Anda di halaman 1dari 10

POLA PENGOBATAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE

(DBD) PADA PASIEN ANAK DI INSTALASI RAWAT INAP RSIY


PDHI YOGYAKARTA PERIODE FEBRUARI 2010

Chinthia Sari Yusriana

ABSTRACT

Diseases including dengue hemorrhagic fever in the ten causes of hospitalization


and death among children in at least eight tropical countries there. This study aims to
determine treatment patterns of dengue hemorrahagic fever disease in patients
hospitalized children in RSIY PDHI Yogyakarta.
This study includes non-experimental research with non-analytical descriptive
design. Research steps include situation analysis of disease patterns of dengue
hemorrhagic fever, an analysis of treatment patterns of dengue hemorrhagic fever in
patients hospitalized children and analysis of data retrieval and data solutions. The
material used is a sheet of medical record.
The results showed that the perode February 2010 There are 25 cases of dengue
hemorrhagic fever disease. Variations of 2-8 drugs given drug. Of the total cases during
the period of February 2010 given class of drugs is rehydration 96%, 64% antipyretic
analgesic, anti emetik 88%, 28% anti-histamine, an antibiotic 36%, 24% anti-diarrhea,
anti-asthma 4%, 8% mukolitik, antacids 4%, and anti-amoeba 8%.

Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever, Children.


.

