Anda di halaman 1dari 15

APLIKASI PERPINDAHAN PANAS PADA INDUSTRI SEMEN

Semen terdiri atas bahan baku utama dan bahan baku tambahan jika
ditinjau dari segi fungsinya. Material yang termasuk bahan baku utama adalah
batu kapur (CaCO3), clay (tanah liat), pasir silika (SiO2), iron sand (Fe2O3). Serta
bahan baku tambahan dari semen adalah trass, gypsum dan dolomit. Proses
produksi semen yang pertama yaitu penambangan bahan baku untuk pembuatan
semen terutama batu kapur (CaCO3) dan clay (tanah liat) menggunakan alat-alat
berat kemudian dikirim ke pabrik, yang kedua, bahan-bahan yang telah ditambang
kemudian diteliti di laboratorium dan kemudian dicampur dengan proporsi yang
tepat dan kemudian dilanjutkan ke proses penggilingan awal (raw mill) untuk
memperkecil dimensi dari material tersebut. (Mohamad dkk, 2017)
Proses selanjutnya adalah bahan kemudian dipanaskan di preheater,
dilanjutkan di dalam kiln sehingga bereaksi membentuk kristal klinker. Kiln ini
menggunakan bahan dasar pembakaran batu bara yang sebelumnya diproses di
coal mill yang berjenis vertical roller mill, agar ukuran batu bara ini dapat
digunakan pada kiln. Kristal klinker ini kemudian didinginkan di cooler dengan
bantuan angin. Panas dari proses pendinginan ini di alirkan lagi ke preheater
untuk menghemat energi. Klinker ini kemudian dihaluskan lagi dalam tabung
yang berputar yang bersisi bola-bola baja yaitu pada ball mill sehingga menjadi
serbuk semen yang halus. Klinker yang telah halus ini disimpan dalam silo. Dari
silo ini semen di packing dan dijual ke konsumen.
Semen pada awalnya berasal dari kata cementum yang memiliki arti
bahan perekat yang mampu mempersatukan atau mengikat bahan-bahan padat
menjadi satu kesatuan yang kokoh atau suatu produk yang mempunyai fungsi
sebagai bahan perekat antara dua atau lebih bahan sehingga menjadi suatu bagian
yang kompak atau dalam pengertian yang luas adalah material plastis yang
memberikan sifat rekat antara batuan-batuan konstruksi bangunan.
Proses pendinginan klinker di dalam grate cooler merupakan salah satu
proses yang cukup penting dalam pengolahan semen dan hal ini perlu mendapat
perhatian penting dalam produksi semen. Hal ini disebabkan karena proses
pendinginan klinker setelah melewati pemanasan di dalam rotary kiln, merupakan
salah satu faktor dalam upaya menghasilkan klinker dengan kualitas yang
diharapkan (Silika ratio:2,44, Alumina ratio:1,54,Lime saturation: 96.2). Untuk itu
suplai udara pendingin ini harus disesuaikan dengan jumlah klinker yang
dimasukkan ke dalam Grate cooler. Tekanan udara pendingin yang tinggi
mengakibatkan diperlukannya mempertahankan material flow feed dan apabila hal
ini tidak diperhatikan maka perpindahan panas rata-rata dapat lebih tinggi dari
keluaran yang sebenarnya dan juga dapat relatif lebih rendah. Hal ini disebabkan
karena kondisi perubahan panjang pendingin yang dilalui oleh klinker.
Grate cooler merupakan salah satu jenis clinker cooler yang dipakai pada
pabrik semen, untuk mendinginkan terak yang keluar dari proses pembakaran di
kiln. Cooler diharapkan dapat mendinginkan terak dari temperatur ±1400°C
hingga ±100°C, sehingga diperlukan sistem pendinginan yang efektif agar
harapan tersebut dapat direalisasikan. Pada industri semen, klinker yang sudah
diproses dari awal sampai dipanaskan pada rotary kiln dengan temperatur
±1800°C selanjutnya akan diturunkan dari suhu ±1450°C sampai klinker bersuhu
±90÷100°C untuk selanjutnya akan dipecahkan oleh grinder. Untuk keperluan
pendinginan pada industri semen tersebut digunakan grate cooler (Khairil, 2011).
Kebutuhan udara yang diperlukan untuk pendinginan pada setiap
kompartemen grate cooler akan berbeda sehingga jumlah fan serta besar daya fan
