Anda di halaman 1dari 21

TUGAS KELOMPOK FISIOLOGI TUMBUHAN

ENZIM

Diajukan sebagai salah satu syarat memenuhi tugas mata kuliah Fisiologi
Tumbuhan

Disusun oleh:
1. Xxxx
2. Laelatul Khoeriyyah (1401070032)
3. Xxxx
4. Xxxx

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018

1
BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Setiap makhluk hidup di bumi pasti tersusun atas sel-sel yang berperan
aktif dalam proses metabolisme. Dalam proses metabolisme ini tentunya
membutuhkan zat-zat seperti protein, karbohidrat, vitamin, dan bahan lainnya
untuk membantu proses metabolisme itu sendiri.
Suatu organisme hidup adalah rakitan menakjubkan dari reaksi kimia.
Masing-masing reaksi seolah berjalan sendiri tapi memberi sumbangan untuk
kehidupann organisme sebagai suatu kesatuan. Sel dalam tubuh tumbuhan mampu
mengatur lintasan – lintasan metabolik yang dikendalikannnya agar terjadi dan
dapat mengatur kecepatan reaksi tersebut dengan cara memproduksi suatu
katalisator dalam jumlah yang sesuai dan tepat pada saat dibutuhkan. Katalisator
inilah yang disebut dengan enzim.
Sebagai contoh proses metabolisme saat pembentukan urea yang nyatanya
membutuhkan suhu tinggi yang tidak mungkin manusia miliki.
Namun, karena adanya enzim yang merupakan katalisator biologis menyebabkan
reaksi-reaksi tersebut berjalan dalam suhu fisiologis tubuh manusia, sebab enzim
berperan dalam menurunkan energi aktivasi menjadi lebih rendah dari yang
semestinya dicapai dengan pemberian panas dari luar. Kerja enzim dengan cara
menurunkan energi aktivasi sama sekali tidak mengubah ΔG reaksi (selisih antara
energi bebas produk dan reaktan), sehingga dengan demikian kerja enzim tidak
berlawanan dengan Hukum Hess 1 mengenai kekekalan energi. Selain itu, enzim
menimbulkan pengaruh yang besar pada kecepatan reaksi kimia yang berlangsung
dalam organisme. Reaksi-reaksi yang berlangsung selama beberapa minggu atau
bulan di bawah kondisi laboratorium normal dapat terjadi hanya dalam beberapa
detik di bawah pengaruh enzim di dalam tubuh.
Peran enzim sebagai biokatalisator sangat berpengaruh terhadap peristiwa-
peristiwa dalam tubuh. Hal ini karena enzim sebagai determinan yang
menentukan kecepatan berlangsungnya suatu peristiwa fisiologik, yang

2
memainkan peranan sentral dalam masalah kesehatan dan penyakit. Sehingga,
dalam keadaan-keadaan tertentu kerja enzim akan mengalami perubahan. Dalam
keadaan tubuh yang kurang seimbang, atau tubuh yang kurang sehat, reaksi-reaksi
yang terjadi di dalam tubuh menjadi tidak seimbang. Hal ini disebabkan kerja
enzim tidak terkoordinasi dengan cermat. Sementara dalam keadaan sehat , semua
proses fisiologis akan berlangsung dengan baik serta teratur.
Enzim sendiri merupakan polimer biologik yang mengatalisis lebih dari
satu proses dinamik yang memungkinkan kehidupan seperti yang kita kenal
sekarang. sifat-sifat enzim pun sangat khas, salah satunya yaitu satu enzim hanya
memiliki satu substrat. Selain sifat, enzim juga memiliki klasifikasi, tata nama
serta spesifikasi tersendiri. Perananan enzim dalam tubuh manusia sangatlah
besar. Untuk itu, pemahaman selengkapnya tentang enzim akan dibahas dalam
makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana peranan enzim pada tumbuhan?
2. Apa ciri-ciri dan sifat-sifat enzim?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim dan yang
menghambat kerja enzim?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana peranan enzim pada tumbuhan.
2. Untuk mengetahui ciri-ciri dan sifat-sifat enzim.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim dan faktor-
faktor yang menghambat kerja enzim.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. SEJARAH ENZIM

