Anda di halaman 1dari 27

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH

HUKUM LAUT INTERNASIONAL


“Implementasi Konvensi Hukum Laut 1982 Untuk Kepentingan
Nasional Indonesia”

Disusun Oleh :

Nama Kelompok:

Faiz Rizki Rivaldy (11010113140592)

Muhammad Adry S. (11010114140479)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Semenjak berakhirnya Perang Dunia II, tidak ada cabang hukum Internasional
yang lebih banyak mengalami perubahan secara mendalam dan revolusioner, selain
daripada hukum laut. Hukum laut telah mengalami perubahan-perubahan yang
mendalam sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini dikarenakan sumber kekayaan
mineral yang terkandung di dasar laut itu sendiri, merupakan penghubung bangsa-bangsa
dari segala sektor kegiatan manusia, dan kekayaan sumber hayati serta karena 70% dari
permukaan bumi terdiri dari laut1
Kini hukum laut tidak hanya mengatur atau mengurus kegiatan-kegiatan negara-
negara di atas permukaan laut saja, tetapi telah mengatur dan mengurus kegiatan-
kegiatan pada dasar laut dan kekayaan mineral yang terkandung di dalamnya. Oleh
karena keinginan negara-negara untuk penggunaan kekayaan-kekayaan laut itu, maka
negara-negara berusaha keras untuk membuat hukum laut yang mengatur atau mengurus
permasalahan mengenai kedaulatan atau kekuasaan negara-negara pantai terhadap laut,
dan sampai sejauh mana negara-negara pantai dapat mengambil kekayaan-kekayaan
yang tersedia di dasar laut dan laut di atasnya, serta untuk mengatur eksploitasi daerah-
daerah dasar laut yang telah dinyatakan sebagai warisan bersama umat manusia.
Puncak dari berbagai perundingan mengenai masalah kelautan adalah
diadakannya Konperensi Perserikatan Bangsa-bangsa mengenai Hukum Laut (United
Nations Conference on the Law of the Sea) pada tahun 1982 di Montego Bay, Jamaika.
Dalam konperensi ini telah ditandatangani suatu perjanjian internasional yang mencakup
hampir seluruh permasalahan di bidang kelautan. Perjanjian internasional ini dikenal
dengan nama Konvensi PBB mengenai Hukum Laut (United Nations Convention on the
Law of the Sea/UNCLOS). Konvensi ini merupakan perkembangan paling penting dalam
kesuluruhan ketentuan hukum internasional berkenaan dengan lautan bebas.
Pemerintah Indonesia sudah sejak lama turut aktif dalam berbagai perundingan
mengenai terbentuknya berbagai perjanjian internasional di bidang kelautan dikarenakan
Indonesia merupakan negara kepuluan yang memiliki wilayah perairan terbesar di dunia
dan dua pertiga dari wilayahnya merupakan wilayah perairan. Secara geografis Indonesia

1 Boer Mauna, HUKUM INTERNASIONAL Pengertian Peranan Dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global, Edisi II, (Bandung: PT. Alumni,
2005, hlm. 304)
merupakan negara maritim, yang memiliki luas laut sebesar 5,8 Juta km² yang terdiri dari
laut territorial dengan luas 0.8 juta km2, laut nusantara 2.3 juta km2 dan zona ekonomi
eksklusif 2.7 juta km2. Disamping itu Indonesia memiliki pulau sebanyak 17.480 pulau
dan garis pantai sepanjang 95.181 km. 2
Negara Indonesia adalah negara kepulauan (archipelagic state) yang sudah lama
diperjuangkan di forum internasional. Diawali dengan Deklarasi Djuanda tahun 1957
lalu diikuti UU Prp No 4/1960 tentang Perairan Indonesia; Prof Mochtar Kusumaatmadja
dengan tim negosiasi Indonesia lainnya menawarkan konsep “Negara Kepulauan” untuk
dapat diterima di Konferensi Hukum Laut Perseriktan Bangsa-Bangsa (PBB) III,
sehingga dalam The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS),
1982; dicantumkan Bagian IV mengenai negara kepulauan. Konsepsi itu menyatukan
wilayah kita. Di antara pulau-pulau kita tidak ada laut bebas, karena sebagai negara
kepulauan, Indonesia boleh menarik garis pangkal (baselines-nya) dari titik-titik terluar
pulau-pulau terluar (the outermost points of the outermost islands and drying reefs). Hal
itu diundangkan dengan UU No 6/1996 tentang Perairan Indonesia untuk menggantikan
UU Prp No 4/1960 sebagai implementasi UNCLOS 1982 dalam hukum nasional kita.3
Menurut UNCLOS 1982, Indonesia harus membuat peta garis batas, yang
memuat koordinat garis dasar sebagai titik ditariknya garis pangkal kepulauan Indonesia.
Walaupun telah membuat peta garis batas, timbul sengketa Sipadan-Ligitan, dan kita
tergopoh-gopoh membuat Peraturan Pemerintah No 38/2002, yang memuat titik-titik
dasar termasuk di Pulau Sipadan-Ligitan. Sayang, PP itu harus direvisi
karena International Court of Justice (ICJ) memutuskan kedua pulau itu milik Malaysia.
Kini timbul masalah perebutan daerah cadangan minyak Ambalat dan AmbalatTimur
(demikian Indonesia menyebutnya) atau blok minyak XYZ (oleh Malaysia). Kedua
Negara telah memberi konsesi eksplorasi blok itu kepada perusahaan berbeda. Indonesia
telah memberi izin kepada ENI (Italia) dan Unocal (AS), sementara Shell mengantongi
izin dari Malaysia. Maka terjadi dua klaim saling tumpang-tindih antara kedua negara
bertetangga (overlapping claim areas).4
Klaim tumpang tindih (overlapping claim areas) dari dua atau lebih negara pada
dasarnya bukan hal istimewa. Hal ini biasa terjadi di wilayah laut yang berdampingan.
Hukum laut memberi hak kepada negara pantai untuk memiliki wilayah laut sejauh 12

2 Perumusuan Kebijakan Sumber Daya Maritim, (http://www.dekin.kkp.go.id/yopi/index.php, diakses pada tanggal 25 sep 2018)
3 Melda Kamil Ariadno, Ambalat Miliki Siapa?, (http://www.topix.com/forum/world/indonesia, diakses pada tanggal 12 April 2011). Melda
Kamil Ariadno, Pengajar Hukum Laut Fakultas Hukum UI, Ketua Lembaga Pengkajian Hukum Internasional (LPHI) FHUI,
4 Melda Kamil Ariadno, Ambalat Milik Siapa?, (http://www.topix.com/forum/world/indonesia, diakses pada tanggal 25 sep 2018).
mil dan zona ekonomi eksklusif serta landas kontinen sejauh 200 mil laut yang diukur
dari garis pangkalnya. Bahkan, untuk landas kontinen jaraknya bisa sejauh 350 mil laut
jika bisa dibuktikan adanya natural prolongation(kepanjangan alamiah) dari daratan
negara pantai itu. Ini menyebabkan banyak negara berlomba mengklaim te-ritori lautnya
sesuai dengan hak yang diberikan hukum laut. Indonesia sebenarnya sudah berulang kali
mengajak Malaysia duduk di meja perundingan mengenai batas landas kontinen, namun
tak ada respons positif.5
Permasalahan batas bagi negara yang bertetangga semestinya harus dilihat dari
kacamata kerjasama antar negara, terlebih lagi bagi Indonesia; perbatasan itu harus
dilihat sebagai pengikat kerja sama dan menjadikannnya sebagai beranda depan bangsa.
Dengan dasar filosofi seperti itu, maka sesungguhnya pengembangan wilayah perbatasan
harus dilihat dari semangat kerja sama kedua negara.
Selama ini terdapat upaya-upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk
mengembalikan jiwa kebaharian dalam pembangunan kelautan di Indonesia. Indonesia
dibawah kepemimpinan Presiden Soekarno, mendeklarasikan Wawasan Nusantara pada
tanggal 13 Desember tahun 1957 yang dikenal dengan “Deklarasi Djoeanda” yang
memandang laut merupakan satu keutuhan wilayah dengan darat, ini merupakan titik
awal kebangkitan bangsa bahari setelah kemerdekaan Indonesia. Hal ini kemudian
diundangkan dengan Undang-Undang No.4 Tahun 1960 dan diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1962.