A. Judul Penelitian Walaupun angka kesakitan penyakit ini


Pola Pengobatan Penyakit Demam cenderung meningkat dari tahun ke
Berdarah Dengue Pada Pasien Anak di tahun, sebaliknya angka kematian
Instalasi Rawat Inap RSIY PDHI cenderung menurun, dimana pada akhir
Yogyakarta Periode Februari 2010. tahun 60-an atau awal tahun 70-an
sebesar 41,3% menjadi berkisar antara
B. Latar Belakang Masalah 3-5% pada saat ini (Darmanto, 2005).
Penyakit demam berdarah Berdasarkan data pada tahun
dengue termasuk ke dalam sepuluh 2007, jumlah penderita demam
penyebab perawatan di rumah sakit dan berdarah dengue tercatat korban
kematian pada anak-anak pada meninggal rata-rata adalah bayi di
sedikitnya delapan negara-negara tropis bawah lima tahun (Balita). Balita
yang ada (WHO, 1999). Penyakit ini memang rentan terhadap Diare dan
merupakan masalah kesehatan yang DBD sehingga masyarakat harus
ada di Indonesia, hal ini tampak dari waspada pada penyakit yang biasanya
kenyataan yang ada. Laporan yang ada mulai menyerang pada musim hujan
sampai saat ini penyakit demam ini. Provinsi DIY merupakan daerah
berdarah dengue sudah menjadi endemis DBD, dan kabupaten Sleman
masalah yang endemis pada 122 daerah merupakan wilayah pinggiran dan
tingkat II, 605 daerah kecamatan dan pengembangan pemukiman baru
1800 kelurahan di Indonesia.
sehingga penduduknya cukup padat manifestasi yang berbeda,
(Kompas, 2009). tergantung dari serotipe virus
Salah satu sasaran dari Dengue. Morbiditas penyakit DBD
pembangunan kesehatan adalah menyebar di negara-negara Tropis
pelayanan pengobatan atau perawatan dan Subtropis. Di setiap negara
dimana cakupan dari pelayanan penyakit DBD mempunyai
tersebut adalah pelayanan untuk rawat manifestasi klinik yang berbeda.
jalan adalah sebesar 1,5%, dan Terdapat empat derajad
pelayanan untuk rawat inap adalah spektrum klinis DBD (WHO, 1997)
sebesar 1,5% (Dinkes, 2007). yaitu derajad 1 : demam disertai
gejala tidak khas dan satu-satunya
manifestasi pendarahan adalah uji
C. Kajian Teori Demam Berdarah torniquet, derajad 2 : seperti derajad
Dengue (DBD) 1, disertai perdarahan spontan di
1. Pengertian kulit dan perdarahan lain, derajad 3 :
Penyakit Demam Berdarah didapatkan kegagalan sirkulasi,
Dengue (DBD) atau disebut Dengue yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan
Haemorrhagic Fever (DHF) adalah nadi menurun (20mmHg atau
penyakit yang disebabkan oleh virus kurang) atau hipotensi, sianosis
dengue yang ditularkan melalui disekitar mulut, kulit dingin dan
gigitan nyamuk Aedes aegypti dan lembab, tampak gelisah dan derajad
Aedes albopictus, yang mana 4 : syok berat, nadi tidak dapat
menyebabkan gangguan pada diraba dan tekanan darah tidak
pembuluh darah kapiler dan pada terukur, (Khie Chen, Herdiman T.
sistem pembekuan darah, sehingga Pohan, Robert Sinto, 2009)
mengakibatkan perdarahan- Di Indonesia Penyakit DBD
perdarahan. Ada dua bentuk pertama kali ditemukan pada tahun
penyakit dengue, yaitu demam lima 1968 di Surabaya dan sekarang
hari dan dengue demam berdarah. menyebar keseluruh propinsi di
Demam berdarah dengue (DBD) Indonesia. Timbulnya penyakit
ialah penyakit yang sering diderita DBD ditengarai adanya korelasi
pada anak dan dewasa dengan gejala antara strain dan genetik, tetapi
utama demam, nyeri otot dan sendi, akhir-akhir ini ada tendensi agen
yang biasanya memburuk setelah penyebab DBD disetiap daerah
dua hari pertama. Sindrome renjatan berbeda. Hal ini kemungkinan
dengue (DSS) ialah penyakit DBD adanya faktor geografik, selain
yang disertai renjatan (Mansjoer A faktor genetik dari hospesnya.
dkk, 2000). Selain itu berdasarkan macam
2. Penyebab manifestasi klinik yang timbul dan
Demam Berdarah Dengue tatalaksana DBD secara
(DBD) atau Dengue Haemorrhagic konvensional sudah berubah. Infeksi
Fever (DHF) adalah suatu penyakit virus Dengue telah menjadi masalah
yang disebabkan oleh virus Dengue kesehatan yang serius pada banyak
Famili Flaviviridae, dengan negara tropis dan sub tropis.
genusnya adalah flavivirus. Virus Kejadian penyakit DBD semakin
ini mempunyai empat serotipe yang tahun semakin meningkat dengan
dikenal dengan DEN-1, DEN-2, manifestasi klinis yang berbeda
DEN-3 dan DEN-4. Selama ini mulai dari yang ringan sampai berat.
secara klinik mempunyai tingkatan Manifestasi klinis berat yang