yang dibutuhkan juga berbeda. Untuk kompartemen pertama di mana klinker baru
keluar dari rotary kiln akan membutuhkan pendinginan yang lebih besar
dibandingkan dengan kompartemen lain sesudahnya, oleh karena itu dibutuhkan
suplai udara yang lebih besar sehingga jumlah fan yang digunakan lebih banyak.
Klinker yang didinginkan harus mendapatkan pendinginan secara merata pada
setiap section agar temperature akhir yang diinginkan untuk setiap bongkahan
klinker dapat tercapai sehingga tidak merusak alat pada hammer crusher.
Untuk mengoperasikan grate cooler secara optimal maka seluruh variabel
yang mempengaruhi proses pendinginan pada klinker harus dapat diukur dan
diatur setiap saat agar tetap terkendali. Sistem pengendalian dari grate cooler
dilakukan pada stasiun pengendali yang bergerak secara otomatis dapat mengukur
atau mengetahui kondisi yang terjadipada grate cooler tersebut. Pada stasiun
pengendali ini kebutuhaan udara serta jumlah klinker yang dimasukkan diatur
agar pendinginan yang dilakukan dapat berlangsung secara efektif.
Clinker Cooler sebagai salah satu bagian dari alat produksi semen
mempunyai peranan yang cukup penting. Peralatan ini berfungsi untuk
mendinginkan clinker, dan proses pendinginan di sini sangat menentukan kualitas
semen yang akan diproduksi. Perhitungan efisiensi panas pada clinker cooler
dapat dilakukan dalam dua tahap yaitu, yaitu perhitungan dengan neraca massa
dan perhitungan dengan neraca panas. Perhitungan neraca massa diperlukan untuk
perhitungan neraca panas. Dari perhitungan neraca panas maka dapat diketahui
efisiensi panas dari clinker cooler baik efisiensi panas sistem dan efisiensi panas
reaksi. Nilai unjuk kerja clinker cooler dapat dicari dengan menghitung efisiensi
panas reaksi dari clinker cooler, yaitu perbandingan antara jumlah panas untuk
reaksi dengan jumlah panas yang disediakan. Efisiensi panas reaksi merupakan
indikator baik atau tidaknya unjuk kerja dan pengoperasian clinker cooler.
Dalam proses pembuatan semen, setelah terjadi proses pembakaran,
maka untuk tahap selanjutnya adalah dilakukan proses pendinginan material yang
dilakukan oleh clinker cooler. Pada proses pendinginan, pertama kali clinker
didinginkan didalam kiln (cooling zone) sampai temperatur sekitar 1350 oC.
Kemudian pendinginan berikutnya dilakukan didalam cooler. Pendinginan klinker
mempengaruhi struktur, komposisi mineral grindability, dan kualitas semen yang
dihasilkan. Kecepatan pendinginan clinker mempengaruhi perbandingan antara
kandungan kristal dan fase cair yang ada di dalam klinker. Selama pendinginan
lambat, seperti yang pada jenis rotary cooler, kristal dari komponen klinker akan
terbentuk sekaligus menyebabkan sebagian fase cair mamadat. Ada beberapa hal
yang terkait dengan kecepatan pendinginan clinker jenis ini (Setiyana, 2007).
a. Kekuatan Semen
Kekuatan semen portland salah satunya tergantung pada ukuran
kristalnya. Hidrasi dari kristal dengan ukuran lebih besar, akan lebih lambat
sehingga mempengaruhi kekuatan semen. Pendinginan clinker secara lambat
menghasilkan kristal dengan ukuran 60µ. Sementara batasan yang ditolerir adalah
5-8µ.
b. Kekuatan Terhadap Sulfat
Pendinginan clinker secara cepat juga akan meningkatkan ketahanan
semen terhadap sulfat (sodium dan magnesium sulfat). Hal ini dikarenakan
kandungan C3A, yang berhubungan dengan ketahanan semen Portland terhadap
serangan sulfat, cenderung ada pada keadaan glassy state
c. Grindability Clinker
Clinker yang didinginkan dengan lambat akan membutuhkan tenaga
untuk menggiling yang lebih besar daripada clinker yang didinginkan cepat.
Jumlah fase cair dan ukuran kristal yang lebih kecil pada pendinginan secara
cepat memungkinkan hal tersebut terjadi.