5 Soegito, Mempertahankan Ambalat dari NKRI, (http://els.bappenas.go.id/upload/other, diakses pada tanggal 25 sep 2018).
B. Rumusan Masalah
Dengan terbitnya UNCLOS 1982 tersebut maka membawa konsekuensi logis
bagi bangsa Indonesia yaitu adanya amanat yang harus dilaksanakan berupa hak-hak dan
kewajiban dalam pengelolaan wilayah kelautan Indonesia berdasarkan hukum
internasional. Kini UNCLOS 1982 telah berjalan selama 25 tahun, tentu sebagai Negara
Kepulauan sudah saatnya melakukan evaluasi kebijakan tentang apa saja yang telah
dilaksanakan dan belum dilaksanakan dalam rangka memenuhi amanat seperti yang telah
dicantumkan dalam UNCLOS 1982. Oleh karena itu, kami sebagai penulis makalah ini
merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep wawasan nusantara dalam Konvensi Hukum Laut Internasional
(UNCLOS) 1982?
2. Bagaimana implementasi Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982
Untuk Kepentingan Nasional Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis konsep wawasan nusantara dalam Konvensi Hukum Laut Internasional
(UNCLOS) 1982.
2. Menganalisis implementasi Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982
untuk kepentingan Nasional Indonesia.

D. Manfaat Penulisan
Manfaat yang akan diharapkan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Secara teoritis, diharapkan memberikan sumbangan pemikiran mengenai konsep
wawasan nusantara dalam KHL 1982, dan implementasi KHL 1982 untuk
kepentingan Nasiona Indonesia.
2. Secara praktis, diharapkan penulisan makalah ini dapat memberikan sumbangan
terhadap permasalahan-permasalahan yang timbul dan dihadapi oleh Negara
Indonesia sebagai negara kepuluan.

E. Metode Penulisan
Data penulisan makalah ini diperoleh dengan metode studi kepustakaan. Metode
studi kepustakaan yaitu suatu metode dengan membaca telaah pustaka tentang hukum
laut internasional. Selain itu, tim penulis juga memperoleh data dari internet
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Perjanjian Internasional


Mochtar Kusumaatmadja, memberikan batasan perjanjian internasional sebagai
berikut: “Perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan antara anggota
masyarakat bangsa-bangsa dan bertujuan untuk mengakibatkan akibat-akibat hukum
tertentu”. Perjanjian Internasional yang dalam bahasa Indonesia disebut juga persetujuan,
traktat, ataupun konvensi, menurut I Wayan Parthiana, adalah :
“Kata sepakat antara dua atau lebih subyek hukum internasional mengenai suatu
objek atau masalah tertentu dengan maksud untuk membentuk hubungan hukum atau
melahirkan hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum internasional”.
Dalam Pasal 2 ayat 1 butir (a) Konvensi Wina 1969, perjanjian internasional
(treaty) didefinisikan sebagai berikut :“treaty means an international agreement
concluded between States in written form and governed by international law, whether
embodied in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its
particular designation”. Artinya : suatu persetujuan yang dibuat antara negara dalam
bentuk tertulis, dan diatur oleh hukum internasional, apakah dalam instrumen tunggal
atau dua atau lebih instrumen yang berkaitan dan apapun nama yang diberikan padanya.
Perjanjian internasional merupakan sarana utama yang praktis bagi transaksi dan
komunikasi antar anggota masyarakat internasional. Fungsi lain perjanjian internasional
yaitu berfungsi sebagai sumber hukum internasional yang oleh keluarga bangsa-bangsa
telah diakui mempunyai posisi penentu yang meningkat dengan pesat. Perjanjian
internasional juga difungsikan sebagai sarana peningkatan kerja sama internasional
secara damai telah pula menunjukkan hasil positif.
Fungsi perjanjian internasional dalam hal pembentukan dan perkembangan
hukum internasional tersebut, dapat dikategorikan ke dalam tiga macam fungsi:
1. Merumuskan/ menyatakan (to declare) atau menguatkan kembali (confirm/restate)
aturan-aturan hukum internasional yang sudah ada (the existing rules of international
law);
2. merubah dan/atau menyempurnakan (modify) ataupun menghapuskan (abolish)
kaidah-kaidah hukum internasional yang sudah ada, untuk mengatur tindakan-
tindakan yang akan datang (for regulating future conducts);
3. membentuk kaidah-kaidah hukum internasional baru sama sekali, yang belum ada
sebelumnya.
Pengelompokan perjanjian internasional ditinjau dari segi para pihak yang
mengadakannya dapat kita bedakan ke dalam dua macam, yaitu:
1. Perjanjian bilateral, yaitu perjanjian yang diadakan hanya oleh dua negara saja.
perjanjian jenis ini hanya mengatur soal-soal khusus yang menyangkut kepentingan
kedua Negara yang mengadakannya saja. Sifat dari perjanjian bilateral ini adalah
tertutup, artinya tertutup kemungkinan bagi pihak ketiga untuk ikut serta sebagai
negara pihak perjanjian bilateral itu. Seperti, misalnya perjanjian antara Republik
Indonesia dengan Republik Rakyat China tahun 1954 mengetahu Dwi
Kewarganegaraan; perjanjian bilateral mengenai perbatasan negara dan lain
sebagainya. (Termasuk Treaty Contract)
2. Perjanjian multilateral, yaitu perjanjian yang diadakan dan diikuti oleh banyak negara
sebagai pihak peserta, yang umumnya merupakan perjanjian internasional yang
bersifat terbuka, di mana hal-hal yang diaturnya pun lazimnya berupa hal-hal yang
menyangkut kepentingan umum, yang tidak hanya menyangkut kepentingan negara-
negara pihak pembuat perjanjian saja, tetapi juga menyangkut kepentingan negara-
negara lain yang tidak menjadi peserta perjanjian tersebut. Perjanjian internasional
multilateral inilah yang dapat dikategorikan sebagai perjanjian internasional yang
bersifat “law making treaties”, atau perjanjian yang membentuk hukum (baru), yang
bersama-sama dengan “treaty contract”.

