Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam istilah kedokteran secara lengkap nama dari penyakit “Lupus” ini adalah
“Systemic Lupus Erythematosus (SLE)”. Istilah Lupus berasal dari bahasa latin yang
berarti anjing hutan atau serigala. Sedangkan kata Erythematosus dalam bahasa Yunani
berarti kemerah-merahan. Pada saat itu diperkirakan, penyakit kelainan kulit kemerahan
di sekitar hidung dan pipi ini disebabkan oleh gigitan anjing hutan. Karena itulah penyakit
ini diberi nama “Lupus”.
Penyakit lupus adalah penyakit baru yang mematikan setara dengan kanker. Tidak
sedikit pengindap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi penyandang
penyakit lupus mencapai 5 juta orang, dan lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap
tahunnya. Tubuh memiliki kekebalan untuk menyerang penyakit dan menjaga tetap sehat.
Namun, apa jadinya jika kekebalan tubuh justru menyerang organ tubuh yang sehat.
Penyakit lupus diduga berkaitan dengan sistem imunologi yang berlebih. Penyakit ini
tergolong misterius. Lebih dari 5 juta orang dalam usia produktif di seluruh dunia telah
terdiagnosis menyandang lupus atau SLE (Systemic Lupus Erythematosus), yaitu
penyakit auto imun kronis yang menimbulkan bermacam-macam manifestasi sesuai
dengan target organ atau sistem yang terkena. Itu sebabnya lupus disebut juga penyakit
1000 wajah.
Menurut data pustaka, di Amerika Serikat ditemukan 14,6 sampai 50,8 per 100.000.
Di Indonesia bisa dijumpai sekitar 50.000 penderitanya. Sedangkan di RS
Ciptomangunkusumo Jakarta, dari 71 kasus yang ditangani sejak awal 1991 sampai akhir
1996 , 1 dari 23 penderitanya adalah laki-laki. Saat ini, ada sekitar 5 juta pasien lupus di
seluruh dunia dan setiap tahun ditemukan lebih dari 100.000 pasien baru, baik usia anak,
dewasa, laki-laki, dan perempuan. Sembilan puluh persen kasus Lupus Eritematosus
Sistemik menyerang wanita muda dengan insiden puncak pada usia 15-40 tahun selama
masa reproduktif dengan rasio wanita dan laki-laki 5:1.
Penyakit lupus masih sangat awam bagi masyarakat. Penyakit Lupus biasanya
menyerang wanita produktif. Meski kulit wajah penderita Lupus dan sebagian tubuh
lainnya muncul bercak-bercak merah, tetapi penyakit ini tidak menular. Terkadang kita
meremehkan rasa nyeri pada persendian, seluruh organ tubuh terasa sakit atau terjadi

1
kelainan pada kulit, atau tubuh merasa kelelahan berkepanjangan serta sensitif terhadap
sinar matahari. Semua itu merupakan sebagian dari gejala penyakit Lupus.
Faktor yang diduga sangat berperan terserang penyakit lupus adalah faktor
lingkungan, seperti paparan sinar matahari, stres, beberapa jenis obat, dan virus. Oleh
karena itu, bagi para penderita lupus dianjurkan keluar rumah sebelum pukul 09.00 atau
sesudah pukul 16.00. Saat bepergian, penderita memakai sun block atau sun screen
(pelindung kulit dari sengatan sinar matahari) pada bagian kulit yang akan terpapar. Oleh
karena itu, penyakit lupus merupakan penyakit autoimun sistemik dimana pengaruh
utamanya lebih dari satu organ yang ditimbulkan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari Systemic Lupus Erythematosus?
2. Apa saja etiologi Systemic Lupus Erythematosus?
3. Apa saja manifestasi klinis Systemic Lupus Erythematosus?
4. Bagaimana patofisiologi Systemic Lupus Erythematosus?
5. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari Systemic Lupus Erythematosus?
6. Bagaimana penatalaksanaan Systemic Lupus Erythematosus?
7. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien Systemic Lupus Erythematosus?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi Systemic Lupus Erythematosus.
2. Untuk mengetahui etiologi Systemic Lupus Erythematosus.
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis Systemic Lupus Erythematosus.
4. Untuk mengetahui patofisiologi Systemic Lupus Erythematosus.
5. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari Systemic Lupus Erythematosus.
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan Systemic Lupus Erythematosus.
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien Systemic Lupus Erythematosus.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah radang kronis yang disebabkan oleh
penyakit autoimun (kekebalan tubuh) di mana sistem pertahanan tubuh yang tidak normal
melawan jaringan tubuh sendiri. Antara jaringan tubuh dan organ yang dapat terkena
adalah seperti kulit, jantung, paru-paru, ginjal, sendi, dan sistem saraf.
Lupus eritematosus sistemik (SLE) merupakan suatu penyakit atuoimun yang
kronik dan menyerang berbagai system dalam tubuh. ( Silvia & Lorraine, 2006 ).
Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit radang yang menyerang
banyak sistem dalam tubuh, dengan perjalanan penyakit bisa akut atau kronis, dan disertai
adanya antibodi yang menyerang tubuhnya sendiri.
Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah suatu penyakit autoimun multisystem
dengan manifestasi dan sifat yang sangat berubah–ubah, penyakit ini terutama menyerang
kulit, ginjal, membrane serosa, sendi, dan jantung. (Robins, 2007).

