Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

DISTRIBUSI SOLUT DIANTARA DUA PELARUT DAN IDENTIFIKASI


LAPISAN ORGANIK
Tujuan Percobaan
1. Mempelajari ditribusi senyawa organik diantara dua pelarut yang tidak bercampur
2. Mempelajari cara mengidentifikasi lapisan organik diantara dua pelarut yang tidak
bercampur

Pendahuluan
A. Larutan
Larutan adalah campuran homogen zat terlarut dan pelarut. Larutan bisa berbentuk gas,
padatan, dan cair. Pelarut berperan sebagai medium bagi zat terlarut serta berperan dalam reaksi
kimia dalam larutan karena pengendapan atau penguraian. Pelarut yang umum digunakan adalah
air (Chang, 2005).
B. Hukum Distribusi
Hukum distribusi Nerst menyatakan bila dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur
dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian
kelarutan. Solute dalam praktek akan terdistribusi dengan sendirinya ke dalam dua pelarut
tersebut setelah dikocok dan dibiarkan terpisah. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua
pelarut tersebut tetap, dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap(Purwani, 2008).
Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien distribusi. Distribusi zat terlarut
antara air dan pelarut organik telah menjadi subjek banyak penelitiaan di banyak ilmu sains.
Sejak ditemukannya hubungan yang sederhana, antara lain distribusi minyak/cairan atau
koefisien distribusi cairan (Tomlinson, 1986).
C. Ekstraksi Pelarut
Basset dkk (1994) mengungkapkan bahwa ekstraksi adalah pemisahan dan penarikan
komponen campuran dari campuran lainnya. Ekstraksi campuran-campuran merupakan suatu
teknik dimana suatu larutan dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut lain (pelarut kedua) yang
tidak tercampurkan dan menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut ke dalam
pelarut kedua tersebut. Sebuah proses ekstraksi pelarut bertujuan untuk mengekstrak zat terlarut
dari suatu fasa cair yang lain. Hal ini dapat dilakukan untuk memisahkan dua zat terlarut yang
berbeda atau untuk memurnikan fasa cair dari kontaminasi (Engdahl, 2010).

Material Safety Data Sheet (MSDS)


