Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia merupakan karunia Tuhan Yang


Maha Esa dan diperoleh melalui perjuangan yang sangat panjang. Oleh karena itu,
hasil dari perjuangan tersebut harus dipertahankan untuk memberikan kesempatan
kepada bangsa Indonesia mewujudkan kesejahteraan yang adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.

Sejalan dengan perkembangan pembangunan nasional, pembangunan dunia


usaha di Indonesia turut pula berkembang dengan pesat. Hal ini dapat dilihat
dengan munculnya banyak pengusaha, baik yang bertindak secara pribadi maupun
secara bersama-sama mendirikan perusahaan dengan tujuan untuk mencari
keuntungan. Sekarang ini juga telah berkembang macam-macam bentuk
perusahaan. Di dalam peraturan perundang-undangan kita, mengenal bentuk
badan usaha yang dapat dibentuk, ada Firma, CV (Persekutuan Komanditer),
Koperasi, Yayasan, dan yang paling banyak diminati adalah Perseroan Terbatas
(PT). Masing-masing bentuk usaha ini memiliki ciri-ciri, kelemahan dan
kelebihannya tersendiri.

Didalam menjalankan usahanya, perusahaan membutuhkan modal, baik


berupa uang ataupun berupa barang-barang. Khusus untuk jenis badan usaha
berbentuk Perseroan Terbatas memiliki kekurangan yaitu membutuhkan modal
yang tidak sedikit, hal ini telah diatur di dalam Pasal 32 Undang-undang No 40
Tahun 2007 yang menyatakan bahwa modal dasar Perseroan paling sedikit
sebesar Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Semakin besar usaha yang
akan dijalankan maka semakin besar pula modal yang dibutuhkan. Di dalam
menjalankan usaha, satu hal yang pasti perusahaan akan memperoleh keuntungan
atau kerugian. Jika perusahaan itu memperoleh keuntungan, tentu saja perusahaan
itu akan terus berkembang dan bahkan bisa menjadi perusahaan raksasa. Pada saat
sekarang ini yang sedang menjadi trend bagi perusahaan-perusahaan yang sudah
besar adalah dengan membentuk suatu perusahaan grup/kelompok.

Hubungan-hubungan yang ada diantara perusahaan anggota


perusahaan grup dapat diartikan sebagai hubungan antara badan-
badan hukum yang ada di dalam suatu grup tersebut, yaitu badan
hukum dengan bentuk Perseroan Terbatas. Hubungan itu dapat
terjadi antara lain karena adanya keterkaitan kepemilikan yang
banyak atau sedikit. Mempunyai keterikatan yang erat baik satu
sama lain, dalam kebijakan menjalankan usaha maupun dalam hal
pengaturan keuangan dan hubungan organisasi. Dengan kata lain
dapat dikatakan bahwa perusahaan yang berada di bawah satu
pimpinan sentral atau pengurusan bersama dikelola dengan gaya
dan pola yang sama.1

Keadaan suatu perusahaan tidaklah selalu berjalan dengan baik dan


terkadang mengalami kesulitan di bidang keuangan sehingga perusahaan tersebut
tidak lagi mampu membayar semua utang-utangnya. Untuk mempertahankan
usahanya tersebut perusahaan dapat melakukan peminjaman uang yang
dibutuhkan kepada pihak lain. dalam keidupan memang tersedia sumber-sumber
dana yang tersedia bagi seseorang atau badan hukum yang ingin memperoleh
pinjaman, dari sumber-sumber dana itulah kekurangan dana dapat diperoleh.

Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW) tidak memberikan


definisi mengenai Debitur dan Kreditur. Begitu juga Undang-Undang Kepailitan
tahun 1998 juga tidak memberikan definisi terhadap istilah debitur dan kreditur.
Barulah pada Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang menggantikan undang-undang
tahun 1998, diberikan definisi yang jelas mengenai debitur dan kreditur. Pasal 1
angka 2menyebutkan, “kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena
perjanjian atau Undang- Undang yang dapat ditagih di muka pengadilan”.
Sedangkan Pasal 1 angka 3 menyebutkan, “debitur adalah orang yang mempunyai
utang karena perjanjian atau Undang-Undang yang pelunasannya dapat ditagih di
muka pengadilan”.