B. Teori Mengenai Konvensi Hukum Laut Internasional Tahun 1982


Melalui United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) pada tahun
1982, yang hingga kini telah diratifikasi oleh 140 negara. Negara-negara kepulauan
(Archipelagic States) memperoleh hak mengelola Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas
200 mil laut di luar wilayahnya. Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai hak
mengelola (yurisdiksi) terhadap Zona Ekonomi Eksklusif. Hal ini kemudian telah
dituangkan kedalam Undang-undang Nomor 17 tahun 1985 tentang Pengesahan United
Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa
Tentang Hukum Laut). Penetapan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) mencapai
jarak 200 mil laut, diukur dari garis dasar wilayah Indonesia ke arah laut lepas.
Ketetapan tersebut kemudian dikukuhkan melalui Undang-undang Nomor 5 tahun 1983
tentang Zona Ekonomi Eklsklusif Indonesia. Konsekuensi dari implementasi undang-
undang tersebut adalah bahwa luas wilayah perairan laut Indonesia bertambah sekitar 2,7
juta Km2, menjadi 5,8 juta Km2.
Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional 1982 (UNCLOS 1982)
melahirkan delapan zonasi pegaturan (regime) hukum laut yaitu :
1. Perairan Pedalaman (Internal Waters).
2. Perairan Kepulauan (Archiplegic Waters), termasuk di dalamnya selat yang
digunakan untuk pelayaran internasional.
3. Laut Teritorial (Teritorial Waters).
4. Zona Tambahan ( Contingous Waters).
5. Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusif Economic Zone).
6. Landas Kontinen (Continental Shelf).
7. Laut Lepas (High Seas).
8. Kawasan Dasar Laut Internasional (International Sea-Bed Area).
Konvensi Hukum Laut Internasional tahun 1982 mengatur pemanfaatan laut
sesuai dengan status hukum dari kedelapan zonasi pengaturan tersebut. Negara-negara
yang berbatasan dengan laut, termasuk Indonesia memiliki kedaulatan penuh atas
wilayah perairan pedalaman, perairan kepulauan dan laut territorial, sedangkan untuk
zona tambahan, zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen, negara memiliki hak-hak
eksklusif, misalnya hak memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di zona tersebut.
Sebaliknya, laut lepas merupakan zona yang tidak dapat dimiliki oleh negara manapun,
sedangkan kawasan dasar laut internasional dijadikan sebagai bagian warisan umat
manusia.

C. Teori Negara Kepulauan


Negara kepulauan (Archipelagic States) adalah hasil keputusan dari Konvensi
PBB mengenai Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982 yang diatur dalam Bagian
IV Konvensi (Pasal 46-54) untuk negara-negara kepulauan (Archipelagic States) dan
perairan negara-negara kepulauan. Menurut Pasal 46 (b)Konvensi Hukum Laut
Internasional, “archipelago means a group of islands, including parts of islands,
interconnecting waters and other natural features which are so closely interrelated that
such islands, waters and other natural features form an intrinsic geographical, economic
and political entity, or which historically have been regarded as such.” (Terjemahannya:
kepuluan berarti suatu gugusan pulau, termasuk bagian pulau, perairan di antara pulau-
pulau tersebut dan wujud-wujud alamiah lainnya yang wujud alamiahnya satu sama lain
demikian eratnya sehingga pulau-pulau, perairan dan wujud alamiah lainnya itu
merupakan satu kesatuan geografis, ekonomi dan politik yang hakiki, atau yang secara
historis dianggap sebagai demikian).6Jadi, Menurut Pasal 46 (b), “Archipelagic State
means a State constituted wholly by one or more archipelagos and may include other
islands”.7
Metode garis pangkal lurus dipakai sebagai solusi untuk masalah perairan
kepulauan yang dimuat dalam Pasal 47 dan 49 Konvensi Hukum Laut Internasional. Suatu
negara kepulauan yang menarik garis pangkal lurus kepulauan yang menghubungkan titik-
titik terluar pulau dan karang kering dari kepulauan itu, dengan akibat bahwa kedaulatan
negara kepulauan meluas hingga yang tertutup karena penarikan garis pangkal lurus
demikian, samapai ke ruang udara yang ada di atasnya, dasar laut dan tanah dibawahnya serta
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
Dalam Pasal 51-54 ditentukan mengenai dihormatinya oleh negara kepulauan
perjanjian-perjanjian yang ada, hak-hak perikanan tradisional dan kabel-kabel bawah laut,
mengenai hak lintas damai, mengenai penetapan-penetapan secara tepat alur-alur laut dan
rute-rute udara oleh negara kepulaua, dan mengenai kewajiban-kewajiban yang sama yang
harus diperhatikan oleh kapal dan pesawat udara asing, dan oleh negara kepulauan,
sebagaimana yang secara mutatis mutand.8]dalam hal lintas transit melalui selat-selat yang
digunakan untuk pelayaran internasional menurut ketentuan Pasal 39, 40, 42 dan 44.

6 J.G. Starke, Pengantar Hukum Internasional, Edisi X (Jakarta: Sinar Grafika, 2008, hlm. 353)
7 Negara kepuluan didefenisikan suatu negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepuluan yang dapat mencakup pulau-pulau lain.
J.G. Starke, Op. cit.
8 Mutatis mutandis berasal dari bahasa Latin yang artinya kurang lebih adalah "perubahan yang penting telah
dilakukan". http://id.wikipedia.org/wiki, diakses pada tanggal 25 sep 2018.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Konsep Wawasan Nusantara Dalam Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982


Secara umum wawasan nasional berarti cara pandang suatu bangsa tentang diri
dan lingkungannya yang dijabarkan dari dasar falsafah dan sejarah bangsa itu sesuai
dengan posisi dan kondisi geografi negaranya untuk mencapai tujuan atau cita-cita
nasionalnya.
Wawasan nusantara mempunyai arti cara pandang bangsa Indonesia tentang diri
dan lingkungannya berdasarkan pancasila dan UUD 1945 serta sesuai dengan geografi
wilayah nusantara yang menjiwai kehidupan bangsa dalam mencapai tujuan dan cita-cita
nasionalnya.
Indonesia yang merupakan Negara Kepulauan yang diperjuangkan oleh Mochtar
Kusumaatmadja dari sejak Deklarasi Juanda 1957 sampai diakuinya konsepsi tersebut
oleh dunia internasional dalam Konvensi Hukum Laut 1982 adalah sebenarnya suatu
kebanggaan yang luar biasa bagi bangsa dan Negara Indonesia, tetapi sebagian
masyarakat Indonesia tidak begitu mengenal dengan baik bahwa Indonesia mempunyai
luas laut dua per tiga dari luar daratan dan pemerintah juga tidak begitu
perduli melakukan pembangunan yang berorientasi ke laut, tetapi masih terfokus pada
paradigma pembangunan di darat. Padahal pembangunan yang dicanangkan oleh para
pendahulu itu sudah termaktub dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
Nomor IV/MPR/1978 tentang Garis- Garis Besar Haluan Negara dalam Bab II mengenai
Pola Dasar Pembangunan Nasional menegaskan bahwa “wawasan dalam mencapai
tujuan pembangunan nasional adalah Wawasan Nusantara yang mencakup satu kesatuan
politik, satu kesatuan sosial budaya, satu kesatuan ekonomi, dan satu kesatuan
pertahanan dan keamanan”.9 Dengan di tetapkannya Wawasan Nusantara sebagai
konsepsi kesatuan wilayah, bangsa, dan negara yang memandang Indonesia sebagai
suatu kesatuan yang meliputi tanah (darat) dan air (laut) secara tidak terpisahkan
merupakan tahapan akhir dari perjuangan konsepsi Wawasan Nusantara yang dimulai
sejak Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957.

