Anda di halaman 1dari 3

1.

Indikasi medis

Pada kasus diketahui bahwa pasien mengalami anemia akibat perdarahan saat terjadi
kecelakaan dan juga mengalami patah tulang femur dan dibutuhkan tindakan operasi secepatnya,
hal ini sudah termasuk kasus kegawatdaruratan .

Transfuse darah dilakukan agar dapat menstabilkan kondisi pasien yang anemia serta
tindakan penceghan jikalau kehilangan lebih banyak darah saat operasi. Akan tetapi dikarenakan
keluarga pasien merupakan penganut agama yang tidak mengizinkan transfusi darah maka
alternative pengganti transfusi dapat diberikan pada keluarga pasien

Jika kehilangan darah bersifat cepat dan banyak, tekanan darah seseorang akan menurun,
dan dapat mengalami shock. Hal pertama yang dilakukan adalah menghentikan pendarahan dan
memulihkan volume darah, hal ini dapat mencegah terjadinya shock dan membuat sel darah-darah
merah serta komponen-komponen lain yang masih ada tetap bersirkulasi. Pengantian volume darah
dapat dilakukan dengan cairan non darah, yang paling sederhana menggunakan larutan garam,
salah satu contohnya ialah cairan Hestatarch (HES) merupakan penambah volume yang lebih baru
dan ini dapat digunakan dengan aman bagi pasien luka bakar yang menolak produk-produk darah.

Pergantian cairan menggunakan yang bukan darah dapat dilakukan dikarenakan didalam
tubuh manusia ada cadangan pengangkut oksigen. Jika manusia kehilangan darah maka akan ada
mekanisme kompensasi yang terjadi yaitu jantung akan memompa lebih banyak darah dalam
setiap denyutan juga akibat darah yang hilang digantikan dengan caian yang cocok, darah yang
sekarng tela diencerkan mengalir lebih lancer, bahkan dalam pembuluh-pembuluh yang lebih
kecil. Karena adanya perubahan kimiawi, oksigen akan dilepas kedalam ajringan lebih banyak.
Penyesuaian ini begitu jitu sehingga sekalipun hanya seoaruh daru sek-sel darah merah yang
tersisa, pengiriman oksigen bisa 75% dari yang normal, serta pada pasien yang beristirahat hanya
menggunakan 25% oksigen yang terdapat dalam darahnya. Dari kebanyakan pembiusan umum
akan mengurangi kebutuhan tubuh akan oksigen serta dokter dapat membantu pasien untuk
membentul lebih banyak sel darah merah dengan memeberikan preparat yang mengandung zat
besi ke dalam otot-otot atau pembuluh darah, yang dapat membuat sel darah merah tiga sampai 4
kali lebih cepat. Akan tetapi pada kasus pasien dalam keadaan sadar, kesakitan dan lemah yang
menandakan bahwa kehilangan darah tidak banyak serta belum mengalami shock sehingga
pemberian transfuse dapat tidak dilakukan ke pasien.

Akan tetapi jikalau pada saat operasi terdapat perdarahan maka dapat dilakukan Teknik
kauterisasi elektris untuk mengurangi perdarahan yang sering digunakan ataupun dengan cara
menurunkan suhu badan pasien untuk mengurangi kebutuhannya akan oksigen selama operasi,
atau penggunaan pisau bedah laser yang mempersingkat perdarahan.

Ayuda, berliana. Darah Dalam Pandangan Kristen Saksi Yehuwa. Jurusan Perbandingan
Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN. Jakarta. 2007

4. CONTEXTUAL FEATURES

Pada kasus dijelaskan bahwa keluarga pasien menolak transfusi darah dikarenakan mereka
penganut agama Jehovah atau saksi yehuwa,

Saksi Yehuwa atau Jehovah’s Witnesses atau Jehovas Zeugen adalah aliran agama yang mengakui
dirinya sebagai salah satu Denominasi Kristen.1 Hal ini menurut kepercayaan mereka telah
ditegaskan bahwa pendirian mereka mengenai makna larangan makan darah sebagaimaan yang
telah ditulis dalam Kejadian pasal 9 ayat 3 dan 4, kata “makan” mempunyai makna yang jelas bagi
penganut agama tersebut yaitu memasukkan darah kedalam tubuh dengan cara apapun. Meskpiun
dalam kamus Bahasa Indonesia kata “makana” diartikan dengan memasukan sesuatu melalui
mulut. Hal ini juga menejelaskan bahwa penganut agama tersebut menolak penggunaan komponen
darah utuh sekalipun untuk alasan medis. Mereka menganalogikan dengan cairan infus yang
dipakai sebagai penganti makan, meskipun jalur yang dipakai untuk memasukkanya bukan mulut
tetapi di dalam tubuh akan diproses seperti makanan biasa.2

Alasan utama mereka adalah ketaatan kepada Allah, dikarenakan mereka semata-mata
percaya bahwa jalan Jehovah/ yehuwa adalah benar dan bahwa dalam Mazmur 19:8 mengatakan
“ia tidak akan menahan kebaikan” dari hamba-hambanya yang loyal.2

1. Ayuda berliana, Darah Dalam Pandangan Kristen Saksi Yehuwa, Jurusan


Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN. Jakarta. 2007
2. Ariffudin ismail, Laporan Penelitian Aliran-Aliran dalam Agama Kristen di NTT,
Kalbar, dan DIY, Semarang: Kemenag Balitbang. 2011. hlm.48-49