Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

TENTANG MEDIA UDARA

DISUSUN OLEH :

Dhita Swastika Pratiwi (P07133217010)

Dika Dian Rahmawati (P07133217011)

Mey Anggita Putri (P07133217023)

Zulhiz Tiar Bahrum R (P07133217039)

SARJANA TERAPAN KESEHATAN LINGKUNGAN

POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA

2017/2018
INSTRUMENTASI MEDIA LINGKUNGAN UDARA

I. DASAR HUKUM PERATURAN


1. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN
LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: KEP-02/MENKLH/I/1988
TENTANG PEDOMAN PENETAPAN BAKU MUTU LINGKUNGAN
2. PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.13/MEN/X/2011 TENTANG
NILAI AMBANG BATAS FAKTOR FISIKA DAN FAKTOR KIMIA
DI TEMPAT KERJA

II. PARAMETER UDARA


a) Secara Fisik

Udara adalah benda yang berbentuk gas, udara tidak dapat dilihat dan
tidak dapat diraba, tetapi dapat dirasakan dan udara ada dimana-mana. Sifat-sifat
udara yang dapat diamati, udara yang bersih seharusnya tidak berwarna dan tidak
berbau, adanya warna atau bau pada udara menunjukkan adanya polutan.

b) Secara Kimia

Indeks standar pencemar udara (ISPU) memberi informasi tingkat


pencemaran udara yang merupakan hasil pemantauan konsentrasi rata-rata
berbagai polutan udara selama periode 24 jam. Jenis polutan yang dipantau antara
lain karbonmonoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NO), ozon
(03),material partikulat (debu). Peningkatan konsentrasi senyawa-senyawa
polutan di udara merupakan indikator bagi tingkat polusi udara.

Karbon Dioksida (CO2), Karbon dioksida berasal dari pabrik, mesin-


mesin yang menggunakan bahan bakar fosil ( batubara, minyak bumi ), juga dari
mobil, kapal, pesawat terbang, dan pembakaran kayu. Meningkatnya kadar CO2
di udara jika tidak segera diubah menjadi oksigen akan mengakibatkan efek
rumah kaca.
KhloroFluoro Karbon (CFC) ,Gas CFC digunakan sebagai gas
pengembang karena tidak bereaksi, tidak berbau, dan tidak berasa. CFC banyak
digunakan untuk mengembangkan busa (busa kursi), untuk AC (Freon), pendingin
pada lemari es, dan hairspray. CFC akan menyebabkan lubang ozon di atmosfer.

SO dan SO2,Gas belerang oksida (SO,SO2) di udara dihasilkan oleh


pembakaran fosil (minyak, batubara). Gas tersebut dapat bereaksi dengan gas
nitrogen oksida dan air hujan, yang menyebabkan air hujan menjadi asam, yang
disebut hujan asam.yang asam mengakibatkan tumbuhan dan hewan-hewan tanah
mati, produksi pertanian merosot, besi dan logam mudah berkarat, bangunan-
bangunan kuno, seperti candi menjadi cepat aus dan rusak, demikian pula
bangunan gedung dan jembatan.

Timbal (Pb), Logam berat yang digunakan manusia untuk meningkatkan


pembakaran pada kendaraan bermotor. Hasil pembakaran tersebut menghasilkan
timbal oksida yang berbentuk debu atau partikulat yang dapat terhirup oleh
manusia.

Hidrokarbon (HC), Uap bensin yang tidak terbakar. Dihasilkan dari


pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna.

Partikulat (asap atau jelaga), Polutan udara yang paling jelas terlihat dan
paling berbahaya. Dihasilkan dari cerobong pabrik berupa asap hitam tebal.
Macam-macam partikel, yaitu :

a. Aerosol : partikel yang terhambur dan melayang di udara


b. Fog (kabut) : aerosol yang berupa butiran-butiran air dan berada di udara
c. Smoke (asap) : aerosol yang berupa campuran antara butir padat dan cair
dan melayang berhamburan di udara
d. Dust (debu) : aerosol yang berupa butiran padat dan melayang-layang di
udara
Nitrogen dioksida (NO2), Gas yang paling beracun. Dihasilkan dari
pembakaran batu bara di pabrik, pembangkit energi listrik dan knalpot kendaraan
bermotor.