1. Grate Cooler
Pada grate cooler proses pendinginan klinker dilakukan dengan
mengalirkan udara dari sejumlah fan, yang selanjutnya dihembuskan melalui
celah landasan yang bergerak mengantarkan klinker menuju ke grinder untuk
proses selanjutnya. Setelah melewati landasan material, udara panas yang timbul
dari hasil pendinginan klinker akan masuk kembali ke kiln sebagai udara kedua
(sekunder) , kemudian ke ILC dan SLC (calciner) melalui saluran tersier (tertiery
duct) sebagai udara tersier. Aliran udara panas tersebut terjadi karena adanya 2
fan pengisap, yang selanjutnya akan dimanfaatkan pada proses yang lainnya.
Udara panas pada bagian ujung grate cooler tersebut akan dikeluarkan oleh
cooler vent fan melewati cyclone dengan efisiensi tinggi yang memungkinkan
debu – debu pada udara tersebut dapat dipisahkan. Sehingga aman untuk
dilepaskan ke udara bebas dan tidak menimbulkan polusi.
Mesin pendingin terak berfungsi sebagai pendingin terak (clinker) yang
keluar dari mesin pemanas (kiln). Clinker yang keluar dari kiln akan dihantarkan
menuju mesin penggiling (hammer crusher) melalui papan silang (crossbar) yang
pada prosesnya di gerakan oleh batang berjalan (Driver Plate) yang berjajar diatas
bagian cooler. Maka dari itu, dibutuhkan sifat kekerasan dan ketangguhan yang
tinggi untuk komponen Driver Plate mengingat kondisi terak (Clinker) yang
memiliki temperature tinggi akibat proses pemanasan di kiln (Mohamad, 2017).
Proses pendinginan klinker di dalam grate cooler merupakan salah satu
proses yang cukup penting mendapat perhatian dalam produksi semen. Hal ini
disebabkan karena proses pendinginan klinker setelah melewati pemanasan di
dalam rotary kiln merupakan faktor dalam upaya menghasilkan klinker dengan
kualitas yang diharapkan. Untuk itu suplai udara pendingin ini harus disesuaikan
dengan jumlah klinker yang ada di Grate cooler.
Tekanan udara pendingin yang tinggi mengakibatkan diperlukannya
mempertahankan material flow feed dan apabila hal ini tidak diperhatikan
perpindahan panas rata-rata dapat lebih tinggi dari keluaran yang sebenarnya dan
juga dapat relatif lebih rendah. Hal ini disebabkan karena kondisi perubahan
panjang pendingin yang dilalui oleh klinker. Grate cooler dengan kemampuan
pendinginan terhadap klinker yang lebih baik secara kualitas dan kuantitas tidak
lepas dengan sejumlah masalah terutama yang berhubungan dengan perpindahan
panas dalam pemakaiannya. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis seberapa
besar perpindahan panas yang terjadi di dalam grate cooler, sebagai upaya untuk
meningkatkan efektifitas dan efisiensi pemakaiannya.

