Anda di halaman 1dari 11

TATA CARA MENGHADAPI SAKAROTUL MAUT

Kelompok 6

1.KURINA ALISAH RINTIH


2.LARA AMFIONITA
3.MAISAFA WINDI ILHAM
4.NADIVA SALAMA HWE
5.NORA INDAH KARNASIH
6.PARAMITA RAHMAYUNI
7.RAHMI SYARMILLA
8.TRI FELIA HANDAYANI

NAMA DOSEN : Muslim, M.Ag


DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jika kita diberikan jatah umur oleh Allah hingga 45 tahun dan andaikan kita saat ini
sudah berumur 40 tahun maka jatah umur yang tersisa adalah 5 tahun lagi, jika hari ini kita
telah berumur 44 tahun dan berarti sisa umur kita adalah 1 tahun lagi. 1 tahun adalah waktu
yang singkat. Tanpa terasa, detik demi detik, minggu demi minggu dan 1 tahun pun berlalu.
Tanpa terasa ajal sudah didepan mata. Bagaimana persiapan kita untuk menjelang kehidupan
yang hakiki tersebut?
Dan sudah menjadi kepastian Allah Azza Wa Jalla, mentakdirkan orang yang dengan
kematiannya itu, mengakhiri sebuah kekuatan besar, yang tak pernah dibayangkan oleh
siapapun. Mengakhiri kesombongan. Mengakhiri kedurjanaan. Mengakhiri keangkara-
murkaan. Mengakhiri kedzaliman, yang tak ada tandingannya.Kematiannya mengakhiri
kekuatan cita-cita. Kematiannya mengakhiri ideologi, yang dianut lebih satu milyar manusia.
Kematiannya mengakhiri sebuah sistem. Sistem yang paling kokoh, yang menolak
Tuhan. Sistem yang menjadikan Tuhan sebagai musuhnya. Karena, mereka tak mengenal apa
yang disebut Tuhan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian sakarotul Maut?
2. Bagaimanakah cara mempersiapkan kematian atau sakarotul maut ?
3. Bagimanakah cara mentalkin orang yang hendak meninggal ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sakaratul Maut


Sakaratul maut merupakan kondisi yang sedang menghadapi kematian, yang memiliki
berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal. Kematian merupakan kondisi terhentinya
pernapasan, nadi, dan tekanan darah serta hilangnya respons terhadap stimulus eksternal,
ditandai dengan terhentinya aktivitas otak atau terhentinya fungsi jantung dan paru secara
menetap. Sakartul maut dan kematian merupakan dua istilah yang sulit untuk dipisahkan, serta
merupakan suatu fenomena tersendiri. kematian lebih kearah suatu proses, sedangkan sakaratul
maut merupakan akhir dari hidup.
Mengenai tanda-tanda khusul khotimah atau su’ul khotimah seseorang yang sedang
sakaratul maut, Usman bin Affan pernah berkata bahwa Nabi (SWT) bersabda:
“perhatikanlah orang yang hampir mati,seandainya kedua matanya terbelalak,dahinya
berkeringat,dan dua lubang hidungnya bertambah besar,membuktikan bahwa ia
sedang memperoleh kabar gembira,tetapi jika dia mendengar seperti orang yang sedang
mendengkur (ngorok) atau tercekik,wajahnya pucat,mulutnya bertambah besar,berarti ia telah
mendapat kabar buruk”.
Adapun orang-orang mukmin yang sedang sakaratul maut, Nabi (Saw) telah
menggambarkan dengan sabdanya:
“ketika menjelang roh orang mukmin dicabut,maka datanglah malaikat pencabut nyawa
membawa kain sutra yang didalamnya ada minyak kasturi dan sejambak bunga yang
wangi,kemudian roh orang Mukmin itu pun dicabut dengan lemah lembut seperti mencabut
rambut dari adonan tepung,lalu diserukan kepadanya:
“Wahai jiwa yang tenteram kembalillah kepada Tuhan-Mu dalam keadaan ridho dan diridhoi dan
kembalilah kepada rahmat dan kasih sayang Allah.
Gambaran tentang beratnya sakaratul maut dijelaskan dalam Al Qur,an dan hadis. “
Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir seraya
memukul muka dan belakang mereka serta berkata “rasakan olehmu siksa neraka yang
membakar” (niscaya kamu akan merasa sangat nyeri) (QS Al Anfal: 50). Alangkah dasyatnya
sekiranyakamu melihat diwaktu orang-orang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul
maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata) “keluakanlah
nyawamu!)” Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu
selalu mengatakan terhadap ALLAH perkataan yang tidak benar dan karena kamu selalu
menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya” (QS. Al An’am :93)
Cara malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang
bersangkutan bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada ALLAH maka malaikat
Izrail mencanut nyawanya dengan kasar. Sebaliknya bila terhadap orang sholeh cara
mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa
terpisahnya nyawa dengan raga tetap amat menyakitkan. “ Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira
tiga ratus kali sakitnya di pukul pedang. “ ( HR. Ibnu Abu Dunya)
Hendaknya setiap saat, setiap hamba harus berusaha untuk mempersiapkan diri dalam
menhadapi kematian. Karena kematian akan datang tiba-tiba tanpa mengira waktu dan sebab
penyakit tertentu, kita tidak akan mengetahui kapan akan dipanggil untuk menghadap Allah,
maka setiap manusia yang masih hidup seharusnya mempersiapkan diri dengan berbagai
bekal untuk melakukan perjalanan panjang ini; dengan menabung amal shalih, tetap berjalan
dijalan Allah dan menjauhkan diri dari berbagai hal yang akan membawa diri pada
kemurkaan-Nya.

