Anda di halaman 1dari 5

Analisis Bahan Baku untuk Pembuatan Ban

1. Judul Percobaan : A. Penetapan Bilangan Penyabunan


B. Penetapan Bilangan Iod

2. Tujuan : Mampu menetapkan bilangan penyabunan dan bilangan iod


pada sampel asam stearat secara titrasi.

3. Prinsip Percobaan :
A. Penetapan Bilangan Penyabunan
Sampel disabunkan dengan KOH alkohol berlebih akan menghasilkan
gliserol dan sabun. Kelebihan KOH dititar dengan HCl menggunakan indikator
PP dengan titik akhir dari merah muda menjadi tidak berwarna. Jumlah KOH
yang dibutuhkan untuk menyabunkan sampel dapat diketahui dengan penetapan
blanko.
B. Penetapan Bilangan Iod
Sampel direaksikan dengan kloroform ,elalui penambahan I2 berlebih
sehingga akan terjadi pemutusan ikatan rangkap (adisi). Reaksi adisi ini
berlangsung dalam suasana gelap. Sisa I2 dititar dengan Na2S2O3 dengan
penambahan indikator kanji dengan titik akhir warna dari kanji menghilang.
Dialkukan pengerjaan blanko yang berfungsi untuk mengetahui jumlah I2
sebelum bereaksi dengan contoh.

4. Reaksi
A. Percobaan Bilangan Penyabunan
 Reaksi Standardisasi HCl
 Reaksi Bilangan Penyabunan

KOH + HCl -> KCl + H2O


B. Percobaan bilangan iod
 Reaksi standardisasi Na2S2O3
 Reaksi Bilangan Iod

5. Dasar Teori :

Ban adalah material komposit, biasanya dari karet alam / karet isoprena yang
digunakan untuk ban truk dan ban mobil penumpang seperti pada sabuk tapak, sidewall,
carcassply, dan innerliner. Serbuk-serbuk ban bekas adalah suatu jaringan tiga dimensi atau
suatu produk ikatan silang dari karet alam dan karet sintetis diperkuat dengan carbon black
yang menyerap minyak encer dari semen aspal selama reaksi yang dapat mengalami
pengembangan (Swelling) dan pelunakan (Softenning) dari serbuk ban bekas. Ban terdiri dari
bahan karet atau polimer yang sangat kuat diperkuat dengan serat-serat sintetik dan baja yang
sangat kuat yang dapat menghasilkan suatu bahan yang mempunyai sifat-sifat unik seperti
kekuatan tarik yang sangat kuat, fleksibel, ketahanan pergeseran yang tinggi (Warith, 2006).

Ban adalah material komposit, biasanya dari karet alam / karet isoprena yang
digunakan untuk ban truk dan ban mobil penumpang seperti pada sabuk tapak, sidewall,
carcassply, dan innerliner. Sebuah ban mengandung 30 jenis karet sintesis , delapan jenis
karet alam ,delapan jenis karbon hitam, tali baja ,polyester ,nilon ,manik-manik baja ,silika
dan 40 jenis bahan kimia ,minyak dan pigmen. Enviromental Protection Agency (EPA)
mengidentifikasikan bahwa di dalam sebuah ban mempunyai bahan campuran dan material
seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.4 :

Table 2.4 Bahan-Bahan Dalam Ban


No Nama Bahan No Nama Bahan
1 Acetone 15 Pigment
2 Nickel 16 Manganese
3 Aniline flame reterdants 17 Polyester
4 Phenol 18 Chloroethane isobutyl
5 Polycyclic aromatic 19 Methyl
hydrocarbons
6 Barium 20 Cobalt
trichloroethylene
7 Benzothiazole 21 Arsenic
8 Methyl ethyl ketone 22 Isoprene
9 Styrene – butaden 23 Benzene
10 Chromium toluen 24 Lead
11 Copper 25 Cadmium
12 Halogenated 26 Mercury
13 Nylon 27 Rayon
14 Latex 28 Naphthalene
(Malindo, Eri, et al.2015)

Komponen karet merupakan campuran karet dengan bahan-bahan kima dan bahan
pengisi dengan komposisi tertentu. Bahan-bahan tersebut diantaranya bahan pengaktif, bahan
pencepat, bahan penggiat, bahan anti oksidan dan bahan pemvulkanisasi.