Gambar 1. Skema umum grate cooler


(sumber: Khairil, 2011)
Kebutuhan udara yang diperlukan untuk pendinginan pada setiap
kompartemen grate cooler akan berbeda sehingga jumlah fan serta besar daya fan
yang dibutuhkan juga berbeda.Untuk kompartemen pertama di mana klinker baru
keluar dari rotary kiln akan membutuhkan pendinginan yang lebih besar
dibandingkan dengan kompartemen lain sesudahnya, oleh karena itu dibutuhkan
suplai udara yang lebih besar sehingga jumlah fan yang digunakan lebih banyak.
Klinker yang didinginkan harus mendapatkan pendinginan. secara merata pada
setiap section agar temperatur akhir yang diinginkan untuk setiap bongkahan
klinker dapat tercapai sehingga tidak merusak alat pada hammer crusher.
Untuk mengoperasikan grate cooler secara optimal maka seluruh variabel
yang mempengaruhi proses pendinginan klinker harus dapat diukur dan diatur
setiap saat agar terkendali. Sistem pengendalian dari grate cooler dilakukan pada
stasiun pengendali yang secara otomatis dapat mengukur atau mengetahui kondisi
yang terjadi pada grate cooler. Pada stasiun pengendali ini kebutuhaan udara dan
jumpelah klinker yang dimasukkan diatur agar pendinginan yang dilakukan dapat
lebih efektif sehingga proses pendinginan di klinker dapat diukur dan diatur setiap
saat agar terkendalai dan tidak merusak alat pada hummer crusher.
Terak yang keluar dari cooler dimasukkan ke dalam silo, sebelum
akhirnya digiling di dalam cement mill. Pada cement mill, temperatur terak pada
saat masuk tidak boleh terlalu tinggi karena dapat mengakibatkan penurunan
kualitas semen akibat terdehidrasinya gipsum pada temperatur yang cukup tinggi
sehingga fungsi gipsum sebagai retarder dapat hilang (false set). Sehubungan
dengan permintaan semen di pasaran semakin lama semakin tinggi akan
berimplikasi pada waktu tinggal terak di dalam silo yang semakin cepat. Apabila
pendinginan di dalam cooler tidak baik akan mengakibatkan terjadinya false set
ini dan dapat mengganggu kinerja cement mill. Oleh karena itu, cooler harus dapat
menurunkan temperatur terak dengan baik agar kualitas semen yang dihasilkan
tetap baik dan kinerja cement mill tidak terganggu (Khairil, 2011).
Proses pendinginan pada grate cooler dilakukan dengan menyemprotkan
udara dari fan ke setiap grate pada cooler, yang berarti bahwa temperatur terak
hasil pendinginan di cooler sangat dipengaruhi oleh besarnya laju aliran (debit)
udara yang disuplai oleh fan. Permasalahan yang terjadi adalah seberapa besar
nilai rasio antara udara terhadap produksi terak yang harus didinginkan (kg
udara/kg terak) agar target temperatur terak keluar dari cooler dapat dicapai.
Konsumsi spesifik udara dalam suatu grate cooler ditetapkan dan dijaga oleh
sistem kontrol operasinya dengan mengandalkan tekanan udara di bawah grate
sebagai parameter kontrol untuk menjaga tekanan suatu grate cooler.
Untuk menetapkan nilai konstanta dalam sistem kontrol tersebut
biasanya dilakukan dengan coba -coba saat commissioning peralatan. Namun
demikian sepanjang operasi peralatan dengan berjalannya waktu parameter
operasi sebaiknya harus selalu diset ulang ( retuning) akibat selalu terjadi
perubahan parameter operasi. Selain itu dengan adanya variasi kualitas umpan kiln
(kiln feed) akan berakibat bervariasinya pula temperatur terak saat keluar dari kiln.
Operator perlu mengantisipasi variasi perubahan sifat fisik terak saat keluar dari
kiln. Dengan menyesuaikan rasio udara pendingin terhadap produksi terak akan
diperoleh pendinginan yang efektif dan penurunan temperatur terak sesuai dengan
target temperatur terak keluar cooler yang diinginkan.
Aliran terak dan udara pendingin di dalam grate cooler saling
bersilangan (cross flow), sehingga diharapkan perpindahan panas yang terjadi
antara terak dengan udara pendingin berlangsung dengan baik. Udara yang
mengalir melalui grate dan tumpukan terak seperti diperlihatkan pada Gambar (4)
menerima energi (kalor) dari terak yang bertemperatur lebih tinggi. Dengan
berpindahnya energi dari terak ke udara tersebut mengakibatkan temperatur terak
turun, sedangkan temperatur udara pendingin naik.
Aliran udara

