Anda di halaman 1dari 19

Katarak Traumatika

Definisi
Katarak traumatik merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada mata yang dapat
merupakan trauma perforasi ataupun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun
beberapa tahun.Katarak traumatik ini dapat muncul akut, subakut, atau pun gejala sisa dari
trauma mata.10

Etiologi
Peluru senapan angin dan petasan merupakan penyebab katarak traumatik paling sering,
sedangkan batu, panah, kontusio, overexposure panas (glassblower’s cataract), dan radiasi ion
merupakan penyebab katarak traumatik yang jarang.4

Insiden
Di Amerika Serikat terjadi kurang lebih sebanyak 2,5 juta trauma mata per tahun. Diperkirakan
sebanyak kurang lebih 4-5% dari jumlah tersebut akan menjadi trauma mata sekunder.5
Perbandingan laki-laki dan perempuan yang mengalami katarak traumatik adalah 4:1. Sementara
itu, kelompok usia yang paling sering terkena adalah anak-anak dan dewasa muda. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh National Eye Trauma System antara tahun 1985-1991, rerata usia
penderita katarak traumatik adalah usia 28 tahun dari 648 kasus yang berhubungan dengan
trauma mata.5

Patogenesis
1. Luka memar/tumpul
Jika terjadi trauma akibat benda keras yang cukup kuat mengenai mata dapat menyebabkan lensa
menjadi opak. Trauma yang disebabkan oleh benturan dengan bola keras adalah salah satu
contohnya. Kadang munculnya katarak dapat tertunda sampai kurun waktu beberapa tahun. Bila
ditemukan katarak unilateral, maka harus dicurigai kemungkinan adanya riwayat trauma
sebelumnya, namun hubungan sebab dan akibat tersebut kadang cukup sulit untuk dibuktikan
dikarenakan tidak adanya tanda-tanda lain yang dapat ditemukan mengenai adanya trauma
sebelumnya tersebut.10
Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun posterior. Kontusio lensa
menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak (imprinting)
yang disebut cincin Vossius.10

Gambar Cincin Vossius11

2. Luka perforasi
Luka perforasi pada mata mempunyai tendensi yang cukup tinggi untuk terbentuknya katarak.
Jika objek yang dapat menyebabkan perforasi (contoh : gelas yang pecah) tembus melalui kornea
tanpa mengenai lensa biasanya tidak memberikan dampak pada lensa, dan bila trauma tidak
menimbulkan suatu luka memar yang signifikan maka katarak tidak akan terbentuk. Hal ini
tentunya juga bergantung kepada penatalaksanaan luka kornea yang hati-hati dan pencegahan
terhadap infeksi, akan tetapi trauma-trauma seperti di atas dapat juga melibatkan kapsul lensa,
yang mengakibatkan keluarnya lensa mata ke bilik anterior.

Urutan dari dampak setelah trauma juga bergantung pada usia pasien. Saat kapsul lensa pada
anak ruptur, maka akan diikuti oleh reaksi inflamasi di bilik anterior dan masa lensa biasanya
secara berangsur-angsur akan diserap, jika tidak ditangani dalam waktu kurang lebih 1 bulan.
Namun demikian, pasien tidak dapat melihat dengan jelas karena sebagian besar dari
kemampuan refraktif mata tersebut hilang. Keadaan ini merupakan konsekuensi yang serius dan
kadang membutuhkan penggunaan lensa buatan intraokular. Bila ruptur lensa terjadi pada
dewasa, juga diikuti dengan reksi inflamasi seperti halnya pada anak namun tendensi untuk
fibrosis jauh lebih tinggi, dan jaringan fribrosis opak yang terbentuk tersebut dapat bertahan dan
menghalangi pupil.10

Trauma tembus akan menimbulkan katarak yang lebih cepat, perforasi kecil akan menutup
dengan cepat akibat proliferasi epitel sehingga bentuk kekeruhan terbatas kecil. Trauma tembus
besar pada lensa akan mengakibatkan terbentuknya katarak dengan cepat disertai dengan
terdapatnya masa lensa di dalam bilik mata.10
Pada keadaan ini akan terlihat secara histopatologik masa lensa yang akan difagosit makrofag
dengan cepatnya, yang dapat memberikan bentuk endoftalmitis fakoanalitik. Lensa dengan
kapsul anterior saja yang pecah akan menjerat korteks lensa sehingga akan mengakibatkan
terbentuknya cincin Soemering atau bila epitel lensa berproliferasi aktif akan terlihat mutiara
Elschnig.10

Gambar Cincin Soemring12

Gambar Mutiara Elschnig13

3. Radiasi sinar
Sinar yang terlihat cenderung tidak menyebabkan timbulnya katarak. Ultraviolet juga mungkin
tidak menyebabkan katarak karena sinar dengan gelombang pendek tidak dapat melewati
atmosfir. Sinar gelombang pendek (tidak terlihat) ini dapat menyebabkan luka bakar kornea
superfisial yang dramatis, yang biasanya sembuh dalam 48 jam. Cedera ini ditandai dengan
“snow blindness” dan “welder’ flash”.