1
Emmy Simanjuntak, Seri Hukum Dagang; Perusahaan Kelompok (group
company.concern), Universitas Gajah Mada, Jogjakarta, 1997, hal.5
Pemberian pinjaman oleh kreditor kepada debitur didasarkan pada asumsi
bahwa kreditur percaya bahwa debitur dapat mengembalikan utangya tepat pada
waktunya. Namun debitur terkadang juga tidak melakukan pinjaman kepada satu
kreditur saja, bisa terdapat satu atau lebih kreditur karena debitur membutuhkan
jumlah dana yang lumayan besar. Pelunasan utang oleh debitur kepada kreditur
tidak selalu dapat berjalan dengan lancar adakalanya debitur tidak membayar
utangnya kepada kreditur walaupun telah jatuh tempo. Debitur yang tidak mampu
melunasi utangnya, maka harta kekayaan debitur yang bergerak maupun yang
tidak bergerak dan baik yang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari
menjadi jaminan atas utangnya. Hal ini diatur dalam Pasal 131 KUHPerdata,
dengan kata lain Pasa l131 tersebut tidak hanya menentukan bahwa harta
kekayaan debitur demi hukum menjadi agunan bagi kewajiban membayar
utangnya kepada kreditur yang mengutanginya, tetapi juga menjadi agunan bagi
semua kewajiban lain yang timbul karena perikatan-perikatan lain, baik perikatan
lain timbul karena undang-undang maupun karena perjanjian selain perjanjian
kredit atau perjanjian pinjam-meminjam uang.

Ketentuan Pasal 1132 KUHPerdata mengisyaratkan bahwa setiap kreditur


memiliki kedudukan yang sama terhadap kreditur yang lainnya, kecuali
ditentukan lain oleh undang-undang karena memiliki alasan-alasan yang sah
untuk didahulukan daripada kreditur-kreditur lainnya. Kedua pasal tersebut diatas
merupakan jaminan bagi kreditur untuk mendapatkan pelunasan bagi semua
piutangnya, tapi untuk melaksanakan pembayaran utang oleh debitur kepada
kreditur. Karena tidak dapat membayar utang-utangnya maka kemudian
perusahaan tersebut dapat dikatakan mengalami kepailitan.

Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang
pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator dibawah pengawasan
Hakim Pengawan sebagaimana diatur oleh Undang-Undang ini (Pasal 1 angka 1
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang). Seseorang debitur baru dapat dikatakan dan
diajukan kepailitannya apabila ia mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak
dapat membayar lunas sedikitnya satu utangnya yang telah jatuh tempo dan dapat
ditagih dan dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas
permohonannya sendiri ataupun atas permohonan satu atau lebih krediturnya.

Setiap perusahaan bisa saja menjadi pailit, begitu juga terhadap suatu grup
perusahaan. Walaupun bisa dikatakan suatu grup perusahaan sudah merupakan
perusahaan yang besar dan berkembang sangat pesat tidak menutup kemungkinan
salah satu perusahaan yang ada di dalam grup perusahaan tersebut dapat
mengalami kepailitan.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut diatas, maka dapat


dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:

1. Bagaimana tanggung jawab induk perusahaan terhadap kreditur dari


anak perusahaan?

2. Bagaimana dampak kepailitan induk perusahaan terhadap anak


perusahaan di dalam satu grup perusahaan?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Mengacu kepada judul dan permasalahan dalam makalah ini, maka dapat
dikemukakan bahwa tujuan yang hendak dicapai dari penulisan makalah ini
adalah:

1. Untuk mengetahui tanggung jawab induk perusahaan terhadap kreditur


dari anak perusahaan.

2. Untuk mengetahui dampak kepailitan induk perusahaan terhadap anak


perusahaan didalam satu grup perusahaan.
BAB II

PEMBAHASAN

A. TINJAUAN UMUM

1. Kepailitan

Seperti yang telah dibahas diatas, bahwa pada Undang-Undang


Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang yang menggantikan Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1998, memberikan definisi yang jelas mengenai kepailitan. Ada beberapa
ahli yang menyamakan istilah “pailit” dengan istilah “bangkrut”. Secara
ekonomis, seseorang atau suatu perusahaan dikatakan bangkrut jika
keadaan dalam neraca menunjukkan bahwa posisi pasivanya lebih rendah
atau tidak sebanding daripada posisi aktivanya. Dengan kata lain rugi,
sehingga ada beberapa pendapat yang tidak setuju jika istilah “pailit” itu
disamakan dengan istilah “bangkrut”.