 Bahan Pengaktif
Bahan pengaktif (Activator) adalah bahan yang dapat meningkatkan kerja dari bahan
pemercepat. Umumnya bahan pemercepat tidak dapat bekerja baik tanpa bahan pengaktif.
Bahan pengaktif yang bisa digunakan adalah ZnO, asam stearat, PbO, MgO dan sebagainya.
Campuran bahan pengaktif, bahan pemercepat dan belerang (S) disebut sistem vulkanisasi
dari kompon (vulcanising system of the compound)(Spelman, 1998).
 Bahan Pemercepat

Bahan pemercepat (Accelerator) berfungsi untuk membantu mengontrol waktu dan


temperatur pada proses vulkanisasi dan dapat memperbaiki sifat vulkanisasi karet. Beberapa
jenis bahan pemercepat antara lain bahan pemercepat organik. Misalnya, Marcapto
Benzhoathizole Disulfida (MBTS), Marcapto Benzoathizole (MBT), dan Diphenil Guanidin
(DPG), dan bahan pemercepat anorganik, misalnya Karbonat, Magnesium, Timah Hitam, dan
lain-lain (Spelman, 1998).
 Vulkanisasi

Proses vulkanisasi adalah proses irreversible pada keadaan suhu dan tekanan atmosfer
standar. Vulkanisasi adalah proses termokimia dengan menggabungkan sulfur dan ikatan
silang sulfur ke dalam suatu campuran molekul-molekul karet dalam meningkatkan elastisitas
dan sifat-sifat yang lain yang diinginkan sesuai pembuatan hasil karet (Al-malaika, 1997).

 Bahan Penstabil

Bahan penstabil (Stabilizer) berfungsi untuk mempertahankan produk dari kerusakan,


baik selama proses dalam penyimpanan maupun aplikasi produk. Ada 3 jenis bahan penstabil
yaitu : Penstabil panas (heat stabilizer), Penstabil terhadap sinar ultra violet (UV Stabilizer),
dan Antioksidan. UV Stabilizer berfungsi mencegah kerusakan barang plastik akibat
pengaruh sinar matahari. Hal ini dikarenakan sinar matahari mengandung sinar ultra violet
dengan panjang gelombang 3000-4000 Å yang mampu mencegah sebagian besar senyawa
kimia terutama senyawa organik (Steven, 2001).

Bilangan iod adalah jumlah (gram) iod yang dapat diserap oleh 100 gram minyak.
Bilangan iod dapat menyatakan derajat ketidakjenuhan dari minyak atau lemak. Semakin
besar bilangan iod maka derajat ketidakjenuhan semakin tinggi. Asam lemak yang tidak
jenuh dalam minyak dan lemak mampu menyerap sejumlah iod dan membentuk senyawa
yang jenuh. Besarnya jumlah iod yang diserap menunjukkan banyaknya ikatan rangkap atau
ikatan tidak jenuh. Dalam pelaksanaannya, untuk menentukan bilangan iod dari suatu minyak
dilakukan titrasi iodometri dengan 4 cara yaitu cara Wijs, Hanus, Kaufmann dan Von Hubl
(Ketaren, S. 2005).

Bilangan penyabunan adalah jumlah miligram KOH yang di perlukan untuk


menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Apabila sejumlah sampel minyak atau lemak
disabunkan dengan larutan KOH berlebih dalam alkohol, maka KOH akan bereaksi dengan
trigliserida, yaitu tiga molekul KOH bereaksi dengan satu molekul minyak atau lemak.
Larutan alkali yang tertinggal ditentukan dengan titrasi menggunakan HCL sehingga KOH
yang bereaksi dapat diketahui. Besarnya jumlah ion yang diserap menunjukkan banyaknya
ikatan rangkap atau ikatan tak jenuh , ikatan rangkap yang terdapat pada minyak yang tak
jenuh akan bereaksi dengan iod. Gliserida dengantingkat ketidak jenuhan yang tinggi akan
mengikat iod dalam jumlah yang lebih besar. ( Herina, 2002)
6. Cara Kerja
7. Data Pengamatan
8. Perhitungan

9. Pembahasan

10. Dasar Teori

Al-Malaika., (1997), Reaktif Modifiers of Polimer, Blackie Academic and


Professional,London.

Herlina, N., Ginting M.H.S. (2002). Lemak dan Minyak. Fakultas Teknik Jurusan
Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara.

Ketaren, S. 2005. Minyak dan Lemak Pangan. Edisi pertama Jakarta: Universitas
Indonesia.

Malindo, Eri, dkk. 2015. Makalah Teknologi Karet. Fakultas Teknik Universitas Riau.
Pekanbaru.

Spelman, R.H. 1998. General Tire and Rubber Company.Prentice Hall. Micigan
University.

Stevens, M.P. (2001) Kimia Polimer. PT. Pradnya Paramita, cetakan pertama,
Jakarta.

Warith, M.A. dan Rao S.M., 2006, Predicting The Compressibility Behaviour of
Tire Shred Samples for Landfill Applications.