Sinar infra merah yang berkepanjagan (prolong), juga dapat menjadi penyebab katarak, ini dapat
ditemui pada pekerja bahan-bahan kaca dan pekerja baja. Namun penggunaan kacamata
pelindung dapat setidaknya mengeliminasi sinar X ini dan sinar gamma yang juga dapat
mengakibatkan katarak.

Katarak traumatik disebabkan oleh radiasi ini dapat ditemukan pada pasien-pasien yang
mendapat radioterapi (seluruh tubuh) leukemia, namun resiko terjadinya hanya apabila terapi
menggunakan sinar X.10
Seringnya, manifestasi awal dari katarak traumatik ini adalah kekeruhan berbentuk roset (rosette
cataract), biasanya pada daerah aksial yang melibatkan kapsul posterior lensa. Pada beberapa
kasus, trauma tumpul dapat berakibat dislokasi dan pembentukan katarak pada lensa. Katarak
traumatik ringan dapat membaik dengan sendirinya (namun jarang ditemukan).10

4. Kimia
Trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak, selain menyebabkan
kerusakan kornea, konjungtiva, dan iris. Komponen basa yang masuk mengenai mata
menyebabkan peningkatan pH cairan akuos dan menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Hal ini
dapat terjadi secara akut ataupun perlahan-lahan. Trauma kimia dapat juga disebabkan oleh zat
asam, namun karena trauma asam sukar masuk ke bagian dalam mata dibandingkan basa maka
jarang menyebabkan katarak.10

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien. Pada anamnesis
diperoleh sebagai berikut:10
1. Riwayat dan mekanisme trauma, apakah tajam atau tumpul
2. Riwayat keadaan mata sebelumnya, apakah ada riwayat operasi, glakoma, , retinal detachment,
penyakit mata karena gangguan metabolik.
3. Riwayat penyakit lain, seperti diabetes, sickle cell, sindroma marfan, homosistinuria, defisiensi
sulfat oksidase.
4. Keluhan mengenai penglihatan, seperti penurunan visus, pandangan ganda pada satu mata atau
kedua mata, dan nyeri pada mata.
Sementara itu, pada pemeriksaan fisik diperoleh sebagai berikut:10
1. Visus, lapangan pandang, dan pupil
2. Kerusakan ekstraokular - fraktur tulang orbita, gangguan saraf traumatik.
3. Tekanan intraokular - glaukoma sekunder, perdarahan retrobulbar.
4. Bilik anterior - hifema, iritis, iridodonesis, robekan sudut.
5. Lensa - subluksasi, dislokasi, integritas kapsular (anterior dan posterior), katarak (luas dan tipe).
6. Vitreus - ada atau tidaknya perdarahan dan perlepasan vitreus posterior.
7. Fundus - Retinal detachment, ruptur khoroid, perdarahan pre intra dan sub retina, kondisi saraf
optik.

Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:10


1. B-scan - jika pole posterior tidak dapat terlihat.
2. A-scan - sebelum ekstraksi katarak
3. CT scan orbita - adanya fraktur, benda asing, atau kelainan lain.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan katarak traumatik tergantung kepada saat terjadinya. Bila terjadi pada anak
sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya ambliopia. Untuk mencegah ambliopia
pada anak dapat dipasang lensa intra okular primer atau sekunder. Apabila tidak terdapat
penyulit maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Bila terjadi penyulit seperti
glaukoma, uveitis, dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. Penyulit uvetis
dan glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua. Pada beberapa pasien dapat terbentuk cincin
Soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam penglihatan. Keadaan ini dapat disertai
perdarahan, ablasi retina, uveitis, atau salah letak lensa.10

Harus diberikan antibiotik sistemik dan topikal serta kortikosteroid topikal dalam beberapa hari
untuk memperkecil kemungkinan infeksi dan uveitis. Atropin sulfat 1%, 1 tetes 3 kali sehari,
dianjurkan untuk menjaga pupil tetap berdilatasi dan untuk mencegah pembentukan sinekia
posterior.10

Katarak dapat dikeluarkan pada saat pengeluaran benda asing atau setelah peradangan mereda.
Apabila terjadi glaukoma selama periode menuggu, bedah katarak jangan ditunda walaupun
masih terdapat peradangan. Untuk mengeluarkan katarak traumatik, biasanya digunakan teknik-
teknik yang sama dengan yang digunakan untuk mengeluarkan katarak kongenital, terutama pada
pasien berusia kurang dari 30 tahun.10

Merencanakan pendekatan pembedahan sepenuhnya penting pada kasus-kasus katarak traumatik.