2
merupakan keadaan darurat yang subtropis yang ditemukan di bumi,
dikenal dengan Dengue biasanya antara garis lintang 350U
Hemorrhagic Fever (DHF) dan dan 350S kira-kira berhubungan
Dengue Shock Syndrome (DSS). dengan musim dingin isoterm 100C.
Manifestasi klinis infeksi Meskipun Aedes aegypti telah
virus Dengue termasuk didalamnya ditemukan sampai sejauh 450U,
Demam Berdarah Dengue sangat invasi ini telah terjadi (WHO,
bervariasi, mulai dari asimtomatik, 1999).
demam ringan yang tidak spesifik, Virus Dengue ditularkan dari
Demam Dengue, Demam Berdarah orang ke orang melalui gigitan
Dengue, hingga yang paling berat nyamuk Aedes (Ae.) dari subgenus
yaitu Dengue Shock Syndrome Stegomyia. Ae. aegypti merupakan
(DSS). vektor epidemi yang paling utama,
Dalam praktek sehari-hari, namun spesies lain seperti Ae.
pada saat pertama kali penderita albopictus, Ae. polynesiensis,
masuk rumah sakit tidaklah mudah anggota dari Ae. Scutellaris
untuk memprediksikan apakah complex, dan Ae. (Finlaya) niveus
penderita Demam Dengue tersebut juga dianggap sebagai vektor
akan bermanifestasi menjadi ringan sekunder. Kecuali Ae. aegyti
atau berat. Infeksi sekunder dengan semuanya mempunyai daerah
serotipe virus dengue yang berbeda distribusi geografis sendiri-sendiri
dari sebelumnya merupakan faktor yang terbatas. Meskipun mereka
resiko terjadinya manifestasi Deman merupakan host yang sangat baik
Berdarah Dengue yang berat atau untuk virus Dengue, biasanya
Dengue Shock Syndrome (DSS). mereka merupakan vektor epidemi
Namun sampai saat ini mekanisme yang kurang efisien dibanding Ae.
respons imun pada infeksi oleh virus aegypti. (WHO, 2000)
Dengue masih belum jelas, banyak 4. Patofisiologi
faktor yang mempengaruhi kejadian Patogenesis DBD tidak
penyakit Demam Berdarah Dengue, sepenuhnya dipahami, namun
antara lain faktor host, lingkugan terdapat dua perubahan
(environment) dan faktor virusnya patofisiologis yang menyolok, yaitu
sendiri. Faktor host yaitu kerentanan Meningkatnya permeabilitas
(susceptibility) dan respon imun. kapiler yang mengakibatkan
Faktor lingkungan (environment) bocornya plasma, hipovolemia dan
yaitu kondisi geografi (ketinggian terjadinya syok. Pada DBD terdapat
dari permukaan laut, curah hujan, kejadian unik yaitu terjadinya
angin, kelembaban, musim); kebocoran plasma ke dalam rongga
Kondisi demografi (kepadatan, pleura dan rongga peritoneal.
mobilitas, perilaku, adat istiadat, Kebocoran plasma terjadi singkat
sosial ekonomi penduduk). (24-48 jam). Adanya kompleks
3. Vektor imun telah dilaporkan pada DBD,
Nyamuk Aedes aegypti namun demikian peran kompleks
maupun Aedes albopictus antigen-antibodi sebagai penyebab
merupakan vektor penular virus aktivasi komplemen pada DBD
dengue dari penderita kepada orang belum terbukti. Selama ini diduga
lainya dengan melalui gigitanya bahwa derajat keparahan penyakit
(Soedarto, 1996). Aedes aegypti DBD dibandingkan dengan DB
adalah spesies nyamuk tropis dan dijelaskan dengan adanya