Istilah “bangkrut” adalah istilah yang tidak resmi digunakan di luar


undang-undang. Bangkrut juga harus diartikan bahwa debitur berada
dalam keadaan berhenti membayar, tidak peduli karena ia tidak mampu
atau tidak mau. Bangkrut tidak selalu harus ditunjukkan oleh keadaan
perusahaan yang merugi. Memang bisa terjadi perusahaan terus rugi,
kemudian ia tidak mampu membayar utang-utangnya. Pada keadaan
seperti ini belum tentu ia bangkrut, ia baru dapat dikatakan bangkrut jika
memang sudah diputus demikian oleh Hakim.2

Dari definisi tersebut, menurut Undang-Undang Kepailitan,


seorang kreditur dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit kepada
Pengadilan Niaga. Dari ketentuan Pasal 2 ayat (1) dapat disimpulkan
bahwa permohonan pernyataan pailit hanya dapat dilakukan apabila
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. debitur paling sedikit mempunyai dua kreditur atau lebih


dengan kata lain harus memiliki lebih dari satu kreditur;

2. debitur paling sedikit tidak dapat membayar satu utangnya


kepada kreditur; dan

3. utang yang tidak dibayar itu telah jatuh tempo dan telah dapat
ditagih.

Dari syarat permohonan pernyataan pailit itu salah satunya


disebutkan bahwa debitur tidak dapat membayar utangnya kepada
kreditur. Apakah yang menjadi tolak ukur atau norma pada keadaan
“tidak dapat membayar” itu? Untuk pernyataan kepailitan ada pedoman
yang telah disepakati, yaitu tidak perlu ditunjukkan bahwa debitur tidak
mampu untuk membayar utangnya dan tidak peduli apakah berhenti
membayar itu sebagai akibat dari tidak dapat atau tidak mau membayar.
Melainkan bahwa debitur pada waktu diajukan permohonan pernyataan
pailit berada dalam keadaan tidak membayar utang-utangnya.3

Walaupun bagi pengusaha, pernyataan pailit terhadap


perusahaannya menjadi suatu pengrusakan nama baik terhadap
perusahaannya namun bukan berarti adanya pernyataan pailit ini tidak
memiliki tujuan. Adapun tujuan dari pailit ini adalah:

2
Prof. Dr. Nindyo Parmono, S.H., M.S., Hukum Kepailitan, hal. 16
3
Ibid, hal. 12
1. untuk mendapatkan penyitaan umum atas kekayaan si debitur
pailit, yaitu segala harta kekayaan debitur disita dan dibekukan
untuk kepentingan semua krediturnya;

2. untuk menghindarkan kreditur pada waktu yang bersamaan


meminta pembayaran kembali piutangnya kepada sei debitur;

3. menghindari adanya kreditur yang ingin mendapatkan Hak


Istimewa yang menuntut hak-haknya dengan cara menjual
sendiri barang miliki debitur, tanpa memperhatikan
kepentingan kreditur lainnya;

4. menghindarkan kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh


debitur itu sendiri, misalnya debitur melarikan atau
menghilangkan semua harta kekayaannya dengan maksud
melepaskan semua tanggung jawabnya kepada kreditur, debitur
menyembunyikan harta kekayaannya, sehingga para kreditur
tidak akan mendapatkan apa-apa.

