Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Penyakit Ginjal Kronis

Penyakit ginjal kronis didefenisikan sebagai adanya abnormalitas dari struktur

atau fungsi ginjal yang muncul >3 bulan dan berdampak pada kesehatan.5,13

B. Klasifikasi

Batasan penyakit ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama atau

lebih dari 3 bulan, berdasarkan kelainan patologik atau petanda kerusakan ginjal

seperti kelainan pada urinalisis. Penyakit ginjal kronis terjadi secara progresif dan

berangsur-angsur terjadi penurunan kemampuan ginjal dalam mengekskresi zat-

zat buangan, menjaga konsentrasi urine, dan memelihara keseimbangan

elektrolit.3,4

Selain itu, batasan ini juga memperhatikan derajat fungsi ginjal atau laju filtrasi

glomerolus, seperti terlihat pada Tabel 1.3

Tabel 1. Batasan Penyakit Ginjal Kronik Kriteria 3


Kerusakan dengan gejala lebih dari 1 dan berlangsung selama 3 bulan :
- Abnormalitas struktural yang dideteksi dengan pencitraan
- Petanda kerusakan ginjal seperti kelainan pada komposisi darah
( elektrolit dan abnormalitas lainnya akibat kelainan tubular atau
abnormalitas sedimentasi urine,
- Riwayat transplantasi ginjal
Laju filtrasi glomerolus < 60 mL/menit/1,73 m2 selama > 3 bulan,
dengan atau tanpa kerusakan ginjal
Penyakit ginjal kronik berarti terdapat kelainan patologik ginjal, atau adanya

kelainan urine, umumnya jumlah protein urine atau sedimen urine, selama 3 bulan

atau lebih yang tidak bergantung pada nilai LFG. Selain itu, terdapat penyakit

ginjal kronik jika LFG < 60 ml/menit./1,73 m2, meskipun tidak ditemukan

kelainan pada urine, karena penurunan separuh fungsi ginjal tersebut bisa

menimbulkan komplikasi penurunan fungsi ginjal tersebut bisa menimbulkan

komplikasi penurunan fungsi ginjal lebih lanjut dan komplikasi kardiovaskuler. 3,5

Tabel 2. Derajat keparahan penyakit ginjal1,5

LFG < 60 mL/menit/1,73 m2 bersesuaian dengan kadar serum kreatinin yang

lebih dari 1.5 mg/dL (132.6 µmol/L) pada laki-laki dan lebih dari 1.3 mg/dL

(114.9 µmol/L) pada perempuan. Penyakit ginjal kronik juga dapat didefinisikan

dengan adanya albumin dalam urine yang lebih dari 300 mg/24 jam atau rasio

lebih dari 200 mg albumin terhadap 1 g kreatinin.1,3,5


Derajat keparahan dari penyakit ginjal kronik ditentukan berdasarkan dari laju

filtrasi glomerulus, G1 dikatakan fungsi ginjal masih dalam keadan optimum

dengan laju filtrasi glomerolus >105, 90-104. G2 ditangan dengan penurunan

ringan fungsi ginjal dengan laju filtrasi glomerulus 75-89, 60-74. G3a penurunan

moderate ringan dari fungsi ginjal dengan laju filtrasi glomerulus 45-59. G3b

penurunan moderate-parah dari fungsi ginjal dengan laju filtrasi glomerulus 30-

44. G4 penurunan parah dari fungsi ginjal dengan laju filtrasi glomerulus 15-29.

G5 merupakan tanda dari kegagalan dari ginjal dengan laju filtrasi glomerulus

<15.1,6

C. Epidemiologi

Prevalensi terjadinya penyakit ginjal kronis bervariasi dari seluruh dunia. Rata-

rata usia pasien yang mengalami penyakit ginjal kronis pada 9614 pasien dengan

stadium 3 penyakit ginjal kronis di India adalah 51 tahun, 1185 pasien di china

rata-rata usia adalah 63 tahun. Pasien-pasien di India dengan penyakit ginjal

kronis dengan penyebab yang tidak diketahui biasanya berusia lebih muda dan

berasal dari keluarga miskin, lebih sering memiliki penyakit yang berkembang

menjadi penyakit ginjal kronis dibandingkan dengan yang penyakit ginjal tersebut

telah diketahui penyebabnya. Sub-sahara Afrika dengan rata-rata usia 20-50 tahun

biasanya memiliki penyakit yang berkembang menjadi penyakit ginjal kronis

diakibatkan oleh hipertensi dan glomerulonefritis.2


D. Faktor Risiko

Menurut NKF K/DOQI, ada 4 tipe faktor risiko untuk penyakit ginjal kronik,

antara lain :7

1. Faktor kepekaan, yakni faktor yang meningkatkan kepekaan terjadinya

kerusakan ginjal :

