Anda di halaman 1dari 17

JUSTIFIKASI TEKNIS

PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI

BAB IV
DASAR TEORI

Pengertian Perkerasan
Tanah saja biasanya tidak cukup dan menahan deformasi akibat beban roda
berulang, untuk itu perlu adanya lapisan tambahan yang terletak antara tanah dan roda
atau lapisan paling atas dari beban jalan. Lapisan tambahan ini dibuat dari bahan khusus
yang mempunyai kualitas yang lebih baik dan dapat meyebarkan beban roda yang lebih
luas di atas permukaan tanah, sehingga tegangan yang terjadi karena beban lalu lintas
menjadi lebih kecil dari tegangan izin tanah. Bahan ini selanjutnya disebut bahan lapis
perkerasan (Sukirman,1992 ).

Jenis-Jenis Perkerasan
 Perkerasan Kaku (Rigid Pavement)
Perkerasan kaku (rigid pavement) adalah perkerasan tegar/kaku/rigid dengan
bahan perkerasan yang terdiri atas bahan ikat (semen portland, tanah liat) dengan
batuan. Bahan ikat semen portland digunakan untuk lapis permukaan yang terdiri
atas campuran batu dan semen (beton) yang disebut slab beton.
Karena beton akan segerah mengeras setelah dicor, dan pembuatan beton tidak
dapat menerus, maka pada perkerasan ini terdapat sambungan-sambungan beton
atau joint. Pada perkerasan ini juga slab beton akan ikut memikul beban roda,
sehingga kualitas beton sangat menentukan kualitas pada rigid pavement
(Suryadharma dan Susanto, 1999).

 Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)
Perkerasan lentur (flexible pavement) adalah perkerasan fleksibel dengan bahan
terdiri dari bahan ikat (berupa aspal dan tanah liat) serta batu. Perkerasan ini
umumnya terdiri atas 3 (tiga) lapis atau lebih. Urut-urutan lapisan adalah lapis
permukaan, lapis pondasi atas, lapis pondasi bawah dan sub grade.
Apabila beban roda yang terjadi pada permukaan jalan berupa P ton, maka beban
ini diteruskan ke lapisan bawahnya dengan sistem penyebaran tekanan, sehingga

1
PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI

2.JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI semakin ke bawah/dalam tekanan yang dirasakan akan semakin kecil. Tipikal struktur perkerasan dapat dilihat pada Gambar 2. 3. Gambar 2. Jenis Struktur Perkerasan Jenis struktur perkerasan yang diterapkan dalam desain struktur perkerasan baru terdiri atas: 1. Struktur perkerasan pada timbunan. (Suryadharma dan Susanto.2.1 Komponen Struktur Perkerasan Lentur (Lalu Lintas Berat) 2 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI . 1999). Struktur perkerasan pada permukaan tanah asli.1 dan Gambar 2. Struktur perkerasan pada galian.

JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI Gambar 2. dan lapis beton semen dengan tulangan ataupun tanpa tulangan. Daya dukung perkerasan kaku terutama diperoleh dari plat beton. dan keseragaman tanah dasar sangat berpengaruh terhadap keawetan dan kekuatan perkerasan kaku. lapis pondasi bawah.1 Struktur dan Jenis Perkerasan Kaku Perkerasan kaku merupakan suatu struktur yang umumnya terdiri dari tanah dasar. daya dukung. Perkerasan kaku dibedakan dalam 4 (Empat) jenis sebagai berikut: a.2 Komponen Struktur Perkerasan Kaku 2. Plat beton semen mempunyai sifat yang cukup kaku serta dapat menyebarkan beban pada bidang yang luas dan menghasilkan tegangan yang rendah pada lapisan-lapisan di bawahnya. Sifat. Perkerasan kaku dengan sambungan tanpa tulangan (jointed unreinforced / plain concrete pavement) 3 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI .

Untuk tanah ekspansif perlu pertimbangan khusus perihal jenis dan penentuan lebar lapisan pondasi dengan memperhitungkan tegangan pengembangan yang mungkin timbul.Mix Concrete) setebal 15 cm yang dianggap mempunyai nilai CBR tanah dasar efektif 5 %. 2. 2. Pemasangan lapis pondasi dengan lebar sampai ke tepi luar lebar jalan merupakan salah satu cara untuk mereduksi perilaku tanah ekspansif. 03-6388. stabilisasi atau dengan beton kurus giling padat (Lean Rolled Concrete). masing-masing untuk perencanaan tebal perkerasan lama dan perkerasan jalan baru.2 Pondasi Bawah Bahan pondasi bawah dapat berupa bahan berbutir. dan campuran beton kurus (Lean Mix Concrete). Perkerasan kaku dengan pra-tekan (prestressed concrete pavement). Tebal lapisan pondasi minimum 10 cm yang paling sedikit mempunyai mutu sesuai dengan SNI No. Lapis pondasi bawah perlu diperlebar sampai 60 cm di luar tepi perkerasan kaku.2. Perkerasan kaku menerus (tanpa sambungan) dengan tulangan (continuously reinforced concrete pavement) d. Apabila tanah dasar mempunyai nilai CBR lebih kecil dari 2 %.2000 dan AASHTO M-155 serta SNI 03-1743-1989.1 Tanah Dasar Daya dukung tanah dasar ditentukan dengan pengujian CBR insitu sesuai dengan SNI 03-1731-1989 atau CBR laboratorium sesuai dengan SNI 03-1744-1989. pondasi bawah harus menggunakan campuran beton kurus (CBK). Perkerasan kaku dengan sambungan dengan tulangan (jointed reinforced concrete pavement) c.JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI b.2 Persyaratan Teknis Perkerasan Kaku 2.2. Bila direncanakan perkerasan kaku bersambung tanpa ruji. Tebal 4 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI . maka harus dipasang pondasi bawah yang terbuat dari beton kurus (Lean.

yang didapat dari hasil pengujian balok dengan pembebanan tiga titik (ASTM C-78) yang besarnya secara tipikal sekitar 3.2.4 CBR Tanah Dasar Efektif dan Tebal Pondasi Bawah 2.4 Sumber : Perencanaan Perkerasan Jalan Beton Semen (2003) Gambar 2.0 5 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI .3 Tebal Pondasi Bawah Minimum untuk Perkerasan Kaku Sumber : Perencanaan Perkerasan Jalan Beton Semen (2003) Gambar 2.3 Beton Semen Kekuatan beton harus dinyatakan dalam nilai kuat tarik lentur (flexural strength) umur 28 hari.JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI lapis pondasi bawah minimum yang disarankan dapat dilihat pada Gambar 2.3 dan CBR tanah dasar efektif didapat dari Gambar 2.

