Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN

MATEMATIKA

MATEMATIKA DAN ENAKTIVISME

Anggota Kelompok :
1. Mohammad Romdhon B. (14030174014)
2. Aswin Burhanudin S. (14030174027)
3. Arif Ahmad M. (14030174041)
4. Mohammad Misbakhul A. (14030174047)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
JURUSAN MATEMATIKA
2017
Kata pengantar
Daftar isi

A. Pengertian Filsafat.................................................................................................................... 3

B. Pengertian Matematika......................................................................................................... 4

C. Hubungan Matematika dengan filsafat............................................................................. 6

D. Peranana Filsafat dalam Pembelajar Matematika...........................................................9

E. Matematika Sebagai Ratu dan Pelayan Ilmu...................................................................17

F. Matematika sebagai ilmu pengetahuan............................................................................. 19

G. Sejarah Munculnya Enaktivisme......................................................................................... 21

H. Pengertian Enaktivisme.......................................................................................................... 23

I. The Embodied Mind............................................................................................................. 25

J. Enaktivisme Dalam Aspek Filosofis..................................................................................... 25

K. Enaktivisme dalam Aspek pendidikan.............................................................................. 26

L. Ketidakjelasan Enaktivisme bagi Pendidikan Matematika.......................................27

M. Apakah Enaktivisme Diperlukan dalam Pendidikan Matematika?......................28


A. Pengertian Filsafat

Kata ‘filsafat’ berasal dari bahasa Yunani, yaitu ‘philosophia’ . Kata philosophia
merupakan gabungan dari dua kata yaitu philos dan sophia. Philos berarti sahabat
atau kekasih, sedangkan sophia memiliki arti kebijaksanaan, pengetahuan, kearifan.
Dengan demikian maka arti dari kata philosophia adalah cinta pengetahuan. Plato dan
Socrates dikenal sebagai philosophos (filsuf) yaitu orang yang cinta pengetahuan.

Dalam membangun tradisi filsafat, banyak orang mengajukan pertanyaan yang


sama, menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar
belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun.
Secara Terminologi, Filsafat mempunyai banyak sekali definisi tergantung dari
siapa yang mendefinisikannya, bahkan setiap orang memiliki definisi tersendiri
mengenai filsafat. Dalam hal ini, akan dijelaskan beberapa definisi dari beberapa ahli
filsafat (filsuf), antara lain, sebagai berikut:
Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan
pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa : Filsafat
adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.
Sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu ( pengetahuan
) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika,
retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya dengan Al Farabi yang
berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud
bagaimana hakikat yang sebenarnya. Berikut ini disajikan beberapa pengertian
Filsafat menurut beberapa para ahli:
Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang
ada.
Aristoteles ( (384 – 322 SM) : Bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab
dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas
penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.
Cicero ( 106 – 43 SM ) : filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni “ (the
mother of all the arts“ ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni
kehidupan).
Dan perlu untuk kita ingat bahwa kata filsuf (philosophos) dan filsafat
(philosophia) ini baru menyebar luas setelah masa Aristoteles. Aristoteles sendiri
tidak menggunakan istilah ini (philosophia atau philosophos) dalam literatur-
literaturnya.

Setelah masa kejayaan Romawi dan Persia memudar, penggunaan istilah


filsafat berikutnya mendapat perhatian besar dari kaum muslimin di Arab. Kata
falsafah (hikmah) atau filsafat kemudian mereka sesuaikan dengan perbendaharaan
kata dalam bahasa Arab, yang memiliki arti berbagai ilmu pengetahuan yang rasional.

B. Pengertian Matematika

Pengertian matematika sangat sulit didefinsikan secara akurat. Pada umumnya


orang awam hanya akrab dengan satu cabang matematika elementer yang disebut
aritmatika atau ilmu hitung yang secara informal dapat didefinisikan sebagai ilmu
tentang berbagai bilangan yang bisa langsung diperoleh dari bilangan-bilangan bulat
0, 1, -1, 2, – 2, …, dst, melalui beberapa operasi dasar: tambah, kurang, kali dan bagi.

Akan tetapi, penulis mencoba memberikan pengertian dari matematika.


Menurut bahasa kata “matematika” berasal dari kata μάθημα(máthema) dalam bahasa
Yunani yang diartikan sebagai “sains, ilmu pengetahuan, atau belajar” juga
μαθηματικός (mathematikós) yang diartikan sebagai “suka belajar”.

Sedangkan menurut istilah, apakah matematika itu? Pertanyaan ini jawabannya


dapat brbeda-beda bergantung pada kapan pertanyaan itu dijawab, dimana dijawab,
siapa yang menjawabnya dan apa sajakah yang dipandang termasuk dalam. Dengan
demikian, untuk menjawab pertanyaan :Apakah matematika itu ? Untuk
menjawabnya kita harus hati-hati. Karena itu berbagai pendapat muncul tentang
pengertian matematika tersebut dipandang dari pengetahuan dan pengalaman masing-
masing individu yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa matematika itu bahasa
simbol,matematika itu adalah bahasa numrik, matematika itu adalah bahasa yang
menghilangkan sifat kabur,majemuk, dan emosional, matematika adalah metode
berpikir logis , matematika adalah saran berpikir, matematika adalah logika pada
masa dewasa , matematika adalah ratunya ilmu dan sekaligus menjadi pelayannya,
matematika adalah sains mengenai kuantitas dan besaran, matematika adalah sains
yang bekerja menarik m kesimpulan-kesimpulan yang perlu, matematika adalah sains
formal yang murni, matematika adalah sains yang memanipulsi simbol, matematika
adalah ilmu tentang bilangan dan ruang, matematika adalah ilmu yang mempelajari
hubungan pola, bentuk dan struktur , matematika adalah imu yang abstrak dan
deduktif .

Selain itu juga, beberapa pendapat para ahli tentang matematika yang telah
menyinggung muatan materi yang terdapat dalam ruang lingkup matematika dan
karakteristik matematika itu sendiri, yakni :

a. James dan James, yang mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang
logika, mengenai bentuk,susunan, besaran dan konsep-konsep yang
berhubungan lainnya dengan jumlah banyak yang terbagi kedalam tiga bidang,
yaitu aljabar, analisis dan geometri.

b. Jhonson dan Rising bahwa matematika adalah pola berpikir,pola


mengorganisasikan, pembuktian yang logika, matematika itu bahasa yang
menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat,
representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai
ide daripada mengenai bunyi.

c. Reys mengatakan bahwa matematika adalah telaahan tentang pola dan


hubungan , suatu jalan atau pola pikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.

d. Kline mengatakan bahwa matematika bukanlah pengetahuan menyendiri yang


dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama
untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial
, ekonomi dan alam.

Jadi dari seluruh pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa adanya
matematika itu karena kemampuan proses berpikir manusia tentang pengalaman
permasalahan yang ditemui dan dipecahkan, yang kemudian pengalaman pemecahan
masalah tersebut menjadi suatu yang terkonstruksi sebagai suatu konsep matematika
yang kemudian dapat digunakan sebagai alat pemecahan masalah yang sama atau
yang baru.

