Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat, sehingga peralatan sudah


menjadi kebutuhan pokok pada lapangan pekerjaan, artinya peralatan dan
teknologi merupakan salah satu penunjang yang penting dalam upaya
meningkatkan produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu,akan
terjadi dampak negatifnya bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial
yang mungkin akan timbul (Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI,
2010).

Hal ini tentunya dapat di cegah dengan adanya antisipasi berbagai risiko,
antara lain kemungkinan terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit yang
berhubungan dengan pekerjaan dan kecelakaan akibat kerja yang dapat
menyebkan kecacataan dan kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua
pihak dengan cara penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja.
Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomi (Pusat Kesehatan Kerja
Departemen Kesehatan RI, 2010).

Dalam dunia kerja terdapat Undang-Undang yang mengatur tentang


ketenagakerjaan yaitu Undang-Undang No. 14 tahun 1969 tentang ketentuan-
ketentuan pokok tenaga kerja merupakan subjek dan objek pembangunan.
Ergonomi yang bersasaran akhir efisiensi dan keserasian kerja memiliki arti
penting bagi tenaga kerja, baik sebagai subjek maupun objek. Akan tetapi sering
kali suatu tempat kerja mengesampingkan aspek ergonomi bagi para pekerjanya,
hal ini tentunya sangat merugikan perusahaan dan para pekerja itu sendiri (Pusat
Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI, 2010).

Pada umumnya ergonomi belum diterapkan secara merata pada sektor


kegiatan ekonomi. Gagasannya telah lama disebarluaskan sebagai unsur hygiene
perusahaan dan kesehatan kerja (hiperkes), tetapi sampai saat ini kegiatan-
kegiatan baru sampai pada taraf pengenalan, khususnya pada pihak yang

1
bersangkutan, sedangkan penerapannya baru pada tingkat perintisan. Fungsi
pembinaan ergonomi secara teknis merupakan tugas pemerintah. Pusat Bina
Hiperkes dan Keselamatan Kerja memiliki fungsi pembinaan ini melalui
pembinaan keahlian dan pengembangan penerapannya (Manuaba, 2000).

Namun begitu, sampai saat ini pengembangan kegiatan-kegiatannya baru


diselenggarakan dan masih menunggu kesiapan masyarakat untuk menerima
ergonomi dan penerapannya. Dalam hal menunggu kesiapan tersebut maka perlu
pemberitahuan kepada masyarakat itu sendiri mengenai ergonomi ini. Salah satu
cara dalam pemberitahuan tersebut adalah melalui tulisan-tulisan formal maupun
informal, dimana salah satunya adalah melalui pembuatan makalah. Oleh karena
itu, penulis merasa perlu untuk membuat makalah yang berjudul ergonomi di
tempat kerja.

1.2. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Kepanitraan
Klinik Senior Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat/ Ilmu Kedokteran
Komunitas/Ilmu Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara-RSUP H. Adam Malik Medan dan meningkatkan pemahaman
penulis maupun pembaca mengenai ergonomi di tempat kerja.

1.3. Manfaat

Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan pemahaman


masyarakat, khususnya para pekerja mengenai aspek ergonomis di tempat kerja
sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit yang
berhubungan dengan pekerjaan dan kecelakaan akibat kerja yang dapat
menyebabkan kecacatan atau kematian. Hasil akhir dari semua ini adalah dapat
meningkatkan kesehatan para pekerja dan meningkatkan produktivitas dari
perusahaan.

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Ergonomi

Ergonomi (ergonomics) berasal dari kata Yunani, yaitu ergo yang berarti kerja
dan nomos yang berarti hukum, dimana ergonomi sebagai disiplin keilmuan
yang mempelajari manusia dalam kaitan dengan pekerjaannya. Istilah
ergonomi lebih sering digunakan oleh beberapa negara Eropa Barat dan
Amerika, istilah ini lebih dikenal sebagai Human Factors Engineerings atau
Human Engineering (Wignjosoebroto, 2003). Istilah ergonomi didefinisikan
sebagai ilmu yang mempelajari tentang aspek-aspek manusia dalam
lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, engineering,
manajemen dan desain peralatan (Nurmianto, 2003).

Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan pekerja mengalami


gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh sikap kerja yang tidak ergonomis.
Keluhan yang dialami antara lain: sakit pada pinggang, lelah seluruh badan,
nyeri lutut dan kaki, keluhan pada lengan dan tangan, dan nyeri bahu serta
punggung (Manuaba, 2000). Beberapa prinsip kerja secara ergonomis agar
terhindar dari cedera antara lain:

1. Gunakan tenaga seefisien mungkin, beban yang tidak perlu harus dikurangi
atau dihilangkan, perhitungkan gaya berat yang mengacu pada berat badan
dan bila perlu gunakan pengungkit sebagai alat bantu.