1. Memperbanyak mengingat kematian


Dari Abu Hurairah ra., ia menuturkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda :
“ Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan, yakni kematian”

2. Salah satu perbuatan yang mengingatkan manusia pada kematian, adalah dengan
berziarah kubur.,

Dari Abu Hurairah ra., ia mengatakan bahwa: Rasulullah saw. Berziarah ke kubur ibunya.
Maka beliaupun menangis, hal itu membuat orang-orang yang berada disekelilingnya juga
menangis. Pada saat itu, nabi berkata :

“Aku minta idzin kepada Allah untuk memintakan ampunan baginya. Akan tetapi, Allah
tidak mengidzinkanku. Kemudian, aku meminta idzin kepada Allah untuk menziarahi
kuburnya. Maka, Allah pun mengidzinkanku. Oleh karena itu ziarahilah kuburan. Karena,
ziarah kubur akan mengingatkan kita pada kematian” (HR. Muslim).

3. Penulisan Wasiat
Hendaklah setiap hambal Allah mempercepat penulisan wasiatnya. Hal tsb sesuai
dengan sabda Rasulullah saw. :
“tidak selyaknya bagi seorang muslim yang menginap sebanyak dua malam. Kemudian ia
memiliki sesuatu yang untk diwasiatkan, kecuali telah mencatat wasiatnya tersebut di dekat
bagian kepalanya (bantal)” (Muttafaq Alaihi).
Dan disunatkan pula orang yang memberikan warisan untuk memberikan wasiat
kepada kerabatnya yang tidak mendapatkan hak waris

4. Sabar dalam menjalani sakit


Orang yang sakit hendaknya menerima sakit yang diberikan oleh Allah dengan lapang
dada. Disamping itu, ia juga harus berusaha bersabar dalam menerima segala ketentuannya.
Sabda Rasulullah yang artinya :
“Sungguh menakjubkan perkara orang-orang beriman yang tidak dimiliki oleh
siapapu. Jika mereka mendapat kebaikan, maka mereka bersyukur. Dan itu baik baginya.
Seandainya mereka ditimpa keburukan (musibah), mereka akan bersabar. Dan itu baik
baginya”(HR. Muslim).

5. Jangan mengharapkan kematian


Apabila sakit dirasakan oleh seorang hamba semakin parah, maka ia tidak
diperbolehkan untuk mengharapkan datangnya kematian. Dari Anas ra. Dari Rasulullah saw.,
beliau bersabda :
“Janganlah salah seorang diantara kalian mengharapkan kematian, hanya karena
mendapatkan bahaya yang diturunkan Allah padanya. Seandainya ingin tetap memilih
kematian, hendaknya ia berkata,’Ya Allah berikannlah kehidupan padaku, seandainya
kehidupan tersebut memang terbaik untukku. Dan cabutlah nyawaku. Seandainya kematian
memang jalan yang terbaik untukku,” (HR. Bukhari dan Muslim).