55 kg/cm2). Hubungan antara kuat tekan karakteristik dengan kuat tarik lentur beton dapat didekati dengan rumus berikut: fcf = K (fc’)0.Sumbu tunggal roda ganda (STRG) . 0. harus mencapai kuat tarik lentur 5.13 K (fc’)0.37.0 .Sumbu tandem roda ganda (STdRG) .0 MPa (30-50 kg/cm2). Kendaraan yang ditinjau untuk perencanaan perkerasan kaku adalah yang mempunyai berat total minimum 5 ton.75 untuk agregat pecah. Kuat tarik lentur beton yang diperkuat dengan bahan serat penguat seperti serat baja.44.fcs dalam kg/cm2 Keterangan: fcs : kuat tarik belah beton 28 hari 2.Sumbu tridem roda ganda (STrRG) 6 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI . Kekuatan rencana harus dinyatakan dengan kuat tarik lentur karakteristik yang dibulatkan hingga 0.5 MPa (50 .50 dalam MPa fcf = 3.5.fcs dalam MPa fcf = 13. aramit atau serat karbon.25 MPa (2. Konfigurasi sumbu untuk perencanaan terdiri atas 4 jenis kelompok sumbu sebagai berikut: .5.2.50 dalam kg/cm2 Keterangan: fc’ : kuat tekan beton karakteristik 28 hari (kg/cm2) fcf : kuat tarik lentur beton 28 hari (kg/cm2) K : konstanta.5 kg/cm2) terdekat.JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI .Sumbu tunggal roda tunggal (STRT) . Kuat tarik lentur dapat juga ditentukan dari hasil uji kuat tarik belah beton yang dilakukan menurut SNI 03-2491-1991 sebagai berikut: fcf = 1.4 Lalu Lintas Penentuan beban lalu lintas rencana untuk perkerasan kaku dinyatakan dalam jumlah sumbu kendaraan niaga (commercial vehicle) sesuai dengan konfigurasi sumbu pada lajur rencana selama umur rencana.70 untuk agregat tidak dipecah dan 0.

Hasil-hasil survey lalu lintas sebelumnya. Dalam analisis lalu lintas.1 Klasifikasi Kendaraan dan Nilai VDF Standar Sumber : Manual Desain Perkerasan Jalan (2013) 7 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI . Pelaksanaan survey agar mengacu pada Pedoman Survei Pencacahan Lalu Lintas dengan cara manual Pd T-19-2004-B atau dapat menggunakan peralatan dengan pendekatan yang sama. terutama untuk penentuan volume lalu lintas pada jam sibuk dan lintas harian rata-rata tahunan (LHRT) agar mengacu pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI).JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI  Analisis Volume Lalu Lintas Analisis volume lalu lintas didasarkan pada survey faktual. dengan durasi minimal 7 x 24 jam.  Jenis Kendaraan Dalam melakukan survey lalu lintas harus menggunakan pembagian jenis kendaraan dan muatannya sesuai klasifikasi kendaraan yang ditunjukkan dalam Tabel 2. b. Survey lalu lintas aktual. Untuk keperluan desain. volume lalu lintas dapat diperoleh dari: a.1 Tabel 2.

Umumnya perkerasan kaku dapat direncanakan dengan umur rencana (UR) 20 tahun sampai 40 tahun yang ditunjukkan pada Tabel 2.3 Faktor Pertumbuhan Lalu Lintas (i) Minimum untuk Desain Sumber : Manual Desain Perkerasan Jalan (2013) Untuk menghitung pertumbuhan lalu lintas selama umur rencana dihitung sebagai berikut: 8 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI . Internal Rate of Return. pola lalu lintas serta nilai ekonomi jalan yang bersangkutan.2 Umur Rencana Perkerasan Jalan Baru (UR) Sumber : Manual Desain Perkerasan Jalan (2013)  Faktor Pertumbuhan Lalu Lintas Faktor pertumbuhan lalu lintas didasarkan pada data-data pertumbuhan historis atau formulasi korelasi dengan faktor pertumbuhan lain yang valid. yang dapat ditentukan antara lain dengan metode Benefit Cost Ratio.JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI  Umur Rencana Umur rencana perkerasan jalan ditentukan atas pertimbangan klasifikasi fungsional jalan. bila tidak ada maka Tabel 2.3 digunakan sebagai nilai minimum. kombinasi dari metode tersebut atau cara lain yang tidak terlepas dari pola pengembangan wilayah.2 Tabel 2. Tabel 2.