2. Sikap tubuh berdiri, duduk dan jongkok hendaknya disesuaikan dengan


prinsip-prinsip ergonomi.

3. Panca indera dapat dimanfaatkan sebagai alat kontrol, bila susah harus
istirahat (jangan dipaksa) dan bila lapar atau haus harus makan atau minum
(jangan ditahan).

4. Jantung digunakan sebagai parameter yang diukur lebih dari jumlah


maksimum yang diperbolehkan (Wignjosoebroto, 2003).

3
Ergonomi juga dapat digunakan dalam menelaah sistem manusia dan poduksi
yang kompleks. Dapat ditentukan tugas-tugas apa yang diberikan kepada
tenaga kerja dan yang mana kepada mesin. Dibawah ini dikemukakan
beberapa prinsip ergonomi sebagai pegangan, antara lain : (Suma’mur, 2009)

1. Sikap tubuh dalam pekerjaan sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan,


ukuran dan penempatan mesin-mesin, penempatan alat-alat penunjuk, cara-
cara harus melayani mesin (macam, gerak, arah dan kekuatan).

2. Dari sudut otot sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk.
Sedangkan dari sudut tulang duduk yang baik adalah duduk tegak agar
punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas. Maka dianjurkan
memilih sikap duduk yang tegak yang diselingi istirahat dan sedikit
membungkuk.

3. Pekerjaan berdiri sedapat mungkin dirubah menjadi pekerjaan duduk.


Dalam hal tidak mungkin kepada pekerja diberi tempat dan kesempatan untuk
duduk.

4. Arah penglihatan untuk pekerjaan berdiri adalah 23-37o kebawah. Arah


penglihatan ini sesuai dengan sikap kepala yang istirahat (relaxed).

5. Ruang gerak lengan ditentukan oleh punggung lengan seluruhnya dan


lengan bawah. Pegangan-pegangan harus diletakkan, lebih-lebih bila sikap
tubuh tidak berubah.

6. Macam gerakan yang kontinu dan berirama lebih diutamakan, sedangkan


gerakan yang sekonyong-konyong pada permulaan dan berhenti dengan paksa
sangat melelahkan. Gerakan ke atas harus dihindarkan, berilah papan
penyokong pada sikap lengan yang melelahkan. Hindarkan getaran-getaran
kuat pada kaki dan lengan.

7. Pembebanan sebaiknya dipilih yang optimum, yaitu beban yang dapat


dikerjakan dengan pengerahan tenaga paling efisien. Beban fisik maksimum
telah ditentukan oleh ILO sebesar 50kg. Cara mengangkat dan menolak
hendaknya memperhatikan hukum-hukum ilmu gaya dan dihindarkan

4
penggunaan tenaga yang tidak perlu. Beban hendaknya menekan langsung
pada pinggul yang mendukungnya.

8. Kemampuan seseorang bekerja seharinya adalah 8-10 jam, lebih dari itu
efisien dan kualitas kerja sangat menurun.

Dalam ergonomi akan dipelajari cara-cara penyesuaian pekerjaan, alat kerja


dan lingkungan kerja dengan manusia, dengan memperhatikan kemampuan
dan keterbatasan manusia itu sehingga tercapai suatu keserasian antara
manusia dan pekerjaannya yang akan meningkatkan kenyamanan kerja dan
produktifitas kerja.

2.2 Sejarah Ergonomi


Ergonomi mulai dicetuskan pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas yang
berkenaan dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya.
Beberapa kejadian penting diilustrasikan sebagai berikut: (Suma’mur, 2009)
a. C.T. Thackrah, England, 1831
Trackrah adalah seorang dokter dari Inggris yang meneruskan pekerjaan
seorang dari Italia bernama Ramazzini dalam serangkaian kegiatan yang
berhubungan dengan lingkungan kerja yang tidak nyaman yang dirasakan
oleh para operator di tempat kerjanya. Ia mengamati postur tubuh pada
saat bekerja sebagai bagian dari masalah kesehatan. Pada saat itu Trackrah
mengamati seorang penjahit yang bekerja dengan posisi dan dimensi kursi-
meja yang kurang sesuai secara antropometri, serta pencahayaan yang
tidak ergonomis sehingga mengakibatkan menbungkuknya badan dan
iritasi indera penglihatan.
b. F.B. Gilbreth, U.S.A., 1911

Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja, dalam hal ini
lebih mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan dengan Taylor.
Dalam bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 ia
menunjukkan bagaimana postur membungkuk dapat diatasi dengan
mendesain suatu sistem meja yang dapat diatur turun-naik (adjustable).

