; Bronkiektasis, cystic fibrosis
Kanker, kanker paru, mesothelioma,
intrathoracic metastases
Fibrosis
Kelemahan otot-otot pernapasan akibat
kaheksia
Penyakit neuromuskular, motor neurone
disease, muscular distropi
Penyakit skeletal; kelainan diding atau
bentuk dada
Pulmonary Vascular Pulmonary thromboembolism, hipertensi
pulmonal
Cardiac/Jantung
- Akut Penyakit jantung koroner
- Kronis Heart failure, aritmia seperti atrial
fibrilasi

Psikologis Kecemasan, depresi dan hiperventilasi


Anemia
Kakeksia

3. Pengkajian Fatik

Pengkajian fatik dengan memperhatikan aspek atau dimensi fisik, kognitif dan
spirit merupakan hal yang sangat dasar (Paice, 2014). Hingga saat ini belum ada
kesepakatan mengenai definisi fatik, namun fatik didasarkan pada definisi pasien
maupun deskripsi pasien tentang kondisi fatik yang dialaminya yang mana hal
tersebut dapat diukur. Beberapa istilah yang sering digunakan oleh pasien untuk
menggambarkan kondisi fatik yang dialaminya seperti hilang energi atau tenaga untuk
melakukan aktifitas ringan, kelemahan dan kelelahan.

Pada pasien kanker stadium lanjut, fatik menjadi gejala yang sering
dikeluhkan dan sebagai penyebab terjadi kelemahan dan ketidakberdayaan pada
pasien, dimana berdasarkan studi yang dilakukan ditemukan bahwa kejadian fatik
pada pasien kanker sekitar 60-90% (Cherny, Fallon, Kaasa, Portenoy & Currow,
2015). Beberapa kriteria yang digunakan untuk menetapkan diganosis fatik yang
berhubungan dengan kanker yaitu :

 Gejala fatik yang dirasakan hampir setiap hari dalam kurun 2 minggu terakhir.
 Menyatakan akan adanya kelemahan yang bersifat umum atau tungkai terasa
berat.
 Kemampuan berkonsentrasi ataupun perhatian semakin berkurang.
 Menurunnya motivasi atau keinginan untuk melakukan kegiatan rutin.
 Insomnia atau hypersomnia.
 Pasien merasa tidak segar saat terbangun dari tidur.
 Mengalami kesulitan untuk mengatasi kondisi ketidakaktifan.
 Ditandai dengan reaktif emosional yang mengakibatkan pasien merasa fatik
seperti kesedihan, frustasi, dan iritabilitas.
 Mengalami kesulitan untuk menyelesaikan aktifitas rutin rumah tangga.
 Mengalami masalah terkait memeori jangka pendek.
 Merasakan ketidaknyamanan dalam beberapa jam setelah melakukan latihan
fisik atau aktivitas.

Gejala-gejala tersebut di atas menjadi penyebab yang cukup signifikan secara


klinis terhadap kejadian distress atau terhambatnya kemampuan untuk melakukan
interaksi sosial, melakukan pekerjaan atau hambatan fungsional lainnya.

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengkaji dan mendiagnosis


fatik. Berbagai instrument telah dikembangkan untuk mengukur atau menilai kondisi
fatik pada pasien dewasa dengan tingkat validitas dan reabilitas yang beragam.
Instrument pengukur fatik seperti The Multidimensional Assessment of fatique, the
Symptom Distress Scale, the Fatique Scale, the Fatique Observation Checklist, dan
Visual Analog Scale untuk Fatique. Dalam tatanan klinik, penggunaan skala rating
secara verbal merupakan metode yang sangat efisien. Dimana tingkat atau derajat
fatik akan dengan mudah dan cepat untuk dikaji dengan menggunakan kriteria 0 yang
berarti tidak fatik dan kriteria 10 yang berarti fatik berat.

Tidak Fatik
fatik berat

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam melakukan pengkajian fatik


yaitu menelusuri karakteristik fisik seperti derajat fatik yang dialami pasien, kapan
pasien mulai merasakan fatik, bagaimana durasi kejadian fatik, bagaimana pola harian
kondisi fatik, faktor-faktor apa saja yang dapat meningkatkan atau menjadikan fatik
semakin parah atau memburuk, faktor-faktor apa saja yang dapat mengurangi dan
meringankan kondisi fatik, adakah distress yang terjadi sebagai akibat kejadian fatik,
dan bagaimana dampak fatik terhadap kehidupan keseharian pasien (Bruera,
Higginison, von Gunten & Morita, 2015).

