Anda di halaman 1dari 33

PERBANDINGAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH SAKIT VS APOTEK

NO. ASPEK PELAYANAN KEFARMASIAN DI PELAYANAN KEFARMASIAN DI


RUMAH SAKIT PUSKESMAS
1. DEFINISI  UU No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah
Sakit
Pasal 1
Rumah Sakit adalah Institusi Pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan
Pelayanan Kesehatan Perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan
Rawat Inap, Rawat Jalan dan Gawat Darurat
 PP Nomor 7 Tahun 1987
Pasal 1
PUSKESMAS adalah suatu sarana yang
melaksanakan pelayanan upaya kesehatan secara
paripurna kepada masyarakat di wilayah kerja
tertentu;
 PMK Nomor 58 Tahun 2014 Tentang  PMK Nomor 75 Tahun 2014 Tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas
Rumah Sakit
Pasal 1 Pasal 1
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya
kesehatan yang menyelenggarakan disebut (Puskesmas)adalah fasilitas pelayanan
pelayanan kesehatan perorangan secara kesehatan yang menyelenggarakan upaya
paripurna yang menyediakan pelayanan kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. perseorangan tingkat pertama, dengan lebih
 PMK 012 Tahun 2012 Tentang mengutamakan upaya promotif dan preventif,
Akreditasi Rumah Sakit untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat
Pasal 1 yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
 PMK 56 Tahun 2014 Tentang Klasifikasi
Dan Perizinan Rumah Sakit
Pasal 1
Rumah Sakit Adalah Institusi Pelayanan
Kesehatan Yang Menyelenggarakan
Pelayanan Kesehatan Perorangan Secara
Paripurna Yang Menyediakan Pelayanan
Rawat Inap, Rawat Jalan, Dan Gawat
Darurat.
 PMK 147 Tahun 2010 Tentang Perizinan
Rumah Sakit
Pasal 1
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
2. STANDAR YANG  PMK 58 Tahun 2014 Tentang Standar  PMK No 74 tahun 2016 Tentang Standar
DIPAKAI Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit Pelayanan Kefarmasian di puskesmas
Pasal 3 Pasal 3
Standar pelayanan kefarmasian di rumah Standar pelayanan kefarmasian di puskesmas
sakit meliputi standar: meliputi standar :
a. Penggelolaan sediaan farmasi, alat a. Penggelolaan sediaan farmasi, dan bahan
kesehatan, dan bahan medis habis medis habis pakai; dan
pakai; dan b. Pelayanan farmasi klinik
b. Pelayanan farmasi klinik
3. SARANA/PRASARANA  UU No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah
Sakit
Pasal 11
1) Prasarana Rumah Sakit sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dapat
meliputi:
a. instalasi air;
b. instalasi mekanikal dan elektrikal;
c. instalasi gas medik;
d. instalasi uap;
e. instalasi pengelolaan limbah;
f. pencegahan dan penanggulangan
kebakaran;
g. petunjuk, standar dan sarana evakuasi
saat terjadi keadaan darurat;
h. instalasi tata udara;
i. sistem informasi dan komunikasi; dan
j. ambulan.
Pasal 16
1) Persyaratan peralatan sebagaimana di
maksud dalam pasal 7 ayat 1 meliputi
peralatan medis dan nonmedis harus
memenuhi standar pelayanan, persyaratan
mutu, keamanan, keselamatan dan laik
pakai.
 PMK No 58 Tahun 2014 Tentang
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
1) sarana
Fasilitas ruang harus memadai dalam hal
kualitas dan kuantitas agar dapat menunjang
fungsi dan proses Pelayanan Kefarmasian,
menjamin lingkungan kerja yang aman untuk
petugas, dan memudahkan sistem komunikasi
Rumah Sakit.
a. Fasilitas utama dalam kegiatan pelayanan di
Instalasi Farmasi, terdiri dari:
1. Ruang Kantor/Administrasi
2. Ruang penyimpanan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai
3. Ruang distribusi Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
terdiri dari distribusi Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai rawat jalan (apotek rawat jalan)
dan rawat inap (satelit farmasi).