C. Hubungan Matematika dengan filsafat

Matematika dan filsafat mempunyai sejarah keterikatan satu dengan yang lain
sejak jaman Yunani Kuno. Matematika di samping merupakan sumber dan inspirasi
bagi para filsuf, metodenya juga banyak diadopsi untuk mendeskripsikan pemikiran
filsafat. Kita bahkan mengenal beberapa matematikawan yang sekaligus sebagai
sorang filsuf, misalnya Descartes, Leibniz, Bolzano, Dedekind, Frege, Brouwer,
Hilbert, G¨odel, and Weyl. Pada abad terakhir di mana logika yang merupakan kajian
sekaligus pondasi matematika menjadi bahan kajian penting baik oleh para
matematikawan maupun oleh para filsuf. Logika matematika mempunyai peranan
hingga sampai era filsafat kontemporer di mana banyak para filsuf kemudian
mempelajari logika. Logika matematika telah memberi inspirasi kepada pemikiran
filsuf, kemudian para filsuf juga berusaha mengembangkan pemikiran logika
misalnya “logika modal”, yang kemudian dikembangkan lagi oleh para
matematikawan dan bermanfaat bagi pengembangan program komputer dan analisis
bahasa. Salah satu titik krusial yang menjadi masalah bersama oleh matematika
maupun filsafat misalnya persoalan pondasi matematika. Pada abad 20, Cantor
diteruskan oleh Sir Bertrand Russell, mengembangkan teori himpunan dan teori tipe,
dengan maksud untuk menggunakannya sebagai pondasi matematika. Namun kajian
filsafat telah mendapatkan bahwa di sini terdapat paradoks atau inkonsistensi yang
kemudian membangkitkan kembali motivasi matematikawan di dalam menemukan
hakekat dari sistem matematika.
Dengan teori ketidak lengkapan, akhirnya Godel menyimpulkan bahwa suatu
sistem matematika jika dia lengkap maka pastilah tidak akan konsisten; tetapi jika dia
konsisten maka dia pastilah tidak akan lengkap. Hakekat dari kebenaran secara
bersama dipelajari secara intensif baik oleh filsafat maupun matematika. Kajian nilai
kebenaran secara intensif dipelajari oleh bidang epistemologi dan filsafat bahasa. Di
dalam matematika, melalui logika formal, nilai kebenaran juga dipelajari secara
intensif. Kripke, S. dan Feferman (Antonelli, A., Urquhart, A., dan Zach, R. 2007)
telah merevisi teori tentang nilai kebenaran; dan pada karyanya ini maka matematika
dan filsafat menghadapi masalah bersama. Di lain pihak, pada salah satu kajian
filsafat, yaitu epistemologi, dikembangkan pula epistemologi formal yang
menggunakan pendekatan formal sebagai kegiatan riset filsafat yang menggunakan
inferensi sebagai sebagai metode utama. Inferensi demikian tidak lain tidak bukan
merupakan logika formal yang dapat dikaitkan dengan teori permainan, pengambilan
keputusan, dasar komputer dan teori kemungkinan.
Para matematikawan dan para filsuf secara bersama-sama masih terlibat di dalam
perdebatan mengenai peran intuisi di dalam pemahaman matematika dan pemahaman
ilmu pada umumnya. Terdapat langkah-langkah di dalam metode matematika yang
tidak dapat diterima oleh seorang intuisionis. Seorang intuisionis tidak dapat
menerima aturan logika bahwa kalimat “a atau b” bernilai benar untuk a bernilai
benar dan b bernilai benar. Seorang intuisionis juga tidak bisa menerima pembuktian
dengan metode membuktikan ketidakbenaran dari ingkarannya. Seorang intuisionis
juga tidak dapat menerima bilangan infinit atau tak hingga sebagai bilangan yang
bersifat faktual. Menurut seorang intuisionis, bilangan infinit bersifat potensial. Oleh
karena itu kaum intuisionis berusaha mengembangkan matematika hanya dengan
bilangan yang bersifat finit atau terhingga.
Banyak filsuf telah menggunakan matematika untuk membangun teori
pengetahuan dan penalaran yang dihasilkan dengan memanfaatkan bukti-bukti
matematika dianggap telah dapat menghasilkan suatu pencapaian yang memuaskan.
Matematika telah menjadi sumber inspirasi yang utama bagi para filsuf untuk
mengembangkan epistemologi dan metafisik.
Hannes Leitgeb di (Antonelli, A., Urquhart, A., dan Zach, R. 2007) di
“Mathematical Methods in Philosophy” telah menyelidiki penggunaan matematika di
filsafat. Dia menyimpulkan bahwa metode matematika mempunyai kedudukan
penting di filsafat. Pada taraf tertentu matematika dan filsafat mempunyai persoalan-
persoalan bersama. Hannes Leitgeb telah menyelidiki aspek-aspek dalam mana
matematika dan filsafat mempunyai derajat yang sama ketika melakukan penelaahan
yaitu kesamaan antara obyek, sifat-sifat obyek, logika, sistem-sistem, makna kalimat,
hukum sebab-akibat, paradoks, teori permainan dan teori kemungkinan. Para filsuf
menggunakan logika sebab-akibat untuk untuk mengetahui implikasi dari konsep atau
pemikirannya, bahkan untuk membuktikan kebenaran ungkapan-ungkapannya.
Joseph N. Manago (2006) di dalam bukunya “ Mathematical Logic and the
Philosophy of God and Man” mendemonstrasikan filsafat menggunakan metode
matematika untuk membuktikan Lemma bahwa terdapat beberapa makhluk hidup
bersifat “eternal”. Makhluk hidup yang tetap hidup disebut bersifat eternal.
Matematika dan filsafat memiliki hubungan yang erat :
a. Filsafat dan geometri ( suatu cabang matematik ) lahir pada masa yang sama,di
tempat yang sama, dan dari ayah yang tunggal , yakni sekitar 640-546 sebelum
Masehi, di Miletus ( terletak di pantai barat negara Turki sekarang ) dan dari pikiran
seorang bernama Thales.

b. Matematik tidak pernah lahir dari filsafat, melainkan keduanya berkembang


bersama-sama dengan saling memberikan persoalan-persoalan sebagai bahan masuk
dan umpan balik.

c. Adanya hubungan timbal balik dan saling pengaruh antara filsafat dan matematik
dipacu pula oleh filsuf Zeno dari Elea.
Zeno memperbincangkan paradoks-paradoks yang bertalian dengan pengertian-
pengertian gerak, waktu, dan ruang yang kemudian selama berabad-abad
membingungkan para filsuf dan ahli matematik. Filsafat matematika adalah cabang
dari filsafat yang mengkaji anggapan-anggapan filsafat, dasar-dasar, dan dampak-
dampak matematika. Tujuan dari filsafat matematika adalah untuk memberikan
rekaman sifat dan metodologi matematika dan untuk memahami kedudukan
matematika di dalam kehidupan manusia. Sifat logis dan terstruktur dari
matematika itu sendiri membuat pengkajian ini meluas dan unik di antara mitra-
mitra bahasan filsafat lainnya.
D. Peranana Filsafat dalam Pembelajar Matematika