Beberapa faktor yang dapat mengakibatkan atau mempengaruhi kejadian fatik yang
harus diketahui, yaitu :

Faktor personal Usia terutama usia semakin bertambah, status


perkawinan, status menopause, income dan jaminan
kesehatan.
Faktor psikologis Status mental dan emosional seperti depresi, ketakutan,
kecemasan, distress, dan konflik.
Budaya dan etnik, situasi atau kondisi kehidupan.
Faktor yang berhubungan Jumlah dan kedekatan atau keterkaitan dengan para
dengan perawatan pendamping, penjaga orang sakit.
Perhatian para petugas kesehatan yang merawat.
Faktor yang berhubungan Stadium atau perkembangan penyakit, penyakit
dengan penyakit penyerta, anemia, nyeri, dipsnea, kontinensia, pola tidur
dan hal yang menghambat tidur.
Perubahan status nutrisi seperti penurunan berat badan,
kaheksia, dan ketidakseimbangan elektrolit.
Faktor yang berhubungan Berbagai efek yang berhubungan dengan pengobatan
dengan pengobatan seperti pembedahan, kemoterapi, radiasi (Reaksi kulit,
perubahan tingkat energi sewaktu-waktu, perubahan
pola BAB dan BAK, nyeri).
Isu terkait pengobatan seperti efek samping obat,
polifarmasi, perubahan sensasi penegcapan.
Perubahan fisiologis yang bersifat permanen.
4. PENGKAJIAN DELIRIUM

Delirium merupakan salah satu masalah yang terikat dengan gangguan mental
yang sering ditemukan pada pasien yang mengalami perawatan di rumah sakit. Kejadian
delirium sangat tinggi pada kelompok kasus seperti Cancer dan AIDS stadium lanjut
terutama pada kondisi sakit termal dan mminggu-minggu terakhir kehidupan, dimana
prevelensi kejadian berkisar sekitar 20% - 80% (Bruera, Higginson, von Gunten & Moria,
2015).

Kejadian delirium di ruang perawat intensif masih menjadi kondisi yang sulit
untuk dikenal atau dideteksi secra dini, dan sekaligus menjadi kondisi yang salah
dipahami baik doktr maupu perawat (Boot, 2012). Prevelensi kejadian delirium pad
pasien di ruag perawatan intensif sekita 70%-87% (Close dan Long, 2012). Lebih lanjut,
menjelaskan bahwa delirium merupakan komplikasi yang paling lazim ditemukan pada
pasien dengan penyakit stadium lanjut atau tahap akhir termal, dimana angka kejadian
mencapai 85% terutama pad apasien dengan inggu-minggu terakhir kehidupan.

Gambaran klini delirium :

1. Adanya perubahan tingkat kesadaran dan kewaspadaan.


2. Adanya perubahan tingkat perhatian.
3. Secara klinis kejadian bisa berlangsung secara cepat dan berfluktuasi, dan timbulnya
gejala yang tiba itba dan tidak dapta diperkirakan atau diharapkan.
4. Disorirentasi.
5. Peruahan kognitip seperti gangguan memori, apraksia, agnosia, disfungsi visual
sepsial, gangguan atau perubahan dalam berbahasa.
6. Terjadinya peningkatan atau penurunan aktivitas motoric.
7. Terjadinya perubahan siklus tidur dan terjaga.
8. Gejala terkait mood epert depresi dan mood labil.
9. Gangguan presepsi seperti halusinasi, ilusi, dan delusi.
10. Proses piker yang tidk terstruktur dan teroganisir dengan baik.
11. Berbicra dnegan tidak koheren.
12. Kemungkinan ditemuka gejala terkait gangguan sraf seperti asteriksis, miokklunus,
tremor, dan terjadi perubahan tonus otot.

Identifikasi delirium harus berdasarkan observasi di tempat tidur pasien dan informasi
dari pihak keluarga dan penjaga orang sakit. Invouye menjelaskan bahwa adiagnosis
delirium harus didasarkan monitoring pasien di tempat tidur yang dilakukan denga cermat
dan teliti yang mengacu pada 4 gambaran umum delirium yaitu kejadian yan sifatnya akut
dan berfluktuasi, menurunnya perhatian, proses piker yang tidak teroganisir, perubahan
tingkat kesadaran (close dan long, 2012).

Instrument skrinning sering digunakan untuk mengidentifikasi adanya gangguan


kognitif pasien, namun skrinning tersebut tidak bertujuan untuk mendiagnosis delirium,
akan tetapi untuk mengidentifikasi adanya kondnisi lain yang menyerupai seperti
demensia. The NEECHAN Confusion scale sering diguanakan sebagai instrument
pengakjian yang sifatya cepat dan seklaigus monitor kondisi konfsui akut pada pasien
lanjut usia. Selain itu The Nursing Delirium screening scale juga dapat digunakkan untuk
memonitor gejala. Instrument tersebut dapat digunakkan untuk memonitor gejala.
Instrument tersebut tediri dari 5 item pertanyaan, sehingga lebih mudah digunakan dan
akurat. (close dan long 2012).