3
pemacuan dari multiplikasi virus di diintepretasikan dengan melihat
dalam makrofag oleh antibodi kenaikan titer antibodi fase
heterotipik sebagai akibat infesi konvalesen terhadap titer
Dengue sebelumnya. Namun antibodi fase akut (naik 4 kali
demikian, terdapat bukti bahwa lipat atau lebih)
faktor virus serta respons imun cell- d. Diagnosis Radiologis
mediated terlibat juga dalam Pada foto thoraks (rontgen dada)
patogenesis DBD. (WHO, 2000). terhadap kasus DBD derajat
5. Gejala Klinis III/IV dan sebagian besar derajat
a. Diagnosis Klinis II, didapatkan efusi pleura,
Kasus DBD : demam tinggi terutama di sebelah hemitoraks
mendadak, tanpa sebab yang kanan. Asites dan efusi pleura
jelas, berlangsung terus- dapat dideteksi dengan
menerus, selama 2-7 hari, pemeriksaan Ultra Sonografi
manifestasi perdarahan : uji (USG)
Tourniquet positif, petekie, e. Diagnosis Diferensialis
ekimosis atau purpura, Diagnosis banding mencakup
perdarahan mukosa, saluran infeksi bakteri, virus atau infeksi
cerna, dan tempat bekas parasit seperti : demam tifoid,
suntikan, hematemetik/melena campak, influenza, hepatitis,
Kasus SSD : kasus DBD demam chikungunya,
ditambah gangguan sirkulasi leptospirosis dan malaria.
yang ditandai dengan : nadi (Sumber: dirangkum dari buku
cepat, lemah, perfusi perifer Tatalaksana DBD di Indonesia,
menurun, hipotensi, kulit dingin- Depkes RI, Dirjen P2MPL,
lembab, keadaan pasien gelisah 2004, hal. 10-19).
b. Diagnosis Laboratoris 6. Pengobatan Demam Berdarah
Trombositopenia : penurunan Dengue
jumlah trombosit (kurang dari Penanganan Simtomatis :
100.000/ul). Pemeriksaan mengatasi keadaan sesuai keluhan
trombosit perlu diulang sampai dan gejala klinis pasien. Pada fase
terbukti jumlah trombosit dalam demam pasien dianjurkan untuk :
batas normal atau menurun. tirah baring, selama masih demam,
Hemokonsentrasi : peningkatan minum obat antipiretika (penurun
kadar hematokrit lebih dari 20%, demam) atau kompres hangat
mencerminkan peningkatan apabila diperlukan, diberikan cairan
permeabilitas kapiler dan dan elektrolit per oral, jus buah,
perembesan plasma darah. sirop, susu, disamping air putih,
c. Diagnosis Serologis dianjurkan paling sedikit diberikan
Ada beberapa jenis uji serologi selama 2 (dua) hari.
yang dipakai untuk menentukan Pengobatan Suportif :
adanya infeksi virus dengue, mengatasi kehilangan cairan plasma
misalnya: uji hemaglutinasi dan kekurangan cairan. Pada saat
inhibisi (Haemagglutination suhu turun bisa saja merupakan
Inhibition Test), uji komplemen tanda penyembuhan, namun semua
fiksasi (Complement Fixation pasien harus diobservasi terhadap
Test), uji neutralisasi komplikasi yang dapat terjadi
(Neutralization test), IgM Elisa, selama 2 hari, setelah suhu turun.
IgG Elisa. Hasil Tes Serologis Karena pada kasus DBD bisa jadi

4
hal ini merupakan tanda awal D. Metode Penelitian
kegagalan sirkulasi (syok), sehingga Penelitian ini adalah penelitian
tetap perlu dimonitor suhu badan, non eksperimental dengan rancangan
jumlah trombosit dan kadar deskriptif non analitis. Lokasi
hematokrit, selama perawatan. penelitian adalah di RSIY PDHI
Penggantian volume plasma yang Yogyakarta. Bahan penelitian adalah
hilang, harus diberikan dengan lembar rekam medik pada pasien anak
bijaksana, apabila terus muntah, yang menderita demam berdarah
demam tinggi, kondisi dehidrasi dan dengue di Rumah Sakit Panti Rapih
curiga terjadi syok (presyok). Yogyakarta periode Februari 2010.
Jumlah cairan yang diberikan Tahap-tahap penelitian ini terdiri atas :
tergantung dari derajat dehidrasi dan analisis situasi, pengambilan data
kehilangan elektrolit, dianjurkan (meliputi : proses penelusuran data,
cairan glukosa 5% didalam larutan proses pengumpulan data, proses
NaCL 0,45%. Jenis cairan sesuai pencatatan data ) dan penyelesaian
rekomendasi WHO, yakni: larutan data.
Ringer Laktat (RL), ringer asetat Tata cara analisis data
(RA), garam faali (GF), (golongan penelitian dilakukan dengan metode
Kristaloid), dekstran 40, plasma, statistik deskrptif. Data yang didapat
albumin (golongan Koloid), disajikan dalam bentuk tabel
(Sumber: dirangkum dari buku berdasarkan jumlah obat, golongan
Tatalaksana DBD di Indonesia, obat, jenis obat, cara pemberian.
Depkes RI, Dirjen P2MPL, 2004,
hal. 25-29).