Pengajuan permohonan pailit ini dapat diajukan baik oleh debitur


itu sendiri maupun oleh satu atau lebih krediturnya. Selain itu juga dapat
diajukan oleh Kejaksaan, Bank Indonesia (debiturnya adalah bank-bank),
Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal) jika debiturnya adalah bursa
efek, Menteri Keuangan (debiturnya adalah perusahaan asuransi dan
perusahaan re-asuransi), BUMN (debiturnya adalah perusahaan BUMN
seperti Telkom, PLN). Dari sini dapat kita simpulkan bahwa yang dapat
dipailitkan adalah:

1. Orang perorangan. Baik pria maupun wanita, menikah atau


belum menikah. Jika pemohon adalah debitur yang telah
menikah, maka permohonana hanya dapat diajukan atas
persetujuan suami/istrinya, kecuali ada perjanjian tidak ada
pencampuran harta.
2. Perserikatan atau perkumpulan yang tidak berbadan hukum.
Jika pemohon berbentuk Firma maka harus dicantumkan nama
dan tempat kediaman masing-masing Persero yang secara
tanggung renteng terikat untuk seluruh utang Firma.

3. Perseroan, perkumpulan, yayasan dan koperasi yang berbadan


hukum.

4. Harta warisan.

2. Induk perusahaan (Holding Company)

Perusahaan grup merupakan suatu fenomena di bidang hukum


perusahaan yang tumbuh sebagai reaksi terhadap kebutuhan untuk
meningkatkan efisiensi ekonomis dalam kegiatan usaha. Hal ini
selanjutnya diperlukan manakala sebuah kelompok perusahaan bergerak
dalam berbagai bidang bisnis yang tidak saling terkait (unrelated) suatu
usaha yang dalam praktek lebihg dikenal dengan konglomerasi.4

Istilah konglomerat dapat disebutkan untuk grup-grup usaha


perusahaan besar seperti: Grup Bakrie, Grup Astra dan lain-lain, dimana
bisnis perusahaan tersebut dilakukan ekspansi secara vertikal, horizontal
maupun campuran keduanya.

Kerjasama diantara perusahaan-perusahaan yang dikenal dengan


nama consern atau group company atau perusahaan grup, secara umum
dapat diberi pengertian sebagai susunan dari perusahaan-persusahaan
yang secara yuridis tetap mandiri dan yang satu dengan yang lain tetap
merupakan satu kesatuan ekonomi yang dipimpin oleh satu induk
perusahaan.5

Di dalam undang-undang tidak diatur secara khusus tentang


perusahaan kelompok. Dari istilah kelompok bisa diartikan bahwa

4
HMU Fattowi Assari, Peningkatan Kinerja BUMD Melalui Pengembangan Holding
Company, Tesis Fakultas Sosial Politik Program S2 Universitas Indonesia, Jakarta, 2000, hal. 54
5
Rita Diah Widyawati, Tanggung Jawab Induk Perusahaan Terhadap Perikatan yang
Dilakukan oleh Anak Perusahaan, 2009, hal. 77
didalamnya terdapat beberapa anggota di dalam kelompok. Bila di
KUHPerdata diatur mengenai persekutuan perdata yang anggotanya
terdiri dari orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama untuk
memperoleh keuntungan dengan kewajiban masing-masing memasukkan
sesuatu, baik berupa modal, uang, barang, tenaga atau keahlian yang
kesemuanya itu dimaksudkan untuk tujuan memperoleh keuntungan.
Demikian pula dengan kata kelompok dapat digambarkan bahwa dalam
perusahaan kelompok terdapat beberapa anggota yaitu beberapa
perusahaan yang juga mempunyai tujuan yang sama untuk memajukan
perusahaannya.

Suatu holding company adalah suatu perusahaan yang tujuan


utamanya adalah memiliki saham perusahaan lain (Joel G Siegel et al,
1996: 947). Holding adalah perusahaan penyertaan modal/penyertaan
saham. Demikian definisi Pasal 1 ayat 11 Keputusan Menteri Negara
Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal No. 38/SK/1999,
6 Oktober 1999. Dari definisi yang tersebut diatas, maka dapat
disimpulkan beberapa unsur penting yang harus ada di dalam konsern,
yaitu:

• ada kesatuan dari sudut ekonomi

• ada jumlah jamak secara yuridis

Pada umumnya, holding company lazim diadakan dengan tujuan


agar dapat diselenggarakan penguasaan ekonomis dalam skala yang lebih
besar, menghilangkan kompetisi atau untuk menjamin stabilitas
penyediaan bahan yang berkesinambungan/terus menerus (Rudhi
Prasetya, 2001:60). Untuk dapat melakukan pengendalian atas suatu
usaha (business), holding company dapat membeli secara langsung dari
pasar atau melakukan suatu tender offer.