A. Kloroform
Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3). Kloroform lebih dikenal sebagai
bahan pembius meskipun telah banyak digunakan sebagai pelarut nonpolar di laboraturium atau
industri. Wujudnya berupa cairan dan mudah mengua . Kloroform mempunyai titik didih 61,2 oC
dan titik lebur -63,5oC(ScienceLab, 2018).
Kloroform juga disebut sebagai holoform karena brom dan klor juga bereaksi dengan metal
keton yang menghasilkan masing – masing bromoform dan kloroform. Hal inilah yang disebut
haloform. Kloroform termasuk senyawa polihalogen yaitu senyawa turunan karboksilat yang
mengikat lebih dari satu atom halogen dan merupakan senyawa dari asam formiat(ScienceLab,
2018).
Kloroform dalam bidang industri dapat diperoleh dengan pemanasan campuran dari klorin dan
klorometana atau metana. Beberapa senyawa yang dapat membentuk kloroform dan senyawa
halofom adalah etanol, 2–proponol, 2-butanol propanon, dan 2-butanon. Reaksi kloroform
berlangsung dalam tiga tingkat yaitu oksidasi, subsitusi, dan penguraian oleh basa(ScienceLab,
2018).
Sifat fisika dari kloroform antara lain beracun, berbau khas (sedikit manis), berbentuk cair, dan
tidak berwarna. Sementara sifat kimia kloroform antara lain tidak dapat bercampur dengan air,
termasuk asam lemah, dan tidak mudah terbakar. Kloroform dimanfaatkan sebagai pemadam
kebakaran, pembersih noda, dan untuk pengasapan. Kloroform selain mempunyai manfaat, juga
mempunyai bahaya pada kesehatan tubuh manusia yaitu dapat menyebabkan pembesaran hati,
gangguan pernapasan dan ginjal, dan tekanan darah rendah(ScienceLab, 2018).
B. Heksana
Heksana berwujud cair, tidak berasa, dan memiliki warna yang tidak jelas. Heksana
mempunyai bau yang khas yaitu seperti bau bensin. Berat molekul heksana sebesar 86.18 g/mol.
Titik didih dan titik lebur heksana berturut-turut ialah 68°C (154,4°F) dan -95°C (-139°F). Zat ini
berbahaya jika terjadi kontak kulit, menelan, inhalasi dan sedikit berbahaya jika terjadi kontak mata
(iritasi). Tindakan yang harus dilakukan jika terjadi kontak kulit ialah dengan mencuci kulit dengan
sabun dan air lalu menutupi kulit yang teriritasi dengan emolien(ScienceLab, 2018).
C. Asam benzoat
Keadaan fisik asam benzoat adalah solid atau padat. Asam benzoat tidak memilki bau, rasa,
dan warna. Asam benzoat memiliki berat molekul sebesar 122,12 g/mol dan derajat keasaman 3
yang menandakan bahwa dirinya asam. Titik didih dan titik lebur asam benzoat berturut-turut ialah
249,2°C (480,6°F) dan 122,4°C (252,3°F). Zat ini berbahaya jika terjadi kontak kulit, menelan,
inhalasi dan sedikit berbahaya jika terjadi kontak mata (iritasi). Tindakan yang harus dilakukan jika
terjadi kontak kulit ialah dengan mencuci kulit dengan sabun dan air lalu menutupi kulit yang
teriritasi dengan emolien(ScienceLab, 2018).
D. Magnesium sulfat (MgSO4)
Magnesium sulfat berwujud padat, tidakmempunyai rasa dan bau. Magnesium sulfat
mempunyai berat molekul sebesar 120,38 g / mol. Magnesium sulfat tidak memiliki titik didih dan
titik lebur. Zat ini berbahaya jika terjadi kontak kulit, menelan, inhalasi dan sedikit berbahaya jika
terjadi kontak mata (iritasi). Tindakan yang harus dilakukan jika terjadi kontak kulit ialah dengan
mencuci kulit dengan sabun dan air lalu menutupi kulit yang teriritasi dengan emolien(ScienceLab,
2018).
E. Kafein
Keadaan fisik kafein adalah kristal padat. Kafein tidak memilki bau, rasa pahit, dan berwarna
putih. Kafein memiliki berat molekul sebesar 194,2 g / mol dan derajat keasaman 6,9 [Netral]. Titik
lebur kafein ialah 238 ° C (460,4 ° F). Zat ini berbahaya jika terjadi kontak kulit, menelan, inhalasi
dan sedikit berbahaya jika terjadi kontak mata (iritasi). Tindakan yang harus dilakukan jika terjadi
kontak kulit ialah dengan mencuci kulit dengan sabun dan air lalu menutupi kulit yang teriritasi
dengan emolien(ScienceLab, 2018).
F. Akuades
Keadaan fisik akuades adalah cair, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna. Akuades
memiliki berat molekul 18,02 g/mol dan titik didih 100oC (212oF). Akuades juga memiliki derajat
keasaman yang netral yaitu 7dan tekanan uap sebesar 2,3 kPa di suhu 20oC. Akuades tidak korosif
dan tidak mengiritasi kulit. Akuades juga tidak mengganggu mata, tidak korosif dan iritasi untuk
paru-paru, dan tidak sensitif dan permeator untuk kulit. Tindakan pertolongan pertama yang harus
dilakukan saat terkena atau terkontaminasi akuades tidak ada karna zat ini tidak berbahaya bagi
manusia, hewan, maupun lingkungan(ScienceLab, 2018).

Prinsip Kerja
Metode yang digunakan dalam percobaan ini ialah ekstraksi cair senyawa organik

Alat
Tabung reaksi, pipet tetes, neraca, dan penangas air
Bahan
Heksana, air, kloroform, asam benzoat, MgSO4, dan kafein