Sesuatu yang berkaitan dengan enzim dipelajari dalam enzimologi. Dalam


dunia pendidikan tinggi, enzimologi tidak dipelajari sebagai satu jurusan
tersendiri, tetapi sejumlah program studi memberikan mata kuliah ini. Enzimologi
terutama dipelajari dalam kedokteran, ilmu pangan, teknologi pengolahan pangan,
dan cabang-cabang ilmu pertanian.
Pada akhir tahun 1700-an dan awal tahun 1800-an, pencernaan daging
oleh sekresi perut dan konversipati menjadi gula oleh ekstrak tumbuhan dan ludah
telah diketahui. Namun, mekanisme bagaimana hal ini terjadi belum
diidentifikasi. Pada abad ke-19, ketika mengkaji fermentasi gula menjadi alkohol
oleh ragi, Louis Pasteur menyimpulkan bahwa fermentasi ini dikatalisasi oleh
gaya dorong vital yang terdapat dalam sel ragi, disebut sebagai "ferment", dan
diperkirakan hanya berfungsi dalam tubuh organisme hidup. Ia menulis bahwa
"fermentasi alkoholik adalah peristiwa yang berhubungan dengan kehidupan dan
organisasi sel ragi, dan bukannya kematian ataupun putrefaksi sel tersebut."
Pada tahun 1878, ahli fisiologi Jerman Wilhelm Kühne (1837–1900)
pertama kali menggunakan istilah "enzyme", yang berasal dari bahasa Yunani
yang berarti "dalam bahan pengembang" (ragi), untuk menjelaskan proses ini.
Kata "enzyme" kemudian digunakan untuk merujuk pada zat mati seperti pepsin,
dan kata ferment digunakan untuk merujuk pada aktivitas kimiawi yang
dihasilkan oleh organisme hidup.
Pada tahun 1897, Eduard Buchner memulai kajiannya mengenai
kemampuan ekstrak ragi untuk memfermentasi gula walaupun ia tidak terdapat
pada sel ragi yang hidup. Pada sederet eksperimen di Universitas Berlin, ia
menemukan bahwa gula difermentasi bahkan apabila sel ragi tidak terdapat pada
campuran. Ia menamai enzim yang memfermentasi sukrosa sebagai "zymase"
(zimase). Pada tahun 1907, ia menerima penghargaan nobel dalam bidang kimia
atas riset biokimia dan penemuan fermentasi tanpa sel yang dilakukannya.

4
Mengikuti praktek Buchner, enzim biasanya dinamai sesuai dengan reaksi yang
dikatalisasi oleh enzim tersebut. Umumnya, untuk mendapatkan nama sebuah
enzim, akhiran -ase ditambahkan pada nama substrat enzim tersebut (contohnya:
laktase, merupakan enzim yang mengurai laktosa) ataupun pada jenis reaksi yang
dikatalisasi (contoh: DNA polimerase yang menghasilkan polimer DNA).
Penemuan bahwa enzim dapat bekerja diluar sel hidup mendorong
penelitian pada sifat-sifat biokimia enzim tersebut. Banyak peneliti awal
menemukan bahwa aktivitas enzim diasosiasikan dengan protein, namun beberapa
ilmuwan seperti Richard Willstätter berargumen bahwa proten hanyalah bertindak
sebagai pembawa enzim dan protein sendiri tidak dapat melakukan katalisis.
Namun, pada tahun 1926, James B. Sumner berhasil mengkristalisasienzim urease
dan menunjukkan bahwa ia merupakan protein murni. Kesimpulannya adalah
bahwa protein murni dapat berupa enzim dan hal ini secara tuntas dibuktikan oleh
Northrop dan Stanley yang meneliti enzim pencernaan pepsin (1930), tripsin, dan
kimotripsin. Ketiga ilmuwan ini meraih penghargaan Nobel tahun 1946 pada
bidang kimia.
Penemuan bahwa enzim dapat dikristalisasi pada akhirnya mengijinkan
struktur enzim ditentukan melalui kristalografi sinar-X. Metode ini pertama kali
diterapkan pada lisozim, enzim yang ditemukan pada air mata, air ludah, dan telur
putih, yang mencerna lapisan pelindung beberapa bakteri. Struktur enzim ini
dipecahkan oleh sekelompok ilmuwan yang diketuai oleh David Chilton Phillips
dan dipublikasikan pada tahun 1965. Struktur lisozim dalam resolusi tinggi ini
menandai dimulainya bidang biologi struktural dan usaha untuk memahami
bagaimana enzim bekerja pada tingkat atom.

B. PENGERTIAN ENZIM
Enzim adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju reaksi dan ikut
beraksi di dalamnya sedangkan pada saat akhir proses enzim akan melepaskan diri
seolah–olah tidak ikut bereaksi dalam proses tersebut serta strukturnya tidak
berubah baik sebelum dan sesudah reaksi. Enzim merupakan reaksi atau proses
kimia yang berlangsung dengan baik dalam tubuh makhluk hidup karena adanya