Udara

Faktor kekosongan

Gambar 4. Skema aliran udara pendingin melalui tumpukan terak.

(sumber: Darmanto, 2017)


Gambar (4) menunjukkan tumpukan terak di atas grate plate. Terak yang
berjalan di atas grate plate akibat gerakan moving grate didinginkan oleh udara
pendingin yang disuplai oleh fan dari bawah. Dari gambar tersebut nampak bahwa
udara mengalir melalui celah antar butiran terak, sehingga mekanisme
perpindahan panas terjadi secara konveksi dan atau radiasi dari permukaan butiran
yang bersentuhan dengan udara yang melewatinya menuju ke udara. Mekanisme
ini dapat dipandang sebagai perpindahan panas pada fluidized bed, sehingga
formulasi yang akan digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada kaidah-
kaidah dan hasil penelitian terdahulu dalam fluidized bed.

2. Proses Perpindahan Panas Grate Cooler


Perpindahan panas adalah perpindahan energi yang terjadi karena
adanya perbedaan suhu di antara benda atau material. Ilmu perpindahan panas
tidak hanya mencoba menjelaskan bagaimana energi kalor itu berpindah dari satu
benda ke benda lain, tetapi juga dapat meramalkan laju perpindahan yang terjadi
pada kondisi – kondisi tertentu. Kenyataan bahwa disini yang menjadi sasaran
analisis ialah masalah laju perpindahan, inilah yang membedakan ilmu
perpindahan panas dari ilmu termodinamika. Dengan melihat keadaan yang terjadi
pada proses pendinginan klinker, dimana udara dilewatkan melewati media yang
berbentuk butiran-butiran, maka keadaan ini sama halnya dengan perpindahan
panas secara konveksi yang melalui porous medium (Khairil, 2011).
Cara yang paling mudah untuk memperoleh komponen utama dari
persamaan energi untuk porous medium adalah dengan memperhitungkan model
aliran fluida dan panas satu dimensi. Ruang kosong yang berbeda dalam elemen
volume. elemen volume didefinisikan sedemikian rupa sehingga rasio sesuai
dengan rasio porousitas porous medium. Masalah pokok dalam konveksi panas
melalui porous medium terdiri dari prediksi kecepatan perpindahan panas antara
permukaan padat yang di panaskan diferensial dan porous medium dengan fluida
jenuh. Oleh karena itu, awal dari studi konveksi melalui porous medium adalah
dengan berfokus pada permasalahan perpindahan panas yang paling sederhana,
yaitu interaksi antara dinding yang padat dan aliran paralel yang meresap melalui
material porous yang dibatasi oleh dinding yang ada di porous medium.
Pada Grate cooler udara pendingin yang dihembuskan oleh fan masuk
melalui lubang-lubang plat dan melewati celah-celah bongkahan klinker dan
mendinginkannya. Sehingga perpindahan panas yang terjadi antara udara
pendingin dengan klinker tidak bisa diasumsi sebagai benda padat secara
keseluruhan tetapi merupakan porous medium.
Untuk menghitung besarnya perpindahan panas maka perhitungan dibagi
menjadi 3 bagian yaitu section 1, section 2, dan section 3. Perhitungan jumlah
klinker total tiap section berdasarkan diameter klinker dan dimensi dari grate
cooler, untuk kemudian digunakan mencari rasio porousitas atau perbandingan
antara volume ruang kosong di dalam tumpukan klinker (celah – celah yang
dilewati udara) dengan volume jika klinker itu padat. Sehingga dapat diperoleh
konduktivitas termal dan koefisien perpindahan porous medium. Besar kecilnya
hasil perhitungan dari perhitungannya disebabkan karena pengaruh ukuran
diameter klinker membesar dan temperatur udara yang semakin kecil (pada
section 3) sehingga menyebabkan konduktivitas dan daya difusi termal porous
medium akan semakin kecil.

