Anda di halaman 1dari 15

ILMU PENYAKIT DALAM VETERINER I

“PENYAKIT PLEURITIS”

OLEH :
KELOMPOK 5

 PUTU AYU DINA ( 1609511054 )


 I MADE KERTA PRATAMA ( 1609511058 )
 NI WAYAN SURYANADI ( 1609511066 )
 SATRIA AJI PRATAMA ( 1609511087 )
 RANI UTAMI PUTRI ( 1609511088 )
 I KOMANG ARI WINDHU SANCAYA ( 1609511102 )
 ADE HARY WIWEKA ( 1609514084 )

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala berkat dan kuasa-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan ini
dengan baik.
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi salah satu kriteria penilaian untuk mata
kuliah Ilmu Penyakit Dalam Veteriner I , Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas
Udayana. Adapun dalam penulisan ini membahas mengenai penyakit Pleuritis atau
Radang Pleura.
Segala kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kebaikan dari tulisan
ini dan penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih.

Denpasar,

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................... ii


Daftar isi .............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ............................................................................................ 1
1.2 Rumusan masalah ....................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi........................................................................................................ 3
2.2 Patogenesis ................................................................................................. 4
2.3 Etiologi ........................................................................................................ 5
2.4 Gejala Klinis ................................................................................................. 7
2.5 Diagnosa ...................................................................................................... 8
2.6 Pengobatan ................................................................................................... 9
BAB III PENUTUP
4.1 Kesimpulan ............................................................................................... 11
4.2 Saran........................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 12

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pleura merupakan lapisan pembungkus paru (pulmo). Dimana antara pleura
yang membungkus pulmo dextra et sinistra dipisahkan oleh adanya
mediastinum. Fungsi mekanis pleura adalah meneruskan tekanan negatif
thoraks kedalam paru-paru, sehingga paru-paru yang elastis dapat
mengembang. Selain fungsi mekanis, seperti telah disinggung diatas, rongga
pleura steril karena mesothelial bekerja melakukan fagositosis benda asing; dan
cairan yang diproduksinya bertindak sebagai lubrikans.
Pleuritis / radang pleura (Pleurisy/Pleurisis/ Pleuritic chest pain) adalah
suatu peradangan pada pleura (selaput yang menyelubungi permukaan paru-
paru). Radang pleura dapat berlangsung secara subakut, akut atau kronis,
dengan ditandai perubahan proses pernafasan yang intensitasnya tergantung
pada beratnya proses radang.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari paper ini yaitu:
1. Apa pengertian dari penyakit pleuritis ?
2. Bagaimana patofisiologis dari penyakit pleuritis ?
3. Bagaimana etiologi dari penyakit pleuritis ?
4. Bagaimana gejala klinis dari penyakit pleuritis?
5. Bagaimana diagnosis dari penyakit pleuritis?
6. Bagaimana pengobatan dan pencegahan dari penyakit pleuritis ?

1
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan dan manfaat penulisan dari paper ini yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian dari pleuritis.
2. Untuk mengetahui patofisiologis dari penyakit pleuritis.
3. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit pleuritis.
4. Untuk mengetahui gejala klinis penyakit pleuritis.
5. Untuk mengetahui bagaimana diagnosis dari penyakit pleuritis.
6. Untuk mengetahui bagaimana pengobatan dan pencegahan dari penyakit
pleuritis.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.I. DEFINISI PENYAKIT