Integritas kapsular preoperatif dan stabilitas zonular harus diketahui/ diprediksi. Pada kasus
dislokasi posterior tanpa glaukoma, inflamasi, atau hambatan visual, pembedahan mungkin tidak
diperlukan. Indikasi untuk penatalaksanaan pembedahan pada kasus-kasus katarak traumatik
adalah sebagai berikut:10
1. Penurunan visus yang berat (unacceptable)
2. Hambatan penglihatan karena proses patologis pada bagian posterior.
3. Inflamasi yang diinduksi lensa atau terjadinya glaukoma.
4. Ruptur kapsul dengan edema lensa.
5. Keadaan patologis okular lain yang disebabkan trauma dan membutuhkan tindakan bedah.

Fakoemulsifikasi standar dapat dilakukan bila kapsul lensa intak dan dukungan zonular yang
cukup. Ekstraksi katarak intrakapsular diperlukan pada kasus-kasus dislokasi anterior atau
instabilitas zonular yang ekstrim. Dislokasi anterior lense ke bilik anterior merupakan keadaan
emergensi yang harus segera dilakukan tindakan (removal), karena dapat mengakibatkan
terjadinya pupillary block glaucoma. Lesentomi dan vitrektomi pars plana dapat menjadi pilihan
terbaik pada kasus-kasus ruptur kapsul posterior, dislokasi posterior, atau instabilitas zonular
yang ekstrim.10

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:10
1. Dislokasi lensa dan subluksasi sering ditemukan bersamaan dengan katarak traumatik.
2. Komplikasi lain yang dapat berhubungan, seperti phakolitik, phakomorpik, blok pupil, glaukoma
sudut tertutup, uveitis, retinal detachment, ruptur koroid, hipema, perdarahan retrobulbar,
neurophati optik traumatik.

Prognosis
Prognosis sangat bergantung kepada luasnya trauma yang terjadi pada saat terjadinya trauma dan
kerusakan yang terjadi akibat trauma.10

Daftar Pustaka
1. Oktaviani, Rasalia. Katarak. http://oktavie.wordpress.com/2010/03/15/katarak/. Diakses tanggal
15 Juni 2010.
2. Anonim. Operasi Katarak Tak Lagi Menakutkan. Solo Pos edisi 07 November 2009.
http://www.solopos.com/2009/lifestyle/kesehatan/operasi-katarak-tak-lagi-menakutkan-8817.
Diakses tanggal 12 mei 2010

Katarak Traumatika

Definisi
Katarak traumatik merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada mata yang dapat
merupakan trauma perforasi ataupun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun
beberapa tahun.Katarak traumatik ini dapat muncul akut, subakut, atau pun gejala sisa dari
trauma mata.10

Etiologi
Peluru senapan angin dan petasan merupakan penyebab katarak traumatik paling sering,
sedangkan batu, panah, kontusio, overexposure panas (glassblower’s cataract), dan radiasi ion
merupakan penyebab katarak traumatik yang jarang.4

Insiden
Di Amerika Serikat terjadi kurang lebih sebanyak 2,5 juta trauma mata per tahun. Diperkirakan
sebanyak kurang lebih 4-5% dari jumlah tersebut akan menjadi trauma mata sekunder.5
Perbandingan laki-laki dan perempuan yang mengalami katarak traumatik adalah 4:1. Sementara
itu, kelompok usia yang paling sering terkena adalah anak-anak dan dewasa muda. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh National Eye Trauma System antara tahun 1985-1991, rerata usia
penderita katarak traumatik adalah usia 28 tahun dari 648 kasus yang berhubungan dengan
trauma mata.5