3. Clinkler
Clinker Cooler sebagai salah satu bagian dari alat produksi semen
mempunyai peranan yang cukup penting. Peralatan ini berfungsi untuk
mendinginkan clinker, dan proses pendinginan di sini sangat menentukan kualitas
semen yang akan diproduksi. Perhitungan efisiensi panas pada clinker cooler
dapat dilakukan dalam dua tahap yaitu, yaitu perhitungan dengan neraca massa
dan perhitungan dengan neraca panas. Clinker harus didinginkan secepatnya
(quenching) dengan pertimbangan :
1. Agar diperoleh klinker yang bersifat amorf sehingga mudah digiling.
2. Mencegah kerusakan alat-alat transportasi dan storage clinker, karena
material dengan suhu tinggi dapat merusak peralatan dan sulit penangannya.
3. Clinker yang panas berpengaruh buruk dalam proses grinding nantinya.
4. Pendinginan yang baik akan meningkatkan kualitas semen.
5. Panas yang terkandung pada klinker dimanfaatkan kembali sebagai
recovered heat.
Gambar 1. Sketsa Clinker Cooler
(Sumber: setiyana, 2007)
4. Deskripsi Alat
Suatu proses pendinginan dapat dilakukan dengan beberapa jenis Cooler
dengan prinsip operasi hampir sama. Jenis-jenis Cooler tersebut antara lain:
1. Rotary Cooler
Rotary Cooler merupakan drum sederhana yang berputar, mengangkat clinker
kemudian menjatuhkannya pada arus udara yang masuk sehingga mengakibatkan
perpindahan panas antara klinker dengan udara tersebut. Jenis Cooler ini terbatas
untuk kiln dalam kapasitas kecil.
2. Planetary Cooler
Planetary Cooler terdiri dari pipa-pipa yang berbentuk cincin
dihubungkan dengan shell kiln dan berputar bersama kiln. Jenis cooler ini dapat
menye babkan masalah mekanik pada kiln. Cooler ini cenderung menyulitkan
aerodinamika nyala api dan pada cooler jenis ini sulit dalam menyeimbangkan
aliran klinker yang masuk ke Cooler.
3. Grate Cooler
Macam-macam Grate Cooler :
a. Reciprocating Grate Cooler
Jenis ini pertama kali diperkenalkan oleh Fuller Company. Jenis ini terdiri
dari sebuah rangkaian under-grate kompartemen dengan cooling fan terpisah
yang memungkinkan kontrol tekanan dan volume tersendiri pada saat
memasukkan udara pendingin. Di Cooler ini terdapat lebih dari under-grate
compartement dan 2 atau 3 seksi grate yang digerakkan yang terpisah. Ukuran
grate pertama 10ft wide x 35ft long dan grate kedua 12ft x 42ft. Tekanan under-
grate kurang lebih 600mm pada kompartemen pertama makin lama makin
berkurang hingga mencapai 200mm pada kompartemen terakhir.
b. Air Beam Cooler
Penggunaan air beam, “Controller Flow Grates” adalah design dengan
daya tahan tinggi dimana udara lewat secara horisontal melewati lubang-lubang
ke permukaan grate, hal ini mengurangi penurunan kehalusan semen dan
membuat aliran udara berkurang tergantung pada daya tahan bed.
c. Cross Bar Cooler
Tipe yang baru-baru ini (tahun 1999) dikembangkan yaitu Cross Bar
Cooler. Jenis ini seluruhnya terdiri dari Static Grate dengan transportasi clinker
dipengaruhi oleh reciprocating pusher bar diatas permukaan grate. Cooler ini
juga menggunakan pengatur aliran yang sangat bagus pada masing-masing grate
untuk mempertahankan aliran udara konstan melalui clinker bed tanpa
memperhatikan porositas bed. Efisiensi jenis Cooler ini yaitu 75-78%.
Sebagai sumber udara bertekanan, digunakan fan-fan yang terletak di luar
konstruksi cooler. Penyuplaian udara ini dialirkan melalui pipa yang
dihubungkan ke undergrate. Disisi samping disediakan pintu-pintu untuk dapat
mengakses ke dalam cooler, baik untuk daerah overgrate maupun undergrate.
Pada Fuller Reciprocating Grate Cooler, udara bertekanan ditiupkan ke ruangan
kosong dibawah grate cooler dan udara itu naik ke atas untuk mendingikan
material, udara bertekanan itu disalurkan ke sebuah “pipa” di sepanjang
undergrate dan akan meniupkan udara bertekanan tadi secara langsung.
Sistem ini lebih efektif karena udara yang ditiupkan dapat mendinginkan
material secara lebih merata. Disepanjang undergrate dipasang sensor-sensor
tekanan untuk memonitoring tekanan di undergrate tersebut yang diakibatkan
oleh udara yang ditiupkan oleh fan, dimana hasil dari sensor ini dikirimkan ke
peralatan yang selalu memantau keadaan dan akan membandingkan dengan set
point yang telah ditentukan. Apabila tekanan di undergrate melebihi set point
maka hal ini berarti terjadi penumpukan material di grate sehingga kecepatan
grate harus ditambahkan. Di akhir grate dipasang clinker breaker yang berguna
untuk memperkecil ukuran klinker sebelum masuk ke finish mill ataupun klinker
silo. Udara panas yang dihasilkan oleh peniupan material oleh udara bertekanan
ini selanjutnya akan disalurkan ke Reinforced Suspension Preheater dan kiln
sehingga akan menghemat energi. Udara yang keluar dari Cooler dilewatkan ke
Electrostatic Precipitator (EP) untuk mengurangi pencemaran lingkungan.