- usia yang bertambah tua

- riwayat penyakit keluarga mengidap penyakit ginjal kronik

- reduksi terhadap massa ginjal

- berat lahir rendah

- ras atau suku

- tingkat pendidikan yang rendah

2. Faktor inisiasi, yakni faktor yang secara langsung memulai terjadinya

kerusakan ginjal :

- Diabetes mellitus

Diabetes mellitus adalah penyebab paling utama terjadinya penyakit ginjal

kronik. Hiperglikemia adalah suatu faktor risiko utama terjadinya nefropati.

Patofisiologi nefropati diabetikum hampir bisa dipastikan melibatkan antara

hemodinamik dan faktor ketergantungan glukosa, mencakup akumulasi produk

glikolisis, kelainan fungsi endothelial, dan hilangnya regulasi tekanan darah

intraglomerulus.1,7

- Hipertensi

Hipertensi adalah penyebab tersering kedua terjadinya penyakit ginjal kronik.1,6,12

Hipertensi sistemik menyebabkan kerusakan langsung pada kapiler-kapiler


nefron. Ginjal kehilangan kemampuan dalam autoregulasi aliran dan tekanan

filtrasi glomerulus, dari hasil hiperfiltrasi ditunjukkan dengan terjadinya

albuminuria dan proteinuria. Saat tubulus convolutus proximal menyerap kembali

kelebihan protein, sekresi unsur vasoakif menyebabkan kerusakan tubulus

apparatus glomerulus. kerusakan nefron menyebabkan pengaktifan sistem renin-

angiotensin-aldosteron, menghasilkan peningkatan saraf simpatik dan terjadi

aliran beban yang terlalu berat, sehingga terjadi komplikasi peningkatan tekanan

darah dan kerusakan nefron. 7

- penyakit autoimun

- infeksi sistemik

- infeksi saluran kemih

- batu saluran kemih

- obstruksi saluran kemih bagian bawah

- keracunan obat

3. Faktor progresi, yakni faktor yang memperburuk kerusakan ginjal dan

mempercepat kegagalan fungsi ginjal, terjadi pada stadium awal penyakit ginjal

kronik :

- peningkatan tingkat proteinuria

- peningkatan tekan darah yang lebih tinggi

- kontrol gula darah yang tidak baik pada penderita diabetes mellitus

- merokok

4. Faktor stadium akhir, yakni faktor yang meningkatkan angka morbiditas dan

mortalitas pada penderita penyakit ginjal kronik :


- dosis dialisis yang lebih rendah (Kt/V). Kt/V (tatanama untuk dosis dialisis),’

K ’ sebagai klires urea, ‘ t ’ sebagai waktu, dan ‘ V ‘ sebagai volume distribusi

untuk urea.

- akses pada vaskuler ginjal yang sering

- anemia

- rendahnya tingkat kadar albumin dalam serum

- keterlambatan dalam memutuskan untuk dilakukan dialisis

E. Manifestasi Klinik

Ginjal bekerja sangat baik dalam mengkompensasi masalah pada fungsinya. Itu

sebabnya mengapa penyakit ginjal kronis dapat berkembang tanpa ada gejala

dalam jangka waktu panjang hingga hanya fungsi ginjal yang minimal yang

tersisa. Sebab ginjal melaksanakan banyak fungsi untuk tubuh, penyakit ginjal

dapat mempengaruhi tubuh secara keseluruhan dengan cara yang berbeda. Gejala

sangat bervariasi. Beberapa sistem tubuh berbeda mungkin akan terpengaruh.

