Anda di halaman 1dari 3

GIZI BURUK

Pengertian Gizi Buruk

Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau
dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang
dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi
Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita.

Gizi buruk atau lebih dikenal dengan gizi di bawah garis merah adalah keadaan kurang
gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan
sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama. Tanda-tanda klinis dari gizi buruk secara
garis besar dapat dibedakan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor (RI dan WHO,
Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001 – 2005, Jakarta, Agustus 2000). Masyarakat umum
lebih mengenalnya dengan nama busung lapar.    Fenomena busung lapar merupakan sesuatu
yang menarik karena sekilas kita tidak mengalami masalah tersebut tetapi tiba-tiba ada berita
yang menggemparkan tentang kejadian gizi buruk.

Faktor-faktor penyebab Gizi buruk

faktor keturunan keluarga yang kecil-kecil sehingga tidak membahayakan. Selain itu
luasnya wilayah serta kesulitan petugas untuk melakukan screening merupakan juga hambatan
sehingga data yang didapatkan kadang kurang valid.

Penyebab langsungMakanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi


kurang. Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi
juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit, pada
akhirnya dapat menderita gizi kurang atau bahkan gizi buruk. Termasuk pula anak yang tidak
memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan mudah
terserang penyakit.Penyebab tidak langsungAda berbagai penyebab tidak langsung yang
menyebabkan gizi kurang yaitu :

1)      Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai.  Setiap keluarga diharapkan mampu
untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup
baik jumlah maupun mutu gizinya. Namun kemiskinan kadang menjadikan hambatan dalam
penyediaan pangan bagi keluarga.

2)      Pola pengasuhan anak kurang memadai.  Setiap keluarga dan mayarakat diharapkan dapat
menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang
dengan baik baik fisik, mental dan sosial. Di masa modern ini pengasuhan anak kadang kita
serahkan kepada pembantu yang belum tentu tahu perkembangan dan kebutuhan makan anak.
3)      Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai.   Sistim pelayanan kesehatan yang
ada diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar
yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan. Berbagai kesulitan air bersih dan
akses sarana pelayanan kesehatan menyebabkan kurangnya jaminan bagi keluarga. Pokok
masalah gizi buruk di masyarakatKurangnya pemberdayaan keluarga dan kurangnya
pemanfaatan sumber daya masyarakat berkaitan dengan berbagai faktor langsung maupun
tidak langsung. Hal ini dapat ditanggulangi dengan adanya berbagai kegiatan yang ada di
masyarakat seperti posyandu, pos kesehatan.  Akar masalah gizi burukKurangnya
pemberdayaan wanita dan keluarga serta kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat
terkait dengan meningkatnya  pengangguran, inflasi dan kemiskinan yang disebabkan oleh krisis
ekonomi, politik dan keresahan sosial yang menimpa Indonesia. Keadaan tersebut teleh
memicu munculnya kasus-kasus gizi buruk akibat kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga
yang tidak memadai.

Pengaruh Gizi Buruk Terhadap tubuh manusia


Sejak dahulu telah diketahui bahwa makanan dibutuhkan oleh manusia untuk dapat
tetap hidup. Tapi bahwa kekurangan makanan yang berakibat gizi buruk dapat menimbulkan
hal – hal yang tidak diinginkan pada kesehatan baru mulai disadari pada abad ke 19. Dan itupun
diketahui secara kebetulan, ketika pada awal abad ke 19 di dunia terjadi ’sindroma klinik’ yang
hebat akibat kekurangan vitamin pada makanan, sehingga perhatian para ahli kesehatan
tercurah ke ilmu makanan (nutrition), yang akhirnya lahirlah ilmu gizi, yakni cabang ilmu
pengetahuan yang mempelajari hubungan antara makanan dengan zat – zat yang terkandung di
dalamnya (gidzha - gizi).
Gizi buruk disebabkan karena kurangnya asupan makanan sumber kalori protein dalam
waktu yang lama secara terus – menerus, yang biasanya disertai dengan penyakit infeksi.
Kekurangan asupan makanan mengakibatkan daya tahan tubuh sangat lemah sehingga mudah
terkena penyakit infeksi.
Secara epidemilogis, gizi buruk merupakan hasil kumulatif dari berbagai faktor yang
terdapat dalam masyarakat, antara lain kemiskinan, bahan makanan yang tidak tersedia atau
sukar diperoleh di pasar, ketidaktahuan atau kurang pengetahuan atau kurang peduli akan
kebutuhan makanan anak, pelayanan kesehatan dasar yang kurang memadai dan kebersihan
serta sanitasi lingkungan buruk yang merupakan faktor resiko terjadinya penyakit infeksi yang
memperberat gizi buruk.Unicef tahun 1998 telah mengidentifikasi akar permasalahan tersebut
adalah pada faktor ekonomi, sosial, pendidikan dan kesehatan.
Terlepas dari berbagai faktor penyebab gizi buruk, yang jelas gizi buruk memberi
pengaruh yang buruk pada anak. Perkembangan fisik anak akan terganggu, kemungkinan
terkena penyakit lebih besar dan kecerdasan anak akan terganggu, bahkan dapat
mengakibatkan keterbelakangan mental (retardasi mental).
Para ahli telah menyelidiki pada binatang percobaan. Terbukti bahwa sel – sel keturunan
binatang akan rusak secara permanen, jika anak menderita kekurangan gizi sejak dini.
Penyelidikan yang sama juga dilakukan terhadap manusia, menunjukkan bahwa kerusakan –
kerusakan otak akan lebih sukar diperbaiki pada anak yang di tahun – tahun pertama
kehidupannya menderita gizi buruk.

Cara pencegahan Terhadap Gizi buruk

kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang
dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk
mencegah terjadinya gizi buruk pada anak:

1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai
dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan
umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.

2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak,
vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori
yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.

3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati
apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera
konsultasikan hal itu ke dokter.

4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola
dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit.

5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi
dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah
sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula
suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil
yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi
kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang
permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.

Untuk mencukupi kebutuhan gizi yang baik pada anak memang dibutuhkan usaha keras
dari orang tua dengan memberikan makanan yang terbaik kepada mereka. Tentu saja hal ini
membutuhkan kesabaran, ketawakkalan dan keuletan dalam mencari rezeki dari Alloh untuk
memenuhi kebutuhan gizi anak. Jika semua ini tercapai, insya-Alloh akan tercetak generasi yang
sehat, sholih dan sholihah, dan cerdas dalam mempelajari dan memahami ayat-ayat Alloh.