Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN

“STRATEGI PELAKSANAAN PASIEN DENGAN RESIKO PERILAKU


KEKERASAN
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa
Dosen pengampu : Ns. Siti Nuryanti, S.Kep.,M.Pd

Disusun Oleh :
KEPERAWATAN TK. III
NURLYANTI
NIM P07220116111

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTAN TIMUR


JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
TAHUN AJARAN 2018/2019
STRATEGI PELAKSANAAN (SP)
TINDAKAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN
RESIKO PERILAKU KEKERASAN

Nama Pelaksana : NL
Nama Pasien/Ruangan : NA/Mawar
No.RM : xx.xx.xx
Hari/tanggal : Rabu/ 12 Sep 2018
Hari ke/Pertemuan : 1/1
Fase : Orientasi
SP 1 Pasien : Bina Hubungan saling percaya

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien :
a. Data Subjektif
- Klien mengatakan pernah melakukan tindak kekerasan
- Klien mengatakan sering merasa marah tanpa sebab

b. Data Objektif
- Klien tampak tegang saat bercerita
- Pembicaraan klien kasar jika dia menceritakan marahnya
- Mata melotot, pandangan tajam
- Nada suara tinggi
- Tangan mengepal
- Berteriak
2. Diagnosa Keperawatan :
Risiko perilaku kekerasan
3. Tujuan Tindakan Keperawatan :
a. Tujuan Umum
Klien dapat mengontrol atau mencegah perilaku kekerasan secara fisik
b. Tujuan Khusus
- Klien dapat membina hubungan saling percaya
- Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
- Klien dapat mengidentifikasi tanda gejala perilaku kekerasan
- Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan
- Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
- Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan
- Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan fisik 1:
teknik nafas dalam
- Klien dapat memasukkan latihan ke dalam jadwal kegiatan harian.

4. Tindakan Keperawatan :
- Bina hubungan saling percaya
- Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan marahnya
- Bantu klien mengungkapkan penyebab perilaku kekerasan
- Bantu klien mengungkapkan tanda gejala perilaku kekerasan yang
dialaminya
- Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini
- Diskusikan dengan klien akibat negative (kerugian) cara yang dilakukan
pada diri sendiri, orang lain/keluarga, dan lingkungan
- Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan secara
fisik : teknik napas dalam
- Anjurkan klien untuk memasukkan kegiatan didalam jadwal kegiatan
harian

B. Strategi Komunikasi Terapeutik


1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi bu.
“Perkenalkan nama saya Nurlyanti, panggil saja perawat Liyan. Saya adalah
mahasiswa dari Poltekkes Kemenkes kaltim bu.
“Hari ini saya dinas pagi dari pkl. 07.00-14.00. Saya yang akan merawat ibu
Nama ibu siapa dan suka dipanggil apa? Baiklah mulai sekarang saya akan
panggil ibu Ainun saja, ya”
“Bagaimana ibu sarapan paginya hari ini?”
b. Evaluasi/validasi
“Kalau boleh tahu, sudah berapa lama ibu Ainun di sini ? Apakah ibu
Ainun masih ingat siapa yang membawa kesini ? bagaimana perasaan ibu saat
ini? Saya lihat ibu sering tampak marah dan kesal, sekarang ibu
masih merasa kesal atau marah ?”
c. Validasi Kontrak :
- Topik
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang hal-hal yang membuat
Ibu Ainun marah dan bagaimana cara mengontrolnya? Ok.bu?”
- Waktu
“Berapa lama Ibu punya waktu untuk berbincang-bincang dengan
saya? Bagaimana kalau 15 menit saja?
- Tempat
“Ibu senangnya kita berbicaranya dimana?. Dimana saja boleh kok, asal
Ibu merasa nyaman. Baiklah, berarti kita berbicara di teras ruangan ini saja
ya, bu”.
- Tujuan
“Agar Ibu dapat mengontrol marah dengan kegiatan yang positif yaitu
dengan latihan fisik 1 : teknik nafas dalam dan tidak menimbulkan
kerugian untuk diri sendiri maupun orang lain.