c. Badan Penelitian untuk Kelelahan Industri (Industrial Fatique Research


Board), England, 1918

5
Badan ini didirikan sebagai penyelesaian masalah yang terjadi di pabrik
amunisi pada Perang Dunia Pertama. Mereka menunjukkan bagaimana
output setiap harinya meningkat dengan jam kerja perharinya yang
menurun.

d. E. Mayo dan teman-temannya, U.S.A., 1933

Elton Mayo seorang warga negara Australia, memulai beberapa studi di


suatu Perusahaan Listrik. Tujuan studinya adalah untuk mengkuantifikasi
pengaruh dari variabel fisik seperti pencahayaan dan lamanya waktu
istirahat terhadap faktor efisiensi dari para operator kerja pada unit
perakitan.

e. F.W. Taylor, U.S.A., 1989


Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang menerapkan
metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan
suatu pekerjaan.
f. Perang Dunia Kedua, England dan U.S.A

Masalah operasional yang terjadi pada peralatan militer yang berkembang


secara cepat seperti, pesawat terbang. Masalah yang ada pada saat itu
adalah penempatan dan identifikasi utnuk pengendali pesawat terbang,
efektivitas alat peraga (display), ketidaknyamanan karena terlalu panas
atau terlalu dingin, desain pakaian untuk suasana kerja yang terlalu panas
atau terlalu dingin serta pengaruhnya pada kinerja operator.

g. Pembentukan Kelompok Ergonomi

Pembentukan Masyarakat Peneliti Ergonomi (The Ergonomics Research


Society) di Inggris pada tahun 1949 melibatkan beberapa profesional yang
telah banyak berkecimpung dalam bidang ini. Hal ini menghasilkan jurnal
(majalah ilmiah) pertama dalam bidang Ergonomi pada November 1957.
Perkumpulan Ergonomi Internasional (The International Ergonomics
Association) terbentuk pada 1957, dan The Human Factors Society di
Amerika pada tahun yang sama. Diketahui pula bahwa Konferensi
Ergonomi Australia yang pertama diselenggarakan pada tahun 1964, dan

6
hal ini mencetuskan terbentuknya Masyarakat Ergonomi Australia dan
New Zealand (The Ergonomics Society of Australian and New Zealand).

2.3 Tujuan Ergonomi

Pelaksanaan dan penerapan ergonomi di tempat kerja di mulai dari yang


sederhana dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Rancangan ergonomi
akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja, serta
dapat menciptakan sistem serta lingkungan yang cocok, aman, nyaman dan
sehat. Secara umun tujuan dari penerapan ergonomi adalah sebagai berikut:
(Nurmianto, 2008)

a. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan


cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan
mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

b. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak


sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan
meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif
maupun setelah tidak produktif.

c. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek


teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang
dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan hidup yang tinggi.

2.4 Metode-Metode Ergonomi

Terdapat beberapa metode dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Metode-


metode tersebut antara lain: (Nurmianto, 2008).

a. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi


tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomic checklist
dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas
mulai dari yang sederhana sampai kompleks.

b. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada


saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel,

7
letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai
dengan demensi fisik pekerja.

c. Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif


misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri
bahu dan siku, keletihan , sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif
misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka
kecelakaan dan lain-lain.

2.5 Aplikasi Ergonomi di Tempat Kerja

Terdapat beberapa aplikasi atau penerapan dalam pelaksanaan ilmu ergonomi,


yaitu:

a. Sikap Kerja

Sikap kerja diartikan sebagai kecenderungan pikiran dan perasaan puas


atau tidak puas terhadap pekerjaannya. Kemudian pada saat bekerja perlu
diperhatikan postur tubuh dalam keadaan seimbang agar dapat bekerja
dengan nyaman dan tahan lama. Berdasarkan beberapa definisi di atas
dapat dikatakan sikap kerja adalah proses kerja yang sesuai ditentukan
oleh anatomi tubuh dan ukuran peralatan yang digunakan pada saat
bekerja (Darlis, 2009). Sikap tubuh dalam bekerja berhubungan dengan
tempat duduk, meja kerja dan luas pandangan. Untuk merencanakan
tempat kerja dan perlengkapannya diperlukan ukuran-ukuran tubuh yang
menjamin sikap tubuh paling alamiah dan memungkinkan dilakukannya
gerakan-gerakan yang dibutuhkan (Nurmianto, 2008). Dikenal dua sikap
kerja, yaitu sikap duduk dan sikap berdiri.