B. Etiologi
Telah diketahui secara luas bahwa penyebab SLE dapat dikategorikan dalam 3
faktor yaitu: genetik, hormonal dan lingkungan. Namun sampai saat ini masih menjadi
perdebatan faktor mana yang menjadi penyebab utama sehingga masih menjadi fokus
utama penelitian.
1. Genetik
Tidak diragukan bahwa SLE terkait dengan faktor genetik. Orang yang mempunyai
riwayat keluarga dengan SLE memiliki 3-10% risiko menderita penyakit. Tidak
terbatas hanya SLE, tapi juga penyakit autoimun lainnya seperti arthritis reomathoid
atau Sjorgen’s Syndrome. Pada kembar identik, risiko SLE meningkat menjadi 25%
pada saudara kembar dari pasien yang menyandang SLE (Djoerban, 2002).
2. Hormon
Penyandang SLE wanita : pria adalah 9:1. Dan sebagian besar penyandang wanita
adalah mereka dalam usia produktif. Hal ini diduga disebabkan oleh faktor hormonal.
Estrogen terbukti sebagai hormon yang mempengaruhi aktifnya SLE dalam penelitian
hewan baik secara invitro maupun invivo. Sehingga harus benar-benar

3
dipertimbangkan pemberian terapi hormon dan alat kontrasepsi yang mengandung
estrogen pada Odapus (Djoerban, 2002).
3. Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan diduga berperan kuat mencetuskan SLE, diantaranya
adalah:
a. Infeksi
Beberapa infeksi diduga menyebabkan SLE, salah satu penyebab terkuat adalah
EBV (Epstein-Barr Virus), virus penyebab demam kelenjar (mononucleosis).
Sebagian besar odapus tercatat pernah terinfeksi virus ini dalam riwayat
penyakitnya. Hal ini dapat dibuktikan bahwa sistem imun mulai terganggu saat
berusaha menyerang EBV juga menyerang sel tubuhnya sendiri. Sehingga proses
tersebut diduga kuat berhubungan dengan penyebab SLE.
b. Zat kimia dan racun
Beberapa penelitian membuktikan bahwa paparan terhadap zat kimia dan racun
termasuk pekerjaan yang berhubungan silika.
c. Merokok
Akhir-akhir ini, merokok telah terbukti berhubungan dengan munculnya SLE.
Merokok juga meningkatkan risiko penyakit autoimun lainnya seperti arthritis
reumathoid dan multiple sclerosis.
d. Sinar matahari
Paparan terhadap ultraviolet telah terbukti dapat menyebabkan perburukan
manifestasi SLE. Yaitu menyebabkan timbulnya ruam kulit dan munculnya gejala
SLE pada organ lainnnya. Menghindari sinar matahari dan menggunakan tabir
surya adalah hal yang tidak mudah namun mutlak harus dilakukan oleh odapus
karena sangat bermanfaat (Djoerban, 2002).