5
katalis yang mampu mempercepat reaksi. Enzim berperan secara lebih spesifik
dalam hal menentukan reaksi mana yang akan dipacu dibandingkan dengan
katalisator anorganik sehingga ribuan reaksi dapat berlangsung dengan tidak
menghasilkan produk sampingan yang beracun. Enzim berbeda dengan
katalisator, namun enzim berfungsi sebagai biokatalisator. Katalisator berfungsi
untuk mempercepat reaksi yang dapat digunakan berulang-ulang, sedangkan
enzim bersifat spesifik yaitu dalam satu reaksi saja. Pada awalnya, enzim dikenal
sebagai protein yang telah berhasil mengisolasi urease dari tumbuhan kara pedang
(Sumner: 1926). Urease adalah enzim yang dapat menguraikan urea menjadi CO2
dan NH3. Kemudian Northrop dan Kunits dapat mengisolasi pepsin, tripsin, dan
kinotripsin. Sehingga makin banyak enzim yang dapat diisolasi dan telah
dibuktikan bahwa enzim tersebut ialah protein.
Secara kimia, enzim yang lengkap (holoenzim) tersusun atas 2 bagian
yaitu terdiri dari apoenzim dan gugus prostetik. Apoenzim adalah bagian enzim
yang tersusun atas protein, bersifat labil ( mudah berubah) yang dipengaruhi oleh
suhu dan keasaman. Gugus prostetik (gugusan aktif) adalah bagian enzim yang
tersusun atas bahan non protein. Molekul gugus prostetik lebih kecil dan tahan
panas (termostabil). Gugus prostetik dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
koenzim (tersusun dari bahan organik) dan kofaktor (tersusun dari bahan
anorganik). Ion-ion logam merupakan kofaktor yang berperan sebagai stabilisator
agar enzim tetap aktif. Koenzim yang terkenal pada rantai pengangkutan elektron
(respirasi sel), yaitu NAD (Nikotinamid Adenin Dinukleotida), FAD (Flavin
Adenin Dinukleotida).

C. CIRI-CIRI ENZIM
Ciri – ciri dari enzim ialah sebagai berikut :
1. Merupakan sebuah protein,
Jadi sifatnya sama dengan protein yaitu dapat menggumpal dalam suhu tinggi
dan terpengaruh oleh temperatur.

6
2. Bekerja secara khusus
Artinya hanya untuk bekerja dalam satu reaksi saja tidak dapat digunakan
dalam beberapa reaksi.

3. Dapat digunakan berulang kali


Enzim dapat digunakan berulang kali karena enzim tidak berubah pada saat
terjadi reaksi.
4. Rusak oleh panas
Enzim tidak tahan pada suhu tinggi, kebanyakan enzim hanya bertahan pada
suhu 500C, rusaknya enzim oleh panas disebut dengan denaturasi,
5. Dapat bekerja bolak – balik
Artinya satu enzim dapat menguraikan satu senyawa menjadi senyawa yang
lain.
6. Enzim diperlukan dalam kuantitas kecil.

D. STRUKTUR ENZIM
Enzim pada umumnya ialah senyawa protein globular yang cukup besar.
Struktur enzim disebut sebagai holoenzim yang menggambarkan penyusun enzim
itu sendiri. Holoenzim tersusun atas apoenzim dan cofactor. Apoenzim ialah
senyawa protein globular yang menyusun sebagian besar enzim. Sementara
kofaktor merupakan senyawa nonprotein yang akan berikatan secara permanen
atau tidak dengan apoenzim dalam suatu enzim tertentu. Kofaktor dapat berupa
koenzim, gugus prostetik atau ion logam. Macam – macam kofaktor dibedakan
sebagai berikut:
1. Koenzim merupakan senyawa organik non protein yang tidak berikatan
secara permanen dengan protein penyusun enzim. Koenzim dapat berupa
vitamin, lemak, dan lainnya yang dapat diekstrak atau dipisahkan dengan
enzim pada suatu waktu tertentu dalam reaksi kimia.

7
2. Gugus prostetik merupakan senyawa organik non protein yang berikatan
permanen (kuat) dengan apoenzim (protein). Sehingga gugus prostetik sulit
dipisahkan dengan komponen apoenzim.
3. Ion logam adalah senyawa non organik berupa ion – ion logam yang
bermuatan seperti magnesium (Mg2+), besi (Fe2+), dan lainnya yang
berikatan pada sisi aktif enzim. ion logam bertindak sebagai aktivator enzim.
Enzim memiliki sisi aktif sebagai tempat untuk berikatan dengan
substratnya. Enzim dapat pula memimiliki sisi allosterik yaitu sisi di luar sisi aktif
yang memungkinkan terjadinya ikatan enzim dengan aktivator yang dapat
meningkatkan kerja enzim atau justru menghambat kerja enzim. Pada umumnya,
enzim berukuran lebih besar dibanding substrat. Baik apoenzi maupun kofaktor
tidak memiliki aktivitas katalitik, namun, ketika apoenzim dan kofaktor berikatan
menjadi holoenzim maka akan memiliki kemampuan untuk mengkatalisis
senyawa lainnya dalam suatu reaksi kimia.