Khususnya, beberapa pasien tidak mengalami penurunan pengeluaran urine

dengan penyakit ginjal kronis yang parah. 6

Pada awal-awal terjadinya kerusakan atau gangguan fungsi ginjal, biasanya

terdapat gejala-gejala sebagai berikut :6

1. Penurunan berat badan tanpa diketahui penyebabnya

2. Penurunan nafsu makan, mual dan muntah

3. Rasa tidak nyaman diseluruh tubuh

4. Mudah lelah (dari anemia atau akumulasi zat buangan di dalam tubuh)
5. Sakit kepala

6. Sering cegukan

7. Rasa gatal (pruritus)

Lalu pada stadium-stadium lanjut dapat ditemukan beberapa gejala berupa : 6,7

1. Peningkatan atau penurunan ekskresi urine

2. Sering buang air kecil pada malam hari

3. Mudah memar atau berdarah (pembekuan darah lambat)

4. Terdapat darah pada muntahan atau feses

5. Penurunan kesiagaan (ensefalopati dari akumulasi zat buangan atau racun

uremik)

- mengantuk, somnolen, lesu

- bingung, pandangan berkunang-kunang

- koma

6. Otot kejang atau kram, kesemutan (neuropati perifer)

7. Kejang

8. Bekuan uremik, yakni deposit kristal berwarna putih dalam atau di atas kulit

9. Sensasi yang berkurang pada kaki, tangan dan daerah lain

10. Bengkak pada kaki dan di sekitar mata (retensi cairan)

11. Tekanan darah tinggi, nyeri dada yang berhubungan dengan pericarditis

(radang di sekitar jantung)

12. Pemendekan napas akibat cairan dalam paru-paru

13. Nyeri tulang dan fraktur

14. Penurunan keinginan seksual dan disfungsi ereksi.


Gejala tambahan yang mungkin berhubungan dengan penyakit ginjal kronik

antara lain :6,7

1. Haus yang berlebihan

2. Perubahan warna kulit menjadi lebih gelap atau terang

3. Pandangan kosong

4. Napas berbau

5. Agitasi

F. Pemeriksaan Penunjang

Pada semua penyakit ginjal kronik, sebaiknya dilakukan pemeriksaan

penunjang seperti yang terlihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Ginjal Kronik 1,5

Kadar kreatinin serum untuk menghitung laju filtrasi glomerolus.

Rasio protein terhadap kreatinin atau albumin terhadap kreatinin dalam

contoh urine pertama pada pagi hari atau urine sewaktu.

Pemeriksaan sedimen urine atau dipstick untuk melihat adanya sel darah

merah atau sel darah putih.

Pemeriksaan pencitraan ginjal, biasanya dengan ultrasonografi.

Kadar elektrolit serum (natrium, kalium, klorida dan bikarbonat).

Penyakit ginjal kronis biasanya tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Hanya

pemeriksaan laboratorium yang dapat mendeteksi masalah yang berkembang.

Seseorang yang berisiko tinggi mengidap penyakit ginjal kronis harus secara rutin

dites untuk melihat perkembangan penyakit ini. 1,5


a. Urine, darah, dan tes foto (sinar-rontgen) digunakan untuk mendeteksi penyakit

ginjal, seperti halnya mengikuti kemajuannya.

b. Semua test ini mempunyai keterbatasan. Tes ini sering digunakan secara

bersama-sama untuk dikembangkan menjadi suatu gambaran jelas dan teliti dari

penyakit ginjal.

c. Secara umum, tes ini dapat dilakukan pada pasien rawat jalan.1,5,7

1) Tes Urine

Urinalisa: analisa urine mampu menunjukkan secara mendalam fungsi dari ginjal.

Langkah pertama pada urinalisa adalah dengan menggunakan tes dipstick.

Dipstick mempunyai reagen yang memeriksa air seni untuk menunjukkan

berbagai unsur yang abnormal dan normal termasuk protein. Kemudian, urine

diperiksa di bawah mikroskop untuk mencari sel darah putih dan merah, serta

adanya bentukan dan kristal (padat). 1,5

Hanya jumlah minimal dari albumin (protein) yang terdapat pada urine. Tanda

positif pada suatu tongkat ukur untuk protein yang abnormal. Lebih Sensitip

dibanding suatu tongkat ukur untuk menguji protein adalah suatu penilaian

laboratorium dari albumin urine (protein) dan kreatinin. Perbandingan dari

albumin (protein) dan kreatinin di dalam urine menyediakan suatu perkiraan yang

baik dari albumin (protein) yang dikeluarkan tubuh setiap hari. 1,5

Tes urine 24 jam: tes ini memerlukan urine tampung selama 24 jam. Urine yang

dianalisa adalah untuk protein dan sisa buangan urea nitrogen dan kreatinin).