4. Ruang konsultasi / konseling Obat
5. Ruang Pelayanan Informasi Obat
6. Ruang produksi
7. Ruang Aseptic Dispensing
8. Laboratorium Farmasi
b. Fasilitas penunjang dalam kegiatan
pelayanan di Instalasi Farmasi, terdiri dari:
1) Ruang tunggu pasien;
2) Ruang penyimpanan dokumen/arsip
Resep dan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
yang rusak;
3) Tempat penyimpanan Obat di ruang
perawatan;
4) Fasilitas toilet, kamar mandi untuk staf.
2. Peralatan
Fasilitas peralatan harus dijamin sensitif pada
pengukuran dan memenuhi persyaratan,
peneraan dan kalibrasi untuk peralatan tertentu
setiap tahun.
Peralatan yang paling sedikit harus tersedia:
a. Peralatan untuk penyimpanan, peracikan dan
pembuatan Obat baik steril dan nonsteril
maupun aseptik/steril;
b. Peralatan kantor untuk administrasi dan
arsip;
c. Kepustakaan yang memadai untuk
melaksanakan Pelayanan Informasi Obat;
d. Lemari penyimpanan khusus untuk
narkotika;
e. Lemari pendingin dan pendingin ruangan
untuk Obat yang termolabil;
f. Penerangan, sarana air, ventilasi dan sistem
pembuangan limbah yang baik;
g. Alarm.
Macam-macam Peralatan
a. Peralatan Kantor:
b. Peralatan sistem komputerisasi
c. Peralatan Produksi
d. Peralatan Aseptic Dispensing:
e. Peralatan Penyimpanan
1) Peralatan Penyimpanan Kondisi Umum
2) Peralatan Penyimpanan Kondisi Khusus:
3) Peralatan Pendistribusian/Pelayanan
4) Peralatan Konsultasi
5) Peralatan Ruang Informasi Obat
6) Peralatan Ruang Arsip
 PMK 56 Tahun 2014 Tentang Klasifikasi
Dan Perizinan Rumah Sakit
Pasal 24
Peralatan rumah sakit umum kelas A paling
sedikit terdiri dari peralatan medis untuk
instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap,
rawat intensif, rawat operasi, persalinan,
radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah,
rehabilitasi medik, farmasi, instalasi gizi, dan
kamar jenazah.
Pasal 35
Peralatan rumah sakit umum kelas B paling
sedikit terdiri dari peralatan medis untuk
instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap,
rawat intensif, rawat operasi, persalinan,
radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah,
rehabilitasi medik, farmasi, instalasi gizi, dan
kamar jenazah.
Pasal 46
Peralatan rumah sakit umum kelas C paling
sedikit terdiri dari peralatan medis untuk
instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap,
rawat intensif, rawat operasi, persalinan,
radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah,
rehabilitasi medik, farmasi, instalasi gizi, dan
kamar jenazah.
Pasal 57
Peralatan rumah sakit umum kelas D paling
sedikit terdiri dari peralatan medis untuk
instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap,
rawat intensif, rawat operasi, persalinan,
radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah,
rehabilitasi medik, farmasi, instalasi gizi, dan
kamar jenazah.
 PMK 147 Tahun 2010 Tentang Perizinan
Rumah Sakit
Lampiran
Sarana prasarana
Tersedia dan berfungsinya sarana dan prasarana
pada rawat jalan, rawat inap, gawat darurat,
operasi/bedah, tenaga kesehatan, radiologi,
ruang laboratorium, ruang sterilisasi, ruang
farmasi, ruang pendidikan dan latihan, ruang
kantor dan administrasi, ruang ibadah, ruang
tunggu, ruang penyuluhan kesehatan
masyarakat rumah sakit; ruang menyusui,
ruang mekanik, ruang dapur, laundry, kamar
jenazah, taman, pengolahan sampah, dan
pelataran parkir yang mencukupi sesuai dengan
jenis dan klasifikasinya.
Peralatan
a. Tersedia dan berfungsinya
peralatan/perlengkapan medik dan non medik
untuk penyelenggaraan pelayanan yang
memenuhi standar pelayanan, persyaratan
mutu, keamanan, keselamatan dan laik pakai
sesuai dengan jenis dan klasifikasinya.
b. Memiliki izin pemanfaatan dari instansi
berwenang sesuai ketentuan yang berlaku untuk
peralatan tertentu, misalnya; penggunaan
peralatan radiologi harus mendapatkan izin dari
Bapeten.
