Anda di halaman 1dari 6

REVIER JURNAL MITIGASI

BENCANA PADA SUATU DAERAH
PERMUKIMAN

Judul MITIGASI DAERAH RAWAN TANAH LONGSOR
MENGGUNAKAN TEKNIK PEMODELAN SISTEM
INFORMASI GEOGRAFIS.
Studi kasus ; kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang
Selatan
Jurnal MITIGASI BENCANA
Volume dan halaman Vol : 9 , Hal : 121- 129
Tahun 2008
Penulis Mubekti, dan Fauziah Alhasanah
Reviewer MERI RAHAYU
Tanggal 03 OKTOBER 2018
Abstrak Dalam isi abstrak pada jurnal tersebut dijelaskan bahwasanya
tanah longsor adalah bencana utama yang terjadi di kecamatan
Sumedang Utara dan Sumedang Selatan. Namun tindakan
dalam bahaya dan risiko tanah longsor sebelumnya tidak
tersedia, padahal itulah sangat penting. Dengan adanya
penelitian ini adalah untuk tersedianya teknologi informasi
tentang tanah longsor. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian
wilayah di Sumedang Utara dan Selatan Kecamatan Sumedang
memiliki kelas sedang seluas 8,460,41 Ha (65,5%) dan tinggi
longsor bahaya meliputi 2.798,44 Ha (21,67%), zona bahaya
longsorlahan rendah 1.570,25 Ha (12,16%) dan bahaya tanah
longsor sangat rendah 85,69 Ha (0,66%). Dengan
menggabungkan bahaya longsor dan nilai properti, prediksi
risiko longsor dihasilkan. Meskipun sebagian besar daerah
memiliki kelas risiko rendah (9,564,16 Ha / 74,07%), tetapi
tinggi daerah risiko terjadi di tempat minimal (86,44 Ha /
0,67%). Fenomena ini menunjukkan itu daerah dengan potensi
bahaya longsor yang tinggi tidak selalu memiliki nilai tinggi
risiko. Karena perhitungan risiko ditentukan oleh nilai properti
seperti: infrastruktur, jaringan jalan, dan penggunaan lahan.
Sedangkan tingkat bahaya longsoran adalah ditentukan oleh
faktor alam seperti: kemiringan, jenis tanah, geologi dan

mengetahui tingkat risiko dan membuat peta risiko serta menganalisis upaya mitigasi terhadap daerah . yakni dengan menganalisis beberapa tema peta sebagai variabel untuk memperoleh kawasan yang rentan terhadap bahaya dan risiko tanah longsor. Pendahuluan Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwasanya tanah longsor adalah salah satu penyebab bencana alam. menggambarkan permukaan suatu wilayah. 1994). Salah satu bentuk mitigasi dalam rangka menghadapi terjadinya bencana alam dan sekaligus untuk mengurangi dampak yang ditimbulkannya adalah tersedianya sistem peringatan dini (early warning system) termasuk di dalamnya tersedianya data dan informasi mengenai wilayah yang rentan terhadap bahaya longsor. dan struktur geologi (Suhendar. Di Indonesia tanah longsor ini menyebabkan kerugian yang besar. Penerapan teknologi SIG dapat membantu upaya mitigasi bencana alam dengan melakukan identifikasi lokasi serta pengkajian masalah yang berkaitan dengan dampak tanah longsor. penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan pemodelan dalam teknologi GIS dan remote sensing untuk analisis potensi bahaya tanah longsor dan faktor penyebabnya. misalnya kerusakan harta benda. Selain itu. memetakan wilayah bahaya tanah longsor. Upaya mitigasi untuk mengurangi atau meminimalisir dampak akibat tanah longsor (mitigasi) dilakukan dengan cara membuat suatu model penyusunan SIG. Tanah longsor bahayanya sangat mempengaruhi kepada keselamatan manusia. rumah dan alalm sekitar. citra satelit dapat pula dimanfaatkan secara tidak langsung dalam penentuan potensi tanah longsor.