9 Sekarang yang berlaku adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
Tahun 2004-2009
Wawasan Nusantara yang dalam status juridisnya adalah negara kepulauan
(archipelagic states) sudah diakui oleh masyarakat internasional dengan adanya
Konvensi Hukum Laut 1982 yang diatur dalam Bab IV Pasal 46 yang berbunyi sebagai
berikut :
1. “archipelagic State” means a State constituted wholly by one or more archipelagos
and may include other islands;
2. “archipelago” means a group of islands, including parts of islands, interconnecting
waters and other natural features which are so closely interrelated that such islands,
waters and other natural features form an intrinsic geographical, economic and
political entity, or which historically have been regarded as such.
Negara kepulauan adalah suatu Negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau
lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain. Kepulauan berarti suatu gugusan
pulau termasuk bagian pulau, perairan di antaranya dan lain-lain wujud ilmiah yang
hubungannya satu sama lainnya demikian erat, sehingga pulau-pulau, perairan dan wujud
alamiah lainnya itu merupakan suatu kesatuan geografi, ekonomi, dan politik yang hakiki
atau yang secara histories dianggap sebagai demikian.
Pengakuan internasional terhadap Konsepsi Wawasan Nusantara melalui
ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Konvensi Hukum Laut 1982, memang
merupakan kulminasi perjuangan Indonesia yang gigih dan terus menerus selama 25
tahun semenjak Deklarasi Djuanda 1957. Namun, dalam perjuangan yang panjang
tersebut dan sebagai anggota masyarakat internasional, hasil yang telah dicapai juga
merupakan kompromi antara kepentingan negara-negara maritim besar dan
negara0negara kepulauan. Indonesia berhasil mendapatkan pengakuan internasional
tentang garis pangkal lurus kepulauan yang merupakan suatu konsepsi baru dalam
hukum laut internasional walaupun derajat kedaulatan negara pantai atas perairan
kepulauan sebagai hasil dari kompromi tersebut tidak setinggi pada perairan pedalaman
sesuai Deklarasi Djuanda.
Pada hakikatnya lintas damai kendaraan air asing dalam perairan pedalaman
berdasarakan Deklarasi Djuanda adalah hak yang diberikan Indonesia karena menurut
hukum laut internasional hak tersebut tidak ada dalam perairan pedalaman. Sedangkan
menurut konvensi selain hak lintas damai ditentukan pula hak alur kepulauan.
Sehubungan dengan itu, untuk melindungi kepentingan Indonesia selanjutnya
dengan adanya hak lintas alur laut kepulauan di perairan Indonesia maka perlu dibuat
legislasi yang mengatur secara ketat penggunaan hak lintas ini sehingga maksud dan
tujuan seperti yang dimaksud oleh Deklarasi Djuanda tetap dapat dipertahankan.

B. Impelementasi Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982


Setelah Indonesia menandatangani Konvensi Hukum Laut 1982 yang kemudian
diikuti dengan ratifikasinya pada tahun 1985, maka pada tahun 1996 keluar Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. Hal ini merupakan langkah
awal yang diambil oleh Indonesia sebagai tindak lanjut dari Konvensi. Tindakan-
tindakan implementasi Konvensi Hukum laut 1982 yang telah dilakukan pemerintah
Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Di Bidang Penentuan Garis Pangkal


Menurut Pasal 5 ayat (3) UU No. 6 Tahun 1996, garis pangkal lurus kepulauan
adalah garis-garis lurus menghubungkan titik-titik terluar pada garis air rendah pulau-
pulau dan karang-karang yang terluar dari kepulauan Indonesia. Di samping itu, sesuai
Pasal 5 ayat (7), juga ada garis pangkal pantai yang menjorok jauh dan menikung ke
daratan atau deretan pulaua yang terdapat di dekata sepanjang pantai.
Sesuai UU No. 4 Tahun 1960 dan sebagai implementasi Deklarasi Djuanda,
Indonesia menatapkan sebanyak 200 titik terluar dengan 196 garis lurus. Tentu saja titik
terluar dan garis-garis pangkal tersebut yang belum mendapat pengakuan Internasional
disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan Konvensi agar terdapatnya jaminan hukum.
Selanjutnya, dalam Pasal 6 UU No. 6 Tahun 1996 haruslah dibuat daftar titik-titik terluar
dan garis-garis pangkal tersebut serta mencantumkannya dalam peta dengan skala-skala
yang memadai dan mendepositkannya pada Sekretariat Jenderal PBB. Pada hakikatnya
penyesuaian garis pangkal sudah dilakukan secara bertahap. Untuk perairan Natuna,
pemerintah RI telah mengeluarkan PP No 61 Tahun 1998 yang menetapkan garis-garis
pangkal baru. Secara teknis, pemerintah telah melakukan survei guna menetapkan titik-
titik dasar baru, tetapi belum dituangkan dalam Peraturan Pemerintah. Sebagai tindak
lanjut, pemerintah mengeluarkan PP No. 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat
Geografis Garis Pangkal Lurus Kepulauan.
Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia
Berdasarkan PP No. 38 Tahun 2002 Sebagaimana Telah Diubah Dengan
PP No. 37 Tahun 200810

No Lintang Bujur Jenis Garis Pangkal, Jarak Nomor Peta,


Skala, Referensi
1 Laut: Natuna Tg. Berakit No. 431
01°14′27″N 104°34′32″E Titik Dasar No. TD.001 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.001 WGS'84
Jarak TD.001-TD.001A = 19.19 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
2 Laut: Natuna P. Sentut No. 430, 431
01°02′52″N 104°49′50″E Titik Dasar No. TD.001A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.001A WGS'84
Jarak TD.001A-TD.022 = 88.06M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
3 Laut: Natuna P.Tokong Malang Biru No. 430
02°18′00″N 105°35′47″E Titik Dasar No. TD.022 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.022 WGS'84
Jarak TD.022-TD.023 = 29.50 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
4 Laut: Natuna P. Damar No. 423
02°44′29″N 105°22′46″E Titik Dasar No. TD.023 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.023 WGS'84
Jarak TD.023-TD.024 = 24.34 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
5 Laut: Natuna P. Mangkai No. 423
03°05′32″N 105°35′00″E Titik Dasar No. TD.024 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.024 WGS'84
Jarak TD.024-TD.025 = 26.28 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
6 Laut: Natuna P. Tokong Nanas No. 423
03°19′52″N 105°57′04″E Titik Dasar No. TD.025 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.025 WGS'84
Jarak TD.025-TD.026 = 20.35 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
7 Laut: Natuna P. Tokongbelayar No. 423
03°27′04″N 106°16′08″E Titik Dasar No. TD.026 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.026 WGS'84
Jarak TD.026-TD.028 = 79.03 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
8 Laut : Natuna P. Tokongboro No. 422
04°04′01″N 107°26′09″E Titik Dasar No. TD.028 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.028 WGS'84
Jarak TD.028-TD.029 = 32.06 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
9 Laut : Natuna P. Semiun No. 421, 422
04°31′09″N 107°43′17″E Titik Dasar No. TD.029 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.029 WGS'84
Jarak TD.029-TD.030A = 15.76 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