4. PERSYARATAN  UU No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah
Sakit
Pasal ke 7
1) Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan
lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya
manusia, kefarmasian, dan peralatan.
Pasal 8
1) Persyaratan lokasi sebagaimana di maksud
dalam pasal 7 ayat 1 harus memenuhi
ketentuan mengenai kesehatan, keselamatan
lingkungan dan tata ruang, serta sesuai
dengan hasil kajian kebutuhan dan
kelayakan penyelenggaraan rumah sakit
Pasal 9
Persyaratan bangunan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 7 ayat 1 harus memenuhi :
a. Persyaratan administratif dan persyaratan
teknis bangunan gedung pada umumnya,
sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan; dan
b. Persyaratan teknis bangunan rumah sakit,
sesuai dengan fungsi, kenyamanan dan
kemudahan dalam pemberian pelayanan
serta perlindungan dan keselamatan bagi
semua orang termasuk penyandang cacat,
anak-anak, dan usia lanjut.
Pasal 11
1) Prasarana Rumah Sakit sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dapat
meliputi:
a. instalasi air;
b. instalasi mekanikal dan elektrikal;
c. instalasi gas medik;
d. instalasi uap;
e. instalasi pengelolaan limbah;
f. pencegahan dan penanggulangan
kebakaran;
g. petunjuk, standar dan sarana evakuasi
saat terjadi keadaan darurat;
h. instalasi tata udara;
i. sistem informasi dan komunikasi; dan
j. ambulan.
2) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus memenuhi standar pelayanan,
keamanan, serta keselamatan dan kesehatan
kerja penyelenggaraan Rumah Sakit
Pasal 12
1) Persyaratan sumber daya manusia
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat
(1) yaitu Rumah Sakit harus memiliki
tenaga tetap yang meliputi tenaga medis dan
penunjang medis, tenaga keperawatan,
tenaga kefarmasian, tenaga manajemen
Rumah Sakit, dan tenaga nonkesehatan.
Pasal 15
1) Persyaratan kefarmasian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus
menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan
alat kesehatan yang bermutu, bermanfaat,
aman dan terjangkau.
Pasal 16
1) Persyaratan peralatan sebagaimana di
maksud dalam pasal 7 ayat 1 meliputi
peralatan medis dan nonmedis harus
memenuhi standar pelayanan, persyaratan
mutu, keamanan, keselamatan dan laik
pakai.
 PMK 147 Tahun 2010 Tentang Perizinan
Rumah Sakit
Pasal 4
(1) Untuk memperoleh izin mendirikan, Rumah
Sakit harus memenuhi persyaratan yang
meliputi :
a. studi kelayakan;
b. master plan;
c. status kepemilikan;
d. rekomendasi izin mendirikan;
e. izin undang-undang gangguan (HO);
f. persyaratan pengolahan limbah;
g. luas tanah dan sertifikatnya;
h. penamaan;
i. Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
j. Izin Penggunaan Bangunan (IPB); dan
k. Surat Izin Tempat Usaha (SITU).
Pasal 6
(1) Untuk mendapatkan izin operasional,
Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan
yang meliputi:
a. sarana dan prasarana;
b. peralatan;
c. sumber daya manusia;dan
d. Administrasi dan manajemen.
5. SUMBER DAYA  UU no 44 tahun 2009 Tentang Rumah
Sakit
Pasal 12
1) Persyaratan sumber daya manusia
sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat 1
yaitu rumah sakit harus memiliki tenanga
tetap yang meliputi tenaga medis dan
penunjang medis, tenaga keperawatan,
tenaga kefarmasian, tenaga manajemen
rumah sakit, dan tenaga no keehatan.
2) Jumlah dan jenis sumber daya manusia,
sebagaimana dimaksud pada ayat 1 harus
sesuai dengan jenis dan klafikasi rumah
sakit.
 PP 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan
Kefarmasian
Pasal 33
1) Tenaga Kefarmasian terdiri atas:
a. Apoteker; dan
b. Tenaga Teknis Kefarmasian.
2) Tenaga Teknis kefarmasian sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari
Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi,
Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah
Farmasi/Asisten Apoteker.
