Anda di halaman 1dari 3

[DRAFT]

Sungai adalah alur bagi air yang merupakan sumber utama kehidupan makhluk hidup. Ibarat
sebuah wadah, sungai tentunya harus dijaga bentuk dan kebersihannya agar air yang
ditampung terjaga kuantitas dan kualitasnya. Sungai di dunia khususnya Indonesia merupakah
salah yang terbaik. Namun saat ini bagaimana kondisi sungai di negeri ini? Apakah kondisinya
masih seperti dahulu? Lebih baik atau lebih buruk?

Faktanya hampir seluruh sungai di Indonesia memiliki kondisi yang memprihatinkan. Sungai
yang dulu indah dipandang, memberikan kesejukan serta mendamaikan jiwa dan raga kini
menjadi bentang alam yang dihindari karena berbau tak sedap, berwarna gelap dan sumber
penyakit.

Sungai Citarum di Provinsi Jawa Barat misalnya, sungai yang memiliki panjang kurang lebih
300 Km ini menjadi sungai terkotor didunia menurut World Bank. Sekotor itukah? mungkin jika
ragu dengan predikat tersebut, cobalah melihat video dokumenter dua bersaudara
berkebangsaan Prancis bernama Gary dan Sam Bencheghib berikut.

https://www.youtube.com/watch?v=c8Hv15bV5lw

Melihat video dokumenter tersebut, tentu kita akan menerima bahwa predikat sungai terkotor
didunia yang disematkan menjadi sangat layak. Lalu apa yang sebenarnya membuat Sungai
Citarum menjadi sungai terkotor di dunia? Fakta dari Koalisi Masyarakat Melawan Limbah
mengatakan bahwa limbah – limbah pelaku industri tidak bertanggung jawab yang dibuang
langsung kedalam aliran Sungai Citarum menjadi penyebab utama selain pola pikir masyarakat
yang kurang peduli terhadap lingkungan.

TEGAS !
Mengubah predikat terkotor menjadi predikat terbersih bukanlah hal yang mudah mengingat
kompleksitas masalah pada Sungai Citarum. Namun bukanlah hal yang mustahil asalkan
Pemerintah benar – benar tegas terhadap aturan yang berlaku. Khusus untuk industri misalnya,
penegakan hukum menjadi alternatif terbaik saat ini sembari menunggu relokasi penempatan
industri yang dicanangkan Pemerintah.

Penegakan hukum menjadi alternatif terbaik karena bila melihat infrastruktur pengolahan limbah
atau biasa disebut Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), tentu industri – industri dikawasan
Sungai Citarum telah memiliki IPAL mengingat industri – industri dikawasan tersebut tidak
tergolong industri kecil yang tidak wajib IPAL. Namun karena alasan untung rugi oknum –
oknum pelaku industri tidak mengoperasikan IPAL tersebut dan membuang langsung limbahnya
ke alur Sungai Citarum. Oleh karena itu, Pemerintah harus tegas dan tidak boleh galau dengan
berbagai macam gertakan – gertakan dari para pelaku industri nakal ini, mengingat kerugian
negara telah mencapai trilyunan rupiah.
Data dari Koalisi Melawan Limbah terdiri dari Paguyuban Warga Peduli Lingkungan
(Pawapelling), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi)
Jawa Barat, dan Greenpeace Indonesia, bekerja sama dengan tim peneliti dari Institut Ekologi
Universitas Padjajaran ditahun 2017 yang lalu memperkirakan kerugian negara akibat
pencemaran industri sebesar Rp11,4 triliun terdiri dari perkiraan biaya remediasi yang
dibutuhkan untuk pemulihan 933,8 ha lahan tercemar sebesar Rp8.045.421.090.700. Ditambah
lagi total kerugian masyarakat sejak 2004 hingga 2015 sebesar Rp3.339.695.473.968 yang
berasal dari kerugian di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehatan,
kerugian karena kehilangan jasa air, penurunan kualitas udara dan kehilangan pendapatan.
Kerugian tentu akan bertambah mengingat valuasi tersebut hanya pada Kawasan Rancaekek,
Kabupaten Bandung, belum pada kawasan – kawasan lain sepanjang aliran Sungai Ciliwung.

Banjir abadi, apa yang salah?

Jika penegakan hukum diatas lebih ditekankan untuk menjaga kualitas air Sungai Citarum, lalu
bagaimana dengan kuantitasnya? Apakah pengelolaan yang sedang atau akan dilakukan dapat
menjamin kuantitas dan mampu mengurangi dampak banjir yang terjadi setiap tahunnya?

Dikutip dari Mongabay.co.id (2018) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
(PUPR) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum melakukan langkah struktural
seperti melakukan normalisasi Sungai Citarum hulu (2017-2019) dengan anggaran Rp78 miliar,
pembangunan floodway Cisangkuy paket I dan II (2015-2019) dengan anggaran Rp311 miliar
dan Rp 320 miliar.

Selain itu Normalisasi juga dilakukan di beberapa anak sungai Citarum seperti Sungai Cimande,
Sungai Cikijing, dan Sungai Cikeruh dengan masing – masing anggaran sebesar Rp93,15
miliar, Rp92,56 miliar, dan Rp53,31 miliar yang ditargetkan rampung pada tahun 2018 diikuti
pembangunan Embung Gedebage di Kota Bandung dengan anggaran Rp85,48 miliar.

Pembangunan Kolam Retensi sebagai pengendali banjir juga digencarkan di Bandung Selatan
dengan anggaran Rp203,83 miliar dan diproyeksikan mampu menampung limpasan Sungai
Citarum di daerah Dayeuhkolot dan Baleendah sekitar 1 meter dan mengurangi luas genangan
dari semula 342 hektar menjadi 41 hektar.

Kemudian sekitar 30 kilometer dari Kolam Retensi Cieuteung, BBWS Citarum juga tengah
melakukan pembangunan terowongan atau tunnel di Curug Jompong yang rencananya
rampung pada 2019 mendatang dengan anggaran sebesar Rp352 miliar untuk panjang
terowongan 2×230 meter, berfungsi mempercepat laju arus Sungai Citarum.

Namun kembali kepertanyaan awal diatas “Apakah pengelolaan yang sedang atau akan
dilakukan dapat menjamin kuantitas dan mampu mengurangi dampak banjir yang terjadi setiap
tahunnya?” Belum tentu, karena menurut hemat saya pribadi yang akan berdampak signifikan
terhadap permasalahan yang ada hanya pada proyek – proyek seperti normalisasi (dalam arti
merenaturalisasi sungai), pembangunan embung, dan pembangunan kolam retensi. Selebihnya
proyek pembangunan floodway, dan terowongan perlu kajian mendalam oleh Pemerintah.

Hal ini menjadi penting karena apabila pembangunan floodway dan terowongan diperuntukkan
untuk mempercepat air menuju hilir, maka tentu hal tersebut bukanlah solusi melainkan hanya
memindahkan masalah ketempat lain dan menimbulkan masalah – masalah baru seperti
kekeringan dll. Sehingga alangkah lebih baik gercar melakukan normalisasi, memperbanyak
pembangunan embung, serta kolam retensi karena kaidah – kaidah konservasi sumberdaya air
akan lebih ditekankan dan tentu permasalahan – permasalahan yang ada akan dapat diatasi
secara perlahan.

Sekian tulisan ini dibuat sebagai kritik dan harapan di 73 tahun negara ini merdeka. Semoga
menambah wawasan dan kepedulian bersama terhadap Sungai Citarum mengingat target
Citarum Harum pada tahun 2025 haruslah dapat dicapai dan menjadi model pengelolaan
sungai – sungai di tingkat regional maupun internasional. Salam lestari.