Dalam pembelajaran matematika sejak dini siswa sudah dididik untuk


menggunakan logika sehari-hari yang tentunya akan menjadi lebih mudah bagi siswa
dalam menerima dan memahami pelajaran matematika. Penyampaian materi
pelajaran matematika menjadi sangat menarik dan lebih diutamakan dengan
bimbingan guru. Dengan ini siswa mampu menemukan konsep dan rumus-rumus
matematika dasar sehingga siswa sangat menyukai dan menumbuhkan semangat
eksplorasi dunia angka, bilangan dan konsep matematika yang lebih rumit.
Penyampaian suatu materi pelajaran matematika akan menjadi sedikit lebih
lama dibandingkan penyampaian materi dengan metode biasa (konvensional).
Namun, dengan implementasi filsafat sebagai latar belakang lahirnya suatu konsep
matematika, maka setiap siswa diharapkan mampu dan mau mempelajarinya sampai
tuntas dan mencintai matematika dengan lebih mendalam. Menurut Bakhtiar (2004)
manfaat yang ditimbulkan dari implementasi filsafat matematika pada pelajaran
matematika di sekolah yaitu nilai pelajaran matematika akan meningkat. Bukan itu
saja, kecintaan siswa pada pelajaran matematika menjadi lebih nyata dan jauh dari
abstrak (bisa menjawab soal tapi tidak memahami konsepnya!)
Anak dari berbagai usia berfikir sesuai dengan tingkat usianya. Matematika
adalah subjek ideal yang mampu mengembangkan proses berpikir anak dimulai dari
usia dini, usia pendidikan kelas awal (pendidikan dasar), pendidikan menengah,
pendidikan lajutan dan bahkan sampai mereka berada di bangku perkuliahan. Hal ini
diberikan untuk mengetahui dan memakai prinsip matematika dalam kehidupan
sehari-hari baik itu mengenai perhitungan, pengerjaan soal, pemecahan masalah
kehidupan di lingkungan sekolah ataupun di lingkungan masyarakat.
Khusus untuk siswa, matematika sangat berguna sekali bagi mereka untuk
mengembangkan proses berfikir mereka mulai dari hal-hal yang sederhana sampai
kepada hal-hal yang rumit. Tahapan dimana siswa sudah bisa mempraktekkan
matematika dalam kehidupan sehari-hari yang tentunya juga ditunjang oleh berbagai
cara serta metode pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Hal ini sesuai
dengan tingkat perkembangan anak kelas yang cenderung bermain dan belajar
Tidak bisa dipungkiri, siapapun akan bangga jika punya anak pintar
matematika atau paling tidak nilai matematikanya selalu bagus. Sehingga orang
tuapun tidak segan-segan untuk memberikan atau mengikutkan anak-anak mereka les
tambahan untuk mata pelajaran matematika dengan harapan anak-anak mereka
mendapatkan nilai yang bagus. Pada hal nilai bagus yang didapatkan oleh anak-anak
mereka dalam berhitung saja tidak cukup kalau tidak bisa menganalisis atau merubah
dari soal cerita ke bahasa matematika dan mengembalikan lagi ke dalam soal cerita
atau kalau tidak bisa menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari
(Problem Solving). Maka tidak jarang anak-anak yang bagus nilainya di kelas awal
akan mengalami kesulitan atau turun nilainya pada tahap kelas tinggi, menengah, atas
dan kuliah.
Matematika merupakan cabang mata pelajaran yang luas cakupannya dan
bukan hanya sekedar bisa berhitung atau mensubtitusikan ke rumus saja tetapi
mencakup beberapa kompetensi yang menjadikan siswa tersebut dapat memahami
dan mengerti tentang konsep dasar matematika. Belajar matematika juga
membutuhkan kemampuan bahasa, untuk bisa mengerti soal-soal atau mengerti
logika, juga imajinasi dan kreativitas. Dan sekiranya dipergunakan dalam lingkungan
sekolah , yaitu antara guru dan siswa maka kuncinya adalah mengambil contoh dalam
hidup sehari-hari dan dibuat semenarik mungkin.
Agar tercapainya semua itu maka peranan guru sangat penting dalam
pembelajaran ini. Keterampilan mengajar merupakan kompetensi professional yang
cukup kompleks, sebagai integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan
menyeluruh. Ada delapan keterampilan mengajar yang sangat berperan dan
menentukan kualitas pembelajaran, yaitu keterampilan bertanya, memberi penguatan,
mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membimbing
diskusi kelompok kecil, mengelola kelas, serta mengajar kelompok kecil atau
perorangan. Penguasaan terhadap keterampilan mengajar tersebut harus untuh dan
terintegrasi. Dipandang dari segi lain seorang guru harus mempunyai pendekatan dan
metode pembelajaran yang akan dilaksanakan dan memilih metode-metode
pembelajaran yang efektif serta berusaha memberikan variasi dalam metode
pembelajaran agar tidak kelihatan atau menyebabkan siswa atau peserta didik jenuh.
Jika hal ini diterapkan, maka dituntut sekali inisiatif guru untuk melakukan variasi
dan krativitas guru. Guru merupakan seorang figur yang menjadi tauladan dan
pedoman bagi siswa dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Guru merupakan nara
sumber yang akan memberikan dan menciptakan pembelajaran yang kreatif dan
menyenangkan bagi siswa, terutama sekali dalam hal pemahaman dan penyelesaian
mata pelajaran matematika. Tetapi hal tersebut kemungkinan besar tidak sampai pada
tahap yang diharapkan. segala macam bentuk persoalan yang akan diberikan kepada
siswa harus menggambarkan persoalan yang ditemui sehari-hari atau dengan kata lain
yang berdekatan dengan pengalaman empiris peserta didik di lapangan. Jadi dengan
adanya kegiatan pembelajaran yang mengaitkan langsung dengan kehidupan nyata
peserta didik akan dengan mudah dipahami dan dimengerti oleh peserta didik
Filsafat merupakan ilmu yang mempelajari semua yang ada di dunia ini.
Filsafat mempunyai cakupan yang sangat luas, sehingga banyak sekali yang dapat
kita pelajari di dalam filsafat. Ketika kita melakukan aktifitas sehari-hari, kita tak
luput dari belajar tentang filsafat. Menurut Depag (2001) filsafat dapat diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari atutan-aturan atau norma dalam kehidupan.
Mempelajari filsafat adalah belajar tentang hidup, bagaimana hidup kita bisa berguna
untuk diri sendiri dan juga orang lain.
Di perguruan tinggi filsafat menjadi salah satu maka kuliah yang dipelajari.
Menurut Bakhtiar (2004) filsafat di perguruan tinggi berbeda dengan filsafat dalam
kehidupan sehari-hari. Filsafat yang dibahas di sini PT bersifat lebih khusus.
Misalnya dalam pendidikan matematika, filsafatnya adalah filsafat pendidikan
matematika. Dalam pendidikan matematika, belajar filsafat adalah belajar pikiran
para filsuf. Dengan kita mempelajari pikiran para filsuf, kita akan memahami tentang
filsafat itu. Selain itu berfilsafat adalah berpikir dalam koridor spiritual, etik dan
estetika. Setinggi-tinggi orang berfilsafat adalah sopan santun terhadap ruang dan
waktu. Dalam filsafat yang kita pelajari mencakup yang ada dan yang mungkin ada
Filsafat yang dipelajari di perguruan tinggi akan membantu guru untuk dapat
menerapkan filsafat dalam pembelajaran di sekolah. Menurut Ebbutt dan Straker
(1995) hakekat matematika sekolah mencakup 4 hal yaitu: a). Kegiatan penulusuran
pola/hubungan; b). Kegiatan problem solving; c). Kegiatan investigasi; dan terakhir
d). Kegiatan komunikasi. Penerapan hakekat matematika sekolah tersebut merupakan
salah satu peran filsafat dalam pembelajaran di sekolah.
Dengan hakekat matematika sekolah tersebut diharapkan siswa akan dapat
membangun matematikanya sendiri. Siswa dituntut untuk lebih kreatif dan aktif
dalam proses pembelajaran sehingga guru hanya berperan sebagai pendamping dalam
pembelajaran, sedangkan siswa mengkonstruksikan matematikanya sendiri
Filsafat sebagai ilmu dari segala ilmu, maka penerapan filsafat dalam
pembelajaran di sekolah menjadi salah satu hal yang menarik perhatian. Mengapa
demikian? Karena biasanya filsafat hanya ada di perguruan tinggi, namun pada
zaman sekarang filsafat juga ada di sekolah. Walaupun hanya sebagai pelengkap
dalam pembelajaran, namun filsafat memberikan pengaruh yang besar dalam
pembelajaran di sekolah. Filsafat adalah kegiatan berpikir, sehingga dalam setiap
pembelajaran siswa melakukan kegiatan filsafat
Dengan penerapan filsafat dalam pembelajaran di sekolah, maka proses
belajar mengajar akan berjalan dengan efektif dan efisien. Filsafat memberikan
keuntungan bagi guru dan juga siswa. Bagi guru, dengan adanya pelajaran filsafat,
maka guru akan lebih memahami karakter dari siswa-siswanya. Belajar filsafat adalah
berpikir, sehingga guru dapat mengetahui sejauh mana pola pikir siswa-siswanya
dalam memahami matematika. Pada pelajaran filsafat, pendidikan karakter juga
tercakup di dalamnya. Pendidikan karakter meliputi material, formal, normatif dan
spiritual. Dan dalam pembelajaran di sekolah, keempat faktor tersebut merupakan
salah satu peran filsafat dalam pembelajaran di sekolah.
Pendidikan Matematika sebagai suatu bidang ilmu tentu mengalami
perkembangan. Bukti perkembangannya dapat ditelusuri melalui hasil-hasil
penelitian, tulisan pada jurnal, bukubuku, atau monograf. Bagaimana trend
(kecenderungan) isu-isunya? Masalah apa yang bisa diselesaikan? Proyek-proyek apa
saja yang sudah terukur efektif? Teori-teori apa yang memberikan solusi masalah?
Pendekatan penyelesaiannya seperti apa?