Alasan perseroan menjadi holding company karena terjadinya


penurunan terhadap usaha utamanya dan kemudian memutuskan untuk
melikuidasi aset-asetnya dan menggunakan dana hasil likuidasi aset
tersebut untuk berinvestasi di perusahaan yang sedang bertumbuh
kembang (Joel G Siegel et al, 1996: 947).

Perusahaan berbentuk holding company dapat memetik berbagai


keuntungan. Jika ditilik dari sisi finansial, keuntungan yang dapat dipetik
adalah kemampuan mengevaluasi dan memilih portofolio bisnis terbaik
demi efektivitas modal yang ditanamkan, optimalisasi sumber daya yang
dimiliki, serta manajemen dan perencanaan pajak yang lebih baik.

Jika dilihat dari sisi nonfinansial terdapat sederet manfaat. Bentuk


holding company memungkinkan perusahaan membangun,
mengendalikan, mengelola, mengonsolidasikan, dan mengoordinasikan
aktivitas dalam sebuah lingkungan multibisnis.

Ini juga menjamin, mendorong dan memfasilitasi perusahaan


induk, anak perusahaan dan afiliasinya guna peningkatan kinerja. Yang
tidak kalah pentingnya adalah membangun sinergi diantara perusahaan
yang tergabung dalam holding company serta memberikan support demi
tercapainya efisiensi. Dari sisi kepemimpinan juga terjadi
institusionalisasi kepemimpinan individual ke dalam sistem.

Joel G Siegel et al juga memaparkan bahwa seperti halnya bentuk


restrukturisasi korporasi lainnya, pembentukan suatu holding company
juga berdampak positif dan negatif (Joel G Siegel et al, 1996:947):

Dengan holding company akan memberikan keuntungan; pertama,


memberikan suatu proteksi terhadap resiko yaitu dalam hal terjadi suatu
wanprestasi pada salah satu perusahaan.

Kedua, kemampuan mendapatkan sejumlah aset penting dengan


investasi yang kecil, kemampuan yang mana tidak akan diperoleh dengan
melakukan merger. Ketiga, akan mempermudah mendapatkan
pengendalian dari perusahaan lain.

Namun disamping keuntungan tersebut di atas, pembentukan


holding company juga akan membawa sisi kerugian; pertama, ongkosnya
mahal dibandingkan hanya dengan menatausaha/mengelola. Kedua, akan
mengakibatkan tambahan utang karena dengan akuisisi tersebut
(pembentukan holding company) dapat memperbesar beragamnya
pendapatan perseroan yang akan merupakan potensi dari risiko holding
company. Ketiga, akan terjadi multiple tax karena penghasilan yang
diterima holding company berupa uang tunai.

Tatanan perusahaan grup semakin banyak terjadi, umumnya yang


menjalankan pengendalian operasional dilakukan oleh induk perusahaan
yang sekaligus menjalankan kegiatan usaha sendiri. “Di Indonesia
pengendalian sentral masih cenderung dipengaruhi dan berada pada figur
pribadi pemegang saham (owner)”.6

Perusahaan kelompok dapat terjadi melalui penggabungan,


peleburan, dan pengambilalihan perseroan. Pengertian penggabungan
(merger), peleburan (konsolidasi), dan pengambilalihan (akuisisi) diatur
dalam Pasal 122 sampai dengan Pasal 134 Undang-Undang Perseroan
Terbatas Nomor 40 Tahun 2007.

Berdasarkan ketentuan di dalam Pasal 122 ayat (1) Undang-


Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, penggabungan
adalah perseroan yang menggabungkan atau meleburkan diri dan
berkahir karena hukum, yang berarti bahwa perusahaan yang
menggabungkan diri beralih pada perusahaan yang menerima
penggabungan atau bisa dikatakan perseroan sebagai hasil dari
penggabungan (merger). Dalam merger kerja sama antar perusahaan
yang bergabung itu mencakup kegiatan yang bersifat penuh dan
kemandirian pihak-pihak yang melakukan merger sudah tidak ada lagi.