Karbon monoksida (CO), Gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan
bersifat racun. Dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna bahan bakar fosil,
misalnya gas buangan kendaraan bermotor.

c) Secara Biologi

Makhluk hidup yang rentan pada perubahan konsentrasi zat polutan di


udara dapat dijadikan indikator biologi. Contoh indikator biologi untuk
mengamati tingkat polusi udara adalah lumut kerak (Lichenes). Lumut kerak
merupakan simbiosis antara algae fotosintetik atau cyanobakteria dengan fungi.
Lumut kerak terdiri atas beberapa kelompok yang masing-masing memiliki
tingkat sensitivitas berbeda terhadap polutan udara. Oleh karena itu, keberadaan
kelompok lumut kerak tertentu di suatu wilayah dapat menjadi indikator bagi
tingkat polusi udara di wilayah. lumut kerak Usnea sp. dan Evernia sp. tidak akan
dapat bertahan hidup Iiikit konsentrasi sulfur dioksida di udara terlalu tinggi.

III. STANDAR BAKU MUTU


A. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN
LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: KEP-02/MENKLH/I/1988
TENTANG PEDOMAN PENETAPAN BAKU MUTU LINGKUNGAN
1) Standar Baku Udara Ambien

2) STANDAR BAKU MUTU UDARA EMISI

Sumber tidak bergerak


Keterangan :

A = baku mutu ketat

B = baku mutu sedang

C = baku mutu ringan

3) STANDAR BAKU MUTU UDARA EMISI

Sumber bergerak
B. PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.13/MEN/X/2011 TENTANG
NILAI AMBANG BATAS FAKTOR FISIKA DAN FAKTOR KIMIA
DI TEMPAT KERJA
Catatan:

- Beban kerja ringan membutuhkan kalori sampai dengan 200 Kilo kalori/jam.

- Beban kerja sedang membutuhkan kalori lebih dari 200 sampai dengan kurang
dari 350 Kilo kalori/jam.

- Beban kerja berat membutuhkan kalori lebih dari 350 sampai dengan kurang dari
500 Kilo kalori/jam
IV. INSTRUMEN PENYEHATAN UDARA
1. IMPINGER

IMPINGER merupakan alat yang digunakan untuk menetapkan kadar gas-gas


berbahaya secara konvensional.

Peralatan impinger secara keseluruhan terdiri dari :

a. Pompa vakum : dibuat dengan sistem vibrasi ganda yang tahan korosi.
Kecepatan hisap stabil dan dapat diatur dengan potensiometer
b. Tabung impinger : tempat reaksi antara kontaminan udara dengan larutan
penangkap. Dapat lebih dari satu tabung.

c. Moisture adsorber : tabung berisi bahan penyerap uap air (desikan) untuk
melindungi pompa dari korosi.

d. Flow meter, yaitu alat pengukur kecepatan aliran udara dengan metoda
bubble flow.

Sampling udara dengan impinger pada hakikatnya terdiri dari beberapa langkah
yaitu :

1. menarik udara dengan pompa hisap ke dalam tabung impinger yang berisi
larutan penangkap.

2. mengukur kontaminan yang tertangkap atau bereaksi dengan larutan


penangkap baik dengan metoda konvensional maupun instrumental.

3. menghitung kadar kontaminan dalam udara berdasarkan jumlah udara


yang dipompa dan hasil pengukuran.

CARA KERJA IMPINGER

1. Masukkan larutan penangkap sebnayak 10 mL ke dalam satu atau dua


impinger

2. Pompa dihidupkan dengan kecepatan yang telah ditentukan. Catat waktu


mulai sampling
3. Gas akan bereaksi dengan larutan penangkap untuk kurun waktu tertantu
(dihitung)

4. Kecepatan alir udara yang disampling dapat diukur setiap saat dengan
menggunakan flow meter

5. Catat waktu selesainya sampling

6. Larutan penangkap yang telah bereaksi dengan gas selanjutnya dianalisa di


laboratorium

7. Kadar gas di dalam udara dapat dianalisa secara stoikiometrik

2. CLJ-B(II)

Alat ukur ini menghitung partikulat udara yang ada di sekitar kita. Alat
penghitung partikulasi udara ini memiliki 6 saluran pengukuran partikel dalam
pemantauan polusi / pencemaran udara. Alat pengukur partikulat udara ini juga
sudah memiliki fitur print data dengan mini printer yang terintegrasi langsung
dengan alat pengukur ini.

Alat Ukur Pencemaran Udara CLJ-B(II) ini dapat menghitung partikel


udara yang berhubungan dengan pencemaran udara dalam 6 rentang ukuran yang
berbeda secara bersamaan. Data partikulat yang terhitung ditampilkan pada panel
depan sebagai jumlah total partikel / partikulat secara kumulatif. Pada print out
menunjukan data jumlah kumulatif untuk setiap rentang ukuran.