2. Fase Kerja
“Nah, sekarang coba Ibu ceritakan, Apa yang membuat Ibu Ainun merasa marah?
Apakah sebelumnya Ibu pernah marah? Terus, penyebabnya apa? Samakah
dengan yang sekarang?”
“Lalu saat Ibu sedang marah apa yang Ibu rasakan? Apakah Ibu merasa sangat
kesal, dada berdebar-debar lebih kencang, mata melotot, rahang terkatup rapat dan
ingin mengamuk? ”
“Setelah itu apa yang Ibu lakukan? ”
“Apakah dengan cara itu marah/kesal Ibu dapat terselesaikan? ” Ya tentu tidak,
apa kerugian yang Ibu Ainun alami?”
“Menurut Ibu adakah cara lain yang lebih baik? Maukah Ibu belajar cara
mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa menimbulkan kerugian?”
”Jadi, ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan, Ibu. Salah satunya adalah
dengan cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik, rasa marah Ibu dapat tersalurkan.”
”Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar 1 cara dulu? Namanya teknik
napas dalam”
”Begini bu, kalau tanda-tanda marah tadi sudah Ibu rasakan,
maka Ibu berdiri atau duduk dengan rileks, lalu tarik napas dari hidung, tahan
sebentar, lalu keluarkan/tiup perlahan – lahan melalui mulut”
“Ayo bu coba lakukan apa yang saya praktikan tadi, Ibu berdiri atau duduk dengan
rileks tarik nafas dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan
5 kali. “
“Ibu sekali, Ibu sudah bisa melakukannya”
“ Nah…. Ibu Ainun tadi telah melakukan latihan teknik relaksasi nafas
dalam, sebaiknya latihan ini Ibu lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-
waktu rasa marah itu muncul Bapak sudah terbiasa melakukannya”.

3. Fase Terminasi
a. Evaluasi
- Evaluasi Subyektif
“Bagaiman perasaan Ibu setelah kita berbincang-bincang dan melakukan
latihan teknik relaksasi napas dalam tadi? Ya...betul, dan
kelihatannya Ibu terlihat sudah lebih rileks”.
- Evaluasi Obyektif
”Coba Ibu sebutkan lagi apa yang membuat Ibu marah, lalu apa yang Ibu
rasakan dan apa yang akan Ibu lakukan untuk meredakan rasa marah”.
Coba tunjukan pada saya cara teknik nafas dalam yang benar.
- “Wah...bagus, Ibu masih ingat semua...”
b. Rencana Tindak Lanjut (RTL)
“Bagaimana kalau kegiatan ini rutin dilakukan 5 kali dalam 1 hari dan di tulis
dalam jadwal kegiatan harian Ibu.
c. Kontrak yang akan datang
- Topik :
“ Nah, Ibu. Cara yang kita praktikkan tadi baru salah 1 nya saja. Masih
ada cara yang bisa digunakan untuk mengatasi marah Ibu. Cara yang ke-2
yaitu dengan teknik memukul bantal .
- Waktu :
“Bagaimana kalau kita latihan cara yang ke-2 ini besok, Bagaimana kalau
15 menit lagi saja?
- Tempat :
“Kita latihannya dimana, Ibu? Di teras ruangan ini saja lagi , Ibu”. “ok,
Ibu.
STRATEGI PELAKSANAAN (SP)
TINDAKAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN
RESIKO PERILAKU KEKERASAN

Nama Pelaksana : NL
Nama Pasien/Ruangan : NA/Mawar
No.RM : xx.xx.xx
Hari/tanggal : Kamis/13 Sep 2018
Hari ke/Pertemuan : 2/2
Fase : Orientasi
SP 2 Pasien : Cara latihan fisik II
( pukul bantal / kasur )

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien :
a. Data Subjektif
- Klien mengatakan pernah melakukan kekerasan
- Klien mengatakan pernah memukul orang tuanya
b. Data Subjektif
- Bicara Klien tampak keras dan cepat
- Wajah klien tampak tegang
- Klien sering memaksakan pendapat
- Klien tampak memukul-mukul pintu

2. Diagnosa Keperawatan
Perilaku kekerasan
3. Tujuan Tindakan Keperawatan :
- Evaluasi Jadwal Kegiatan Harian Klien Latih klien mengontrol perlaku
kekerasan dengan cara latihan fisik II ( pukul bantal / kasur )
- Anjurkan klien memasukan latihan fisik II ( Pukul bantal / kasur ) kedalam
jadwal kegiatan harian
Tujuan Khusus
- Klien dapat mendemontrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan
cara latihan fisik II yaitu pukul bantal / Kasur
B. Strategi Komunikasi Terapeutik
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
Selamat siang ibu ? masih ingat dengan saya ? bagaimana tidurnya semalam...?
b. Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaan ibu hari ini ? Apakah ibu sudah melalukan cara
mengendalikan amarah bapak dengan Latihan fisik I ( Tarik nafas dalam )Ya
bagus....!!!
c. Validasi Kontrak
- Topik :
ibu, sesuai janji kita kemarin, siang ini kita akan berbincang-bincang untuk
mendiskusikan cara mengendalikan amarah ibu dengan cara latihan fisik II
yaitu dengan cara pukul bantal / kasur.!!!
- Waktu :
Sesuai yang sudah kita sepakati, kita akan berbincang-bincang selama 15
menit
- Tempat :
” ibu setuju kita berbincang-bincang di meja makan ?”
- Tujuan :
Agar ibu dapat mengetahui cara yang lain untuk mengendalikan amarah ibu
yaitu dengan cara pukul bantal / kasur.