5. Bagian Utama Cooler


1. Casing
Lining casing luar cooler terbuat dari konstruksi baja/plate dan rip langit-
langit diperkuat dengan beam. Plate untuk dinding dilapisi dengan isolasi dan
batu tahan api castable, untuk mengurangi kehilangan radiasi panas. Keadaan
bagian dalam cooler dapat dilihat melalaui inspection hole yang tersedia pada
bagian atas dan samping cooler.
2. Cooling Grate
Cooling Grate terdiri dari beberapa baris grate plate yang disusun sejajar
dengan kemiringan 100. Grate plate terdiri dari dari movable grate dan stationary
grate yang disusun secara longitudinal terhadap arah cooler. Stationary grate
dipasang pada support bracket plate dan center support dihubungkan ke center
beam. Movable grate dipasang pada support frame dan dihubungkan ke moving
frame. Grate plate memiliki lubang pendingin. Stationary grate plate tidak sama
bentuknya dengan movable grate plate, sehingga tidak dapat ditukar
pemasangannya.
3. Hydraulic Drive
Movable frame digerakkan oleh Cylinder Hydraulic Pump yang
dihubungkan ke movable grate. Bukaan pada dinding Cooler bagian bawah
untuk pergerakan. Hydraulic Drive dilengkapi dengan partition plate sebagai
sealing.
4. Carrying Axle
Carrying axle/running axle disupport oleh 2 buah internal roller dan satu
buahguide roller yang mempunyai flange/guide untuk mengarahkan gerakan
movable frame.
5. Hammer Breaker
Cooler dilengkapi dengan 2 unit hammer breaker yang terdiri dari breaker
rotor dan casing spesial wear lubricantion lube dengan grease pump. Breaker
rotor, digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan V-belt. Hammer
dipasang pada rotor disc, sedangkan casing rotor dapat diangkat dengan hoist
untuk mempermudah perbaikan.
6. Hopper
Untuk menampung debu yang lolos dari lubang grate plate, sedangkan
pengeluaran dari hopper diatur oleh double tiping valve.
7. Drag Chain Conveyor
Drag chain biasanya untuk membawa butir debu material yang lolos
melewati lubang-lubang grate cooler.