C. Manifestasi Klinis
1. Gejala konstitusi.
Seperti fatigue, penurunan berat badan, demam yang sifatnya tidak mengancam jiwa.
Penurunan berat badan yang terjadi dapat dibarengi dengan gejala gastrointestinal.
Demam dapat lebih dari 400C tanpa leukositosis. (Sudoyo AW, et al., 2006).
2. Manifestasi renal
Komplikasi ini mengancam jiwa dan terjadi pada 30% pasien dengan SLE. Nefritis
terjadi pada beberapa tahun awal SLE. Gejala awal bisa asimtomatik, sehingga

4
pemeriksaan urinalisis dan tekana darah penting. Karakteristik manifestasi renal
berupa proteinuria>500mg/urin 24 jam, sedimen eritrosit. Klasifikasi
glomerulonefritis akibat SLE terdiri dari beberapa kelas (Manson JJ, Rahman A,
2005):
a) Minimal mesangial lupus nefritis
b) Mesangial proliferatif lupus nefritis
c) Fokal lupus nefritis
d) Difus lupus nefritis
e) Membranosa lupus nefritis
f) Sklerosis lupus nefritis
3. Manifestasi neuropsikiatrik
Terdapat 19 manifestasi lupus neuropsikiatrik yang bisa dibuktikan hanya dengan
biopsi. Gejala yang dirasakan berupa nyeri kepala, kejang, depresi, psikosis, neuropati
perifer. Manifestasi sistem saraf pusat berupa aseptik meningitis, penyakit
serebrovaskuler, sindrom demielinasi, nyeri kepala, gangguan gerakan, mielopati,
kejang, penurunan kesadaran akut, kecemasan, disfungsi kognitif, gangguan mood,
psikosis. Manifestasi sistem saraf perifer berupa polineuropati perifer akut, gejala
autonom, mononeuropati, miastenia gravis, neuropati kranial, pleksopati.(Manson JJ,
Rahman A, 2005)
4. Manifestasi muskuloskeletal.
Manifestasi yang satu ini merupakan manifestasi yang paling sering terjadi pada
pasien SLE. Atralgia danmialgia merupakan gejala tersering. Keluhan ini sering kali
dianggap mirip dengan artritis reumatoid dan bisa disertai dengan faktor reumatoid
positif. Perbedaannya SLE biasanya tidak menyebabkan deformitas, durasi kejadian
hanya beberapa menit. (Sudoyo AW, et al., 2006).
5. Manifestasi kulit.
Gejala yang terjadi berikut berupa rash malar dandiskoid. Sering dicetuskan oleh
fotosensitivitas. Bisa terjadi alopesia. Manifestasioral berupa terbentuknya ulkus atau
kandidiasis, mata dan vagina kering. (American College of Rheumatology, 2012).
6. Manifestasi hematologi
Berupa anemia normokromnormositer, trombositopenia, leukopenia. Anemia yang terjadi
bisa terjadi akibat SLE maupun akibat manifestasi renal pada SLE sehingga
mengakibatkanterjadinya anemia. Limfopenia < 1500/uL terjadi pada 80% kasus.
(Warrell DA, Cox TM, Firth JD, Edward J,.2002).