01i Dimana: R : Faktor pengali pertumbuhan lalu lintas i : Tingkat pertumbuhan tahunan (%) UR : Umur rencana (tahun)  Lajur Rencana dan Koefisien Distribusi Lajur rencana merupakan salah satu lajur lalu lintas dari suatu ruas jalan raya yang menampung lalu lintas kendaraan niaga terbesar.JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI R = (1 + 0. Beban pada suatu jenis sumbu secara tipikal dikelompokkan dalam interval 10 kN (1 ton) bila diambil dari survai beban. Jika jalan tidak memiliki tanda batas lajur.4 Tabel 2. Jumlah sumbu kendaraan niaga selama umur rencana dihitung dengan rumus berikut: JSKN = JSKNH x 365 x R x C Keterangan: JSKN : Jumlah total sumbu kendaraan niaga selama umur rencana 9 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI .1 0.4 Jumlah Lajur berdasarkan Lebar Perkerasan dan Koefisien Distribusi (C) Kendaraan Niaga pada Lajur Rencana Sumber : Perencanaan Perkerasan Jalan Beton Semen (2003)  Lalu Lintas Rencana Lalu lintas rencana adalah jumlah kumulatif sumbu kendaraan niaga pada lajur rencana selama umur rencana meliputi proporsi sumbu dan distribusi beban pada setiap jenis sumbu kendaraan.01i)UR . maka jumlah lajur dan koefsien distribusi (C) kendaraan niaga dapat ditentukan dari lebar perkerasan sesuai Tabel 2.

5 Tabel 2.5 Faktor Keamanan Beban (FKB) Sumber : Perencanaan Perkerasan Jalan Beton Semen (2003)  Sebaran Kelompok Sumbu Kendaraan Niaga Dalam pedoman desain perkerasan kaku Pd T-14-2003.6 Tabel 2. beban sumbu dikalikan dengan faktor keamanan beban (FKB). Faktor keamanan beban ini digunakan berkaitan adanya berbagai tingkat realibilitas perencanaan seperti telihat pada Tabel 2. Karakteristik proporsi sumbu dan proporsi beban untuk setiap kelompok sumbu dapat menggunakan data hasil survey jembatan timbang atau mengacu pada Tabel 2.JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI JSKNH : Jumlah total sumbu kendaraan niaga per hari pada saat jalan dibuka R : Faktor pengali pertumbuhan lalu lintas C : Koefisien distribusi kendaraan  Faktor Keamanan Beban Pada penentuan beban rencana. HVAG) dan bukan pada nilai Cumulative Equivalent Single Axle Load (CESA).6 Distribusi Beban Kelompok Sumbu Kendaraan Niaga untuk Jalan Lalu Lintas Berat 10 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI . desain perkerasan kaku didasarkan pada distribusi kelompok sumbu kendaraan niaga (Heavy Vehicle Axle Group.

JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI Sumber : Manual Desain Perkerasan Jalan (2013) Tabel 2.6 Distribusi Beban Kelompok Sumbu Kendaraan Niaga untuk Jalan Lalu Lintas Berat (lanjutan) 11 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI .

atau bahu yang menyatu dengan lajur lalu-lintas selebar 0.6 Sambungan Sambungan pada perkerasan kaku bertujuan untuk membatasi tegangan dan pengendalian retak yang disebabkan oleh penyusutan dan pengaruh 12 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI . yang juga dapat mencakup saluran dan kerb.2. Bahu beton semen adalah bahu yang dikunci dan diikatkan dengan lajur lalu lintas dengan lebar minimum 1. Hal tersebut dapat diatasi dengan bahu beton semen. Perbedaan kekuatan antara bahu dengan jalur lalu lintas akan memberikan pengaruh pada kinerja perkerasan.60 m. sehingga akan meningkatkan kinerja perkerasan dan mengurangi tebal plat.5 Bahu Bahu dapat terbuat dari bahan lapisan pondasi bawah dengan atau tanpa lapisan penutup beraspal atau lapisan beton semen.50 m.JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI Sumber : Manual Desain Perkerasan Jalan (2013) 2. 2.2.

JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI lenting serta beban lalu lintas. l = Panjang batang pengikat (mm). memudahkan pelaksanaan. Sambungan memanjang harus dilengkapi dengan batang ulir dengan mutu minimum BJTU 24 dan berdiameter 16 mm.5 Gambar 2. Semua sambungan harus ditutup dengan bahan penutup (joint sealent).5 Sambungan Susut Melintang dengan Ruji 13 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI . Jarak antar sambungan memanjang sekitar 3 .4 m. Ukuran batang pengikat dihitung dengan persamaan sebagai berikut: At = 204 x b x h l = (38. dan mengakomodasi gerakan plat. kecuali pada sambungan isolasi terlebih dahulu harus diberi bahan pengisi (joint filler).  Sambungan susut melintang Kedalaman sambungan kurang lebih mencapai seperempat dari tebal pelat untuk perkerasan dengan lapis pondasi berbutir atau sepertiga dari tebal pelat untuk lapis pondasi stabilisasi semen sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 2.  Sambungan memanjang dengan batang pengikat (tie bars) Pemasangan sambungan memanjang ditujukan untuk mengendalikan terjadinya retak memanjang. φ = Diameter batang pengikat yang dipilih (mm). Jarak batang pengikat yang digunakan adalah 75 cm.3 x φ) + 75 Dengan pengertian : At = Luas penampang tulangan per meter panjang sambungan (mm2) = Jarak terkecil antar sambungan atau jarak sambungan dengan tepi b perkerasan (m) h = Tebal pelat (m).

Setengah panjang ruji polos harus dicat atau dilumuri dengan bahan anti lengket untuk menjamin tidak ada ikatan dengan beton.7 Diameter Ruji Sumber : Perencanaan Perkerasan Jalan Beton Semen (2003) 14 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI . sedangkan untuk perkerasan beton bersambung dengan tulangan 8 . jarak antara ruji 30 cm.5 m.7 Tabel 2. lurus dan bebas dari tonjolan tajam yang akan mempengaruhi gerakan bebas pada saat pelat beton menyusut. Diameter ruji tergantung pada tebal plat beton sebagaimana terlihat pada Tabel 2.JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI Jarak sambungan susut melintang untuk perkerasan beton bersambung tanpa tulangan sekitar 4 . Sambungan ini harus dilengkapi dengan ruji polos panjang 45 cm.15 m dan untuk sambungan perkerasan beton menerus dengan tulangan sesuai dengan kemampuan pelaksanaan.

Untuk langkah perhitungan perencanaan perkerasan kaku selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3. Prosedur ini mempertimbangkan ada tidaknya ruji pada sambungan atau bahu beton. Jika kerusakan fatik atau erosi lebih dari 100%.1 Langkah Perhitungan Desain Perencanaan Kaku Sumber : Perencanaan Perkerasan Jalan Beton Semen (2003) 15 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI . Tebal rencana adalah tebal taksiran yang paling kecil yang mempunyai total fatik dan atau total kerusakan erosi lebih kecil atau sama dengan 100%. tebal taksiran plat dinaikkan dan proses perencanaan diulangi. Perkerasan kaku menerus dengan tulangan dianggap sebagai perkerasan bersambung yang dipasang ruji.1 Tabel 3.JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI BAB V METODOLOGI Prosedur perencanaan perkerasan kaku didasarkan atas dua model kerusakan yaitu retak fatik (lelah) tarik lentur pada plat. Tebal plat taksiran dipilih dan total fatik serta kerusakan erosi dihitung berdasarkan komposisi lalu lintas selama umur rencana. Data lalu lintas yang diperlukan adalah jenis sumbu dan distribusi beban serta jumlah repetisi masing-masing jenis sumbu atau kombinasi beban yang diperkirakan selama umur rencana. erosi pada pondasi bawah atau tanah dasar yang diakibatkan oleh lendutan berulang pada sambungan dan tempat retak yang direncanakan.

JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI 16 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI .

JUSTIFIKASI TEKNIS PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI 17 PEMBANGUNAN BENDUNGAN SUKAMAHI .