E. SIFAT – SIFAT ENZIM


Sifat-sifat enzim adalah sebagai berikut:
1. Biokatalisator
Enzim mempercepat laju reaksi, tetapi tidak ikut bereaksi.
2. Termolabil
Enzim mudah rusak bila dipanaskan sampai dengan suhu tertentu.
3. Merupakan senyawa protein
4. Bekerja secara spesifik
Satu jenis enzim bekerja secara khusus hanya pada satu jenis substrat.
Misalnya enzim katalase menguraikan Hidrogen peroksida (H2O2) menjadi
air (H2O) dan oksigen (O2), sedangkan enzim lipase menguraikan lemak +
air menjadi gliserol + asam lemak.
Salah satu sifat penting enzim adalah kekhasannya. Maksudnya, setiap
enzim bertindak pada satu substrat tunggal atau suatu kelompok kecil
senyawa sejenis yang mempunyai gugus fungsi yang identik yang dapat

8
melakukan reaksi. Pada beberapa enzim, kekhasan ini bersifat mutlak, tetapi
pada enzim lainnya terdapat perbedaan dalam kemampuannya mengubah
senyawa sejenis menjadi produk.

F. MEKANISME KERJA ENZIM


Enzim berperan sebagai biokatalisator dalam suatu rekasi kimia. Dalam
rekasi tersebut, enzim akan membentuk kompleks enzim substrat dan kemudian
enzim akan mengubah substrat menjadi produk. Setelah mengubah substrat
menjadi produk, enzim akan kembali ke strukturnya dan mengubah subtrat yang
lain dalam reaksi yang sama. Aktivitas kerja enzim yang mampu mempercepat
suatu reaksi kimia tanpa ikut bereaksi bekerja dengan berikatan dengan substrat
terlebih dahulu. Enzim bersifat spesifik yang mampu mengenali jenis substrat
yang dapat berikatan dengan enzim. Enzim mampu menseleksi substatnya dengan
kecocokan titik ikatan yang dimiliki oleh substrat dengan sisi aktif yang dimiliki
oleh enzim. Terdapat dua teori yang menggambarkan mekanisme kerja enzim:
1. Teori Gembok – Kunci (Lock And Key Theory)
Teori gembok kunci dikemukakan oleh Emil Fischer pada tahun 1894.
Beliau menyatakan bahwa substrat yang mampu berikatan dengan enzim
ialah substart yang memiliki bentuk yang serupa dengan sisi aktif enzim (sisi
pengikatan enzim). Teori ini dapat digambarkan sebagai gembok dan kunci,
dimana hanya kunci yang sesuai dengan bentuk lubang gembok yang mampu
membuka gembok tersebut. Namun teori ini gagal untuk menjelaskan
kestabilan enzim saat peralihan titik reaksi enzim.
2. Teori Induksi (Induced Fit Theory)
Teori ini dikemukakan oleh Daniel Koshland pada tahun 1958. Ia
mengajukan teori induksi sebagai model baru cara kerja enzim yang
merupakan modifiksi dari model gembok kunci. Menurut teori ini enzim
memiliki sisi aktif yang fleksibel yang dapat mengalami perubahan bentuk
sesuai dengan bentuk yang dimiliki oeh substrat. Hal ini tentu berbeda dengan
teori gembok kunci yang mana dalam teori ini menyatakan bahwa sisi aktif
enzim bersifat kaku, statis, sangat spesifik. Meskipun sisi aktif enzim bersifat

9
fleksible (dalam teori induksi), namun tidak semua senyawa kimia dapat
menjadi substrat enzim yang dapat berikatan membentuk komplek enzim
substrat. Kriteria substrat yang mampu berikatan dengan enzim ialah
memiliki titik ikatan yang sesuai dengan enzim. Sehingga meskipun bentuk
sisi aktif enzim dan substrat tidak sama, jika substratmemiliki titik ikatan
yang sesuai dengan enzim maka hal ini akan menginduksi sisi aktif enzim
yang menyebabkan enzim merubah bentuk sesuai dengan bentuk enzim.
Teori yang dikemukaan Koshland inilah yang diterima untuk menjelaskan
cara kerja enzim dalam suatu reaksi kimia.

G. FUNGSI DAN MACAM_MACAM ENZIM


1. Fungsi Enzim
Yaitu sebagai katalis untuk proses biokimia yang terjadi dalam sel
maupun di luar sel makhluk hidup. Enzim ini berfungsi sebagai katalis yang
sangan efisien dan mempunyai derajat yang tinggi.
2. Tata nama dan Kekhasan Enzim
Setiap enzim disesuaikan dengan nama substratnya dengan
menambahkan “ase” dibelakangnya. Kekhasan enzim asam amino sebagai
substrat dapat mengalami reaksi berbagai enzim. Ada beberapa enzim yang
penamaannya tidak menurut cara di atas, misalnya enzim pepsin, triosin, dan
sebagainya serta enzim yang termasuk enzim permease. Permease adalah
enzim yang berperan dalam menentukan sifat selektif permiabel dari
membran sel.
Enzim diklasifikasikan berdasarkan tipe reaksi dan mekanisme reaksi
yang dikatalisis. Pada awalnya hanya ada beberapa enzim yang dikenal, dan
kebanyakan mengkatalisis reaksi hidrolisis ikatan kovalen. Semua enzim ini
diidentifikasi dengan menambahkan akhiran –ase pada nama substansi atau
substrat yang dihidrolisis. Contoh: lipase menghidrolisis lipid, amilase
menghidrolisis amilum, protease menghidrolisis protein. Pemakaian
penamaan tersebut terbukti tidak memadai karena banyak enzim
mengkatalisis substrat yang sama tetapi dengan reaksi yang berbeda.

