Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit ginjal kronis adalah suatu kondisi progresif yang menimbulkan

peningkatan angka kesakitan dan angka kematian yang bermakna. Karena

ginjal berperan penting dalam pemeliharaan homeostasis, penyakit ginjal

kronis dapat mempengaruhi hampir semua sistem organ dan harus dideteksi

dari stadium awal.1,2

Penyakit ginjal kronik sudah merupakan masalah kesehatan masyarakat

di seluruh dunia. Di Amerika Serikat pada tahun 2010 merujuk pada Global

Burden of Disease Study penyakit ginjal kronis menempati urutan ke 27 dalam

urutan penyebab kematian global.2,3

Penyebab utama terjadinya penyakit berhubungan dengan usia, diabetes,

hipertensi dan obesitas. Penyebab utama primer paling berpengaruh terhadap

mortalitas dan morbiditas terjdinya penyakit ginjal adalah CVD

(cardiovascular disease). Berita baiknya, penyakit ginjal kronik tidak terjadi

dalam waktu singkat. Pada umumnya terjadi setelah kerusakan ginjal yang

berlangsung bertahun-tahun, atau bahkan dekade.2

Stadium dini penyakit ginjal kronik dapat didiagnosis dengan bantuan

pemeriksaan penunjang dan telah dibuktikan bahwa pengobatan dini penyakit

ginjal kronik berhasil menghambat terjadinya gagal ginjal, penyakit

kardiovaskuler, atau kematian sebelum waktunya..1,2,

Batasan penyakit ginjal kronik adalah terdapat kelainan patologik ginjal,

atau adanya kelainan urine, umumnya jumlah produksi urine atau sedimen
urine, selama 3 bulan atau lebih yang tidak tergantung pada penilaian laju

filtrasi glomerulus. Selain itu, terdapat penyakit ginjal kronik jika laju filtrasi

glomerulus kurang dari 60 ml/menit/1,73 m2, meskipun tidak ditemukan pada

kelainan urine.1

Pasien penyakit ginjal kronik dievaluasi selain untuk menetapkan

diagnosis jenis penyakit ginjal, juga untuk mengetahui adanya penyakit

penyerta, derajat penyakit dengan menilai fungsi ginjal, komplikasi yang

terkait dengan derajat fungsi ginjal, risiko penurunan fungsi ginjal dan risiko

penyakit kardiovaskuler. Pengelolaan penyakit ginjal kronik harus meliputi

terapi terhadap penyakit penyebab, evaluasi dan pengobatan penyakit

penyerta, penghambatan penurunan fungsi ginjal, pencegahan dan pengobatan

penyakit kardiovaskuler, pencegahan dan pengobatan komplikasi yang

disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal, persiapan menghadapi gagal ginjal

dan terapi pengganti ginjal, serta terapi pengganti ginjal dengan dialisis atau

transplantasi jika timbul tanda dan gejala uremia.3,4

Pasien dengan penyakit gagal ginjal kronik sebaiknya dirujuk ke ahli

penyakit ginjal untuk konsultasi dan penanganan bersama jika tidak dapat

membuat rencana kerja atau tidak mampu melakukan evaluasi dan

memberikan pengobatan yang tepat. Pada umumnya pasien dengan laju filtrasi

glomerulus kurang dari 30 ml/menit/1,73 m2 sebaiknya dirujuk ke ahli

penyakit ginjal. 2