2. Fase Kerja
”Baiklah ibu kita mulai saja perbincangan kita kali ini, sebelumnya saya akan
menjelaskan caranya terlebih dahulu yah....jika ibu merasa kesal atau jengkel
terhadap sesuatu sebaiknya bapak ambil bantal atau kasur, kemudian ibu pukul
bantal tersebut sampai emosi ibu mereda, karena itu tidak membahayakan
seseorang dan lebih baik dari pada ibu pukul pintu atau kursi, karena bisa
menyebabkan tangan ibu bisa sakit. ibu mengerti ?
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Respon
- Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan ibu sekarang setelah berbincang-bincang tentang
latihan fisik II yaitu pukul bantal ?
- Evaluasi Objektif
“Coba bpk Praktekan kembali cara mengendalikan amarah ibu dengan
latihan fisik II ?
b. Rencana Tindak Lanjut
“Nah...Saya harap ibu dapat melakukan cara latihan fisik II dengan cara pukul
bantal atau kasur jika perasaan marah atau jengkel itu muncul dan masukan
kedalam jadwal kegiatan harian ibu !
c. Kontrak yang akan datang
- Topik :
“ibu, bagaimana kalau besok kita berbincang-bincang lagi untuk
mendiskusikan cara mengendalikan amarah ibu dengan cara yang lain yaitu
dengan cara verbal tanpa menyakiti orang lain.
- Waktu :
“bapak, mau berbincang-bincang jam berapa ? Selama berapa lama ?
Bagaimana kalau jam 10 selama 15 menit.
- Tempat :
“Dimana kita berbincang-bincang ? Bagaimana kalau di ruang makan saja
(di tempat ini), sampai jumpa besok, selamat beristirahat.
STRATEGI PELAKSANAAN (SP)
TINDAKAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN
RESIKO PERILAKU KEKERASAN

Nama Pelaksana : NL
Nama Pasien/Ruangan : NA/Mawar
No.RM : xx.xx.xx
Hari/tanggal : Jumat/14 Sep 2018
Hari ke/Pertemuan : 3/3
Fase : Orientasi
SP 3 Pasien : Mengontrol perilaku kekerasan
dengan cara verbal

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien :
a. Data Subjektif
- Klien mengatakan sudah melakukan cara tarik nafas dalam dan pukul
bantal.
- Klien mengatakan sudah bisa mengontrol emosi
b. Data Objektif
- Klien tampak sedang memperagakan cara mengontrol amarahnya dengan
cara pukul bantal
- Klien tampak curiga dan tegang.
2. Diagnosa Keperawatan
Perilaku kekerasan
3. Tujuan Tindakan Keperawatan
- Evaluasi jadwal kegiatan harian klien latih klien mengontrol perilaku
kekerasan dengan cara verbal
- Anjurkan klien memasukan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara
verbal kedalam jadwal kegiatan harian.
Tujuan Khusus
- Klien dapat mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara verbal tanpa
menyakiti orang lain dan diri sendiri.
B. Strategi Komunikasi Terapeutik
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
”Selamat pagi ibu? masih ingat dengan saya?? Bagaimana tidurnya semalam??
Nyenyak tidak??.”
b. Evaluasi validasi
“Bagaimana perasaan ibu saat ini ? Apa yang sudah ibu lakukan dengan cara
yang sudah saya ajarkan sebelumnya?? Bagus.
c. Validasi Kontrak
- Topik :
” ibu, sesuai janji kita kemarin, hari ini kita akan berbincang-bincang
tentang cara mengendalikan amarah bapak dengan cara verbal tanpa
menyakiti orang lain dan diri sendiri ”
- Waktu :
Sesuai yang sudah kita sepakati, kita akan berbincang-bincang selama 15
menit.. ibu setuju?
- Tempat :
Sesuai dengan janji kita kemarin kita akan berbincang-bincang di ruang
makan !!!
- Tujuan : Agar ibu mengetahui cara yang lain untuk mengontrol amarah
ibu. . . yaitu dengan cara verbal.