6. Sakaratul Maut
Apabila seseorang telah merasakan akan datangnya maut, maka sebaiknya ia
melafalkan kalimat,”La ilaaha illallah,’, sedangkan orang yang berada disekelilingnya
membantunya dengan menuntunnya (mentalqin), apabila yang sakit lupa. Sabda Rasulullah
saw. :
“Talqinlah orang yang akan mati diantara kalian, dengan mengucapkan La Ilaaha Illallah,”
(HR. Muslim).
Dan dari Abu Muadz bin Jabal ra., bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda :
“Barang siapa yang akhir kehidupannya ditutup dengan membaca La Ilaha Illahllah, maka ia
akan masuk surga,” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Para ulama berpendapat,” Apabila telah membimbing orang yang akan meninggal
dengan satu bacaan talqin, maka jangan diulangi lagi. Kecuali apabila ia berbicara dengan
bacaan-bacaan atau materi pembicaraan lain. Setelah itu barulah diulang kembali, agar
bacaan La Ilaha Illallha menjadi ucapan terakhir ketika menghadapi kematian. Para ulama
mengarahkan pada pentingnya menjenguk orang sakarat maut, untuk mengingatkan,
mengasihi, menutup kedua matanya dan memberikan hak-haknya.(Syarhu An-nawawi Ala
Shahih Muslim : 6/458)
Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan orang
yang sedang sakaratul maut tsb dengan air atau minuman. Kemudian disunnahkan juga untuk
membasahi bibirnya dengan kapas yg telah diberi air. Karena bisa saja kerongkongannya
kering karena rasa sakit yang menderanya, sehingga sulit untuk berbicara dan berkata-kata.
Dengan air dan kapas tsb setidaknya dapat meredam rasa sakit yang dialami orang yang
mengalami sakaratul maut, sehingga hal tsb dapat mempermudah dirinya dalam
mengucapkan dua kalimat syahadat. (Al-Mughni : 2/450 milik Ibnu Qudamah)
Sebaiknya orang-orang orang-orang yang berada disekelilingnyahanya berbicara
tentang yang baik-baik saja, karna pada saat itu malaikat mengamini apa yang mereka
katakan. Sabda Nabi Saw. :
“Apabila kalian hadir untuk menjenguk orang yang sedang sakit atau hendak
meninggal, maka katakanlah yang baik-baik. Karena, para malaikat akan mengamini apa
yang kalian katakan,”
(HR. Muslim)
Kemudian disunnahkan untuk menghadapkan orang yang tengah sakaratul maut
kearah kiblat. Sebenarnya ketentuan ini tidak mendapatkan penegasan dari hadits Rasulullah
Saw., hanya saja dalam beberapa atsar yang shahih disebutkan bahwa para salafus shalih
melakukan hal tersebut. Para Ulama sendiri telahmenyebutkan dua cara bagaimana
menghadap kiblat :
Berbaring terlengtang diatas punggungnya, sedangkan kedua telapak kakinya
dihadapkan kearah kiblat. Setelah itu, kepala orang tersebut diangkat sedikit agar ia
menghadap kearah kiblat.
Mengarahkan bagian kanan tubuh orang yang tengah sakaratul maut menghadap ke
kiblat. Dan imam Syaukai menganggap bentuk seperti ini sebagai tata cara yang paling benar.
Seandainya posisi ini menimbulkan sakit atau sesak, maka biarkanlah orang tersebut
berbaring kearah manapun yang membuatnya selesa.

Peringatan :
Sebagian orang terbiasa membaca Al-Qur’an didekat orang yang sedang menghadapi
sakaratul dengan berdasarkan pada hadits :
“bacalah surat Yaasiin untuk orang-orang yang meninggal dunia”
Dan hadits :
“tidak ada seorang manusia yang mati, kemudian dibacakan surat yaasiin untuknya, kecuali
Allah mempermudah segala urusannya”
Padahal kedua hadits tersebut dianggap sebagai hadits dha’if, tidak boleh memasukkannya
kedalam kitab Hadits.
Bahkan, Imam Malik telah mengatakan bahwa hokum membaca Al-Qur’an disisi
mayat adalah makruh. Dalam Kitabnya ‘Syarhu As-Syaghiir’(1/220):,”Dimakruhkan
membaca salah satu ayat dalam al-qur’an ketika datang kematian. Karena, tindakan tersebut
tidak pernah dilakukan oleh para salafus shalih. Sekalipun, semua itu diniatkan sebagai do’a,
memohon ampun, kasih sayang dan mengambil pelajaran,”.
B.Adab-Adab Mentalqin Orang Hendak Meninggal

Tidak ada yang mengingkari bahwa manusia tanpa terkecuali pasti akan mengalami kematian.

Sebelum kematian tersebut terjadi, manusia akan mengalami saat terakhir yang sangat

menentukan baik tidaknya kehidupan setelahnya. Inilah sakaratul maut yang setiap jiwa takut

menghadapinya. Di saat inilah manusia di antara dua kemungkinan, keselamatan atau

kebinasaan. Saat itu pula syaithan akan bekerja keras demi mengajak manusia untuk menjadi

teman mereka di neraka kelak, naudzu billah min dzalika. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala

mengokohkan iman kita dalam menghadapi ujian ini. Amin.

