Anda di halaman 1dari 16

Makalah Struktur & Desain Senyawa Organik

SUBTITUSI NUKLEOFILIK
Oleh:
MUSRIFAH TAHAR
H012 18 1 007

SEKOLAH PASCASARJANA
PROGRAM STUDI KIMIA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………......i

DAFTAR ISI……………………………………...……………………….....….ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………...…………….………....1

1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………….......1

1.3 Tujuan………………………………………………………….................2

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Reaksi Substitusi Nukleofilik ……………………….........…………………3

2.2 Reaksi Substitusi Nukleofilik Unimolekuler (SN1)…………..…...................4

2.3 Reaksi Substitusi Nukleofilik Bimolekuler (SN2)…….……………...…...…6

2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Reaksi SN1 Dan SN2…...........8


2.5. Contoh Reaksi Substitusi Nukleofilik Yang Terdapat Pada Jurnal…...........10
BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan…………………………………………...……………….....…12

3.2 Saran………………………………………………………...………….......12

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………......13
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Atom karbon dapat dibedakan dengan atom lain yaitu pada kemampuan

atom karbon untuk berpasangan dengan atom karbon lain membentuk ikatan

kovalen karbon-karbon. Fenomena tunggal inilah yang memberikan dasar-dasar

kimia organik. Rangkaian atom-atom karbon beraneka ragam: linear, bercabang,

siklik yang dikelilingi oleh atom hidrogen, oksigen, dan nitrogen.

Reaksi kimia adalah suatu perubahan dari suatu senyawa atau molekul

menjadi senyawa lain atau molekul lain. Reaksi yang terjadi pada senyawa

anorganik biasanya merupakan reaksi antar ion, sedangkan reaksi pada senyawa

organik biasanya dalam bentuk molekul. Struktur organik ditandai dengan adanya

ikatan kovalen antara atom-atom molekulnya. Oleh karena itu, reaksi kimia pada

senyawa organik ditandai dengan adanya pemutusan ikatan kovalen dan

pembentukan ikatan kovalen yang baru. Adapun reaksi-reaksi senyawa organik

dapat digolongkan dalam beberapa tipe yaitu: Reaksi substitusi, reaksi eliminasi,

reaksi adisi, reaksi penataan ulang dan reaksi radikal.

Dari jenis-jenis rekasi diatas yang akan kita bahas dalam makalah ini adalah

reaksi subitusi, terkhusus pada reaksi subtitusi nuleofilik.

1.2 Rumusan masalah

1) Apa yang dimaksud dengan reaksi substitusi nukleofilik?

2) Apa yang dimaksud dengan reaksi SN1 dan SN2?

3) Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi SN1 dan SN2?


1.3 Tujuan Penulisan

1) Untuk mengetahui apa itu reaksi substitusi nukleofilik?

2) Untuk mengetahui apa itu reaksi SN1 dan SN2?

3) Untuk mengetahui apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi SN1

dan SN2?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Reaksi Substitusi Nukleofilik

Reaksi yang berlangsung karena penggantian satu atau lebih atom atau

gugus dari suatu senyawa oleh atom atau gugus lain disebut reaksi substitusi. Bila

reaksi substitusi melibatkan nukleofil, maka reaksi disebut substitusi nukleofilik

(SN), dimana S menyatakan substitusi dan N menyatakan nukleofilik.

Spesies yang bertindak sebagai penyerang adalah nukleofil (basa Lewis),

yaitu spesies yang dapat memberikan pasangan elektron ke atom lain untuk

membentuk ikatan kovalen. Perubahan yang terjadi pada reaksi ini pada dasarnya

adalah suatu nukleofil dengan membawa pasangan elektronnya menyerang substrat

(molekul yang menyediakan karbon untuk pembentukan ikatan baru), membentuk

ikatan baru dan salah satu substituen pada atom karbon lepas bersama pasangan

elektronnya yang disebut gugus pergi (leaving group).

Jika nukleofil penyerang dinyatakan dengan lambang Y: atau Y- dan

substratnya R-X; maka persaman reaksi substitusi nukleofilik dapat dituliskan

secara sederhana sebagai berikut:

R–X + Y- R–Y + X-
Substrat nukleofil hasil/produk gugus pergi

Contoh substitusi nukleofilik adalah hidrolisis alkil bromida, R-Br, pada kondisi

basa, dimana nukleofilnya adalah OH dan gugus perginya adalah Br.