Adanya protein di dalam urine menandakan adanya kerusakan ginjal. Jumlah


kreatinin dan urea yang dikeluarkan urine dapat digunakan untuk menghitung

jumlah fungsi ginjal LFG. 1,5

LFG atau laju filtrasi glomerulus adalah suatu keadaan standar yang

menyatakan fungsi ginjal secara keseluruhan. Ketika terjadi kemajuan penyakit

ginjal, LFG jatuh. LFG yang normal adalah sekitar 100-140 mL/ min pada laki-

laki dan 85-115 mL/min pada wanita. Penurunan pada kebanyakan orang sesuai

dengan usia. LFG dapat dihitung dari jumlah sisa buangan urine 24 jam atau

dengan menggunakan pengaturan intravena. LFG diperkirakan menggunakan

perhitungan yang meliputi serum kreatinin, darah urea nitrogen dan serum

albumin, seperti halnya usia, ras, dan jenis kelamin. Keadaan pasien dibagi

menjadi lima stadium dari penyakit ginjal kronis berdasar pada LFG. 5

Nilai laju filtrasi glomerolus merupakan parameter terbaik tentang ukuran

fungsi ginjal, yaitu kemampuan ginjal untuk menyaring dan membersihkan

darah.2

2) Tes Darah

Kreatinin dan urea (BUN) di dalam darah: urea nitrogen darah dan serum

kreatinin adalah tes darah yang digunakan untuk menyaring dan memonitor

penyakit ginjal. Kreatinin adalah suatu produk uraian dari otot normal. Urea

adalah sisa buangan uraian protein. Tingkatan dari unsur ini meningkat di dalam

darah ketika fungsi ginjal bertambah buruk. 5,7

Tingkatan elektrolit dan keseimbangan asam basa: kelainan fungsi ginjal

menyebabkan ketidakseimbangan di dalam elektrolit, terutama kalium, fosfor, dan


kalsium. Kalium tinggi (hiperkalemia) merupakan perhatian tertentu

keseimbangan asam basa dalam darah pada umumnya juga terganggu. 8,12

Produksi yang menurun dari bentuk aktif vitamin D dapat menyebabkan

tingkatan yang rendah dari kalsium di dalam darah. Ketidakmampuan untuk

mengeluarkan fosfor karena penurunan kemampuan ginjal menyebabkan

tingkatannya di dalam darah meningkat. Hormon pada testis dan ovarium juga

dapat abnormal. 5,7

Perhitungan sel darah: karena penyakit ginjal mengganggu produksi sel darah,

perhitungan sel darah merah dan Hb dapat juga menurun (anemia).8,9

3) Tes lain

Ultrasonografi: ultrasonografi sering digunakan dalam menentukan diagnosis

penyakit ginjal. Ultrasonografi adalah tes tipe non invasif. Secara umum, ginjal

akan menyusut pada penyakit ginjal kronis, walaupun dapat menjadi normal atau

bahkan menjadi besar dalam kasus yang disebabkan oleh penyakit ginjal polikistik

pada orang dewasa, nefropati diabetikum dan amiloidosis. Ultrasonografi dapat

juga digunakan untuk mendiagnosis adanya obstruksi urine olah batu ginjal dan

juga untuk menilai aliran darah ke ginjal. 5,10

Biopsi: suatu contoh jaringan ginjal (biopsi) kadang diperlukan di mana jika

penyebab dari penyakit ginjal belum jelas. Pada umumnya, suatu biopsi dapat

dikumpulkan dengan anesthesi lokal yang dilakukan dengan sebuah jarum yang

dimasukkan ke kulit ke dalam ginjal. Di banyak pusat perawatan, rawat inap di

rumah sakit diperlukan setelah prosedur ini.8,10,11


Pedoman K/DOQI yang baru merekomendasikan untuk menghitung laju filtrasi

glomerolus dengan persamaan, yaitu dengan rumus Cockcroft-Gault atau rumus

MDRD pada orang dewasa serta rumus Schwartz atau rumus Counahan-Barratt

pada anak. Penghitungan nilai laju filtrasi glomerolus dengan rumus tersebut

memakai kadar kreatinin serum dan variabel seperti umur, jenis kelamin, ras dan

luas permukaan tubuh.2,5,15

Rumus Cockroft-Gault adalah : 8


(140 – Umur) x Berat Badan
Klirens Kreatinin = x (0,85 jika wanita)
(mL/menit) 72 x Kreatinin serum