Patogenesis
1. Luka memar/tumpul
Jika terjadi trauma akibat benda keras yang cukup kuat mengenai mata dapat menyebabkan lensa
menjadi opak. Trauma yang disebabkan oleh benturan dengan bola keras adalah salah satu
contohnya. Kadang munculnya katarak dapat tertunda sampai kurun waktu beberapa tahun. Bila
ditemukan katarak unilateral, maka harus dicurigai kemungkinan adanya riwayat trauma
sebelumnya, namun hubungan sebab dan akibat tersebut kadang cukup sulit untuk dibuktikan
dikarenakan tidak adanya tanda-tanda lain yang dapat ditemukan mengenai adanya trauma
sebelumnya tersebut.10

Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun posterior. Kontusio lensa
menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak (imprinting)
yang disebut cincin Vossius.10

Gambar Cincin Vossius11

2. Luka perforasi
Luka perforasi pada mata mempunyai tendensi yang cukup tinggi untuk terbentuknya katarak.
Jika objek yang dapat menyebabkan perforasi (contoh : gelas yang pecah) tembus melalui kornea
tanpa mengenai lensa biasanya tidak memberikan dampak pada lensa, dan bila trauma tidak
menimbulkan suatu luka memar yang signifikan maka katarak tidak akan terbentuk. Hal ini
tentunya juga bergantung kepada penatalaksanaan luka kornea yang hati-hati dan pencegahan
terhadap infeksi, akan tetapi trauma-trauma seperti di atas dapat juga melibatkan kapsul lensa,
yang mengakibatkan keluarnya lensa mata ke bilik anterior.

Urutan dari dampak setelah trauma juga bergantung pada usia pasien. Saat kapsul lensa pada
anak ruptur, maka akan diikuti oleh reaksi inflamasi di bilik anterior dan masa lensa biasanya
secara berangsur-angsur akan diserap, jika tidak ditangani dalam waktu kurang lebih 1 bulan.
Namun demikian, pasien tidak dapat melihat dengan jelas karena sebagian besar dari
kemampuan refraktif mata tersebut hilang. Keadaan ini merupakan konsekuensi yang serius dan
kadang membutuhkan penggunaan lensa buatan intraokular. Bila ruptur lensa terjadi pada
dewasa, juga diikuti dengan reksi inflamasi seperti halnya pada anak namun tendensi untuk
fibrosis jauh lebih tinggi, dan jaringan fribrosis opak yang terbentuk tersebut dapat bertahan dan
menghalangi pupil.10
Trauma tembus akan menimbulkan katarak yang lebih cepat, perforasi kecil akan menutup
dengan cepat akibat proliferasi epitel sehingga bentuk kekeruhan terbatas kecil. Trauma tembus
besar pada lensa akan mengakibatkan terbentuknya katarak dengan cepat disertai dengan
terdapatnya masa lensa di dalam bilik mata.10

Pada keadaan ini akan terlihat secara histopatologik masa lensa yang akan difagosit makrofag
dengan cepatnya, yang dapat memberikan bentuk endoftalmitis fakoanalitik. Lensa dengan
kapsul anterior saja yang pecah akan menjerat korteks lensa sehingga akan mengakibatkan
terbentuknya cincin Soemering atau bila epitel lensa berproliferasi aktif akan terlihat mutiara
Elschnig.10

Gambar Cincin Soemring12

Gambar Mutiara Elschnig13

3. Radiasi sinar
Sinar yang terlihat cenderung tidak menyebabkan timbulnya katarak. Ultraviolet juga mungkin
tidak menyebabkan katarak karena sinar dengan gelombang pendek tidak dapat melewati
atmosfir. Sinar gelombang pendek (tidak terlihat) ini dapat menyebabkan luka bakar kornea
superfisial yang dramatis, yang biasanya sembuh dalam 48 jam. Cedera ini ditandai dengan
“snow blindness” dan “welder’ flash”.

Sinar infra merah yang berkepanjagan (prolong), juga dapat menjadi penyebab katarak, ini dapat
ditemui pada pekerja bahan-bahan kaca dan pekerja baja. Namun penggunaan kacamata
pelindung dapat setidaknya mengeliminasi sinar X ini dan sinar gamma yang juga dapat
mengakibatkan katarak.
Katarak traumatik disebabkan oleh radiasi ini dapat ditemukan pada pasien-pasien yang
mendapat radioterapi (seluruh tubuh) leukemia, namun resiko terjadinya hanya apabila terapi
menggunakan sinar X.10

Seringnya, manifestasi awal dari katarak traumatik ini adalah kekeruhan berbentuk roset (rosette
cataract), biasanya pada daerah aksial yang melibatkan kapsul posterior lensa. Pada beberapa
kasus, trauma tumpul dapat berakibat dislokasi dan pembentukan katarak pada lensa. Katarak
traumatik ringan dapat membaik dengan sendirinya (namun jarang ditemukan).10