R-Br + OH− R-OH + Br−


Reaksi substitusi nukleofil biasanya terjadi pada senyawa alkil halida (R-

X). Atom karbon yang mengikat halida pada alkil halida ini, mempunyai muatan

parsial positif, sehingga mudah diserang oleh nukleofil. Jika gugus perginya

adalah ion halida, maka gugus ini merupakan gugus pergi yang baik karena ion-

ion halidanya merupakan basa yang sangat lemah dan mudah digantikan oleh

nukleofil. Menurut kinetikanya, reaksi substitusi nukleofilik dapat

dikelompokkan menjadi reaksi SN1 dan SN2

2.2 Reaksi Substitusi Nukleofilik Unimolekuler (SN1)

Reaksi substitusi nukleofilik yang laju reaksinya hanya tergantung dari

konsentrasi substrat dan tidak tergantung pada konsentrasi nukleofil disebut reaksi

SN1 atau reaksi substitusi nukleofilik unimolekuler. Reaksi SN1 terdiri dari dua

tahap. Tahap pertama melibatkan ionisasi alkil halida menjadi ion karbonium,

berlangsung lambat dan merupakan tahap penentu reaksi. Tahap ke dua melibatkan

serangan yang cepat dari nukleofil pada karbonium.

Lambat
Tahap 1 C X C + X

Tahap 2
C + Z C atau C
Z
Z

Adapun contoh reaksi Substitusi Nukleofilik Unimolekuler (SN1) sebagai berikut:


CH3 CH3
Lambat
C2H5
Br
Br
C3H7 C2H5 C3H7

CH3
CH3 CH3
C2H5 H3CHO
HOCH3
OHCH3 + C2H5
C2H5 C3H7 C3H7 C3H7

Diagram perubahan energi reaksi SN1

Dari diagram energi diatas terlihat bahwa pada tahap pertama SN1

terjadi pelepasan gugus pergi terlebih dahulu sehingga membutuhkan energi

aktivasi yang sangat besar. Sedangkan pada tahap kedua yaitu energi aktivasi yang

digunakan kecil, karena mudahnya nukleofil masuk untuk berikatan dengan

karbokation.

Stereokimia Reaksi SN1

Pada reaksi SN1 terjadi proses rasemisasi. Rasemisasi adalah suatu reaksi

perubahan secara optik campuran senyawa menjadi rasemik. Rasemisasi terjadi


disebabkan oleh karbokation intermediet yang terbentuk berbentuk planar dan

akiral. Sehingga penyerangan nukleofil dapat dilakukan dari dua arah yang

memiliki peluang yang sama, masing-masing menghasilkan R dan S dalam jumlah

yang sama. Contohnya yaitu, reaksi (s)-3-bromo-3-metilheksana dengan nukleofil

OH-

CH3 CH3 CH3


-Br- HO
C2H5 C2H5
OH-
+
Br OH C2H5
C3H7 C3H7 S 50% C3H7 R 50%

2.3 Reaksi Substitusi Nukleofilik Bimolekuler (SN2)

Pada reaksi SN2 Nukleofil menyerang dari arah berlawanan dengan gugus
pergi. Pada saat keadaan transisi, nukleofil dan gugus pergi terikat secara parsial
pada atom karbon dimana terjadi subsitusi. Pada saat gugus pergi meninggalkan
atom karbon dengan membawa pasangan elektron ikatan, nukleofil memberikan
pasangan elektron ikatan dan menghasilkan produk tersubtitusi dengan
konfigurasi inversi terhadap substratnya.

Mekanisme ini berlangsung satu langkah, dinyatakan dengan persamaan:

Y- C X Y C X Y C + X-

Transisi

Contohnya yaitu:

CH3 CH3
H3C
OH- HO + Br
Br HO Br

C2H5 C2H5 C2H5


Diagram perubahan energi reaksi SN2

Dari diagram energi diatas terlihat bahwa keadaan transisi membutuhkan

energi aktivasi yang sangat besar. Hal ini dikarenakan keadaan transisi adalah

keadaan tidak stabil dalam suatu reaksi, sehingga reaksi berjalan lambat.

Stereokimia Reaksi SN2

Pada reaksi SN2 terjadi proses inversi. Inversi konfigurasi dapat terjadi

dalam reaksi SN2, di mana gugus nukleofil tidak menempati posisi yang

sebelumnya diduduki oleh gugus pergi. Inversi konfigurasi artinya suatu reaksi

yang menghasilkan senyawa dengan konfigurasi yang berlawanan dengan

konfigurasi reaktan. Contohnya yaitu reaksi (s)-2-Iodobutana dengan nukleofil OH-

H3C CH3
CH3
-
OH HO I -
I HO + I
C2H5
C2H5 C2H5
2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Reaksi SN1 Dan SN2

1. Substrat

H H CH3 CH3

H C H3C C H3C C H3C C

H H H CH3
Metil Primer Sekunder Tersier

Reaktifitas SN1

CH3 CH3 H H

H3C C H3C C H3C C H C

CH3 H H H
Tersier Sekunder Primer Metil

Reaktifitas SN2

Umumnya alkil halida primer bereaksi dengan mekanisme SN2, alkil halida

tersier dengan mekanisme SN1 dan alkil halida sekunder dapat dengan mekanisme

SN2 dan SN1. Hal ini disebabkan oleh kerapatan elektron pada atom karbon yang

mengikat halida. Pada alkil halida tersier terdapat tiga gugus alkil, bila alkil halida

terionisasi maka ion karbonium yang terbentuk lebih stabil, karena adanya efek

induksi dari ketiga gugus. Pada alkil halida primer, hanya terdapat satu gugus alkil,

bila alkil halida mengalami ionisasi, maka ion karbonium primer yang dihasilkan

tidak stabil. Semakin stabil ion karbonium yang dihasilkan maka mekanisme reaksi

SN1 semakin dominan. Selain itu juga dikarenakan terjadinya efek sterik yaitu

semakin banyak gugus alkil yang terikat pada karbonium maka semakin sulit
nukleofilik menyerang dan membentuk ikatan. Oleh karena itu SN2 terjadi pada

substrat metil ataupun primer.

