Anda di halaman 1dari 1

Nilai Tukar Rupiah Masih Menghawatirkan

Akhir-akhir ini para pembisnis dan pemerhati ekonomi dibuat khawatir akibat nilai tukar rupiah
terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus mengalami pelemahan. Kendati demikian
Menteri Keuangan, Sri Mulyani masih menganggapnya wajar, karena tren Rupiah terbilang
masih diangka stabil dibanding mata uang negara lain.

Meskipun nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat pekan ini, seiring dengan
pelemahan mata uang yang dialami negeri Paman Sam tersebut. Dolar AS masih berada di
bawah tekanan, meskipun data tenaga kerja menunjukkan kinerja yang positif.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Rupiah pada perdagangan spot exchange rate di pasar Asia
menguat 2 poin atau 0,01% menjadi Rp13.763 per USD. Adapun pergerakan Rupiah hari ini
13/03/18, berada di kisaran Rp13.754 - Rp13.764 per USD.

Baca juga; Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah

Sementara Yahoo finance mencatat Rupiah menguat 8 poin atau 0,06% ke Rp13.757 per USD.
Dalam catatan Yahoo finance, Rupiah bergerak dalam rentang Rp13.753 per USD hingga
Rp13.765 per USD.

Sekadar informasi, kurs dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya pada akhir
perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena para investor terus mempertimbangkan data
ketenaga kerjaan terbaru dari negara tersebut. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback
terhadap enam mata uang utama, turun 0,22% menjadi 89,899 pada akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi USD1,2336 dari USD1,2313 pada
sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,3906 dari USD1,3848 pada sesi
sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi USD0,7877 dari USD0,7847.

Dolar AS dibeli 106,37 yen Jepang, lebih rendah dari 106,79 yen Jepang pada sesi sebelumnya.
Dolar AS juga turun menjadi 0,9466 franc Swiss dari 0,9510 franc Swiss, dan melemah menjadi
1,2828 dolar Kanada dari 1,2833 dolar Kanada.

Pelemahan nilai tukar mata uang dirasakan bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Selagi daya
beli masayarakat Indonesia masih tinggi dan makin banyak wisatawan mancanegara datang ke
Indonesia. Indonesia akan aman-aman saja, Namun dampaknya terasa sekali, apalagi bagi para
tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ada diluar negeri. Tentunya pendapatan mereka akan lebih
kecil karena keadaan nilai tukar mata uang yang masih melemah.