4. Kimia
Trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak, selain menyebabkan
kerusakan kornea, konjungtiva, dan iris. Komponen basa yang masuk mengenai mata
menyebabkan peningkatan pH cairan akuos dan menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Hal ini
dapat terjadi secara akut ataupun perlahan-lahan. Trauma kimia dapat juga disebabkan oleh zat
asam, namun karena trauma asam sukar masuk ke bagian dalam mata dibandingkan basa maka
jarang menyebabkan katarak.10

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien. Pada anamnesis
diperoleh sebagai berikut:10
1. Riwayat dan mekanisme trauma, apakah tajam atau tumpul
2. Riwayat keadaan mata sebelumnya, apakah ada riwayat operasi, glakoma, , retinal detachment,
penyakit mata karena gangguan metabolik.
3. Riwayat penyakit lain, seperti diabetes, sickle cell, sindroma marfan, homosistinuria, defisiensi
sulfat oksidase.
4. Keluhan mengenai penglihatan, seperti penurunan visus, pandangan ganda pada satu mata atau
kedua mata, dan nyeri pada mata.
Sementara itu, pada pemeriksaan fisik diperoleh sebagai berikut:10
1. Visus, lapangan pandang, dan pupil
2. Kerusakan ekstraokular - fraktur tulang orbita, gangguan saraf traumatik.
3. Tekanan intraokular - glaukoma sekunder, perdarahan retrobulbar.
4. Bilik anterior - hifema, iritis, iridodonesis, robekan sudut.
5. Lensa - subluksasi, dislokasi, integritas kapsular (anterior dan posterior), katarak (luas dan tipe).
6. Vitreus - ada atau tidaknya perdarahan dan perlepasan vitreus posterior.
7. Fundus - Retinal detachment, ruptur khoroid, perdarahan pre intra dan sub retina, kondisi saraf
optik.

Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:10


1. B-scan - jika pole posterior tidak dapat terlihat.
2. A-scan - sebelum ekstraksi katarak
3. CT scan orbita - adanya fraktur, benda asing, atau kelainan lain.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan katarak traumatik tergantung kepada saat terjadinya. Bila terjadi pada anak
sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya ambliopia. Untuk mencegah ambliopia
pada anak dapat dipasang lensa intra okular primer atau sekunder. Apabila tidak terdapat
penyulit maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Bila terjadi penyulit seperti
glaukoma, uveitis, dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. Penyulit uvetis
dan glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua. Pada beberapa pasien dapat terbentuk cincin
Soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam penglihatan. Keadaan ini dapat disertai
perdarahan, ablasi retina, uveitis, atau salah letak lensa.10

Harus diberikan antibiotik sistemik dan topikal serta kortikosteroid topikal dalam beberapa hari
untuk memperkecil kemungkinan infeksi dan uveitis. Atropin sulfat 1%, 1 tetes 3 kali sehari,
dianjurkan untuk menjaga pupil tetap berdilatasi dan untuk mencegah pembentukan sinekia
posterior.10

Katarak dapat dikeluarkan pada saat pengeluaran benda asing atau setelah peradangan mereda.
Apabila terjadi glaukoma selama periode menuggu, bedah katarak jangan ditunda walaupun
masih terdapat peradangan. Untuk mengeluarkan katarak traumatik, biasanya digunakan teknik-
teknik yang sama dengan yang digunakan untuk mengeluarkan katarak kongenital, terutama pada
pasien berusia kurang dari 30 tahun.10
Merencanakan pendekatan pembedahan sepenuhnya penting pada kasus-kasus katarak traumatik.
Integritas kapsular preoperatif dan stabilitas zonular harus diketahui/ diprediksi. Pada kasus
dislokasi posterior tanpa glaukoma, inflamasi, atau hambatan visual, pembedahan mungkin tidak
diperlukan. Indikasi untuk penatalaksanaan pembedahan pada kasus-kasus katarak traumatik
adalah sebagai berikut:10
1. Penurunan visus yang berat (unacceptable)
2. Hambatan penglihatan karena proses patologis pada bagian posterior.
3. Inflamasi yang diinduksi lensa atau terjadinya glaukoma.
4. Ruptur kapsul dengan edema lensa.
5. Keadaan patologis okular lain yang disebabkan trauma dan membutuhkan tindakan bedah.