10 Selengkapnya di http://id.wikisource.org/wiki
10 Laut : Tiongkok Selatan P. Sebetul No. 421
04°42′25″N 107°54′20″E Titik Dasar No. TD.030A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.030A WGS'84
Jarak TD.030A-TD.030B = 8.18 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
11 Laut : Tiongkok Selatan P. Sekatung No. 421
04°47′38″N 108°00′39″E Titik Dasar No. TD.030B 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.030A WGS'84
Between TD.030B-TD.030D
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
12 Laut : Tiongkok Selatan P. Sekatung No. 421
04°47′45″N 108°01′19″E Titik Dasar No. TD.030D 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.030 WGS'84
Jarak TD.030D-TD.031 = 52.58 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
13 Laut : Tiongkok Selatan P. Senua No. 421
04°00′48″N 108°25′04″E Titik Dasar No. TD.031 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.031 WGS'84
Jarak TD.031-TD.032 = 66.03 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
14 Laut : Natuna P. Subi Kecil No. 420
03°01′51″N 108°54′52″E Titik Dasar No. TD.032 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.032 WGS'84
Jarak TD.032-TD.033 = 27.67 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
15 Laut : Natuna P. Kepala No. 420
02°38′43″N 109°10′04″E Titik Dasar No. TD.033 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.033 WGS'84
Jarak TD.033-TD.035 = 44.10 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
16 Laut : Natuna Tg. Datu No. 420
02°05′10″N 109°38′43″E Titik Dasar No. TD.035 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.035 WGS'84
Antara TD.035 -TD.036C
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
17 Laut : Sulawesi P. Sebatik No. 489 dan 59
04°10′10″N 117°54′29″E Titik Dasar No. TD.036 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.036 WGS'84
Jarak TD.036-TD.036A = 1.27 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
18 Laut : Sulawesi P. Sebatik No. 489 dan 59
04°09′58″N 117°55′44″E Titik Dasar No. TD.036A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.036 WGS'84
Jarak TD.036A-TD.036B = 0.82 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
19 Laut : Sulawesi P. Sebatik No. 489 dan 59
04°09′34″N 117°56′27″E Titik Dasar No. TD.036B 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.036 WGS'84
Jarak TD.036B-TD.037 = 12.22 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
20 Laut : Sulawesi Karang Unarang No. 489 dan 59
04°00′38″N 118°04′58″E Titik Dasar No. TD.037 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.036 WGS'84
Jarak TD.037-TD.039 = 110.27M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
21 Laut : Sulawesi P. Maratua No. 488
02°15′12″N 118°38′41″E Titik Dasar No. TD.039 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.039 WGS'84
Jarak TD.039-TD.040 = 36.95 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
22 Laut : Sulawesi P. Sambit No. 488
01°46′53″N 119°02′26″E Titik Dasar No. TD.040 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.040 WGS'84
Jarak TD.040-TD.043 = 84.61 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

23 Laut : Sulawesi P. Lingian No. 487


00°59′55″N 120°12′50″E Titik Dasar No. TD.043 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.043 WGS'84
Jarak TD.043-TD.044 = 40.21 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
24 Laut : Sulawesi P. Salando No. 487
01°20′16″N 120°47′31″E Titik Dasar No. TD.044 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.044 WGS'84
Jarak TD.044-TD.044A = 6.05 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
25 Laut : Sulawesi P. Dolangan No. 486, 487
01°22′40″N 120°53′04″E Titik Dasar No. TD.044A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.044A WGS'84
Antara TD.044A-TD.044B
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
26 Laut : Sulawesi P. Dolangan No. 486, 487
01°22′41″N 120°53′07″E Titik Dasar No. TD.044B 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.044A WGS'84
Jarak TD.044B-TD.045 = 33.70 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

27 Laut : Sulawesi Tg. Kramat No. 486


01°18′48″N 121°26′36″E Titik Dasar No. TD.045 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.045 WGS'84
Jarak TD.045-TD.046A = 60.10 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
28 Laut : Sulawesi Kr. Boliogut No. 486
01°08′17″N 122°25′47″E Titik Dasar No. TD.046A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.046A WGS'84
Jarak TD.046A-TD.047 = 41.32 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

29 Laut : Sulawesi P. Bangkit No. 485


01°02′52″N 123°06′45″E Titik Dasar No. TD.047 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.047 WGS'84
Jarak TD.047-TD.048 = 74.17 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
30 Laut : Sulawesi Tg. Laimpangi No. 485
01°09′29″N 124°20′38″E Titik Dasar No. TD.048 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.048 WGS'84
Jarak TD.048-TD.049A = 43.09 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
31 Laut : Sulawesi P. Manterawu No. 484
01°45′47″N 124°43′51″E Titik Dasar No. TD.049A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.049A WGS'84
Jarak TD.049A-TD.051A = 63.82 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

32 Laut : Sulawesi P. Makalehi No. 484


02°44′15″N 125°09′28″E Titik Dasar No. TD.051A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.051 WGS'84
Jarak TD.051A-TD.053A = 90.35 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
33 Laut : Sulawesi P. Kawalusu No. 483
04°14′06″N 125°18′59″E Titik Dasar No. TD.053A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.053 WGS'84
Jarak TD.053A-TD.054 = 27.01 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
34 Laut : Mindanau P. Kawio No. 482
04°40′16″N 125°25′41″E Base Point No. TD.054 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.054 WGS'84
Jarak TD.054-TD.055 = 4.98 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
35 Laut : Mindanau P. Marore No. 482
04°44′14″N 125°28′42″E Titik Dasar No. TD.055 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.055 WGS'84
Antara TD. 055-TD.055A
Garis Pangkal Normal

36 Laut : Mindanau P. Marore No. 482


04°44′25″N 125°28′56″E Titik Dasar No. TD.055A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.055 WGS'84
Jarak TD.055A-TD.055B = 0.58 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
37 Laut : Mindanau P. Batubawaikang No. 482
04°44′46″N 125°29′24″E Titik Dasar No. TD.055B 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.055 WGS'84
Jarak TD.055B-TD.056 = 81.75 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

38 Laut : Filipina P. Miangas No. 481,482


05°34′02″N 126°34′54″E Titik Dasar No. TD.056 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.056 WGS'84
Antara TD.056-TD.056A
Garis Pangkal Normal
39 Laut : Filipina P. Miangas No. 481, 482
05°33′57″N 126°35′29″E Titik Dasar No. TD.056A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.056 WGS'84
Jarak TD.056A-TD.057A=57.91 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
40 Laut : Filipina P. Marampit No. 481
04°46′18″N 127°08′32″E Titik Dasar No. TD.057A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.057 WGS'84
Antara TD.057A-TD.057
Garis Pangkal Normal
41 Laut : Filipina P. Marampit No. 481
04°45′39″N 127°08′44″E Titik Dasar No. TD.057 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.057 WGS'84
Jarak TD.057-TD.058A = 7.10 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
42 Laut : Filipina P. Intata No. 481
04°38′38″N 127°09′49″E Titik Dasar No. TD.058A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.058A WGS'84
AntaraTD.058A-TD.058
Garis Pangkal Normal
43 Laut : Filipina P. Kakarutan No. 481
04°37′36″N 127°09′53″E Titik Dasar No. TD.058 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.058 WGS'84
Jarak TD.058-TD.059 = 55.63 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
44 Laut : Halmahera Tg. Tampida No. 480
03°45′13″N 126°51′06″E Titik Dasar No. TD.059 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.059 WGS'84
Jarak TD.059-TD.060 = 122.75 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