Pengukuran klirens kreatinin 24 jam untuk menentukan nilai laju filtrasi

glomerolus tidak lebih tepat dibandingkan dengan nilai yang diperoleh dengan

rumus tersebut. Tes klirens kreatinin 24 jam dilakukan untuk menentukan nilai

laju filtrasi glomerolus pada individu yang melakukan diet khusus seperti

vegetarian atau mengkonsumsi suplemen kreatin, serta pada individu dengan

kelainan masa otot seperti pada kondisi malnutrisi atau setelah amputasi. Tes

klirens kreatinin 24 jam ini juga dilakukan untuk pengkajian diet dan status nutrisi

serta untuk penetapan saat mulai dialisis.5

Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang

tersebut, umumnya dapat dirumuskan gambaran klinik yang dapat mengarahkan

kepada hanya beberapa diagnosis banding, yang jika perlu dilakukan pemeriksaan

lanjutan seperti biopsi ginjal, atau dibuat suatu keputusan tentang pengobatan dan

prognosis tanpa melakukan biopsi ginjal. 1,5


G. Diagnosis

Diagnosis pasti sering memerlukan biopsi ginjal yang meskipun sangat jarang

dapat menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu, biopsi ginjal dilakukan pada

pasien tertentu yang diagnosis pastinya hanya dapat ditegakkan dengan biopsi

ginjal, atau jika diagnosis pasti tersebut akan merubah baik pengobatan maupun

prognosis. Pada sebagian besar pasien, diagnosis ditegakkan berdasarkan

gambaran klinik yang lengkap atau faktor kausal yang diperoleh dari evaluasi

klinik.1,5

Perjalanan klinik penyakit ginjal kronik biasanya perlahan dan tidak dirasakan

oleh pasien. Oleh karena itu, pengkajian klinik sangat bergantung pada hasil

pemeriksaan penunjang. Meskipun demikian, anamnesis yang teliti akan sangat

membantu dalam upaya menegakkan diagnosis yang tepat. Pengukuran tekanan

darah sangat penting, meskipun pemeriksaan fisik yang lain umumnya tidak

banyak membantu untuk menegakkan diagnosis, kecuali untuk mengetahui

adanya penyakit penyerta dan komplikasi yang disebabkan oleh penurunan fungsi

ginjal. Sejumlah obat dapat menyebabkan dan memperburuk penyakit ginjal

kronik, sehingga sangat penting melakukan pengkajian ulang secara menyeluruh

tentang daftar pengobatan yang telah diberikan (pengobatan dengan resep dokter,

pengobatan dengan membeli secara bebas, pengobatan alternatif, vitamin dan

suplemen, jamu, dan penyalahgunaan obat) selain itu, pengobatan memerlukan

penyesuaian dosis atau harus dihentikan berdasarkan nilai laju filtrasi

glomerolus.5
H. Penatalaksanaan

Pasien penyakit ginjal kronik dievaluasi selain untuk menetapkan diagnosis

jenis penyakit ginjal seperti yang sudah dikemukakan di atas, juga untuk

mengetahui adanya penyakit penyerta, derajat penyakit dengan menilai fungsi

ginjal, komplikasi yang terkait dengan derajat fungsi ginjal, risiko penurunan

fungsi ginjal dan risiko penyakit kardiovaskuler.2

Tabel 5. Rencana Kerja Berdasarkan Stadium Penyakit Ginjal Kronik 1,2,5

Stadium Deskripsi LFG (ml/menit Aksi


/1,73 m2)

1 Kerusakan  90 Diagnosis dan pengobatan,


ginjal dengan Terapi penyakit penyerta,
LFG normal Penghambatan progresifitas,
Penurunan risiko PKV

2 Kerusakan 60 - 89 Perkiraan progresifitas


ginjal dengan
penurunan
ringan LFG

3 Penurunan 30 – 59 Evaluasi dan pengobatan


sedang LFG komplikasi
4 15 – 29
Penurunan berat Persiapan terapi pengganti
LFG ginjal
5 < 15
Gagal ginjal Terapi pengganti ginjal(atau
dialisis)
LFG = Laju Filtrasi Glomerolus ; PKV = Penyakit kardiovaskuler