10
Contohnya ada enzim yang megkatalisis reaksi reduksi terhadap fungsi
alkohol gula dan ada pula yang mengkatalisis reaksi oksidasi pada substrat
yang sama.
Sistem penamaan enzim sekarang tetap menggunakan –ase, namun
ditambahkan pada jenis reaksi yang dikatalisisnya. Contoh: enzim
dehidrogenase mengkatalisis reaksi pengeluaran hidrogen, enzim transferase
mengkatalisis pemindahan gugus tertentu. Untuk menghindari kesulitan
penamaan karena semakin banyak ditemukan enzim yang baru, maka
International Union of Biochemistry (IUB) telah mengadopsi sistem
penamaan yang kompleks tetapi tidak meragukan berdasarkan mekanisme
reaksi. Namun sampai sekarang masih banyak buku-buku yang masih
menggunakan sistem penamaan lama yang lebih pendek.
3. Penggolongan Enzim
a. Penggolongan enzim berdasarkan tempat bekerjanya :
a) Endoenzim
Endoenzim disebut juga enzim intraseluler, yaitu enzim yang
bekerjanya di dalam sel. Umumnya merupakan enzim yang digunakan
untuk proses sintesis di dalamsel dan untuk pembentukan energi
(ATP) yang berguna untuk proses kehidupan sel,misal dalam proses
respirasi.
b) Eksoenzim
Eksoenzim disebut juga enzim ekstraseluler, yaitu enzim yang
bekerjanya di luar sel. Umumnya berfungsi untuk “mencernakan”
substrat secara hidrolisis, untuk dijadikan molekul yang lebih
sederhana dengan BM lebih rendah sehingga dapat masuk melewati
membran sel. Energi yang dibebaskan pada reaksi pemecahan substrat
di luar sel tidak digunakan dalam proses kehidupan sel.
b. Penggolongan enzim berdasarkan daya katalisis
a) Oksidoreduktase
Enzim ini mengkatalisis reaksi oksidasi-reduksi, yang
merupakan pemindahan elektron, hidrogen atau oksigen. Sebagai

11
contoh adalah enzim elektron transfer oksidase dan hidrogen
peroksidase (katalase). Ada beberapa macam enzim electron transfer
oksidase, yaitu enzim oksidase, oksigenase, hidroksilase dan
dehidrogenase.
b) Transferase
Transferase mengkatalisis pemindahan gugusan molekul dari
suatu molekul ke molekul yang lain. Sebagai contoh adalah beberapa
enzim sebagai berikut:
 Transaminase adalah transferase yang memindahkan gugusan
amina.
 Transfosforilase adalah transferase yang memindahkan gugusan
fosfat.
 Transasilase adalah transferase yang memindahkan gugusan asil.
c) Hidrolase
Enzim ini mengkatalisis reaksi-reaksi hidrolisis, dengan contoh
enzim adalah:
 Karboksilesterase adalah hidrolase yang menghidrolisis gugusan
ester karboksil.
 Lipase adalah hidrolase yang menghidrolisis lemak (ester lipida).
 Peptidase adalah hidrolase yang menghidrolisis protein dan
polipeptida.
d) Liase
Enzim ini berfungsi untuk mengkatalisis pengambilan atau
penambahan gugusan dari suatu molekul tanpa melalui proses
hidrolisis, sebagai contoh adalah:
 L malat hidroliase (fumarase) yaitu enzim yang mengkatalisis
reaksi pengambilan air dari malat sehingga dihasilkan fumarat.
 Dekarboksiliase (dekarboksilase) yaitu enzim yang mengkatalisis
reaksi pengambilan gugus karboksil.

12
e) Isomerase
Isomerase meliputi enzim-enzim yang mengkatalisis reaksi
isomerisasi, yaitu:
 Rasemase, merubah l-alanin D-alanin
 Epimerase, merubah D-ribulosa-5-fosfat D-xylulosa-5-fosfat
 Cis-trans isomerase, merubah transmetinal cisrentolal
 Intramolekul ketol isomerase, merubah D-gliseraldehid-3-
fosfat dihidroksi aseton fosfat
 Intramolekul transferase atau mutase, merubah metilmalonil-CoA
suksinil-CoA