Bagi kita yang menyaksikan seseorang dalam sakaratul maut, maka syariat ini
mengajarkan kepada kita untuk men-talkin orang tersebut. Talkin adalah menuntun seseorang
untuk mengucapkan kalimat tertentu. Perintah talkin ini adalah salah satu bentuk bantuan yang
Allah syariatkan untuk menolong seseorang di saat ia sangat butuh tuntunan orang lain. Kita
diperintahkan untuk menuntun seorang yang hdndak meninggal untuk membaca kalimat tauhid
laa ilaha illallah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:
“Tuntunlah orang yang hendak meninggal di antara kalian dengan Laa ilaaha illallah.” (HR.
Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Karena kalimat ini adalah pembuka pintu surga. Kalimat ini adalah kunci bagi seorang
untuk memasukinya. Maka, bila akhir ucapan seseorang adalah kalimat ini, diharapkan mati
dalam keadaan husnul khatimah, dan termasuk orang yang kelak dapat masuk surga. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallah, ia akan masuk surga.” (HR. Al
Hakim dari shahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani
rahimahullah dalam Ahkamul Janaiz)

C.ADAB-ADAB TALKIN
1. Hendaknya dilakukan secukupnya tanpa perlu mengulang-ulang
Para ulama memakruhkan talkin yang dilakukan berulang-ulang dan terus menerus.
Karena hal ini justru akan mengakibatkan seorang yang sedang sakaratul maut merasa tertekan
dengan tuntunan itu. Padahal ia sedang merasakan penderitaan yang sangat. Sehingga
ditakutkan akan munculnya ketidaksukaannya terhadap kalimat ini di dalam qalbunya. Bahkan
bisa jadi akan ia ungkapkan dengan ucapannya, sehingga bukan ucapan tauhid yang ia
ucapkan, justru celaan dan kebencian terhadap kalimat ini yang keluar dari mulutnya.
2. Cukup sekali, kecuali bila mengucap ucapan lainnya
Apabila orang yang sedang sakaratul maut telah mengucapkan kalimat ini, maka telah
mencukupi dan tidak perlu di-talkin lagi. Namun, bila setelah ia mengucapkan kalimat ini ia
mengucapkan kalimat lain, maka perlu kembali di-talkin, sehingga kalimat ini adalah kalimat
akhirnya.
3. Talkin adalah mengingatkan bukan memerintahkan
Kadang kita dapati seorang men-talkin saudaranya dengan kalimat tauhid ini namun
dengan cara memerintah. Padahal, talkin yang dilakukan saat seperti ini sifatnya sekadar
mengingatkan. Sebab, selain dituntut untuk mengatakan kalimat tauhid, juga dituntut untuk
meyakini kandungan kalimat ini. Nah, kalau talkin ini bersifat perintah, boleh jadi ia akan
mengucapkannya karena tekanan perintah saja, sedangkan jiwanya mengingkarinya. Lalu
apakah artinya ucapan ini bila tidak diyakini. Demikian yang dijelaskan oleh Asy Syaikh Ibnu
Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadush Shalihin.

4. Talkin diperuntukkan kepada seluruh orang


Yakni tidak khusus diperuntukkan untuk seorang muslim saja. Namun juga dianjurkan
bagi orang kafir unuk mengucapkan kalimat ini. Diharapkan, di akhir hidupnya termasuk orang
yang bertauhid. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam men-talkin paman beliau
Abu Thalib tatkala menghadapi kematian.
5. Talkin dengan lafadz Allah saja?
Sebagian orang berpendapat bahwa men-talkin boleh dengan lafadz Allah saja.
Alasannya khawatir dengan kalimat yang panjang, laa ilaaha illallah, bisa jadi baru membaca laa
ilaaha keburu mati. Sehingga maknanya justru sangat fatal, yaitu tidak ada sesembahan.
Sehingga menurut mereka, orang semacam ini mati dalam keadaan tidak bertuhan.
Pendapat ini tidak benar karena beberapa alasan. Di antaranya:
1. Dalam hadits secara tegas men-talkin dengan laa ilaaha illallah.
2. Lafadz Allah saja tidak menunjukkan tauhid orang yang mengucapkannya.
3. Allah mengangkat hukum (tidak memberikan beban) kepada siapa saja di luar
kemampuannya. Seperti orang yang lupa atau terpaksa. Maka kondisi saat sekarat tentu lebih
utama untuk dimaafkan. Apalagi orang tersebut tentunya meniatkan untuk melafadzkan secara
utuh. Sedangkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah menjelaskan bahwa amalan itu
sesuai dengan niatnya. Allahu a’lam.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan.
Setelah membahas makalah di atas maka dapat di ambil kesimpulan bahwa sudah
seharusnya umat manusia sadar dan segera mempersiapkan diri menghadapi kematian yang
sudah pasti menghampiri, dengan banyak mengingat Allah berzikir kepada-Nya.
Persiapan itu salah satunya adalah ber amal shaleh sebanyak banyaknya sehingga
mempermudah dalam menghadapi sakarotul maut dan di akhirat nanti
DAFTAR PUSTAKA

Syarh Shahih Muslim, An Nawawi rahimahullah.


Aunul Ma’bud, Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haqq rahimahullah. –
Faidhul Qadir, Muhammad Abdur Rauf Al-Munawi rahimahullah.
Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 20 vol. 02 1433 H – 2012, hal. 38-40.