Mengidentifikasi trend sebenarnya perlu cara sistematis selayak penelitian.


Pertama dirumuskan tinjauan trend-nya misalkan pada tema penelitian atau filosofi
yang mendasari, berapa lama tinjauannya. Kemudian ditentukan bagaimana prosedur
penentuannya, sumbernya apa, dan bagaimana analisisnya. Penyajian dengan grafik
trend akan memberikan bukti bahwa simpulannya kredibel. Pembahasan di sini tidak
demikian. Trend lebih dilihat seperti melihat trend mode baju atau fashion. Melalui
pengamatan dari beberapa sumber seperti artikel jurnal, tulisan-tulisan, atau makalah
seminar, dan pengalaman penulis.

Kita ketahui perkembangan fashion tidak selalu baru dalam arti yang benar-
benar tidak ada. Model-model yang dulu dianggap jadul bisa jadi sekarang up to date.
Dalam penelitian dapat juga terjadi. Tujuannya lebih karena tuntutan untuk
memecahkan masalah dan mungkin perkembangan teknologi atau faktor-faktor lain.
Artikel ini akan membahas pada perkembangan topik/tema penelitian pendidikan
matematika dari beberapa waktu dan penjelasan-penjelasannya.

Menurut Niss (2000), pada tahun 70-an dan awal 80-an hal-hal terkait tujuan
umum (goal), tujuan khusus (aim), dan tujuan pengajaran (objective) menjadi objek
perdebatan dan investigasi: Apa seharusnya tujuan itu? Mengapa? Apa interrelasinya?
Penelitiannya cenderung normatif, mengikuti kategori-kategori yang ditetapkan.
Penelitian tentang peran guru dalam pengajaran sebenarnya sudah diawali sejak tahun
70-an. Tetapi penelitian-penelitian banyak berpusat pada calon guru. Pada tahun 80-
an penelitian tentang peran guru mulai berkembang. Apakah dia sebagai pelaksana
untuk menerapkan suatu kurikulum atau sebagai pembuat kurikulum? Pertengahan
80-an penelitian lebih melihat bagaimana pengaruh persepsi guru terhadap
matematika dan pengajarannya terhadap pengajaran nyatanya di kelas dan siswa
sebagai pebelajar. Termasuk bagaimana keyakinan guru dan bagaimana peran guru
sebagai peneliti. Tema itu berkembang juga pada tahun 90-an sampai saat ini.

Tahun 1990-an sampai 2000-an berkembang kurikulum berbasis standar.


Tinjauan kurikulum didasarkan pada standar tertentu. Meskipun sejak 70-an
penelitian tentang respon siswa terhadap tugas, seperti bagaimana kesalahannya, atau
miskonsepsinya. Saat itu lebih meninjau bagaimana siswa belajar: bagaimana
perkembangannya, prosesnya, langkah-langkah membuktikan. Lebih umum saat ini
berorientasi pada bagaimana konsepsi siswa, formasi konsepsi, dan keyakinannya.

Pemecahan masalah mulai intensif menjadi fokus penelitian pada tahun 1980-
an. Tema lain terkait dengan perkembangan kognitif, seperti perkembangan konsep,
strategi dan perilaku dalam pemecahan masalah, skemata kognitif, penalurian,
karakteristik afektif dan sikap. Pertanyaan seperti “apa yang terjadi di dalam, pada,
dan dengan individu siswa ketika dia belajar dan bekerja dalam menyelesaikan tugas
matematis, serta apa sebabsebab yang mendasari?”. Tema itu berkembang sampai
sekarang apalagi dikaitkan dengan konteks. Terjadi perbedaan gaya belajar jika
matematika dikembangkan dalam suatu konteks dan situasi yang berbeda.

Kita ketahui bahwa siswa maupun guru tinggal berada dalam suatu
masyarakat dengan karakteristik sosio-ekonomik, teknologi, politik, dan budaya yang
beragam termasuk gender, sosial, suku, bahasa, kebiasaan, atau tradisi. Kondisi
demikian mempengaruhi situasi pendidikan termasuk matematika, sehingga menjadi
tema penelitian. Tahun 70-an dan awal 80-an penelitian dimulai terkait pengaruh-
pengaruh gender, sosial, budaya, dan bahasa terhadap pembelajaran dan pengajaran
matematika. Niss (2000) menunjukkan penelitian Fennema and Leder tentang gender
akhir tahun 70-an, Damerow, Howson, Keitel, Mellin-Olsen, and Skovsmose tentang
social dan aspek-aspek isu-isu social pada pertengahan 70-an, D’Ambrosio, Ascher
and Ascher, Bishop, and Gerdes tentang aspek kultural, Clements, Ellerton, Cocking
& Mestre and Secada tentang bahasa pada tahun 80an- dan 90-an. Tahun 90 terkenal
dengan isu ethno-mathematics dan berkembang hingga saat ini. Termasuk studi-studi
tentang cross-cultural studies. Pertanyaan tentang bagaimana perbandingannya,
pandangannya, keberhasilan siswa, strategi pemecahan masalah, atau kecemasan
matematika antar sejumlah negara. Saat ini, dikaitkan dengan tes-tes terstandar
seperti TIMSS dan PISA.