45 Laut : Halmahera Tg. Sopi No. 479


02°38′44″N 128°34′27″E Titik Dasar No. TD.060 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.060 WGS'84
Antara TD.060-TD.061A
Garis Pangkal Normal
46 Laut : Halmahera Tg. Gorua No. 482
02°25′39″N 128°41′57″E Titik Dasar No. TD.061A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.061 WGS'84
Jarak TD.061A-TD.062 = 50.97 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
47 Laut : Halmahera Tg. Lelai No. 479
01°34′44″N 128°44′14″E Titik Dasar No. TD.062 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.062 WGS'84
Jarak TD.062-TD.063 = 56.55 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

48 Laut : Halmahera P. Jiew No. 478


00°43′39″N 129°08′30″E Titik Dasar No. TD.063 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.063 WGS'84
Jarak TD.063-TD.065 = 96.05 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

49 Samudra : Pasifik P. Budd No. 477


00°32′08″N 130°43′52″E Titik Dasar No. TD.065 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.065 WGS'84
Jarak TD.065-TD.066= 45.91 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
50 Samudra : Pasifik P. Fani No. 477
01°05′20″N 131°15′35″E Titik Dasar No. TD.066 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.066 WGS'84
Antara TD.066-TD.066A
Garis Pangkal Normal
51 Samudra : Pasifik P. Fani No. 477
01°04′28″N 131°16′49″E Titik Dasar No. TD.066A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.066 WGS'84
Jarak TD.066A-TD.070 = 99.81 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

52 Samudra : Pasifik P. Miossu No. 476


00°20′16″S 132°09′34″E Titik Dasar No. TD.070 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.070 WGS'84
Jarak TD.070-TD.070A = 15.77 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

53 Samudra : Pasifik Tg. Yamursba No. 476


00°20′34″S 132°25′20″E Titik Dasar No. TD.070A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.070A WGS'84
Jarak TD.070A-TD.071 = 17.72 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

54 Samudra : Pasifik Tg. Wasio No. 476


00°21′42″S 132°43′01″E Titik Dasar No. TD.071 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.071 WGS'84
Jarak TD.071-TD.072 = 122.74 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
55 Samudra : Pasifik P. Fanildo No. 475
00°56′22″N 134°17′44″E Titik Dasar No. TD.072 1 : 200.000
Pilar Pendekat No.TR.072 WGS'84
Antara TD.072-TD.072A
Garis Pangkal Normal
56 Samudra : Pasifik P. Bras No. 475
00°55′57″N 134°20′30″E Titik Dasar No. TD.072A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.072 WGS'84
Jarak TD.072A-TD.074 = 97.28 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
57 Samudra : Pasifik P. Bepondi No. 474
00°23′38″S 135°16′27″E Titik Dasar No. TD.074 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.074 WGS'84
Jarak TD.074-TD.076B = 39.41 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
58 Samudra : Pasifik Tg. Wasanbari No. 474
00°41′56″S 135°51′21″E Titik Dasar No. TD.076B 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.077 WGS'84
Jarak TD.076B-TD.077 = 38.90 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

59 Samudra : Pasifik Tg. Basari No. 473


01°04′13″S 136°23′14″E Titik Dasar No. TD.077 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.077 WGS'84
Jarak TD. 077 -TD.078 = 95.45 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
60 Samudra : Pasifik Tg. Narwaku No. 472
01°27′23″S 137°55′51″E Titik Dasar No. TD.078 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.078 WGS'84
Jarak TD.078-TD.079 = 47.61 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
61 Samudra : Pasifik P. Liki No. 472
01°34′26″S 138°42′57″E Titik Dasar No. TD.079 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.079 WGS'84
Jarak TD.079-TD.080 = 97.06 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
62 Samudra : Pasifik Tg. Kamdara No. 471
02°19′12″S 140°09′07″E Titik Dasar No. TD.080 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.080 WGS'84
Jarak TD.080-TD.080A = 28.56 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara

63 Samudra : Pasifik Tg. Kelapa No. 471


02°26′22″S 140°36′47″E Titik Dasar No. TD.080A 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.080A WGS'84
Jarak TD.080A-TD.081 = 25.22 M
Garis Pangkal Lurus Kepulauan Nusantara
64 Samudra : Pasifik Tg. Oinake No. 471
02°36′16″S 141°00′00″E Titik Dasar No. TD.081 1 : 200.000
Pilar Pendekat No. TR.081 WGS'84
Antara TD.081-TD.082
Irian Jaya

2. Mengenai Hak Lintas Damai


Pasal 17-19 Konvensi Hukum Laut 1982 menjelaskan hak lintas damai (right
of innocent passage). Pasal 17 Konvensi mengatur bahwa kapal dari semuaNegara
baik Negara pantai maupun Negara tidak berpantai mempunyai hak lintas
damai melalui laut territorial. Pasal 18 Konvensi memberikan pengertian lintas
(passage), yaitu berlayar atau navigasi melalui laut territorial untuk tujuan melintasi
laut tanpa memasuki perairan pedalaman atau singgah di tempat berlabuh di tengah
laut (roadsteads) atau fasilitas pelabuhan di luar perairan pedalaman atau berlalu ke
atau dari perairan pedalaman atau singgah di tempat berlabuh di tengah laut atau
fasilitas pelabuhan tersebut. Lintas harus terus menerus, langsung terus menerus dan
secepat mungkin (continuous and expeditious), dan lintas mencakup berhenti dan
buang jangkar secara normal atau karena force majeur. Pasal 19 Konvensi
menyebutkan bahwa lintas adalah damai selama tidak menggangu kedamaian,
ketertiban atau keamanan
Konvensi 1982 yang berisikan ketentuan-ketentuan mengenai hak lintas
damai telah dituangkan ke dalam UU No. 6 Tahun 1996 yang diatur dalam Bab III
Pasal 11-17.11 Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 21 Konvensi KHL 1982 bertujuan
untuk mengatur keselamatan pelayaran, pelestarian kekayaan hayati laut,
pemeliharaan lingkungan dan pencegahan polusi, penyidikan ilmiah dan pencegahan
terhadap pelanggaran-pelanggaran aturan kepabeanan, keuangan, imigrasi, dll.
Pemerintah juga telah mengeluarkan PP No. 36 Tahun 2002 yang mengatur hak
lintas damai di perairan Indonesia.

3. Menganai Hak Lintas Transit


Hak lintas transit (right of transit passage) diatur oleh Pasal 37-44 Konvensi
Hukum Laut 1982. Pasal 37 menyatakan bahwa lintas transit (transit passage)
berlaku pada selatselat yang digunakan untuk pelayaran internasional antara satu
bagian laut lepas (high seas) atau zona ekonomi eksklusif dan bagian laut lepas atau
zona ekonomi eksklusif lainnya, sedangkan hak lintas transit itu sendiri terdapat
dalam Pasal 38 Konvensi yang mengatakan bahwa semua kapal (ships) dan pesawat
udara (aircraft) mempunyai haklintas transit yang tidak boleh dihalangi. Lintas
transit berarti pelaksanaan kebebasan pelayaran (freedom of navigation) dan
penerbangan (overflight) semata-mata untuk tujuan transit terus-menerus langsung
dan secepat mungkin antara satu bagian laut lepas atau zona ekonomi eksklusif dan
bagian laut lepas atau zona ekonomi eksklusif lainnya.
Pengaturan hak lintas damai bagi kapal asing telah diatur dalam UU No. 6
Tahun 1996 yang diatur dalam Bab III Pasal 20 dan 21 mengenai hak lintas transit
mengizinkan negara-negara yang dipisahkan selat untuk membuat peraturan
perundang-undangan mengenai lintas transit melalui selat-selat berkaitan dengan
keselamatan pelayaran, pencegahan polusi, pengaturan penangkapan ikan, dll.