Pengelolaan penyakit ginjal kronik harus meliputi terapi terhadap penyakit

penyebab, evaluasi dan pengobatan penyakit penyerta, penghambatan penutunan

fungsi ginjal, pencegahan dan pengobatan penyakit kardiovaskuler, pencegahan

dan pengobatan komplikasi yang disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal, serta
terapi pengganti ginjal dengan dialisis atau transplantasi jika timbul tanda dan

gejala uremia. Sebaiknya dibuat suatu rencana kerja untuk setiap pasien

berdasarkan stadium penyakit ginjal kronik seperti terlihat pada Tabel 5. Selain

itu, perlu dilakukan pengkajian ulang pengobatan pada setiap kunjungan untuk

penyesuaian dosis obat berdasarkan derajat fungsi ginjal, pengawasan terhadap

kemungkinan terjadinya efek buruk terhadap fungsi ginjal atau terhadap

komplikasi penyakit ginjal kronik, pengawasan interaksi obat, serta, jika mungkin,

monitor terapeutik obat. 5

Pasien dengan penyakit ginjal kronik sebaiknya dirujuk ke ahli ginjal untuk

konsultasi dan penanganan bersama jika tidak dapat membuat rencana kerja atau

tidak mampu melakukan evaluasi dan memberikan pengobatan yang tepat. pada

umumnya pasien dengan LFG < 30 mL/menit/1,73 m2 sebaiknya dirujuk ke ahli

penyakit ginjal. 5

Adapun pengelolaan berdasarkan faktor pencetus yang direkomen-dasikan oleh

NKF K/DOQI sebagai berikut:7

1. Diabetes mellitus

Untuk mencegah kemajuan nefropati pada pasien dengan diabetes mellitus, The

American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan pengendalian gula

darah, dengan sasaran konsentrasi A1C menjadi di bawah 7 persen.1

2. Hipertensi

Pengendalian tekanan darah menjadi 130/80 mmHg atau sedikit lebih tinggi

merupakan sasaran utama pada pasien dengan penyakit ginjal kronik. 1,5,12,14
Table 3. Target tekanan darah dan terapi yang disarankan17

3. Dislipidemia

Suatu meta-analisis terbaru menunjukkan pengurangan lipid dapat memelihara

LFG dan mengurangi proteinuria. Petunjuk baru dari NKF K/DOQI

merekomendasikan perlakuan agresif terhadap dislipidemia terhadap pasien

dengan penyakit ginjal kronik. Sasarannya adalah suatu LDL kolesterol < 100

mg/dL (2,60 mmol/L) dan trigliserida < 200 mg/dL (2,26 mmol/L). 1,8

4. Anemia

Koreksi terhadap anemia itu dapat menahan progresivitas penyakit ginjal

kronik dan bahkan mungkin mengurangi mortalitasnya. NKF K/DOQI

merekomendasikan suatu target konsentrasi hemoglobin 11 - 12 g/dL (110 - 120

g/L) pada pasien dengan penyakit ginjal kronik. Pasien dengan konsentrasi ferritin
9
plasma < 100 ng/mL (100 mcg/L) harus diberi preparat besi. Juga dapat

ditambahkan suplemen vitamin B12 atau asam folat.12

5. Osteodistropi ginjal

Tingkat hormon paratiroid mulai naik saat pemeriksaan kreatinin < 60

mL/menit (1 mL/detik). Progresivitas hiperparatiroidisme mungkin dapat dicegah

dengan membatasi masukan fosfat yg berkenaan dengan diet (misalnya cola,

kacang polong, kacang, produk susu), penggunaan suatu ikatan fosfat calcium-
based (antasida) dengan makanan, dan mengatur vitamin D (Rocaltrol) untuk