Alat uji pencemaran udara ini sangat mudah dibawa kemana saja dimana
anda akan melakukan pemantauan dan memberikan hasil yang akurat pada setiap
pengujian dan ada dapat langsung mendapatkan hasil pengukuran lewat print out
atau anda bisa melihatnya langsung pada display LED yang terang.

Fitur Alat Ukur Pencemaran Udara CLJ-B(II) :

1. Mengukur flow rate dalam satuan lpm


2. 6 saluran ukuran partikel ( 0.3, 0.5, 1.0, 3.0, 5.0 dan 10 μm )
3. Menampilkan tanggal dan waktu
4. Standar penghitungan Federal 209E
5. Mode multipel print
6. Konversi data antara ft3 dan m3

Fitur penyimpanan data

1. Aplikasi Alat Ukur Pencemaran Udara CLJ-B(II)

2. Memonitor dan memastikan kebersihan ruangan

3. Menguji sistem filter udara di suatu tempat

4. Melacak sumber partikel / sumber pencemaran

5. Memantau :

a. Laminar Air Flow and biohazard benches


b. Cleanroom laundries
c. HVAC systems
d. Computer rooms
e. Food and beverage packaging
f. Hospitals: Pharmacy and surgery
g. Indoor Air Quality (IAQ)
h. Aerospace Assembly
i. Medical Device Assembly
j. Automotive: Paint spray booths
k. Filter performance
3. AIR QUALITY METER

Alat ini mampu mengukur kualitas udara dalam ruangan dan sekitar bangunan,
alat penugukur kualitas udara ini sangat dibutuhkan dikalangan industri-industri
dan juga dikalangan umum terutama yang berkaitan dengan kesehatan dan
kenyamanan penghuni bangunan. Alat ini mampu mendeteksi udara yang
dipengaruhi oleh gas ( termasuk karbon monoksida , radon , senyawa organik
yang mudah menguap ) , partikulat , kontaminan mikroba ( jamur , bakteri ) atau
massa atau energi stressor yang dapat menimbulkan kondisi yang merugikan
kesehatan.

Sumber kontrol, filtrasi dan penggunaan ventilasi untuk mencairkan


kontaminan adalah metode utama untuk meningkatkan kualitas udara dalam
ruangan di sebagian besar bangunan sehingga dapat tercipata udara yang bersih
dan sehat.

4. HIGH VOLUME AIR SAMPLER (HVAS)

High Volume Air Sampler (HVAS) adalah alat yang digunakan untuk
menangkap sejumlah besar volume udara di atmosfer dengan bantuan pompa
vakum, yang dilengkapi dengan filter dan alat ukur dan kontrol (SNI 19-7119.9-
2015). Udara yang mengandung partikel debu yang berukuran antara 0,3-10
mikron dihisap melalui kertas filter dengan menggunakan motor putaran
kecepatan tinggi. Debu akan menempel pada kertas saring yang nantinya akan
diukur dengan konsentrasinya. Flowrate dan waktu lamanya pengambilan sampel
dicatat sehingga diperoleh konsentrasi debu tersebut (SNI 19-7119.3-2005).

Secara umum, bagian-bagian peralatan HVAS terdiri dari beberapa bagian,


terutama filter. Filter merupakan bagian partikel debu yang terdapat di udara
terperangkap, sehingga dapat ditentukan jumlah partikel debunya dengan metode
gravimetri. High Volume Air Sampler yang digunakan adalah tipe portable
Staplex TFIA-2 seri 17625.

5. Portable Multifunction Air Quality KIMO AMI-300


Complete

Kimo AMI-300-Complete, Portable Multifunction Air Quality untuk


mengukur kualitas udara ambien. Dilengkapi fitur untuk mengganti modul sesuai
kebutuhan user dan akurasi pengukuran yang baik, serta fitur smart-plus system
yang membuat instrument mengendalikan ketika mengalami probe dan parameter
lain.
6. Portable Anemometer KIMO VT-100E

Kimo VT-100E, Portable Hotwire Anemometer yang berbentuk seperti


portable dengan menggunakan probe untuk melakukan pengukuran. Sangat cocok
digunakan untuk mengetahui kecepatan udara di saluran-saluran. Dilengkapi juga
dengan termometer untuk mengetahui suhu dari sumber pengukuran.

