Anda di halaman 1dari 9

PEREKONOMIAN INDONEISA

SAP 6

KELOMPOK 11

NAMA KELOMPOK :

IVANA ELVARETTA INDRIANTO (1607532026)


PUTU MONICA ANJAYANI (1607532145)
I WAYAN SUKARDIKA (1607532148)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
Program Non Reguler
2018
A. DISTRIBUSI PENDAPATAN

Para ekonom pada umumnya membedakan dua ukuran pokok distribusi pendapatan, yang kedua
digunakan untuk tujuan analisis dan kuantitaif tentang keadilan distribusi pendapatan. Kedua
ukuran tersebut adalah distribusi ukuran, yakni besar atau kecilnya bagian pendapatan yang
diterima masing-masing orang dan distribusi ‘’fungsional’’ atau distribusi kepemimpinan faktor
– faktor produksi. Dari kedua jenis distribusi pendapatan ini kemudia dihitung indicator untuk
menunjukkan distribusi pendapatan masyarakat.

Distribusi Pendapatan Ukuran


Distribusi pendapatan perorangan (personal distribusi of income) atau distribusi ukuran
pendapatan (size distribution of income) merupakan ukuran yang paling sering digunakan oleh
para ekonom. Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah pendapatan yang diterima oleh
setiap individu atau rumah tangga. Cara mendapatkan pendapatan itu tidak dimasalahkan. Apa
yang diperhatikan di sini adalah seberapa banyak pendapatan yang diterima seseorang, tidak
peduli dari mana sumbernya, entah itu hanya berasal dari gajinya karena bekerja, atau berasal
dari sumber yang lain seperti bunga tabungan,laba,hasil sewa, hadiah, ataupun warisan.
Ada tiga alat ukur tingkat ketimpangan pendapatan dengan bantuan distribusi ukuran, yakni: (1)
Rasio Kutnezs, (2) Kurva Lorenz, dan (3) Koefisien Gini.
1. Rasio Kutnezs
Ukuran umum yang memperlihatkan tingkat ketimpangan pendapatan dapat ditemukan dalam
kolom 3, yaitu perbandingan antara pendapatan yang diterima oleh 20% anggota kelompok
teratas dan 40% anggota kelompok terbawah. Rasio yang sering disebut sebagai rasio Kutnezs
inilah (dinamai berdasarkan nama pemenang Nobel Simon Kutnezs), yang sering dipakai sebagai
ukuran tingkat ketimpangan antara dua kelompok ekstrem, yaitu kelompok yang sangat misnkin
dan kelompok yang sangat kaya di satu negara. Rasio ketimpangan dalam contoh ini adalah 14
dibagi dengan 51, atau sekitar 0,28
2. Kurva Lorenz
Metode lainnya yang lazim dipakai untuk menganalisis statistik pendapatan perorangan adalah
dengan menggunakan kurva Lorenz (Lorenz Curve). Kurva Lorenz menunjukkan hubungan
kuantitatif aktual antara presentase penerima pendapatan dengan presentase pendapatan total
yang benar-benar mereka terima selama, misalnya satu tahun. Pada peraga 1, garis horizontal
menunjukkan presentase kumulatif penerima pendapatan, sedangkan sumbu vertikal menyatakan
bagian dari pendapatan total yang diterima oleh masing-masing presentase kelompok penduduk
tersebut. Masing – masing sumbu berakhir pada titik 100 persen, sehingga da berbentuk bujur
sangkar sat ugaris diagonal ditarik dari titik nol pada sudut kiri bawah menuju ke sudut kanan
atas. Pada setiap titik yang terdapat pada garis diagonal itu, presentase pendapatan yang diterima
persis sama dengan presentase jumlah penerimanya, misalnya titik tengah garis diagonal
menunjukkan 50 persen pendapatan yang diterima oleh 50 persen penduduk, begitu seterusnya
pada setiap titik di garis diagonal. Dengan kata lain, garis diagonal tersebut menunjukkan
“pemerataan sempurna’’ (perfect equality) dalam distribusi ukuran pendapatan.
Pada peraga 1, memakai data tabel desil yakni sumbu vertical dan horizontalnya dibagi menjadi
sepuluh bagian yang sama, sesuai dengan sepuluh kelompok desil.pada titik a, 40% penduduk
termisikin menerima hanya 14% dari jumlah pendapatan, pada titik b, 50% penduduk menerima
19,1% dari jumlah pendapatan pada titik c, 80% menerima pendapatan hanya menerima 49%
dari total pendapatan. Menghubungkan titik a,b,c, dan titik lainnya akan membentuk kurva
Lorenz seperti peraga 1 :