menekan sekresi hormon paratiroid. Vitamin D merupakan suplemen yang aman

dan efektif untuk menurunkan sekresi hormon paratiroid. 1,8

6. Nutrisi

Pasien dengan penyakit ginjal kronik berhadapan dengan risiko kekurangan

gizi dan hipoalbuminemia.8

Efek pembatasan asupan protein berkenaan dengan diet pada penyakit ginjal

masih dalam perdebatan. Beberapa penelitian menyatakan bahwa pembatasan

asupan protein berkenaan dengan diet mem/lambat kemajuan penyakit ginjal,

terutama pada pasien dengan diabetes mellitus.1

Penelitian mengevaluasi tiga tingkatan asupan protein berkenaan dengan diet

dan menemukan bahwa suatu diet sangat rendah protein (0,28 g/kg/hari) sedikit

mengurangi tingkat kemajuan proteinuria bandingkan dengan diet protein yang

lebih tinggi (0,56 g/kg/hari dan 1,3g/kg/hari). Diet sangat rendah protein tidak

mengakibatkan kekurangan gizi, tetapi juga tidak mengurangi mortalitas atau

kegagalan ginjal.1

Rekomendasi dari NKF K/DOQI berdasar pada bukti dari penelitian pada

binatang menyarankan suatu masukan protein 0,8 – 1,0 g/kg/hari dan suatu asupan

kalori sehari-hari 30 -35 kkal/kg/hari pada pasien dengan penyakit ginjal kronik.9

7. Berhenti merokok

Hasil penelitian kecil menunjukkan pemberhentian merokok mengurangi

progresivitas penyakit ginjal oleh 30 persen pada pasien dengan diabetes mellitus

tipe I. 1
8. Uremia

Gejala uremia meliputi anoreksia, mual, muntah, rasa tidak enak badan,

asteriksis, kelemahan otot, kelainan trombosit, perikarditis, perubahan status

mental, kejang, hingga pingsan. Gejala ini diakibatkan oleh akumulasi beberapa

toksin dengan penambahan kadar urea. 1

I. Komplikasi

Berikut beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penderita penyakit ginjal

kronik :7,16

1. Penyakit ginjal stadium akhir

2. Perikarditis

3. Tamponade jantung

4. Gagal jantung kongestif

5. Hipertensi

6. Gangguan tombosit

7. Perdarahan saluran gastrointestinal

8. Ulserasi

9. Perdarahan

10. Anemia

11. Hepatitis B, Hepatitis C, liver failure

12. Penurunan fungsi sel darah putih

13. Penurunan respon imun

14. Peningkatan terjadinya infeksi

15. Neuropati perifer


16. Kejang

17. Ensefalopati, kerusakan saraf, demensia

18. Kelemahan atau pengkroposan tulang

19. Fraktur

20. Gangguan sendi

21. Perubahan metabolisme glukosa

22. Abnormalitas elektrolit termasuk hiperkalemia

23. Penurunan libido, impoten

24. Menstruasi tidak teratur, infertilitas

25. Kulit kering, gatal atau garukan mudah menyebabkan infeksi

Uremia akut atau uremia sebagai hasil penyakit progresif adalah suatu indikasi

untuk segera dilakukan dialisis. Pasien dengan kegagalan ginjal harus dievaluasi

untuk pencangkokan ginjal. 7

Secara umum, penatalaksanaan penyakit ginjal kronik terbagi menjadi 2 jenis

pengobatan, yaitu :1,3,5

a. nonfarmakologis

- pengaturan asupan protein, kalori, cairan, dan elektrolit

b. farmakologis

- substitusi asam amino atau ketoanalog

- pengikat fosfat

- pemberian preparat kalsium

- pemberian preparat vitamin D3

- pemberian asam folat, preparat besi


- eritropoietin

- pengobatan pengganti : dialisis (peritoneal atau hemodialisis) atau

transplantasi ginjal

Adapun beberapa indikasi untuk dilakukannya dialisis antara lain:17

a. uremia > 200 mg%

b. asidosis dengan pH darah < 7,2

c. hiperkalemia > 7 mEq/liter

d. kelebihan/retensi cairan dengan tanda gagal jantung/edema paru

e. klinis uremia dengan kesadaran menurun (koma)

J. Pencegahan

Tujuan perawatan untuk seseorang dengan penyakit ginjal kronis adalah untuk

memperlambat atau menghentikan kerusakan pada ginjal. Sangat penting bagi

seseorang dengan penyakit ginjal kronis untuk mengendalikan tekanan darah, gula

darah jika mengidap penyakit diabetes mellitus, menghindari obat-obatan tertentu,

dan mengikuti suatu diet khusus.6,10

Risiko kegagalan ginjal dan penyakit ginjal kronis dapat ditekan dengan gaya

hidup yang sehat, seperti makan makanan rendah lemak, rendah garam, olahraga

secara teratur, membatasi minuman beralkohol dan tidak merokok. Pencegahan

lain dengan cara melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur, antara lain

pengontrolan gula darah, tekanan darah tinggi dan pasien dengan penyakit ginjal

kronis walaupun dalam kondisi yang baik.6,9