Hannula (2009) memberikan gambaran trend penelitian berdasar berbagai


sumber, yaitu jurnal, organisasi penelitian, konferensi-konferensi, dan buku-buku.
Simpulannya tentang kerangka teoritik menekankan pada aspek psikologi kognitif.
Konstruktivisme yang berkembang sejak tahun 1985 sampai dengan 1995
mendominasi pada semua kerangka teoritik. Teori-teori penghubung juga berkembang
seperti teori APOS, termasuk juga tinjauan sisi sosial dari pendidikan matematika
juga. Trend baru adalah enaktivisme. Enaktivisme memandang bahwa kognisi
muncul atau berkembang melalui interaksi dinamis antara suatu tindakan organisme
(individu) dengan lingkungannya. Lingkungan adalah sesuatuyang diciptakan secara
selektif melalui kapasitas kita yang berinteraksi dengan dunia. Organisme tidak pasif
menerima informasi dari lingkungan, tetapi mereka menerjemahkannya kedalam
representasi-representasi internalnya (en.m.wikipedia,

2014).
E. Matematika Sebagai Ratu dan Pelayan Ilmu

Matematika sebagai ratu ilmu dimaksudkan bahwa matematika adalah sebagai


sumber dari ilmu yang lain. Banyak sekali cabang ilmu pengetahuan yang
pengembangan teori-teorinya didasarkan pada pengembangan konsep matematika.
Sebagai contoh, banyak teori-teori dan cabang-cabang dari fisika dan kimia (modern)
yang ditemukan dan dikembangkan melalui konsep kalkulus, khususnya tentang
persamaan differensial. Contoh lain, teori ekonomi mengenai permintaan dan
penawaran yang dikembangkan melalui konsep fungsi dan kalkulus tentang
differensial dan integral. Dari kedudukan matematika sebagai pelayan ilmu
pengetahuan, tersirat bahwa matematika sebagai suatu ilmu yang berfungsi pula
untuk melayani ilmu pengetahuan. Dapat dikatakan bahwa matematika tumbuh dan
berkembang untuk dirinya sendiri sebagai suatu ilmu dan sebagai penyedia jasa
layanan untuk pengembangan ilmu-ilmu yang lain pula. (Erman Suherman, dkk,
2001:29).

Sebagian besar notasi matematika yang digunakan saat ini tidaklah ditemukan
hingga abad ke-16. Pada abad ke-18, Euler bertanggung jawab atas banyak notasi
yang digunakan saat ini. Notasi modern membuat matematika lebih mudah bagi para
profesional, tetapi para pemula sering menemukannya sebagai sesuatu yang
mengerikan. Terjadi pemadatan yang amat sangat: sedikit lambang berisi informasi
yang kaya. Seperti notasi musik, notasi matematika modern memiliki tata kalimat
yang kaku dan menyandikan informasi yang barangkali sukar bila dituliskan menurut
cara lain.

Bahasa matematika dapat juga terkesan sukar bagi para pemula. Kata-kata
seperti atau dan hanya memiliki arti yang lebih presisi daripada di dalam percakapan
sehari-hari. Selain itu, kata-kata semisal terbuka dan lapangan memberikan arti
khusus matematika. Jargon matematika termasuk istilah-istilah teknis
semisal homeomorfisma dan terintegralkan. Tetapi ada alasan untuk notasi khusus
dan jargon teknis ini: matematika memerlukan presisi yang lebih dari sekadar
percakapan sehari-hari. Para matematikawan menyebut presisi bahasa dan logika ini
sebagai "ketat" atau "kaku" (rigor). Jadi, jika suatu kata sudah dimaknai dengan
makna tertentu, maka selanjutnya kata itu harus merujuk ke makna tadi. Tak boleh
berubah makna. Itulah makna "ketat" ini di bahasa matematika.

Penggunaan bahasa yang ketat secara mendasar merupakan sifat pembuktian


matematika. Para matematikawan ingin teorema mereka mengikuti aksioma-aksioma
dengan maksud penalaran yang sistematik. Ini untuk mencegah "teorema" yang salah
ambil, didasarkan pada praduga kegagalan, di mana banyak contoh pernah muncul di
dalam sejarah subjek ini. Tingkat kekakuan diharapkan di dalam matematika selalu
berubah-ubah sepanjang waktu: bangsa Yunani menginginkan dalil yang terperinci,
namun pada saat itu metode yang digunakan Isaac Newton kuranglah kaku. Masalah
yang melekat pada definisi-definisi yang digunakan Newton akan mengarah kepada
munculnya analisis saksama dan bukti formal pada abad ke-19. Kini, para
matematikawan masih terus beradu argumentasi tentang bukti berbantuan-komputer.
Karena perhitungan besar sangatlah sukar diperiksa, bukti-bukti itu mungkin saja
tidak cukup kaku.

Aksioma menurut pemikiran tradisional adalah "kebenaran yang menjadi


bukti dengan sendirinya", tetapi konsep ini memicu persoalan. Pada tingkatan formal,
sebuah aksioma hanyalah seutas dawai lambang, yang hanya memiliki makna tersirat
di dalam konteks semua rumus yang terturunkan dari suatu sistem aksioma. Inilah
tujuan program Hilbert untuk meletakkan semua matematika pada sebuah basis
aksioma yang kokoh, tetapi menurut Teorema ketaklengkapan Gödel tiap-tiap sistem
aksioma (yang cukup kuat) memiliki rumus-rumus yang tidak dapat ditentukan; dan
oleh karena itulah suatu aksiomatisasi terakhir di dalam matematika adalah mustahil.
Meski demikian, matematika sering dibayangkan (di dalam konteks formal) tidak lain
kecuali teori himpunan di beberapa aksiomatisasi, dengan pengertian bahwa tiap-tiap
pernyataan atau bukti matematika dapat dikemas ke dalam rumus-rumus teori
himpunan.

F. Matematika sebagai ilmu pengetahuan

Carl Friedrich Gauss mengatakan matematika sebagai "Ratunya Ilmu


Pengetahuan". Di dalam bahasa aslinya, Latin Regina Scientiarum, juga di
dalam bahasa Jerman Königin der Wissenschaften, kata yang bersesuaian
dengan ilmu pengetahuan berarti (lapangan) pengetahuan. Jelas, inipun arti asli di
dalam bahasa Inggris, dan tiada keraguan bahwa matematika di dalam konteks ini
adalah sebuah ilmu pengetahuan. Pengkhususan yang mempersempit makna menjadi
ilmu pengetahuan alam adalah pada masa terkemudian. Bila seseorang
memandang ilmu pengetahuan hanya terbatas pada dunia fisika, maka matematika,
atau sekurang-kurangnya matematika murni, bukanlah ilmu pengetahuan.

Albert Einstein menyatakan bahwa "sejauh hukum-hukum matematika


merujuk kepada kenyataan, maka mereka tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti,
mereka tidak merujuk kepada kenyataan."