Semakin jauh jarak kurva Lorenz dari garis diagonal (garis pemerataan sempurna), maka makin
timpang atau tidak merata distribusi pendapatannya semakin parah ketidak merataannya atau
ketimpangan distribusi pendapatan di satu negara, maka bentuk kurva Lorennya pun akan
semakin melengkung mendekati sumbu horizontal bagian bawah

Koefisien Gini dan Ukuran Ketrimpangan Agregat


Perangkat yang terakhir dan sangat mudah digunakan untuk mengukur derajat ketimpangan
pendapatan relative di satu Negara, adalah dengan menghitung rasio bidang yang terletak di
antara garis diagonal.
Koefisien Gini adalah ukuran ketimpang agregat yang angkanya berkisar antara nol
(pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpang sempurna).

B. DISTRIBUSI FUNGSIONAL
ukuran distribusi pendapatan kedua yang lazim digunakan oleh kalangan ekonom adalah
distribusi pendapatan fungsional atau pangsa distribusi pendapatan per faktor produksi. Teori
distribusi fungsional ini pada dasarnya mempersoalkan presentase pendapatan tenaga kerja
secara keseluruhan, bukan sebagai unit-unit usaha atau faktor produksi yang terpisah secara
individual dan membandingkannya dengan presentase pendapatan total yang dibagikan dalam
bentuk sewa, bunga, laba.
Peraga 3 memberikan ilustrasi sederhana tentang teori distribusi tradisional mengenai
pendapatan fungsional. Dalam peraga tersebut, diasumsikan bahwa hanya terdapat dua faktor
produksi saja, yaitu modal, yang persediaannya dianggap tetap
atau baku, dan tenaga kerja, yang merupakan satu-satunya faktor produksi variabel. Sesuai
dengan prinsip produk marjinal yang semakin menurun, permintaan terhadap jumlah tenaga
kerja.
Dalam perekonomian pasar kompetitif yang memiliki fungsi produksi dengan skala
pengembalian yang tetap, dimana jika semua input digandakan maka output pun akan berlipat
dua, harga masing-masing faktor produksi akan ditentukan oleh kurva penawaran dan
permintaan terhadap faktor yang bersangkutan, dan himpunan segenap faktor produksi itulah
yang akan membentuk total produksi nasional.
Pendapatan didistribusikan menurut ‘fungsinya’, sehingga tenaga kerja menerima upah, pemilik
tanah menerima sewa, dan pemilik modal menerima laba. Ini merupakan sebuah teori yang rapid
an logis, karena setiap faktor menerima pembayaran atau pendapatan sesuai dengan kontribusi
mereka pada output nasional, tidak lebih dan tidak kurang

C. KEBIJAKAN DISTRIBUSI PENDAPATAN


Beberapa pilihan kebijaksanaan berikut ini berlaku untuk memperbaiki distribusi pendapatan dan
juga untuk memerangi kemiskinan. Ada beberapa pilihan yaitu:

1. Perbaikan distribusi pendapatan fungsional melalui serangkaian kebijakan khusus


dirancang untuk mengubah harga-harga relative faktor produksi. Kebijakaan ini dapat
berupa:
a. Upah buruh, dilaksanakan dengan menentukan tingkat upah minimum nasional dan
regional.
b. Bunga modal, dilaksanakan dengan menentukan harga modal terlalu murah
dibandingkan dengan harga modal yang ditetapkan atas permintaan dan penawaran.
Misalnya, pemberian kemudahan prosedur investasi, keringanan pajak bagi
pengusaha, subsidi tingkat bunga (tingkat bunga yang lebih rendah untuk investasi),
penetapan kurs valuta asing yang terlalu tinggi, dan penurunan bea masuk bagi impor
barang-barang modal. Semua kebijaksanaan ini mengakibatkan harga modal terlalu
murah, yang akibat akhirnya para pengusaha akan memilih teknologi produksi yang
padat modal, sehingga distribusi pendapatan menjadi lebih buruk dan jumlah orang
miskin akan bbertambah. Penghapusan distorsi harga faktor produksi sangat
bermanfaat dan penyesuaian harga memungkinkan satu Negara meraih pemerataan
pendapatan sekaligus memperbaiki taraf hidup kaum miskin.
2. Perbaikan distribusi ukuran melalui redistribusi progresif kepemilikan aset. Hal ini akan
sangat tergantung pada distribusi kepemilikan asset (sumber daya atau faktor produksi) di
antara berbagai kelompok masyarakat, terutama modal fisik dan tanah, modal financial
seperti saham dan juga obligasi, serta sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan dan
kesehatan yang lebih baik. Hal ini dilaksanakan melalui UUPA (Undang-undang Pokok
Agraria) 1960, yang membatasi jumlah kepemilikan tanah pertanian. Pajak deviden
obligasi dan pajak terhadap hasil (bagian laba) saham, berbagai jenis bea siswa dan
bantuan sekolah samapai perguruan tinggi, wajib belajar, dan asuransi kesehatan bagi
masyarakat miskin.
3. Pengurangan distribusi ukuran golongan atas melalui pajak yang progresif. Salah satu
contoh yang diterapkan di Indonesia adalah pajak penghasilan perorangan dan badan
yang mempunyai sifat progresif. Pajak kekayaan merupakan pajak property perorangan
dan perusahaan yang bersifat progresif, dan biasanya dikenakan kepada mereka yang
kaya raya. Banyaknya kebijaksanaan progresif berubah secara ajaib menjadi pajak yang
regresif dalam pelaksanaannya.
4. Pembayaran transfer secara langsung dan penyediaan berbagai barang dan jasa publik.
Transfer langsung dilakukan melalui BLT (bantuan langsung tunai) kepada orang miskin
yang berhak untuk menerima.
Meskipun pemerintah Indonesia telah berusaha untuk melaksanakan berbagai program
pemerataan distribusi dan program pengentasan kemiskinan yang telah dijelaskan diatas, ternyata
masih banyak ketimpangan distribusi yang masih berada di Indonesia dan masih belum
memuaskan dan masih banyak jumlah orang miskin yang luput dari program, di samping dalam
jumlah yang tidak sedikit, sangat sulit untuk menyaring orang-orang yang benar-benar tidak
mampu dengan orang-orang yang sebenarnya tidak berhak atas bantuan yang disediakan.

D. KEMISKINAN DALAM ASPEK DATA DAN KEBIJAKAN


Kemiskinan adalah penduduk miskin yang tidak mampu mendapatkan sumber daya yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan dasar. Mereka hidup di bawah tingkat pendapatan riil minimum
tertentu atau di bawah garis kemiskinan internasional. Kemiskinan absolut dapat dan memang
terjadi dimana-mana, di Jakarta, di Bali, di Nusa Penida, di Medan walaupun kadarnya berbeda-
beda dari satu tempat ke tempat lainnya.

Mengukur Kemiskinan Absolut


Kemiskinan absolut dapat diukur dengan angka atau hitungan per-kepala (headcount). H untuk
mengetahui seberapa banyak orang yang penghasilannya berada di bawah garis kemiskinan
absolut, Yp. Ketika hitungan per kepala tersebut dianggap sebagai bagian dari populasi total, N,
kita memperoleh indeks per kepala, H/N. Garis kemiskinan ditetapkan pada tingkat yang selalu
konstan secara riil, sehingga kita dapat menelusuri kemajuan yang diperoleh dalam
menanggulangi kemiskinan pada level absolut sepanjang waktu. Gagasan yang mendasari
penetapan level ini adalah standar hidup minimum di mana seseorang hidup dalam kesengsaraan
absolut manusia, yaitu ketika kesehatan seseorang sangat buruk.

Beberapa ekonom mencoba mengalkulasikan indikator jurang kemiskinan (proverty gap) yang
mengukur pendapatan total yang diperlukan untuk mengangkat mereka yang masih di bawah.
Pada peraga di bawah ini, meskipun negara A dan B, 50% penduduknya sama-sama berada di
bawah garis kemiskinan, namun jurang kemiskinan di A ternyata lebih lebar daripada yang ada
di negara B. Dengan demikian negara A harus berusaha lebih keras guna memerangi kemiskinan
absolut penduduknya.
Kekurangan pendapatan total atau jurang kemiskinan total (total poverty gap=TPG) dari kaum
miskin didefinisikan sebagai :

TPG=∑(Yp−Yi)

i=1

TPG adalah jumlah uang per hari yang diperlukan untuk mengangkat perekonomian untuk
mengangkat perekonomian setiap orang miskin di negara itu sampai pada standar pendapatan
minimum yang telah ditentukan. Jika dihitung atas dasar per kapita, kekurangan pendapatan rata-
rata, atau jurang kemiskinan rata-ratanya, (average poverty gap) adalah :

Ukuran kekurangan pendapatan dalam hubungannya dengan garis kemiskinan dapat diukur
menggunakan jurang kemiskinan yang dinormalisasi (normalized poverty gap = NPG) =
APG/Yp sebagai ukuran kekurangan pendapatan, ukuran ini berkisar antara nol dan satu,
sehingga ukuran ini bermanfaat jika kita menginginkan ukuran jurang tanpa unit, agar
perbandingan antar negara atau antar waktu lebih baik.

Ada beberapa kriteria ukuran kemiskinan yaitu :


1. Anonimitas dan indepedensi : ukuran cakupan kemiskinan tidak boleh tergantung pada
siapa yang miskin atau apakah negara tersebut mempunyai jumlah penduduk yang
banyak atau sedikit
2. Monotonisitas : jika anda memberi sejumlah uang kepada seseorang yang berada di
bawah garis kemiskinan, jika semua pendapatan yang lain tetap, maka kemiskinan yang
terjadi tidak mungkin lebih tinggi dari pada sebelumnya. Jika ukuran kemiskinan selalu
lebih rendah setelah pemberian transfer tersebut, sifat ini disebut monotonitas yang kuat
(strong monotonicity).
3. Sensitivitas distribusional : jika anda mentransfer pendapatan dari orang miskin ke orang
kaya, maka akibatnya perekonomian akan menjadi lebih miskin.
Indeks kemiskinan yang terkenal yang memenuhi ke empat kriteria di atas adalah indeks
Sen dan bentuk tertentu dari Indeks Poster-Greer-Thornbeck (FGT) yang sering disebut
sebagai kelas Pα dari ukuran kemiskinan. Pα dapat ditulis sbb :
H α
1 ∑ (Yp−Yi )
Pα=
N
i=1
Yp

Dimana Yi adalah pendapatan dari orang miskin yang ke i, Yp adalah garis kemiskinan dan N
adalah jumlah penduduk. Indeks Pα mempunyai bentuk yang berbeda-beda tergantung pada nilai
α. Jika α=0, maka pembilangnya sama dengan H dan ia menjadi sama rasio headcount H/N. Jika
α = 1 maka akan diperoleh jurang kemiskinan yang dinormalisasi. Jika α = 2 ukuran yang
dihasilkan adalah

P2 = (H/N) {NPG2 + (1 – NPG)2 (CVp)2}

Pertumbuhan dan Kemiskinan


Terdapat lima alasan mengapa kebijaksanaan yang ditujukan untuk mengurangi kemiskinan tidak
harus memperlambat laju pertumbuhan.

Pertama, kemiskinan yang meluas menciptakan kondisi yang membuat kaum miskin tidak
mempunyai akses terhadap pinjaman kredit, tidak mampu membiayai pendidikan anaknya, dan
dengan ketiadaan peluang investasi fisik maupun moneter, mempunyai banyak anak sebagai
sumber keamanan keuangan di masa tuanya nanti. Faktor-faktor ini secara bersama-sama
menyebabkan pertumbuhan per kapita lebih kecil daripada jika distribusi pendapatan lebih
merata.

Kedua, akal sehat yang didukung dengan banyaknya data empiris terbaru, menyaksikan fakta
bahwa tidak seperti sejarah yang pernah dialami oleh negara-negara yang sekarang sudah maju,
kaum kaya di negara-negara miskin sekarang tidak dikenal karen hematnya atau hasrat mereka
untuk menabung atau menginvestasikan bagian yang besar dari pendapatan mereka di dalam
perekonomian negara mereka sendiri.

Ketiga, pendapatan yang redah dan standar hidup yang buruk yang dialami oleh golongan
miskin, yang tercermin dari kesehatan gizi, dan pendidikan yang rendah, dapat menurunkan
produktivitas ekonomi mereka dan akibatnya secara langsung maupun tidak langsung
menyebabkan perekonomian tumbuh lambat. Strategi yang ditujukan untuk meningkatkan
pendapatan dan standar hidup golongan miskin tidak saja akan memperbaiki kesejahteraan
mereka, akan tetapi juga akan meningkatkan produktivitas dan pendapatan seluruh ekonomi.

Keempat, peningkatan tingkat pendapatan golongan miskin akan mendorong kenaikan


permintaan produk kebutuhan rumah tangga buatan lokal, seperti makanan dan pakaian secara
menyeluruh, sementara golongan kaya cenderung membelanjakan sebagian besar pendapatannya
untuk barang-barang mewah impor. Meningkatkan permintaan untuk barang-barang buatan lokal
memberikan rangsangan yang lebih besar kepada produksi lokal, memperbesar kesempatan kerja
lokal, dan menumbuhkan investasi lokal. Permintaan seperti ini akan menciptakan kondisi bagi
pertumbuhan ekonomi yang cepat dan partisipasi rakyat banyak di dalam pertumbuhan itu.

Kelima, penurunan kemiskinan secara massal dapat menstimulasi ekspansi ekonomi yang lebih
sehat karena merupakan insentif materi ekspansi dan prikologis yang kuat bagi meluasnya
partipasipasi publik dalam proses pembangunan. Sebaliknya, lebarnya kesenjangan pendapatan
dan kemiskinan absolut dapat menjadi pendorong negatif materi dan psikologis yang sama
kuatnya terhadap kemajuan ekonomi. Kondisi terakhir bahkan dapat menciptakan penolakan
masyarakat luas terhadap kemajuan dan ketidaksabaran terhadap laju pembangunan atau
terhadap kegagalan untuk mengubah kondisi material mereka.

Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat dan penanggulangan kemiskinan
bukanlah tujuan yang saling bertentangan. Golongan miskin dapat berpartisipasi dan
berkontribusi terhadap pertumbuhan dan jika mereka dapat melaksanakan hal tersebut,
penurunan tingkat kemiskinan yang cepat akan konsisten dengan pertumbuhan yang
berkelanjutan.
REFRENSI

Buku Perekonomian Indonesia KETUT NEHEN, Udayana University


Press.2018