Akuisisi adalah pengambilalihan suatu perseroan oleh perseroan


lain, ditentukan dalam Pasal 125 ayat (1) Undang-Undang Perseroan
Terbatas Nomor 40 Tahun 2007. Pengambilalihan dapat dilakukan oleh
badan hukum atau orang perorangan. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal

6
Rudi Prasetya. 2001. Hal. 64
125 ayat (3) Undang-Undang Perseroan Terbatas, pengambilalihan dapat
dilakukan dengan pengambilalihan saham yang mengakibatkan
beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut.

Persyaratan untuk melakukan penggabungan, peleburan dan


pengambilalihan ternyata tidak mudah. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal
127 ayat (1) Undang-Undang Perseroan Terbatas yang menentukan
RUPS mengenai penggabungan, peleburan dan pengambilalihan
perseroan sah apabila diambil sesuai dengan ketentuan Pasal 87 ayat (1)
dan Pasal 89.

Hubungan-hubungan konsern biasanya diartikan hubungan anara


badan-badan hukum terutama badan hukum yang berbentuk perseroan,
misalnya: Perseroan Terbatas. Hubungan ini ada apabila pimpinan
perusahaan dari dua atau lebih perusahaan diusahakan agar antar sesama
perusahaan itu lebih kurang ada susunan yang erat secara ekonomis,
finansial dan organisatoris.

Dari segi variasi usahanya, perusahaan grup dapat dibagi menjadi


perusahaan grup horizontal, vertikal dan kombinasi. Perusahaan grup
horizontal ada apabila perusahaan-perusahaan yang bergabung
mempunyai bidang usaha yang tidak saling terkait. Perusahaan grup ini
menangani bidang usaha yang beragam. Sedangkan perusahaan grup
vertikal ada apabila perusahaan yang digabungkan saling terkait.
Perusahaan-perusahaan yang bergabung ini saling melanjutkan
perusahaan lainnya. Sedangkan perusahaan grup kombinasi merupakan
gabungan dari keduanya.

Secara a contrario, pengertian holding company (induk


perusahaan) adalah Perseroan Terbatas yang mempunyai hubungan
khusus dengan satu atau lebih anak perusahaan yang terjadi karena:
memiliki lebih dari 50% saham anak perusahaan, menguasai lebih dari
50% suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham anak perusahaan, dan
atau sangat mempengaruhi kontrol atas jalannya anak perusahaan
termasuk dalam hal pengangkatan dan pemberhentian direksi dan
komisaris anak perusahaan.

B. TANGGUNG JAWAB INDUK PERUSAHAAN TERHADAP


KREDITUR DARI ANAK PERUSAHAAN

Sejauh mana hak, kewajiban dan wewenang induk perusahaan terhadap


anak perusahaan sangat bervariasi. Dalam perusahaan grup perusahaan yang
berlaku prinsip desentralisasi, induk perusahaan sangat jauh terlibat langsung
sehingga anak perusahaan hanya menjalankan tugas rutin saja tanpa bisa
menentukan keputusan. Akan tetapi dalam kelompok yang menerapkan prinsip
desentralisasi, anak perusahaan diberi kewenangan yang sangat besar. Ada juga
variasi dimana divisi dapat mempunyai kewenangan yang sangat besar dan induk
perusahaan hanya melakukan fungsi koordinasi saja, melalui pranatanya yang
disebut coordinating board. 7

Hubungan hukum yang timbul antara induk perusahaan dengan anak


perusahaannya merupakan hubungan antara pemegang saham (induk perusahaan)
dengan anak perusahaan. Hubungan hukum tersebut diatur secara jelas dalam
anggaran dasar anak perusahaan dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku.
Sebagai contoh suatu anak perusahaan untuk dapat melakukan suatu tindakan
hukum tertentu harus mendapat persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham
(termasuk induk perusahaan sebagai pemegang saham mayoritas). Tindakan
tertentu tersebut adalah: melakukan penyertaan pada perusahaan lain, menerima
pinjaman atau memberikan pinjaman pada perusahaan lain, melakukan perjanjian
dengan pihak ketiga. Segala sesuatu tindakan hukum anak perusahaan yang
berhubungan dengan anggaran dasar harus mendapat persetujuan dari induk
perusahaan. Oleh karenanya organisasi dan manajemen induk perusahaan diatur
sebagaimana layaknya Perseroan Terbatas biasa yaitu di dalam anggaran dasar
induk perusahaan tersebut. Induk perusahaan melakukan pengawasan terhadap

7
Munir Fuady. Hukum Perusahaan dalam Paradigma Hukum Bisnis. Bandung. 1999. Hal.
14
anak perusahaan sebatas pemegang saham dan sebatas diatur dalam anggaran
dasar anak perusahaan.