Banyak filsuf yakin bahwa matematika tidak dapat dibuktikan maupun


disangkal berdasarkan percobaan, dan dengan demikian bukanlah ilmu pengetahuan
menurut definisi Karl Popper. Tetapi, di dalam karya penting tahun 1930-an tentang
logika matematika menunjukkan bahwa matematika tidak bisa direduksi menjadi
logika, dan Karl Popper menyimpulkan bahwa "sebagian besar teori matematika,
seperti halnya fisika dan biologi, adalah hipotetis-deduktif: oleh karena itu
matematika menjadi lebih dekat ke ilmu pengetahuan alam yang hipotesis-
hipotesisnya adalah konjektur (dugaan), lebih daripada sebagai hal yang baru." Para
bijak bestari lainnya, sebut saja Imre Lakatos, telah menerapkan satu
versi pemalsuan kepada matematika itu sendiri.

Sebuah tinjauan alternatif adalah bahwa lapangan-lapangan ilmiah tertentu


(misalnya fisika teoretis) adalah matematika dengan aksioma-aksioma yang ditujukan
sedemikian sehingga bersesuaian dengan kenyataan. Faktanya, seorang fisikawan
teoretis, J. M. Ziman, mengajukan pendapat bahwa ilmu pengetahuan
adalah pengetahuan umum dan dengan demikian matematika termasuk di
dalamnya. Di beberapa kasus, matematika banyak saling berbagi dengan ilmu
pengetahuan fisika, sebut saja penggalian dampak-dampak logis dari beberapa
anggapan. Intuisi dan percobaan juga berperan penting di dalam
perumusan konjektur-konjektur, baik itu di matematika, maupun di ilmu-ilmu
pengetahuan (lainnya).

Matematika percobaan terus bertumbuh kembang, mengingat kepentingannya


di dalam matematika, kemudian komputasi dan simulasi memainkan peran yang
semakin menguat, baik itu di ilmu pengetahuan, maupun di matematika, melemahkan
objeksi yang mana matematika tidak menggunakan metode ilmiah. Di dalam bukunya
yang diterbitkan pada 2002A New Kind of Science, Stephen Wolfram berdalil bahwa
matematika komputasi pantas untuk digali secara empirik sebagai lapangan ilmiah di
dalam haknya/kebenarannya sendiri.

Pendapat-pendapat para matematikawan terhadap hal ini adalah beraneka


macam. Banyak matematikawan merasa bahwa untuk menyebut wilayah mereka
sebagai ilmu pengetahuan sama saja dengan menurunkan kadar kepentingan sisi
estetikanya, dan sejarahnya di dalam tujuh seni liberal tradisional; yang lainnya
merasa bahwa pengabaian pranala ini terhadap ilmu pengetahuan sama saja dengan
memutar-mutar mata yang buta terhadap fakta bahwa antarmuka antara matematika
dan penerapannya di dalam ilmu pengetahuan dan rekayasa telah mengemudikan
banyak pengembangan di dalam matematika.

Satu jalan yang dimainkan oleh perbedaan sudut pandang ini adalah di dalam
perbincangan filsafat apakah matematika diciptakan (seperti di dalam seni)
atau ditemukan (seperti di dalam ilmu pengetahuan). Adalah wajar
bagi universitas bila dibagi ke dalam bagian-bagian yang menyertakan
departemen Ilmu Pengetahuan dan Matematika, ini menunjukkan bahwa lapangan-
lapangan itu dipandang bersekutu tetapi mereka tidak seperti dua sisi keping uang
logam. Pada tataran praktisnya, para matematikawan biasanya dikelompokkan
bersama-sama para ilmuwan pada tingkatan kasar, tetapi dipisahkan pada tingkatan
akhir. Ini adalah salah satu dari banyak perkara yang diperhatikan di dalam filsafat
matematika.

Penghargaan matematika umumnya dipelihara supaya tetap terpisah dari


kesetaraannya dengan ilmu pengetahuan. Penghargaan yang adiluhung di dalam
matematika adalahFields Medal (medali lapangan), dimulakan pada 1936 dan kini
diselenggarakan tiap empat tahunan. Penghargaan ini sering dianggap setara
dengan Hadiah Nobel ilmu pengetahuan.

Wolf Prize in Mathematics, dilembagakan pada 1978, mengakui masa


prestasi, dan penghargaan internasional utama lainnya, Hadiah Abel, diperkenalkan
pada 2003. Ini dianugerahkan bagi ruas khusus karya, dapat berupa pembaharuan,
atau penyelesaian masalah yang terkemuka di dalam lapangan yang mapan.

Sebuah daftar terkenal berisikan 23 masalah terbuka, yang disebut "masalah


Hilbert", dihimpun pada 1900 oleh matematikawan Jerman David Hilbert. Daftar ini
meraih persulangan yang besar di antara para matematikawan, dan paling sedikit
sembilan dari masalah-masalah itu kini terpecahkan.

Sebuah daftar baru berisi tujuh masalah penting, berjudul "Masalah Hadiah
Milenium", diterbitkan pada 2000. Pemecahan tiap-tiap masalah ini berhadiah US$ 1
juta, dan hanya satu (hipotesis Riemann) yang mengalami penggandaan di dalam
masalah-masalah Hilbert

G. Sejarah Munculnya Enaktivisme

Sejak tahun 1990-an menyusul publikasi dari karya The Embodied Mind,
enactivisme telah menjadi semakin popular sebagai teori pembelajaran di antara
peneliti pendidikan matematika. Satu ide sentralnya adalah autopoesis, sifat
komplek sistem dinamis dari spontanitas pengorganisasian diri, berdasarkan
lingkaran umpan balik dan perkembangan dalam respon terhadap umpan balik
tersebut. Mengutip Reid, Ernest menggambarkan Enactivisme sebagai suatu teori
kesadaran mengakui pentingnya individu dalam pembangunan suatu dunia yang
ditinggali, namun penekanannya bahwa struktur coemerges individu dengan dunia
tertentu, dan sebagai suatu sarat untuk, interaksi terus-menerus individu dan
situasi.
Sumber lain enactivism adalah teori dasar tubuh pemikiran melalui peran
metafora, menggambar pada karya George Lakoff dan Mark Johnson (Lakoff dan
Johnson 1980; Johnson 1987). Hal ini mengusulkan bahwa semua pemahaman
manusia, termasuk makna, imajinasi, dan alasan didasarkan pada skema gerakan
tubuh dan persepsi ("image schemata", Johnson 1987: xiv).
Reid (1996: 2) menyatakan bahwa "Ada perbedaan penting harus dibuat,
bagaimanapun, dengan beberapa perspektif konstruktivis. Ini bukan masalah
individu memiliki struktur kognitif, yang menentukan bagaimana individu dapat
berpikir, atau dari sana menjadi struktur konseptual yang menentukan apa konsep-
konsep baru dapat berkembang. Organisme secara keseluruhan adalah struktur
terus berubah yang menentukan tindakan sendiri pada dirinya sendiri dan
dunianya. Visi holistik dari entitas kognitif ini adalah pusat ".
Dalam koleksi terbaru Teori Pendidikan Matematika (Sriraman & Inggris
2010) Paul Ernest membedakan empat filsafat pembelajaran : konstruktivisme
sederhana, konstruktivisme radikal, enaktivisme dan konstruktivisme sosial.
Ernest (2010) mengutip The Embodied Mind (Varela, Thompson & Rosch
1991) sebagai pengaruh asli yang membawa enaktivisme ke dalam pendidikan
matematika dan dia mendaftar Autopoiesis dan kognisi sebagai konsep utama.
Dia mengutip karya Lakoff dan Johnson, seperti yang disampaikan oleh Lakoff
dan Nunez, sebagai "sumber dari enaktivisme "(Ernest 2010: 42). Ernest melihat
enaktivisme tidak begitu berbeda dari epistemologi Piaget dan teori belajar dan
konstruktivisme radikal" (2010: 42). Perbedaan yang dilihat oleh Ernest
dalam enaktivisme adalah peran distribusi metafora oleh Lakoff. Hal ini
menunjukkan bahwa penelitian tentang The Embodied Mathematics telah
menjadi sumber informasi utama bagi Ernest mengenai enaktivisme.
Petunjuk lain untuk komentarnya " Diantara enaktivisme dan konstruktivisme
radikal muncul untuk membagi subordinasi sosial atau dimensi interpersonal"
(2010: 43). Menurut ernest empat konstruktivisme yang utama, yaitu
konstruktivisme biasa, konstruktivisme radikal, enaktivisme dan konstruktivisme
social.