Prosedur Kerja
A. Mengidentifikasi dua lapisan pelarut
Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan tiga buah tabung reaksi yang bersih dan
mengisinya masing-masing berturut-turut dengan campuran 2 pelarut A, B, dan C yang telah
dikocok sebelum dipindah ke tabung reaksi tersebut. Langkah selanjutnya ialah mengidentifikasi
masing-masing lapisan pelarut dalam campuran 2 pelarut tersebut yaitu mana lapisan organik dan
mana lapisan air. Data yang diperoleh dari pengamatan dicatat dan lakukan konfirmasi
menggunakan data berat jenis masing-masing pelarut yang digunakan.
B. Distribusi solut diantara dua pelarut
Sebanyak 0,125 g asam benzoat dimasukkan kedalam tabung reaksi lalu ditambahkan 5 mL
diklorometana dan 5 mL air. Kocok tabung reaksi kemudian sampai semua padatan asam benzoat
larut (Hati-hati jangan sampai tumpah saat mengocok tabung reaksi) dan diamkan tabung reaksi
sampai terbentuk dua lapisan pelarut. Pindahkan lapisan bagin bawah menggunakan pipet tetes
(Pipet Pasteur) kedalam tabung reaksi yang lain. Tambahkan sedikit MgSO4 anhidrat kedalam
tabung reaksi yang berisi pelarut hasil pemindahan campuran pelarut lalu pisahkan MgSO4
anhidrat dengan cara menuangkan cairannya kedalam tabung reaksi yang baru. Uapkan pelarutnya
menggunakan penangas air sampai padatan asam benzoat terbentuk. Kerok dan timbang asam
benzoat yang diperoleh lalu hitunglah harga Koefisien distribusi dari asam benzoat dalam air dan
diklorometana. Semua prosedur diulangi dengan menggunakan sampel kafein sebagai ganti dari
asam benzoat.
Waktu yang dibutuhkan
No. Perlakuan Waktu (menit)
1. Menyiapkan tabung reaksi 2
Mengisi masing tabung reaksi dengan campuran 2
15
pelarut
Mengidentifikasi masing-masing lapisan pelarut 15
2. Menambahkan diklorometana dan air pada asam
3
benzoat
Mendiamkan tabung reaksi hingga terbentuk 2 lapisan
10
pelarut
Memindahkan lapisan bawah pelarut ke tabung reaksi
5
yang lain
Menuangkan MgSO4 anhidrat ke tabung reaksi yang
3
baru
Menguapkan pelarut dengan penangas air 20
Mengerok dan menimbang asam benzoat yang
7
diperoleh
Menghitung harga koefisien distribusi dari asam
20
benzoat dalam air dan diklorometana
Total 100 menit
Data dan Perhitungan

Data yang diperoleh pada percobaan ini antara lain :


No Nama Percobaan Perlakuan Hasil
1 Identifikasi dua H2O + heksana - Terbentuk dua fasa
lapisan pelarut - Fasa berair di bawah (H2O)
- Fasa organik di atas
(heksana)
H2O + kloroform - Terbentuk dua fasa
- Fasa berair di atas (H2O)
- Fasa organik di bawah
(kloroform)
A. Kafein
Menggunakan fasa bawah Kafein + H2O Larut
kloroform Terdapat endapan
Kafein + kloroform + H2O Fasa berair di atas (H2O)
Fasa organik di bawah
(kloroform)
2 Distribusi solut di Kloroform + MgSO4 Ada sedikit endapan
antara dua pelarut Lalu dipisahkan
Kloroform + bahan Diperoleh endapan kafein
dipanaskan m1= 0,126 g
m2= 0,024 g
B. Asam benzoat
Menggunakan fasa bawah Fasa berair di atas (H2O)
kloroform + MgSO4 Fasa organik di bawah
(kloroform)
Asam benzoat + kloroform + Terdapat sedikit endapan
H2O
Kloroform + bahan Diperoleh endapan Asam
dipanaskan benzoat
m1= 0,127 g
m2= 0,001 g
a. Kafein
Ca = massa awal
= 0,126 g
Cb = massa endapan
= 0,024 g
𝐶𝑎 0,126 g
𝐾= = = 5,25
𝐶𝑏 0,024 g
b. Asam benzoat
Ca = massa awal
= 0,127 g
Cb = massa endapan
= 0,001 g
𝐶𝑎 0,127 g
𝐾= = = 127
𝐶𝑏 0,001 g

Hasil
1. Identifikasi 2 lapisan pelarut
Hasil dari percobaan ini adalah pada larutan H2O + heksana menghasilkan 2 lapisan pelarut
yaitu lapisan atas berupa heksana (fasa organik) dan lapisan bawah berupa air (fasa berair).
Begitu pula dengan larutan H2O + kloroform mengahsilkan 2 lapisan pelarut juga dengan
lapisan atas berupa air (fasa berair) dan lapisan bawah berupa kloroform (fasa organik).
2. Distribusi solut di antara dua pelarut
Larutan asam benzoat + kloroform + air menghasilkan endapan asam benzoat kembali di
akhir percobaan. Larutan kafein + kloroform + air menghasilkan endapan kafein kembali di
akhir percobaan pula.