Ketersediaan instrument pengkajian yang valid merupakan ;komponen kunci dari


strategi untuk medeteksi delirium pada pasien yang dirawat dirumah sakit, panti
atau[unruang intensif seperti ICU. The Confusion Assasment ethod (CAM) merupakan
instrument yang di desai untuk memudahkan tenaga kesehatan professional non psikiatrik
untuk mengidentifikasi dan mengenal delirium scara cepat dan akurat baik ditatanan
klinis maupun penelitian (close dan long, 2012). The CAM digunakan sebagai instrument
utama untuk menskrinning para lanjut usia dirumah perawatan intensif mupun panti.
Namu untuk diruang perawatan intensif digunakkan the CAM yang telah dimodifikasi
untuk setting perawatan intensif yaitu CAM-ICU.

Berdasarkan studi kohor yang dilaukakn oleh National Institute for Clinical
helath and Excellence (NICE) menyimpulkan bahawa CAM-ICU merupakan instrument
yang sangat valid dan reliable sebagai instrument diagnosis delirium untuk pasien
perawatan intensif (boot, 2012). Implementasi CAM-ICU mulai dilakukan pada tahun
2011, dimana pada saat itu CAM-ICU merupakan usulan dari tim keperwatan kritis
interdisiplin yang mana pengkajian delirium di tempat tidur dilakukan oleh perawat ICU.
B. PENGKAJIAN PSIKOLOGIS

Sekalipun gangguan mood seperti depresi dan kecemasan merupakan gejala terkait
psikiatri yang paling sering terjadi pada pasien kanker stadium lanjut, akan tetapi gangguan
mood tersebut sering luput dari pengawasan sehingga tidak terdiagnosis, olehnya itu
gangguan mood sering tidak di intervensi. Akan tetapi saat ini berbagai instrument
pengkajian telah dikembangkan sehingga dapat meningkatan tingkat akurasi dari skrining
yang dilakukan terhadap masalah depresi dan kecemasan (Yenurajalingam & Bruera,2016)

Kecemasan merupakan gejala yang lazim ditemukan pada pasien terutama mereka
yang menderita penyakit yang mengancam kehidupan dan kiwa, dimana ditemukan 25% pada
pasien kanker dan 50% pada pasien COPD dan CHF (Rosser&Walsh,2014). Kecemasan yang
tidak terdiagnosis dan tidak di intervensi dapat menjadi lebih berat dan juga menyebabkan
ketidakberdayaan. Sedangkan kejadian depresi ditemukan sekitar 20-30% pada pasien
desetting paliatif. Sekitar 80% dari kasus depresi tidak tertangani dengan baik. Beberapa hal
penting yang perlu diperhatikan mengapa penting melakukan identifikasi pada pasiem depresi
yaitu :

 Lebih dari 80% pasien depresi memberikan respon positif terhadap pengobatan.
 Depresi yang tidak tertangani dapat memicu oasien menarik diri dari kehidupan
sosial sehingga terjadi isolasi sosial.
 Mencegah pasien dari ketidakmampuan pasien untuk menyelesaikan urusan atau
kegiatannya.
 Depresi yang tidak tertangani juga dapat mempengaruhi hejala yang lainnya baik
fisik maupun psikis.
 Gejala yang dialami pasien dapat menjadi lebih buruk dibandingkan dengan
kondisi penyakit pasien itu sendiri (Rosser & Walsh, 2014).

The Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) merupakan instrument yang
cukup singkat dan mudah digunakan untuk mengukur tingkat distress psikologi pasien.

The HADS instrument sangat sensitive terhadap adanya perubahan pad pasien baik
yang akibat dari proses penyakit itu sendiri maupun sebagai respon dari intervensi medis
maupun intervensi psikologis. Instrument The HADS terdiri dari 2 kategori skala dengan
total 14 item pertanyaan yang mana masing-masing kategori yaitu kecemasan 7 item dan
depresi 7 item. Setiap item pertanyaan terdiri dari 4 poin skala penilaian yang mana skala
tersebut untuk menentukan derajan distress yang dialami oleh pasien pada minggu terakhir
(Yenurajalingam & Bruera,2016). Selain The HADS, Distress Termometer juga dapat
digunakan untuk menilai tingkat distress pasien. Distress Thermometer merupakan
instrument yang menggunakan skala visual analog, sehingga penggunanya menjadi lebih
mudah terutama pada pasien paliatif (Zappetella,2012).

Cara menggunakan distress termometer yaitu : pasien diminta untuk menentukan skor
atau nilai yang tertera pada thermometer tersebut yang mana skor atau milai terseubut
menggambarkan derajat distress yang dialami oleh pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Dahlin, C., Coyne, P. J., & Ferrell, B. R. (2016). Advanced practice paliative nursing.
Oxford University Press. New York, USA. P.222.

Pantilat, S. Anderson, W., Gonzales, M., & Widera, (2015). Hospital-Based Sue medicine; a
practical, evidence-based approach. Wiley Blackwell. New Jersey USA p.39
Pantilat, S., Anderson, W, Gonzales, M., & Widera, E. (2015). Hospital-Based USA.
palliative medicine; a practical, evidence-based approach. Wiley Blackwell. New Jersey,
USA.p.39
Bourke, S. J.,& Peel, E.T. (2013). Integrated palliative care of respiratory disease. Springer.
London, UK. p.21.