2. Fase Kerja
” Baiklah ibu kita mulai saja perbincangan kita hari ini, kemarin kita telah
mendiskusikan cara amarah ibu dengan cara tarik nafas dalam dan pukul bantal.
Dan sekarang kita akan mendiskuisikan cara yang lain yaitu dengan cara verbal,
sebelumnya saya akan menjelaskan terlebih dahulu, jika ibu sedang kesal atau
marah ibu bisa melakukan dengan cara berbincang-berbincang dengan teman
tanpa melukai orang yang ibu ajak bicara, misalnya ibu mengajak ngobrol perawat
yang ada disini dan bapak menceritakan keluh-kesal ibu, ,atau kata lainnya curhat.
ibu mengerti !
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Respon
- Evaluasi subjektif
”Bagaimana perasaan ibu setelah berbincang-bincang dengan saya tentang
cara mengontrol amarah dengan cara verbal??”
- Evaluasi objektif
”Coba ibu sebutkan kembali apa yang telah kita diskusikan tadi?”
b. Rencana Tindak Lanjut
”Saya harap besok ibu dapat melakukan cara yang sudah saya ajarkan tadi
yaitu mengontrol amarahnya dengan cara verbal !”
c, Kontrak yang akan datang
- Topik :
” ibu, bagaimana kalau besok kita berbincang-bincang lagi tentang cara
mengontrol amarah dengan cara spiritual !!!”
- Waktu :
ibu, mau berbincang-bincang jam berapa ? Berapa lama ? Bagaimana
kalau jam 10.30 selama 15 menit ?
- Tempat :
Dimana kita berbincang-bincang ? Bagaimana kalau di sini lagi (di tempat
makan) ? Sampai jumpa besok, selamat beristirahat
STRATEGI PELAKSANAAN (SP)
TINDAKAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN
RESIKO PERILAKU KEKERASAN

Nama Pelaksana : NL
Nama Pasien/Ruangan : NA/Mawar
No.RM : xx.xx.xx
Hari/tanggal : Sabtu/14 Sep 2018
Hari ke/Pertemuan : 3/3
Fase : Orientasi
SP 4 Pasien : Mengontrol perilaku kekerasan
dengan cara spiritual

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien :
a. Data Subjektif
- Klien mengatakan sudah bisa mengontrol emosi jika kesal
b. Data Objektif
- Klien tampak kooperatif
- Kontak mata terjalin
- Klien tampak mengepalkan tangan kanannya
2. Diagnosa Keperawatan
Perilaku kekerasan
Tujuan Khusus
Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan dengan cara spiritual
3. Tujuan Tindakan Keperawatan
- Evaluasi jadwal kegiatan harian
- Latih klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara spiritual
- Anjurkan klien memasukan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara
spiritual dalam jadwal kegiatan harian

B. Strategi Komunikasi Terapeutik


1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi bu ? bagaimana tidurnya bapak semalam? nyenyak atau tidak
bisa tidur?”
b. Evaluasi Validasi
”Bagaimana perasaan ibu pagi hari ini ? apakah bapak masih ingat cara
mengontrol amarah yang telah saya ajarkan selama ini?? Coba ibu sebutkan ??
ya . . bagus ibu ini memang pintar.”
c. Validasi Kontrak
- Topik :
ibu, sesuai janji kita kemarin hari ini kita akan berbincang- bincang
tentang cara mengontrol amarah dengan cara spiritual
- Waktu :
Sesuai kontrak kita yang sudah kita sepakati, kita akan berbincang-bincang
selama 15 menit
- Tempat :
ibu, bagaimana kalau kita berbincang-bincang di ruang makan
- Tujuan :
Supaya ibu dapat megontrol amarah dengan cara spiritual
2. Fase kerja
“ Baiklah bu. . . perbincangan kita lebih bagus dimulai saja, coba saya lihat jadwal
kegiatan harian ibu selama beberapa hari ini ! Bagus . . ibu selalu melakukannya,
sekarang saya akan mengajarkan cara mengontrol amarah dengan cara spiritual, ,
misalnya yang pertama ibu ambil air wudhu, , kemudian ibu berdoa, , lebih bagus
lagi ibu sholat dan mengaji, ibu paham apa yang saya katakan !”
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Respon
- Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan ibu setelah berbincang-bincang dengan saya tentang
cara mengontrol amarah dengan cara spiritual yang sudah saya jelaskan
tadi??”
- Evaluasi Objektif
“Coba ibu sebutkan cara spiritual yang bisa bapak lakukan ketika ibu marah
atau kesal??”
b. Rencana tindak lanjut
“Diharapkan ibu dapat melakukan cara yang tadi sudah saya jelaskan”
c. Kontrak yang akan datang
- Topik :
“bu, bagaimana kalau besok kita berbincang-bincang lagi tentang
menontrol perilaku kekerasan dengan cara patuh minum obat
- Waktu :
“ibu, mau berbincang-bincang jam berapa ? Berapa lama ? “Bagaimana
kalau jam 09.30, selama 15 menit ya ? Kita bertemu hari Senin ya ?
- Tempat :
“Dimana kita berbincang - bincang ? Bagaimana kalau disini lagi di ruang
makan ? Sampai jumpa besok ya bu, selamat beristirahat
STRATEGI PELAKSANAAN (SP)
TINDAKAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN
RESIKO PERILAKU KEKERASAN