4. Penentuan Batas Perairan Pedalaman


Pasal 8 Konvensi Hukum Laut 1982 menyatakan bahwa : “… waters on the
landward side of the baseline of the territorial sea form part of the internal waters of
the State”, yaitu bahwa perairan pedalaman adalah perairan pada sisi darat garis
pangkal laut territorial merupakan bagian perairan pedalaman negara tersebut.
Perairan pedalaman Indonesia adalah sepenuhnya berada di bawah
kedaulatan Negara Indonesia, sampai saat ini Indonesia belum menetapkan wilayah

11 Lihat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia


perairan pedalaman, dengan identifikasinya. Selain itu di perairan pedalaman
tersebut terdapat pelabuhan tempat bongkar muat barang ekspor-impor dari dan ke
Indonesia. Dalam konteks pembangunanekonomi nasional Indonesia, pelabuhan-
pelabuhan yang ada di Indonesia sudah seharusnya mempunyai standar internasional
dan mampu bersaing secara global dengan pelabuhanpelabuhan luar negeri.
Indonesia wajib memberikan keamanan dan keselamatan pelayaran internasional
sejalan dengan International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code yang
diadopsi oleh International Maritime Organization (IMO) tanggal 12 Desember
2002. Di samping itu, perairan pedalaman Indonesia sering dijadikan tempat
pembuangan limbah sehingga perairan pedalaman di beberapa tempat di Indonesia
sering tampak kotor, dan mungkin terjadi pencemaran lingkungan laut dan
perusakan habitatnya. Apabila pemerintah membiarkan keadaan tersebut di perairan
pedalaman, maka dapat dianggap telah melanggar kewajiban negara untuk
melindungi dan melestarikan lingkungan laut sebagaimana ditegaskan oleh Pasal
192 Konvensi Hukum Laut 1982 yang berbunyi : “States have the obligation to
protect and preserve the marine environment”. Kewajiban Indonesia di perairan
pedalaman adalah untuk kepentingan Indonesia, yaitu berupa kewajiban menjaga
dan melestarikan lingkungan hidup secara keseluruhan, walapun dalam konteks
lingkungan laut sudah ada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Laut yang merupakan peraturan pelaksana dari Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Indonesia yang memiliki laut sangat luas itu tampaknya tidak diimbangi
dengan kesungguhan menjaga dan memanfaatkannya, sehingga di perairan
pedalaman saja terjadi penangkapan ikan ilegal, pencemaran laut, dan perusakan
terumbu karang yang dapat merugikan masyarakat luas dan laut sendiri. Oleh karena
itu Indonesia perlu menetapkan batas wilayah perairan pedalaman di dalam perairan
nusantara (penetapan closing lines), serta peraturan perundang-undangan yang
dibuat oleh setiap sektor harus dilaksanakan dengan koordinasi baik, sehingga laut di
perairan pedalaman tidak rusak, apalagi pada era otonomi daerah sekarang ini jangan
sampai menambah kerusakan wilayah laut.
5. Zona Ekslusif Ekonomi
Indonesia mempunyai hak-hak, jurisdiksi, dan kewajiban di zona ekonomi
eksklusif karena sudah terikat oleh Konvensi Hukum Laut 1985 dengan UU No.
17/1985. Hak-hak, jurisdiksi, dan kewajiban Indonesia pada Konvensi tersebut
sudah ditentukan oleh Pasal 56 yang berbunyi sebagai berikut :
a. In the exclusive economic zone, the coastal State has:
1. sovereign rights for the purpose of exploring and exploiting, conserving and
managing the natural resources, whether living or non-living, of the waters
superjacent to the seabed and of the seabed and its subsoil, and with regard to
other activities for the economic exploitation and exploration of the zone, such
as the production of energy from the water, currents and winds;
2. jurisdiction as provided for in the relevant provisions of this Convention with
regard to:
i. the establishment and use of artificial islands, installations and structures;
ii. marine scientific research;
iii. the protection and preservation of the marine environment;
b. In exercising its rights and performing its duties under this Convention in the
exclusive economic zone, the coastal State shall have due regard to the rights and
duties of other States and shall act in a manner compatible with the provisions of
this Convention.
Di zona ekonomi eksklusif setiap Negara pantai seperti Indonesia ini
mempunyai hak berdaulat untuk tujuan eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan
mengelola sumber daya alam baik hayati maupun nonhayati di perairannya, dasar
laut dan tanah di bawahnya serta untuk keperluan ekonomi di zona tersebut seperti
produksi energi dari air, arus, dan angin. Sedangkan jurisdiksi Indonesia di zona itu
adalah jurisdiksi membuat dan menggunakan pulau buatan, instalasi, dan bangunan,
riset ilmiah kelautan, perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Dalam
melaksanakan hak berdaulat dan jurisdiksinya di zona ekonomi eksklusif itu,
Indonesia harus memperhatikan hak dan kewajiban Negara lain.
Indonesia sudah dilengkapi dengan UU No. 5 Tahun 1983 dan PP No. 15
Tahun 1984 tentang Pengelolaan Sumber Hayati Laut di ZEE Indonesia.
Sehubungan dengan zona ini banyak kegiatan tindak lanjut yang harus dilakukan
Indonesia seperti penetapan batas terluar ZEE Indonesia dan menyimpankan copy
peta-peta atau daftar koordinat-koordinatnya kepada Sekretariat Jenderal PBB.
Sesuai Pasal 62 Konvensi 1982, Indonesia harus memberitahukan mengenai
pembangunan dan letak pulau-pulau buatan, instalasi-instalasi dan bangunan-
bangunan lainnya di ZEE.
Menurut Pasal 13 Undang-Undang No. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia yang menyatakan bahwa “dalam rangka melaksanakan hak
berdaulat dan jurisdiksinya itu, aparatur penegak hukum dapat mengambil tindakan
penegakan hukum sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana”. Oleh karena itu, untuk menjaga dan
memanfaatkan kekayaan sumber daya alam di ZEE Indonesia itu, Indonesia harus
mempunyai kekuatan armada laut yang dapat diandalkan, sehingga kekayaan di zona
itu tidak diambil oleh kapal-kapal asing.