Hasil tersebut merupakan ekstraksi analisis spasial dari variable pemicu terjadinya longsor. Dari Tabel 5. infrastruktur. yaitu peta tutupan lahan. rawan tanah longsor di wilayah Kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan. Secara matematis. Metodologi Dalam jurnal tersebut awalnya sipenulis melakukan persiapan dulu kemudianan materi analisis dan kesimpulannya : Bahan yang digunakan adalah Data Landsat TM Kabupaten Sumedang path-row 121-065 akuisisi 18 September 1996.05. Peta Dasar. Pada Tabel berikut disajikan informasi mengenai desa-desa yang dinyatakan berpotensi sangat rawan. Peta Kontur.3 dan Global Positioning System (GPS). Pembahasan Analisa wilayah rawan tanah longsor: Dalam isi jurmal tersebut. Multispec. peta topografi. kemiringan lereng. Peta Curah Hujan. rawan. infrastruktur. kurang rawan. Nilai risiko tanah longsor dihasilkan dari penjumlahan nilai bahaya dan skor dari properti (jalan. Peta Tutupan Lahan. pembuatan peta rawan bahaya tanah longsor dilakukan dengan cara menggabungkan hasil analisis tumpang tindih pada empat peta. dan peta jenis tanah. dan tidak rawan terhadap bahaya tanah longsor. Landsat ETM7+ path-row 121-065 akuisisi 12 Agustus 2002. dan ASTER akuisisi 31 Agustus 2003. terlihat bahwa desa-desa yang memiliki potensi bahaya longsor meliputi Desa Ciherang.7. serta beberapa peta tematik seperti Peta Geologi. lahan). geologi. . dan Peta Tanah. nilai risiko tanah longsor dihitung dengan persamaan berikut : R  H  P . Global Mapper 6. Arc View 3. Peta Infrastruktur. dan penggunaan lahan). Software yang digunakan adalah ERDAS Imagine 8. dimana: R = risiko H = hazard (bahaya) P = properti ( jalan.

07 % dari total luas wilayah. Citengah.Cipancar.44 Ha atau 0. Analisis resiko wilayah tanah longsor: Berdasarkan hasil analisis wilayah risiko tanah longsor. dan Pasanggrahan. Sukajaya.16 Ha atau 74. Adapun luasan wilayah yang termasuk dalam kategori sangat berisiko seluas 86. dihasilkan luasan wilayah yang tidak berisiko terhadap tanah longsor seluas 9. diketahui bahwa kedua kecamatan tersebut memiliki potensi daerah rawan longsor yang tinggi. Berikut merupakan peta sebaran potensi rawan bahaya tanah longsor . Mitigasi Penanggulangan Risiko Tanah Longsor: Penulis menjelaskan.564.67% dari total luas wilayah Kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan. berdasarkan hasil analisis terhadap wilayah yang rawan terhadap bahaya tanah longsor di Kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan.

karena longsor akan terjadi kapanpu. hanya 22 desa/kelurahan yang masuk kategori ini. dan Citengah. Sukajaya. terutama pada 4 wilayah di atas. Cara utama kita menanggulanginya dengan cara penataan ruang wilayah yang bagus. . Pasanggrahan.10 Ha atau 6. Untuk kelas yang sangat berisiko. Kesimpulan  Hampir keseluruhan daerah kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan mengalami rawan tanah longsor  Wilayah yang memiliki potensi bahaya longsor pada tingkat sangat rawan adalah Desa Ciherang.54% dari luas wilayah kedua kecamatan tersebut. Berikut ini merupakan peta resiko tanah longsor. diketahui bahwa luas wilayah yang memiliki risiko (berisiko dan sangat berisiko) sekitar 844. wilayah tersebut harus sangat diperhatikan. Dalam upaya mitigasi. Hasil analisis terhadap wilayah yang memiliki risiko tanah longsor.

 Untuk menghindari dan mengurangi tingkat risiko tanah longsor pada wilayahwilayah yang sangat berisiko. harus dilakukan pengendalian pembangunan (properti) sesuai dengan daya dukung lingkungan. Saran  Untuk meminimalkan risiko akibat tanah longsor.  Melakukan aalisa terhadap wilayah tersebut agar kedepannya lebih berhati-hati lagi. Penulis pun membuat 2 peta yatu peta wilayah rawan tanah longsor dan peta wilayah resiko tanah longsor. disarankan pembangunan sarana dan prasarana serta penggunaan lahan tidak dilakukan pada daerah-daerah yang memiliki bahaya tanah longsor.  Wilayah yang memiliki tingkat bahaya tanah longsor yang tinggi belum tentu memiliki nilai risiko yang tinggi. penyebab terjadinya bahaya tanah longsor juga dapat dipicu oleh campur tangan manusia seperti pengundulan hutan. Keunggulan Keunggulan dalam jurnal tersebut ialah.  Perlu kearifan dari manusia untuk meminimalkan bahaya tanah longsor karena selain faktor alam. si penulis melakukan persiapan materi kemudian menganalisa wilayah tersebut sehingga ditemukannya titik temu dari bencana tanah longsor tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui penetapan tata ruang wilayah yang didasarkan pada peta rawan bahaya longsor. . dan pemanfaatan lahan di lereng-lereng tanpa memperhatikan kaidah kaidah lingkungan. Sehingga masyarakat dengan mudah mengetahui yang mana saja wilayah tanah longsor sehingga bisa lebih berhati-hati lagi.