Fakoemulsifikasi standar dapat dilakukan bila kapsul lensa intak dan dukungan zonular yang
cukup. Ekstraksi katarak intrakapsular diperlukan pada kasus-kasus dislokasi anterior atau
instabilitas zonular yang ekstrim. Dislokasi anterior lense ke bilik anterior merupakan keadaan
emergensi yang harus segera dilakukan tindakan (removal), karena dapat mengakibatkan
terjadinya pupillary block glaucoma. Lesentomi dan vitrektomi pars plana dapat menjadi pilihan
terbaik pada kasus-kasus ruptur kapsul posterior, dislokasi posterior, atau instabilitas zonular
yang ekstrim.10

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:10
1. Dislokasi lensa dan subluksasi sering ditemukan bersamaan dengan katarak traumatik.
2. Komplikasi lain yang dapat berhubungan, seperti phakolitik, phakomorpik, blok pupil, glaukoma
sudut tertutup, uveitis, retinal detachment, ruptur koroid, hipema, perdarahan retrobulbar,
neurophati optik traumatik.

Prognosis
Prognosis sangat bergantung kepada luasnya trauma yang terjadi pada saat terjadinya trauma dan
kerusakan yang terjadi akibat trauma.10
Daftar Pustaka
1. Oktaviani, Rasalia. Katarak. http://oktavie.wordpress.com/2010/03/15/katarak/. Diakses tanggal
15 Juni 2010.
2. Anonim. Operasi Katarak Tak Lagi Menakutkan. Solo Pos edisi 07 November 2009.
http://www.solopos.com/2009/lifestyle/kesehatan/operasi-katarak-tak-lagi-menakutkan-8817.
Diakses tanggal 12 mei 2010

Katarak Traumatika

Definisi
Katarak traumatik merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada mata yang dapat
merupakan trauma perforasi ataupun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun
beberapa tahun.Katarak traumatik ini dapat muncul akut, subakut, atau pun gejala sisa dari
trauma mata.10

Etiologi
Peluru senapan angin dan petasan merupakan penyebab katarak traumatik paling sering,
sedangkan batu, panah, kontusio, overexposure panas (glassblower’s cataract), dan radiasi ion
merupakan penyebab katarak traumatik yang jarang.4

Insiden
Di Amerika Serikat terjadi kurang lebih sebanyak 2,5 juta trauma mata per tahun. Diperkirakan
sebanyak kurang lebih 4-5% dari jumlah tersebut akan menjadi trauma mata sekunder.5
Perbandingan laki-laki dan perempuan yang mengalami katarak traumatik adalah 4:1. Sementara
itu, kelompok usia yang paling sering terkena adalah anak-anak dan dewasa muda. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh National Eye Trauma System antara tahun 1985-1991, rerata usia
penderita katarak traumatik adalah usia 28 tahun dari 648 kasus yang berhubungan dengan
trauma mata.5

Patogenesis
1. Luka memar/tumpul
Jika terjadi trauma akibat benda keras yang cukup kuat mengenai mata dapat menyebabkan lensa
menjadi opak. Trauma yang disebabkan oleh benturan dengan bola keras adalah salah satu
contohnya. Kadang munculnya katarak dapat tertunda sampai kurun waktu beberapa tahun. Bila
ditemukan katarak unilateral, maka harus dicurigai kemungkinan adanya riwayat trauma
sebelumnya, namun hubungan sebab dan akibat tersebut kadang cukup sulit untuk dibuktikan
dikarenakan tidak adanya tanda-tanda lain yang dapat ditemukan mengenai adanya trauma
sebelumnya tersebut.10

Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun posterior. Kontusio lensa
menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak (imprinting)
yang disebut cincin Vossius.10

Gambar Cincin Vossius11

2. Luka perforasi
Luka perforasi pada mata mempunyai tendensi yang cukup tinggi untuk terbentuknya katarak.
Jika objek yang dapat menyebabkan perforasi (contoh : gelas yang pecah) tembus melalui kornea
tanpa mengenai lensa biasanya tidak memberikan dampak pada lensa, dan bila trauma tidak
menimbulkan suatu luka memar yang signifikan maka katarak tidak akan terbentuk. Hal ini
tentunya juga bergantung kepada penatalaksanaan luka kornea yang hati-hati dan pencegahan
terhadap infeksi, akan tetapi trauma-trauma seperti di atas dapat juga melibatkan kapsul lensa,
yang mengakibatkan keluarnya lensa mata ke bilik anterior.