5
7. Manifestasi paru.
Berupa pneumositis, emboli paru, hipertensi pulmonal, perdarahan paru, pleuritis.
Pleuritis memiliki gejala nyeri dada, batuk, sesak napas. Efusi pleura juga bisa terjadi
dengan hasil cairan berupa eksudat. Shrinkinglung syndrome merupakan sistemik
yang terjadi akibat atelektasis paru basal yang terjadi akibat disfungsi diafragma.
(Manson JJ, Rahman A, 2005).
8. Manifestasi gastrointestinal
Gejala tersering berupa dispepsia, yang bisaterjadi baik akibat penyakit SLE itu
sendiri atau efek samping pengobatannya. Hepatosplenomegali (+). Terjadinya
vaskulitis mesenterika merupakan komplikasi sehingga memerlukan penatalaksanaan
berupa laparatomi (Manson JJ, Rahman A, 2005).
9. Manifestasi vaskuler
Fenomena raynaud, livedo reticularis yang merupakan abnormalitas mikrovaskuler
pada ekstremitas, trombosis merupakan komplikasi yang terjadi. (Manson JJ, Rahman
A, 2005).
10. Manifestasi kardiovaskuler
SLE dapat menyebabkan terjadinya aterosklerosis yang pada akhirnya dapat
mengakibatkan terjadi infark miokard. Gagal jantung dan angina pektoris, valvulitis,
vegetasi pada katup jantung merupakan beberapa manifestasi lainnya (Sudoyo AW,
et al., 2006).
Kriteria diagnosis yang digunakan adalah dari American Collegeof Rheumatology 1997
yang terdiri dari 11 kriteria, dikatakan pasien tersebut
SLE jika ditemukan 4 dari 11 kriteria yang ada (Sudoyo AW, et al., 2006).

No Kriteria Batasan
1 Rash malar Eritema, datar atau timbul di atas eminensia malar dan bisa
meluas ke lipatan nasolabial
2 Discoid rash Bercak kemerahan dengan keratosis bersisik dan sumbatan
folikel. Pada SLE lanjut ditemukan parut atrofi
3 Ulkus oral Ulserasi oral atau nasofaring yang tidak nyeri
4 fotosintesitivitas Ruam kulit akibat reaksi abnormal terhadap sinar matahari
5 Artritis nonerosif Melibatkan 2 atau lebih sendi perifer dengan karakteristik
efusi, nyeri dan bengkak

6
6 pleuritis atauperikarditis a. Pleuritis: nyeri pleuritik, ditemukannya pleuritik rub
atau efusi pleura
b. Perikarditis: EKG dan perikardial friction rub

7 Gangguan renal a. Proteinuria persisten>0,5 gr hari atau kualifikasi >


+++
b. Sedimen eritrosit, glanular, tubular atau campuran

8 Gangguan neurologis a. Kejang tidak disebabkan oleh gangguan metabolik


maupun obat-obatan seperti uremia, ketoasidosis,
ketidakseimbangan elektrolit
b. Psikosis tanpa disebabkan obat maupun kelainan
metabolik di atas
9 Gangguan hematologi a. Anemia hemolitik dengan retikulositosis
b. Leukopenia <4000/uL
c. Limfopenia <1500/uL
d. Trombositopenia <100,000/uL
a. Anti DNA meningkat
b. Anti sm meningkat
c. Antibodi antifosfolipid: IgG IgM antikardiolipin
meningkat, tes koagulasi lupus (+) dengan metode
standar, hasil (+) palsu dan dibuktikan dengan
pemeriksaan imobilisasi t. Pallium 6 bulan
kemudian atau flurensensi absorsi antibodi
11 Antibodi antinuklear Titer ANA meningkat dari normal

D. KLASIFIKASI
Penyakit Lupus dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu discoid lupus,
systemic lupus erythematosus, dan lupus yang diinduksi oleh obat.
1. Discoid Lupus
Dikenal sebagai Cutaneus Lupus, yaitu penyakit lupus yang menyerang kulit. Lesi
berbentuk lingkaran atau cakram dan ditandai oleh batas eritema yang meninggi,
skuama, sumbatan folikuler, dan telangiektasia. Lesi ini timbul di kulit kepala, telinga,
wajah, lengan, punggung, dan dada. Penyakit ini dapat menimbulkan kecacatan
7
karena lesi ini memperlihatkan atrofi dan jaringan parut di bagian tengahnya serta
hilangnya apendiks kulit secara menetap (Hahn, 2005).
2. Systemic Lupus Erythematosus
Penyakit lupus yang menyerang kebanyakan sistem di dalam tubuh, seperti kulit,
sendi, darah, paru-paru, ginjal, hati otak dan sistem saraf. SLE merupakan penyakit
radang atau inflamasi multisistem yang disebabkan oleh banyak faktor (Isenberg and
Horsfall,1998) dan dikarakterisasi oleh adanya gangguan disregulasi sistem imun
berupa peningkatan sistem imun dan produksi autoantibodi yang berlebihan (Albar,
2003). Terbentuknya autoantibodi terhadap dsDNA, berbagai macam
ribonukleoprotein intraseluler, sel-sel darah, dan fosfolipid dapat menyebabkan
kerusakan jaringan (Albar, 2003) melalui mekanime pengaktivan komplemen
(Epstein, 1998).
3. Lupus yang diinduksi oleh obat
Lupus yang disebabkan oleh induksi obat tertentu khususnya pada asetilator lambat
yang mempunyai gen HLA DR-4 menyebabkan asetilasi obat menjadi lambat, obat
banyak terakumulasi di tubuh sehingga memberikan kesempatan obat untuk berikatan
dengan protein tubuh. Hal ini direspon sebagai benda asing oleh tubuh sehingga tubuh
membentuk kompleks antibodi antinuklear (ANA) untuk menyerang benda asing
tersebut. Gejala-gejalanya biasanya menghilang setelah pemakaian obat dihentikan
(Herfindal et al., 2000)

8
E. Patofisiologi

9
F. Komplikasi
Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang bisa terjadi jika penyakit lupus tidak
ditangani dengan cepat dan tepat:
a. Penyakit ginjal
Jika terjadi pembengkakan pada kaki atau pergelangan kaki setelah divonis mengidap
lupus, maka itu adalah tanda bahwa eksresi cairan pada tubuh sudah tidak normal. Ada
yang salah pada ginjal. Pada kasus yang lebih parah, gejalanya sampai urin bercampur
darah hingga pasien mengalami gagal ginjal.
b. Penyakit jantung
Komplikasi jantung yang paling umum terjadi pada penderita lupus adalah terjadinya
infeksi pada selaput pembungkus jantung, penebalan pembuluh darah, dan
melemahnya otot-otot jantung.
c. Penyakit paru-paru
Satu dari tiga orang penderita lupus akan mengalami infeksi pada selaput pembungkus
paru-paru. Jika ini terjadi maka pasien akan merasakan sakit saat bernapas hingga
batuk berdarah.
d. Gangguan peredaran darah
Untuk penyakit yang satu ini pada penderita lupus, biasanya tidak ditemukan gejala
yang dapat dideteksi secara langsung. Gangguannya antara lain seperti terganggunya
distribusi oksigen dalam darah atau berkurangnya produksi sel darah putih, dan
anemia.
e. Gangguan saraf dan mental
Banyak dari penderita lupus yang mengalami susah konsentrasi, cepat lupa, sakit
kepala yang sangat parah, khawatir berlebihan, dan selalu gelisah. Hal ini dikarenakan
penyakit lupus lama-kelamaan akan melemahkan kerja saraf dan menyebabkan stres
pada pasien.

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan untuk menentukan adanya penyakit ini bervariasi, diantaranya:
1. Pemeriksaan Darah Lengkap
2. Tes Darah ANA (Anti Nuclear Antibody). Tes ini akan mengidentifikasi
antibodi (autoantibody) yang memakan sel-sel berguna bagi tubuh. Hasil positif tes
ANA tersebut belum bisa dikatakan seseorang menderita Lupus. Perlu dibutuhkan

10
data lain seperti gejala, catatan fisik pasien dan tes lengkap laboratorium hingga
dipastikan si pasien apakah menderita Lupus.
3. Ruam kulit atau lesi yang khas
4. Rontgen dada menunjukkan pleuritis atau pericarditis
5. Pemeriksaan dada dengan bantuan stetoskop menunjukkan adanya gesekan
pleura atau jantung.
6. Analisa air kemih menunjukkan adanya darah atau protein lebih dari 0,5 mg/hari
atau +++
7. Hitung Jenis Darah menunjukkan adanya penurunan beberapa jenis sel darah.
8. Biopsi ginjal
9. Anibodi anti doublestranded-DNA, antibody antifosfolipid,antibody lain (anti-
Ro,anti-La,anti-RNP), factor Rheumatoid, titer komplemen C3,C4 dan CH50, titer
IgM,IgG,dan IgA, Uji Coombc, Kreatin, Ureum darah, Protein urin>0,5 gram/24
jam (Nefritis), dan encitraan (foto Rontgen Toraks), USG ginjal, MRI kepala.

H. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan SLE adalah mengontrol manifestasi penyakit, sehingga
anak dapat memiliki kualitas hidup yang baik tanpa eksaserbasi berat, sekaligus
mencegah kerusakan organ serius yang dapat menyebabkan kematian. Adapun obat-
obatan yang dibutuhkan seperti:
1. Antiinflamasi non-steroid
Untuk pengobatan simptomatik artralgia nyeri sendi.
2. Antimalaria
Diberikan untuk lupus diskoid. Pemakaian jangka panjang memerlukan evaluasi
retina setiap 6 bulan.
3. Kortikosteroid
a. Dosis rendah, untuk mengatasi gejala klinis seperti demam dermatitis, efusi
pleura. Diberikan selama 4 minggu minimal sebelum dilakukan penyapihan.
b. Dosis tinggi, untuk mengatasi krisis lupus, gejala nefritis, SSP, dan anemi
hemolitik.
4. Obat imunosupresan/sitostatika
Imunosupresan diberikan pada SLE dengan keterlibatan SSP, nefritis difus dan
membranosa, anemia hemolitik akut, dan kasus yang resisten terhadap pemberian
kortikosteroid.

11
5. Obat antihipertensi
Atasi hipertensi pada nefritis lupus dengan agresif.
6. Kalsium
Semua pasien SLE yang mengalami artritis serta mendapat terapi prednison berisiko
untuk mengalami osteopenia, karenanya memerlukan suplementasi kalsium.
7. Restriksi diet
Sebagian besar pasien memerlukan kortikosteroid, dan saat itu diet yang
diperbolehkan adalah yang mengandung cukup kalsium, rendah lemak, dan rendah
garam. Pasien disarankan berhati-hati dengan suplemen makanan dan obat
tradisional.

12
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Riwayat kesehatan klien, meliputi :
a. Biografi Klien (nama, alamat, jenis kelamin, status pernikahan, pekerjaan, dan
etnis klien)
b. Keluhan utama klien
c. Riwayat kesehatan yang lampau (riwayat imunisasi, alergi, penyakit dan pemeriksaan
diagnostic yang pernah dijalani klien)
d. Riwayat kesehatan keluarga (penyakit yang diidap anggota keluarga yang
lain)
e. Profil klien (pengetahuan,lingkungan,factor spiritual, gaya hidup, seksualitas, dan
respon stress dari klien)
2. Pengkajian Keperawatan (bisa dengan metode head to toe atau system by
system)
a. Inspeksi area kulit terutama bagian wajah/inspeksi adanya butterfly rash
b. Palpasi area abdomen, apakah terdapat nyeri abdomen
c. Perkusi bagian abdomen untuk mengkaji adanya gas pada GI Tract klien
d. Auskultasi dada dan punggung klien untuk memastikan kebersihan jalan nafas
klien
e. TTV, meliputi suhu tubuh, nadi, kecepatan pernafasan, dan tekanan darah.
3. Rekam medis

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan nflamasi/kerusakan jaringan
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebuuhan tubuh berhubungan dengan factor
biologis

13
C. Rencana Asuhan Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi/kerusakan jaringan

INTERVENSI RASIONAL
1. Observasi skala nyeri 1. Membantu dalam menentukan
2. Berikan lingkungan senyaman kebutuhan manajemen nyeri
mungkin 2. Memberikan kenyamanan.
3. Dorong untuk sering 3. Mencegah terjadinya kelelahan
mengubah posisi. Bantu pasien umum dan kekakuan sendi.
untuk bergerak di tempat tidur, 4. Meningkatkan relaksasi dan
hindari gerakan keras meningkatkan kemampuan koping.
4. Dorong penggunaan teknik 5. Meningkatkan relaksasi, mengurangi
manajemen stress. Misalnya : spasme, memudahkan untuk turut serta
relaksasi progresif, sentuhan dalam terapi.
terapeutik, biofeedback, 6. Megurangi nyeri otot, jaringan lain.
visualisasi, pedoman imajinasi,
hypnosis diri, pengendalian nafas
5. Beri obat sebelum
aktivitas/latihan yang
direncanakan sesuai petunjuk.
6. Berikan NSAID sesuai order
dokter

14
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit

INTERVENSI RASIONAL
1. Lindungi kulit yang sehat 1. Mencegah kemungkinan terjadinya
terhadap kemungkinan laserasi. laserasi.
2. Beritahu pasien untuk penggunaan tabir 2. Mengurangi/ mencegah
surya. photosensitivity.
3. Kolaborasi pemberian NSAID 3. NSAID atau kortikosteroid
atau kortikosteroid. adalah anti-inflamasi.

15
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh be5 factor biologis.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji pemenuhan kebutuhan 1. Mengetahui kekurangan nutrisi klien.
nutrisi klien 2. Agar dapat dilakukan intervensi dalam
2. Kaji penurunan nafsu makan pemberian makanan pada klien.
klien. 3. Dengan pengetahuan yg baik tentang
3. Jelaskan pentingnya makan bagi nutrisi akan memotivasi untuk
proses penyembuhan. meningkatkan pemenuhan nutrisi.
4. Ukur tinggi dan BB klien. 4. Membantu dalam identifikasi
5. Ciptakan suasana makan yang malnutrisi protein-kalori khususnya bila
menyenangkan. BB kurang dari normal.
6. Berikan makanan dengan jumlah 5. Membuat waktu makan lebih
kecil dan bertahap. menyenangkan, yang dapat
7. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk mengingkatkan nafsu makan.
membantu memiliki makanan 6. Untuk memudahkan proses makan.
yang dapat memenuhi 7. Ahli gizi adalah spesialisasi ilmu
kebutuhan gizi selama sakit. gizi yang membantu klien memilih
makanan sesuai dengan keadaan
sakitnya, usia,tinggi,berat badannya.

16
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam istilah kedokteran secara lengkap nama dari penyakit “Lupus” ini adalah
“Systemic Lupus Erythematosus (SLE)”. Istilah Lupus berasal dari bahasa latin yang
berarti anjing hutan atau serigala. Sedangkan kata Erythematosus dalam bahasa Yunani
berarti kemerah-merahan. Pada saat itu diperkirakan, penyakit kelainan kulit kemerahan
di sekitar hidung dan pipi ini disebabkan oleh gigitan anjing hutan. Karena itulah penyakit
ini diberi nama “Lupus”.
Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah radang kronis yang disebabkan oleh
penyakit autoimun (kekebalan tubuh) di mana sistem pertahanan tubuh yang tidak normal
melawan jaringan tubuh sendiri. Antara jaringan tubuh dan organ yang dapat terkena
adalah seperti kulit, jantung, paru-paru, ginjal, sendi, dan sistem saraf.
Lupus eritematosus sistemik (SLE) merupakan suatu penyakit atuoimun yang
kronik dan menyerang berbagai system dalam tubuh. ( Silvia & Lorraine, 2006 ).

17
DAFTAR PUSTAKA

Gopar,Adul. Lupus Eritematosus Sistemik.2009.


(http://adulgopar.files.wordpress.com/2009/12/lupus-eritematosus- sistemik.pdf, diakses
tanggal 2 Oktober 2018, jam 21.43)

Joe. Systemic Lupus Eritematosus (SLE) atau Lupus Eritmatosus Sistemik (LES).
2009. (http://perawattegal.wordpress.com/2009/09/01/systemic-lupus- erytematosus-sle-
atau-lupus-eritematosus-sistemik-les/, diakses tanggal

3 Oktober 2018 , jam 17.42)

Judith M, Wilkinson. Nursing Diagnosis Hand Book. 2005. New Jersey : Pearson
Education,Inc.

Nanang.Lupus Eritematosus Sistemik.


(http://staff.ui.ac.id/internal/140067028/material/LupusEritematosusSistemi kpendidikan-
drnanang.pdf, diakses tanggal 3 Oktober 2018, jam 21.45)

Nanda International. Nursing Diagnoses : Definition And Classification

2009-2011. 2011. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

18
19