2. Sifat Nukleofil
Pada SN1 Kecepatan reaksinya tidak tergantung pada konsentrasi nukleofil.

Sehingga nukleofil netral lebih disukai, Sedangkan pada SN2 semakin kuat

nukleofilnya semakin disukai. Hal ini dikarenakan nukleofil berperan sebagai

penentu kecepatan reaksi. Berikut ini ada beberapa petunjuk yang digunakan untuk

mengetahui apakah suatu nukleofil adalah kuat atau lemah.

a. Ion nukleofil bersifat nukleofil. Anion adalah pemberi elektron yang lebih baik

daripada molekul netralnya. Jadi

HO- > HOH RS- > RSH

b. Unsur yang berada pada periode bawah dalam tabel periodik cenderung

merupakan nukleofil yang lebih kuat daripada unsur yang berada dalam periode

di atasnya yang segolongan. Jadi

c. Pada periode yang sama, unsur yang lebih elektronegatif cenderung merupakan

nukleofil lebih lemah (karena ia lebih kuat memegang elektron). Jadi


3. Sifat dari atom halogen (gugus pergi)

Sifat dari atom halogen tidak berpengaruh pada mekanisme reaksi, hanya

saja dapat mengubah laju reaksi, semakin baik sifat gugus pergi maka reaksi

semakin baik (untuk reaksi SN1 dan SN2). Gugus yang ditinggalkan dengan

pasangan elektron digunakan untuk membentuk ikatan dengan substrat. Gugus

yang ditinggalkan yang dikategorikan sebagai yang baik akan menjadi anion

yang relative stabil ketika dipindahkan. Adapun basa lemah yang stabil memiliki

muatan negative yang efektif. Gugus yang ditinggalkan yang terbaik dapat

diklasifikasikan sebagai basa lemah setelah dipindahkan. Stabilitas dari muatan

negative pada gugus yang ditinggalkan akan mengakibatkan transisi dengan

energy bebas yang lemah, ini akan meningkatkan terjadinya reaksi.

2.5 Contoh Reaksi Substitusi Nukleofilik Yang Terdapat Pada Jurnal

1. sintesis N-(2-nitrobenzil)-1,10-fenantrolinium klorida dari 2-nitrobenzil klorida

dan 1,10-fenantrolin monohidrat (Artie Noor Pratiwi dan Nurkhasanah, 2014).

N O O
N N
N Cl O
O
Cl
N O Cl
N
O N
N
N
2. Sintesis 2,4-dinitrophenyl Acetate dengan Hydrazine (Ibrahim, dkk., 2013).

O O

C C O NO2
H3C O NO2 NH2 NH2
CH3

NH2 NH2
O2N O2N

OH

O O2N

C
H3C NH NH2

NO2

3. Sintesis senyawa N-fenil-4-bromobenzamida (Maghfiroh, dkk., 2017)


BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Reaksi substitusi nukleofilik pada senyawa alkil halida mempunyai 2 tipe

mekanisme reaksi yang berdasarkan kinetikanya, yaitu SN1 (substitusi nukleofilik

unimolekuler) dan SN2 (substitusi nukleofilik bimolekuler), yang mana kedua

reaksi tersebut memiliki tahapan mekanisme yang berbeda. Adapun faktor-faktor

yang harus diperhatikan dalam reaksi substitusi nukleofilik yaitu, substrat, kekuatan

nukleofil dan sifat gugus pergi.

3.2. Saran

Dengan adanya makalah ini diharapkan para pembaca dapat mengetahui

lebih banyak lagi tentang reaksi substitusi nukleofilik guna menambah wawasan

untuk pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Hart, H., 1990, Kimia Organik Edisi Keenam, Erlangga, Jakarta.

Ibrahim, M., Abdel-Reheem, H., Khattab, S., & Hamed, E., 2013, International
Journal of Chemistry, 5(3).

Maghfiroh, N.,Sary I. P., Pratoko, D. K., 2017, Jurnal Pustaka Kesehatan, 5(2).

McMurry, J., 1999, Organic Chemistry Fifth Edition, Brooks/Cole, USA.

Pratiwi, A. N., dan Nurkhasanah, 2014, Pharmaҫiana, 4(2), 93-10.