Pleuritis / radang pleura (Pleurisy/Pleurisis/ Pleuritic chest pain) adalah


suatu peradangan pada pleura (selaput yang menyelubungi permukaan paru-paru).
Radang pleura dapat berlagsung secara subakut, akut atau kronois,
denganditandai perubahan proses pernafasan yang intensitasnya tergantung pada
beratnya prosesradang. Pada yang berlangsung subakut proses radang biasanya
dibarengi denganempiema serta mengakibatkan layuhnya sebagian paru-paru,
hingga pernafasan akanmengalami kesulitan (dispnoea). Biasanya pernafasan
bersifat cepat dan dangkal. Padayang berlangsung akut penderita mengalami
kesakitan waktu bernafas hingga pernafasan jadi dangkal, cepat serta bersifat
abdominal. Yang berlangsung kronis, pada waktuistirahat tidaktampak adanya
perubahan pada proses pernafasannya.Bila disertai dengan penimbunan cairan di
rongga pleura maka disebut efusi pleura tetapi bila tidak terjadi penimbunan cairan
di rongga pleura, maka disebut pleurisikering.Setelah terjadi peradangan, pleura
bisa kembali normal atau terjadi perlengketan.
Pleuritis kronis (CP) berkembang dari pleuro-Pneumonia adalah temuan
umum pada hewan potong (Christensen & Enø 1999), dan CP terletak di bagian
dorso-caudal paru-paru dianggap sangat sugestif dari lesi pleuropneumonic
sebelumnya (Sørensen et al 2006). Pada tahun 1998, sekitar 27% dari babi yang
disembelih di Denmark memiliki CP pada bagian dorso-caudal paru-paru
(Christensen & Enø 1999).Terjadinya CP telah ditemukan sebagai berhubungan
dengan manajemen dan karakteristik kawanan (Mousing et al 1990; Cleveland-
Nielsen et al 2002.; Enøe et al. 2002), dan prevalensi lesi dapat dikurangi dengan
mengambil tindakan pencegahan.

3
2.2 PATOGENESIS
Adanya radang pleura yang bersifat awal, sebelum terbentuknya cairan
eksudasi radang, kedua lapisan pleura, yaitu pleura parietalis dan visceralis, saling
bergesekan oleh karena keduanya mengalami penebalan. Gesekan antara keduanya
akan menimbulkan suara friksi dalam pemeriksaan auskultasi. Pada proses yang
berlangsung akut, rasa sakit terjadi sebagai akibat meningkatnya kepekaan syaraf
sensoris pada pleura yang mengalami radang. Hal tersebut menyebabkan kurang
leluasanya pengembangan dinding dada, hingga pernafasan lebih banyak dilakukan
oleh otot-otot perut (pernafasan abdominal). Untuk mengurangi rasa sakit,
pernafasan dilakukan dengan cepat dan intensitas yang dangkal. Oleh adanya cairan
yang kemudian terbentuk, sebagai produk radang, volume rongga pleura berkurang
dan tekanan negatif di dalamnya akan berkurang. Hal terakhir mengakibatkan
kemampuan berkembang dari alveoli paru-paru juga menurun, dan hal tersebut
mengakibatkan penderita cepat menjadi lelah meskipun hanya melakukan kerja
fisik yang ringan.

Penyebab dari pleuritis mungkin adalah infeksi pleura kronis yang


menyebar melalui abses paru.( Naoaki Yamada et. al, 2013). Bagian paru-paru
yang tercelup di dalam cairan radang, yang sifatnya purulen, mukopurulen, atau
serosanguineus, akan cepat mengalami disfungsi dan mengalami atelektasis. Lobus
paru-paru yang paling sering menderita atelektasis adalah lobus ventralis. Dalam
keadaan demikian, bagian paru-paru tersebut tidak lagi berfungsi, dan untuk
menutupi kebutuhan oksigen akan diikuti dengan kerja lebih, sebagai kompensasi,
dari jaringa paru-paru yang lain. Jantung yang tercelup di dalam cairan radang juga
akan mengalami degenerasi, hingga gejala kelemahan jantung juga akan dapat
diamati. Kompresi cairan atas jantung, terutama pada atriumnya, menyebabkan
bendungan pada vena-vena yang besar, antara lain vena jugularis. Bendungan
tersebut akan dilihat dari luar dengan mudah.
Mungkin cairan radang dapat mengalami penyerapan, hingga pleura yang
meradang menjadi ”kering”. Dalam keadaan demikian biasanya terjadi adesi pada
pleura hingga menyebabkan pertautan paru-paru dengan dinding dada, yang

4
selanjutnya hal tersebut menyebabkan penurunan kemampuan paru-paru untuk
berkembang sesuai dengan kemampuan normalnya. Gejala-gejala perubahan
pernafasan akan segera tampak bila penderita dikerjakan agak berat.
Radang pleura yang disebabkan oleh kuman hampair selalu diikuti dengan
gejala toksemia, yang disebabkan oleh terbebasnya toksin kuman maupun karena
hasil pemecahan reruntuhan jaringan.

2.3 ETIOLOGI
Pada anjing dan kucing, bakteri (seperti Nocardia, Actinomyces, dan
Bacteroides) dapat menyebabkan pleuritis pirogranulomatosa, dan banyak spesies
bakteri dapat hadir sebagai infeksi tunggal atau campuran pada pyothorax pada
anjing dan kucing. Telah diketahui bahwa luka serosal persisten seperti pleuritis
kronis menginduksi hiperplasia mesothelial. Selain itu, stimulus yang tepat
termasuk peradangan mengubah sel mesothelial normal menjadi tumor
mesothelium aktif, yang merupakan pertumbuhan cuboidal dan papiler. (Yamada
Naoaki et al.2013). Pleuritis pirogranulomatosa ditandai dengan adanya darah dan
nanah pada rongga thoraks. Eksudat ini biasanya mengandung bintik kekuningan
yang disebut butiran belerang. Meskipun ini tidak seperti biasanya di nocardial
empyema pada kucing banyak jenis bakteri seperti, Escherichia coli,
Arcanobacterium pyogenes, Pasteurella multocida, dan Fusobacterium
necrophorum, dapat ditemukan dalam pyotorax pada anjing dan kucing. Bakteri ini
terjadi sendiri atau pada infeksi campuran. (Zachary J.F et al. 2012).

Sumber : Zachary J.F et al. 2012

5
Pada sapi pleuritis dapat bersifat primer maupun sekunder. Pleuritis pada
sapiyang bersifat primer terjadi karena tertembusnya dinding retikulum oleh benda
asing,hingga akan terjadi retikulitis, peritonitis, phrenitis, dan pleuritis.Radang
yang bersifat sekunder, terjadi pada sapi yang menderita radang paru-paruyang
melanjut, pleuropneumonia (yang disebabkan oleh Mycoplasma
mycoidesvar.mycoides), tuberkulosis, maupun radang paru-paru karena organisme
pasteurela. Pleuritis paling sering disebabkan oleh bakteri, yang menyebabkan
polyserositis mencapai pleura hematogen. Bakteri ini termasuk Haemophilus
parasuis (penyakit Glasser), Streptococcus suis tipe II, dan beberapa strain
Pasteurella multocida pada babi; Streptococcus equi ssp. Equi dan Streptococcus
zooepidemicus ssp. zooepidemicus pada kuda; Escherichia coli pada anak sapi;
Mycoplasma spp. dan Haemophilus spp. pada domba dan kambing. Kontaminasi
permukaan pleura bisa jadi hasil perluasan proses septik (misalnya luka tusukan
dari dinding toraks dan pada reticulopericarditis traumatis sapi). (Zachary J.F et al.
2012). Pleuritis dapat disebabkan oleh apa saja dari kondisi-kondisi berikut:

 Infeksi-Infeksi: bakteri-bakteri (termasuk yang menyebabkan


tuberculosis), jamur-jamnur, parasit-parasit, atau virus-virus
 Kimia-Kimia Yang Terhisap Atau Senyawa-Senyawa Beracun: paparan
pada beberapa agen-agen perbersih seperti ammonia
 Penyakit-Penyakit Vaskular Kolagen: lupus, rheumatoid arthritis.
 Kanker-Kanker: contohnya, penyebaran dari kanker paru atau kanker
payudara ke pleura
 Tumor-Tumor Dari Pleura: mesothelioma atau sarcoma
 Kemacetan: gagal jantung
 Pulmonary embolism: bekuan darah didalam pembuluh-pembuluh darah ke
paru- paru. Bekuan-bekuan ini adakalanya dengan parah mengurangi darah
dan oksigen ke bagian-bagian dari paru dan dapat berakibat padakematian
pada bagian itu dari jaringan paru (diistilahkan lung infarction). Ini juga
dapat menyebabkan pleurisy.

6
 Rintangan dari Kanal-Kanal Limfa: sebagai akibat dari tumor-tumor paru
yang berlokasi secara central
 Trauma: patah-patahan rusuk atau iritasi dari tabung-tabung dada yang
digunakan untuk mengalirkan udara atau cairan dari rongga pleural pada
dada
 Obat-Obat Tertentu: obat-obat yang dapat menyebabkan sindrom-sindrom
sepertilupus (seperti Hydralazine, Procan, Dilantin, dan lain-lainnya)
 Proses-proses Perut: seperti pankreatitis, sirosis hati
 Lung infarction: kematian jaringan paru yang disebabkan oleh
kekuranganoksigen dari suplai darah yang buruk

2.4 GEJALA KLINIS


Gejala radang pada awalnya dimulai dengan ketidaktenangan, kemudian
diikutidengan pernafasn yang cepat dan dangkal. Dalam keadaan akut, karena rasa
sakit waktu bernafas dengan menggunakan otot-otot dada, pernafasan lebih bersifat
abdominal.Untuk mengurangi rasa sakit di daerah dada, bahu penderita nampak
direnggangkankeluar (posisi abduksi). Dalam keadaan seperti itu penderita jadi
malas bergerak, hinggalebih banyak tinggal di kandang atau menyendiri dari
kelompoknya. Kebanyakan penderita mengalami demam, sekitar 40°C. Dalam
pemeriksaan auskultasi terdengar suara friksi karena bergeseknya kedua pleura.
Adanya cairan radang dalam auskultasi akan terdengar suara perpindahan
cairansesuai dengan irama pernafasan. Dalam pemeriksaan perkusi terdengar suara
pekak,terutama pada bagian bawah daerah perkusi paru-paru. Bila cairan yang
terbentuk cukup banyak, dalam perkusi dapat dikenali adanya daerah pekak
horizontal, yang kadang-kadang tingginya mencapai hampir setengah daerah
perkusi. Oleh banyaknya cairan yangterbentukgejala dispnoea juga menjadi lebih
jelas.
Kekurangan oksigen yang disebabkan oleh toksemia dan akibat radang
paru-paruyang mengikutinya, penderita dapat mengalami kematian setiap saat.
Pada radanagpleura penderita nampak lesu karena adanya penyerapan toksin
(toksemia).

7
Proses kesembuhan dapat pula terjadi, meskipun biasanya diikuti dengan
adesi pleura. Penderita demikian tampak normal, tetapi bila dikerjakan sedikit saja
segeramenjadi lelah karena turunya kapasitas vital pernafasannya.
Radang pleura kronik, yang mungkin ditemukan pada sapi yang
menderitatuberkulosis, mungkin saja tidak mengakibatkan gejala pernafasan yang
berarti.Kebanyakan penderita radang kronik hanya memperlihatkan kenaikan
frekuensi pernafasannya.

2.5 DIAGNOSA
Penentuan diagnosis radang didasarkan pada ditemukannya suara friksi
dalam pemeriksaan auskultasi, serta adanya cairan radang di daslam rongga pleura.
Di dalam praktek radang pleura hampir selalu ditemukan bersamaan dengan radang
paru-paruhingga terjadi pleuropnemia. Memisahkan kedua gangguan tersebut
dipandang tidak adagunanya.
Dari emfisema pulmonum, radang pleura dapat dibedakan karena pada
yangterakhir tidak ditemukan suara timpanis dalam pemeriksaan perkusi.
Dari hidrotorak, khilothoraks, dan hemothoraks, radang pleura
memiliki perbedaan karena padanya biasa disertai kenaikan suhu seluruh tubuh
maupun adanyarasa sakit waktu bernapas, terutama pada proses yang berlangsung
akut.
Untuk membedakan penyakit-penyakit tersebut, perlu dilakukan
thoracosentesis.Cairan yang dapat dihisap, dapat digunakan untuk menentukan
perubahan patologis didalam rongga dada penderita.

PROGNOSIS
Prognosis radang pleura tidak selalu menggembirakan. Hal tersebut
disebabkan oleh kesukaran dalam penanganan kasus, yang seharusnya penderita
ditempatkan pada tempat yang hangat, bersih, dan tidak berdebu, serta kesulitan
dalam menghentikan proses radang.

8
Sumber: google.com
2.6 PENGOBATAN
Penggunaaan antibiotika berspektrum luas atau sediaan sulfonamid sangat
dianjurkan untuk membunuh kuman-kuman penyebab radang infeksi. Obat-obat
tersebutdapat diberikan secara parenteral atau per os, atau gabungan keduanya.
Apabila jumlahcairan di dalam rongga pleura dipandang terlalu mengganggu
pernafasan, cairan radangtersebut perlu dikeluarkan dengan jalan torakosentesis,
dan kemudian ke dalam rongga pleura dimasukkan larutan antibiotika atau
sulfonamid. Karena cairan tersebut biasanya bersifat purulen, mukopurulen, atau
serosanguineus, apalagi di dalam cairan juga terdapatfibrin dan reruntuhan jaringan,
aspirasi cairan radang yang dimaksud tidak selalu mudahdilakukan.
Untuk mengurangi rasa sakit yang biasanyaditemukan pada
stadium akut, pengobatan dengan analgetika dan transquilizer dapat
dipertimbangkan. Apabila radang juga dapat disertai oleh empisema, pengeluaran
nanah secara berkala dengan jalantorakosentesis, atau dengan drainase yang
dipasang semipermanen, disertai suntikanantibiotika atau sediaan sulfa, dengan
sediaan enzim proteolitik dapat juga dianjurkan.
Sebelum melakukan pengobatan hendaknya benar-benar dipikirkan
tentangkeberhasilan pengobatan yang dilakukan. Bila memang tidak banyak
memberi harapan,lebih baik penderita dimanfaatkan karkasnya untuk konsumsi.
Selain memiliki artiekonomik, pencemaran karkas oleh obat-obatan tidak perlu
terjadi.

9
PENCEGAHAN

 Berdasarkan penyebabnya, pleuritis dapat di cegah dengan cara :


 Peningkatan daya tahan tubuh hewan, misalnya dengan diberikan vitamin.
 Menghindari adanya trauma akibat benda disekitar kandang atau
lingkungan sekitar
 Sanitasi kandang yang baik dan benar agar pertumbuhan bakteri dan jamur
penyebab pleuritis dapat terkontrol
 Menghindari adanya zat kimia dan obat-obatan yang dapat memacu
terjadinya pleuritis

10
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pleuritis adalah radang para pleura yaitu lapisan tipis yang membungkus
paru-paru, yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Pengobatan pleuritis dapat
menggunaaan antibiotika berspektrum luas atau sediaan sulfonamid sangat
dianjurkan untuk membunuh kuman-kuman penyebab radang infeksi. Pencegahan
penyakit ini dapat dilakukan dengan cara peningkatan daya tahan tubuh hewan,
misalnya dengan diberikan vitamin, Sanitasi kandang yang baik dan benar agar
pertumbuhan bakteri dan jamur penyebab pleuritis dapat terkontrol.

3.2 Saran

Adapun saran dari penulisan ini yaitu agar menyadari bahwa penulis masih
jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih focus dam details dalam
menjelaskan tentang penyakit pleuritis, dengan sumber-sumber yang lebih banyak
dan tentunya dapat di pertanggung jawabkan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Blood, D.C., Hemderson, J.A dan Radostitis, O.M. 1979. Veterinary Medicine: A
Textbook of Disease of Cattle, Sheep, Pigs, Boatsand Horse . Australia:
University of Melbourne.
Christensen G. & Enø C. (1999) Forekomst af forandringer i pluckset af danske
slagtesvin. (The prevalence of pneumonia, pleuritis, pericarditis and liver
spots in Danish slaughter pigs in 1998, including comparation with 1994).
Dansk Veterinærtidsskrift 82, 1006–15.
Cleveland-Nielsen A., Nielsen E.O. & Ersbøll A.K. (2002) Chronic pleuritis in
Danish slaughter pig herds. Preventive Veterinary Medicine 55, 121–35.
Enøe C., Mousing J., Schirmer A.L. & Willeberg P. (2002) Infectious and rearing-
system related risk factors for chronic pleuritis in slaughter pigs. Preventive
Veterinary Medicine 54, 337–49

Mousing J., Lybye H., Barfod K., Meyling A., Rønsholt L. & Willeberg P. (1990)
Chronic pleuritis in pigs for slaughter: an epidemiological study of
infectious and rearing system-related risk factors. Preventive Veterinary
Medicine 9, 107–19.

Sara M. Kass. 2007. American Family Physician. www.aafp.org/afp


Subronto. 1995. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Sørensen V., Jorsal S.E. & Mousing J. (2006) Diseases of the respiratory system.
In: Diseases of Swine, 9th edn (Eds by B.E. Straw, J.J. Zimmerman, S. D
Allaire & D.J. Taylor), pp. 149–77. Blackwell Publishing, Ames, IA.
Watson, C.J. 1963. Outline of Internal Medicine. Iowa: W.M. C. Brown Company
Publisher.
Yamada Naoaki et al. 2013. Bacterial Pleuritis with Thickened Mesothelial
Hyperplasia in a Young Beagle Dog. Journal of Toxicologic
Pathology:26(3): 313–317.
Zachary J.F et al. 2012. Pathologic Basis of Veterinary Disease. China: Elsevier

12