Mengenai sejauh mana tanggung jawab induk perusahaan terhadap anak


perusahaannya terutama terhadap utang anak perusahaan kepada pihak ketiga,
pada prinsipnya setiap konsekuensi yuridis atas tindakan perseroan baik atau pun
buruk akan dipikul oleh perseroan tersebut. Namun demikian, undang-undang
mengenal beberapa pengecualian. Walaupun itu tindakan perseroan, dapat terbuka
kemungkinan bukannya perusahaan yang bertanggung jawab, tetapi pihak lainnya.
Misalnya direktur secara pribadi ataupun secara bersama-sama (renteng).

Di dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas, jika anak perusahaan


melakukan perbuatan yang mengharuskan bertanggung jawab secara hukum,
induk perusahaan akan ikut bertanggung jawab sejauh tidak menyimpang dari
tugas yang seharusnya dilakukan oleh perusahaannya. Kecuali misalnya direksi
pada anak perusahannya telah bertindak melebihi kekuasaan yang diberikan
kepadanya. Seberapa jauh kekuasaan diberikan kepadanya, dapat dilihat dalam
anggaran dasar perusahaan yang bersangkutan. Biasanya dalam bagian
“Kepengurusan” dan bagian “Tugas dan Wewenang Direksi”. Apabila direktur
bertindak melampaui wewenang yang diberikan kepadanya tersebut, maka
direktur tersebut bertanggung jawab secara pribadi.

Jadi walaupun perusahaan grup merupakan kesatuan ekonomi, namun


secara yuridis perusahaan-perusahaan dalam perusahaan grup masing-masing
merupakan badan hukum, sehingga hak dan kewajiban PT. A tidak otomatis
menjadi hak dan kewajiban PT. B. Dalam hubungan ini, salah satu yang dapat
dipandang sebagai sisi positifnya dari keterikatan perusahaan-perusahaan yang
secara yuridis mandiri di dalam perusahaan adalah bahwa mereka dapat saling
memberikan jaminan dalam pembiayaan.

Begitu pula halnya dengna transaksi-transaksi yang diadakan PT. A dengan


pihak ketiga tidak sekaligus mengikat PT. B yang termasuk dalam perusahaan
kelompok. Hak dan kewajiban satu perseroan secara yuridis tidak dapat sekaligus
menjadi hak dan kewajiban PT-PT lainnya. Dengan kata lain apabila anak
perusahaan mengadakan transaksi dengan kreditur kemudian kewajiban ini tidak
secara otomatis beralih kepada induk atau anak perusahaan lainnya. Dengan
demikian induk perusahaan tidak bertanggung jawab atas pemenuhan kewajiban
anak perusahaan dengan pihak ketiga (kreditur). Akan tetapi apabila anak-anak
perusahaan memperoleh kredit dari kreditur, maka keterikatan secara yuridis dari
induk perusahaan dapat muncul karena ia ikut bertanggung jawab terhadap
pelunasan pinjaman atau utang dari kreditur tersebut karena ia sebagai pemegang
saham.

C. DAMPAK KEPAILITAN INDUK PERUSAHAAN TERHADAP


ANAK PERUSAHAAN DALAM SATU PERUSAHAAN GRUP

Telah disebutkan diatas bahwa tanggung jawab di dalam perusahaan grup


walaupun terdapat induk perusahaan dan anak perusahaan, namun dari masing-
masing tersebut hanyalah Perseroan Terbatas biasa, yang hak dan kewajibannya
masing-masing tidak secara otomatis menjadi hak dan kewajiban perusahaan
lainnya di dalam perusahaan grup tersebut. Induk perusahaan mempunyai
wewenang kepada anak perusahaan hanya sebatas pemegang saham, namun
dalam hal ini sebagai pemegang saham mayoritas sehingga memiliki pengaruh
yang kuat dalam Rapat Umum Pemegang Saham.