f) Ligase
Enzim ini mengkatalisis reaksi penggabungan 2 molekul
dengan dibebaskannya molekul pirofosfat dari nukleosida trifosfat,
sebagai contoh adalah enzim asetat=CoASH ligase yang
mengkatalisis rekasi sebagai berikut:
Asetat + CoA-SH + ATP Asetil CoA + AMP + P-P
c. Penggolongan enzim berdasar cara terbentuknya
a) Enzim konstitutif
Di dalam sel terdapat enzim yang merupakan bagian dari
susunan sel normal, sehingga enzim tersebut selalu ada umumnya
dalam jumlah tetap pada sel hidup. Walaupun demikian ada enzim
yang jumlahnya dipengaruhi kadar substratnya, misalnya enzim
amilase. Sedangkan enzim-enzim yang berperan dalam proses
respirasi jumlahnya tidak dipengaruhi oleh kadar substratnya.
b) Enzim adaptif
Perubahan lingkungan mikroba dapat menginduksi
terbentuknya enzim tertentu. Induksi menyebabkan kecepatan sintesis
suatu enzim dapat dirangsang sampai beberapa ribu kali. Enzim
adaptif adalah enzim yang pembentukannya dirangsang oleh adanya
substrat. Sebagai contoh adalah enzim beta galaktosidase yang

13
dihasilkan oleh bakteri E.coli yang ditumbuhkan di dalam medium
yang mengandung laktosa. Mulamula E. coli tidak dapat
menggunakan laktosa sehingga awalnya tidak nampak adanya
pertumbuhan (fase lag/fase adaptasi panjang) setelah beberapa waktu
baru menampakkan pertumbuhan. Selama fase lag tersebut E.
colimembentuk enzim beta galaktosidase yang digunakan untuk
merombak laktosa.

H. PERAN ENZIM DALAM TUMBUHAN


Enzim merupakan suatu reaksi ataupun proses kimia yang berlangsung
secara sangat baik di dalam tubuh setiap makhluk hidup hal ini disebabkan karena
adanya suatu katalis yang bisa digunakan untuk mempercepat suatu reaksi.
Koenzim sangat mudah untuk dipisahkan dengan suatu proses dialisis.
Enzim memiliki sebuah peran yang sangat spesifik dalam urusan untuk
menentukan reaksi mana yang akan terlebih dahulu untuk dipacu dibandingkan
dengan suatu katalisator anorganik dan pada akhirnya terdapat ribuan reaksi yang
telah berlangsung dan tidak dapat menghasilkan suatu produk sampingan yang
beracun. Enzim itu sendiri terdiri atas apoenzim dan juga gugus prostetik.
Apoenzim merupakan bagian enzim yang telah tersusun atas beberapa protein.
Gugus prostetik merupakan bagian dari enzim yang tidak ikut tersusun atas
protein. Gugus prostetik itu dikelompokkan atas dua bagian yaitu koenzim yaitu
enzim yang tersusun atas bahan organik dan juga kofaktor yaitu enzim yang
tersusun atas bahan anorganik. Enzim pada tumbuhan itu meliputi :
1. Enzim auksin.
Enzim ini berfungsi untuk pertumbuhan dan juga penghambatan
pertumbuhan tumbuhan, selain itu untuk dormansi, dan juga untuk membantu
proses pembentukan bunga dan juga buah serta proses penuaan dan juga
pengguguran
2. Enzim giberelin.
Enzim giberelin ini sebuah enzim yang berfungsi untuk merangsang
pembelahan sel dan juga merangsang suatu aktivitas pada enzim amylase dan

14
juga proteinase yang memiliki peran di dalam suatu perkecambahan.
Giberelin juga berfungsi untuk merangsang pembentukan tunas, dan
menghilangkan dormansi biji, serta merangsang proses pertumbuhan pada
buah secara parthenogenesis.
3. Enzim sitokinin
Enzim sitokinin bisa ditemukan dalam jaringan yang membelah.
Sitokinin yang pertama kali adalah jenis kinetin. Sitokinin yang ada pada Zea
mays merupakan sitokinin zeatin. Fungsi dari sitokinin adalah untuk
merangsang pembelahan sel, dan juga merangsang pembentukan tunas di
batang ataupun di dalam kalus, serta menghambat efek dominansi apikal,
selain itu juga untuk mempercepat pertumbuhan memanjang
4. Enzim Asam absisat
Tidak seluruh jenis hormon itu dapat berfungsi untuk memacu proses
pertumbuhan, karena ada juga hormone yang menghambat proses
pertumbuhan, salah satunya yaitu asam absisat. Fungsi dari asam absisat
adalah untuk menghambat proses pembelahan dan pemanjangan pada sel,
selain itu juga untuk menunda pertumbuhan atau disebut juga dormansi.
5. Enzim etilen
Etilena merupakan hormon tumbuh yang diproduksi dari hasil
metabolisme normal dalam tanaman. Etilena berperan dalam pematangan
buah dan kerontokan daun. Etilena disebut juga ethene. Senyawa etilena pada
tumbuhan ditemukan dalam fase gas, sehingga disebut juga gas etilena. Gas
etilena tidak berwarna dan mudah menguap. Etilena memiliki struktur yang
cukup sederhana dan diproduksi pada tumbuhan tingkat tinggi.

I. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERJA ENZIM

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim, antara lain:

1. Suhu
Semakin tinggi suhu, kerja enzim juga akan meningkat. Tetapi ada
batas maksimalnya. Untuk hewan misalnya, batas tertinggi suhu adalah 40ºC.

15
Bila suhu di atas 40ºC, enzim tersebut akan menjadi rusak. Sedangkan untuk
tumbuhan batas tertinggi suhunya adalah 25ºC.
2. PH
Pengaruh pH terhadap suatu enzim bervariasi tergantung jenisnya.
Ada enzim yang bekerja secara optimal pada kondisi asam. Ada juga yang
bekerja secara optimal pada kondisi basa.Setiap enzim bertindak paling cepat
pada nilai pH tertentu yang disebut sebagai pH optimum. pH optimum bagi
kebanyakan enzim ialah pH 7.Terdapat beberapa pengecualian, misalnya
enzim pepsin di dalam perut bereaksi paling cepat pada pH 2, sementara
enzim tripsin di dalam usus kecil bereaksi paling cepat pada pH 8.
3. Konsentrasi substrat
Semakin tinggi konsentrasi substrat, semakin meningkat juga kerja
enzim tetapi akan mencapai titik maksimal pada konsentrasi tertentu. Pada
kepekatan substrat rendah, bilangan molekul enzim melebihi bilangan
molekul substrat. Oleh karena itu, sebilangan kecil molekul enzim bereaksi
dengan molekul substrat. Apabila kepekatan substrat bertambah, lebih
molekul enzim dapat bereaksi dengan molekul substrat hingga ke satu kadar
maksimum. Penambahan kepekatan substrat selanjutnya tidak akan
menambahkan kadar reaksi.
4. Konsentrasi enzim
Semakin tinggi konsentrasi enzim, semakin meningkat juga kerja
enzim. Pada kepekatan enzim rendah, bilangan molekul substrat melebihi
bilangan molekul enzim. Oleh karena itu, sebilangan kecil molekul substrat
direaksikan dengan molekul enzim. Apabila kepekatan enzim bertambah,
lebih molekul substrat dapat bereaksi dengan molekul enzim hingga ke satu
kadar maksimum. Penambahan kepekatan enzim selanjutnya tidak akan
menambahkan kadar reaksi.
5. Adanya aktivator
Aktivator merupakan zat yang memicu kerja enzim.

16
6. Adanya inhibitor
Inhibisi pada suatu reaksi yang menggunakan enzim sebagai katalis
dapat terjadi apabila penggabungan substrat pada bagian aktif enzim
mengalami hambatan. Molekul atau ion yang dapat menghambat reaksi
tersebut dinamakan inhibitor. Hambatan yang dilakukan oleh inhibitor dapat
berupa hambatan tidak reversibel dan hambatan reversibel. Hambatan tidak
reversibel disebabkan oleh terjadinya proses destruksi atau modifikasi sebuah
gugus fungsi atau lebih yang terdapat pada molekul enzim. Hambatan
reversibel dapat berupa hambatan bersaing dan hambatan tidak bersaing.
Inhibitor merupakan zat yang menghambat kerja enzim. Inhibitor ini terdiri
dari :
a. Hambatan Reversibel
Hambatan reversibel disebabkan oleh terjadinya proses destruksi
atau modifikasi sebuah gugus fungsi atau lebih yang terdapat pada
molekul enzim. Hambatan reversible dapat berupa hambatan bersaing
dan hambatan tidak bersaing. Hambatan bersaing disebabkan karena
adanya molekul yang mirip dengan substrat, yang dapat pula membentuk
kompleks yaitu kompleks enzim inhibitor (EI), sedang hambatan tidak
bersaing ini tidak dipengaruhi oleh besarnya konsentrasi substrat dan
inhibitor yang melakukannya disebut inhibitor tidak bersaing.
b. Hambatan tidak Reversibel
Hambatan tidak reversible ini terjadi karena inhibitor bereaksi
tidak reversible dengan bagian tertentu pada enzim, sehingga
mengakibatkan berubahnya bentuk enzim.
c. Hambatan Alosterik
Hambatan ruang karena enzim tersebut tidak berbentuk hiperbola
seperti enzim – enzim ang lain tetapi akan terjadi grafik yang berbentuk
sigmoida.
7. Faktor Penghambat Enzim
Beberapa bahan asing dapat menghalangi efek katalik enzim,
diantaranya adalah unsur-unsur anorganik seperti beberapa kation logam dan