6. Landas Kontinen
Indonesia mempunyak hak eksplorasi dan eksploitasi kekayaan sumber daya
alam di landas kontinen sebagaimana diatur oleh Pasal 77 Konvensi Hukum Laut
1982, tetapi di samping itu Indonesia mempunyai kewajiban untuk menetapkan
batas terluar landas kontinen sejauh 350 mil dan menyampaikan kepada Komisi
Landas Kontinen (Commission on the Limits of the Continental Shelf) yang
selanjutnya diatur oleh Lampiran (Annex) II Konvensi Hukum Laut 1982.
Penentapan batas-batas landas kontinen baik sejauh 200 mil maupun 350 mil
tersebut wajib disampaikan salinannya kepada Sekretaris Jenderal PBB yang di
dalamnya memuat informasi yang relevan seperti data geodetik dan peta-peta
lainnya. Indonesia juga harus melakukan negosiasi penetapan batas-batas landas
kontinen dengan negara tetangga dan jangan sampai terulang kasus Sipadan-Ligitan
yang semula tentang perundingan batas-batas landas kontinen antara Indonesia dan
Malaysia tersebut.
Indonesia sudah mempunyai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang
Landas Kontinen yang masih mengacu pada Konvensi Jenewa 1958 yang sudah
barang tentu sudah tidak relevan lagi, Landas kontinen menurut Pasal Undang-
Undang No. 1 Tahun 1973 tersebut adalah sampai kedalaman 200 meter yang berarti
tidak sesuai dengan Pasal 76 Konvensi Hukum Laut 1982. Oleh karena itu, Undang-
Undang No. 1 Tahun 1973 harus diamandemen dengan sesuai dengan materi muatan
Konvensi Hukum Laut 1982, dan mengumumkan dan mendepositkan batas landas
kontinen tersebut pada sekjen PBB pada tahun 2009.
7. Penetapan Alur Laut Kepulauan Indonesia
Negara pantai dengan memperhatikan keselamatan pelayaran dapat
mewajibkan kapal asing melaksanakan hak lintas damai melalui laut territorial
dengan menggunakanalur laut (sea lanes) dan skema pemisah lalu lintas (traffic
separation schemes) sebagaimana diatur oleh Pasal 22 Konvensi Hukum Laut 1982.
Demikian juga pelayaran dengan menggunakan hak lintas transit karena ketentuan
Pasal 41 Konvensi Hukum Laut 1982 yang mengatur alur laut dan skema pemisah
lintas transit, yaitu bahwa negara-negara yang berbatasan dengan selat (states
bordering straits) dapat menentukan alur laut (sea lanes) dan skema pemisah
pelayaran di selat-selat apabila diperlukan untuk meningkatkan lintas transit yang
aman sesuai dengan peraturan internasional yang dibuat oleh organisasiinternasional
yang berkompeten, yaitu dalam hal ini IMO (Internattional Maritime Organizations).
Indonesia telah memilki UU No. 6 Tahun 1996 yang juga berisikan ketentuan
penetapan lintas alur laut kepulaun seperti yang terdapat dalam Pasal 18 dan 19.
Pada tahun 1996 Indonesia telah mengusulkan kepada IMO penetapan tiga ALKI
beserta cabang-cabangnya di perairan Indonesia.12
Menurut kesepakatan dengan IMO, ALKI-ALKI itu akan mulai berlaku
minimum enam bulan sejak diundangkannnya oleh Indonesia. Pemerintah
mengeluarkan PP No. 37 Tahun 2002 tentang 3 alur laut kepulauan di perairan
kepulauan Indonesia.

8. Pertambangan Dasar Laut


Kawasan dasar laut dan tanah di bawahnya yang diatur oleh Bab XI
Konvensi Hukum Laut 1982 tersebut tunduk pada rejim internasional, yaitu common
heritage of mankind, yaitu warisan bersama umat manusia. Di Kawasan tidak boleh
ada negara yang mengklaim kedaulatan karena semua kekayaannya hanya untuk
kepentingan seluruh umat manusia yang dikelola oleh suatu badan internasional,
yaitu Badan Otorita Dasar Laut Internasional (International Sea-Bed Authority-
ISBA), sehingga pertambangan di Kawasan terutama yang dilakukan oleh negara-
negara maju yang mempunyai teknologi dan sumber daya manusia harus
berdasarkan persetujuan ISBA.

12 Lihat buku Boer Mauna, HUKUM INTERNASIONAL Pengertian Peranan Dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global, Edisi II (Bandung:
PT. Alumni, 2005, hlm. 398
Kawasan yang berada di luar jurisdiksi nasional dan berada di bawah
pengelolaan Badan Otorita Dasar Laut Internasional atau ISBA itu mempunyaistatus
common heritage of mankind, yaitu semua kekayaan di Kawasan adalah warisan
bersama umat manusia. Oleh karena itu tidak ada kewajiban khusus yang dimiliki
oleh setiap Negara termasuk Indonesia. Kewajiban Indonesia adalah berpartisipasi
dalam eksplorasi dan eksploitasi bekerja sama dengan Negara, organisasi
internasional, atau perusahaan dalam negeri atau asing.
Indonesia seharusnya konsentrasi menjaga dan memanfaatkan kekayaan
sumber daya alam di laut baik hayati maupun nonhayati yang berada di bawah
kedaulatan dan jurisdiksi Indonesia, seperti di perairan kepulauan, laut territorial,
zona ekonomi eksklusif, dan landas kontinen. Pemerintah Indonesia harus aktif
mengikuti sidang ISBA yang dilakukan setiap tahun, untuk mengikuti
perkembangan-perkembangan mengenai potensi pertambangan di dasar laut.
KESIMPULAN

1. Indonesia merupakan negara kepulauan. Oleh karena itu, Indonesia ikut dalam
merumuskan materi dari UNCLOS 1982. Ketentuan tentang negara kepulauan
mempunyai hubungan substansial dengan Deklarasi Djoeanda yang dicetuskan pada
tahun 1957.
2. Wawasan Nusantara yang dalam status juridisnya adalah negara kepulauan (archipelagic
states) sudah diakui oleh masyarakat internasional dengan adanya Konvensi Hukum Laut
1982 yang diatur dalam Bab IV Pasal 46. Negara kepulauan adalah suatu Negara yang
seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain.
Kepulauan berarti suatu gugusan pulau termasuk bagian pulau, perairan di antaranya dan
lain-lain wujud ilmiah yang hubungannya satu sama lainnya demikian erat, sehingga
pulau-pulau, perairan dan wujud alamiah lainnya itu merupakan suatu kesatuan geografi,
ekonomi, dan politik yang hakiki atau yang secara histories dianggap sebagai demikian.
3. Sebagai negara yang menandatangani dan kemudian telah meratifikasinya menjadi
bagian dari tataran hukum nasionalnya, maka Indonesia tentunya harus taat azas dengan
berbagai ketentuan hukum laut internasional dari UNCLOS 1982, termasuk tentang hak
dan kewajiban.
DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Kusumaatmadja, Mochtar., Hukum Laut Internasional, Binacipta, Bandung, 1978
Kusumaatmadja, Mochtar., Perlindungan Dan Pelestarian Lingkungan Laut, Sinar Grafika
dan Pusat Studi Wawasan Nusantara, Jakarta, 1992.
Mauna, Boer., HUKUM INTERNASIONAL: Pengertian, Peranan, Dan Fungsi Dalam Era
Dinamika Global, PT. Alumni, Bandung, 2005.
Starke, J.G., Pengantar Hukum Internasional, Edisi X, Sinar Grafika, Jakarta, 2008.
Syahmin A.K., Hukum Perjanjian Internasional, Edisi I, Unsri, Palembang, 2011

Tulisan:
Salam, Abdul Alim., Evaluasi Kebijakan Dalam Rangka Implementasi Konvesni Hukum Laut
Internasional (UNCLOS 1982) di Indonesia, Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia,
Jakarta, 2008.

Website:
http://www.dekin.kkp.go.id/yopi/index.php, diakses pada tanggal 12 April 2011
http://www.topix.com/forum/world/indonesia, diakses pada tanggal 12 April 2011
http://els.bappenas.go.id/upload/other, diakses pada tanggal 12 April 2011
http://id.wikipedia.org/wiki, diakses pada tanggal 14 April 2011

Perundang-undangan:
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia