Anda di halaman 1dari 6

Sumpah Tambahan

Sumpah tambahan (selanjutnya disiingkat ST) disebut aanvullende eed atau suppletoire
eed. Diatur dalam Pasal 1940 KUH Perdata yang berbunyi:
“Hakim, karena jabatannya, dapat memerintahkan salah satu pihak yang berperkara untuk
mengangkat sampah, supaya dengan sumpah itu dapat diputuskan perkara itu atau dapat
ditentukan jumlah uang yang dikabulkan”.
a. Letak Perbedaan antara SP dengan ST
Terdapat beberapa pokok antara dengan SP dengan ST, yang terpenting diantaranya
sebagai berikut:
1) Yang Memerintahkan Pengangkatan Sumpah
Perbedaan pertama; pihak yang memerintahkan pengangkatan atau pengucapan
sumpah:
 Pada SP yang berhak berwenang memerintahkan, adalah pihak yang berperkara. Jadi,
yang mengambil inisiatif adalah salah satu pihak yang berperkara. Bisa penggugat
yang memerintahkan tergugat untuk mengangkat sampah, tetapi bisa juga tergugat
yang memerintahkan penggugat mengucapkannya. Hal ini ditegaskan dalam pasal
1929 ke-1 KUH Perdata, Pasal 156 ayat (1) HIR, bahwa SP adalah sumpah yang oleh
pihak yang satu diperintahkan kepada pihak yang lain untuk menggantungkan putusan
perkara pada sumpah tersebut;
 Pada ST yang berwenang memerintahkan adalah hakim karena jabatannya atau secara
ex officio.
2) Pengembalian Pengucapan Sumpah
Perbedaan yang lain, bertitik tolak dari ketentuan Pasal 1932 KUH Perdata,
berkenaan dengan pengembalian sumpah.
 Pada SP dimungkinkan mengembalikan sumpah kepada yang memerintahkan semula.
Seperti yang sudah dijelaskan, pihak yang diperintahkan mengucapkan SP mempunyai
beberapa pilihan: dapat menerima, menolak, dan mengembalikan agar pihak yang
memerintahkan semula yang mengangkat atau mengucapkan sumpah;
 Pada ST undang-undang tidak membolehkan mengembalikan sumpah. Sudah
dijelaskan pada ST, yang memerintahkan pengangkatan sumpah adalah hakim secara
ex officio bukan pihak lawan. Sekiranya hakim memerintahkan penggugat mengangkat
ST, dia tidak dapat mengembalikan perintah itu agar tergugat yang melakukannya.
Tindakan yang seperti itu dilarang dengan tegas oleh Pasal 1943 KUH Perdata yang
mengatakan ST yang diperintahkan hakim kepada salah satu pihak yang berperkara,
pihak tersebut tidak dapat mengembalikan perintah itu kepada pihak lawan.
3) Perbedaan dari Kualitas Pembuktian
Sumpah sebagai alat bukti baru dapat diterapkan apabila para pihak tidak mampu
membiktikan dalil gugatan atau bantahan dengan alat bukti lain:
 Pada SP, para pihak sama sekali tidak mampu mengajukan bukti apapun. Hal itu
ditegaskan dalam Pasal 1930 KUH Perdata, Pasal 156 ayat (1) HIR yang
menggariskan SP baru dapat diterapkan apabila para pihak yang berperkara tidak
mampu atau tidak berdaya untuk membuktikan dalil gugatan atau bantahan dengan
alat bukti lain;
 Pada ST, para pihak salah satu pihak mampu mengajukan pembuktian, tetapi tidak
mencapai batas minimal pembuktian.
b. Syarat Formil ST
Dari penjelasan perbedaan SP dengan ST di atas, telah tergambar syarat formil
ST.
1) Alat Bukti yang Diajukan Tidak Mencukupi
Inilah syarat utama. Harus ada lebih dahulu permulaan pembuktian (begin von bewijs)
sebagai landasan menerapkan ST. Dengan demikian, ST tidak dapat berdiri sendiri
sebagai alat bukti. Dia baru dapat didirikan apabila ada permulaan pembuktian. Hal ini
dapat digariskan dalam pasal 1941 KUH Perdata yang menyatakan hakim baru
berwenang memerintahkan pengucapan ST, apabila:
 Dalil gugatan yan diajukan penggugat atau bantahan yang dikemukakan tergugat:
tidak terbukti dengan sempurna
 Jika dalil gugatan penggugat atau bantahan tergugat: tidak sama sekali tak terbukti.
Apabila para pihak ada yang mengajukan alat bukti baik berupa akta atau saksi.
Akan tetapi, alat bukti tersebut tidak sempurna dalam arti tidak mencapai batas minimal
pembuktian, sehingga tidak memiliki kualitas untuk membuktikan dalil gugatan atau
bantahan yang diajukan, sedangkan para pihak tidak mampu atau tidak berdaya lagi
menambahnya dengan alat bukti yang lain. Dalam kasus yang seperti inilah ST dapat
diperintahkan hakim kepada salah satu pihak.
Dari penjelasan di atas, pada dasarnya ST sebagai alat bukti berfungsi untuk menambah
dan mencukupi batas minimal pembuktian yang telah ada, agar diperoleh nilai kekuatan
pembuktian yang berkualitas membuktikan dalil gugat atau bantahan yang diajukan.
Fungsi demikin dijelaskan dalam putusan MA No. 52 K/Sip/1983. Dikatakan, tergugat
telah membuktikan dalil tambahan dengan TI berupa surat bukti penyerahan tanah
sebagai pembayaran utang, kemudian bukti TI itu telah disempurnakan dengan ST.
tujuannya untuk memperoleh pembuktian sempurna yang berisi: bahwa benar telah
menerima telah terperkara dari orang tua penggugat sebagai pembayaran utang.
2) Atas Perintah Hakim
Syarat kedua; diatur dalam Pasal 1929 ayat (2) dan Pasal 1940 KUH Perdata, ST harus
atas perintah hakim berdasarkan jabatannya. Hakim yang berwenang menilai dan
mempertimbangkan apakah perlu atau tidak diperintahkan pengucapan ST. pihak yang
berperkara tidak berwenang untuk itu. Mesti murni atas perintah hakim. Tidak
dibenarkan perintah hakim dikeluarkan disebabkan permintaan dari salah satu pihak.
Penerapan ST yang demikian telah berubah menjadi bentuk SP.
c. Perintah Pengangkatan ST secara Objektif
Seperti yang dijelaskan, perintah pembebanan pengucapan ST merupakan
kewenangan penuh hakim secara ex officio. Dalam melaksanakan kewenangan itu, hakim
tidak memerlukan persetujuan dari para pihak yang berperkara. Cuma dalam melaksanakan
fungsi tersebut, hakim tidak boleh sewenang-wenang, tetapi harus realistis dan objektif.
Sehubungan dengan itu, hakim perlu memperhatikan pedoman berikut:
1) Perintah harus Berdasarkan Pertimbangan Rasional
Hakim berwenang penuh menetapkan kepada pihak mana perintah pengangkatan ST
dibebankan. Boleh kepada penggugat atau tergugat, apabila kedua belah pihak sama-
sama memiliki bukti permulaan. Yang penting diperhatikan, kepada pihak mana pun
perintah ST dibebankan, harus bertitik tolak dari penilaian dan pertimbangan yang jelas
dan mendasar. Perintah pengangkatan ST yang tidak didukung [ertimbangan yang
rasional dan objektif tidak memenuhi syarat, yang berakibat ST sebagai alat bukti tidak
sah, dan putusan yang diambil berdasarkan ST dimaksud harus dibatalkan.
Dari putusan diatas, setiap perintah pembebanan ST kepada pihak manapun, harus
didasarkan pada pertimbangan realistis dan objektif dengan acuan:
 Kualitas alat bukti yang diajukan para pihak tidak mencukupi batas minimal
pembuktian;
 Juga harus jelas dipertimbangkan apa alasannya kenapa perintah itu dibebankan
kepada penggugat atau tergugat.
Apabila hal tersebut diabaikan hakim, putusan yang diambil berdasarkan ST itu dianggap
melanggar prinsip hokum pembuktian, atas alasan penerapan ST tidak memenuhi
persyaratan karena seolah-olah ST itu berdiri sendiri membuktikan dalil atau bantahan
yang diajukan. Padahal menurut hukum, kualitas dan fungsinya sebagai alat bukti adalah
untuk menambah dan mencukupi alat bukti lain yang telah ada.
2) ST Diperintahkan kepada Pihak yang Lebih Kuat Bukti Permulaannya
Kalau yang memiliki bukti permulaan hanya satu pihak saja, misalnya hanya
penggugat atau tergugat, penerapan ST tidak menimbulkan persoalan. ST dapat langsung
diperintahkan kepada pihak yang bersangkutan. Penerapan yang demikian realistis dan
objektif, dan juga tidak melanggar asas imparsialitas atau berat sebelah, karena secara
realistis yang memiliki bukti permulaan hanya satu pihak saja.
Tidak demikian halnya apabila masing-masing pihak sama-sama memiliki bukti
permulaan. Misalnya, penggugat dalam persidangan mengajukan alat bukti, berupa saksi
yang memenuhi syarat formil dan materiil sehingga sah sebagai alat bukti. Cuma alat
bukti yang diajukannya hanya terdiri dari satu saksi itu saja. Oleh karena itu, sesuai
dengan ketentuan Pasal 1905 KUH Perdata, Pasal 169 HIR, alat bukti penggugat hanya
berkualitas sebagai unus testis mullus testis. Keterangan seorang saksi saja tanpa alat
bukti lain di muka pengadilan, tidak boleh dipercaya (unreliable). Berarti ditinjau dari
segi hukum pembuktian, kualitas pembuktian penggugat yang demikian tidak mencakupi
batas minimal tapi hanya bernilai sebagai alat bukti permulaan. Sebaliknya tergugat juga
mengajukan beberapa orang saksi. Namun, semua saksi tersebut hanya de auditu, berarti
keterangan yang mereka berikan sebagai alat bukti, tidak memenuhi syarat yang
digariskan Pasal 1907 KUH Perdata, Pasal 171 HIR maupun Pasal 1912 ayat (3) KUH
Perdata.
Pada kasus di atas, penggugat dan tergugat sama-sama mempunyai alat bukti.
Akan tetapi, alat bukti penggugat tidak mencukupi untuk membuktikan dalil gugat,
karena hanya berkualitas sebagai unus testis. Begitu juga alat bukti yang diajukan
tergugat tidak mencukupi, karena kualitasnya hanya bernilai testimonium de auditu.
d. ST Diucapkan Sendiri atau Kuasa
Sama halnya dengan ketentuan Pasal 1931 KUH Perdata, Pasal 157 HIR yang menegaskan
SP harus diucapkan sendiri oleh pihak yang berperkara atau kuasa, Pasal 1945 KUH Perdata
juga menegaskan prinsip yang tidak berbeda dalam pengucapan ST.
1) Diucapkan Sendiri secara Pribadi oleh pihak yang Berperkara
Inilah prinsip pokok yang digariskan pasal 1945 KUH Perdata, Pasal 157 HIR. Yang
dapat atau berwenang megucapkan atau mengangkat ST, adalah pihak yang berperkara
secara pribadi. Cara ini yang terbaik dan yang dikehendaki undabg-undang, karena dia
sendiri dianggap yang paling berhak dan berkepentingan atas penyelesaian perkara
melalui penerapan ST.
2) Dapat Diucapkan oleh Kuasa
Tanpa mengurangi prinsip yang dikemukakan di atas, Pasal 1945 ayat (2) KUH Perdata,
Pasal 157 HIR memberi kemungkinan pengucapan ST dilakukan oleh seorang kuasa
yang ditunjuk oleh pohak yang bersangkitan.
a) Kebolehan berdasarkan alasan penting
Menurut Pasal 1945 ayat (2) KUH Perdata, kebolehan kuasa bertindak mengangkat
ST sebagai pihak formil untuk dan atas nama pihak materiil, didasarkan atas alasan
penting. Jika ada alasan penting, hakim memperbolehkan kuasa mengangkat ST
mewakili pihak yang berperkara. Hanya saja pasal itu tidak menjelaskan lebih lanjut
apa yang dimaksud dengan alasan penting. Ditinjau dari segi hukum, alasan penting
dianggap mengandung pengertian luas (broad term).
b) Surat kuasanya berbentuk akta otentik
Supaya kedudukan kuasa sah mewakili pihak yang berperkara mengangkat ST,
pemberian kuasa harus dibuat bentuk akta otentik. Hal itu ditegaskan dalam Pasal
1945 ayat (2) KUH Perdata. Apabila pihak yang berperkara mempunyai alasan
penting, tidak dapat mengucapkan ST yang diperintahkan hakim kepadanya:
 Dapat mewakili pelaksanaan pengangkatan ST itu kepada seorang kuasa yang
khusus dikuasakan untuk itu;
 Surat kuasa khusus untuk itu, dituangkan dalam bentuk akta otentik.
Tidak boleh dalam bentuk akta di bawah tangan (onderhands akte). Putusan MA
No. 828 K/Pdt/1972 menegaskan, sesuai dengan Pasal 184 RBG (sama dengan Pasal
1945 KUH Perdata), penampilan kuasa untuk mengucapkan ST, harus berdasarkan
surat kuasa khusus untuk itu dituangkan dalam bentuk akta otentik. Yang berisi secara
khusus pengucapan ST, dan walaupun surat kuasa khusus dari penggugat sebagai
pihak materiil kepada kuasa sebagai penggugat formil yang dibuat oleh camat
meskipun rumusan untuk mengucapkan sumpah, ternyata tetap dianggap tidak
memenuhi persyaratan, karena tidak bersifat khusus berisi pengucapan ST.
c) Dapat dibebankan kepada ahli waris
Selama pihak yang berperkara masih hidup, pengangkatan ST tidak dapat
dilakukan ahli waris. Akan tetapi, apabila pihak yang berperkara meninggal dunia dan
ST yang diperintahkan hakim kepadanya belum dilaksanakan, pengangkatan ST
tersebut dapat dibebankan pelaksanaanya kepada ahli waris berdasarkan titel umum
yang menempatkan ahli waris demi hukum menggantikan pewaris dalam
penyelesaian proses perkara tersebut. Salah satu penerapan yang demikian, terdapat
dalam Putusan MA No. 200 K/Sip/1974. Berdasarkan putusan sela PT Medan
(tanggal 25 Juli 1970, No. 528/1967) memerintahkan tergugat untuk mengucapkan
ST. sebelum perintah pengucapan sumpah itu dilaksanakan, tergugat meninggal
dunia. Berdasarkan peristiwa itu PT Medan menyatakan, oleh karena tergugat
meninggal dunia maka ST yang akan diucapkannya dibebankan kepada seluruh ahli
warisnya.