Pasal 34
1) Tenaga kefarmasian melakukan pekerjaan
kefarmasian pada :
c. Fasilitas pelayanan kefarmasian melalui
praktik di apotek, instalasi farmasi
rumah sakit, puskesmas, klinik, toko
obat, atau praktek bersama.

 PMK no 58 tahun 2014 Tentang Standar  PMK 35 Tahun 2014 Tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Pelayanan Kefarmasian Di Apotek
Pasal 4 Pasal 4
1) Penyelenggaraan standar kepelayanaan 1) Penyelenggaraan Standar Pelayanan
kefarmasian di rumah sakit harus didukung Kefarmasian di Apotek harus didukung oleh
oleh ketersediaan sumberdaya ketersediaan sumber daya kefarmasian yang
kefarmasian, pengorganisasian yang berorientasi kepada keselamatan pasien.
beroreantasi pada keselamataan pasien, 2) Sumber daya kefarmasian sebagaimana
dan standar prosedur operasional dimaksud pada ayat (1) meliputi:
2) Sumber daya kefarmasiaan sebagaimana a. sumber daya manusia; dan
dimaksud pada ayat 1 meliputi : b. sarana dan prasarana.
a. Sumber daya manusia; dan Pelayanan Kefarmasian di Apotek
b. Sarana dan peralatan.
1) Kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM)
Berdasarkan pekerjaan yang dilakukan,
kualifikasi SDM Instalasi Farmasi
diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Untuk pekerjaan kefarmasian terdiri dari:
1) Apoteker
2) Tenaga Teknis Kefarmasian
b. Untuk pekerjaan penunjang terdiri dari:
1) Operator Komputer/Teknisi yang
memahami kefarmasian
2) Tenaga Administrasi
3) Pekarya/Pembantu pelaksana
2) Persyaratan SDM
Pelayanan Kefarmasian harus dilakukan oleh
Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.
Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan
Pelayanan Kefarmasian harus di bawah
supervisi Apoteker.
Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian
harus memenuhi persyaratan administrasi
seperti yang telah ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
 PMK 56 Tahun 2014 Tentang Klasifikasi
Dan Perizinan Rumah Sakit
Pasal 21
1) Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum
kelas A terdiri atas:
a. tenaga medis;
b. tenaga kefarmasian;
c. tenaga keperawatan;
d. tenaga kesehatan lain;
e. tenaga nonkesehatan.
3) Tenaga kefarmasian sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b paling sedikit terdiri
atas:
a. 1 (satu) apoteker sebagai kepala instalasi
farmasi Rumah Sakit;
b. 5 (lima) apoteker yang bertugas di rawat
jalan yang dibantu oleh paling sedikit 10
(sepuluh) tenaga teknis kefarmasian;
c. 5 (lima) apoteker di rawat inap yang
dibantu oleh paling sedikit 10 (sepuluh)
tenaga teknis kefarmasian;
d. 1 (satu) apoteker di instalasi gawat
darurat yang dibantu oleh minimal 2
(dua) tenaga teknis kefarmasian;
e. 1 (satu) apoteker di ruang ICU yang
dibantu oleh paling sedikit 2 (dua) tenaga
teknis kefarmasian;
f. 1 (satu) apoteker sebagai koordinator
penerimaan dan distribusi yang dapat
merangkap melakukan pelayanan farmasi
klinik di rawat inap atau rawat jalan dan
dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian
yang jumlahnya disesuaikan dengan
beban kerja pelayanan kefarmasian
Rumah Sakit; dan
g. 1 (satu) apoteker sebagai koordinator
produksi yang dapat merangkap
melakukan pelayanan farmasi klinik di
rawat inap atau rawat jalan dan dibantu
oleh tenaga teknis kefarmasian yang
jumlahnya disesuaikan dengan beban
kerja pelayanan kefarmasian Rumah
Sakit.
 PMK 147 Tahun 2010 Tentang Perizinan
Rumah Sakit
Lampiran
4. Sumber daya manusia,
Tersedianya tenaga medis, dan keperawatan
yang purna waktu, tenaga kesehatan lain dan
tenaga non kesehatan telah terpenuhi sesuai
dengan jumlah, jenis dan klasifikasinya.