6. Cara Kerja Clinker Cooler

Bahan mentah yang digunakan telah digiring di raw mill selanjutnya


masuk ke homogenizing silo dan selanjutnya diberikan proses pemanasan awal
sehingga suhunya mencapai 800 derajat celcius sebelum masuk ke rotary kiln
yang bersuhu sekitar 1400 derajat celcius ini kemudian masuk ke unit cooler
untuk pendinginan hingga suhu klinker sekitar 100 derajat celcius.
Clinker dengan suhu tinggi akan jatuh pada cooler dan didistribusikan
secara seragam ke area kompartemen sesuai dengan lebar gratenya. Dikarenakan
suhu material akan berubah menurut jarak, maka pendingin klinker dibagi menjadi
beberapa kompartemen dimana semakin dekat dengan klin maka panjang
kompartemen semakin panjang. Udara yang telah melewati material bersuhu
sekitar 200 derajat celcius akan dihisap untuk kemudian digunakan sebagai
sumber panas di preheater dan klin yang bertujuan untuk meminimalkan energi
yang hilang kelingkungan sekitar serta yang berarti pula menghemat biaya.
Volume jatuhan klinker ini akan selalu dimonitor oleh sebuah transmitter tekanan
yang dipasang di undergrate. Jika volume jatuhan klinker lebih besar dari yang
diset kan maka motor akan bergerak lebih cepat untuk mengecilkan bed depth.
Nilai bed depth yang besar akan menyebabkan laju kecepatan aliran udara
yang kecil tidak cukup kuat untuk menembus klinker yang akan diinginkan.
Hubungan antara beda tekanan, laju aliran, dan percepatan gravitasi ditentukan
oleh hubungan:
P = v2. ξ /2g
Keterangan :
P = beda tekanan
v = laju aliran fluida
g = percepatan gravitasi
ξ = densitas udara
Pertambahan nilai P akan berusaha disetkan kembali dengan menambah
laju aliran udara. Suatu nilai laju kecepatan udara normal dengan open area 100%
adalah sekitar 2 meter/detik. Clinker dari kompartemen pertama dengan
memanfaatkan gaya gravitasi dengan memanfaatkan Hukum Newton I bahwa
suatu benda akan selalu mempertahankan gerak asalnya. Dengan didinginkan oleh
udara yang bersumber dari fan di undergrate tiap kompartemennya clinker
bergerak ke ujung cooler dengan suhu turun menjadi sekitar 1000 derajat celcius .
clinker yang telah didinginkan selanjutnya dapat diperkecil ukurannya dengan
clinker breaker dengan maksud untuk memperluas area clinker yang terkena
udara, sehingga mempercepat pendinginan secara alami (setiyana, 2007).

Gambar 2. Cara kerja clinker cooler


(sumber: setiyana,2007)
https://lachigau.wordpress.com/2009/02/24/grate-cooler-pabrik-semen/

https://www.slideshare.net/anggisp3/grate-cooler-in-cement-production

http://www.cementequipment.org/roots-blower/grate-cooler/

http://ardykristianto.blogspot.com/2012/06/optimasi-grate-cooler-di-
ptsemen.html
Anwar, K. 2011. ANALISIS PERPINDAHAN PANAS PADA GRATECOOLER
INDUSTRI SEMEN. Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas
Tadulako, Palu
Mohamad, M. F. M, dkk. 2017. Analisis Kegagalan Komponen Driver Plate
dalam Cooler Clinker Pada Unit Tuban I PT. Semen Indonesia Tbk.
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 2 (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-
9271 Print)