Pembahasan Hasil
Percobaan ini bertujuan mempelajari ditribusi senyawa organik diantara dua pelarut yang
tidak bercampur. Bahan yang digunakan ialah heksana dan kloroform yang masing-masing
dicampur dengan air. Hasil dari kedua larutan tersebut yaitu membentuk 2 lapisan, untuk larutan
heksana dan air, heksana menjadi lapisan atas (fasa organik) sedangkan air merupakan lapisan
bawah (fasa berair). Hal tersebut dikarenakan hekasana mempunyai massa jenis yang lebih rendah
dari air yaitu sebesar 655 kg/m3. Larutan kedua juga membentuk 2 lapisan dengan lapisan atas yaitu
air dan lapisan bawah kloroform. Ha ini disebabkan kloroform memiliki massa jenis yang lebih
besar dari air yaitu sbeesar 1,49 g/ m3.
Larutan kafein + kloroform + air menghasilkan endapan kafein kembali di akhir percobaan.
Larutan tersebut awalnya membentuk 2 lapisan yaitu di atas adalah air sedangkan bawah adalah
kloroform sementara kafein larut. Lapisan bawah kemudian diambil diletakkan pada tabung reaksi
yang lain. Larutan bawah tersebut kemudian ditambahkan dengan magnesium sulfat untuk
menyerap sisa air pada lapisan atas yang terikut. Larutan lalu dipanaskan untuk mengendapkan
kafein kembali serta menghilangkan CO2 dalam larutan.
Larutan asam benzoat + kloroform + air menghasilkan endapan asam benzoat kembali di
akhir percobaan. Larutan tersebut juga awalnya membentuk 2 lapisan yaitu di atas adalah air
sedangkan bawah adalah kloroform sementara asam benzoat larut. Lapisan bawah kemudian
diambil diletakkan pada tabung reaksi yang lain. Larutan bawah tersebut kemudian ditambahkan
dengan magnesium sulfat untuk menyerap sisa air pada lapisan atas yang terikut. Larutan lalu
dipanaskan untuk mengendapkan kafein kembali serta menghilangkan CO2 dalam larutan. Semua
bahan yang berbentuk padat yaitu kafein dan asam benzoat pada akhirnya tetap kembali menadi
padatan meskipun pada awalnya sempat larut.

Kesimpulan
Campuran dua zat atau lebih apabila tidak bercampur maka akan membentuk beberapa
lapisan sesuai kelarutannya. Larutan yang tidak dapat bercampur yang terjadi pada wujud padat dan
cair maka akan mengahsilkan endapan dari bahan yang berwujud padat tersebut seperti pada asam
benzoat dan kafein pada percobaan.

Referensi
Chang, R. 2004. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti. Edisi 3. Jilid 2. Pemerjemah :
Sukminar. Jakarta: Erlangga
Engdahl, E.L, Emma Aneheim. Christian Ekberg. Mark Foreman. Gunnar Skarnemark,
2010. Diluent Effect In Solvent Extraction. Department of Chemical and
Biological Engineering Chalmers University of Technology Gothenburg. Sweden
Purwani, M.V, Suyanti. Muhadi A.W. 2008. Ekstraksi Konsentrat Neodimium Memakai
Asam Di-2-Etil Heksil Fosfat. Yogyakarta: BATAN
ScienceLab. 2018. Material Safety Data Sheet of. [Serial Online]
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927218 (diakses pada tanggal 1 Oktober
2018)
ScienceLab. 2018. Material Safety Data Sheet of. [Serial Online]
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927475 (diakses pada tanggal 1 Oktober
2018)
ScienceLab. 2018. Material Safety Data Sheet of. [Serial Online]
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927133 (diakses pada tanggal 1 Oktober
2018)
ScienceLab. 2018. Material Safety Data Sheet of. [Serial Online]
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927096 (diakses pada tanggal 1 Oktober
2018)
ScienceLab. 2018. Material Safety Data Sheet of. [Serial Online]
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927187 (diakses pada tanggal 1 Oktober
2018)
ScienceLab. 2018. Material Safety Data Sheet of. [Serial Online]
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927321 (diakses pada tanggal 1 Oktober
2018)
Tim Penyusun. 2018. Petunjuk Praktkum Kimia Organik. Jember: Universitas Jember
Tomlinson, E. W.Riebesehl. and H.J.M. Grunbauer. 1986. Thermodynamics of
Liquid/Liquid Distribution. Netherlands: Department of Pharmacy University of
Amsterdam

Saran
Praktikan sebaiknya memahami prosedur dengan baik sehingga ketika melakukan percobaan
tidak akan banyak bertanya dan merasa bingung. Hal tersebut akan mengakibatkan durasi waktu
yang lebih panjang.

Nama praktikan
Nama : Cindy Eka Fitra Yuliana
NIM : 171810301074