17
beberapa senyawa organik tertentu. Kedua kelompok penghambat ini
dibedakan berdasarkan pengaruhnya yang bersifat kompetitif ataun n-n-
kompetitif dengan substrat.
a. Penghambat Kompetitif
Penghambat kompetitif umumnya mempunyai struktur yang mirip
dengan substrat sehingga dapat berkompetisi untuk sisi aktif enzim. Jika
penggabungan antara enzim dan penghambat terjadi, maka konsentrasi
enzim yang efektif menjadi menurun, sebagai akibatnya tentu laju reaksi
juga akan menurun. Senyawa penghambat ini kadang juga dirombak oleh
enzim untuk menghasilkan senyawa lain yang tidak berfungsi
menghambat.
Penambahan substrat dapat mengatasi masalah hambatan oleh
senyawa penghambat kompetitif ini. Contoh klasik dari penghambat
kompetitif adalah yang disebabkan oleh malonat, yakni anion dengan
muatan ganda dari asam malonat, terhadap reaksi suksinat
dehidrogenase. Enzim ini berperan pada reaksi esensial pada Siklus
Krebs pada Mitokondria. Enzim ini memisahkan 2 atom H dari suksinat
dan menambahkan 2 atom H tersebut pada gugus prostetik (Flavin
Adenin Dinukleotida, disingkat FAD ) yang terikat secara kovalen pada
enzim ini, sehingga terbentuk fumarat dan FADH₂ yang terikat pada
enzim.
Malonat dapat bergabung dengan enzim, mengambil sisi aktif
yang diperuntukan bagi suksinat. Karena pemisahan atom H dari malonat
tidak dapat dilakukan oleh enzim , maka reaksi tidak dapat berlangsung.
Pada keadaan ini, suksinatdehidrogenaseyang terikat dengan malonat
tidak dapat memacu dehidrogenase sehingga respirasi terganggu. Yang
menarik adalah bahwa tanaman kacng-kacangan dan tanaman
leguminosa tertentu mengandung malonat dalam konsentrasi relatif
tinggi, tetapi mungkin malonat tersebut terisolasi dalam vakuola sehingga
tidak menghambat resfirasi.

18
b. Penghambat non-kompetitif
Penghambat non kompetitif juga dapat bergabung dengan enzim,
tetapi tidak pada sisi aktif enzim . Pengaruh ini tidak dapat diatasi dengan
meningkatan konsentrasi substrat. Penghambat non-kompetitif tidak
memiliki struktur yang sama dengan substrat. Ion logam atau senyawa
yang merusak gugus sulfihidril sering merupakan penghambat non
kompetitif. Sebagai contoh O₂ yang berlebihan dapat mengoksidasi
gugus –SH yang berdekatan satu sama lain, melepaskan atom H dari
masing-masing gugus –SH dan mengakibatkan terbentuknya ikatan
disulfida, sehingga mengubah struktur enzim dan akibatnya enzim tak
lagi dapat membentuk kompleks secara sempurna dengan substrat. Ion
Hg²⁺dapat menggantikan atom H pada gugus sulfihidril, membentuk
merkaftida yang sering tidak dapat larut . . Ion Ag²⁺ juga dapat
melakukan peranan serupa dengan Hg²⁺.
Kebanyakan racun mempengaruhi tanaman atau hewan dengan
cara menghambat enzim. Enzim juga dihambat secara nono kompetitif
oleh penyebab denaturasi protein seperti asam atau basa pekat atau oleh
konsentrasi urea yang tinggi, konsentrasi detergen yang tinggi, yang
memutuskan ikatan hidrogen.

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis


(senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa ikut bereaksi) dalam suatu
reaksi kimia organik. Molekul awal yang disebut substrat akan dipercepat
perubahannya menjadi molekul lain yang disebut produk. Semua proses
biologis sel memerlukan enzim agar dapat berlangsung dengan cukup cepat
dalam suatu arah lintasan metabolisme.
2. Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk
menghasilkan senyawa intermediat melalui suatu reaksi kimia organik yang
membutuhkan energi aktivasi lebih rendah. Sebagian besar enzim bekerja
secara khas, yang artinya setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu
macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan struktur
kimia tiap enzim yang bersifat tetap.
3. Kerja enzim dipengaruhi oleh konsentrasi substrat, konsentrasi enzim,,suhu,
dan pH. Di luar suhu atau pH yang sesuai, enzim tidak dapat bekerja secara
optimal atau strukturnya akan mengalami kerusakan (denaturasi). Hal ini
akan menyebabkan enzim kehilangan fungsinya sama sekali. Kerja enzim
juga dipengaruhi oleh molekul lain. Inhibitor adalah molekul yang
menurunkan aktivitas enzim, sedangkan aktivator adalah yang meningkatkan
aktivitas enzim.

20
DAFTAR PUSTAKA

Dwijoseputro, D. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.

Filter, A. H. dan R. K. M. Hay. 1991. Fisiologi Lingkungan


Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.

Lakitan,Benyamin. 2011. Dasar-DasarFisiologi Tumbuhan. Jakarta.


PT.rajagrafindo persada.

Poedjiadi, Ana. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta. Universitas


Indonesia (UI-Press ).

Salisbury, dan Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.

Wirahadikusumah, M. 1981. Biokimia. Proteine, Enzim dan Asam


Nukleat. ITB. Bandung.

21