Enaktivisme sebagai teori kognitif menyadari akan pentingnya konstruksi


secara individual dalam dunia, tetapi menekankan pada perkembangan struktur
individu dengan dunia dalam metode dan syarat untuk meneruskan interaksi
antara individu dengan situasi (Reid et al. 2000:1-10)

H. Pengertian Enaktivisme

Enactivisme didasarkan pada model biologis, lebih khusus, kognisi


dipandang sebagai proses biologis. Ernest dengan singkat meneliti
keistimewaan utama Enactivisme dan berpendapat bahwa itu tidak mewakili
perubahan besar dari bentuk-bentuk lain konstruktivisme yang sudah dibahas,
lebih merupakan masalah penekanan. Ia lalu pindah untuk menginformasikan
satu kritik yang menarik perhatian ke suatu kelemahan berpendapat yang dimuat
dalam teori pembelajaran yang termuat dalam metafor sederhana. Secara
singkat argumen ini adalah bahwa metafora dapat mengharuskan berpikir
sebanyak kita bisa.
Enaktivisme berpendapat bahwa kognisi muncul melalui interaksi yang
dinamis antara aktivitas manusia dan lingkungannya. Ini berarti bahwa
lingkungan kita adalah salah satu yang secara selektif kita ciptakan melalui
kapasitas kita untuk berinteraksi dengan dunia. Manusia tidak secara pasif
menerima informasi dari lingkungannya, melainkan mereka
menerjemahkannya ke dalam representasi internal. Penulis berpendapat bahwa
meningkatnya penekanan pada terminologi enaktif menandakan era baru dalam
berpikir tentang ilmu kognitif. Bagaimana suatu tindakan yang terlibat
dalam enaktivisme berhubungan dengan pertanyaan- pertanyaan kuno
tentang kehendak bebas tetap menjadi topik perdebatan saat ini.
Istilah enaktivisme erat kaitannya dengan enaksi. Dimana enaktivisme
didefinisikan sebagai cara berpersepsi seseorang yang secara kreatif
menyocokkan tindakannya dengan situasi lingkungan. Pengenalan istilah
enaksi dalam konteks ini dikaitkan dengan Francisco Varela, Evan Thompson,
dan Eleanor Rosch. Setelah itu hal ini dikembangkan lebih lanjut oleh
Thompson dan lainnya. Thompson mengembangkan ide dimana
pengalaman di dunia adalah hasil dari interaksi antara kapasitas sensorimotor
dari seseorang dan lingkungannya.
Penekanan awal tentang enaktivisme pada keterampilan
sensorimotor telah dikritik sebagai "kognitif marginal", tetapi lalu
enaktivisme diperluas untuk diterapkan pada kegiatan kognitif tingkat
yang lebih tinggi, seperti interaksi sosial. Dalam pandangan enaktivisme,
pengetahuan itu seharusnya dibangun. Pengetahuan itu seharusnya dibangun
melalui interaksi sensorimotor dengan lingkungannya. Dalam hal ini
konstruksinya melalui interaksi yang bermakna antar satu sama lain Dalam
bentuk yang paling abstrak, pengetahuan dikonstruksi individu manusia dalam
interaksi sosial linguistik. Ilmu adalah bentuk tertentu dari konstruksi
pengetahuan sosial yang memungkinkan kita untuk melihat dan
memprediksi peristiwa di luar jangkauan kognitif kita

I. The Embodied Mind

Sejak tahun 1990-an menyusul publikasi dari karya The Embodied


Mind, enaktivisme telah menjadi semakin populer sebagai teori pembelajaran
diantara peneliti pendidikan matematika. Embodied mind merupakan konsep
teori evolusi yang pada dasarnya menyatakan bahwa pikiran manusia
dibentuk dan diatur oleh halnya bahwa pikiran manusia berkeberadaan
dalam tubuh manusia sehingga seluruh pikirannya ditentukan
/dirumuskan berdasarkan filter tubuh tersebut. Dari istilah “embodied” ada
dua poin yang bisa kita ambil yaitu : pertama, kognisi tergantung pada
jenis pengalaman yang datang dengan berbagai kapasitas
sensorimotor, dan kedua bahwa kapasitas sensorimotor individu ini tertanam
menyeluruh dalam konteks biologi, psikologi dan budaya. Filsuf, psikolog,
ilmuwan kognitif, dan peneliti kecerdasan mempelajari “embodied mind”
berpendapat bahwa semua aspek kognisi dibentuk oleh aspek tubuh. Aspek
kognisi meliputi konstruksi tingkat tinggi mental (seperti konsep dan
kategori) dan kinerja manusia pada berbagai tugas kognitif (seperti penalaran
atau penilaian). Aspek tubuh termasuk sistem motorik, sistem perseptual,
interaksi tubuh dengan lingkungan dan asumsi ontologis tentang dunia
yang dibangun ke dalam tubuh dan otak.

J. Enaktivisme Dalam Aspek Filosofis

Enaktivisme adalah salah satu dari kelompok yang berkenaan dengan


teori-teori yang dikenal sebagai 4Es, yang diwujudkan, ditanamkan, dan
disampaikan aspek kognisinya. Itu mengusulkan sebuah alternatif dualisme
sebagai filsafat mental yang menekankan interaksi antara pikiran, tubuh, dan
lingkungan, ketiganya berkaitan dalam proses mental. Pembangunan
individu sebagai proses mewujudkan kesatuan interaksi dengan lingkungan
dengan cara yang tepat ditentukan oleh psikologinya. Pada keadaan ini
individu dapat menjumpai perkembangan atau pembangunan dari interaktif
peran mereka dengan dunia.
Enaksi telah dipandang sebagai langkah untuk menggabungkan
representasionalisme dengan fenomenalisme, yaitu dengan mengadopsi
epistemologi konstruktivisme. Epistemologi berpusat pada partisipasi
aktif dari subyek dalam membangun realitas. Namun, 'konstruktivisme'
berfokus lebih pada 'interaktivitas' sederhana yang bisa digambarkan sebagai
penyesuaian kecil untuk realitas 'asimilat' atau 'mengakomodasi'.
Konstruktivisme memandang interaktivitas sebagai radikal, kreatif, dan
proses revisionis yang membangun sistem pengetahuan pribadi berdasarkan
pengalaman mereka dan diuji oleh kelangsungan hidup dalam interaksi
dengan lingkungan mereka. Belajar adalah hasil dari anomali yang
menghasilkan ketidakpuasan dengan konsepsi yang ada.
Bagaimana konstruktivisme berhubungan dengan enaktivisme? Dari
pernyataan di atas dapat dilihat bahwa Glasersfeld mengekspresikan
interaktivitas antara orang yang mengetahui enaktivis dengan orang yang
cukup diterima dalam enaktivis, tetapi tidak menekankan pada orang yang
mengetahui enaktivis sehingga dapat mengarah ke pengalaman baru. Ini
adalah kegiatan menyelidiki, di mana kegiatan itu tidak direncanakan tapi
disengaja. Ciri enaksi untuk melakukan dan menciptakan sesuatu yang
bersifat menyelidik, baik mengamati dan memodifikasi lingkungan. Sifat
pertanyaan kegiatan menyelidik ini bukan penekanan dari Piaget dan
Glasersfeld.
K. Enaktivisme dalam Aspek pendidikan