7. Portable Combustion Gas dan Emissions Analyzer KIMO KIGAZ 310

Instrumen portable digunakan untuk mengukur berbagai kandungan gas


dalam satu sesi pengukuran. Meliputi gas buangan industri, kendaraan bermotor,
gas dari cerobongpabrik. Dilengkapi layar sentuh berwarna dan printer yang
terintegrasi pada instrumen.

8. Portable Air Quality Monitor KIMO AQ-200P

KIMO AQ-200P portable air quality monitor, satu instrumen untuk


mengukur kualitas udara dalam ruangan. Parameter yang diukur adalah
temperatur, kelembaban dan CO2. cocok digunakan untuk mengontrol ruangan
yang butuh pengawasan dalam hal kualitas, kelembaban, dan kadar CO2.

9. Mini Portable Gas Sampler InScienPro US-RAC-3

InScien UAS-RAC 3 Mini Portable Gas Samler merupakan alat sampling


udara ambien dengan ukuran kompak dan portable, user dapat dengan mudah
melakukan sampling udara di lapangan. inScienPro US-RAC 3 dapat beroperasi
untuk keperluan penganbilan sampel berkelanjutan, sebagai produk dengan
teknologi terbaru, InSciencePro US-RAC 3 sudah kompatibel dengan EHIS
(Environmental and Health Integration System).

10. Formaldehyde Meter U-F01

Alat ukur formaldehyde di udara, dengan dilengkapi sensor akurasi tinggi


dan bentuk yang dapat dengan mudah digenggam tangan. Memiliki anatar muka
yang sederhana dan mudah digunakan. Cocok digunakan di pabrik, gudang,
perkantoran, laboratorium, dll.
11. Wohler CM-220

Wohler CM-220 adalah instrumen pengukur tingkat / kadar gas CO.


Aplikasi yang paling sesuai untuk alat ini adalah pengukuran gas CO pada alat /
mesin yang mengeluarkan gas buangan, selain itu Wohler CM-220 juga dapat
digunakan untuk mengukur CO dalam ruangan.

12. Multi Gas Monitor Odalog 7000

Alat portable untuk memonitor sekaligus maksimal 6 (enam) jenis kadar


gas dalam udara di lingkungan abien. Cocom untuk aplikasi pengukuran pada
pertambangan, pabrik, pelabuhan, tempat-tempat yang memerlukan monitoring
terhadap kadar gas diudara lokasi tersebut.

13. Microbiology Air Sampler Bio Collector AWEL BC-100

Microbiology Air Sampler BC-100 diciptakan untuk memenuhi kebutuhan


user dalam mengambil sample mikrobiologi di udara. Instrumen ini mamiliki
teknologi canggih dengan berbagai fitur seperti sampling volume yang dapat
diprogram, automatic stop, remote control kendali jarak jauh, dan konektivitas ke
PC atau komputer. Microbiology Air Sampler BC-100 memiliki Flowrate 100
liter/mn, air sampler 50 liter-10m3, kompatibel dengan standar 90 mm petridish,
dan digital operated system dengan keypad dan Icd screen.

14. LOKASI SAMPLING

Penentuan lokasi pengambilan contoh uji, yang perlu diperhatikan adalah


data yang diperoleh harus dapat mewakili daerah yang sedang dipantau, yang
telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Titik pemantauan kualitas udara ambien ditetapkan dengan mempertimbangkan :

1. Faktor meteorologi (arah dan kecepatan angin)

2. Faktor geografi seperti topografi, dan tata guna lahan.

Kriteria penentuan suatu lokasi pemantauan kualitas udara ambient :


1. Area dengan konsentrasi pencemar tinggi.

2. Area dengan kepadatan penduduk tinggi.

3. Di daerah sekitar lokasi penelitian yang diperuntukkan untuk kawasan


studi maka stasiun pengambil contoh uji perlu ditempatkan di sekeliling
daerah/kawasan.

4. Di daerah proyeksi. Untuk menentukan efek akibat perkembangan


mendatang dilingkungannya, stasiun perlu juga ditempatkan di daerah-
daerah yang diproyeksikan.

5. Mewakili seluruh wilayah studi.

PENENTUAN LOKASI

1. Hindari tempat yang dapat merubah konsentrasi akibat adanya absorpsi,


atau adsorpsi (seperti dekat dengan gedung-gedung atau pohon-pohonan).

2. Hindari tempat dimana pengganggu kimia terhadap bahan pencemar yang


akan diukur dapat terjadi: emisi dari kendaraan bermotor yang dapat
mengotori pada saat mengukur ozon, amoniak dari pabrik refrigerant yang
dapat mengotori pada saat mengukur gas-gas asam.