Urutan dari dampak setelah trauma juga bergantung pada usia pasien. Saat kapsul lensa pada
anak ruptur, maka akan diikuti oleh reaksi inflamasi di bilik anterior dan masa lensa biasanya
secara berangsur-angsur akan diserap, jika tidak ditangani dalam waktu kurang lebih 1 bulan.
Namun demikian, pasien tidak dapat melihat dengan jelas karena sebagian besar dari
kemampuan refraktif mata tersebut hilang. Keadaan ini merupakan konsekuensi yang serius dan
kadang membutuhkan penggunaan lensa buatan intraokular. Bila ruptur lensa terjadi pada
dewasa, juga diikuti dengan reksi inflamasi seperti halnya pada anak namun tendensi untuk
fibrosis jauh lebih tinggi, dan jaringan fribrosis opak yang terbentuk tersebut dapat bertahan dan
menghalangi pupil.10

Trauma tembus akan menimbulkan katarak yang lebih cepat, perforasi kecil akan menutup
dengan cepat akibat proliferasi epitel sehingga bentuk kekeruhan terbatas kecil. Trauma tembus
besar pada lensa akan mengakibatkan terbentuknya katarak dengan cepat disertai dengan
terdapatnya masa lensa di dalam bilik mata.10

Pada keadaan ini akan terlihat secara histopatologik masa lensa yang akan difagosit makrofag
dengan cepatnya, yang dapat memberikan bentuk endoftalmitis fakoanalitik. Lensa dengan
kapsul anterior saja yang pecah akan menjerat korteks lensa sehingga akan mengakibatkan
terbentuknya cincin Soemering atau bila epitel lensa berproliferasi aktif akan terlihat mutiara
Elschnig.10

Gambar Cincin Soemring12

Gambar Mutiara Elschnig13

3. Radiasi sinar
Sinar yang terlihat cenderung tidak menyebabkan timbulnya katarak. Ultraviolet juga mungkin
tidak menyebabkan katarak karena sinar dengan gelombang pendek tidak dapat melewati
atmosfir. Sinar gelombang pendek (tidak terlihat) ini dapat menyebabkan luka bakar kornea
superfisial yang dramatis, yang biasanya sembuh dalam 48 jam. Cedera ini ditandai dengan
“snow blindness” dan “welder’ flash”.

Sinar infra merah yang berkepanjagan (prolong), juga dapat menjadi penyebab katarak, ini dapat
ditemui pada pekerja bahan-bahan kaca dan pekerja baja. Namun penggunaan kacamata
pelindung dapat setidaknya mengeliminasi sinar X ini dan sinar gamma yang juga dapat
mengakibatkan katarak.

Katarak traumatik disebabkan oleh radiasi ini dapat ditemukan pada pasien-pasien yang
mendapat radioterapi (seluruh tubuh) leukemia, namun resiko terjadinya hanya apabila terapi
menggunakan sinar X.10

Seringnya, manifestasi awal dari katarak traumatik ini adalah kekeruhan berbentuk roset (rosette
cataract), biasanya pada daerah aksial yang melibatkan kapsul posterior lensa. Pada beberapa
kasus, trauma tumpul dapat berakibat dislokasi dan pembentukan katarak pada lensa. Katarak
traumatik ringan dapat membaik dengan sendirinya (namun jarang ditemukan).10

4. Kimia
Trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak, selain menyebabkan
kerusakan kornea, konjungtiva, dan iris. Komponen basa yang masuk mengenai mata
menyebabkan peningkatan pH cairan akuos dan menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Hal ini
dapat terjadi secara akut ataupun perlahan-lahan. Trauma kimia dapat juga disebabkan oleh zat
asam, namun karena trauma asam sukar masuk ke bagian dalam mata dibandingkan basa maka
jarang menyebabkan katarak.10

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien. Pada anamnesis
diperoleh sebagai berikut:10
1. Riwayat dan mekanisme trauma, apakah tajam atau tumpul
2. Riwayat keadaan mata sebelumnya, apakah ada riwayat operasi, glakoma, , retinal detachment,
penyakit mata karena gangguan metabolik.
3. Riwayat penyakit lain, seperti diabetes, sickle cell, sindroma marfan, homosistinuria, defisiensi
sulfat oksidase.
4. Keluhan mengenai penglihatan, seperti penurunan visus, pandangan ganda pada satu mata atau
kedua mata, dan nyeri pada mata.
Sementara itu, pada pemeriksaan fisik diperoleh sebagai berikut:10
1. Visus, lapangan pandang, dan pupil
2. Kerusakan ekstraokular - fraktur tulang orbita, gangguan saraf traumatik.
3. Tekanan intraokular - glaukoma sekunder, perdarahan retrobulbar.
4. Bilik anterior - hifema, iritis, iridodonesis, robekan sudut.
5. Lensa - subluksasi, dislokasi, integritas kapsular (anterior dan posterior), katarak (luas dan tipe).
6. Vitreus - ada atau tidaknya perdarahan dan perlepasan vitreus posterior.
7. Fundus - Retinal detachment, ruptur khoroid, perdarahan pre intra dan sub retina, kondisi saraf
optik.

Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:10


1. B-scan - jika pole posterior tidak dapat terlihat.
2. A-scan - sebelum ekstraksi katarak
3. CT scan orbita - adanya fraktur, benda asing, atau kelainan lain.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan katarak traumatik tergantung kepada saat terjadinya. Bila terjadi pada anak
sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya ambliopia. Untuk mencegah ambliopia
pada anak dapat dipasang lensa intra okular primer atau sekunder. Apabila tidak terdapat
penyulit maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Bila terjadi penyulit seperti
glaukoma, uveitis, dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. Penyulit uvetis
dan glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua. Pada beberapa pasien dapat terbentuk cincin
Soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam penglihatan. Keadaan ini dapat disertai
perdarahan, ablasi retina, uveitis, atau salah letak lensa.10

Harus diberikan antibiotik sistemik dan topikal serta kortikosteroid topikal dalam beberapa hari
untuk memperkecil kemungkinan infeksi dan uveitis. Atropin sulfat 1%, 1 tetes 3 kali sehari,
dianjurkan untuk menjaga pupil tetap berdilatasi dan untuk mencegah pembentukan sinekia
posterior.10

Katarak dapat dikeluarkan pada saat pengeluaran benda asing atau setelah peradangan mereda.
Apabila terjadi glaukoma selama periode menuggu, bedah katarak jangan ditunda walaupun
masih terdapat peradangan. Untuk mengeluarkan katarak traumatik, biasanya digunakan teknik-
teknik yang sama dengan yang digunakan untuk mengeluarkan katarak kongenital, terutama pada
pasien berusia kurang dari 30 tahun.10

Merencanakan pendekatan pembedahan sepenuhnya penting pada kasus-kasus katarak traumatik.


Integritas kapsular preoperatif dan stabilitas zonular harus diketahui/ diprediksi. Pada kasus
dislokasi posterior tanpa glaukoma, inflamasi, atau hambatan visual, pembedahan mungkin tidak
diperlukan. Indikasi untuk penatalaksanaan pembedahan pada kasus-kasus katarak traumatik
adalah sebagai berikut:10
1. Penurunan visus yang berat (unacceptable)
2. Hambatan penglihatan karena proses patologis pada bagian posterior.
3. Inflamasi yang diinduksi lensa atau terjadinya glaukoma.
4. Ruptur kapsul dengan edema lensa.
5. Keadaan patologis okular lain yang disebabkan trauma dan membutuhkan tindakan bedah.

Fakoemulsifikasi standar dapat dilakukan bila kapsul lensa intak dan dukungan zonular yang
cukup. Ekstraksi katarak intrakapsular diperlukan pada kasus-kasus dislokasi anterior atau
instabilitas zonular yang ekstrim. Dislokasi anterior lense ke bilik anterior merupakan keadaan
emergensi yang harus segera dilakukan tindakan (removal), karena dapat mengakibatkan
terjadinya pupillary block glaucoma. Lesentomi dan vitrektomi pars plana dapat menjadi pilihan
terbaik pada kasus-kasus ruptur kapsul posterior, dislokasi posterior, atau instabilitas zonular
yang ekstrim.10

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:10
1. Dislokasi lensa dan subluksasi sering ditemukan bersamaan dengan katarak traumatik.
2. Komplikasi lain yang dapat berhubungan, seperti phakolitik, phakomorpik, blok pupil, glaukoma
sudut tertutup, uveitis, retinal detachment, ruptur koroid, hipema, perdarahan retrobulbar,
neurophati optik traumatik.

Prognosis
Prognosis sangat bergantung kepada luasnya trauma yang terjadi pada saat terjadinya trauma dan
kerusakan yang terjadi akibat trauma.10

Daftar Pustaka
1. Oktaviani, Rasalia. Katarak. http://oktavie.wordpress.com/2010/03/15/katarak/. Diakses tanggal
15 Juni 2010.
2. Anonim. Operasi Katarak Tak Lagi Menakutkan. Solo Pos edisi 07 November 2009.
http://www.solopos.com/2009/lifestyle/kesehatan/operasi-katarak-tak-lagi-menakutkan-8817.
Diakses tanggal 12 mei 2010

Anda mungkin juga menyukai