Definisi pertama enaktif diperkenalkan oleh psikolog Jerome Bruner,


yang memperkenalkan enaktif sebagai 'learning by doing' dalam diskusi
tentang bagaimana anak-anak belajar, dan bagaimana cara terbaik dapat
membantu mereka untuk belajar. enaktif dikaitkan dengan dua cara lain dari
organisasi pengetahuan yaitu Ikonic dan simbolik.
Setiap domain pengetahuan (atau masalah dalam domain pengetahuan)
dapat direpresentasikan dalam tiga cara: dengan serangkaian tindakan yang
tepat untuk mencapai hasil tertentu (representasi enactive); oleh serangkaian
gambar ringkasan atau grafis yang berdiri untuk Konsep tanpa
mendefinisikan sepenuhnya (representasi ikonik), dan oleh seperangkat
proposisi simbolis atau logika yang diambil dari sistem simbolik yang diatur
oleh peraturan atau undang- undang untuk membentuk dan mengubah
proposisi (representasi simbolis) "
Sriramen berpendapat bahwa enactivisme menyediakan "teori untuk
belajar dan menjadi." dan itu berkaitan erat dengan baik ide-ide
perkembangan kognitif Piaget, dan juga konstruktivisme sosial Vygotsky.
Piaget terfokus di lingkungan terdekat anak, dan menyarankan struktur
kognitif seperti persepsi spasial muncul sebagai akibat dari interaksi anak
dengan dunia. Menurut Piaget, anak mengkonstruksi pengetahuan,
menggunakan apa yang mereka ketahui dengan cara baru dan
mengujinya, dan lingkungan memberikan umpan balik mengenai kecukupan
konstruksi mereka. Dalam konteks budaya, Vygotsky menyatakan bahwa
jenis kognisi yang dapat terjadi tidak ditentukan oleh keterlibatan anak
terisolasi, tetapi juga merupakan fungsi dari interaksi sosial dan dialog yang
bergantung konteks sosio-historis. Enactivisme dalam teori pendidikan
melihat setiap situasi belajar sebagai sistem yang kompleks yang terdiri dari
guru, pelajar, dan konteks, yang semuanya menciptakan situasi belajar.

L. Ketidakjelasan Enaktivisme bagi Pendidikan Matematika

Enaktivisme banyak dikritik karena tidak berhubungan dengan


interaksi sosial. Hal ini membuat enaktivisme menjadi suatu fenomena
yang diragukan kepentingannya dalam pendidikan matematika. Sebagai
contoh, komentar Ernest (2010):
What both enactivism and radical constructivism appear to share is the
subordination of the social or the interpersonal dimension, and indeed the
existence of other persons to constructions and perceived regularities in the
experienced environment. The knowers’ own body might be a given, albeit
emergent, but other persons’ bodies and overall beings are not. Ironically,
language, which is the primary seat of metaphor, is the quintessential social
construction. But language, like other persons, seems to be removed and
exterior to the primary sources of knowledge of the enactive self in these
perspectives.(Ernest 2010: 43).
Ernest, bagaimanapun, tampaknya tidak merujuk pada enaktivisme,
namun lebih merujuk pada Embodied Mathematics. Klaim bahwa bahasa dan
peran orang lain tidak penting bagi enaktivisme jelas salah. Bahkan, justru
pendidik matematika yang pertama menggunakan konsep-konsep dari
enaktivisme dan konstruktivis radikal dan dihubungkan dengan hal yang
merujuk pada fenomena sosial. Hal ini tampaknya telah dilupakan. Bisa jadi
ini merupakan konsekuensi ide enaktivisme yang telah diadopsi dalam
pendidikan matematika sehingga dianggap sebagai konsep terisolasi dan
diadaptasi ke kerangka teoritis lainnya. Konstruktivis radikal telah
mengadopsi konsep domain konsensual, dan konsep embodied cognition
telah diaplikasikan oleh para peneliti yang tertarik pada gerakan, tapi
kelompok lain mengadopsi enaktivisme sabagai suatu kerangka teori. Ini
tidak berarti bahwa enaktivisme sendiri tidak cukup, namun cara yang telah
digunakan oleh konstruktivis radikal dan peneliti embodied mathematics lah
tidak cukup.

M. Apakah Enaktivisme Diperlukan dalam Pendidikan Matematika?

Dalam pendidikan matematika kritik dari enaktivisme dan teoritis


kerangka secara umum lebih sering membahas tentang cara mengatasi
fenomena yang menarik untuk pendidik matematika daripada konsistensi
internal. Namun, dua isu tersebut sebenarnya terkait. Komentar Confrey di
atas menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa teori yang mengatasi belajar
individu dan interaksi sosial tidak berkesinambungan. Pada bagian ini akan
difokuskan pada pertanyaan apakah enaktivisme diperlukan dalam
pendidikan matematika. Diskusi ini memfokuskan untuk
pertimbangan apakah enaktivisme koheren. Awalnya penting untuk
mempertimbangkan sifat teori dalam matematika pendidikan dari dua
perspektif. Teori-teori dalam pendidikan matematika adalah contoh dari apa
yang Bernstein (2000) sebut yaitu "horisontal struktur pengetahuan" dan
keduanya terjadi sebagai teori "besar" dan teori-teori lokal. Ini menetapkan
konteks untuk penerimaan enaktivisme sebagai teori dan batas-batasnya
ketika diterapkan untuk pendidikan matematika.
Kesimpulan

1. Enaktivisme adalah cara berpersepsi seseorang yang secara kreatif


menyocokkan tindakannya dengan situasi lingkungan

2. Enaktivisme berpendapat bahwa kognisi muncul melalui interaksi yang


dinamis antara aktivitas manusia dan lingkungannya

3. Dalam ilmu filsafat, enaksi telah dipandang sebagai langkah untuk


menggabungkan representasionalisme dengan fenomenalisme, yaitu dengan
mengadopsi epistemologi konstruktivisme

4. Ciri enaksi untuk melakukan dan menciptakan sesuatu yang bersifat


menyelidik, baik mengamati dan memodifikasi lingkungan. Sifat pertanyaan
kegiatan menyelidik ini bukan penekanan dari Piaget dan Glasersfeld.

5. Enactivisme dalam teori pendidikan melihat setiap situasi belajar sebagai


sistem yang kompleks yang terdiri dari guru, pelajar, dan konteks, yang
semuanya menciptakan situasi belajar.