6. KEGIATAN / PROSES  PMK no 58 tahun 2014 Tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.
Pasal 3
(2) Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
meliputi:
a. pemilihan;
b. perencanaan kebutuhan;
c. pengadaan;
d. penerimaan;
e. penyimpanan;
f. pendistribusian;
g. pemusnahan dan penarikan;
h. pengendalian; dan
i. administrasi.
(3) Pelayanan farmasi klinik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. pengkajian dan pelayanan Resep;
b. penelusuran riwayat penggunaan Obat;
c. rekonsiliasi Obat;
d. Pelayanan Informasi Obat (PIO);
e. konseling;
f. visite;
g. Pemantauan Terapi Obat (PTO);
h. Monitoring Efek Samping Obat (MESO);
i. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO);
j. dispensing sediaan steril; dan
k. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah
(PKOD);
7. PROSES PERIZINAN  UU no 44 tahun 2009 Tentang Rumah
Sakit.
Pasal 25
(1). Setiap penyelenggaraan rumah sakit wajib
memiliki izin
(2). Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri dari izin mendirikan dan izin operasional
(3). Izin mendirikan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diberikan untuk jangka waktu 2
(dua) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1
(satu) tahun.
(4). Izin operasional sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diberikan untuk jangka waktu 5
(lima) tahun dan dapat di perpanjang kembali
selama memenuhi persyaratan.
(5). Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dierikan setelah memenuhi persyaratan
seagaimana diatur dalam undang-undang ini
 PMK no 56 tahun 2014 Tentang
klasifikasi dan perizinan Rumah Sakit
Pasal 63
1. Setiap rumah sakit wajib memiliki izin.
2. Izin rumah sakit sebagaimana dimaksud
pada ayat 1 terdiri atas izin mendirikan dan
izin oprasional
3. Izin mendirikan sebagaimana dimaksud
pada ayat 2 diajukan oleh pemilik rumah
sakit
4. Izin oprasional sebagaimana dimaksud pada
ayat 2 di ajukan oleh pengelola rumah sakit

Pasal 66
1. Izin mendirikan diberikan untuk mendirikan
bangunan baru atau mengubah fungsi
bangunan lama untuk difungsikan sebagai
rumah sakit
Pasal 70
1. Izin oprasional merupakan izin yang
diberikan kepada pengelola rumah sakit
untuk menyelenggarakan pelayanan
kesehatan.
2. Izin oprasional berlaku untuk jangka waktu
5 tahun dan dapatdiperpanjang selama
memenuhi persyaratan.
3. Perpanjangan izin oprasional sebagaimana
dimaksud pada ayat 2 dilakukan dengan
mengajukan permohonan perpanjangan
selambat-lambatnya 6 bulan sebelum habis
masa berlakunya izin oprasional.
 PMK 147 Tahun 2010 Tentang Perizinan
Rumah Sakit
Pasal 3
1. Permohonan izin mendirikan dan izin
operasional Rumah Sakit diajukan menurut
jenis dan klasifikasi Rumah Sakit.
2. Izin mendirikan dan izin operasional
Rumah Sakit kelas A diberikan oleh
Menteri
3. Izin mendirikan dan izin operasional
Rumah Sakit kelas B diberikan oleh
Pemerintah Daerah Provinsi
4. Izin mendirikan dan izin operasional
Rumah Sakit kelas C dan kelas D
diberikan oleh Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota
Pasal 4
(1) Untuk memperoleh izin mendirikan, Rumah
Sakit harus memenuhi persyaratan yang
meliputi :
a. studi kelayakan;
b. master plan;
c. status kepemilikan;
d. rekomendasi izin mendirikan;
e. izin undang-undang gangguan (HO);
f. persyaratan pengolahan limbah;
g. luas tanah dan sertifikatnya;
h. penamaan;
i. Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
j. Izin Penggunaan Bangunan (IPB); dan
k. Surat Izin Tempat Usaha (SITU).
Pasal 5
1. Rumah Sakit harus mulai dibangun setelah
mendapatkan izin mendirikan.
2. Izin mendirikan diberikan untuk jangka
waktu 2 (dua) tahun dan dapat
diperpanjang untuk 1 (satu) tahun.
Pasal 6
(1) Untuk mendapatkan izin operasional,
Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan
yang meliputi:
a. sarana dan prasarana;
b. peralatan;
c. sumber daya manusia;dan
d. Administrasi dan manajemen.