1. Sikap Duduk

Pekerjaan sejauh mungkin harus dilakukan sambil duduk karena sikap


kerja duduk merupakan sikap kerja dimana kaki tidak terbebani
dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Duduk
memerlukan lebih sedikit energi daripada berdiri karena hal itu dapat
mengurangi banyaknya beban otot statis pada kaki. Kegiatan bekerja

8
sambil duduk harus dilakukan secara ergonomi sehingga dapat
memberikan kenyamanan dalam bekerja (Ardana, 2012).

Sikap duduk yang paling baik yaitu tanpa pengaruh buruk terhadap
sikap badan dan tulang belakang adalah sikap duduk dengan sedikit
lordosa (sikap tulang punggung ke depan) pada pinggang dan sedikit
mungkin kifosa (sikap duduk ke belakang) pada punggung. Sikap
demikian dapat dicapai dengan kursi dan sandaran punggung yang
tepat. Dengan begitu otot punggung terasa enak (Santoso, 2004).

Sikap duduk yang benar yaitu sebaiknya duduk dengan punggung


lurus dan bahu berada dibelakang serta bokong menyentuh belakang
kursi. Caranya, duduk diujung kursi dan bungkukkan badan seolah
terbentuk huruf C. Setelah itu tegakkan badan buatlah lengkungan
tubuh sebisa mungkin. Tahan untuk beberapa detik kemudian lepaskan
posisi tersebut secara ringan (sekitar 10 derajat). Posisi duduk seperti
inilah yang terbaik. Duduklah dengan lutut tetap setinggi atau sedikit
lebih tinggi panggul (gunakan penyangga kaki) dan sebaiknya kedua
tungkai tidak saling menyilang. Jaga agar kedua kaki tidak
menggantung dan hindari duduk dengan posisi yang sama lebih dari
20-30 menit. Selama duduk, istirahatkan siku dan lengan pada kursi,
jaga bahu tetap rileks (Nurmianto, 2008; Darlis, 2009).

9
Gambar 1. Sikap Duduk

Keuntungan kerja sambil duduk adalah; (1) Kurangnya kelelahan, (2)


Berkurangnya pemakaian energi, dan (3) Berkurangnya sikap keperluan
sirkulasi darah. Namun begitu terdapat pula kerugian-kerugian sebagai
akibat kerja sambil duduk antara lain (1) Melembekkan otot-otot perut, (2)
Melengkungkan punggung dan (3) Tidak baik bagi alat tubuh bagian dalam,
khususnya peralatan pencernaan, jika posisi dilakukan secara membungkuk
(Suma’mur, 2009) .

Sikap duduk yang keliru merupakan penyebab adanya masalah – masalah


punggung. Hal ini dapat terjadi karena tekanan pada bagian tulang belakang
akan meningkat pada saat duduk dibandingkan dengan saat berdiri ataupun
berbaring. Jika diasumsikan tekanan tersebut sekitar 100%; maka cara
duduk yang tegang atau kaku (erect posture) dapat menyebabkan tekanan
tersebut mencapai 140% dan cara duduk yang dilakukan dengan
membungkuk ke depan menyebabkan tekanan tersebut sampai 190%
(Nurmianto, 2008). Keterbatasan gerak akan akan membiasakan bekerja
dengan sikap tubuh yang salah. Postural/sikap posisi pekerjaan secara salah
dan dilakukan menahun akan menyebabkan keluhan yang dikenal sengan
Low back pain (LBP) yaitu otot-otot pingang menjadi lelah (fatique)
menimbulkan ketidakstabilan dari tulang belakang sehingga timbul proses
degeberasi yang dapat menimbulkan keluhan sakit/pegal di daerah
pinggang. Apabila hal ini tidak dikoreksi, maka gangguan kesehatan

10
tersebut akan menyebabkan penyakit/kelainan dan akhirnya menurunkan
kemampuan melakukan aktivitas (Abeysekera, 2002).

Sikap dan sistem kerja yang ergonomis memungkinkan peningkatan


produktivitas. Sikap tubuh dalam bekerja selalu diusahakan dilaksanakan
dengan duduk atau dalam sikap duduk dan sikap berdiri secara bergantian.
Duduk lama dengan posisi yang salah akan menyebabkan otot-otot
pinggang menjadi tegang dan dapat merusak jaringan lunak sekitarnya. Dan
bila ini berlanjut terus akan menyebabkan penekanan pada hernia nucleus
polposus. Hernia polposus yaitu saraf tulang belakang sehingga
menyebabkan nyeri pinggang dan kesemutan yang menjalar ketungkai
sampai kaki (Abeysekera, 2002).

Sikap duduk ini sangat dipengaruhi oleh pemakaian kursi. Penerapan


ergonomi dalam pembuatan kursi dimaksudkan untuk mendapatkan sikap tubuh
yang ergonomi dalam bekerja. Dengan sikap yang ergonomi ini diharapkan
efisiensi kerja dan produktivitas meningkat. Tempat duduk (kursi) harus dibuat
sedimikian rupa sehingga memberikan relaksasi pada otot-otot yang sedang
dipakai untuk bekerja dan tidak menimbulkan penekanan pada bagian tubuh
yang dapat mengganggu sirkulasi darah dan sensibilitas bagian-bagian tersebut
(Sarmauly, 2009).

Pembuatan bangku dan meja kerja yang buruk atau mesin merupakan
penyebab kerja otot statis dan posisi tubuh yang tidak alamiah. Maka syarat-
syarat bangku kerja yang benar adalah sebagai berikut (Manuaba, 2000):
a. Tinggi area kerja harus sesuai sehingga pekerjaan dapat dilihat dengan
mudah dengan jarak optimal dan sikap duduk yang enak. Makin kecil
ukuran benda, makin dekat jarak lihat optimal dan makin tinggi area
kerja.
b. Pegangan, handel, peralatan dan alat-alat pembantu kerja lainnya harus
ditempatkan sedemikian pada meja atau bangku kerja, agar gerakan-
gerakan yang paling sering dilakukan dalam keadaan fleksi.

11
c. Kerja otot statis dapat dihilangkan atau sangat berkurang dengan
pemberian penunjang siku, lengan bagian bawah, atau tangan. Topangan-
topangan tersebut harus diberi bahan lembut dan dapat di sesuaikan,
sehingga sesuai bagi pemakainya.

Kriteria dan ukuran kursi yang ergonomi berdasarkan antropometri orang


Indonesia adalah (Nurmianto, 2008):

a. Tinggi alas duduk

Diukur dari lantai sampai pada permukaan atas dari bagian depan alas
duduk. Ukuran yang dianjurkan 38-48 cm. Tinggi alas duduk harus
sedikit lebih pendek dari jarak antara lekuk lutut dan telapak kaki.

b. Panjang alas duduk

Diukur dari pertemuan garis proyeksi permukaan depan sandaran duduk


pada permukaan atas alas duduk sampai kebagian depan alas duduk.
Ukuran yang dianjurkan adalah 36 cm. Panjang alas duduk harus lebih
pendek dari jarak antara lekuk lutut dan garis punggung.

c. Lebar alas duduk

Diukur pada garis tengah alas duduk melintang. Lebar alas duduk harus
lebih besar dari lebar pinggul. Ukuran yang diusulkan adalah 44- 48 cm.

d. Sandaran pinggang

Bagian atas dari sandaran pinggang tidak melebihi tepi bawah ujung
tulang belikat, dan bagian bawahnya setinggi garis pinggul.

e. Sandaran tangan

Jarak antara tepi dalam kedua sandaran tangan (harus lebih lebar dari
pinggul dan tidak melebihi lebar bahu).

f. Tinggi Sandaran adalah setinggi siku

Panjang sandaran tangan: sepanjang lengan bawah. Ukuran yang


dianjurkan adalah jarak tepi dalam kedua sandaran tangan: 46-48 cm.
Tinggi sandaran tangan adalah 20 cm dari alas duduk. Panjang sandaran
tangan : 21 cm.

12
g. Sudut alas duduk

Alas duduk harus sedemikian rupa sehingga memberikan kemudahan


bagi pekerja untuk menentukan pemilihan gerakan dan posisi. Alas
duduk hendaknya dibuat horisontal. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang
tidak memerlukan sikap sedikit membungkuk ke depan, alas duduk dapat
dibuat ke belakang (3-5 derajat). Bila keadaan memungkinkan,
dianjurkan penyediaan tempat duduk yang dapat diatur

2. Sikap Berdiri

Selain sikap kerja duduk, sikap kerja berdiri juga banyak ditemukan di
perusahaan. Sikap kerja berdiri merupakan sikap kerja yang posisi tulang
belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
Sikap kerja berdiri dapat menimbulkan keluhan subjektif dan juga kelelahan
bila sikap kerja ini tidak dilakukan bergantian dengan sikap kerja duduk
(Darlis, 2009). Ukuran tubuh yang penting dalam bekerja dengan posisi
berdiri adalah tinggi badan berdiri, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi
pinggul, panjang lengan. Bekerja dengan posisi berdiri terus menerus
sangat mungkin akan mengakibatkan penumpukan darah dan beragai
cairan tubuh pada kaki dan ini akan membuat bertambahnya biola
berbagai bentuk dan ukuran sepatu yang tidak sesuai, seperti pembersih
(clerks), dokter gigi, penjaga tiket, tukang cukur pasti memerlukan sepatu
ketika bekerja (Santoso, 2004).

Apabila sepatu tidak pas maka sangat mungkin akan sobek dan terjadi
bengkak pada jari kaki, mata kaki, dan bagian sekitar telapak kaki.
Sepatu yang baik adalah yang dapat manahan kaki (tubuh) dan kaki tidak
direpotkan untuk menahan sepatu, desain sepatu harus lebih longgar dari
ukuran telapak kaki dan apabila bagian sepatu dikaki terjadi penahanan
yang kuat pada tali sendi (ligaments) pergelangan kaki, dan itu terjadi
dalam waktu yang lama, maka otot rangka akan mudah mengalami
kelelahan (Santoso, 2004).

13
Beberapa penelitian telah berusaha untuk mengurangi kelelahan pada
tenaga kerja dengan posisi berdiri, contohnya yaitu seperti yang
diungkapkan Granjean (Santoso, 2004) merekomendasikan bahwa untuk
jenis pekerjaan teliti, letak tinggi meja diatur 10 cm di atas siku. Untuk
jenis pekerjaan ringan, letak tinggi meja diatur sejajar dengan tinggi siku,
dan untuk pekerjaan berat, letak tinggi meja diatur 10 cm di bawah tinggi
siku (Santoso, 2004).

2. Proses Kerja

Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu
bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan
ukuran anthropometri barat dan timur (Wignjosoebroto, 2003). Istilah
anthropometri berasal dari kata anthro yang berarti manusia dan metri
yang berarti ukuran. Anthropometri dapat didefinisikan sebagai satu studi
yang berkaitan dengan ukuran dimensi tubuh manusia. Data anthropometri
sangat penting dalam menentukan alat dan cara mengoperasikannya.
Kesesuaian hubungan antara anthropometri pekerja dengan alat yang
digunakan sangat berpengaruh pada sikap kerja, tingkat kelelahan,
kemampuan kerja dan produktivitas kerja. Anthropometri juga dapat
ditentukan dalam seleksi penerimaan tenaga kerja, misalnya orang gemuk
tidak cocok ditempat pekerjaan yang bersuhu tinggi, pekerjaan yang
memerlukan kelincahan, dll. Data anthropometri dapat digunakan untuk
mendesai pakaian, tempat kerja, lingkungan kerja, mesin, alat kerja dan
sarana kerja serta produk-produk untuk konsumer (Nurmianto, 2008).

Menurut Nurmianto (2008) dalam mengukur data anthropometri banyak


ditemui perbedaan-perbedaan atau sumber validitas yang dapat
mempengaruhi hasil pengukuran yang pada akhirnya akan digunakan
dalam perancangan suatu produk. Adapun faktor-faktor yang turut
mempengaruhi dimensi tubuh manusia yang menyebabkan timbulnya
perbedaan antar populasi yaitu jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan, dan
faktor kehamilan pada wanita.

14
3. Tata Letak Tempat Kerja

Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja.


Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak
digunakan daripada kata-kata (Manuaba, 2000).

4. Mengangkat Beban

Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala,


bahu, tangan, punggung dan sebagainya. Beban yang terlalu berat dapat
menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat
gerakan yang berlebihan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan-
kegiatan mengangkat dan mengangkut adalah sebagai berikut:
(Wignjosoebroto, 2003)

a. Beban yang diperkenakan, jarak angkut dan intensitas pembebanan.


b. Kondisi lingkungan kerja yaitu keadaan medan yang licin, kasar, naik
turun dll.
c. Keterampilan bekerja
d. Peralatan kerja beserta keamanannya

Harus diperhatikan juga cara mengangkut beban. Cara-cara mengangkut


dan mengangkat yang baik harus memenuhi 2 prinsip kinetis, yaitu:
(Wignjosoebroto, 2003)

a. Beban diusahakan menekan pada otot tungkai yang keluar dan


sebanyak mungkin otot tulang belakang yang lebih lemah dibebaskan
dari pembebanan.
b. Momentum gerak badan dimanfaatkan untuk mengawali gerakan.
Berat beban maksimal yang boleh dipikul adalah:

Tabel 1. Berat Beban Maksimal yang Boleh Dipikul Pekerja

Dewasa Tenaga kerja muda


Jenis
Pria (kg) Wanita (kg) Pria (kg) Wanita (kg)

Sekali-sekali 40 15 15 10-12

Terus-menerus 15-18 10 10-15 6-9

Sumber: (Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI, 2010)

15
Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode kinetik dari
pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan pada dua prinsip:
(Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI, 2010)
a. Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung
b. Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum berat
badan. Metoda ini termasuk 5 faktor dasar, yaitu posisi kaki yang benar,
punggung kuat dan kekar, posisi lengan dekat dengan tubuh,
mengangkat dengan benar, menggunakan berat badan.

Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur,


berupa pemeriksaan sebelum bekerja untuk menyesuaikan dengan beban
kerjanya, pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan
pekerjaannya dan mendeteksi bila ada kelainan, serta nasehat harus
diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada wanita muda
dan yang sudah berumur (Wignjosoebroto, 2003).

2.6 Masalah Akibat Lingkungan Kerja yang Tidak Ergonomi

Masalah terbesar yang dihadapi para pekerja setelah melakukan pekerjaannya


adalah kelelahan. Menurut Tarwaka (2004) kelelahan adalah suatu mekanisme
perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga
terjadi pemuliham setelah istirahat. Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja
dan menambah tingkat kesalahan kerja. Meningkatnya kesalahan kerja akan
memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Pembebanan
otot secara statispun (static muscular loading) jika dipertahankan dalam waktu
yang cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain Injuries), yaitu
nyeri otot, tulang, tendon, dan lain-lain yang diakibatkan oleh jenis pekerjaan
yang bersifat berulang (repetitive) (Nurmianto, 2008).

Sebab-sebab kelelahan yang utama adalah pekerjaan yang monoton, beban


dan lama kerja terlalu berat, lingkungan pekerjaan, sakit dan gizi yang
buruk, dan kurangnya waktu istirahat (Nurmianto, 2008).

16
Lamanya pekerja dalam sehari yang baik pada umumnya 6 – 8 jam sisanya
untuk istirahat atau kehidupan dalam keluarga dan masyarakat. Dalam hal
lamanya kerja melebihi ketentuan-ketentuan yang ada, perlu diatur istirahat
khusus dengan mengadakan organisasi kerja secara khusus pula.pengaturan
kerja demikian bertujuan agar kemampuan kerja dan kesegaran jasmani
serta rohani dapat dipertahankan (Nurmianto, 2008).

Dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya,
beberapa ahli membedakan/membaginya sebagai berikut: (Manuaba, 2000).

1. Kelelahan fisik

Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat


dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau tidak
terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur yang
cukup.

2. Kelelahan yang patologis

Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya


muncul tiba-tiba dan berat gejalanya.

3. Psikologis dan emotional fatique

Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan


sejenis “mekanisme melarikan diri dari kenyataan” pada penderita
psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi kerja akan mengurangi
angka kejadiannya di tempat kerja.

Gejala klinis dari kelelahan adalah perasaan lesu, ngantuk, dan pusing, sulit
tidur, kurang atau tidak mampu berkonsentrasi, menurunnya tingkat
kewaspadaan, persepsi yang buruk dan lambat, tidak ada atau berkurangnya
keinginan untuk bekerja, dan menurunnya kesegaran jasmani dan rohani.
Jika kelelahan yang terjadi sudah dalam batas waktu kronis, maka gejala
yang ditimbulkan adalah meningkatnya ketidaksatbilan jiwa, depresi, dan
meningkatnya sejumlah penyakit fisik (Manuaba, 2000).

2.7 Upaya Penanggulangan Kelelahan

17
Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun seseorang
mempunyai batas ketahanan, akan tetapi beberapa hal dibawah ini akan
mengurangi kelelahan yang tidak seharusnya terjadi : (Manuaba, 2000;
Nurmianto, 2008)

a. Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia. Pencahayaan dan ventilasi


harus memadai dan tidak ada gangguan bising,

b. Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat yang cukup
saat makan siang.,

c. Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor,

d. Tempo kegiatan tidak harus terus menerus,

e. Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat mungkin, kalau
memungkinkan,

f. Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam peningkatan


semangat kerja,

g. Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja,

h. Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja,

i. Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya;

- Pekerja remaja dan usia tua

- Wanita hamil dan menyusui

- Pekerja shift

- Para pekerja yang mempunyai kebiasaan pada alkohol dan zat stimulan
atau zat addiktif lainnya perlu diawasi

BAB III

KESIMPULAN

18
Ergonomi (ergonomics) berasal dari kata Yunani yaitu ergo yang berarti
kerja dan nomos yang berarti hukum, dimana ergonomi sebagai disiplin keilmuan
yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya.

Pelaksanaan dan penerapan ergonomi di tempat kerja di mulai dari yang


sederhana dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Rancangan ergonomi akan
dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja, serta dapat
menciptakan sistem serta lingkungan yang cocok, aman, nyaman dan sehat.

Metode Ergonomi dilakukan dengan pendekatan diagnosis, treatment, dan


follow up. Sedangkan penerapannya dilakukan dalam mengatur sikap kerja, proses
kerja, tataletak tempat kerja, dan mengangkat beban.

Masalah terbesar yang dihadapi para pekerja setelah melakukan


pekerjaannya adalah kelelahan. Menurut Tarwaka (2004) kelelahan adalah suatu
mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut
sehingga terjadi pemuliham setelah istirahat. Sebab-sebab kelelahan yang utama
adalah pekerjaan yang monoton, beban dan lama kerja terlalu berat, lingkungan
pekerjaan, sakit dan gizi yang buruk, dan kurangnya waktu istirahat.

Penanggulangan terhadap kelelahan yang dapat dilakukan adalah dengan


mengatur lingkungan kerja, pengaturan jam kerja, dan memberikan istirahat
kepada pekerja.

Tujuan akhir dari ergonomi adalah menurunkan angka kecelakaan kerja,


penyakit akibat kerja serta meningkatkan produktivitas dari pekerja.

Daftar Pustaka

Abeysekera, J. 2002. Ergonomic and Industrially Developing Countries. Jurnal


Ergonomi Indonesia, Vol. 1(1):3-12

19
Ankrum, D.R. 2004. Computer Monitor Height, Angl, and Distance. Available
from URL:http://www. Google. Com/ ergonomics. Guidelines.html.
[Accessed: 5 Sept 2012]

Ardana, I. G.N. 2005. Ergonomi Indonesia. The Indonesian Journal of


Ergonomic, JEI 6(1): 1 – 38

Carayon, P. 1995. Effect of Computer System Performance and Other Work


Stressor on Strain of Office Workers. Dalam Anzai, Y.K. Ogawa dan H.
Mori (Eds), Preceeding of the Sixth International Conference on Human
Computer Interaction, Tokyo: Elsevier. Hal. 693-698

Cornell University. 2004. Arranging Your Workstation Eronomically. Available


from URL: http: //www.Google.Com/ CUergoweb/posturetyping.html
[Accessed: 5 Sept 2012]

Darlis, dkk. 2009. Pertimbangan Ergonomi Pada Perancangan Stasiun Kerja.


Sigma Epsilon, vol 13 (4): 105-110

FEOSH. 2005. Creating a Healthy Workstation Environment. Available from


URl:http://www.eh.doe.gov/feosh/pubs/ergo-12-10.pdf [Accessed: 5 Sept
2012].

Manuaba, A. 2000. Ergonomi – Kesehatan dan Keselamatan kerja, Proceeding


Seminar Nasional Ergonomi, Surabaya,6-7 juli.

Mashud. 2008. MGMP TIK SMA DKI Jakarta. Komputer Ergonomi dan
Kesehatan Kerja. Available from: http://www.mgmp-tik-dki.org/?
pilih=news&aksi=lihat&id=6 [Accessed: 5 Sept 2012]

McCormick, E. J. and Sanders, M. S. 1987. Human Factors in Engineering and


Design. McGraw-Hill, Inc. 37-123;313-452

McDowell, J. 2005. Computer related Injury: How Information Technology


Mangers Help ease the Pain. Available from:URL:http://cm.bell-
labs.com/who/ches/me/index.html [Accessed: 5 Sept 2012]

Nurmianto, E. 2003. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya: PT.


Guna Widya.

Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI, 2010. Ergonomi. Available


from: www.searo.who.int [Accessed: 5 Sept 2012].

Santoso, G. 2004. Ergonomi Manusia, Peralatan dan Lingkungan. Jakarta:


Prestasi Pustaka Publisher.

20
Sarmauly, S.R. 2009. Evaluasi Postur Tubuh di Tinjau Dari Segi Ergonomi di
Bagian Pengepakan Pada PT Coca Cola Bottling Indonesia Medan. Skripsi
Teknik Industri. USU. Medan

Suma’mur. 1996. Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja. Jakarta: Yayasan


Swabhawa Karya

Sweere, H. C. 2005. Ergonom factors Involved in Optimum Computer


Workstation Design Pragmatic Approach.

Available from

URL=http://www.ergotron.comm/5_support/literature/PDF/ERGONOMIC_
FACTORS.pdf [Accessed: 5 Sept 2012]

Wignjosoebroto, S. 2003. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu, Teknik Analisis


untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja. Surabaya: PT. Guna Widya. 72-
92.

Yale University. 2005. Comfort and Health. Health Problems of VDT Work.
Available from: URL:http//www.theoffice.com/office/yale/html. [Accessed:
5 Sept 2012]

21