Nama Pelaksana : NL
Nama Pasien/Ruangan : NA/Mawar
No.RM : xx.xx.xx
Hari/tanggal : Sabtu/14 Sep 2018
Hari ke/Pertemuan : 3/3
Fase :
SP 5 Pasien : Mengontrol perilaku kekerasan
dengan minum obat

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien :
a. Data Subjektif
- Klien mengatakan sudah tidak emosi lagi.
- Klien mengatakan sudah bisa meredam emosinya.
b. Data Objektif
- Klien tampak kooperatif
- Kontak mata terjalin.
- Klien tidak terlihat tegang.
- Klien terlihat santai

2. Diagnosa Keperawatan
Perilaku kekerasan
Tujuan Khusus
Klien dapat menggunakan obat sesuai dengan program yang telah diterapkan
3. Tindakan Keperawatan
- Evaluasi jadwal kegiatan harian Klien
- Jelaskan cara mengontrol Perilaku kekerasan dengan minum obat
- Anjurkan klien memasukan minum obat kedalam jadwal kegiatan harian.
B. Strategi Komunikasi Terapeutik
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi bu ? bagaimana tidurnya semalam ?
b. Evaluasi Validasi
“Bagaimana perasaan ibu hari ini ? apa ibu sudah melakukan cara-cara yang
sudah saya ajarkan pada pertemuan sebelumnya ? bagus !
c. Validasi Kontrak
- Topik :
“ibu, sesuai janji kita kemarin siang ini kita akan berbincang-bincang
tentang cara mengontrol perilaku kekerasan dengan minum obat
- Waktu :
“Sesuai yang sudah kita sepakati, kita akan berbincang-bincang selama 15
menit
- Tempat :
“ibu setuju kita berbincang-bincang di tempat makan
- Tujuan :
“Perbincangan kita kali ini tujuannya agar bpk mengetahui manfaat minum obat,
kerugian minum obat dan mengetahui 5 benar cara minum obat.
2. Fase Kerja
“ Baiklah ibu kita mulai saja yah perbincangan kali ini, sebelumnya coba saya lihat
jadwal kegiatan harian ibu!
“ibu tahu tidak apa manfaat minum obat secara teratur…? Kalau ibu tidak minum
obat secara teratur bagaimana …?
“ibu bisa sebutkan 5 benar cara minum obat…? Saya akan jelasakan ya bu! 5 benar
minum obat yaitu : benar obat, Benar Orang, Benar Dosis, Benar Waktu, dan benar
cara.
“Keuntungan minum obat secara teratur adalah untuk mencegah kekambuhan dan
kerugiannya adalah dapat menyebabkan kekambuhan dan ibu bisa mengalami sakit
seperti ini akan semakin lama..!
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan ibu setelah berbincang-bincang tentang mengontrol
amarah dengan cara minum obat ?
b. Evaluasi Objektif
“Coba ibu sebutkan kembali keuntungan minum obat secara teratur, kerugian
tidak minum obat dan coba sebutkan juga 5 benar cara minum obat….???
“Bagus .. ibu masih bisa mengingatnya..!
c. Rencana Tindak Lanjut
Saya harap ibu dapat memahami dan melakukan cara mengontrol amarah
dengan patuh minum obat seperti yang telah saya jelaskan. Dan ibu masukan
kedalam jadwal kegiatan harian.
d. Kontrak yang akan datang
- Topik :
“ibu, besok kita bertemu lagi, kita akan membahas tentang masalah
halusinasi yang ibu alami..!!!
- Waktu :
“ibu, mau jam berapa kita bertemu dan berapa lama ? Jam 10.00 selama
15 menit yah.
- Tempat :
Dimana kita akan berbincang-bincang ? Bagaimana kalau disini lagi
(tempat makan) ? Baik sampai jumpa besok selamat beristirahat