Pasal 8
1. Rumah Sakit yang telah memiliki izin
operasional sementara harus mengajukan
surat permohonan penetapan kelas Rumah
Sakit kepada Menteri.
Pasal 10
(1) Setiap Rumah Sakit yang telah
mendapakan izin operasional harus
diregistrasi dan diakreditasi.
8. JAMINAN/PENGAWASAN  UU No 44 tahun 2009 Tentang Rumah
MUTU Sakit
Pasal 54
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah
melakukan pembinaan dan pengawasan
terhadap rumah sakit dengan melibatkan
organisasi profesi, asosiasi perumahsakitan,
dan organisasi ke masyaratan lainnya sesuai
dengan tugas dan fungsi masing-masing.
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk :
a. Pemunuhan kebutuhan pelayanan kesehatan
yang terjangkau oleh masyarakat
b. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan
c. Keselamatan pasien
d. Pengembangan jangkauan pelayanaan dan
e. Peningkatan kemampuan kemandirian
rumah sakit
(3). Dalam melaksanakan tugas pengawasan,
pemerintah dan pemerintah daerah
menggangkat tenaga pengawas sesuai kopetensi
dan keahliannya
(4). Tenaga pengawas sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) melaksanakan pengawasan yang
bersifat teknis medis dan teknis
perumahsakitan.

 PP 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan


kefarmasiaan
Pasal 58
Menteri, pemerintah daerah provinsi,
pemerintah daerah kabupaten/ kota sesuai
kewenangannya serta organisasi profesi
membina dan mengawasi pelaksanaan
pekerjaan kefarmasian.
Pasal 59
Pembinaan dan pengawasan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 58 diarahkan untuk:
a. Melindungi pasien dan masyarakat dalam
hal pelaksanaan pekerjaan kefarmasian
yang dilakukan oleh tenaga kefarmasian;
b. Mempertahankan dan meningkatkan mutu
pekerjaan kefarmasian sesuai dengan
perkemangan ilmu pengetahuan dan
teknologi; dan
c. Memberikan kepastian hukum bagi pasien,
masyarakat dan tenaga kefarmasian.
 PMK : No 58 Tahun 2014 Tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit
Pasal 5
(1). Untuk menjamin mutu pelayanaan
kefarmasian di rumah sakit harus dilakukan
pengandelian mutu pelayanan kefarmasian
yang meliputi :
a. Monitoring ; dan
b. Evaluasi.
(2). Ketentuan lebih lanjut mengenai
penggandeliaan mutu pelyanan kefarmasian
seagaimana dimaksud pada ayat 1 tercantum
dalam lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari peraturan menteri ini.
9. PENCATATAN  UU No 44 tahun 2009 Tentang Rumah
Sakit
Pasal 52
(1) Setiap Rumah Sakit wajib
melakukan pencatatan dan
pelaporan tentang semua
kegiatan penyelenggaraan
Rumah Sakit dalam bentuk
Sistem Informasi Manajemen
Rumah Sakit.
(2) Pencatatan dan pelaporan
terhadap penyakit wabah atau
penyakit tertentu lainnya yang
dapat menimbulkan wabah, dan
pasien penderita ketergantungan
narkotika dan/atau psikotropika
dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-
undangan.
 PMK 58 Tahun 2014 Tentang Standar .
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
Pencatatan dan pelaporan terhadap kegiatan
pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai yang meliputi
perencanaan kebutuhan, pengadaan,
penerimaan, pendistribusian, pengendalian
persediaan, pengembalian, pemusnahan dan
penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai. Pelaporan
dibuat secara periodik yang dilakukan Instalasi
Farmasi dalam periode waktu tertentu (bulanan,
triwulanan, semester atau pertahun).

10 PELAPORAN  PMK 58 Tahun 2014 Tentang Standar


Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
Pencatatan dan pelaporan terhadap kegiatan
pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai yang meliputi
perencanaan kebutuhan, pengadaan,
penerimaan, pendistribusian, pengendalian
persediaan, pengembalian, pemusnahan dan
penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai. Pelaporan
dibuat secara periodik yang dilakukan Instalasi
Farmasi dalam periode waktu tertentu (bulanan,
triwulanan, semester atau pertahun).