3. Hindari tempat dimana pengganggu fisika dapat menghasilkan suatu hasil


yang mengganggu pada saat mengukur debu (partikulat matter) tidak boleh
dekat dengan incinerator baik domestik maupun komersial, gangguan
listrik terhadap peralatan pengambil contoh uji dari jaringan listrik
tegangan tinggi

4. Letakkan peralatan di daerah dengan gedung/bangunan yang rendah dan


saling berjauhan.

5. Apabila pemantauan bersifat kontinyu, maka pemilihan lokasi harus


mempertimbangkan perubahan kondisi peruntukan pada masa datang.

15. Hygrometer
a. Pengukuran Suhu dan Kelembapan

Hygrometer terdapat dua skala, yang satu menunjukkan kelembaban yang satu
menunjukkan temperatur. Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan untuk
mengukur suhu dan kelembapan udara yaitu :

1) Termohigrometer

2) Pencatat Waktu

3) Alat tulis

4) Kamera

Adapun prosedur kerja dari termohigrometer ruang yakni :

1. Meletakkan alat diatas meja, jangan selalu dipegang karena tangan yang lembab
dapat mempengaruhi kelembapan

2. Perhatikan waktu saat menggukur suhu dan kelembapan udara ruangan selama
15 menit

3. Kemudian baca dan catat skala yang ditunjukkan, skala kelembaban dibagian
atas dan skala suhu dibagian tengah dengan derajat celcius.

16. Pengukuran cahaya

Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan untuk mengukur cahaya yaitu:
1) Luxmeter atau digital light meter

2) Lembar data

3) Alat tulis

5) Meteran

6) Pencatat waktu

7) Kamera

Prosedur kerja:

1. Tentukan titik-titik yang akan dilakukan pengukuran dengan menggunakan


meteran. Untuk ruangan dengan panjang dan lebar masing-masing > 10 m, beri
jarak antar titik sepanjang 3 m.

2. Menekan tombol power (ON)

3. Membuka penutup photo cell

4. Diamkan photo cell menghadap ke atas selama 4-5 menit untuk beradptasi
dengan cahaya sekitar.

5. Lakukan pengukuran pada titik-titik yang telah ditentukan dengan posisi photo
cell menghadap ke arah sumber cahaya dan tegak lurus terhadap badan pengukur.
Ketinggian photo cell ±85 cm dari lantai.

6. Catat hasil yang tertera pada layar display.


17. Pengukuran Kebisingan

Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan untuk mengukur kebisingan yaitu:

1) Sound level meter (Gambar disamping)

2) Batu baterai

3) Stopwatch

4) Alat tulis

5) Kamera

c. Pengukuran kebisingan

1. Tentukan titik-titik pengukuran

2. Tekan tombol power.

3. Setting alat:

a) Pada tombol A/C pilih C untuk mengukur di dalam ruangan (indoor).


b) Pada tombol F/S pilih S (slow) untuk mengukur benda yang cenderung statis
atau tidak bergerak seperti di dalam ruangan.

c) Menentukan jangkauan seberapa besar suara yang akan diukur dengan tombol
RNG (40 dB – 100 dB)

4. Aktifkan Stopwatch

5. Setiap 10 detik tekan tombol HOLD, kemudian catat angka yang tertera pada
layar display. Lakukan 5 kali pada setiap titik.

6. Hitung rata-rata dari setiap titik

18. Pengukuran Parikulat Debu

Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan untuk mengukur partikulat debu yaitu:

1) EPAM 5000

2) Kamera

3) Stopwatch

4) Alat Tulis
. Pengukuran Partikulat Debu

1. Pasang tabung penghisap debu dengan ukuran kepala (size-selective

impactor) PM 2.5

2. Nyalakan alat dengan menekan tombol power

3. Setting alat:

a) tekan enter

b) pilih special function – system options – extended options –

size select – 2.5 um (untuk indoor)

c) pilih special functions – system options – sample rate – 1

menit

d) Run
e) run- continue

f) now

4. Catat hasil setiap 1 menit selama 5 menit.

5. Untuk melihat hasil minimal, maksimal dan rata-rata

a) pilih review data – statistic- new tag

b) lalu tuliskan angka urutan yang tertera pada alat

V. DAFTAR PUSTAKA

https://www.slideshare.net/hotnidadkanda/parameter-kualitas-dan-
analisis-udara

https://www.academia.edu/19821278/Analisis_Kualitas_Udara_Ambient_
di_Kawasan_Industri_Bandar_Lampung