E. Hasil Penelitian

1. Golongan Obat yang Digunakan

No Golongan Obat Jumlah Kasus N : 25 Prosentase (%)


1 Rehidrasi 24 96 %
2 Analgetik Antipiretik 16 64 %
3 Anti Emetik 22 88 %
4 Anti Histamin 7 28 %
5 Antibiotik 9 36 %
6 Anti Diare 6 24 %
7 Anti Asma 1 4%
8 Mukolitik 2 8%
9 Antasida 1 4%
10 Anti Amoeba 2 8%

5
2. Jumlah Obat Yang Digunakan

Jumlah Obat Yang Diberikan


No ∑ Obat No ∑ Obat
1 4 14 5
2 2 15 1
3 7 16 4
4 8 17 3
5 5 18 4
6 2 19 4
7 2 20 3
8 5 21 5
9 4 22 3
10 2 23 2
11 7 24 3
12 3 25 4
13 3

3. Jenis Obat Yang Digunakan


a. Rehidrasi

No Jenis Rehidrasi Jumlah Kasus


1 RL 24

b. Analgetik Antipiretik

No Jenis Analgetik Antipiretik Jumlah Kasus


1 Pamol 9
2 Praxion 5
3 Paracetamol 1
4 Ottopan 1

c. Anti Emetik

No Jenis Anti emetik Jumlah Kasus


1 Domperidon 3
2 Tomit 5
3 Villidin 1
4 Tilidon 4
5 Antrain 5
6 Ondansetron 1
7 Gerdilium 1
8 Vomitas 2

6
d. Anti Histamin

No Jenis Anti histamin Jumlah Kasus


1 Ranitidin 5
2 CTM 1
3 Cetinal 1

e. Antibiotik

No Jenis Antibiotik Jumlah Kasus


1 Ampicilin 1
2 Amoxicillin 2
3 Ceftriaxon 1
4 Cefixime 2
5 Thiamicin 3

f. Anti Diare

No Jenis Anti diare Jumlah Kasus


1 Zince Pro 5
2 Dialac 1

g. Anti Asma

No Jenis Anti asma Jumlah Kasus


1 Fartolin Exp 1

h. Mukolitik

No Jenis Mukolitik Jumlah Kasus


1 Sistenol 1

i. Antasida

No Jenis Antasida Jumlah Kasus


1 Gastridin 1

j. Anti Amoeba

No Jenis Anti amoeba Jumlah Kasus


1 Metronidazol 1
2 Flagyl sp 1

7
4. Cara Pemberian Obat

No Cara Pemberian Obat Jumlah Prosentase (%)