Direktur anak perusahaan dapat bertindak sesuai dengan wewenang yang


diberikan kepadanya seperti yang tercantum di dalam Anggaran Dasar perusahaan
tersebut. Jika ia bertindak melampaui wewenang yang diberikan kepadanya maka
direktur tersebut akan bertanggung jawab secara pribadi.

Jika perusahaan yang bersangkutan jatuh pailit, maka beban tanggung jawab
tidak cukup ditampung oleh harta perusahaan (harta pailit), maak direksi pun ikut
bertanggung jawab secara renteng. Jika anak perusahaan itu ada beberapa
direktur, salah seorang direktur itu menyebabkan kerugian yang menyebabkan
kepailitan pada anak perusahaan tersebut, sejauh itu dilakukan tidak melanggar
anggaran dasar, atau melanggar tugasnya kemungkinan adanya sistem pembuktian
terbalik. Artinya kepada anggota direktur diberi kemungkinan untuk mengelak
dari tanggung jawab renteng jika ia dapat membuktikan bahwa ia tidak bersalah
(pasal 90 ayat (3) UU PT). Dalam hal ini induk perusahaan tidak ikut bertanggung
jawab.

Namun jika induk perusahaan yang jatuh pailit, maka dapat berdampak
kepada anak perusahaannya. Seperti yang terdapat pada ketentuan Pasal 21
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang yaitu kepailitan meliputi seluruh kekayaan debitur
pada saat putusan pernyataan pailit diucapkan serta segala sesuatu yang diperoleh
selama kepailitan. Jadi dalam hal ini seluruh harta debitur pailit akan disita oleh
Balai Harta Peninggalan. Namun tidak semua harta debitur pailit ini disita,
terhadap pengecualiannya ini telah diatur dalam Pasal 22 Undang-Undang
Kepailitan.

Karena induk perusahaan sebagai pemegang saham mayoritas di masing-


masing anak perusahaannya, yang mana itu berarti bahwa induk perusahaan itu
juga mendapatkan deviden dari keuntungan yang diperoleh anak perusahaannya,
maka deviden itu juga berarti menjadi harta dari induk perusahaan itu. Namun
bagi anak perusahaan kepailitan yang dialami oleh induk perusahaan pasti akan
memiliki dampak yang sangat besar. Kegiatan anak perusahaan akan menjadi
terhambat, karena induk perusahaan itu sudah tidak memiliki sebanyak ketika
belum mengalami kepailitan, anak perusahaan harus bisa menjadi lebih mandiri
dalam mengurus perusahaannya.
BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan
yaitu:

1. Hubungan hukum yang terjadi antara induk perusahaan dengan anak


perusahaan adalah induk perusahaan sebagai pemegang saham dari anak
perusahaannya sehingga dengan demikian induk perusahaan dapat
mengontrol jalannya perusahaan dengan kepemilikan mayoritas saham.
Pengontrolan induk perusahaan dilakukan dengan memberikan pembatasan-
pembatasan yang tertuang dalam anggaran dasar dari anak perusahaan,
seperti: anak perusahaan untuk dapat melakukan perjanjian dengan pihak
ketiga untuk mendapatkan kredit, memberikan pinjaman pada perusahaan
lainnya dan perbuatan hukum lainnya harus mendapat persetujuan dari induk
perusahaan.

2. Dengan adanya hubungan hukum tersebut bentuk tanggung jawab induk


perusahaan adalah tanggung jawab materiil, yaitu sebesar jumlah saham yang
dimiliki induk perusahaan terhadap anak perusahaan, dan tanggung jawab
moriil, yaitu beban nama baik yang dimiliki perusahaan induk dalam
lingkungan bisnis.

3. Dalam hal induk perusahaan jatuh pailit, anak perusahaan tetap mendapat
pengawasan dari induk perusahaan namun karena kekayaan induk perusahaan
banyak yang disita maka jalannya anak perusahaan itu menjadi sedikit
terhambat.