1 Oral 16 53.3 %
2 Parenteral 14 46.6 %
Jumlah 30 100 %

F. Pembahasan terjadinya perdarahan pada saluran


Pada dasarnya terapi DBD cerna bagaian atas
adalah bersifat suportif dan simtomatis. (lambung/duodenum).
Penatalaksanaan ditujukan untuk Cara pemberian obat demam
mengganti kehilangan cairan akibat berdarah pada anak dilakukan dengan
kebocoran plasma dan memberikan cara oral dan parenteral. Selama bulan
terapi substitusi komponen darah februari 2010 tidak ada pasien yang
bilamana diperlukan. Dalam pemberian mendapatkan cara pengobatan secara
terapi cairan, hal terpenting yang perlu inhalasi. Cara pemberian obat hampir
dilakukan adalah pemantauan baik seimbang antara cara oral dengan cara
secara klinis maupun laboratoris. Proses parenteral, setiap pasien rata-rata
kebocoran plasma dan terjadinya mendapatkan 2 sampai 8 jenis obat
trombositopenia pada umumnya terjadi dalam penangananya. Hampir semua
antara hari ke 4 hingga 6 sejak demam paseien menerima RL sebagai
berlangsung. Pada hari ke-7 proses pengganti cairan tubuh, dan setiap
kebocoran plasma akan berkurang dan pasien juga rata-rata menerima dua cara
cairan akan kembali dari ruang pemberian obat, yaitu secara oral dan
interstitial ke intravaskular. Terapi parenteral.
cairan pada kondisi tersebut secara
bertahap dikurangi. Selain pemantauan G. Kesimpulan
untuk menilai apakah pemberian cairan 1. Deman berdarah dengue tetap
sudah cukup atau kurang, pemantauan menjadi salah satu masalah
terhadap kemungkinan terjadinya kesehatan di Indonesia. Dengan
kelebihan cairan serta terjadinya efusi mengikuti kriteria WHO 1997,
pleura ataupun asites yang masih perlu diagnosis klinis dapat segera
selalu diwaspadai. ditentukan.
Terapi nonfarmakologis yang 2. Pengobatan ditujukan untuk
diberikan meliputi tirah baring (pada mengganti kehilangan cairan akibat
trombositopenia yang berat) dan kebocoran plasma dan memberikan
pemberian makanan dengan kandungan terapi substitusi komponen darah
gizi yang cukup, lunak dan tidak bilamana diperlukan
mengandung zat atau bumbu yang 3. Jumlah obat yang diberikan pada
mengiritasi saluaran cerna. Sebagai pasien anak demam berdarah
terapi simptomatis, dapat diberikan dengue di instalasi rawat inap RSIY
antipiretik berupa parasetamol, serta PDHI Yogyakarta periode ferbruari
obat simptomatis untuk mengatasi berkisar antara dua sampai delapan
keluhan dispepsia. Pemberian aspirin obat.
ataupun obat antiinflamasi nonsteroid 4. Golongan obat yang diberikan pada
sebaiknya dihindari karena berisiko pasien anak demam berdarah

8
dengue meliputi analgetik 6. Cara pemberian obat di RSIY PDHI
antipiretik, anti emetik, anti Yogyakarta pada pasien anak
histamin, antibiotik, anti diare, anti demam berdarah dengue meliputi
asma, mukolitik, antasida, anti oral dan parenteral.
amoeba dan rehidrasi.
5. Jenis obat yang diberikan antara lain H. Saran
pamol, praxion, paracetamol, 1. Perlu dilakukan penelitian lebih
ottopan, domperidon, tomit, lanjut tentang interaksi obat yang
villidin, tilidon, antrain, dapat timbul dalam pengobatan
ondansetron, gerdilium, vomitas, serta peneliti kerasionalan obat
ranitidin, CTM, cetinal, ampicillin, yang digunakan.
amoxicillin, ceftriaxon, cefixime, 2. Perlu peningkatan, pemantauan dan
thiamicin, zince pro, dialac, fartolin evaluasi pemberian obat pada
exp, sistenol, gastridin, pasien anak.
metronidazol dan flagyl.

9
I. Daftar Pustaka
Darmanto dan Eddy, 2000, Kebijakan MIMS Edisi Bahasa Indonesia Volume
Penggunaan Obat Rasional, 9 tahun 2008
Dalam Laporan Pelatihan http://www.indonesiaindonesia.com/f/7
Penggunaan Obat Rasional 606-demam-berdarah/.
Din. Kes. Kabupaten Bantul Diakses tanggal 22 Maret
Propinsi D.I.Y, Dinas 2010, 20.30
Kesehatan Kabupaten Bantul
(Tidak dipublikasikan). Khie Chen, Herdiman T. Pohan, Robert
Sinto, 2009.http://www.dexa-
Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani W.I medica.com/images/publicatio
dan Setiowulan, 2000, Kapita n_ upload
Selekta Kedokteran, edisi ke- 090324152955001237863562
3, jilid 2, Penerbit Media medicinus_maret-
Asculapius, Fakultas mei_2009.pdf. diakses tgl 22
Kedokteran Universitas maret 2010, 20.30
Indonesia, Jakarta, 428-433.
http://www.puskel.com/5-kriteria-
Sugiyono, 2002, Sistematika Untuk diagnosis-dugaan-kasus-
enelitian. Raja Grafindo demam-berdarah-dengue/.
Persada, Yogyakarta

WHO, 1997-2000, Demam Berdarah


Dengue Diagnosis,
Pengobatan, Pencegahan dan
Pengendalian, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.